SEBELUMNYA tak pernah terpikirkan oleh Marsedes Rincelina S Pd, duduk menjadi terdakwa dalam suatu persidangan. Mimpi buruk itupun menjadi kenyataan ketika ia menghadapi sidang pertama pada 13 Februari, lalu.
Lebih dua puluh kali Kepala Sekolah SMA Gembala Baik Pontianak, itu, mendatangi Pengadilan Negeri Pontianak untuk menjalani persidangan pidana melakukan tindakan diskriminasi terhadap anak yang mengakibatkan kerugian materi dan moril, sehingga menghambat fungsi sosialnya.
Rincelina mendapatkan dakwaan karena mengeluarkan siswanya yang bernama Alan Dharma Saputra pada 24 Maret 2007. Alasan pengeluaran karena siswa tersebut melanggar tata tertib siswa.
"Keputusan mengeluarkan siswa dilakukan berdasarkan keputusan rapat dewan guru. Mengingat, perilaku Alan di sekolahan sudah tidak bisa ditolerir lagi. Apalagi, siswa tersebut sudah menerima surat peringatan dari sekolah," ujar Rincelina pada Tribun Selasa (14/10).
Menurutnya, kenakalan Alan sangat diluar batas. Siswa kelas XII IPS 2, itu, bersikap tidak sopan dan tidak hormat terhadap guru dengan disaksikan banyak pihak (siswa, karyawan, guru-guru). Ia juga pernah berkata dengan berteriak dan menunjukkan sikap menantang seorang guru
Perempuan yang berasal dari Flores ini mengatakan, sikap tersebut dilakukan oleh Alan pada guru komputer Antonius S Kom pada Sabtu (17/3), tahun lalu. Antonius yang menasehati Alan untuk tidak melarikan diri meninggalkan pelajaran, dijawab dengan hardikan keras.
"Siswa tersebut berkata dengan bersuara keras pada pak Antonius. Dia berkata, jadi, kau mau apa?. Teriakan tersebut disertai dengan jari yang menunjuk pak Antonius. Padahal, sewajarnya guru untuk menasehati muridnya bila melakukan kesalahan," katanya.
Tindakan Alan tidak berhenti di situ saja. Ia juga berbuat tidak sopan dan tidak hormat kepada guru BP Maria Lili S Pd yang sedang menangani persoalan Mona Monika Van Der Meer Mohr, pacar Alan.
"Ketika itu, Alan tanpa permisi dan mengetuk pintu, langsung mendorong pintu dan masuk ke ruang BP. siswa itu juga berkata kepada bu Lili : urusan pacar adalah urusanku!. Padahal, persoalan yang ditangani oleh guru bukan persoalan pacaran," kata Rincelina.
Sutadi, pengacara yang mendampingi Rincelina dalam persidangan tersebut, juga mengutarakan keberatan atas tuntutan jaksa. Menurutnya, ada beberapa alasan tuntutan yang tidak bisa diterimanya. Tuntutan tersebut, merugikan terdakwa.
"Apalagi saksi kunci yaitu saudara Alan, tidak bisa dihadirkan jaksa penuntut di persidangan. Mereka hanya membacakan secara tertulis. Bagaimana bisa menuntut terdakwa bersalah melakukan tindakan yang merugikan materi maupun moril bagi Alan?" katanya.
Menurut Sutadi, berdasarkan informasi yang disampaikan oleh jaksa, Alan saat ini mengikuti ibunya menetap ke Amerika Serikat. Berarti, anak tersebut tidak mengalami tekanan apapun secara moril.
Sutadi juga mengatakan bahwa pengakuan paling utama dari Alan yang seharusnya diperhatikan oleh jaksa penuntut umum adalah Alan pernah mendatangi Maria Lili dan mengeluh tidak mendapat perhatian dari orangtuanya. Alan bahkan tinggal di rumah dengan pembantunya saja, karena perceraian kedua orangtuanya.
"Ayah Alan menikah lagi, sedangkan ibu kandungnya tinggal di Amerika Serikat. Bayangkan, anak seusia Alan seharusnya mendapatkan perhatian dari orangtua. Tapi, ia malah dididik di rumah bersama pembantunya," katanya.
Pada Senin (13/10), Rincelina menjalani sidang pembelaan dirinya. Sutadi yang membuat berkas pembelaan, mengaku, bahan pembelaan yang ia bacakan dalam sidang baru selesai pada pagi harinya.
"Kami hanya diberi waktu tiga hari untuk membuat pembelaan tersebut. Terpaksa saya harus kebut untuk mengejar jadwal sidang. Kami merasa dakwaan yang ditujukan kepada Rincelina tidak masuk akal," katanya seraya mengatakan sidang akan dilanjutkan kembali pada Kamis (16/10), besok.
Lima Juta
Majelis hakim Pengadilan Negri Pontianak dalam sidang pada Kamis (30/10), lalu, menjatuhkan vonis bersalah pada Rincelina. Kepala sekolah menengah atas Gembala Baik, itu, diharuskan membayar hukuman denda sebesar Rp 5 juta.
Vonis tersebut disambut dengan penolakan oleh para guru-guru yang menghadiri persidangan. Guru yang datang memberikan dukungan moral pada Rincelina untuk menghadapi sidang.
Rincelina tampak tenang menerima keputusan tersebut. "Banyak terimakasih kepada majelis hakim. Kami tidak punya dana untuk membayar denda Rp 5 juta, dari honor kami. Maklum, kami bertugas di bidang pendidikan. Kami tidak menerima suap," ujarnya sebelum meninggalkan ruang persidangan.
Note : Tulisan ini seharusnya terbit utuh. Tetapi, menjadi tidak jelas ketika redaktur merombak habis. Sengaja saya posting tulisan ini, untuk melihat betapa carutmarutnya pendidikan yang dipermainkan oleh hukum tak jelas.
Sabtu, 22 November 2008
Keluarkan Siswa Nakal, Rincelina Menjadi Terdakwa
Diposkan oleh
bloomasak
di
08:11
0
komentar
Jumat, 21 November 2008
Bingung
Pada 1990, kala itu. Seorang bocah laki-laki berusia 10 tahun sedang berbincang dengan ibunya, ketika sang ibu sedang memotong sayur menu santap malam. Ketika si ibu bertanya apa yang menjadi cita-citanya, bocah kelas IV sekolah dasar itu berkata pelan. “Mau jadi wartawan,”.
Tangan ibu yang memegang pisau, terhenti memotong sejenak, usai mendengar ucapan putra ketiganya, itu. Sang ibu kemudian memandang wajah anaknya, tanpa memberikan komentar apapun.
Tak lama, ibu melanjutkan pekerjaannya. Membawa semua pikiran akan ucapan anaknya, dalam diam. Perempuan yang berkerja sebagai pegawai dinas kesehatan di Puskesmas Toho, itu, tak melanjutkan tanyanya.
Waktu terus berlalu. Bocah pun tumbuh dewasa. Lepas menamatkan sekolah menengah pertama di Nyarumkop, Singkawang, dan sekolah menengah atasnya di Menjalin, ia melanjutkan studi ke kota pelajar, Yogyakarta. Fakultas Biologi Universitas Atma Jaya, tepatnya.
Pada 2003, ketika anak itu pulang kampung liburan Natal, pemberitaan media elektronik mengenai wartawan RCTI yang disandera GAM pada 29 Juli 2003 dan meninggal dunia dalam kontak senjata pada 29 Desember 2003, Sori Ersa Siregar, menarik minatnya.
Kekaguman anak itu akan tugas seorang wartawan yang diucapkannya di meja makan, membuat si ibu tertegun. Namun, ia tetap diam, seperti pertama kali anak itu mengutarakan apa yang dicita-citakan, kepadanya.
Pernah suatu kali si ibu menanyakan, kenapa keinginan anak menjadi wartawan sangat kuat. Jawaban sang anak yang mengatakan bahwa menjadi wartawan bisa pergi kemana saja dan menguasai semua hal, membuat ibu tak melanjutkan tanya.
Ibu ingin anaknya menyelesaikan kuliah secepatnya dan mendapat kerja. Ia khawatir akan kesehatan anaknya yang harus pasang semua indera 24 jam dan ngeri membayangkan seperti yang dialami wartawan RCTI. Ia berharap, keinginan anak menjadi wartawan sirna bila mendapat kerja di kantor pemerintahan, seperti dirinya.
Namun, ibu salah mengira. Selama kuliah, anaknya aktif di pers mahasiswa dan memupuk bakat menulis, tanpa sepengetahuannya. Bahkan, ibu tidak tahu bila anaknya menjadi pengurus harian senat mahasiswa di fakultas tempat anaknya menimba ilmu.
Pertengahan 2005, anak itu menyelesaikan pendidikan dan kembali pulang ke rumah. Permintaan ibu untuk tes Calon Pegawai Negri Sipil, diikutinya. Namun, hanya untuk menyenangkan hati orangtua saja. Ibu tidak tahu bila anaknya mengirimkan lamaran menjadi wartawan di satu media lokal.
Jalan menuju wartawan terbuka ketika ada panggilan tes, menjawab surat lamaran kerja yang dikirim si anak. Beralasan mencari kerja di kota dan tinggal dengan abangnya, anak itu mengikuti tahapan seleksi wartawan hingga diterima di harian Borneo Tribune. Lagi-lagi, tanpa sepengetahuan orangtuanya.
Rahasia terkuak pada natal 2007, ketika anak ketiganya tidak bisa berkumpul bersama keluarga karena masih memburu berita. Namun, ibu tak bisa berkata apa-apa. Karena ia tahu, pekerjaan itu memang pilihan putranya.
Ketika anaknya memutuskan untuk keluar dan pindah ke media lain, ibupun tak tahu. Ibu baru tahu ketika anaknya berangkat ke Sintang dan berkerja di media baru bernama Tribun Pontianak, ketika harian itu terbit perdana 1 Agustus 2008.
Ternyata, kegundahan dan kekhawatiran akan pekerjaan anaknya terus berkecamuk dalam diri ibu. Ketika arthur, anaknya, bertugas di Mempawah yang tak jauh dari rumah dan pulang barang semalam, ia meminta waktu untuk berbicara.
Menurutnya, sang anak terlalu sibuk dengan dunianya hingga tidak perduli dengan keluarga. Banyak acara kumpul keluarga yang sudah tidak pernah lagi anaknya datangi. Beberapa hal lain mengenai keberatan dari ibu akan pekerjaan sebagai wartawan, diucapkan. “Sekali ini, tolong dengarkan ibu untuk coba tes CPNS,” tuturnya.
Anak itu terdiam. Memang banyak acara keluarga yang dilewatkannya. Ketika keponakannya di Anjongan meninggal karena demam berdarah, ia berada di Sintang. Ketika keponakannya di Ngabang pesta sunatan, ia di Pontianak. Ketika tantenya meninggal sakit jantung di Anjongan, ia di Sanggau. Ada juga panitia persiapan pernikahan keponakannya pada Desember, bulan depan. Karena, keponakannya akan menikah pada 22 Februari 2009.
Dan, pagi ini anak itu sangat bingung. Belum tahu keputusan apa yang akan diambil. Mengikuti permintaan orangtua agar perkataan yang panas dikuping terhenti atau tetap egois pada pilihan sendiri. I am so confuse.......
Diposkan oleh
bloomasak
di
12:11
0
komentar
Rabu, 19 November 2008
Anak Derita Polio , Safiah Juga Rawat 2 Kerabat Yang Buta

MEMPAWAH, TRIBUN – Wiwid Kurniawan (14) diduga menderita polio sejak ia masih bayi. Tulang kaki dan tangannya, kecil, sekira tiang bendera. Ia tidak mampu mengangkat tubuhnya sendiri.
Sehari-hari, putra Safiah (40), itu, hanya bisa berbaring dengan air liur yang menetes tak henti. Bilapun ingin duduk, ia harus dibantu dengan cara dipapah oleh orang lain. Tempat kesukaannya adalah di muka pintu rumah, melihat lalu lalang warga dan kendaraan yang lewat.
“Pertama kali Wiwid mendapatkan gejala penyakit yang dideritanya, ketika berusia enam bulan. Ketika itu, badannya panas tinggi dan tiba-tiba kejang,” tutur Safiah di rumahnya di Dusun Parit Serikat Nomor 38 Desa Malikian Kecamatan Mempawah Hilir, Senin (18/11).
Sejak itu, kondisi tubuh Wiwid yang lahir prematur dengan usia kandungan enam bulan, semakin menyusut. Tulang tubuhnya lembut dan tidak memiliki kekuatan untuk menopang tubuhnya.
Safiah dan suaminya, Saptono (39), berusaha sekuat tenaga untuk kesembuhan putra tercintanya. Ketika berusia empat tahun, Wiwid dibawa ke Purwokerto Jawa Tengah ke tempat asal Saptono, untuk dirawat di satu rumah sakit di sana.
Menurut Safiah, dokter yang merawat di Purwokerto mengatakan Wiwid terlambat mendapatkan perawatan medis. Meskipun begitu, warga yang sehari-hari bekerja sebagai petani, itu, tidak menyerah. Ia beberapa kali membawa Wiwid untuk konsul ke RSUD Soedarso.
“Wiwid di rawat di ruang fisioterapi. Kami sudah habis-habisan untuk pembiayaannya. Terakhir kami bawa ke RSUD Rubini beberapa bulan yang lalu, untuk mengecek kondisi kesehatannya,” ujarnya.
Demi mencari biaya pengobatan, Safiah harus rela berpisah dengan Saptono yang bekerja di daerah Sanggau Ledo. Menurut Safiah, suaminya bekerja serabutan yang pulang ke rumah tiap dua pekan sekali.
Usaha lain yang dilakukan oleh Safiah adalah dengan mendatangi ‘orang pintar’ berdasarkan cerita dari mulut ke mulut warga sekitar. Namun, tetap saja tidak ada perubahan pada tubuh Wiwid.
Saat ini Safiah pasrah. Ia menerima sepenuhnya keadaan putranya itu. Curahan rasa sayang tetap diberikan kepada Wiwid, meskipun derita itu dibawa Wiwid seumur hidup. Menurut Safiah, meski kondisi putranya seperti itu, Wiwid termasuk anak yang tanggap dengan sekitarnya.
“Dia, kalau sudah kenal dengan orang pasti akan memanggil dengan suara yang kadang tak jelas, ketika orang itu lewat di depan rumah. Begitu juga kalau mau buang air besar atau kecil. Tidak pernah sembarangan,” ujar Safiah.
Rawat Keluarga Buta
RUMAH sederhana Safiah tidak hanya dihuni oleh ia dan putranya. Perempuan itu juga menampung Mayani (55), kakak ibunya dan Jafar (49), adik ibunya. Dua kerabatnya itu mengalami buta.
Menurut Safiah, keberadaan dua kerabatnya itu turut membantu dirinya. Meskipun buta, mereka menjaga Wiwid bila Safiah ke sawah. Selain itu, Mayani dan Jafar juga membantu perekonomian dengan berprofesi sebagai tukang urut.
“Saya mengalami buta sejak berusia 20 tahun. Kebutaan terjadi tiba-tiba, yang diawali dengan sakit panas tinggi. Sebelumnya, pengelihatan saya normal. Saya dan keluarga tidak tahu apa penyebabnya,” ujar Mayani.
Menurut Mayani, dirinya hanya bisa menangkap sinar terang saja. Itupun, samar. Wujud yang ditangkap matanya tidak jelas. Terutama, bila malam hari. Hal yang sama juga dialami Jafar, adiknya.
Jafar mengatakan kebutaan yang dialaminya pertama kali terjadi di usia 12 tahun. Kejadian awal yang mengakibatkan kebutaannya, sama seperti yang dialami kakaknya.
Diposkan oleh
bloomasak
di
20:38
Minggu, 16 November 2008
Asal Muasal Kerajaan Mempawah
Berawal Dari Bangkule Rajank
Kerajaan Mempawah banyak dikenal orang karena pemerintahan raja Opu Daeng Menambon pada 1737-1761. Namun, kerajaan ini sebelumnya sudah ada jauh sebelumnya, sekitar 1380.
Pusat pemerintahan Kerajaan Mempawah pertama kali berdiri di pegunungan Sadaniang. Kerajaan yang terkenal pada saat itu adalah kerajaan suku Dayak, yang dipimpin oleh Raja Patih Gumantar.
Nama kerajaannya adalah Bangkule Rajank, dengan ibukota yang ditetapkan di Sadaniang. Kerajaan tersebut lebih terkenal dengan nama kerajaan Sadaniang, yang menjadi pusat pemerintahan pada saat itu.
Kejayaan kerajaan Bangkule Rajank membuat Kerajaan Suku Biaju (Bidayuh) di Sungkung ingin menguasainya. Perangpun timbul untuk merebut kekuasaan dari tangan Patih Gumantar.
Peperangan kala itu dilakukan dengan cara Kayau (memenggal kepala manusia). Serangan yang tiba-tiba dari kerajaan Bidayuh, membuat Patih Gumantar mengalami kekalahan. Raja yang terkenal gagah berani itu, meninggal akibat terkayau oleh lawannya.
Sejak kematian Patih Gumantar, perlahan-lahan kerajaan Bangkule Rajank mengalami kehancuran. Namun, kerajan ini bangkit kembali sekitar 1610 di bawah pimpinan Raja Kudong.
Kerajaan yang baru terisi oleh Raja Kudong setelah terjadinya perang Kayau, merupakan kepemimpinan baru yang bukan berasal dari keturunan Patih Gumantar. Ia memindahkan pusat pemerintahan kerajaan ke Pekana (sekarang dinamakan Karangan).
Pengganti Raja Kudong adalah Raja Senggaok yang lebih dikenal sebagai Panembahan Senggaok. Pusat pemerintahanpun berpindah lagi ke Senggaok (hulu sungai Mempawah). Raja ini menikahi seorang putri Raja Qahar dari kerajaan Baturizal Indragiri, Sumatera, yang bernama Puteri Cermin.
Ketika mereka menikah, seorang tukang nujum meramal kehidupan mereka. Tukang nujum mengatakan, bila Panembahan Senggaok dan Puteri Cermin melahirkan seorang putri, maka kerajaan nantinya akan diperintah oleh raja yang berasal dari kerajaan lain.
Hasil pernikahan tersebut melahirkan seorang anak perempuan yang dinamai Mas Indrawati. Ketika putri mahkota beranjak dewasa, ia menikah dengan Sultan Muhammad Zainuddin dari kerajaan Matan (Ketapang).
Mas Indrawati melahirkan seorang putri yang berparas cantik. Sultan Muhammad Zainuddin menamai anaknya itu Putri Kesumba, yang akhirnya menikah dengan Opu Daeng Menambon.
Raja Seorang Pelaut
Lautan yang mereka arungi antara lain Banjarmasin, Betawi, berkeliling hingga Johor, Riau, Semenanjung Melaka. Selama mengarungi lautan, mereka banyak membantu kerajaan-kerajaan kecil yang mengalami kesulitan.
Bantuan yang mereka lakukan tersebut berbentuk membantu kerajaan kecil berperang, baik perang saudara maupun diserang oleh kerajaan lain. Seringnya mereka memenangi peperangan mengakibatkan mereka dikenal banyak orang dan kerajaan.
Merekapun sampai di daerah Kerajaan Tanjungpura (Matan), yang sedang mengalami perang saudara. Penyebab perang tersebut adalah Sultan Muhammad Zainuddin diserang oleh adik kandungnya yang bernama Pangeran Agung.
Pemberontakan dan perampasan tahta kerajaan oleh Pangeran Agung berhasil dipadamkan oleh Opu Daeng Menambon beserta adiknya. Bahkan, Opu Daeng Menambon boleh mempersunting Putri Kesumba. Mereka dikaruniai sepuluh anak, diantaranya adalah Utin Chandramidi dan Gusti Jamiril atau Panembahan Adijaya Kesuma Jaya.
Sekitar tahun 1740, Opu Daeng Menambon dan istrinya menuju ke Mempawah. Merekapun mengunjungi Senggaok dan dilakukan serah terima pemerintahan dari Pangeran Adipati kepada Opu Daeng Menambon. Pusat kerajaan dipindahkan ke Sebukit Rama (sekitar 10 kilometer dari Kota Mempawah).
Opu Daeng Menambon dikenal sebagai raja yang bijaksana. Penduduknya beragama Islam dan taat. Ia selalu bermusyawarah dengan bawahannya dalam memecahkan segala persoalan yang terjadi di kerajaannya.
Gusti Jati Pendiri Kota Mempawah
Masa keemasan Gusti Amiril tersebut, bersamaan dengan masa penjajahan Belanda. Bahkan, kerajaan Mempawah selalu bertempur melawan Belanda. Hal itu disebabkan, raja Mempawah diisukan membenci dan akan memberontak pemerintahan Hindia Belanda.
Kabar tersebut membuat Belanda murka dan mengirimkan tentara prajurit yang bermarkas di Pontianak untuk menyerbu kerajaan Mempawah. Gusti Amiril yang mengetahui adanya penyerbuan, memutuskan memindahkan pusat pemerintahan ke Karangan.
Akibat sulitnya medan perjalanan dari Mempawah menuju Karangan, gerakan pasukan Belanda menjadi lamban dan gagal. Kebencian Panembahan Adijaya Kesuma Jaya semakin menjadi kepada Belanda.
Selama hayatnya, Gusti Jamiril berusaha untuk mengusir penjajah Belanda. Bahkan, sebelum meninggal, ia berpesan apabila meninggal dunia, dirinya tidak rela dikebumikan ke luar dari Karangan.
Jabatan raja sepeninggal Gusti Jamiril dipimpin oleh anaknya, Gusti Jati yang bergelar Sultan Muhammad Zainal Abidin. Kedudukan Gusti Jati yang berada di Mempawah, dipercaya sebagai pendiri Kota Mempawah.
Kedudukan Gusti Jati digantikan oleh adiknya yang bernama Gusti Amir dan bergelar Panembahan Adinata Karma Oemar Kamaruddin. Setelah Gusti Amir wafat, ia digantikan oleh anaknya yang bernama Panembahan Mukmin.
Namun, usai penobatan kerajaan dilakukan, Panembahan Mukmin meninggal dunia. Iapun dikenal dengan sebutan Raja Sehari. Karena putranya masih kecil dan dirasa belum mampu mengurus kerajaan, penerus kepemimpinan kerajaan diserahkan kepada adiknya, Gusti Mahmud, yang bergelar Panembahan Muda Mahmud.
Wafatnya Gusti Mahmud digantikan oleh putra Panembahan Mukmin yang bernama Panembahan Usman dan bergelar Panembahan Usman Natajaya Kesuma. Ia mangkat pada 6 Jumadil, awal 1280 Hijriah, dan dimakamkan di Pulau Pedalaman.
Perjuangan Melawan Penjajah
Tak tahan ditindas, masyarakat mulai mengadakan pemberontakan kepada penjajah Belanda. Terlebih, dengan diberlakukannya pembayaran pajak oleh masyarakat dengan cara pemaksaan.
Pemberontakan dilakukan oleh suku Dayak. Peperangan tersebut dikenal dengan nama perang Sangking, hingga mayarakat banyak merasa antipati dengan keberadaan Belanda di tanah kerajaan Mempawah.
Setelah Panembahan Ibrahim Muhammad Tsaifuddin wafat, pimpinan kerajaan yang semula akan diberikan kepada putranya, Gusti Muhammad Taufik. Tetapi, putranya tersebut belum dewasa, hingga kerajaan dipimpin sementara oleh Pangeran Ratu Suri, kakak dari Gusti Muhammad Taufik.
Pada 1902 masehi, Gusti Muhammad Taufik dirasakan sudah cukup umur untuk memimpin kerajaan. Iapun naik tahta dan bergelar Panembahan Muhammad Taufik Accamaddin. Ia ditawan oleh Belanda bersama raja-raja daerah lainnya serta para pemimpin pemuka masyarakat.
Lepas dari tawanan Belanda, Gusti Muhammad Taufik diculik oleh penjajah Jepang. Bersama para tokoh masyarakat yang diculik, ia dibunuh. Lokasi pembunuhan sekaligus tempat pemakaman terjadi di Mandor.
Gusti Muhammad Taufik meninggalkan empat orang anak. Yakni Pangeran Mohammad atau yang saat ini dikenal bernama Drs H Jimmi Mohammad Ibrahim, Pangeran Faitsal Taufik, Pangeran Abdullah, dan Pangeran Ratu Hajjah Thaufiqiyah Mohammad Taufik.
Pada masa itu, dibentuklah Bestuur Komisi sebagai pengganti raja yang diketuai oleh Pangeran Wiranata Kesuma (1944-1946).
Akhir Kepemimpinan Kerajaan Mempawah
Tokoh-tokoh masyarakat kemudian melakukan lagi upacara penobatan yang sama pada tahun 1946. Tahun ini pula Belanda (NICA) datang lagi ke Mempawah dan mencoba mengangkat raja kembali.
Karena Panembahan Pangeran Mohammad (Drs H Jimmi Mohammad Ibrahim) belum dewasa dan ingin melanjutkan sekolahnya yang baru duduk di kelas VSD (Jokio Ko Gakko), ia tidak bersedia diangkat kembali.
Pengganti Pangeran Mohammad adalah Gusti Musta’an yang menjadi raja sementara bergelar ‘wakil panembahan’ hingga tahun 1955. Meskipun sudah pernah dinobatkan secara formal menjadi Panembahan dan sudah dewasa, Pangeran Mohammad menyatakan tidak bersedia menggantikan ayahnya sebagai raja.
Penolakan tersebut dikarenakan dirinya ingin terus melanjutkan pendidikannya di perguruan tingga Gadjah Mada Yogyakarta. Keputusannya itu mengakhiri kepemimpinan kerajaan Mempawah.
Sejak berdirinya kerajaan Mempawah hingga berakhirnya masa kepemimpinan berakhir, kerajaan sudah mengalami perpindahan pusat kerajaan sebanyak lima kali. Yakni pegunungan Sadaniang, Pekana, Senggaok, Sebukit Rama, dan Mempawah.
Raja yang memimpin kerajaan Mempawah dibagi dalam dua zaman, yaitu zaman Hindu dan Islam. Zaman Hindu dipimpin oleh tiga raja, sedangkan zaman Islam dipimpin oleh 13 raja.
Raja zaman Hindu adalah Patih Gumantar, Raja Kudong, dan Panembahan Senggaok. Raja zaman Islam adalah Opu Daeng Menambon, Gusti Jamiril, Syarif Kasim, Syarif Husein, Gusti Jati, Gusti Amir, Gusti Mukmin, Gusti Mahmud, Gusti Usman, Gusti Ibrahim, Muhammad Tsafiudin, Drs Gusti H Jimmi Muhammad Ibrahim, dan Ir Mardan Adijaya M Sc P Hd.
Sumber : Mempawah Tempoe Doeloe
Diposkan oleh
bloomasak
di
09:50
0
komentar
Senin, 10 November 2008
Sorry, I Am Indonesian and Atheis
Satu panggilan dari nomor 085245107*** masuk di telepon selulerku dan mengawali pagi pukul 08.30 WIB. "Mas, saya ada di kosnya mas. Di depan," ujar si empu nomor, Dikin. Sedikit kaget, tentu, hingga timbul pertanyaan gerangan apa yang membawa langkahnya datang ke kos?
Hari yang cerah tak secerah cerita Dikin. Ia yang sehari sebelumnya aku wawancara mengenai menumpuknya sampah di Desa Senggiring Kelurahan Pasir Wan Salim Mempawah Timur, 'didamprat' pemilik lahan yang mengizinkannya untuk membuka usaha meuble di lokasi itu.
Masalah sepele, memang. SAMPAH. Hanya lima abjad itu. Dikin yang mengatakan tumpukan sampah tersebut menimbulkan bau busuk bila musim hujan tiba. Selain itu, lalat bisa muncul dari genangan air di musim hujan. Bahkan, kalau tak memakai alas kaki, bisa gatal bila terkena air dari tumpukan sampah itu.
Apa yang diutarakan Dikin tidak berlebihan. Permasalahan itu memang selalu berasal dari lokasi pembuangan sampah. DIMANA-MANA. Namun, ia juga tidak menutup mata akan manfaat sampah tersebut bagi masyarakat sekitar. Mereka bisa mendapatkan penghasilan dengan mengumpulkan dan menjual plastik atau bahan karet ke penampung. Seperti Tio (12), bocah yang sudah lima kali membantu orangtuanya mengais rezeki di tempat itu.
Kemudian kontrapun datang setelah berita tersebut terbit. Dikin yang bekerja tepat di samping lokasi pembuangan sampah itu, didatangi pemilik lahan yang tidak terima mengenai pemberitaan tersebut.
Menurut pemilik lahan, tidak ada keluhan dari masyarakat. Bahkan, mereka sangat terbantu dengan adanya tumpukan sampah. Betulkah? Apakah masyarakat sudah akrab dengan sampah hingga tidak menimbulkan masalah?
Ketertarikanku untuk mengangkat masalah sampah dikarenakan tidak adanya pengelolaan lanjutan setelah sampah menumpuk. Terutama sampah plastik yang tidak bisa terurai. Bila dibiarkan terus, tentunya akan menumpuk dan membukit. Ujung-ujungnya, sulit ditangani. Apakah sejumlah pemulung bisa mengatasi itu semua?????
Dan akhirnya akupun hadir di tengah kerumunan orang yang kebakaran jenggot dengan beritaku. Mereka yang berjumlah delapan penuh emosi. "Mana bau busuk itu? Kalau ada lalat, cari!!" bentak satu dari tiga orang yang mengenakan seragam dinas kepadaku.
Penjelasanku mengenai penanganan sampah perlu dilakukan untuk menghindari dampak seperti tertulis di atas, disambut dengan beberapa kali dorongan tangan di kedua bahu bagian belakangku. Mereka juga membentak dengan mengatasnamakan pengurus organisasi agama.
Seorang yang mengatakan dirinya ketua organisasi, menanyakan apa agamaku. Setelah mengatakan agama yang kuanut, dia melanjutkan kata : oh, pantas. Dalam agama kami tidak ada yang boleh memfitnah seperti anda. Damn, sebagai ketua organisasi seharusnya dia tahu kalau tidak satupun ajaran agama yang membolehkan fitnah.
Mengapa semua hal selalu dikaitkan dengan agama?. Pertanyaan yang paling amat sangat tidak aku suka. Agama adalah hak individual yang tidak perlu dipertentangkan. Termasuk suku. Jadi ingat seorang teman satu kos di Yogya waktu kuliah dulu.
Anak Bandung, Aang Kunaefi, namanya. Ia anak pemuka agama di kampungnya. Namun, dalam hal agama, tidak ada beda baginya. "Semua agama itu baik dan menjadi rambu untuk kita menjalani hidup," tuturnya. Ia bahkan pernah berdoa di tempat ibadah semua agama yang ada di Indonesia, yang kebetulan ada di Yogya.
Ketika ditanya kenapa melakukan itu, dia berkata : berdoa bukan tindakan berdosa. Kita juga tidak tahu apakah kita berdosa atau tidak. Karena, yang tahu hanya Yang Kuasa. Lebih ekstrem lagi, dia mengaku setelah F***ING atau C**I pun, ia langsung berdoa.
Bila teman lain yang datang ke kos menanyakan agamanya, jawaban 'Sorry, i am atheis,' selalu keluar dari mulutnya. Jangan pula tanya dia suku apa. Karena, dari pertama kenal hingga dia pindah kos selalu mengatakan 'I am Indonesian,". Masalahkah?
Dari sisi saya sendiri, tidak heran melihat perbedaan. Keluarga yang berbeda agamapun ada. Seorang kakak dan dua adik ayahku berbeda agama. Namun, tidak pernah menjadi bahan perdebatan sama sekali. Berbeda suku? Apalagi ini, banyak. Kalau diibaratkan, keluargaku adalah Indonesia mini. Suku yang ada di Indonesia, hampir semua ada.
Meskipun begitu, KELUARGA KAMI TETAP AKUR SAJA WALAU BERBEDA. Karena, kami selalu berpatokan bahwa agama HAK INDIVIDU dan SEMUA AGAMA BAIK. Tergantung bagaimana kita mempertanggungjawabkan semua kepada-Nya.
Apalagi aku terjun di dunia tanpa koma (jurnalis), yang harus berada di sisi semua suku maupun agama. Jadi, jangan heran bila saya menjawab pertanyaan mengenai suku dan agama saya dengan meminjam perkataan Aang : "Sorry, i am Indonesian and atheis,".
Diposkan oleh
bloomasak
di
09:30
0
komentar
Rabu, 05 November 2008
Angka Empat Dalam Kemenangan Barack Obama
Pemilihan kursi kepresidenan Amerika Serikat memang menarik untuk disimak. Tidak hanya untuk masyarakat negri uncle Sam, tetapi, untuk seluruh masyarakat dunia. Rasanya tidak lengkap membaca koran ditemani segelas kopi, tanpa membicarakan Barack Obama versus John McCain.
Namun, bila diperhatikan, ada sesuatu yang menarik dari pemilihan yang mencuatkan nama Barack Obama sebagai pemenang. Yaitu, angka empat. Mungkin kening anda yang membaca akan berkerut dan langsung mengajukan pertanyaan : mengapa angka empat?
Untuk menuntaskan tanda tanya anda, akan kita ulas kaitan angka empat dengan kemenangan presiden Amerika pertama berkulit hitam yang mengumpulkan setidaknya 270 electoral vote dari 435 anggota DPR AS/House of Representatives dan 100 anggota Senat.
Angka empat pertama yang tidak bisa dihindari oleh Obama adalah tanggal pelaksanaan pemilihan dimana dirinya menang telak atas McCain (Selasa, 4/11). Tanggal ini sangat ditunggu-tunggu oleh dunia, bahkan impact dengan menangnya Obama merembet pula pada membaiknya kondisi bursa saham dunia.
Selanjutnya, Obama menjadi Presiden Amerika ke 44. Angka kembar empat ini 'diduduki' Obama dengan meraup 62.450.831 suara pemilih di seluruh Amerika hingga pukul 20.46 waktu Indonesia pada Rabu (5/11).
Perjuangan Obama menuju gedung putih juga diraihnya dalam waktu empat tahun setelah namanya mencuat di pentas politik Amerika Serikat. Ia terlebih dahulu harus menduduki jabatan sebagai senator negara bagian, senator nasional, hingga calon Presiden. Debut politiknya dimulai pada 2004 hingga ia terpilih menjadi Presiden USA pada 2008.
Angka empat dalam hidup Obama juga terkait dengan keberadaannya di Indonesia selama empat tahun. Ia mengikuti Ann Dunham, ibunya, menetap di Jakarta, Indonesia, pada 1968 hingga 1971.
Empat berikutnya yang terkesan saya tambah-tambahkan adalah empat orang yang bersaing memperoleh suara untuk kursi Presiden dan wakil presiden Amerika. Masing-masing Barack Obama-Joe Bidden dan John McCain-Sarah Palin.
Tulisan di atas merupakan angka empat dalam hidup Obama yang saya tahu. Mungkin ada angka empat lain dalam hidup suami Michelle Obama yang anda ketahui. Silakan untuk menuliskannya untuk angka empat Obama berikutnya.
Diposkan oleh
bloomasak
di
05:15
0
komentar
Senin, 03 November 2008
Ternyata....
Hujan yang mengguyur bumi pukul 22.15 WIB membuat aku tersenyum. Mengapa? Ternyata hasil wawancaraku dengan prakirawan BMG Pontianak tadi siang tidak sia-sia dan terbukti benar. Artinya, kemungkinan banjir di wilayah Kabupaten Pontianak bisa saja terjadi.
Ide menulis berita tersebut datang secara tiba-tiba. Setelah 'berhasil' keluar rumah untuk liputan jam 12.00 karena hujan. Permukaan bumi yang basah, sisa hujan yang menggenang di pekarangan rumah, dan debit air sungai yang tinggi, membuat kepalaku penuh dengan pertanyaan : Apakah banjir akan kembali melanda wilayah yang sebagian pecah menjadi Kabupaten Landak pada 1999, ini?...
Rencana liputanpun dimulai dengan menghubungi pihak BMG sebagai 'sang maha tahu' kondisi cuaca yang terjadi setiap harinya. Hingga pernyataan mengenai potensi terjadinya hujan di Kabupaten Pontianak, tinggi, keluar dari mulut prakirawan.
Apalagi, dia juga mengatakan, debit air sungai bisa saja bertambah bila hujan mengguyur. Berdasarkan pengamatan radar mereka, hujan diperkirakan akan turun hingga tiga hari ke depan. Plus, hujan pada malam ini.
Artinya, tulisan aku bisa saja menjadi kenyataan. Trus, juga ada wawancara dengan Dinsosnaker Kabupaten Mempawah mengenai antisipasi dan kesiapan mereka bila terjadinya banjir seperti Oktober, lalu.
Komplit. Ternyata, tidak selamanya hujan menjadi penghalang dalam mencari berita. Hikmahpun diperoleh dari semua ini. Hehehe..
Diposkan oleh
bloomasak
di
07:09
0
komentar
