BEBERAPA negara mengizinkan mahasiswa yang berasal dari negara luar untuk bekerja di luar waktu kuliahnya. Satu mahasiswa asal Pontianak yang menjalani kuliah sembari kerja adalah Rudi Sugito, yang mengenyam pendidikan di Tacoma Community College, Washington.
Mahasiswa jurusan Advertising and Public Relations ini, menganggap, pengalaman yang di peroleh saat kuliah di luar negeri lebih bervariasi. Berbeda bila mengenyam pendidikan di negara sendiri.
"Saya punya experience International friendship (pengalaman pertemanan antar negara). Education system di luar negeri juga lebih efektif. Tahu tentang apa yang tidak ada di Indonesia. Misalnya, cuaca dan peraturan yang berlaku di sini (Washington)," tuturnya kepada Tribun melalui layanan Yahoo Messenger, Rabu (6/5).
Pengalaman lain yang ia peroleh adalah bekerja sebagai fotografer untuk brosur event. Rudi juga aktif sebagai seorang fotografer jurnalis majalah kampusnya, The Challenge, yang sudah dijalani selama sembilan bulan.
Pekerjaan yang disesuaikan dengan jadwal kuliah, harus bisa diatur oleh lulusan SMA 1 Pontianak ini. Agar, tidak mengganggu kuliahnya dan mendapatkan penghasilan. Pendapatannya sebagai fotografer brosur event dalam satu jam adalah 8 USD 20 sen. Selama sepekan, waktu maksimal bekerja adalah 19 jam.
"Kalau dapat kerjaan untuk foto suatu event, saya pasang charge (biaya) berbeda. Satu jam untuk pekerjaan tersebut adalah 250 USD. Cukup lah, sebulan bisa dapet 1.000-an USD, gitu. Penghasilan tersebut bisa untuk biaya bensin dan makan saya di sini," katanya.
Banyak keuntungan yang diperolehnya sebagai fotografer jurnalis. Kesempatan untuk bertemu banyak orang dan melakukan diskusi. Selain itu, ia juga pernah bertemu dengan beberapa orang terkenal.
Menurut Rudi, ia pernah mewawancarai Edward Zwick sutradara film Blood Diamond yang diperankan oleh Leonardo Dicaprio dan Jennifer Connelly. Wawancara dilakukan saat peluncuran film terbaru Zwick berjudul Defiance pada Desember 2008. Film tersebut dibintangi oleh aktor pemeran agen 007, Daniel Craig.
"Saya juga interview dua bintang di film tersebut. Yakni Tab Benoit dan Barry. Sebagai mahasiswa, kesempatan seperti ini jarang didapat. Sayang, Daniel Craig ketika itu tidak bisa datang," ujarnya kecewa.
Demam
Ia mengatakan, dukungan dan restu dari orangtua sangat penting dalam menuntut ilmu. Dua hal itu yang membuat dirinya semakin terpacu mengikuti mata kuliah di kelas. Selain itu, syarat yang menjadi keharusan untuk dimiliki oleh semua mahasiswa yang kuliah di luar negeri adalah mandiri.
Banyak kendala yang dihadapi ketika pertama kali menginjakkan kaki di negara bagian Amerika Serikat yang berjarak sekitar 30 menit dari Kota Seattle itu. Kondisi cuaca yang berbeda dengan Indonesia, pernah menyebabkan dirinya demam.
"Menuju Washington dari Jakarta, cuaca masih panas. Ketika tiba di bandar udara Internasional Dulles, bekunya minta ampun. Ketika itu, akhir Maret saat spring quarter (musim semi). Saya awalnya cuma tahu kalau musim semi, tuh, tidak sampai mengakibatkan salju," ujarnya.
Betapa kagetnya Rudi saat mengetahui bahwa suhu di Washington ketika itu adalah tiga derajat Celcius. Bahkan, hari ke tiga kedatangannya, salju turun dan memenuhi kiri kanan badan jalan. Rendahnya suhu menyebabkan telinganya sakit. Bahkan, bibirnya pecah-pecah.
Apesnya, ia hanya membawa satu long coat dari Jakarta dan berencana untuk membeli lagi saat akhir tahun. Belum lagi kalau musim hujan tiba. Kota bisa terkena curahan air sampai tiga hingga empat hari secara terus menerus. Ia mengatakan, seiring berjalannya waktu, tubuhnya bisa menyesuaikan keadaan tersebut.
Homesick
Menetap sementara bersama keluarga daerah setempat (homestay) dijalani Rudi ketika tiba di Washington. Itu dilakukan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan peraturan yang berlaku.
Meski homestay, perasaan rindu dengan keluarga di rumah (homesick) masih mendera dirinya. Apalagi, ia masih menyesuaikan metode belajar yang diterapkan. Masa transisi tersebut secara perlahan diatasinya.
"Kalau di Indonesia, saya sering makan malam bareng keluarga. Berbeda dengan keluarga bule. Mereka jarang makan malam bareng keluarga. Kalau ingat makan bersama keluarga, suasana homesicknya datang," katanya.
Selain pengalaman homesick, Rudi juga mempunyai pengalaman lucu ketika pertama kali mengikuti perkuliahan. Kejadian lucu tersebut dialami di kelas Kalkulus, hari pertama. Ketika itu, dosen menanyakan apa restoran favorit mahasiswa di Seattle.
"Satu per satu mahasiswa lain menyebutkan nama restoran favorit mereka. Yang berkelas lah, mahal lah, dan sebagainya. Tiba giliran saya, saya kebingungan. Restoran apa ya?. Dalam pikiran saya cuma ada MC donald dan saya utarakan. Terus, mereka ketawa semua," tuturnya.
Menurutnya, saat itu ia dalam keadaan panik. Lagipula, belum pernah menginjakkan kaki di Seattle. Apapun yang terlintas di benaknya, langsung diucapkan. Otomatis, jawabannya tersebut menjadi bahan tertawaan teman sekelasnya. Terlebih, hanya ia seorang yang berasal dari Benua Asia.
FOTO : Istimewa
Sabtu, 09 Mei 2009
Nyambi Fotografer 1 Jam 250 dollar
Diposkan oleh
bloomasak
di
14:40
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)

0 komentar:
Poskan Komentar