Jumat, 09 Mei 2008

Mencari Untung di Even Internasional

* Harga Beli Mencapai 2000 USD


Arthurio Oktavianus, Pontianak

Tribun-Pontianak, tidak hanya ikan arwana (Scleropages formosus) hidup saja yang dapat dibeli di The International Arwana Exhibition and Contest 2008. Pengunjung juga dapat membeli arwana dalam bentuk lukisan dan souvenir.

Lukisan arwana berbingkai kayu terpajang di stan balai konservasi sumber daya alam (BKSDA) Pontianak, di pontianak convention centre (PCC), sejak Rabu (7/5) lalu. Pemilik lukisan adalah Zulkifli M S.

Pelukis yang akrab dipanggil Zul, ditemui di galeri lukisannya, jalan Camar nomor 48, Jumat (10/5). Menurutnya, dua dari lima lukisan yang dipajangnya sudah ditawar oleh Joseph Ho, pengunjung dari Hongkong.

Zul mengatakan, Ho sudah menemuinya sejak hari pertama lukisan dipajang. Ho terterik pada lukisan berjudul ‘dinamika arwana’ beraliran ekpresif dekoratif dan ‘geliat arwana’ beraliran impresion.

Karya artistik lain bertema arwana yang dilukis Zul berjudul ‘kelahiran arwana’, ‘pesona arwana X’, dan ‘pesona arwana II’. Pengerjaan lukisan ini dilakukan pada 1995 hingga 2000.

“Harga lukisan dinamika arwana 500 USD dan geliat arwana 2000 USD,” ujarnya.

Lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini mengatakan, harga yang ia tawarkan masih dapat dinego lagi.

“Sebenarnya saya enggan mematok harga lukisan,” ujarnya.

Zul terpaksa memberikan harga pada lukisan dalam kurs Dollar Amerika, karena pelaksanaan even dalam lingkup internasional. Sehingga pengunjung yang datang pun tidak hanya dari dalam negeri saja.

Pelukis yang pernah pameran tunggal di Jakarta ini, berkata, bila lukisannya tidak laku dalam even internasional ini, tidak menjadi masalah baginya.

“Semua tergantung pilihan dan apa yang dirasakan pengunjung ketika melihat lukisan itu,” ujarnya.

Stan Dian Ardyka dapat pula menjadi pilihan pengunjung. Ikan arwana berbentuk souvenir yang ditawarkan unik, berasal dari dalam dan luar negeri.

Menurut penjaga stan, Edi, souvenir yang berasal dari luar negeri langsung dipesan ke Hongkong dan Jepang. Selain itu, kerajinan dari Singkawang juga bertengger di meja pajang stan.

Edi berkata, botol dengan gambar timbul ikan arwana berisi white wine (anggur putih), berasal dari Jepang. Botol ini dipajang dengan dudukan terbuat dari kayu keras, yang bertekstur halus.

“Harga per botol Rp 2,250 juta,” ujarnya.

Stan juga menjual ikan arwana hidup. Harga jualnya pun tergantung pada besar-kecil dan

kondisi ikan. Menurut Edi, kisaran harga ikan arwana adalah Rp 2 juta hingga Rp 40 juta.

Barang-barang yang memiliki harga agak murah di stan ini, ujar Edi, adalah cincin dan liontin perak berbentuk arwana.

“Harga cincin Rp 150 ribu dan liontin Rp 175 ribu,” ujarnya.


Pestaphoria Menjaring Pengguna XL

Arthurio Oktavianus, Pontianak

Pestaphoria merupakan salah satu promo unggulan kartu XL. PT Excelcomindo Pratama Tbk, mencoba menghipnotis penggunanya dengan suguhan hiburan artis ternama. Melalui grup band Samson dan Peter Pan.

Kartu XL mengusung Grup band papan atas Indonesia menjadi icon-nya. Mereka dianggap mampu menarik lebih banyak pengguna produk ini. Menurut customer service XL Fira ketika diwawancarai di kantor XL center, Pontianak Mal, Blok C 30, Selasa (29/4). Penonton harus membeli kartu perdana dan melakukan isi ulang sebesar Rp 10 ribu, untuk mendapatkan tiket masuk pestaphoria.

Tetapi, lanjut Fira, pestaphoria masih belum dilaksanakan di Kalimantan Barat. “Hanya untuk 12 kota yang ada di pulau Jawa dan Sumatera saja,” ujarnya. Karena Kalbar belum dimasukkan ke dalam daftar kota sasaran pestaphoria.

Fira mengatakan, acara ini digelar setiap tahun. Pada Maret 2008, pestaphoria dilaksanakan di kota Jambi dan Medan.

Marketing XL, Hadi, mengatakan sasaran dari promo ini adalah kawula muda. Bahkan manajemen XL pun memboyong beberapa artis muda menjadi bintang iklannya. Seperti Luna Maya, Ronald Extravaganza, Daniel Mananta.

Tidak hanya suguhan hiburan yang ditawarkan. Kartu XL pun menggelar excellent heroes, untuk menggali bakat kawula muda. “Kegiatan ini dikhususkan bagi pelajar berbakat,” ujar Hadi.

Sebelum menjadi peserta excellent heroes, pelajar harus mengisi formulir pendaftaran. Formulir tersebut dikirimkan ke kantor pusat XL, di Jakarta. “Bila pelajar yang mendaftar benar-benar berbakat. Mereka akan dipanggil untuk adu bakat di Jakarta,” ujar Hadi. Penampil terbaik hasil keputusan juri, akan menjadi pemenang dalam kompetisi tersebut.

Bunlink dan Gratisan

Kerjasama pun dilakukan XL dengan perusahaan lain. Sebagai promo yang menguntungkan kedua belah pihak. “Saat ini LG dan Motorola menjadi mitra kerja kami,” ujar Hadi. Melalui penjualan Hand Phone bersama kartu perdana XL.

Menurut Hadi, tipe LG yang ditawarkan adalah KG 200 dan KG 270, sedangkan tipe Motorola adalah C168i dan C6. “Harga promo untuk KG 270 dan C6 adalah Rp 399 ribu, lainnya Rp 799 ribu. Harga ini sudah termasuk pajak,” ujarnya.

Promo ini berlaku selama 2 bulan. Bonus yang didapat pembeli adalah gratis melakukan Short Message Service (SMS) selama masa promo berlangsung. Masing-masing 20 kali SMS sehari untuk pembelian promo Rp 799 ribu dan 10 kali SMS untuk Rp 399.

Fasilitas lain yang ditawarkan XL dalam promo ini, berupa gratis menggunakan My Web (saluran internet) dari HP selama sebulan.

Perempuan Taiwan yang Menjadi Juri

Arthurio Oktavianus, Pontianak


The International Arwana Exhibition and Contest 2008 tidak hanya menampilkan ikan arwana (Scleropages formosus) unggulan dari dalam dan luar negeri. Tetapi juga para juri. Seperti Hsu Chiao Chen.

Chen merupakan satu-satunya juri perempuan dalam kontes arwana di Pontianak Convention Centre (PCC), 7-11 Mei. Ia berasal dari Taiwan.

Perempuan yang memiliki rambut panjang dan ditemui di Pontianak Convention Centre (PCC), Kamis (8/5), tampak cantik dengan balutan kaos biru lengan panjang. Kerah kaos berbentuk bulat hingga ke bahu, menunjukkan kulit tubuh Chen yang putih.

Sebuah kursi besi dengan dudukan merah dalam stan aroworld, ditempati Chen.

Perokok aktif Marlboro Light ini berkata memiliki pengalaman menjadi juri kontes arwana di Singapura. Ketika dihubungi panitia The International Arwana Exhibition and Contest dan diminta menjadi juri, ia langsung menyetujuinya.

Menurut Chen, kriteria penilaian yang dilakukan dalam even ini sama dengan penilaian yang dilakukan di Singapura. Total kriteria ikan arwana yang dinilai, ada delapan.

Penilaian pada even yang pertama kali di Kalbar ini dilakukan oleh lima orang juri. Mereka adalah Shuji Tanaka (Jepang), Wen Jian Qiany (RRC), Hendri Leong dan Rico (Indonesia), dan Chen sendiri. Mereka menilai 100 ikan arwana yang menjadi peserta.

Ikan arwana yang meraih juara I untuk kategori 45 centimeter ke atas jatuh pada aquarium bernomor 27. Ikan milik Robin ini juga menggondol mobil Nissan Grand Livina.

Mengapa juri menetapkan arwana di aquarium nomor 27 sebagai pemenang? Chen tidak langsung menjawab. Menurutnya, perlu melihat ikan itu secara langsung untuk menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya.

Chen beranjak dari kursi dan menuju jejeran aquarium yang ada di ruangan PCC, pada baris ke tiga. Sampai di tengah, ia berhenti di depan aquarium yang ditempeli stiker juara I. Dengan serius Chen mengamati arwana dalam aquarium. Tak lama, ia memberikan penjelasan setiap kriteria yang dinilai.

Menurutnya, tubuh ikan tidak terlalu gemuk ataupun kurus. Mulut ikan juga rata dan tidak memble. Sirip depan dan belakang cukup besar serta rapi. Ekor berbentuk buah peach, masih utuh, dan tidak cacat. Mata tidak keluar dari kantungnya. Gerakan ikan tenang dan berenang di bagian tengah air aquarium.

“Ikan ini memenuhi semua kriteria yang dilombakan,” ujarnya.

Pertama Kali Mencari Arwana ke Malaysia

Ikan arwana bukanlah hewan baru bagi Chen. Ia pernah memelihara arwana hingga 100 ekor, di rumahnya. Perempuan yang mengecap pendidikan tinggi pada salah satu universitas di Jepang ini, tertarik pada ikan arwana karena dipengaruhi temannya, 20 tahun lalu.

“Teman saya mengatakan hewan ini unik tetapi mudah dipelihara. Harganya pun tinggi di pasaran,” ujarnya.

Keinginan memelihara arwana terwujud pada 1990, ketika Chen berburu ke Malaysia.

Menurut Chen, ketika itu ia belum tahu kalau habitat asli arwana ada di Kalbar, Indonesia. Selain itu, Chen terkendala pada bahasa yang digunakan dan tidak mempunyai koneksi. Pada 1991, Chen memulai perburuannya ke Indonesia.

Perburuan Chen tidak sia-sia. Arwana yang dipeliharanya di Taiwan, laku dibeli pecinta arwana. Menurut Chen, arwana berukuran 10 centimeter dijualnya seharga 300-7000 USD.

“Tetapi tergantung pada jenis dan warna arwana,” ujarnya.

Saat ini Chen hanya memelihara 5 ekor arwana. Ikan tersebut disimpan dalam sebuah aquarium. Kecintaan Chen tidak hanya untuk memelihara saja. Ia juga membuat dasar hukum penjualan arwana dari negara luar ke Taiwan, dan diajukan ke pemerintah.

“Karena selama ini ikan arwana dijual dengan cara diselundupkan,” ujarnya.

Selain itu Chen juga membuat buku mengenai arwana. Ia mengatakan buku yang dibuatnya sudah ada dipasaran Taiwan dan Jepang. Sebanyak 21 buku dalam bahasa Mandarin dan 51 buku bahasa Jepang.

Penyelenggara Even Yang Tidak Memelihara Ikan Arwana

Arthurio Oktavianus, Pontianak

Kecintaan pada ikan arwana (Scleropages formosus) menjadi dorongan kuat bagi seorang pengusaha Pontianak, Gunawan Lim, untuk menggelar even arwana pertama di Indonesia. Uniknya, Lim tidak memelihara arwana seekor pun.

Lim mengenakan kaos merah berkerah, ketika dijumpai di sekretariat The International Exhibition and Contest 2008, Rabu (7/5), di gedung Pontianak Convention Centre (PCC). Ia terlihat sibuk menjalankan tugasnya sebagai ketua panitia pelaksana.

Beberapa kali Lim mondar-mandir di dalam ruangan PCC. Menghampiri panitia yang berdiri di dekat stan. Berbincang sebentar, memastikan tidak ada masalah yang dapat mengganjal jalannya even tersebut.

Meskipun Lim menjadi ketua pelaksana kontes ikan arwana. Ia tidak memelihara ikan arwana di rumahnya. Menurut Lim, hobi dan kesenangannya akan ikan arwana yang mendorong terwujudnya even itu.

“Kalau dulu sempat pelihara. Tetapi sudah habis dijual semua,” ujarnya.

Lim pertama kali memelihara seekor ikan Arwana pada 1996, jenis Super Red, yang dibelinya seharga Rp 3,3 juta. Ia memelihara ikan itu sejak berukuran 10 centimeter. Setelah arwana dipelihara selama dua bulan, Lim menjual ikan tersebut kepada orang lain. Ia memperoleh keuntungan Rp 2,7 juta dari hasil penjualan itu.

Separuh hasil penjualan, digunakan Lim untuk membeli sepasang anak ikan arwana. Pada 2003, ikan koleksi Lim berkembang menjadi 30 ekor.

“Ikan koleksi itu habis dijual kembali untuk biaya kampanye pada 2004,” ujarnya.

Penjualan ini pula menjadi kali terakhir bagi Lim memelihara ikan arwana. Ia berkata, cukup menjadi pencinta dan pengagum arwana saja. Kemudian membentuk wadah bagi para pecinta arwana lainnya untuk berkumpul dan berbagi ilmu memelihara ikan asli Kalimantan Barat (Kalbar) ini.

Even Internasional

Peserta yang mendaftar dalam even ini tidak hanya berasal dari Kalbar saja. Menurut Lim, ada juga peserta dari Surabaya, Jakarta, hingga Malaysia. Karenanya Lim mengawasi kerja panitia di lapangan secara langsung.

“Ini even internasional. Semuanya harus siap sebelum pembukaan, besok,” ujar Lim.

Menurut Lim, even haruslah berjalan sukses. Agar peserta maupun pengunjung yang berasal dari Indonesia maupun luar negeri, mau mengikuti even ini lagi. Bila digelar di tahun-tahun mendatang.

Jumlah ikan yang mengikuti even dibatasi untuk 100 ekor saja. Lim mengatakan dua orang peserta lainnya berasal dari Malaysia.

“Tetapi kami menyediakan 120 aquarium,” ujarnya.

Aquarium sebanyak 20 buah itu, digunakan untuk menempatkan ikan arwana peserta yang tidak termasuk dalam standar penilaian atau penitipan saja. Penilaian dalam even dibedakan dalam tiga kategori, yaitu A, B, dan C.

Kategori A untuk ikan berukuran 35 centimeter, kategori B ukuran 35-45 centimeter, kategori C ukuran 45 centimeter ke atas.

Penujurian pun dilakukan oleh para ahli yang berasal dari luar negeri. Lim mengatakan, ada 4 juri untuk menilai ikan yang diperlombakan. Juri tersebut berasal dari Taiwan, Singapura, Malaysia, dan Jepang. (Art)

Nilai Kelulusan Sama, Materi Soal Berbeda

Arthurio Oktavianus, Pontianak

Nilai standar kelulusan dalam Uian Nasional (UN), diberlakukan sama untuk seluruh siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP). Termasuk untuk siswa SMP di Sekolah Luar Biasa (SLB).

Wakil Kepala Kurikulum SLB Dharma Asih Pontianak Siti Ning Sayekti (Nining-red) yang ditemui di ruang kerjanya Senin (5/5), mengatakan, siswanya yang mengikuti UN juga harus mencapai nilai 5,25.

Selain nilai standar, penambahan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dalam UN juga dialamikan Siswa SLB Dharma Asih.

“Akan tetapi materi yang diujiankan tidak sama dengan siswa SMP normal,” ujar Nining.

Materi ujian bagi siswa SLB lebih mudah dan sesuai kemampuan siswanya. Nining mengatakan materi ujian siswa SLB, sama untuk seluruh Indonesia.

“Materi ujian dibuat langsung oleh Departemen Pendidikan. Khusus untuk pendidikan SLB,” ujarnya.

Mata pelajaran dalam UN pada tahun sebelumnya hanya Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika. Tetapi berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 34 tahun 2007, tanggal 5 November 2007. Mata pelajaran IPA mulai di-UN-kan bagi siswa SMP.

Menurut Ningsih, materi IPA sebenarnya sangat berat bagi siswa SLB Dharma Asih. Transfer ilmu yang diberikan harus perlahan dan terus menerus. Ia mengatakan, bila tidak seperti itu, siswa mudah lupa.

Ningsih mengatakan, media yang digunakan untuk transfer pelajaran IPA lebih banyak dengan media visual. Menurutnya, pelajaran yang disampaikan berupa gambar lebih cepat dimengerti siswa SLB.

Siswa SLB Dharma Asih yang mengikuti UN berjumlah 6 orang, terdiri atas 2 orang putri dan 4 orang putra. Mereka merupakan penderita Tuna Rungu (bisu).

Pengajar di SLB Dharma Asih pun memberlakukan try out (uji coba) UN, bagi ke-6 siswa yang mengikuti ujian. Nining mengatakan uji coba sudah dilakukan sebanyak 2 kali.

“Uji coba ini dimaksudkan untuk melihat sejauh mana materi diterima siswa,” ujar Ningsih.

Menurut Nining, di dalam uji coba, peserta juga diajarkan cara mengisi Lembar Jawab Komputer (LJK). Sehingga siswa SLB Dharma Asih tidak kebingungan lagi memenuhi syarat LJK ketika ujian. (Art)

IPA Menjadi Momok Dalam UN SMP

Arthurio Oktavianus, Pontianak

Pemberlakuan nilai standar 5,25 dan penambahan mata pelajaran IPA dalam Ujian Nasional (UN) Sekolah Menegah Pertama (SMP), menjadi momok peserta ujian dan pihak sekolah. Terlebih, pelaksanaan UN tinggal menghitung hari.

Kekhawatiran terhadap pelaksanaan UN diutarakan Kepala Sekolah Bina Mulia Pontianak, Joni Spd. Ditemui di ruang kerjanya Jumat (2/5). Ia berkata, UN kali ini memberatkan siswa, karena ada 1 mata pelajaran lagi yang diujiankan.

Mata pelajaran dalam UN pada tahun sebelumnya hanya Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika. Tetapi berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 34 tahun 2007, tanggal 5 November 2007. Mata pelajaran IPA mulai di-UN-kan bagi siswa SMP.

Antisipasi pun dilakukan pihak sekolah SMP Budi Mulia. Sebanyak 27 tenaga pengajarnya, diminta memberi pelajaran tambahan pada 87 siswanya, yang akan mengikuti ujian.

Menurut Joni, persiapan bagi siswa SMP Budi Mulia kelas III dilakukan sejak semester ganjil, pada Oktober lalu. “Persiapan dalam bentuk pelajaran tambahan ini bahkan dilakukan intensif hingga hari ini,” ujarnya.

Kekhawatiran yang sama juga dirasakan di SMP Kristen Immanuel II Sungai Raya Pontianak. Guru Biologi Eva Ariesanty S Si mengatakan, siswa kelas III diharuskan mengikuti bimbingan belajar di sekolah.

Menurut Eva, bimbingan belajar dilaksanakan 2 kali seminggu, untuk setiap mata pelajaran yang diujiankan. Ia mengatakan keharusan dari pihak sekolah ini, tidak dihiraukan oleh siswa. “Sehingga sekolah memberlakukan denda Rp 5.000 bagi siswa yang tidak mengikuti bimbel,” ujarnya.

Sekolah SMP Kristen Immanuel pun memberlakukan try out (uji coba) UN, bagi 120 siswa SMP Kristen Immanuel II yang mengikuti ujian. Eva mengatakan uji coba sudah dilakukan sebanyak 3 kali.

Eva mengatakan pihak sekolah sudah melakukan upaya dengan maksimal. Menurutnya, setiap akhir bulan diadakan evaluasi materi oleh guru pengampu mata pelajaran, yang berjumlah 20 orang. “Evaluasi ini dimaksudkan untuk melihat sejauh mana materi diterima siswa,” ujarnya. Hasil evaluasi tersebut dilaporkan kepada orang tua siswa. (art)

Dua HP Siswa SLB Diamankan Pengawas Ketika UN

Arthurio Oktavianus, Pontianak

Antisipasi terjadinya kecurangan ketika mengikuti Ujian Nasional (UN) Sekolah Menengah Pertama (SMP), tidak hanya dilakukan di sekolah dengan siswa yang normal saja. Pengamanan pun dilakukan kepada 6 orang peserta UN dari Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB) Dharma Asih.

Dua orang pengawas ujian mengamankan 2 buah hand phone milik peserta pada Senin (5/5). Tim Pemantau Independen Elly Trisnawati mengatakan pengamanan tersebut merupakan tata tertib (Tatib) yang harus dijalankan setiap pengawas ujian.

Menurut Wakil Ketua Kurikulum Sekolah Luar Biasa (SLB) Dharma Asih yang mewakili Ketua Subrayon 10, Siti Ning Sayekti atau Nining, tatib ujian diberlakukan sama kepada semua peserta UN. Larangan tersebut tertuang dalam poin ke-3 dalam tatib yang berlaku.

“Peserta UN dilarang membawa alat komunikasi, kalkulator, tas, buku, dan catatan ke dalam ruang ujian,” ujar Nining.

Peserta hanya diijinkan membawa penggaris dan pensil untuk mengisi Lembar Jawaban Komputer (LJK).

Nining mengatakan LJK akan langsung dibawa ke kantor Dinas Pendidikan Kota, setelah ujian selesai.

Peserta ujian sebelumnya sudah melakukan 2 kali try out (uji coba), ujar Nining. Dalam uji coba itu, peserta juga diajarkan cara mengisi LJK. “Hasil yang dicapai oleh siswa SLB Dharma Asih dalam uji coba, tidak mengecewakan,” ujarnya.

SLB Dharma Asih menyertakan 2 orang putri dan 4 orang putra dalam UN. Seluruh peserta merupakan penderita Tuna Rungu (bisu).

Menurut peserta UN, Bondan S, ujian tersebut sangat sulit. Kesulitan itu dialaminya ketika harus memilih jawaban berganda tersebut.

“Pilihan membingungkan dan sulit mencari jawaban mana yang tepat,” ujarnya.

Bondan mengaku sudah melakukan persiapan sejak jauh hari sebelumnya. Ia bahkan menghabiskan waktu selama 2 jam, pada malam sebelum ujian. (Art)

Baru Satu Subrayon Minta Pengamanan

Arthurio Oktavianus, Pontianak

Di kota Pontianak, baru 1 sub rayon yang mengajukan surat resmi ke pihak kepolisian, untuk pengamanan UN. Padahal ada 10 subrayon di kota Pontianak, yang juga digunakan sebagai tempat UN berlangsung.

Menurut Kepala Bagian Operasi (Kabagop) Kepolisian Kota Besar (Poltabes) Pontianak Komisaris Polisi Endang Rasidin S IK, di ruang kerjanya, Sabtu (3/5). Dirinya hanya menerima surat permohonan pengamanan dari sub rayon 2, yang diketuai kepala Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 3.

Surat permohonan tertanggal 24 April 2008 tersebut bernomor 000/169/SMPN 3. Tentang bantuan pengamanan pelaksanaan UN 2007/2008.

Berdasarkan surat itu, ujar Rasidin, Poltabes memberikan instruksi ke kepolisian sektor (Polsek) yang ada di kota Pontianak. Melakukan koordinasi dengan pihak sekolah yang ada di wilayah kerjanya.

Adakah permohonan pengamanan dari Dinas Pendidikan Kota ? Menurut Rasidin, dinas pendidikan kota sudah mengirimkan surat permohonan bantuan ke Poltabes, untuk 4 personil saja.

“Hanya untuk mengawal naskah UN saja,” ujar Rasidin.

Surat permohonan bernomor 421.2/955/Diknas ini pun datang terlambat. Di dalam surat tertanggal 29 April 2008, ungkap Rasidin, baru diterima 2 Mei 2008.

Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Selatan kota Pontianak AKP Bowo Gede Inantio S IK, mengaku sudah sejak Jumat (2/5) kemarin, pihaknya memonitoring sekolah yang ada di wilayahnya.

Bowo mengatakan ada 19 reserse dan intel melakukan pengamanan tertutup, pada 26 SMP di wilayah sektor selatan. Berdasarkan SPRINT (surat perintah)/124/V/2008. “Bila ditambah dengan anggota Samapta, berjumlah sekitar 50 personil,” ujarnya.

Pelaksanaan Ujian Nasional (UN) dilangsungkan pada Senin (5/5) hingga Kamis (8/5) nanti. Ujian membutuhkan pengamanan mulai dari distribusi naskah hingga UN selesai.

Naskah didistribusikan dengan pengawasan dari pihak kepolisian, dinas pendidikan, dan ketua serta saksi yang berasal dari sub rayon. Sehingga keamanan dan kerahasiaan naskah hingga ke subrayon terjaga.

Berdasarkan data dari dinas pendidikan kota, terdapat 10 subrayon di kota Pontianak. Subrayon ini terdiri atas 90 SMP.