
AKIBAT sering digigit, bibir bawah Andi (9) hanya bersisa separuh. Jari kedua tangannya mengalami hal yang sama. Terutama jari telunjuk yang terlihat luka dan membengkak. Kuku jaripun nyaris tak bersisa.
Tangan dan kaki Andi, kecil, untuk anak seusianya. Bahkan, tubuhnya seberat 10 kilogram tak mampu ditopang kedua kakinya. Setiap hari Andi harus digendong oleh Nurhayati (38), ibunya, yang menghidupi keluarga dengan berjualan bahan pokok dan menjahit.
Menurut Nurhayati, Andi mulai mendapatkan penyakitnya tersebut sejak berusia sekitar delapan bulan. Ketika itu tubuh Andi panas tinggi dan terlambat mendapat perawatan medis. Ia hanya diberikan obat yang dijual di warung.
"Andi sakit hari Sabtu. Hari Minggu, Puskesmas tidak buka. Hari Senin waktu itu tanggal merah. Karenanya, baru bisa diperiksa medis pada hari Selasa. Sebelum diperiksakan, obat-obatan warung menjadi pilihan," tutur Nurhayati dirumahnya, Kamis (18/12).
Nurhayati mengatakan, panas tinggi yang dialami Andi membuat bocah itu kejang-kejang. Warga yang tinggal di Jalan Nirbaya Gang Sukadamai Jalur III Purnama Dalam itupun tidak pernah membawa Andi ke Posyandu untuk imunisasi.
Kondisi tubuh Andi terus menyusut. Badannya menjadi kurus akibat tak mau makan. Tulang rusuknya menonjol keluar. Mengecil dan berkumpul ke tengah, tepat ke dada. Tubuh Andi membusung ke depan dengan perut yang mengencang keras.
Menurut Nurhayati, kebiasaan anaknya menggigit jari tangan dan bibir timbul bila Andi merasa kepanasan.
Bawa Ke Terajin
Pernah ketika bangun tidur, Nurhayati menemukan wajah Andi penuh dengan darah. Ia panik dan membersihkan wajah Andi secepatnya. Namun, bocah sembilan tahun itu malah menangis keras.
Tangisan keras Andi membuat Nurhayati panik. Ia tak tega melihat kondisi putra ketiganya seperti itu. Bila sudah begitu, Andi harus digendong untuk menenangkan tangisannya. Sekaligus, tidak mengusik ketenangan para tetangga.
"Waktu menggigit anggota tubuhnya, Andi tidak merasakan sakit. Namun, bila kita panik dan membersihkan darah dari wajahnya, tangisnya mulai pecah. Kita yang melihatnya menjadi khawatir," tuturnya.
Upaya menyembuhkan kondisi Andi sudah dilakukan oleh Nurhayati dan Kasim (65), suaminya. Mereka juga sudah membawa Andi ke Terajin (pengobatan alternatif di tepi sungai) yang ada di Sungai jawi.
Nurhayati mengatakan, pengobatan alternatif tersebut tidaklah sebentar. Ia berangkat dari rumah mulai pukul 07.00 WIB dan tiba kembali ke rumah pukul 17.00. Awalnya, ada sedikit perubahan pada Andi. Tubuhnya agak lemas, tidak mengencang seperti biasanya.
Pengobatan melalui medis juga dilakukan Nurhayati. Ia mengaku awalnya tidak bisa membawa konsultasi ke dokter di rumah sakit karena belum mendapatkan kartu Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas).
"Saya terpaksa membeli obat dengan biaya yang mahal. Karena tidak punya uang, obat harus diambil bertahap, tunggu uang terkumpul. Karena, Rp 120 ribu setiap kali mengambil obat bukanlah biaya yang murah," tuturnya.
Saat ini, Nurhayati sudah memegang kartu Jamkesmas dan gratis bila membawa Andi konsultasi ke dokter. Ia sadar, kondisi tubuh anaknya tidak bisa normal seperti anak kebanyakan. Namun, ia menerima kondisi Andi sepenuhnya.
Menurut ibu tiga anak itu, kondisi yang sama juga dialami oleh Fajaria Nur, putra pertamanya. Namun, pada usia 8,5 tahun, anak itu meninggal dunia. Sebelum meninggal, Fajaria mengalami mencret dalam gendongan ketika dibawa ke rumah sakit.
"Kondisi yang normal hanya dialami anak perempuan saya, Dewi Fitri (13). Kalau abang dan adiknya, mengalami pertumbuhan yang tidak normal. Tangan dan kakinya mengecil, badan merekapun kurus," kata Nurhayati.
Foto by Jesicca Wuysang (Maya), Antara
Minggu, 21 Desember 2008
Andi Gigit Anggota Tubuh, Bibir Bawah Sisa Separuh
Diposkan oleh
bloomasak
di
09:36
1 komentar
Sabtu, 20 Desember 2008
Enam Ton Sekali Panen
MANISNYA madu sangat disukai orang banyak. Madu juga memiliki khasiat untuk meningkatkan stamina tubuh. Satu daerah pemasok madu terbesar di Kalimantan Barat adalah Kapuas Hulu, terutama di kawasan Danau Sentarum.
Daerah paling banyak menyumbangkan madu sebagai hasil hutan alami di kawasan Danau Sentarum tersebar di tiga Kecamatan. Yakni, Selimbau, Batang Lupar, dan Badau. Bahkan, madu yang dihasilkan sudah dikemas dengan rapi dan mendapatkan sertifikasi.
Direktur Riak Bumi Kalimantan Barat Valentinus Heri, mengatakan, madu dari kawasan Danau Sentarum merupakan madu hutan pertama di Indonesia dengan sertifikat organik dari BioCert, yang merupakan satu lembaga sertifikasi organik di Indonesia.
"Masyarakat di kawasan Danau Sentarum memiliki asosiasi yang khusus menangani madu hutan (Apis dorsata). Asosiasi terbentuk sejak 2005, lalu, yang berpusat di Semangit. Asosiasi ini bernama APDS atau Asosiasi Madu Hutan Indonesia," tuturnya, Senin (15/12), lalu.
Wilayah kerja petani madu tersebut meliputi 12.363 hektar hutan pada 13.253 tikungan. Sekali panen, masyarakat bisa mendapatkan enam ton madu setiap kelompoknya. Menurut Heri, pada 2008, masyarakat dapat memanen sekitar 20 ton madu.
Sebelum terbentuknya APDS, harga jual Madu sangat rendah. Hanya Rp 6.000 per kilo. Karenanya, menjadi petani madu masih belum dilirik oleh masyarakat di wilayah Danau Sentarum.
Setelah asosiasi terbentuk, harga jual madu mulai dilirik masyarakat. Harga jual mencapai Rp 45 ribu per kilogram. Apalagi, masyarakat juga tidak perlu bersusah payah menjual madu karena ada asosiasi yang siap menampung hasil panen madu mereka.
Heri mengatakan, jumlah anggota asosiasi APDS saat ini berjumlah 157 orang di delapan Periau (wilayah kelola kelompok madu di Danau Sentarum), yang berada di enam kampung dari 33 kampung potensial.
"Madu tersebut diperoleh petani dari hutan alami. Kualitas madupun tergantung pada hutan yang ada di Danau Sentarum. Bila hutan mulai rusak, kualitas madu yang dihasilkan juga akan terpengaruh," tuturnya.
Menurut peneliti dari Center for International Forestry Research (Cifor) Elizabeth Linda Yuliani, menjaga kealamian hutan Danau Sentarum merupakan tantangan yang harus ditanggulangi bersama.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh tim Cifor, tingkat kekeruhan air Danau Sentarum jauh di atas ambang batas yang disarankan untuk kesehatan manusia dan perikanan. Terutama, di Desa Leboyan.
"Berdasarkan penuturan masyarakat, kekeruhan memburuk sejak maraknya illegal logging dan pembangunan jalan yang tidak memperhatikan pengendalian dampak lingkungan di daerah hulu," tutur Linda.
Seorang warga Desa Selimbau Abu, mengatakan, pembalakan liar marak terjadi di sekitar Danau Sentarum antara tahun 2004 hingga 2005. Hal itu membuat hutan alami di sekitar danau menjadi terganggu.
"Banyak pohon di hutan yang ditebang. Ini menyebabkan hutan gundul dan mempengaruhi hasil panen madu. Padahal, selain madu yang dipanen, sarangnyapun dapat dijual dan menambah penghasilan masyarakat," tuturnya.
Ketika Tribun dan rombongan berada di pasar Lanjak, seorang ibu yang berasal dari Desa Semangit menjual Labang Muanyi (sarang lebah) yang bisa dijadikan lauk untuk makan. Ia menjual sarang lebah tersebut Rp 15 ribu per kilogramnya.
Diposkan oleh
bloomasak
di
06:59
1 komentar
Kamis, 18 Desember 2008
Surga Ikan Arwana

SATU jenis ikan hias yang banyak diburu para kolektor adalah ikan Arwana (Scleropages formosus). Selain karena keindahan warnanya, ikan Arwana juga mempunyai keunikan, menetaskan telur di mulut pejantan.
Geliat anak ikan Arwana di akuarium milik warga Semitau Hari Sudirman (38), sangat memesona. Harga seekor ikan yang mencapai jutaan rupiah itu, menjadi kebanggaan masyarakat Kapuas Hulu. Karena, habitat alami ikan Arwana ada di danau Sentarum.
Sebagian besar masyarakat yang hidup di danau seluas 32 ribu hektar itu mengembangkan budidaya ikan Arwana. Selain cocok dengan habitat di danau, pakan yang diberikan untuk ikan hias itu juga mudah diperoleh.
"Pakan utama untuk ikan Arwana yang saya pelihara adalah katak. Bisa juga diberikan pakan jangkrik, cicak, udang, dan ikan kecil. Merawat ikan inipun tidak terlalu rumit," ujarnya ketika ditemui di rumahnya, Sabtu (13/12), lalu.
Katak diperoleh Hari dari Pontianak dengan harga Rp 11 ribu per kilogram. Katak tersebut dikirimkan dalam kondisi beku. Sehingga, pakan lebih mudah diberikan kepada ikan yang dipelihara di kolam maupun di akuarium.
Menurut Hari, permasalahan dalam merawat ikan Arwana adalah pada kualitas air yang ada. Keasaman air yang cocok untuk ikan ini berkisar pada angka 5. Perbedaan ikan Arwana yang ada di habitat alami dan kolam adalah, ikan lebih gemuk bila dikembangbiakkan di kolam.
Peneliti dari Center for International Forestry Research (Cifor) Elizabeth Linda Yuliani, mengatakan, nilai penting danau Sentarum dalam perikanan tradisional sangat tinggi. Selain itu, danau yang sebagian besar dipenuhi dengan lahan gambut ini memiliki potensi untuk lokasi UNESCO heritage.
"Semua itu tergantung pada kualitas alami danau Sentarum. Melindungi lahan gambut dan hutan alam danau Sentarum berarti melindungi simpanan dan penyerap karbon, menjaga iklim mikro, mengurangi perubahan iklim global, dan berpotensi untuk pasar karbon," tuturnya.
Linda mengatakan satu potensi perikanan di lahan gambut tersebut adalah ikan Arwana, yang bisa dibudidayakan masyarakat sekitar untuk meningkatkan taraf perekonomian masyarakat. Karena, untuk harga seekor ikan mencapai Rp 2,7 juta.
Pemilik kolam ikan Arwana di Semitau saat ini mencapai 40 orang. Pendapatan yang bisa diperoleh untuk sekali panen mencapai miliaran rupiah. Peternak ikan Arwana biasanya bisa memanen 100 ekor dalam kurun waktu satu hingga tiga bulan.
Biaya Naik Haji
Keuntungan memelihara ikan Arwana banyak dirasakan masyarakat Selimbau. Menurut Camat Selimbau Abang Sudarmo, beberapa masyarakat yang tinggal di desa Selimbau kota bisa naik haji dengan menjual ikan Arwana yang mereka kembangbiakkan.
"Tahun ini saja ada 16 orang masyarakat desa Selimbau kota yang berangkat naik haji. Mereka membiayai ongkos keberangkatan dengan menjual ikan peliharaan mereka. Setidaknya, masyarakat mengembangkan ratusan ekor ikan Arwana," tuturnya.
Peternak ikan Arwana warga Selimbau Edi, mengatakan, lima ekor ikan Arwana yang dikembangkannya pernah ditawar untuk dibeli seharga Rp 10 juta per ekor. Namun, ia enggan menjualnya.
Menurut Edi, ikan Arwana yang dikembangkannya bisa mencapai Rp 50 juta per ekor. Karena, ia menggunakan air danau Sentarum untuk tempat perkembangbiakannya di akuarium. Edi hanya menggunakan aerator dan penyaring dari kapas untuk menyaring air danau.
Keuntungan memelihara ikan Arwana juga dialami oleh warga desa Gudang hulu Dusun Gertak Baru Selimbau, Sukiman. Lima ekor sapi yang dipeliharanya dibeli dari hasil menjual dua ekor ikan Arwana.
"Harga dua ekor ikan tersebut Rp 12 juta. Sekarang ikan Arwana yang masih ada sebanyak lima ekor. Ikan tersebut dipelihara selama setahun, mulai dari anakan hingga sudah besar," tuturnya.
Diposkan oleh
bloomasak
di
23:57
0
komentar
Anggrek Alami Sepanjang Aliran Sungai

BILA Italia memiliki wisata air di kota Venezia yang bisa disusuri menggunakan gandola, Kapuas Hulu memiliki kawasan Danau Sentarum yang menyimpan keelokan Anggrek Hitam (Coelogyne pandurata) yang tumbuh alami di hutan sepanjang aliran Sungai Kapuas, dan bisa dinikmati menggunakan long boat (sampan motor).
Jenis anggrek alam di danau Sentarum yang telah teridentifikasi oleh tim peneliti Center for International Forestry Research (Cifor) dan Riak Bumi, sebanyak 135 jenis. Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan taman nasional di Kanada yang hanya memiliki 28 jenis anggrek.
Desa yang mengembangkan wisata anggrek di lahan gambut terbesar kedua di Kalimantan Barat itu adalah Pelaik dan Selimbau. Masyarakat menjaga tanaman anggrek alami yang tumbuh parasit di pohon, dengan membentuk Kelompok Wisata Anggrek Danau Sentarum (KWADS).
Menurut peneliti anggrek dari Cifor Leon Budi Prasetyo, wilayah Pelaik memiliki sekitar 50 jenis anggrek. Sedangkan Selimbau memiliki sekitar 40 jenis anggrek. Jenis anggrek yang tumbuh alami tersebut memiliki potensi untuk dijadikan objek wisata di danau Sentarum.
Karenanya, wisata anggrek dapat menjadi pilihan utama pengunjung yang datang ke wilayah Danau Sentarum, yang sebagian besar didominasi oleh perairan. Transportasi yang digunakan masyarakat kebanyakan adalah sampan, sampan motor, ataupun motor Bandong (home boat).
Ketua kelompok KWADS Selimbau Saharman, mengatakan, sudah setahun menjaga anggrek alam yang ada di tepi aliran sungai desa. Kelompok ini beranggotakan lima orang, yang setiap hari selalu berkeliling di sepanjang aliran sungai menggunakan sampan.
"Bila ada tanaman anggrek yang jatuh ke air, kami akan meletakkan kembali ke pohon. Hal ini kami lakukan untuk menjaga kelestarian tanaman anggrek di hutan kami," tuturnya kepada Tribun, Sabtu (13/12), lalu.
Melihat tanaman anggrek yang hidup di pohon di pinggir sungai menggunakan long boat, memberikan kenikmatan tersendiri. Kicau burung Murai Batu, kelebatan burung Bangau dan Elang, menambah penyusuran sungai menjadi tidak membosankan.
Apalagi, rindangnya hutan memberikan kesan teduh kepada pengunjung. Alternatif lain bila pengunjung tidak menyukai tanaman anggrek adalah memancing. Menurut warga Selimbau bernama Abu, jenis ikan yang ada di sungai desa mereka adalah ikan Baung, Lais, Toman, dan Patik.
Selain anggrek yang tumbuh alami di sepanjang aliran sungai, KWADS Selimbau juga menjaga anggrek di daratan yang mempunyai luas sekitar tiga hektar. Ketika Tribun dan rombongan berkeliling di taman anggrek tersebut, serumpun anggrek hitam sedang mekar.
Keelokan tanaman lain yang disuguhkan taman anggrek alami Selimbau adalah berjenis tanaman Kantung Semar (Nepenthes sp). Tanaman ini tumbuh menyebar di tanah yang terbuka dan cukup matahari, serupa dengan habitat anggrek.
Diposkan oleh
bloomasak
di
23:51
0
komentar
Rabu, 10 Desember 2008
Pernikahan Adat Dayak Kalis, Leroy Mau Bawa Pulang Pakaian Adat
WARGA negara Amerika Serikat, Leroy James Bailey, tampak gagah mengenakan pakaian adat Dayak. Laksana pangeran kerajaan, ia tiba di Betang di Jalan Sutoyo Pontianak, Senin (8/12), dengan iringan tabuhan dan tarian. Ia mengendarai mobil bak belakang terbuka yang dihias menyerupai perahu Jajang.
Upacara adat yang dijalani Leroy merupakan lanjutan pernikahan resmi (catatan sipil) bersama Briggita Romanda Kaliska atau Gitta, yang dilakukan di Franklyn Courthouse Louisiana Amerika Serikat pada 27 Juli 2007. Buah cinta pernikahan tersebut adalah Gabriella Anna Marie Bailey atau Gabby yang berusia 11 bulan.
Leroy tampak selalu tersenyum. Ia menjalani prosesi perkawinan adat sub suku Dayak Urang Kalis yang berasal dari Kabupaten Kapuas Hulu. Prosesi tersebut dilaluinya setelah menikahi Gitta, perempuan yang berasal dari daerah itu.
"Upacara ini sangat unik. Ini merupakan kedatangan pertama saya ke sini (Kalimantan Barat) dan juga pengalaman pertama mengikuti upacara seperti ini," tuturnya kepada Tribun di beranda Betang, Senin (8/12), usai melakukan upacara adat.
Leroy yang menuntut ilmu di US Air Force, The Reserve Officers Training Corps (ROTC) Morgan City Los Angeles, mengaku, sedikit bingung dengan prosesi penikahan adat. Ia harus melalui 13 prosesi adat, juga upacara adat Apandaor (menurunkan anak ke tanah/sungai), untuk putrinya.
Hujan deras tak menyurutkan langkah Leroy menjalani setiap prosesi. Meskipun tidak menguasai bahasa Indonesia dan bahasa Dayak Kalis, Leroy sangat serius melalui tahapan upacara pernikahan adat, itu.
Ketika tiba di Betang, Leroy ditunggui Gitta dan Temanggong (tetua adat) yang berdiri di depan sebuah batang kayu yang melintang sebagai Ompang Panyialo (penghalang). Kayu tersebut harus dipatahkannya menggunakan Mandau.
Ada dua penghalang yang harus dipatahkan Leroy. Penghalang tersebut berada di pintu masuk dan depan tangga Betang. Penghalang tersebut merupakan simbol rintangan dalam kehidupan yang harus dilalui oleh Leroy.
"Saya sangat menyukai prosesi mematahkan penghalang. Prosesi itu unik. Karena, usai penghalang dipatahkan, saya disambut pihak keluarga perempuan dan disambut dengan segelas Geram (tuak) dan tarian," tuturnya.
Leroy juga menyukai pakaian adat yang dikenakannya. Menurut Gitta, Leroy pernah mengutarakan hal itu kepada dirinya. Pakaian berbahan manik-manik tersebut ingin dibawa pulang ke Amerika.
"Ia ingin pakaian tersebut menjadi kenang-kenangan pernikahan yang bisa disimpan di rumah. Leroy mengatakan hal itu ketika pertama kali melihat dan mengenakan pakaian adat tersebut," ujar Gitta.
Menurut mahasiswi University of Louisiana Lafayette jurusan Bisnis, itu, ia belum tahu apakah akan memenuhi keinginan Leroy atau tidak. Karena, dirinya masih terfokus pada upacara pernikahan adat terlebih dahulu.
Tentukan Nama Pakai Temu Lawak
SEBAGAI peranakan Amerika Serikat dan Indonesia, khususnya berdarah Dayak Kalis, Gabriella Anna Marie Bailey atau Gabby yang berusia 11 bulan, harus melalui prosesi adat Apandaor (anak turun ke tanah/sungai). Prosesi tersebut diakhiri dengan pemberian nama Dayak, yang ditentukan menggunakan buah Temu Lawak.
Seperti bocah kebanyakan, tingkah Gabby tampak menggemaskan. Ketika alat musik tradisional ditabuh untuk memulai prosesi Apandaor, jemari kedua tangannya berputar, menari. Ketika musik terhenti, jemari tangan kanannya bergerak membuka dan menutup.
Berada digendongan Ir Anna Veridiana I Kalis M Sc, neneknya, Gabby menjadi pusat perhatian tamu yang datang. Bocah itu juga tak rewel ketika kilatan blitz kamera mengarah kepadanya. Bahkan, ia melambaikan tangan kanannya ke arah juru foto.
Kekhawatiran terlihat dari wajah Leroy James Bailey, ayah Gabby, yang selalu mengawasi putrinya dari arah sebelah kanan mertuanya. Beberapa kali ia berbisik pada Brigitta Romanda Kaliska atau Gitta, istrinya, bila ia melihat wajah Gabby menunjukkan akan menangis.
Menurut Gitta, kekhawatiran Leroy muncul bila ada orang baru yang belum dikenal menyentuh atau mengendong putrinya. Perempuan yang menempuh pendidikan di University of Louisiana, itu, mengaku memaklumi kekhawatiran suaminya.
"Apalagi Gabby harus dimandikan sebelum dilakukan pemberian nama. Kondisi hujan dan dingin menyebabkan Leroy khawatir bila kondisi kesehatan Gabby menjadi lemah," tuturnya kepada Tribun di beranda Betang Jalan Sutoyo, Senin (8/12).
Sebuah kolam plastik hijau berdasar kuning yang berisi air dan taburan bunga, diletakkan dekat tangga beranda betang sisi kiri. Kolam itu menjadi tempat mandi Gabby untuk upacara Apandaor. Sebelumnya, air kolam tersebut didoakan oleh Temanggong (tetua adat).
Doa yang dilafalkan dalam bahasa Dayak Kalis meluncur dari mulut Temanggong, seraya mengarahkan ujung mata tombak pada air kolam. Dari gendongan neneknya, Gabby menatap lekat pada Temanggong dan ujung tombak yang mengarah ke tempat mandinya.
Selain dilakukan oleh orangtuanya, prosesi memandikan Gabby juga dilakukan oleh Barcunda Sturjaya SH MM, kakeknya. Sedangkan kakek dan neneknya dari Amerika, tidak bisa menghadiri prosesi adat tersebut.
Menurut Gitta, Louis Adam Topham dan Agnes Giroir Topham, mertuanya, sangat ingin turut serta dalam prosesi adat yang dilakukan. Namun, keinginan tersebut kandas akibat bencana badai Ike dan Gustaf.
"Rumah mertua saya ikut terkena badai tersebut. Mereka memutuskan tidak jadi ikut ke Indonesia karena harus memperbaiki rumah yang terkena badai. Mereka menitip doa buat Gabby, agar prosesi adat ini berjalan dengan lancar," tuturnya.
Usai prosesi Ipamandi (mandi) sebagai satu bagian adat Apandaor, tahapan selanjutnya adalah Yan Tasang (pemberian nama Dayak Kalis). Tiga nama sudah disiapkan untuk Gabby, yang harus dipilih secara berurutan. Yakni Bunga Lita, Indang, dan Kabang.
Uniknya, pemberian nama dilakukan oleh Temanggong dengan bantuan buah temu lawak yang sudah dikupas kulit luarnya. Buah tersebut dibelah menjadi dua bagian sama besar. Menurut Temanggong, pemilihan nama bisa digunakan Gabby, berdasarkan tanda dari buah temu lawak.
"Kalau buah menutup dan membuka, maka nama sudah direstui oleh Yang Kuasa melalui tanda tersebut. Kalau buah tersebut tidak terbuka dan menutup sampai tiga kali, nama pertama yang dipilih dibatalkan dan dilakukan pemilihan nama kedua yang sudah disiapkan. Begitu seterusnya," tuturnya.
Usai melafalkan doa, Temanggong melakukan lemparan pertama buah temu lawak ke udara. Para tamu yang menanti hasil pemilihan nama terlihat tenang. Ketika tiba ke lantai, dua bagian buah tersebut jatuh menutup dan harus diulangi. Nama Bunga Lita untuk Gabby baru diperoleh dalam lemparan yang kedua, setelah buah jatuh dalam posisi berlawanan.
Menurut Anna, nama tersebut sama seperti nama Dayak Kalis yang dimilikinya. Anna mengharapkan keindahan nama Bunga Lita tersebut dapat terpancar dalam sikap dan perilaku Gabby nantinya.
Foto by Ishaq
Diposkan oleh
bloomasak
di
03:55
1 komentar
Senin, 08 Desember 2008
Pohon Natal 80 Ribu Botol Infus
BOTOL plastik infus yang kosong tidak selalu menjadi limbah. Butuh sedikit sentuhan kreativitas untuk menghasilkan karya seni yang sedap dipandang mata. Terlebih, bisa dinikmati oleh semua orang. Seperti yang dilakukan para karyawan Rumah Sakit Santo Antonius (RSSA) Pontianak.
Untaian botol plastik infus dijalin membentuk pohon natal putih, menjulang di halaman RSSA Pontianak, Sabtu (6/12). Penopang pohon berupa batang pinang yang kulitnya dihilangkan, hingga warna cokelat tampak seperti dasarnya.
Hasil karya para karyawan berupa pohon natal, merupakan pertama kalinya dilakukan, untuk menyambut hari raya Natal 2009. Tim pembuat pohon natal berjumlah 17 orang, yang masuk ke dalam kepanitiaan.
"Secara kepanitiaan, semua karyawan ikut terlibat dalam pembuatan pohon natal ini. Karena, setiap harinya mereka mengumpulkan botol infus kosong yang ada di rumah sakit," ujar Panitia Natal RSSA Pontianak Koordinator Dekorasi, Heliodorus.
Menurutnya, pengerjaan pohon natal sudah direncanakan sejak beberapa bulan lalu. Bahkan, pengumpulan botol infus dilakukan sejak Oktober. Botol kemudian digunting, mulai dari bagian bawah hingga ke leher botol. Guntingan halus membentuk helaian botol mekar bak bunga putih.
Botol yang sudah digunting disatukan menggunakan kawat. Susunan botol yang menyatu membentuk untaian panjang. Untaian tersebut disusun rapi dengan bantuan kerangka besi yang sudah dibuat sebelumnya.
"Botol infus yang sudah kita gunakan untuk membuat pohon natal berjumlah 6.800. Kita masih kekurangan bahan botol. Teman-teman juga masih melanjutkan pekerjaan menggunting botol yang terkumpul," kata pria yang disapa Helio, itu.
Pohon natal putih yang baru didirikan pada Sabtu pagi, tadi, belum sepenuhnya selesai. Asesoris natal berupa lampu kerlap-kerlip, belum terpasang. Begitu pula bintang terang yang biasanya berada di ujung pohon.
"Kita akan melanjutkan pekerjaan tersebut pada Selasa dan Rabu. Tergantung botol yang sudah siap digunakan. Target kita sebelum natal sudah selesai semua. Tidak hanya untuk pohon natal di depan RSSA. Tetapi, juga yang akan dibuat untuk tiap ruangan rumah sakit," katanya.
Panitia seksi acara, Merry, mengatakan, pohon natal dibuat setinggi delapan meter. Banyaknya sisa infus yang digunakan adalah 80 ribu botol. Selain menyambut natal, juga untuk memperingati 80 tahun Rumah Sakit Antonius di Indonesia.
Serba Delapan
Pembuatan pohon natal di halaman depan gedung oleh karyawan Rumah Sakit Santo Antonius (RSSA) Pontianak, tidak hanya unik dari sisi bahan untuk membuatnya berupa botol infus bekas. Namun, ada angka delapan dibalik semua itu.
Pohon natal yang menjulang berukuran delapan meter di halaman rumah sakit menjadi pemandangan yang menarik bagi siapa saja yang melihat. Warnanya yang dominan putih, menjadikan pohon natal buatan tersebut sangat menojol dibandingkan pohon lain di sekitarnya.
Menurut panitia seksi acara RSSA Pontianak, Merry, pembuatan pohon natal dari botol infus bekas memang direncanakan sejak jauh hari. Persiapan bahan dilakukan oleh semua karyawan rumah sakit.
"Pohon natal dari bahan botol infus memang memiliki keunikan tersendiri. Karena, karyawan harus mengumpulkan botol infus bekas yang ada di setiap ruangan rumah sakit. Meskipun sibuk mengurus pasien, mereka juga direpotkan untuk mencari botol infus," tuturnya seraya tertawa kepada Tribun, Sabtu (6/12).
Selain mempunyai tinggi delapan meter, pohon natal berbahan botol infus bekas mempunyai keunikan lain. Menurut Merry, keunikan tersebut adalah, botol infus yang rencananya akan digunakan sebanyak 80 ribu botol.
Alasannya, ujar Merry, pohon natal itu juga menjadi simbol perayaan untuk memperingati 80 tahun rumah Sakit Antonius di Indonesia. Menurutnya, selain merayakan natal, karyawan mempersembahkan pohon natal itu sebagai kado istimewa untuk ulangtahun RSSA.
"Botol infus identik dengan rumah sakit. Selain ingin memberikan makna tersendiri kepada para pasien yang menginap di rumah sakit ketika natal, kita juga ingin menunjukkan bahwa bahan sisa juga bisa dimanfaatkan," tuturnya.
Menurut Panitia Natal RSSA Pontianak Koordinator Dekorasi, Heliodorus, panitia ingin menunjukkan bahwa botol infus yang biasanya menjadi limbah dapat dijadikan sesuatu yang berguna. Asal, disentuh dengan kreativitas.
"Biasanya, botol infus bekas disalahgunakan oleh orang yang tidak bertanggungjawab. Yaitu, menggunakan kembali botol infus dengan cara mengisi kembali botol tersebut dan dijual dengan harga murah," katanya.
Pria yang disapa Helio, itu, mengatakan, bila para distributor membeli infus palsu dan tidak mengetahuinya, bisa berbahaya bagi kesehatan pasien. Untuk menghindari hal itu, pihak RSSA Pontianak mencoba untuk memanfaatkan kembali botol infus bekas menjadi sesuatu yang berguna dan awet.
"Asumsi kita, daripada botol infus bekas digunakan untuk tindakan kriminal, lebih baik kita manfaatkan. Apalagi bila dibakar dan asap pembakaran menjadi polusi. Merugikan banyak orang," ujar Helio.
Diposkan oleh
bloomasak
di
08:38
1 komentar
Sabtu, 06 Desember 2008
Aldo Derita Daging Tumbuh, Tidur di Emperan Rumah Sakit
DAGING yang tumbuh di punggung tubuh belakang tubuh bocah sembilan bulan bernama Aldo Alfino, membuatnya sulit untuk bergerak bebas. Ia harus selalu tidur menyamping dan tidak bisa bergulingan seperti bocah kebanyakan seusianya. Bahkan, kepalanya ikut membesar pula.
Saat ini Aldo dirawat di kamar pasien bedah bagian C nomor 13. Ia diantar Ganggang (30) dan Yeni (30), orangtuanya pada Jumat (5/12). Bahkan, Aldo sudah mendapatkan pemeriksaan medis.
Sehari sebelumnya Ganggang belum bisa membawa putra keduanya, itu, memeriksakan penyakit yang dialami Aldo. Pria yang menggantungkan hidup dari bertani, itu, mengandalkan kartu Jamkesmas untuk memeriksakan Aldo.
Berangkat dari Desa Alur Bandung, Kecematan Teluk Batang, Kabupaten Kayong Utara pada Minggu (30/11), Ganggang berharap Aldo bisa kembali sehat dengan perawatan medis. Namun, petugas penerima administrasi meminta Ganggang untuk melakukan rawat jalan.
"Saya bingung. Petugas bagian administrasi tidak memberikan petunjuk apapun. Saya juga tidak mempunyai uang lagi," ujar Ganggang yang ditemui Tribun di kantor Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak (FRKP), Kamis (4/12).
Permintaan tersebut sangat memberatkan Ganggang. Dirinya tidak mempunyai uang untuk melakukan rawat jalan bagi Aldo. Membawa Aldo ke Rumah Sakit Umum Daerah Soedarso Pontianak bukanlah hal yang mudah baginya. Ia harus meminta sumbangan kepada penduduk di kampungnya.
"Saya masuk dari satu rumah ke rumah lain seraya membawa foto Aldo. Mereka menyumbang secara sukarela. Hasil sumbangan sebesar Rp 200 ribu saya gunakan untuk ke Pontianak," tuturnya.
Akibat minimnya dana, Ganggang mengajak keluarganya bermalam di emperan ruangan rumah sakit selama dua hari pada Senin (1/12) hingga Selasa (2/12). Terlebih, ia tidak memiliki kenalan ataupun kerabat di Pontianak.
Ganggang mengatakan, ia sekeluarga terpaksa tidur beralaskan bekas koran yang dikumpulkannya. Bahkan, ia harus irit membeli makanan untuk keluarganya. Jatah Rp 15 ribu digunakan untuk membeli nasi bungkus untuk satu hari.
Permintaan sebuah kamar untuk tempat menginap keluarganya, pernah diutarakan Ganggang kepada pihak rumah sakit. Namun, petugas jaga mengatakan kamar sudah penuh. Ia juga ditawari untuk menginap di penginapan Abas, belakang rumah sakit. Ketika Ganggang dan keluarga menuju tempat itu, sudah penuh.
Kondisi Ganggang dan keluarga diketahui oleh mahasiswa asal Kabupaten Kayong Utara (KKU). Merekapun menjemput Ganggang dan dibawa ke asrama mahasiswa KKU di Jalan Karvin nomor 1A.
Penguhuni asrama bernama Kholik mengatakan tindakan tersebut diambil setelah melihat kondisi keluarga Ganggang secara langsung. Apalagi, keadaan Aldo yang sangat memprihatinkan.
"Kita berusaha untuk membantu mereka. Tetapi, untuk ditampung di sini juga tidak memungkinkan. Ada teman yang menganjurkan agar keluarga Ganggang bisa ditampung sementara hingga Aldo mendapatkan perawatan secepatnya," katanya.
Penghuni asrama lain bernama Hendri mengatakan, sangat berharap perawatan Aldo bisa dipercepat. Mengingat, daging tumbuh yang dialami Aldo sudah membesar. Begitu pula dengan bentuk kepala yang tidak seukuran kepala bayi kebanyakan. (art)
Empat Hari Tak Buang Air Besar
SETELAH menginap semalam di asrama mahasiswa, Ganggang dan keluarganya diantar ke kantor FRKP di jalan Purnama. Penanggungjawab Umum FRKP Stephanus Paiman OFM Cap mengatakan, dirinya akan memfasilitasi perawatan Aldo.
"Agar anak itu bisa mendapatkan perawatan selayaknya. Sekaligus, biaya sesuai dengan ketentuan kartu jamkesmas yang Ganggang miliki. Namun, bagaimana Aldo bisa cepat diketahui penyakitnya kalau CT scan di rumah sakit rusak, " tuturnya.
Pelayanan Medik RSUD Soedarso Machfudin mengatakan, selama ini pihak rumah sakit selalu melayani pasiennya. Bila pasien tidak terlayani, mereka bisa melaporkan ke customer service, mengenai kurangnya pelayananan yang mereka peroleh.
Machfudin mengakui CT scan di rumah sakit Soedarso saat ini mengalami kerusakan dan belum selesai diperbaiki sepenuhnya. Menurutnya, akibat kerusakan itu, pasien yang memeriksa penyakit bagian dalam tubuh tidak bisa dilayani.
"Baru dua pekan sudah rusak lagi. Alat bantu diagnosa penyakit jadi menghambat kerja. Biasanya, kalau alat kita rusak, pasien kita rujuk ke rumah sakit lain. Namun, saat ini perlatan CT scan di tempat lain juga rusak," tuturnya.
Kondisi Aldo sangat mengenaskan. Bocah itu terus menangis ketika Tribun jumpai. Menurut Yeni (30), ibunya, tangisan Aldo semakin menjadi bila ingin membuang air besar. Karena, bocah itu harus menahan derita akibat benjolan besar di atas pantatnya.
"Aldo sudah empat hari tidak buang air besar. Kalau dia mau buang air besar, harus dikeluarkan paksa dari anusnya. Kalau tidak begitu, Aldo tidak bisa buang air," ujarnya kepada Tribun, Kamis (4/12).
Tangisan Aldo semakin keras. Daging tumbuh yang sudah ada sejak bocah itu lahir, semakin membesar seiring pertumbuhan bocah itu. Menurut Ganggang (30), ayah Aldo, kondisi yang dialami anak keduanya itu sudah diperiksakannya ke RSUD Agus Djam Ketapang.
Pemeriksaan ke RSUD Soedarso merupakan yang kedua kalinya dilakukan oleh Ganggang. Pada Agustus, lalu, ia datang membawa Aldo. Namun tidak dilayani karena kartu Jamkesmasnya tidak lengkap.
"Saya sedih melihat kondisi Aldo. Apalagi, kepalanya juga mulai membesar. Setiap hari Aldo selalu menangis. Daging tumbuh di punggungnya membuat Aldo harus berbaring dalam posisi miring," tuturnya.
Pria yang juga berkerja serabutan sebagai pembersih sawah orang lain dengan penghasilan Rp 20 ribu tiap petak, itu, berharap banyak terhadap kedatangannya kali ini. Karena, ia membawa surat-surat lengkap yang dibutuhkan dalam perawatan anaknya.
Foto by Januardi Dwindra (Ddx)
Diposkan oleh
bloomasak
di
03:03
0
komentar
