Selasa, 18 Maret 2008

Tambak Ikan Menanti Lirikan Pemerintah

Arthurio OA/Lazarus

Borneo Tribune, Ngabang
Kabupaten Landak tidak hanya terkenal sebagai kota Intan, namun kota ini juga memiliki potensi yang sangat tinggi terutama untuk budidaya ikan air tawar. Salah satu faktor penting dalam budidaya ikan air tawar adalah suplai air yang ada didaerah tersebut. Sebagian besar para pembudidaya ikan air tawar memanfaatkan lokasi lahan tidur yang belum pernah tersentuh. Disisi lain ditempat tersebut terdapat beberapa bukit yang memiliki sungai.
Ketersediaan air yang cukup tinggi memungkinkan mereka dapat dengan mudah membuat tambak ikan didaerah tersebut. Jika kita mkaji lebih jauh ketersediaan air yang cukup memungkinkan mereka untuk memelihara ikan air tawar dengan baik.
Minat masyarakat di wilayah Landak untuk mengolah lahan tidur mereka agar dapat dimanfaatkan dan berguna untuk meningkatkan taraf perekonomian masyarakat, sangat tinggi. Mereka ‘menyulap’ lahan kosong tersebut menjadi lahan tambak ikan.
Potensi budidaya ikan di wilayah Landak beberapa tahun terakhir, banyak diminati oleh masyarakat luas. Yang ditandai dengan menjamurnya tempat pemancingan. Menu yang ditawarkan kepada para pengunjung di tempat pemancingan hanya menyediakan makanan dengan menu ikan air tawar.
Ikan-ikan tersebut pun dipelihara langsung oleh pemilik pemancingan, yang dipesan langsung ataupun dipancing oleh para pengunjung. Seraya menikmati pemandangan alam lepas.
Seperti yang dimiliki oleh Supandi, warga Tebing Tinggi, Kecamatan Sengah Temila. Luas lahan tambak ikan yang dimilikinya sekitar 1 hektar. Dan berada sekitar satu kilometer dari rumahnya.
Dikatakan, dari pada mengandalkan sawah lebih baik membuat tambak ikan. “Karena kalau ditinjau dari segi keuntunga lebih besar dari pada bercocok taman padi”. Setelah diakumulasikan Supandi banting stir dari bertani menjadi pembudidaya ikan air tawar.
Jalan menuju kolam ikan tersebut pun hanya bisa dilalui kendaraan roda dua atau berjalan kaki. Dengan melewati hamparan sawah milik masyarakat setempat. Selain itu pula, melewati kebun karet dan hutan rindang.
Pemandangan alam yang ditawarkan, masih alami. Para pengunjung akan dimanjakan dengan aroma segar udara hutan. Yang menjadi nilai plus dalam mengunjungi lokasi pemancingan ini. Para pengunjung selain bisa memancing, menikmati alam, namun yang tidak kalah pentingnya, para pengunjung juga bisa menikmati sajian menu ikan.
Bisnis tempat pemancingan memang cukup bagus, karena tidak hanya menyajikan menu dan pemandangan alam sekitar, mereka juga bisa mengajak keluarga sekedar untuk mengisi waktu weekend.
Seperti yang dilakukan oleh pemilik tambak nikan didaerah Antan Kecamatan Darit, Kabupaten Landak.
Supandi mengaku mengandalkan sumber air dari mata air Birah dan Bintianak yang mengalir dari pegunungan. “Sumber air tersebut tidak pernah putus,” ujarnya. Meskipun dilanda musim kemarau.
Jika kemarau, Supandi mengatakan orang disekitar Tebing Tinggi berbondong-bondong mengambil air disekitar lokasi tambak ikan miliknya. Kalau masalah faktor alam relatif
Sangat kecil, kecuali pada saat banjir. “Namun itu bukan suatu kendala yang cukup berarti,” ujar Supandi.

Minimnya Perhatian Pemerintah
Salah satu kendala yang dialami oleh para pembudidaya ikan air tawar adalah masalah terbatasnya dana yang ada. Menurut Jaidu, Ketua Unit Perbenihan Rakyat (UPR) Babanto, selama ini untuk budidaya ikan air tawar seolah-olah dianaktirikan dan kurang mendapat perhatian dari pemerintah daerah.
Pemerintah daerah lebih memperhatikan bidang pertanian dan perkebunan ketimbang budidaya ikan air tawar.
Berbagai kendala yang dalami oleh masyarakat membuat mereka harus mandiri dalam mengelola tambak yang mereka miliki. Selain itu, untuk menambah pengetahuan tentang budidaya ikan mereka juga harus belajar keluar dengan biaya sendiri.
Jika pemerintah daerah bisa tanggap dengan kondisi yang dialami oleh para pemiliki tambak otomatis untuk kebutuhan ikan di Kabupaten Landak bisa terpenuhi. Selama ini konsumsi ikan memang sedang digalakkan oleh pemerintah, karena ikan mengandung protein yang tinggi.
Selama ini untuk memenuhi kebutuhan ikan konsumsi, khususnya di Kabupaten Landak harus didatangkan dari daerah lain. “Kenapa tidak digalakkan budidaya ikan di Kabupaten Landak,” tegas Jaidu.
Jaidu mengakui, dalam satu kali panen mereka bisa menghasilkan ratusan kilogram. Dalam waktu tiga atau empat bulan ikan sudah bisa dipanen. Namun tergantung lagi dengan pakan yang diberikan kepada ikan.
Lebih lanjut Jaidu memaparkan, selain minimnya perhatian dari pemerintah daerah, salah satu kendala yang dihadapi oleh para pemilik tambak ikan adalah masalah pemasaran. Selama ini mereka hanya memasarkan ikan yang telah mereka panen hanya disekitar Kecamatan Ngabang dan Kecamatan Sengah Temila. Sistem pemasaran juga hanya dooor to door.

Tidak Ada Anggaran
Pengembangan budidaya perikanan yang dilakukan oleh para petambak ikan di wilayah Landak selama ini dilakukan secara otodidak saja. Jaidu mengatakan bahwa masih belum ada tindakan pihak pemerintah untuk memperjuangkan nasib para petani ikan yang dilakukan secara mandiri tersebut.
Jaidu mengatakan dirinya pernah menanyakan dinas terkait mengenai anggaran yang disediakan untuk membantu para petani. “Tetapi selalu dijawab tidak ada anggaran,” ujarnya. Karena difokuskan pada pembangunan Balai Benih Ikan (BBI) yang berada di Jelimpo.
BBI sendiri merupakan pembangunan balai benih yang menjadi program jangka panjang pemerintah. Dengan lahan yang sangat luas dan bangunan permanen yang dipersiapkan bagi dunia perikanan di daerah Landak.
Padahal, ujar Jaidu, bila ingin serius dalam mengelola perikanan di wilayah Landak. Hasil yang diperoleh para petani ikan juga tak kalah dengan yang diperoleh para petani tanaman pangan.
Jaidu memberikan gambaran, untuk seorang petambak saja bisa menghasilkan ratusan kilogram ikan setiap panennya. “Keuntungan untuk itu pun lumayan, sekitar 4-6 jutaan,” ujarnya. Yang bisa diperoleh hanya dalam kurun waktu 4 bulan.
Karenanya, ujar Jaidu, setidaknya ada sedikit perhatian pemerintah bagi para petani. Yang ditunjukkan dengan memberi bantuan kepada para petani dalam hal ilmu pengetahuan melalui pelatihan-pelatihan. “Selain itu juga setidaknya ada bantuan untuk pakan ikan,” ujarnya.

Dirikan Kantor Perikanan Sendiri
Merasa dianaktirikan para petani tambak ikan menuntut kepada dinas terkait untuk mendirikan sebuah kantor yang khusus menagani masalah budidaya ikan. Hal ini beralasan karena selama ini meraka sangat sulit sekali untuk menyampaikan aspirasi mereka. Selain itu, menurut Jaidu, tahun anggaran 2008 tidak ada dana khusus yang dialokasikan untuk bidang perikanan.
Lebih lanjut Jaidu menegaskan, seharusnya dengan melihat potensi yang ada pemerintah daerah atau dinas terkait mealokasikan dana khusus untuk pengembangan dan pembudidayaan ikan. Perlu adanya ketegasan dari dinas terkait, dalam mengembangkan potensi yang ada didaerah. Selain untuk meningkatkan PAD (Pendapatan Asli Daerah), efek lainnya adalah untuk memenuhi kebutuhan ikan dipasaran, khususnya di Kabupaten Landak.
Karenanya, Jaidu mengharapkan setidaknya dibangun kantor yang membidangi perikanan. “Agar kita lebih terkoordinasi dan mudah untuk mengadu,” ujarnya. Sehingga perikanan dapat berkembang di wilayah Landak dan memberikan peningkatan taraf perekonomian masyarakat Landak sendiri.

Guru Di Pedalaman, Tuntutan Tanggung Jawab Moral

Arthurio OA/Lazarus

Borneo Tribune, Ngabang
Hal yang paling berharga menjadi guru di daerah pedalaman adalah waktu berkumpul bersama keluarga. Karena mereka memiliki sedikit waktu untuk itu, demi menjalankan tugas mencerdaskan kehidupan bangsa.
Kerinduan Aleksa Hagai (3) kepada Alimus, A.Ma (38), sang ayah. Tertuntaskan pada Sabtu (8/03) sore, setelah tidak bertemu selama satu bulan. Dalam dekapan sang ayah, kedua tangan Hagai melingkar erat di leher Alimus.
Ketika Hagai diturunkan dari dekapan Alimus, bocah kecil itu berlari menuju ke dalam rumah. Tak berapa lama, Hagai keluar sembari membawa sesuatu di tangannya. “Lihat pak, lukisan aku,” ujar Hagai bangga sembari menunjukkan goresan tangannya kepada sang ayah.
Alimus meraih lukisan pada selembar kertas tersebut. Memperhatikan sebentar, dan berujar bagus kepada anaknya. Setelah mengembalikan lukisan kepada Hagai. Tangan kanannya mengusap lembut kepala bocah tersebut.
Rindu antara anak dan ayah tersebut bukanlah akhir. Karena dua hari berikutnya, Alimus harus kembali lagi ke tempat tugasnya mengajar. Yang berarti pula suatu penantian selama sebulan bagi Hagai, untuk dapat menghabiskan waktu bercengkrama bersama ayahnya.

****

Setelah menyelesaikan pendidikan pada 1991. Alimus mulai menjalankan tugas sebagai pendidik pada 1993 sebagai guru bantu. Pada 2000, Alimus diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil sebagai guru. Perguliran waktu pun menjadikannya sebagai guru di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 10 Nyawan.
Profesi Alimus sebagai guru di SDN 10 Nyawan, Kuala Behe. Menuntut dirinya terpisah dengan keluarga. Istri dan ketiga anaknya berada di Kampung Lalang, Hilir Tengah, sedangkan dirinya menetap di tempat tugas.
Alimus bertutur bahwa resiko tersebut harus ditempuhnya, mengingat kondisi yang tidak memungkinkan untuk memboyong serta keluarga mengikuti dirinya. Bagi Alimus terlalu banyak pengorbanan yang dilakukan keluarga bagi profesinya tersebut.
Lelaki berkaca mata minus itu pun tak ingin anak-anaknya mendapatkan fasilitas minim dalam mengenyam bangku pendidikan, bila berada bersama dirinya. Seperti yang dialami oleh peserta didik daerah pedalaman lainnya.
Alimus bercerita bila tenaga pengajar (guru) di tempatnya bekerja hanya berjumlah dua orang saja. Masing-masing guru tersebut menjadi wali untuk tiga kelas. Dengan kondisi seperti itu, mereka (guru) mengajar dengan cara estafet setiap kelasnya. Dengan mata pelajaran yang berbeda-beda.
Alimus sendiri menjadi wali kelas untuk kelas 2, 4 dan 6. Terkadang hal tersebut membuat Alimus dan rekannya kelimpungan. Mereka harus menyiasati waktu dan banyak-banyak membuka buku pelajaran lagi.
Mereka pun harus menguasai 9 bidang studi yang diajarkan di tingkat SD. Agar materi yang ada di dalam buku paket dapat disampaikan dan diterima oleh para peserta didik.

Guru Honor Sudah Tidak Aktif
Guru honor di daerah pedalaman membuat Alimus dan rekannya dapat sedikit bernafas lega. Karena dengan adanya guru honor tersebut, bidang studi yang diajarkan kepada murid dapat dibagi. Sehingga tidak membuat Alimus ‘kelimpungan’.
Akan tetapi itu hanya untuk tahun lalu, ujar Alimus. Karena sejak Januari 2008, guru honor di sekolahnya sudah tidak aktif lagi. Alasan yang menyebabkan dua guru honor tersebut berhenti menurut Alimus adalah mulai tidak lancarnya gaji yang diberikan kepada mereka.
Padahal, kehidupan para guru di daerah pedalaman sangat berkekurangan. Untuk mengambil gaji saja mereka harus merogoh kocek lebih dalam. Karena biaya perjalanan yang harus dikeluarkan sangat mahal.
Alimus memberitahu untuk menuju lokasi mengajar saja dirinya harus menempuh perjalanan darat dengan jarak sekitar 40 kilometer. “Kalau kondisi jalan bagus dan mulus tidak jadi masalah,” ujarnya. Tetapi kondisi yang ada, jalanan masih jalan tanah sehingga berdebu. Bila hari hujan, jalanan pun menjadi becek. Ongkos ojek saja sebesar 60 ribu Rupiah.
Setelah menempuh jalan darat, perjalanan di sambung dengan mengarungi sungai dengan waktu tempuh sekitar 20 menit. Biaya yang harus dikeluarkan untuk itu adalah 10 ribu Rupiah.
Bagi para guru yang sudah tetap, hal itu mungkin tidak menjadi masalah. Karena mereka mendapatkan tunjangan daerah pedalaman, meskipun terkadang masih ngadat keluarnya. Akan tetapi bagi para guru honor, biaya tersebut sangat memberatkan mereka. Karena gaji yang mereka dapatkan pun tidak seberapa.


Mengajar Dalam Dua Bahasa
Tidak selamanya pelajaran Bahasa Indonesia itu mudah. Yang hanya perlu mengetahui Subyek Predikat Obyek Keterangan (SPOK) dalam sebuah kalimat. Buktinya, hingga ke tingkat Perguruan Tinggi pun Bahasa Indonesia tetap menjadi salah satu mata kuliah dasar yang harus ditempuh oleh para mahasiswa.
Apalagi bagi para murid SD, yang dalam kesehariannya lebih kental menggunakan Bahasa Ibu dibandingkan Bahasa Indonesia. Hal itu diakui oleh Alimus. Ketika dirinya mengajar, memerlukan penyampaian dalam dua bahasa. Bahasa Indonesia dan Bahasa Ibu di daerah tersebut. Agar materi pelajaran dapat disampaikan dengan baik dan benar sehingga mudah dipahami.
Alimus menceritakan pengalamannya ketika memberikan soal kepada para murid menggunakan Bahasa Indonesia. Dengan soal yang harus dicari sama tetapi dengan mengubah sedikit kalimat saja para murid ada yang tidak mengerti. “Setelah diberitahu dengan menggunakan Bahasa Ibu, mereka baru mengerti,” ujarnya.
Beruntung bagi Alimus yang memang berasal dari daerah tersebut, sehingga ketika mengajar menggunakan dua bahasa. Dirinya tidak menemukan kesulitan sama sekali. “Karenanya yang menjadi guru di pedalaman haruslah putera daerah sendiri,” ujarnya. Sehingga tanggung jawab sebagai pendidik di daerah pedalaman dapat ditunaikan dengan baik.
Selain itu, Alimus mengatakan bahwa tantangan berat dalam menjalankan tugas sebagai pendidik di daerah pedalaman adalah minimnya fasilitas tempat tinggal guru. “Kondisi yang ada di lapangan sangat memprihatinkan,” ujarnya. Dimana tempat tinggal bagi guru yang tersisa hanya tiang rumah saja.
Melihat kondisi tersebut, lanjut Alimus, masyarakat setempat berswadaya membangun tempat tinggal bagi para guru. Akan tetapi tidak bertahan lama, karena menggunakan bahan bangunan terbatas dan tenaga yang kurang terampil. Sehingga atap tempat tinggal guru saat ini ditemukan ada yang bocor.

Kurangnya Perhatian Orang Tua Terhadap Pendidikan
Pendidikan untuk anak bagi sebagian orang tua selalu bertumpu pada institusi pendidikan saja. Padahal, sukses tidaknya pendidikan juga membutuhkan dukungan dari orang tua dan lingkungan.
Alimus mengatakan masyarakat setempat kebanyakan seperti menyerahkan sepenuhnya sang anak untuk menerima pendidikan di sekolah saja. Akan tetapi ketika berada di rumah, sang anak tidak disuruh untuk membuka buku pelajaran kembali.
Akibatnya pun sangat besar bagi prestasi para murid itu sendiri. Mereka akhirnya tidak memahami materi pelajaran dan lamban dalam menguasai materi tersebut. Untuk mengatasi hal itu, ujar Alimus, orang tua harus bisa meng-support sang anak agar mau belajar sendiri di rumah.
Bagaimana pun juga, lanjut Alimus, dukungan penuh para orang tua sangat dibutuhkan. Karena menerima pendidikan hanya di sekolah tidak menjamin sang anak menguasai bidang studi yang diajarkan. “Apalagi guru yang ada hanya dua orang,” ujarnya. Yang hanya memiliki latar belakang untuk satu bidang studi saja.
Bagi Alimus, dengan mengajar para murid di SDN 10 Nyawan, dirinya juga harus belajar kembali. Untuk menguasai materi yang disampaikan kepada para murid. “Semua buku paket bidang studi yang diajarkan harus dibaca kembali sebelum mengajar,” ujarnya. Bahkan harus membandingkan kembali materi pelajaran dari beberapa penerbit yang ada.

Televisi Berdampak Negatif Bagi Anak
Satu-satunya hiburan yang bisa dinikmati oleh masyarakat di daerah pedalaman adalah Televisi. Meskipun suplai aliran listrik yang masuk ke daerah sangat minim. Masyarakat pun mengakalinya dengan menggunakan Generator sebagai tumpuan sumber energinya.
Pengaruh siaran televisi tidak hanya melanda anak-anak yang tinggal didaerah perkotaan saja. Siaran televisi bukanlah barang yang mewah, sehingga masyarakat yang tinggal didaerah pedalaman sekalipun bisa menikmati siaran televisi.
Menurut Alimus, “karena maraknya siaran televisi, membuat siswa menjadi malas belajar”. Kondisi ini semakin diperparah kurangnya perhatian dari para orang tua siswa dalam mengawasi anak-anak mereka. Padahal orang tua adalah guru pertama bagi anak-anak. Sehingga apapun alasannya orang tua harus bisa mengarahkan anak-anak mereka.
Maraknya berbagai tayangan yang menarik di televisi membuat minat belajar siswa menjadi rendah. Disisi lain dampak siaran televisi tidak hanya membuat siswa menjadi malas belajar, melainkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dilema yang terjadi ditengah masyarakat, dengan semakin maraknya berbagai tayangan televisi membuat pola hidup dan cara hidup (life style). Para siswa mulai mengabaikan aturan dan norma yang berlaku dimasyarakat. Mereka tidak hanya menonton, akan tetapi mereka juga langsung mengadopsi tanpa memperhatikan dampak negatif dari siaran televisi itu sendiri.
Dampak paling besar dan sangat ditakutkan saat ini adalah dengan semakin terkikisnya budaya bangsa yang selama ini menjadi patokan dalam kehidupan bermasyarakat. Yang berarti pula dapat menghilangkan citra budaya yang melekat di dalam keseharian masyarakat.
Alimus mengatakan bahwa batasan-batasan menonton Televisi kepada sang anak perlu dilakukan sedini mungkin. Baginya, batasan-batasan ini akan menghambat pergaulan bebas yang kerap terjadi di usia remaja.
Kini, tergantung bagaimana sikap dari orang tua dalam mengambil langkah terhadap berbagai dilema yang menjadi penyakit masyarakat. Karena peran orang tua adalah kontrol dan mengawasi setiap gerak-gerik anak mereka.