Sabtu, 09 Mei 2009

Inep Nangis di Vihara Rayakan Waisak Jauh dari Keluarga


PONTIANAK, TRIBUN - Inep, warga Lombok yang bekerja sebagai baby sitter di Pontianak, menangis di Vihara Dharma Sirijaya saat menjalankan ibadah perayaan hari raya Waisak 2553 di Jl Parit Baru II Gg Flamboyan III Sungai Raya, Sabtu (9/5).
Berdasarkan penuturannya kepada umat Budha bernama Supagat, setelah beberapa tahun berada di Pontianak, ia baru menemukan Vihara yang menggunakan Bahasa Phali dalam menjalankan doa. Karena, bahasa itulah yang digunakan di kampungnya setiap menjalankan ibadah.
"Inep diantar oleh adik kandung majikannya. Awalnya diantarkan ke vihara lain. Namun, ia merasa tidak cocok. Kemudian dikabari oleh umat di situ untuk datang ke sini. Awalnya mereka sempat tersesat. Setelah tanya-tanya, mereka sampai juga," katanya.
Menurut Supagat, Inep merasa teringat merayakan Waisak bersama keluarganya di kampung. Ketika Tribun mencoba mengkonfirmasi, Inep enggan mengatakan apapun. Sambil tersenyum, ia menghindar menuju jalan gang untuk mengikuti prosesi Pindapata.
Prosesi tersebut berupa Bikkhu berkeliling ke rumah warga membawa wadah bundar berwarna perak. Wadah tersebut digunakan untuk menerima makanan yang diberikan oleh umat. Umat secara sukarela memberikan makanan ataupun minuman kepada Bikkhu, dengan menunggu di tepi jalan.
Pemuda Theravada Indonesia Kalbar Rudi Purwanto, mengatakan, prosesi Pindapata tersebut baru dilakukan oleh umat dalam merayakan hari raya Waisak 2553 ini. Sebelumnya, prosesi tersebut tidak pernah dilakukan.
"Kita mencoba melakukan prosesi ini untuk memaknai Trisuci Waisak di Pontianak. Sama seperti yang dilakukan oleh Bhikku bersama umat Budha di tempat lainnya. Kebetulan, perayaan Waisak oleh umat Theravada dipusatkan di vihara ini," ujarnya.
Ada dua Bhikku dan seorang Sayalay yang berkeliling membawakan wadah bundar. Yakni Bikkhu Thitayanno, Bhikku Ciradhammo, dan Sayalay Hirima. Sambil berjalan pelan tanpa alas kaki, mereka mengitari rumah umat.
Satu persatu umat yang memegang makanan yang akan diberikan kepada Bhikku dan Sayalay, dengan sabar menunggu didatangi. Meski panas terik, umat sangat antusias menjalankan prosesi ini.
Bhikku Thitayanno, mengatakan, bila ada makanan lebih yang mereka terima dari umat, biasanya akan diberikan kepada masyarakat yang membutuhkan. Bhikku akan mengumpulkan dan disalurkan untuk panti asuhan atau panti jompo.
"Tapi, kalau makanan yang terkumpul sekarang, akan kita bagi-bagikan untuk umat yang hadir. Agar bisa mencicip makanan ini bersama-sama. Kita ingin agar umat bisa menikmati dan merasakan makna ketika mereka memberikan dan menerima sesuatu," tuturnya.

Berfikir Jernih
Menurut Bhikku Thitayanno, perayaan Waisak yang dirayakan umat Budha kali ini bertemakan Kehadiran Buddha Sumber Keharmonisan dan Keutuhan Bangsa. Kerukunan antar umat beragama merupakan hal yang mutlak dilakukan. Terutama mengantisipasi potensi timbulnya konflik dalam suasana perpolitikan.
"Setiap umat harus meningkatkan kualitas spiritual mereka dan tidak melakukan sesuatu yang bisa merugikan orang lain ataupun diri sendiri. Umat juga harus selalu berfikir jernih dalam setiap tingkah laku untuk menghindari perpecahan antar agama," katanya.
Berfikir jernih dapat dilakukan dengan cara meditasi. Agar, batin setiap orang merasa tenang. Selain itu, umat dianjurkan untuk selalu membaca buku-buku yang meningkatkan nilai spiritual. Sehingga, umat tahu bagaimana berlaku bijaksana dalam bertindak.
Bhikku Thitayanno, mengatakan, tujuan dari berfikir jernih adalah untuk pencerahan batin. Menurutnya, segala tindakan merupakan cermin dari kualitas batin yang dimiliki setiap individu. Bila pencerahan batin sudah tercapai, kehidupan akan menjadi tenang dan damai.
"Otomatis, perilaku keseharian mereka akan baik. Bila sudah ada kedamaian dalam batin, baru kemudian capai kesejahteraan materi. Agar materi yang diperoleh tersebut murni tanpa merugikan orang lain, setiap orang harus baik dahulu," ujarnya.

0 komentar: