Sabtu, 09 Mei 2009

Teman Sekamar dari Kazakstan


MESKI tak pernah jauh dari orangtua sebelumnya, Vila Heffany nekad melanjutkan pendidikannya ke luar negeri. Negara pilihannya adalah Malaysia dan kuliah di APIIT/UCTI (University College of Technology and Innovation) jurusan International Business Management.

Menjalani kuliah dengan menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar, sempat menjadi kendala bagi sulung dari empat bersaudara ini. Namun, hal itu dengan cepat ia siasati dengan menyesuaikan diri pada mata kuliah tersebut.
"Kalau ngomong pakai Bahasa Indonesia atau Melayu, bagaimana dengan pelajar dari Kazakstan, Iran, dan lainnya. Mereka bakal ndak mengerti si lecture ngomongin apa," katanya kepada Tribun melalui layanan Yahoo Messenger, Selasa (5/5).
Pernah, Vila merasa kelimpungan mengikuti kelas Business law Malaysia. Menurutnya, kesulitan dirinya mengikuti kelas tersebut adalah menghafal pasal-pasal dalam hukum Malaysia beserta kasus-kasus yang terjadi.
"Bayangin saja. Hukum Indonesia saja Vila belum mengerti. Apalagi, disuruh belajar Hukum Malaysia yang lebih banyak mengacu pada Hukum Inggris. Tapi, itu cerita waktu awal masuk. Sekarang, tidak jadi masalah," katanya.
Kuliah ke luar negeri menjadi pilihan Vila setelah lulus dari SMAN 1 Pontianak pada 2008 lalu. Ia beralasan, rugi kalau tidak mengaplikasikan Bahasa Inggris yang sudah dipelajari. Apalagi, suasana belajar sangat mendukung dengan fasilitas yang lengkap.
Pertama kali menginjakkan kaki di Malaysia, semua kebutuhan selama menjalani kuliah sudah diakomodir oleh pihak kampus dan penyelenggara di Pontianak. Vila langsung dijemput dan diantar ke tempat tinggal yang berada di kompleks kampus.
"Kita langsung ditempatkan di rumah tinggal bersama dengan mahasiswa lainnya. Tetapi, tidak beramai-ramai. Satu kamar dihuni dua orang. Housemate Vila berasal dari Kazakstan. Namanya Dana Madiyeva," tuturnya.
Setelah setahun bertempat tinggal di kompleks kampus, Vila memutuskan mencari tempat tinggal yang agak murah. Menurutnya, ia menyewa apartment bersama temannya asal Indonesia, Sabah, dan Sri Lanka.
Bertemu dengan mahasiswa yang berasal dari negara lain, merupakan keuntungan tambahan yang didapatkan putri pasangan Hefni Abdul Muthalib dan Nita Kandini. Koleksi temannya tidak hanya berasal dari Indonesia. Namun, berasal dari beberapa negara.
"Mengenal mereka, otomatis mengenal kebiasaan yang mereka bawa dari negaranya. Selain itu, bisa mengenal budaya mereka seperti apa. Karena, kita biasanya saling cerita sebelum tidur," katanya.

Sistem Bagus
Belajar di luar negeri bisa lebih fokus terhadap mata kuliah yang diambil. Selain itu, kelengkapan penunjang dalam belajar sangat membantu untuk menguasai materi kuliah. Menurut Vila, hal itu berbeda dengan penyelenggara yang ada di Indonesia.
"Sistem belajar di luar negeri lebih jelas. Kita belajar apa yang kita mau. Artinya, mata kuliah yang dipelajari sesuai dengan jurusan. Menamatkan kuliah juga bisa lebih cepat. Tiga tahumn bisa dapat gelar Strata-1," tuturnya.
Banyak kegiatan setelah kuliah yang bisa diikuti oleh mahasiswa. Antara lain tenis lapangan, bebas akses internet, dan lainnya. Bahkan, mahasiswa juga dibebaskan untuk mengikuti organisasi sesuai dengan keinginan.
Vila mengatakan, pengalaman dan wawasan bagi mahasiswa yang kuliah di luar negeri lebih luas. Meski begitu, tidak melunturkan adat budaya dari negara asal. Menurutnya, bersama mahasiswa asal Indonesia pada Bulan Juni ada kegiatan Musical Teather.
"Kita menunjukkan tarian atau musik dari daerah masing-masing. Selain mengingat budaya asal, ajang ini juga untuk bersilaturahmi. Sesama warga negara Indonesia, kita harus saling support dan mengingatkan," ujarnya. (arthurio oktavianus)


Tips Kuliah di Luar Negeri :
1. Anggap sesama mahasiswa dari negara lain sebagai saudara yang sama-sama merantau
2. Jangan malu untuk duluan menyapa teman
3. Niat untuk kuliah harus kuat, bukan sekadar prestise mencicip kuliah di luar negeri.
4. Rajin bertanya dan mengulang mata kuliah, agar cepat menyesuaikan metode belajar

FOTO : Istimewa

0 komentar: