Rabu, 27 Februari 2008

Hanya Nyala Hio Dan Panjatan Doa


Arthurio OA/Lazarus

Borneo Tribune, Ngabang
Suasana lenggang. Aktivitas masyarakat Tionghoa yang menyambut perayaan Cap Go Me di Ngabang, Kabupaten Landak, pada Kamis (21/02) lalu, tidak terlihat meriah. Hanya nyala hio dan panjatan doa yang mereka panjatkan di satu-satunya Kelenteng yang ada di Ngabang.
Sebagai tanda puncak perayaan imlek sekaligus penutup dari tahun baru bagi masyarakat Tionghoa, Cap Go Me yang jatuh pada hari ke lima belas setelah imlek. Biasanya dirayakan meriah dengan atraksi tatung yang berkeliling di jalan utama. Seperti yang ada di Kota Singkawang dan daerah lain.
Akan tetapi berbeda dengan daerah Ngabang. Aktivitas perekonomian masih tampak hingga sore hari. Menurut Suryanto (47), warga Tionghoa yang tinggal di Hilir Tengah, Cap Go Me hanya dirayakan secara sederhana. “Tidak ada perayaan seperti di singkawang,” ujarnya.
Suryanto mengatakan bahwa kondisi ini sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Masyarakat Tionghoa Ngabang yang ingin merayakan Cap Go Me dengan meriah biasanya menuju ke Singkawang. “Masyarakat (warga Tionghoa) Kota Ngabang jadi sepi,” ujarnya. Karena turut berbaur dengan warga Tionghoa lainnya di Singkawang.
Imlek dan Cap Go Me merupakan parayaan bagi warga Tionghoa yang menganut kepercayaan Konghucu. Akan tetapi, ujar Suryanto, dewasa ini tidak hanya dirayakan oleh penganut kepercayaan itu saja. “Masyarakat Tionghoa yang beragama lain juga turut merayakan acara ini,” ujarnya. Dikarenakan imlek dan Cap Go Me menandakan suatu budaya untuk menghormati para leluhur.
Penuturan yang sama juga diucapkan oleh Asung (28), warga Hilir Tengah. Menurutnya, sudah sejak lama acara Cap Go Me di Ngabang tidak dirayakan dengan meriah. “Hanya sembahyang biasa saja,” ujarnya. Sembahyang tersebut mereka lakukan di Kelenteng Hati Murni.
Kelenteng hati murni sendiri terdiri atas dua bangunan terpisah yang berukuran sama. Satu bangunan diperuntukkan bagi Dewi Kwan Im Pau Sat. Yang dalam penanggalan Imlek mempunyai tanggal lahir, Tet Tho (bertapa atau mengsucikan diri) dan wafat dengan tanggal yang sama. Yaitu tanggal 19. Dengan bulan yang berbeda. Lahir pada bulan 2, Tet Tho pada bulan 6 dan wafat pada bulan 9. Sedangkan satu bangunan lagi diperuntukkan bagi Pek Khong.

Imlek Di Indonesia
Pada masa Orde Baru, banyak orang Tionghoa di Indonesia yang merubah namanya dengan nama-nama orang Indonesia, meskipun pada awalnya mereka menggunakan nama-nama Tionghoa karena mereka memiliki ikatan yang sangat kuat akan kebudayaan leluhur mereka.
Hal ini dikarenakan mereka selalu ditekan oleh pemerintah dalam berbagai hal. Terutama dalam bidang budaya, politik, pendidikan dan lainnya. Diskriminasi yang dilakukan oleh pemerintah membuat mereka semakin dipersulit dalam berbagai aspek kehidupan mereka sehari-hari.
Ketika Soeharto berkuasa tahun 1966, ia melonggarkan larangan terhadap aktivitas orang Tionghoa dalam bidang ekonomi. Masyarakat Tionghoa terkenal sangat ulet dan militan, yang dapat bertahan hidup untuk berdagang hingga ke daerah pelosok.
Tak bisa dipungkiri, pembangunan yang ada di daerah pelosok salah satunya disebabkan karena adanya faktor ekonomi yang dijalankan oleh orang Tionghoa. Tetapi pada saat yang bersamaan Soeharto juga mengintensifkan berbagai usaha dalam proses asimilasi budaya.
Semua sekolah Tionghoa dilarang, sementara itu penggunaan bahasa Tionghoa tidak dianjurkan dan penerbitan dalam bahasa Tionghoa dilarang masuk ke Indonesia. Tidak hanya imigrasi yang berasal dari etnis Tionghoa saja dihentikan, akan tetapi etnis Tionghoa dihimbau untuk memakai nama-nama yang terdengar seperti nama orang Indonesia.
Pemerintah Indonesia secara terang-terangan melalui Instruksi Presiden (Inpres) no. 14 tahun 1967 melarang segala sesuatu yang berbau Tionghoa. Termasuk agama, kepercayaan, ekspresi terhadap seni, kebudayaan dan sastra.
Peraturan yang dibuat oleh Orde Baru ini sarat dengan diskriminasi, otorianisme yang mempersulit gerak orang-orang Tionghoa yang ada di Indonesia. Salah satu dampak sosial yang masih terlihat sampai sekarang adalah adanya diskriminasi terhadap etnis Tionghoa yang meliputi seluruh aspek kehidupan orang-orang Tionghoa.
Di wilayah Kalimantan Barat sendiri, hubungan yang erat terjalin dengan baik dalam hal perekonomian antara etnis Tionghoa dengan etnis lainnya. Khususnya dengan etnis Dayak.
Karenanya, sebutan Sobat oleh orang Dayak terhadap orang Tionghoa dapat diartikan sebagai bentuk pertemanan antara orang Dayak dengan orang Tionghoa. Istilah Sobat ini muncul karena orang Dayak menganggap bahwa orang Tionghoa berasal dari nenek moyang yang sama dan ras yang sama, yaitu berasal dari ras Mongoloid.
Dalam buku Peranan Kalimantan Barat Dalam Menghadapi Subversi Komunis Asia Tenggara, Soemadi menulis. Bagi orang Dayak, etnis Tionghoa adalah sahabat yang baik dan memiliki latar belakang nenek moyang yang sama.
Tekanan dari pemerintah orde baru terhadap orang Tionghoa, secara perlahan mulai terkikis sejak pemerintahan Presiden Republik Indonesia ke-4, Abdul Rahman Wahid atau yang disapa Gus Dur. Yang mengangkat wacana imlek dimasukkan sebagai hari raya Nasional.
Menurut Benny G. Setiono, dalam bukunya yang berjudul Tionghoa Dalam Pusaran Politik. Pada masa pemerintahan Presiden RI ke-5, Megawati, wacana tersebut ditetapkan menjadi salah satu hari raya nasional yang ditetapkan melalui Keputusan Presiden (Kepres) No. 19 Tahun 2002, Tanggal 9 April 2002 tentang Tahun Baru Imlek.
Kepres tersebut hingga saat ini menjadi landasan hukum dan sudah baku, dimana orang Tionghoa dapat merayakan hari rayanya dan dilindungi oleh Undang-Undang. Bahkan, dalam pemerintahan Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono, menerbitkan Undang-Undang (UU) Nomor 12/2006 tentang kewarganegaraan Indonesia.
Hal tersebut diutarakan oleh Yudhoyono ketika memberikan kata sambutan dalam perayaan Tahun Baru Imlek di Plenari Hall Jakarta Convention Centre (JCC), pada Minggu (17/02) lalu.
Menurut Yudhoyono, UU tersebut menempatkan etnis Tionghoa dalam persamaan dan kesetaraan warga negara yang lain dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Yudohoyono juga menegaskan bahwa UU tersebut menjadi jaminan terhadap etnis Tionghoa untuk memperoleh perlakuan yang sama dan kemudahan dalam memperoleh status Warga Negara Indonesia.

Singkawang, Sentral Perayaan Imlek dan Cap Go Me di Kalbar
Berdasarkan buku Soemadi berjudul Peranan Kalimantan Barat Dalam Menghadapi Subversi Komunis Asia Tanggara. Pada 1896 dikeluarkan peraturan tentang kewarganegaraan negeri Tionghoa yang menyatakan bahwa orang-orang Tionghoa yang berada di manapun tetap diakui sebagai warga negara Tionghoa. Peraturan ini yang menyebabkan orang-orang Tionghoa di Kalimantan Barat menganggap bahwa mereka berada dalam suatu ‘small Chinnesse’.
Di Kalbar, perayaan Imlek dan Cap Go Me lebih terasa suasananya di Kota Singkawang. Dimana Kota Singkawang dapat dikatakan sebagai “Small Chinnesse”, dengan kebudayaan, sosial, politik dan ekonomi yang dimiliki.
Singkawang yang terletak 145 KM dari kota Pontianak, menjadi tempat tujuan masyarakat Tionghoa dan masyarakat lain pada umumnya untuk merayakan dan menyaksikan kemeriahan perayaan imlek dan Cap Go Me.
Pada dasarnya, ada tiga penyebab utama yang membuat orang Tionghoa cenderung melestarikan ras dan kebudayaan leluhur mereka karena: pertama, kesuksesan orang Tionghoa banyak dibenci oleh orang yang berasal dari suku lain di luar orang-orang Tionghoa itu sendiri sehingga mereka bersatu untuk menghadapinya. Cara ini adalah salah satu langkah yang sangat tepat untuk melestarikan kebudayaannya yang selalu berorientasi kepada kebudayaan leluhur mereka.
Kedua, etnis Tionghoa menganggap kultur mereka lebih tinggi dari kultur pribumi, sehingga ada kecendrungan masyarakat pribumi untuk menganggap etnis Tionghoa sebagai etnis yang eksklusif.
Ketiga, kepuasan batin yang berkaitan dengan kasih sayang seseorang kepada leluhurnya. Mereka bukan orang Tionghoa kalau tidak sensitif mengejar keberhasilan di negeri orang, meskipun menimbulkan kebencian. Konsekuensi yang harus mereka hadapi adalah harus selalu waspada dan mempertahankan diri sebagai sebuah solidaritas kelompok.
Meskipun kebijakan asimilasi diberlakukan di Indonesia. Kebebasan yang dijamin oleh undang-undang memungkinkan etnis Tionghoa mempertahankan identitas mereka yang masih memeluk agama mereka.
Ini dimungkinkan karena mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, sedangkan orang Tionghoa cenderung memeluk agama Kristen, Budha, Tao dan Konghucu. Kebijakan pemerintah terhadap etnis Tionghoa cenderung memaksakan kehendak orang Tionghoa untuk berasimilasi dengan kebudayaan yang ada di Indonesia.
Singkawang dapat dikatakan memiliki ciri khas dari kehidupan etnis Tionghoa yang ada di seluruh Indonesia. Kekhasan itu dapat dibuktikan baik dari jumlah penduduknya yang mayoritas berasal dari keturunan Tionghoa.
Dapat dilihat dari dominannya peran masyarakat Tionghoa dalam beberapa aspek kehidupan, seperti dalam bidang sosial dan budaya. Kekhasan tersebut membuat sebagian besar etnis Tionghoa di Singkawang sangat berbeda dengan etnis Tionghoa di seluruh Indonesia.
Karenanya, Kota Singkawang dapat dijadikan salah satu ikon kekayaan budaya yang ada di Kalbar. Dimana memiliki keragaman budaya yang khas dari beberapa etnis yang ada di Kalbar. Sehingga dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi perkembangan kepariwisataan.

PLTN Bukan Solusi Yang Tepat Bagi Krisis Listrik di Kalbar

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Ngabang
Permasalahan listrik di Kalimantan Barat yang sering byar pet, memang membutuhkan suatu solusi yang harus dengan sesegera mungkin diaplikasikan. Terlebih dengan berkembangnya teknologi yang membutuhkan pasokan listrik untuk menjalankannya.
Salah satu solusi tersebut adalah pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), dimana Badan Tenaga Atom Nasional (Batan) telah melakukan survey awal untuk Kalbar menjadi daerah pengembangan PLTN se-Kalimantan.
Pernyataan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kalimantan Barat, Ir. H. Fathan A. Rasyid, M.Agr, beberapa waktu lalu. Mengenai Kalimantan, khususnya Kalbar layak untuk dibangun PLTN dengan kisaran tenaga yang dihasilkan 1.000 MW (Mega Watt) berdasarkan pra studi kelayakan Batan. Mendapatkan tanggapan penolakan dari Yohanes Ngalai, warga Ngabang, yang diwawancarai pada Kamis (21/02).
Menurut Yohanes, bila PLTN tersebut dibangun. Membutuhkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang betul-betul menguasai kinerja PLTN. “Pola kerjanya juga memerlukan tingkat ketelitian sempurna hingga 100 per sen,” ujarnya. Bila terjadi kesalahan yang kecil saja, dampak nuklir yang terjadi sangat fatal bagi manusia dan lingkungan.
Karenanya, ujar Yohanes, Kalbar jangan dijadikan kelinci percobaan pemerintah pusat. Bila ingin mencari solusi bagi krisis listrik di Kalbar, perlu dilihat dampak yang ditimbulkan bagi masyarakatnya.
Yohanes pun memberikan solusi melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Menurutnya, Kalbar memiliki banyak air terjun. “Salah satunya air terjun Malanggar yang ada di Landak ini,” ujarnya. Sehingga lebih efisien dibandingkan menggunakan bahan tambang berupa uranium.
Menurut Yohanes, pemerintah perlu memanfaatkan dan mengembangkan potensi alam yang ada di sekitar masyarakat untuk digunakan sebagai sumber energi yang dapat dipergunakan oleh masyarakat sendiri. Seperti PLTA, lanjut Yohanes, selain keuntungan yang diperoleh berupa energi listrik yang dihasilkan. SDM yang mengelola PLTA tersebut pun dapat direkrut dari masyarakat. Sehingga dapat mengurangi jumlah pengangguran, bahkan dapat meningkatkan taraf perekonomian masyarakat itu sendiri.
Yohanes pun mengatakan bahwa pendapat Kepala Bapedda Kalbar tentang PLTN merupakan ide utopois untuk 5 tahun mendatang.

Hasil Try Out Bukan Patokan Kelulusan

Arturio OA/Lazarus

Borneo Tribune, Ngabang
Persiapan menghadapi Ujian Akhir Nasional (UAN) bagi para siswa kelas III Sekolah Menegah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menegah Kejuruan (SMK) di wilayah Kabupaten Landak dilakukan melalui adanya Try Out (uji coba). Yang dilaksanakan pada Kamis (21/02) hingga Sabtu (23/02) lalu. Sedangkan untuk murid kelas 6 Sekolah Dasar (SD) try out untuk Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) mulai dilakukan pada Senin (25/02).
Uji coba bagi para siswa ini sendiri berdasarkan Undang-undang No.02 Tahun 2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Peraturan Pemerintah No.19 Tahun 2005. Pembentukan BNSP (Badan Nasional Standar Pendidikan) tentang standar pendidikan, serta Peraturan Pemerintah Pendidikan Nasional No. 34 Tahun 2007 tanggal 5 November 2007 tentang ujian Nasional Tahun 2007/2008.
Menurut Bupati Landak, Drs. Adrianus Asia Sidot, M.Si, yang diwawancarai usai sidang Paripurna di kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Landak pada Senin (25/02). Dirinya setuju dengan adanya try out dikarenakan sebagai latihan bagi para pelajar yang akan menempuh ujian nantinya.
Adrianus juga mengatakan bahwa try out ini juga menunjukkan keseriusan dari pemerintah Kabupaten Landak, terutama dari Dinas Pendidikan. Agar siswa didik dapat mencapai bahkan melewati nilai standar yang sudah ditetapkan.
Akan tetapi, ujar Adrianus, hasil try out tersebut bukan patokan kelulusan bagi para siswa. “Harus ada usaha-usaha dari para siswa untuk meningkatkan hasil yang mereka peroleh dalam try out tersebut,” ujarnya.
Karenanya setelah mengikuti try out, para siswa perlu terus dibimbing dalam mendalami soal-soal pelajaran yang diujiankan. “Nilai try out bukan nilai ‘mati’ dan bukan final,” ujar Adrianus. Sehingga bukan dijadikan nilai murni dari kelulusan.
Dalam try out juga diberikan latihan soal-sal dan tata cara dalam mengisi LJK (Lembar Jawaban Komputer). Meskipun mereka bisa mengerjakan soal-soal yang di ujiankan, namun secara teknis belum tentu.
Oleh sebab itu, dengan diadakannya try out, para siswa juga akan diajarkan teknis dalam mengisi LJK dengan baik dan benar. Sebab kejadian seperti ini sangat rawan dan dapat merugikan siswa itu sendiri. Dengan diadakannya try out secara serentak diharapkan siswa ketika ujian tidak kaget lagi dengan bentuk soal dan teknis pengisian LJK.

Kenaikan Harga Gas di Landak Sekitar 23 Per sen


Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Ngabang
Kebutuhan rumah tangga terhadap penggunaan gas di wilayah Landak, merupakan kebutuhan kedua setelah minyak tanah (Mita). Kompor gas saat ini menjadi pilihan para ibu rumah tangga, setelah pemerintah mulai menerapkan konversi energi sejak pertengahan 2007, dari mita ke gas.
Akan tetapi dengan melonjaknya harga gas saat ini, membuat banyak masyarakat tersentak kaget. Bila konversi digelontorkan oleh pemerintah, berarti pemerintah sudah menghitung persediaan gas yang dapat digunakan oleh masyarakat.
Kenyataan yang terjadi di masyarakat adalah harga gas melonjak naik di awal 2008. di wilayah Landak, kenaikan harga ini cukup signifikan. Seperti yang diutarakan oleh Susan (30), pengecer tabung gas, ketika diwawancarai pada Minggu (10/02).
Menurut Susan, harga untuk sebuah tabung gas dengan berat 12 kilogram berkisar 100 hingga 110 ribu rupiah. “Padahal bulan lalu harganya masih 85 ribu rupiah,” ujarnya. Hal ini menunjukkan kenaikan harga gas dipasaran Ngabang sekitar 15-25 ribu rupiah atau 23 per sen. Susan memberitahu bahwa harga tersebut sudah termasuk biaya antar ke rumah dan pemasangan tabung ke kompor gas.
Susan memberitahu bila dirinya mendapat informasi dari agen tabung gas bahwa kenaikan harga ini dipengaruhi oleh adanya hambatan pengiriman gas yang menggunakan transportasi angkutan berupa kapal barang. “Air laut pasang dan berombak kencang, sehingga distribusi diundur,” ujar Susan menirukan informasi yang diperolehnya dari agen.
Hal ini mungkin saja terjadi, mengingat Desember merupakan bulan dengan kondisi ombak laut yang tinggi dan angin kencang. Yang diakibatkan karena musim penghujan. Akibatnya, jalur distribusi barang-barang yang berasal dari luar Kalbar seperti di Jakarta, Semarang dan Surabaya, menjadi terhambat.
Bila selama ini banyak media memberitakan mengenai kelangkaan gas di daerah lain. Tidak sama halnya dengan wilayah Landak. “Agen mengatakan bahwa persediaan gas di Landak masih ada,” ujar Susan. Akan tetapi, lanjutnya, kita memang dibatasi untuk penjualan tabung gas.
Susan mengaku bahwa ketika dirinya memesan tabung gas untuk dijual, agen hanya memberikan jatah kepadanya sebanyak 4 tabung gas saja. “Mereka (agen) bilang untuk dibagi-bagi dengan yang lain,” ujarnya. Padahal, ujar Susan, masyarakat yang memesan gas kepada dirinya sangat banyak. Tetapi tidak mampu dipenuhinya karena ada pembatasan penjualan dari agen.
Sementara itu, ibu Elly, ibu rumah tangga warga Senakin, mengatakan bahwa harga penjualan gas di Senakin saat ini sangat mahal sekali. “Satu tabung 12 kilogram seharga 130 ribu rupiah,” ujarnya. Lebih mahal sekitar 45-55 ribu rupiah dari pasar Ngabang.
Padahal, daerah Senakin berjarak sekitar 60 kilometer sebelum kota Ngabang. Bila dilihat kota Pontianak sebagai tempat distribusinya. Menurut ibu Elly, hal ini dimungkinkan karena pengecer yang ada di Senakin, mengambil gas pada agen yang ada di Ngabang. Karenanya ada penambahan biaya yang dikenakan akibat dari biaya angkut dari Ngabang ke Senakin.

Harga Mita Bervariasi

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Ngabang
Kelangkaan minyak tanah (Mita) yang terjadi di Kalimantan Barat dan beberapa daerah lainnya, menunjukkan bahwa ketersediaan minyak tanah di Indonesia sudah semakin berkurang. Indikasi ini menunjukkan bahwa sumber minyak tanah di perut bumi juga sudah mengalami kekurangan persediaan.
Krisis sumber energi yang terjadi di Indonesia saat ini, perlu perhatian dan penanganan yang lebih serius dari pemerintah. Karena dengan berkurangnya sumber energi yang ada, dampak yang diakibatkan menyangkut pada masyarakat banyak.
Mita yang pada umumnya menjadi kebutuhan dasar dalam rumah tangga, mengharuskan ketersediaan yang selalu ada dipasaran. Permasalahan pun akan menjadi ‘sensitif’ bagi masyarakat apabila terjadinya kelangkaan mita. Terutama bagi para ibu-ibu rumah tangga, yang setiap hari menyiapkan kebutuhan keluarga.
Dampak yang terjadi akibat adanya kelangkaan mita ini adalah variasi harga penjualan mita itu sendiri. Distribusi Mita hingga ke tingkat daerah, menyebabkan adanya variasi harga ditingkat pengecer. Seperti yang terjadi di daerah Kabupaten Landak, harga Mita antar desa satu dengan desa lainnya pun berbeda-beda.
Menurut Habib Sukoco, warga desa Keranji Manjal, Sidas. Harga pasaran untuk mita di daerah tersebut per liter, tergantung pada harga yang ditetapkan oleh tiap kios pengecer Mita. “Kisaran harga per liter di desa ini (Sidas) antara 3500 hingga 4000 rupiah,” ujarnya.
Harga tersebut, ujar Habib, lebih mahal sekitar 500 hingga 1000 rupiah bila dibandingkan dengan beli langsung di pangkalan Mita. “Akan tetapi harus datang lebih awal bila tidak ingin mengantri,” ujarnya. Dikarenakan bila suplai Mita datang ke pangkalan, selalu diserbu oleh para warga.
Mengenai harga Mita sebesar 3000 rupiah bila dibeli di pangkalan, diakui oleh salah satu pemilik pangkalan yang ada di Pahauman. Menurut pemilik pangkalan mita tersebut, ketetapan harga penjualan mita memang sudah ditentukan oleh pihak Pertamina sendiri.
Sementara itu, harga penjualan mita di pasaran paling tinggi sebesar 5000 rupiah. Harga ini ditemukan di desa Senakin, yang berjarak sekitar 60 kilometer dari ibu kota Kabupaten Landak. Menurut ibu Elly, warga Senakin, harga penjualan mita tersebut sangat mahal. “Harga tersebut sama seperti harga bensin per liter,” ujarnya.
Banyak hal yang memungkinkan adanya variasi harga penjualan mita tersebut. Termasuk dengan kebijakan pemerintah menghapus subsidi bahan bakar minyak dan gas pada 2008 ini. Dan dialihkan untuk subsidi ketahanan pangan di Indonesia, yang mengalami krisis. Padahal subsidi yang diberikan pemerintah untuk minyak tanah pada 2007 ini saja tidak sedikit jumlahnya. Mencapai 41 Trilyun.
Belum lagi gangguan cuaca yang mempengaruhi jalur distribusi mita yang diangkut melalui perairan. Curah hujan yang tinggi mengakibatkan gelombang pasang. Yang akhirnya mengakibatkan terhambatnya kedatangan mita ke tiap daerah.

Harga Minyak Goreng Curah Naik

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Ngabang
Perekonomian di Indonesia seperti tak henti-hentinya mengalami guncangan. Di awal 2008 saja, pengaruh yang diakibatkan karena faktor ekonomi dapat dilihat dari melonjaknya harga kebutuhan pokok masyarakat di pasaran. Seperti untuk harga kedelai, telur, minyak tanah, gas elpiji dan tepung.
Tak hanya itu, kelangkaan akan barang kebutuhan pokok juga pernah terjadi dihampir sebagian Indonesia. Dugaan-dugaan yang menjurus pada adanya oknum yang melakukan penimbunan, sempat terdengar dari pernyataan para wakil rakyat.
Semua itu tak memberikan hasil yang nyata bagi masyarakat dengan perekonomian yang lemah. Realita yang nyata bagi mereka adalah harga-harga barang dipasaran tetap terus melaju tinggi tanpa kompromi. Termasuk pula harga untuk minyak goreng curah yang ada di wilayah Kabupaten Landak.
Menurut pengakuan Katini (47), ibu rumah tangga di Desa Ladangan, Pal 20, Kecamatan Ngabang, yang dijumpai di rumahnya pada Kamis (14/02). Harga untuk sekilo minyak goreng curah yang ia beli saat ini adalah 12 ribu rupiah.
Harga di pasaran Ngabang ini, ujar Katini, naik 4000 rupiah dari harga awal yang ia beli sekitar akhir Desember tahun lalu. “Sekilo minyak goreng curah hanya 8000 rupiah saja,” ujarnya. Hal ini mengharuskan dirinya untuk sedikit berhemat dalam penggunaan minyak goreng.
Kondisi ini sedikit memberatkan Katini, mengingat perekonomian keluarganya hanya mengandalkan hasil sang suami dari mengumpulkan besi dan plastik bekas yang tidak pernah tetap pendapatannya.
Belum lagi ongkos untuk menuju pasar Ngabang yang harus dikeluarkan oleh Katini. Dikarenakan tidak adanya warung di sekitar rumahnya. “Jadi kalau mau belanja sekalian beli yang banyak,” ujarnya. Bila hanya untuk kebutuhan sayur mayur, dirinya biasa berbelanja pada pedagang sayur keliling.
Sementara itu, Isidorus, Kepala Bidang Perdagangan, Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Kabupaten Landak. Yang diwawancarai beberapa waktu lalu mengatakan bahwa kenaikan harga minyak dunia inilah yang menjadi permasalahan di dalam kenaikan harga yang kita rasakan selama ini. Harga minyak dunia per barel yang mencapai ratusan Dollar, ujar Isidorus, saling terkait dengan jalur transportasi pendistribusian barang.
Pihak pemerntah kiranya harus bekerja keras terhadap kondisi perekonomian seperti yang terjadi saat ini. Realisasi anggaran subsidi pangan dari pemerintah berkaitan dengan pajak, minyak goreng dan kedelai sebesar 19 Trilyun, seperti yang diberitakan oleh salah satu televisi swasta. Perlu dengan segera dilaksanakan.
Itu semua dimaksudkan untuk menanggulangi kemungkinan meningkatnya jumlah masyarakat miskin di setiap daerah. Meskipun Bappenas sudah menyiapkan dana jaring pengamanan sebesar 1,43 trilyun untuk keluarga miskin.
Pengawasan distribusi barang pun harus pula dilakukan, agar krisis pangan dapat segera diatasi. Terlebih bagi kebutuhan pokok masyarakat yang mereka pergunakan sehari-hari.

Hasil Panen Raya di Senakin 8,160 Ton


Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Ngabang
Hasil panen raya yang dilaksanakan di Dusun Serimbang, Desa Senakin, Kecamatan Senakin, Kabupaten Landak, pada Senin (11/02), diperkirakan sebanyak 8,160 ton. Panen raya ini dihadiri oleh Gubernur Kalimantan Barat, Drs. Cornelis, MH beserta istri. Yang didampingi oleh Bupati Kabupaten Landak, Drs. Adrianus Asia Sidot, M.Si beserta istri.
Antusias masyarakat Desa Senakin dalam menyambut panen raya, sudah terlihat dari jalan masuk menuju lokasi yang berjarak sekitar 3 kilometer dari jalan raya Senakin. Umbul-umbul berwarna-warni didirikan di kiri dan kanan jalan. Begitu pula pabayo (bambu yang kulit luarnya diraut, sebagai simbol adat), yang terlihat di sepanjang jalan menuju Dusun Serimbang.
Lalu lalang penduduk yang ingin turut serta dalam panen raya pun terlihat. Ada yang berjalan kaki secara bergerombol maupun menggunakan kendaraan roda dua. Mereka berduyun-duyun menuju lokasi kegiatan.
Pukul 09.48, sirine kendaraan pengawal Gubernur mulai terdengar di lokasi panen raya. Panitia pelaksana pun mulai sibuk mengatur acara penyambutan. Di depan sebuah gerbang dari bambu yang dibangun sederhana, tampak orang nomor satu di Landak berdiri menanti kedatangan Gubernur. Selain itu tampak pula beberapa pejabat teras di Pemerintahan Daerah Landak, berdiri berjajar bersama Adrianus.
Ketika Cornelis beserta rombongan turun dari kendaraan, alat musik tradisional Dayak pun mulai ditabuh. Mengiringi dua kelompok penari, kelompok tua dan anak-anak, yang bertugas untuk memberikan kalungan bunga kepada Cornelis dan istri. Sebuah mandau pun diberikan kepada Cornelis untuk memotong sebuah bambu, sebagai tanda dibukanya jalan menuju lokasi panen raya.
Menurut Ir. Padu Palimbong, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Landak yang diwawancarai setelah acara panen raya. Acara ini merupakan inisiatif murni dari masyarakat Serimbang sebagai ungkapan rasa syukur bahwa usaha mereka dalam bidang pertanian selama ini sudah memberikan hasil yang baik.
Perkiraan hasil panen, ujar Padu, sekitar 8,160 ton. “Dengan luas lahan yang dipanen adalah 195 hektar, milik 10 kelompok tani dari 80 kepala keluarga,” ujarnya. Desa Serimbang sendiri merupakan wilayah KUAT.
Selain melakukan panen raya, masyarakat juga melakukan temu wicara bersama Gubernur dan Bupati Landak dalam rangka memajukan pertanian di daerah Senakin.
Adrianus dalam sambutannya mengatakan bahwa hasil panen yang sudah dipanen cukup baik, mudah-mudahan menjadi pendorong bagi petani untuk menghasilkan padi yang lebih bagus lagi. “Dengan hasil yang baik itu diharapkan masyarakat bergairah untuk bertanam padi,” ujarnya.
Menurut Adrianus, bila selama ini panen hanya dilakukan sekali dalam setahun. Untuk selanjutnya diharapkan masyarakat dapat melakukan panen sebanyak dua atau tiga kali dalam setahunnya.
Sementara itu, Cornelis menambahkan agar masyarakat jangan merasa puas dengan apa yang diperoleh selama ini. “Jangan pula hanya terpaku pada padi saja,” ujarnya. Tetapi, lanjut Cornelis, masyarakat harus dapat memanfaatkan lahan yang ada untuk ditanam dengan tanaman lainnya. Seperti pisang, sagu dan sayur mayur.
Panen raya ini juga diharapkan dapat menjadi cambuk yang menyemangati masyarakat khususnya di wilayah Kalbar untuk terus berusaha mengolah lahan yang ada, di tengah kondisi perekonomian yang sedang tidak menentu.

Betang Saham, Peradaban Yang Tergerus Waktu


Arthurio OA/Lazarus

Borneo Tribune, Ngabang
Dinding bangunan betang (Rumah Panjang) Saham kini hanya menggunakan papan biasa yang sudah terlihat kusam. Lantai terasnya pun berupa potongan-potongan kayu tua yang mulai lapuk. Saksi sejarah tersebut kini semakin renta.
Bangunan Betang Saham yang dahulunya terlihat megah (karena dibangun dengan kayu Ulin/Belian), namun kini kondisinya sungguh memprihatinkan. Seolah-olah tidak ada usaha dari pihak manapun untuk merenovasi bagunan ini.
Padahal, kalau kita lihat. Fungsi Betang merupakan sentral aktifitas suku Dayak. Dimana tatanan sosial, ekonomi, budaya dan politik, terjadi di dalam rumah panjang dengan hall (ruangan) yang luas di bagian tengahnya. Masyarakat yang tinggal di Rumah Betang masih memegang teguh adat istiadat, tradisi atau budaya, dan memegang teguh kehidupan bersama serta bergotong royong.
Berdasarkan cerita dari leluhur atau sesepuh Rumah Betang yang terletak di Desa Saham, Kecamatan Sengah Temila, Kabupaten Landak. Betang tersebut merupakan tempat tinggal masyarakat Dayak Kanayant. Betang Saham berdiri sejak 1875. Bangunan ini terdiri dari 35 pintu atau blok. Setiap pintu atau blok dihuni oleh 1 kepala keluarga dan panjangnya 180 meter.
Menurut Ibu Sofa, penghuni Betang Saham, yang ditemui di rumahnya beberapa waktu lalu. Saat ini Betang hanya berpenghuni 32 kepala keluarga. “Dua pintu kosong dan 1 pintu digunakan untuk perpustakaan,” ujarnya. Perpustakaan tersebut merupakan bantuan dari Dinas Pendidikan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Landak.
Menurut Drs. Bartho, Kepala Seksi (Kasi) Kebudayaan dan Pariwisata Pemkab Landak, perpustakaan yang ada di Betang Saham masih menempati kamar yang biasanya digunakan sebagai penginapan bagi para turis. “Sebenarnya lokasi perpustakaan tersebut sudah ditentukan di kamar paling ujung,” ujarnya.
Dalam kehidupan bermasyarakat, penghuni Betang Saham memiliki Pasirah (orang yang dituakan), yaitu pak Ngidar. Selain itu adapula Kepala Desa, Pak Jimpol, yang sudah memimpin selama 4 (empat) periode.
Mata pencaharian penghuni Betang Saham sebagian besar adalah petani. Yang mengolah lahan di sekitar Betang. Mata pencaharian lain mereka adalah sebagai penyadap karet. Bartho mengatakan masyarakat yang ada di Desa Saham sudah sejak 1980 lalu menolak masuknya perkebunan sawit di Desa mereka.

Sudah Mengajukan Renovasi
Tampilan fisik Betang Saham yang sudah terlihat dimakan usia, ternyata sudah beberapa kali diajukan untuk direnovasi. Menurut Bartho, pengajuan kepada pihak Pemkab Pontianak (Kabupaten Landak merupakan daerah pemekaran dari Kabupaten Pontianak pada 1999 lalu) tersebut mulai dilakukan pada 1983. “Terutama untuk pelataran depan,” ujarnya. Akan tetapi belum ada tanggapan sama sekali.
Pengajuan renovasi pun kembali diutarakan pada 1989 dan 1994. Namun tetap saja, ujar Bartho, tidak ada alokasi dana yang disediakan untuk membiayai renovasi Betang Saham tersebut.
Ketika pemekaran terjadi pada 1999 lalu, ujar Bartho, Pemda Landak mengutamakan pembangunan infrastruktur. “Kita (Dinas Pariwisata) memaklumi hal itu,” ujarnya. Dikarenakan infrastrutur yang ada di Landak dulunya masih belum memadai. Dimana untuk menciptakan pembangunan di suatu daerah, harus memiliki infrastruktur yang memadai dan mudah untuk dilalui sebagai jalur transportasi dan perdagangan.
Angin segar mengenai renovasi Betang Saham baru diperoleh pada 2008 ini. ‘Dinas Pariwisata Provinsi sudah mengadakan pengukuran untuk renovasi Betang,” ujar Bartho. Bersama dengan Dinas Keperbukalaan dari Jakarta.
Meskipun sudah dilakukan pengukuran, ujar Bartho, namun kita belum tahu realisasinya. “Harapan kita Betang Saham bisa bertahap di renovasi,” ujarnya. Sebagai aset daerah yang dapat menambah khasanah budaya di Kalimantan Barat.
Selain itu pula, lanjut Bartho, renovasi ini jangan hanya merupakan agenda kerja Dinas Pariwisata tingkat Provinsi saja. “Setidaknya juga dari pemerintah pusat dan pemda Landak,” ujarnya. Dengan pendanaan APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) dan APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara).
Sehingga kepedulian terhadap pelestarian budaya yang beragam di Indonesia, yang berada di daerah luar Jawa juga menjadi perhatian yang serius dari pemerintah pusat.

Maju Dalam Pendidikan
Meskipun masih memegang teguh pada pola tradisional dalam hal adat, masyarakat Desa Saham sangat peduli terhadap pendidikan. Hal ini ditunjukkan dengan adanya perpustakaan yang ada di Betang Saham. Menurut Bartho, mayoritas masyarakat Desa Saham mengenyam pendidikan hingga tingkat Sarjana.
Penuturan Bartho bukan hanya isapan jempol belaka. Beberapa putra terbaik yang berasal dari Desa Saham, kini sudah menempati posisi penting di tingkat pemerintahan dan juga kalangan akademisi.
Sebut saja Dr. Bahari Sinju S, yang lahir dan hidup di Betang Saham. Beliau merupakan alumnus IKIP (Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Karang Malang Yogyakarta. Saat ini beliau adalah seorang dosen di FKIP (Fakultas Ilmu Keguruan dan Pendidikan) Universitas Tanjungpura. Beliau juga sebagai peneliti Dayak Kanayant di Institute of Dayakology Research and Development (IDRD).
Keterwakilan perempuan dari Desa Saham dalam bidang Akademis dipelopori oleh Dr. Regina. Beliau saat ini juga menjadi peneliti dan tenaga pengajar di FKIP Untan.
Di tingkat Pemerintahan, salah satu putra terbaik Desa Saham saat ini menjabat sebagai Bupati di Kabupaten Landak. Beliau adalah Drs. Adrianus Asia Sidot, M.Si. Selain menjabat sebagai Bupati, beliau juga ketua Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) wilayah Kalbar. Beliau juga kandidat Doktor dari salah satu Universitas di Jakarta.
Walaupun kondisi masyarakat Desa Saham masih terbelakang dan sering dipandang sebelah mata, tetapi mereka juga memiliki putra-putri terbaik yang dapat dijadikan motivator. Dan mampu berkecimpung di ranah pendidikan dan pemerintahan. Hal ini menjadi suatu kebanggaan, dimana dari Desa terpencil. Mereka memiliki potensi yang besar dan patut diperhitungkan.

Balita Gizi Buruk di Sebadu

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Ngabang
Daftar panjang gizi buruk di Kalimantan Barat kini bertambah. Setelah Akira Niko (8) di Pontianak Timur dan Widyawati (3,6 tahun) di Kapuas Hulu. Kini Nasib malang menimpa Rido (3) di Landak, yang mempunyai berat badan 6,3 kilogram.
Kedua kaki dan tangan Rido mengecil, tinggal kulit membalut tulang. Tulang dadanya masuk ke dalam dengan perut membesar. Jangankan berjalan, untuk mengangkat tubuhnya dari lantai tempat berbaring pun ia tak mampu. Hanya lehernya yang bergerak lemah.
Rido merupakan anak ketiga dari pasangan Mariam (30) dan Bahari (33), yang tinggal di Dusun Limpahung, Kamaroto Sebadu, Kecamatan Mandor. Ketika dijumpai dirumahnya pada Sabtu (19/01), Rido berbaring lemah dilantai semen. Hanya beralas tikar dan bertutupkan selembar kain batik, tanpa penutup tubuh sehelai benang pun.
Mariam mengatakan bahwa Rido dilahirkan normal, dengan berat badan 4,5 kilogram. Derita Rido dimulai sejak usianya 8 bulan. “Awalnya tubuh Rido panas. Bila buang air kecil, berwarna kuning dan kental,” ujarnya. Sejak itu, lanjut Mariam, kondisi tubuh Rido mengecil dan tidak berubah.
Banyak usaha yang diupayakan oleh Mariam dan suaminya untuk kesembuhan Rido. Mulai dari tindakan medis di Puskesmas Mandor, Rumah Sakit Rukmini di Mempawah dan Rumah Sakit Soedarso Pontianak. Bahkan mengobati Rido ke orang pintar pun dilakukan, karena banyak orang di dusun itu yang bilang bahwa penyakit Rido merupakan badi (bawaan lahir), yang hanya bisa disembuhkan oleh orang pintar.
Karena upaya yang dilakukan tersebut sia-sia dan sudah tidak mempunyai biaya pengobatan lagi, Mariam kini hanya bisa pasrah untuk merawat Rido di rumah dan hanya memeriksakan Rido ke Puskesmas saja.
Pertama kali diperiksakan ke Puskesmas Mandor, ujar Mariam, perawat gizi mengatakan bahwa Rido menderita gizi buruk. Makanan tambahan berupa susu dan roti untuk nutrisi Rido pun diberikan gratis oleh Puskesmas. Dengan harapan, ada perubahan kondisi pada tubuh Rido.
Setelah sekian lama tidak menunjukkan perubahan, Rido pun dirujuk ke Rumah Sakit Rukmini. “Ketika diperiksa, dokter mengatakan bahwa Rido mengalami kelainan otak dan saraf,” ujar Mariam. Yang tentunya membutuhkan perawatan yang lebih intensif lagi.
Agar mendapatkan perawatan yang lebih baik dan tenaga ahli yang sesuai bidangnya, Rido pun kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Soedarso. “Rido hanya dirawat sebentar karena kami tidak mampu lagi membayar biaya pengobatan,” ujar Mariam.
Anjuran dari pihak Rumah Sakit untuk membuat kartu miskin terlebih dahulu agar terbebas dari biaya perawatan, langsung dilakukan oleh Mariam untuk kesembuhan putranya.
Nasib tidak beruntung dirasakan oleh Mariam. Pengajuan kartu miskin sejak dua tahun lalu, hingga kini tidak diperolehnya. “Alasan dari pejabat desa, karena kami tidak termasuk ke dalam data cacah jiwa yang menjadi peraturan baku untuk mendapatkan kartu miskin,” ujarnya. Padahal, lanjut Mariam, data keluarga sudah masuk dalam data yang baru.

Gizi Buruk, Gangguan Otak dan Saraf
Kekurangan gizi yang dialami Rido termasuk dalam kelompok Kwaswiorkor. Kwaswiorkor dicirikan dengan moon face, seolah-olah gemuk karena volume cairan dalam tubuh banyak.
Gejala klinis dari kekurangan gizi kelompok ini adalah timbulnya odem. Odem merupakan bendungan cairan yang disebabkan kekurangan protein. Odem dijumpai pada wajah, perut, dan kaki.
Menurut Shari Taylor, volunteer CUSO dari Canada yang menjadi relawan di Dinas Kesehatan Landak, gizi buruk diakibatkan kurangnya asupan protein pada tubuh balita. Fungsi penyerapan protein oleh tubuh, khususnya untuk balita adalah sebagai sumber energi bagi otot-otot tubuh untuk bergerak. Protein ini dapat diperoleh dari makanan berupa ikan, daging, telur, tahu dan tempe.
Shari mengatakan bahwa bila tidak segera ditangani, penderita gizi buruk dapat mengalami gangguan otak dan saraf, pertumbuhan badan yang tidak normal bahkan cenderung menjadi pendek. Yang lebih parah lagi adalah, dapat menyebabkan kematian.
Penderita gizi buruk, ujar Shari, sudah sering ia dengar terjadi di sini (Indonesia). “Hal ini dikarenakan masyarakat tidak mampu untuk membeli bahan makanan yang mengandung protein, dikarenakan mahal,” ujarnya. Terkecuali tahu dan tempe, yang mungkin saja tidak mampu dikonsumsi oleh masyarakat kelas bawah lagi. Karena harga kacang kedelai sebagai bahan dasar untuk membuatnya, saat ini sangat mahal.
Tindakan yang harus dilakukan oleh para orang tua yang mengalami gizi buruk, ujar Shari, adalah dengan memberikan makanan berprotein kepada anak. “Beri asupan makanan berprotein yang berbeda-beda setiap hari,” ujarnya. Dengan cara mengkombinasikan bersama sayuran.

Ajakan untuk Menjaga Lingkungan dari Uskup


Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Ngabang
Kepedulian akan lingkungan hidup tidak hanya diserukan oleh para pencinta dan pemerhati lingkungan, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lingkungan, dan badan/instansi yang bergerak di bidang lingkungan. Ajakan untuk menjaga lingkungan juga diserukan oleh pihak Gereja, seperti yang diucapkan oleh Mgr. Hieronimus Bumbun, OFM.Cap, Uskup Agung Pontianak. Dalam kotbahnya pada misa natal bersama di Pahauman.
Menurut Uskup Bumbun, makna natal sesungguhnya adalah cinta yang ada di dalam hati setiap orang. “Cinta tersebut bukan hanya sebatas pada cinta kepada sesama umat beragama, tetapi juga cinta kepada lingkungan kita,” ujarnya.
Ajakan dari uskup ini tidak berlebihan. Selama kurun waktu 2007, banyak bencana alam yang terjadi di Indonesia. Alam yang murka tersebut teraktualisasikan dalam bentuk tsunami, banjir dan tanah longsor yang bersumber dari pemanasan global dan perubahan iklim di dunia.
Daerah yang ‘terjamah’ banjir pun seakan menjadi wabah yang menasional. Sebut saja Jakarta yang tergenang banjir akibat hujan, Jawa Tengah akibat luapan air sungai Bengawan Solo dan Bengkulu yang juga diakibatkan oleh guyuran hujan.
Bumi semakin ‘garang’ dan tidak bersahabat dengan manusia. Pemanasan global dan perubahan iklim tersebut, ujar Uskup Bumbun, akibat dari perbuatan manusia sendiri. Yang semena-mena dan membabat hutan membabi buta, yang akhirnya menyengsarakan kehidupan kita sendiri.
Karenanya, lanjut Uskup Bumbun, pada 2006 hingga 2007 pembahasan tentang isu lingkungan pun dibicarakan di dalam Konferensi Wali Gereja. Dengan tema pembahasan Gereja memasuki abad 21 melalui Habitus baru (Cara hidup yang baru).
Habitus baru ini dilakukan dengan cara meninggalkan pola dan cara hidup yang lama. “Tinggalkan pola menghancurkan lingkungan,” ujar Uskup Bumbun. Untuk bangkit dan bergerak membangun habitus baru.
Menyelamatkan lingkungan kita dari kehancuran, ujar Uskup Bumbun, khususnya di Kalbar. Perlu dengan segera dilakukan. Hal ini melalui gerakan dengan menjaga hutan agar tidak gundul, menjaga sungai agar tidak dangkal.
Menurut Uskup Bumbun, bila kita tidak menjaga itu semua, permasalahan yang akan timbul ke depan adalah kesulitan untuk mendapatkan air bersih. Apalagi memasuki musim kemarau dimana Kalbar yang sudah diketahui oleh mata dunia sebagai produksi asap setiap tahunnya. Sehingga daerah lain pun turut merasakan dampaknya.
Karenanya, Uskup Bumbun mengajak setiap orang untuk mengoreksi diri dan memperbaiki lingkungannya. “Terlebih di Kalbar, tempat kita sendiri,” ujarnya.

Bendera Setengah Tiang Untuk Soeharto

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Ngabang
Cerita seputar kehidupan mantan Presiden Republik Indonesia ke dua, Jenderal Purnawirawan H. M. Soeharto, seperti tak pernah habisnya untuk diberitakan. Mulai dari masa kecilnya di sebuah desa kecil, di Yogyakarta. Hingga menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) pada Minggu (27/01) siang lalu.
Kegagalan multi fungsi organ tubuh yang mengakibatkan Soeharto meninggal setelah dirawat sekitar 23 hari di RSPP dan disemayamkan tepat di sisi peristirahatan terakhir istri tercintanya di Astana Giri Bangun, Solo. Menunjukkan lemahnya sosok seorang Soeharto sebagai manusia dan kekuatan atas cinta beliau kepada sang istri yang sudah mendahuluinya.
Polemik pun terus bergulir diantara masyarakat yang tunduk hiba dan menaruh hormat atas jasa-jasanya, maupun masyarakat yang tetap menjudge (menghakimi) Bapak Pembangunan Indonesia atas dugaan korupsi yang dilakukannya ketika memimpin Indonesia selama 32 tahun.
Menurut ibu Rita, warga Senakin, kita tidak perlu lagi memperdebatkan kesalahan-kesalahan yang diperbuat oleh orang lain dalam kondisi lemah dan menderita. “Bagaimanapun juga Beliau (Soeharto) pernah menorehkan jasa untuk Indonesia,” ujarnya. Dengan membaktikan dirinya untuk memimpin bangsa dan negara Indonesia.
Dugaan korupsi yang dilakukan oleh Soeharto, ujar ibu Rita, hanyalah masa lalu yang tidak perlu diungkit-ungit lagi. Menurutnya, saat ini sebaiknya kita mencari solusi untuk membangun negara kita yang sudah semakin tertinggal dari negara lainnya.
Belasungkawa pun mengalir atas meninggalnya Soeharto dari para pemimpin negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam. Bahkan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Muhammad, merasa berhutang budi kepada Soeharto atas jasanya untuk mendamaikan perang antara Indonesia dan Malaysia yang terjadi.
Di Indonesia sendiri, banyak pula masyarakat yang berbela sungkawa dengan cara berbeda-beda. Ada yang ingin menyaksikan prosesi pemakaman dari jarak dekat ataupun melalui pemberitaan di televisi. Bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyerukan hari berkabung Nasional selama sepekan, dengan menaikkan bendera setengah tiang sebagai tanda penghormatan kepada mantan Presiden Soeharto.
Terhitung mulai hari H.M. Soeharto wafat (27/01) hingga minggu depan(03/02). Di wilayah Landak, sepanjang jalur dua, jalan desa Raja hingga di depan mini market seberang tugu juang Ngabang. Banyak berkibar bendera setengah tiang . Para masyarakat tersebut turut serta menjadi bagian dengan masyarakat Indonesia lainnya, untuk mengenang dan menghormati jasa-jasa Soeharto. Yang lengser sebagai Presiden atas gerakan reformasi mahasiswa pada 1998 lalu.

Angka Jubata untuk Cornelis

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Ngabang
Tujuh hanyalah sebuah angka biasa di dalam keseharian kita. Akan tetapi bagi suku Dayk Kanayant, angka tujuh mempunyai makna yang sakral. Dimana tujuh merupakan hitungan penutup dalam setiap kegiatan adat yang dilaksanakan, untuk menyampaikan doa permohonan kepada Yang Kuasa.
Dalam bahasa Dayak Kanayant, sebutan kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah Jubata. Sebutan ini diajarkan secara turun temurun oleh para leluhur mereka. Tak hanya mengenai sebutan yang diajarkan secara turun temurun. Adat istiadat pun dilakoni oleh keturunan suku Dayak, khususnya Kanayant, hingga saat ini. Terlebih untuk selalu ingat dan mensyukuri atas pemberian dari Yang Kuasa.
Setiap upacara adat yang dilaksanakan oleh suku Dayak Kanayant, hitungan penutup dalam pelaksanaan adat adalah angka 7 (tujuh), sehingga biasa disebut juga angka Jubata. Hitungan ke satu hingga tujuh dalam bahasa Dayak Kanayant adalah asa’, dua, talu, ampat, lima, anam dan tujuh.
Terkait dengan pesta demokrasi yang memilih Drs, Cornelis, MH dan Drs. Christiandy Sanjaya, SE, MM sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Barat Periode 2008-2013, dan dilantik secara langsung oleh Menteri Dalam Negeri, Mardiyanto, pada Senin (14/01) lalu. Banyak angka tujuh yang bermunculan.
Mulai dari gambar diri Cornelis dalam kartu pencoblosan, yang bila dihitung berada dalam urutan ke tujuh. Hingga munculnya Cornelis sebagai pemimpin Kalbar yang juga urutan ke tujuh sejak kepemimpinan J.C. Oevang Oeray.
Adapun para pemimpin Kalbar setelah J.C. Oevang Oeray adalah bapak Sumadi, Kadarusno, Sudjiman, Pardjoko, Aspar Aswin dan Usman Ja’far. Kepemimpinan mereka ini menghabiskan kekosongan pemimpin dari suku Dayak selama 43 tahun. Jumlah dari kedua angka tersebut adalah tujuh.
Menurut Fransiskus Alimin Rante, S.Pd, temanggung yang berasal dari Pahauman, angka tujuh dalam hitungan Dayak Kanayant dirunutkan oleh Ne’ Age, Ne’ Pangampa dan Ne’ Panyaji. Yang meminta umur panjang dan keselamatan kepada Jubata.
Karenanya, ujar Alimin, kita berharap semoga Cornelis yang merupakan the one (yang terpilih) dapat memimpin Kalbar lebih maju, aman dan kondusif. “Apalagi beliau merupakan pejuang pembangunan,” ujarnya. Yang mampu ‘menyulap’ kota intan lebih maju dalam pembangunan selama Cornelis menjabat sebagai Bupati.
Pembangunan yang Cornelis tumbuhkan di Landak, ujar Alimin, terutama dalam hal pendidikan. Dimana pembangunan dalam hal pendidikan menjadi tujuan utama yang dijalankan dalam program kerja pemerintahannya.
Sementara itu, Cornelis mengatakan bahwa apa yang telah dicapainya selama ini sepenuhnya merupakan pertolongan Tuhan. “Campur tangan Tuhan ini juga melalui masyarakat semua,” ujarnya.
Cornelis juga mengajak masyarakat untuk bekerja keras bersama membangun Kalbar. “Bersama rakyat, saya akan berbuat maksimal untuk meningkatkan kesejahteraan,” ujarnya. Meskipun berada dalam dunia politik yang selalu mencari celah untuk menjatuhkan dirinya.

Hasil Pleno di Bawa ke KPUD Provinsi

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Ngabang
Hasil pleno rekapitulasi perhitungan suara yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kabupaten Landak, langsung dibawa ke KPUD Provinsi pada Rabu (21/11). Hal ini dinyatakan oleh Ir. Sudianto, Ketua KPUD Landak, yang diwawancarai setelah rapat pleno berakhir.
Sudianto mengatakan bahwa hasil pleno perhitungan suara di Landak ini akan direkapitulasi bersama dengan hasil pleno kabupaten lain di KPUD Provinsi. “Karenanya diupayakan hari ini juga dibawa,” ujarnya.
Ketika ditanya tanggapannya mengenai proses pemilihan yang berlangsung di Landak, Sudianto mengatakan bahwa proses demokrasi yang berlangsung di Landak sudah semakin baik. “Semakin meningkat dibandingkan pemilihan langsung yang petama dulu,” ujarnya. Yang ditunjukkan dengan tidak adanya polemik-polemik dan pelanggaran.
Sidang pleno yang diundur sehari, ujar Sudianto, dikarenakan masih adanya penyusunan kelengkapan administrasi yang harus diselesaikan di tingkat Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) terlebih dahulu.
Hasil perhitungan suara dari tiap PPK pun tidak berubah. “sesuai dengan data yang diberikan kepada PPK,” ujar Sudianto. Dimana jumlah pemilih tetap yang terdaftar, sudah menunaikan hak mereka dalam demokrasi yang berlangsung.
Jumlah pemilih yang tidak menyumbangkan suara dalam pilgub Kalbar di Landak, sebanyak 1.573 pemilih atau 0,75 per sen dari jumlah keseluruhan. “Diperkirakan mereka yang tidak melakukan pemilihan dikarenakan sekolah dan bekerja di luar daerah,” ujar Sudianto. Yang ketika dilakukan pendataan, turut terdata ketika mereka masih berada di Landak.
Selain itu, kurangnya peran aktif dari pemilih sendiri memungkinkan para pemilih tidak mendapatkan hak untuk memilih. Karenanya dalam pelaksanaan pesta demokrasi ke depan, Sudianto mengharapkan keaktifan masyarakat sendiri dalam proses validasi data yang ada. Hal ini disebabkan yang berkepentingan untuk memilih adalah masyarakat.
Sementara itu Rahmansah, Ketua Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Landak, mengatakan bahwa tidak terjadinya pelanggaran selama proses demokrasi berlangsung di Landak. “Tidak ada laporan dari masyarakat yang masuk ke panwaslu,” ujarnya.
Rahmansah mengatakan bahwa panwaslu tetap berpegang pada Peraturan Pemerintah Nomor 6/2005, dimana panwaslu akan bertindak bila adanya laporan dari masyarakat yang melihat pelanggaran.

Hasil Perhitungan Suara Masih Fluktuatif

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Ngabang
‘Nasib’ keberuntungan kandidat mana yang akan menjadi nahkoda pulau sejuta sungai ini masih berupa tanda tanya. Hasil perhitungan sementara yang terus bergulir, masih fluktuatif. Final answer yang mengarah kepada kandidat pun masih belum mencapai angka pasti.
Bukan hanya para kandidat yang bertanya-tanya mengenai hasil perolehan suara yang terkumpul dari seluruh wilayah Kalimantan Barat, sejak pemungutan dilakukan pada Kamis (15/11) lalu. Rakyat yang juga menjadi penentu dengan suara yang mereka berikan bagi para kandidat, turut menanti hasil akhir keputusan.
Begitu pula dengan masyarakat Landak, secara bergantian mereka berdatangan ke kantor Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kabupaten Landak, untuk melihat pengumuman hasil perhitungan sementara yang diperoleh di Landak.
Seperti pada Jumat (16/11) siang, beberapa warga tampak berdiri di depan papan pengumuman dan mencatat hasil perhitungan sementara di telepon seluler mereka. Data yang masuk ke KPUD Landak memang masih belum final. Angka yang ada masih terus bertambah.
Berdasarkan data yang diperoleh dari KPUD Landak pukul 13.00. rekapitulasi hasil perhitungan suara sementara pilgub masih didominasi oleh pasangan Cornelis-Sanjaya dengan jumlah suara 157.464.
Menyusul pasangan Oesman Sapta-Lyong dengan perolehan suara sebanyak 9.373. berturut-turut pasangan Usman Ja’far-LH. Kadir sejumlah 8.675 dan Akil Mohktar-AR. Mecer dengan jumlah 7110.
Menurut Ir. Sudianto, Ketua KPUD Landak, hasil tersebut belum termasuk dari Kecamatan Sebangki yang belum memberikan jumlah suara sementara. Total suara yang masuk pun berjumlah 182.622, dari 228.030 pemilih yang terdaftar.
Angka untuk setiap pasangan kandidat pada pukul 15.00 bertambah. Hasil sementara dari Kecamatan Sebangki sudah masuk. Perolehan angka pun berubah, dimana pasangan Cornelis-Sanjaya memperoleh 161.462 suara.
Kandidat dengan perolehan angka dibawah pasangan Cornelis-Sanjaya adalah pasangan Usman Ja’far-LH. Kadir dengan jumlah suara yang masuk sebanyak 12.240. Disusul kemudian pasangan Oesman Sapta-Lyong dengan 9.817 suara dan pasangan Akil Mohktar-AR. Mecer dengan 7555 suara. Total suara yang masuk pada pukul 15.00 berjumlah 191.074 suara. Berarti masih menunggu 36.956 suara yang belum masuk.
Perolehan suara pada pukul 20.00 kembali berubah. Pasangan Cornelis-Sanjaya mengumpulkan 178.255 suara. Disusul oleh pasangan Usman Ja’far-LH. Kadir dengan jumlah suara 12.056.
Kemudian pasangan Oesman Sapta-Lyong dengan 10.694 suara dan terakhir pasangan Akil Mohktar-AR. Mecer dengan 7.885 suara. Hasil perolehan ini pun makin mendekati akhir dimana total keseluruhan pemilih yang masuk adalah 208.890 orang.
Karenanya, jawaban mengenai siapa yang akan memimpin Kalbar, masih dalam proses.
Kita sebagai masyarakat maupun para kandidat, harus bersabar menanti hasil pilihan rakyat ini. Berhitung mundur bisa kita lakukan dari sekarang, menghadapi detik-detik penentuan akhir.

Pilgub di Landak Berjalan Sukses


Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Ngabang
Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur periode 2008-2013 yang berlangsung di Landak, dinilai sukses oleh AKBP Drs. Subnedih, SH, Kepala Kepolisian Resort (Kapolres) Landak. Karena keberlangsungan demokrasi ini tidak ditemui adanya kejadian yang meresahkan banyak masyarakat.
Dengan pengamanan 570 anggota yang termasuk anggota dari Kepolisian Daerah sebanyak 3 Satuan Setingkat Pleton (SSP) yang berjumlah 75 anggota. Pihak kepolisian yang betugas untuk mengawal pengamanan pesta demokrasi, tidak menemui rintangan yang berarti.
Menurut Subnedih, kelancaran dalam pengamanan ini dikarenakan adanya Memorandum Of Understanding (MOU) yang dilakukan oleh pihak kepolisian dengan partai dan tim kampanye. “Ini menunjukkan keinginan bersama untuk mewujudkan pemilu damai,” ujarnya.
Peran serta masyarakat pun turut mengawal keamanan di lingkungannya. Dalam Operasi Pilkada Kapuas 2007, kesiapan anggota dimulai dari tahap latihan anggota hingga ‘turun gunung’ dalam pengamanan di tiap Tempat Pemilihan Suara (TPS).
Meskipun proses pemilihan di Landak sudah berakhir, ujar Subnedih, akan tetapi pengamanan tetap terus dilakukan. Hal ini dikarenakan tahapan ini baru perjalanan menuju garis finish.
Menurut Subnedih, jadwal kegiatan operasi yang dilakukan oleh pihak kepolisian masih terus berlangsung. “Karenanya mohon kerjasama dan bantuan masyarakat,” ujarnya. Hingga proses penetapan kandidat terpilih berlangsung nanti.
Selama ini pihak kepolisian sudah bekerja secara maksimal di lapangan. Untuk kelancaran proses demokrasi yang berlangsung di Landak. Hingga hasil pemilihan yang dilakukan oleh masyarakat Landak dapat diketahui, untuk menuntaskan rasa keingintahuan masyarakat mengenai kandidat mana yang mendapatkan dukungan masyarakat terbanyak.

Pleno Rekapitulasi Hasil Perhitungan Suara di Landak Rampung

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Ngabang
Penantian masyarakat mengenai kandidat terunggul pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Barat periode 2008-2013 di wilayah Kabupaten Landak, terjawab. Melalui pleno rekapitulasi hasil perhitungan suara yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Landak, pada Rabu (21/11), yang bertempat di aula lantai II KPUD.
Tepat pukul 10.09, kantor KPUD Landak sedikit berbeda dari hari biasanya. Suasana ramai menyelimuti kantor yang masih didera gerimis. Aula lantai II dipenuhi jejeran kursi di bagian kiri dan kanan pintu aula bagian dalam.
Tiga buah meja yang terpisah, membentuk huruf ‘U’ dalam ruangan aula. Beberapa tanaman dalam pot, berada di depan meja tersebut. Tulisan pada karton putih bertuliskan ‘MUSPIDA’, berada di atas meja sebelah kanan ruangan dari dalam. ‘SAKSI’ dan ‘PANWASLU’ di atas meja sebelah kiri ruangan. Meja tanpa tulisan menghadap tepat ke pintu, diduduki oleh anggota KPUD Landak.
Ir. Sudianto, Ketua KPUD Landak, membuka pleno yang berlangsung terbuka untuk umum. Ia mengatakan pleno ini sesuai dengan agenda yang telah dijadwalkan oleh KPU Provinsi.
Sudianto juga mengatakan proses rekapitulasi perhitungan suara di KPUD Landak dapat terlaksana setelah adanya proses rekapitulasi yang ada di tingkat Panitia Pemilihan Suara (PPS) dan Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK). “Hasil rekapitulasi ini selanjutnya akan diserahkan ke KPU Provinsi,” ujarnya. Setelah ditandatanganinya berita acara.
Proses rekapitulasi pun dimulai dengan panduan Syahdin L. Nyarong, S. Th, Pokja Perhitungan Suara, KPUD Landak. Yang terlebih dahulu menanyakan kehadiran saksi dari semua kandidat.
Saksi yang hadir hanyalah saksi dari pasangan kandidat Oesman Sapta-Ignatius Lyong dan Cornelis-Christiandy Sanjaya. Sedangkan saksi dari Usman Ja’far-L.H. Kadir dan Akil Mochtar-A.R. Mecer. Belum datang dan hanya menyerahkan surat mandat.
Pukul 11.16 ketika urutan rekapitulasi yang ke tiga dari Kecamatan Menjalin, Alim Wibowo, saksi pasangan kandidat Usman Ja’far-L.H. Kadir, baru tiba di tempat pleno berlangsung.
Rekapitulasi kemudian dilanjutkan dengan menanyakan sah tidaknya hasil yang diperoleh dari tiap Kecamatan di wilayah Landak, kepada para saksi.Hasil rekapitulasi keseluruhan perolehan suara di Kabupaten Landak berdasarkan pilihan rakyat menempatkan pasangan Cornelis-Christiandy Sanjaya dengan dukungan terbanyak, yaitu 180.601 suara atau 85,44 per sen.
Menyusul diurutan kedua adalah pasangan Usman Ja’far-L.H. Kadir dengan 12.113 suara atau 5,73 per sen. Yang diikuti oleh pasangan Oesman Sapta-Ignatius Lyong dengan 10.726 atau 5,07 per sen. Dan pasangan Akil Mochtar-A.R. Mecer dengan 7.944 suara atau 3,76 per sen.
Hasil ini merupakan suara yang diberikan oleh 211.384 pemilih di Landak dari 228.030 pemilih tetap yang terdaftar. Sedangkan surat suara yang tidak sah adalah 1.573 suara. Dengan persentase partisipasi pemilih sebesar 93,39 per sen.
Pleno ini juga dihadiri oleh 2 orang perwakilan dari KPU Provinsi, yang mengawasi proses pleno yang dilakukan. Tepat pukul 14.18, pleno dinyatakan berakhir setelah penandatanganan berita acara oleh para saksi, anggota KPUD Landak dan panitia pengawas Pemilu.

Pleno Hasil Akhir Pilgub Landak, Selasa

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Ngabang
Penentuan akhir mengenai jumlah suara pemilih Gubernur dan Wakil Gubernur Kalbar periode 2008-2013 di Kabupaten Landak akan dilakukan oleh anggota Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kabupaten Landak dalam sidang pleno pada Selasa (20/11) nanti.
Menurut Ir. Sudianto, Ketua KPUD Landak, yang diwawancarai di ruang kerjanya pada Jumat (16/11). Sidang pleno ini juga sebagai batas akhir perhitungan suara dari daerah. “Ini sudah ketetapan dari KPU Provinsi,” ujarnya.
Hasil perolehan suara pilgub di Landak masih bersifat sementara karena masih menunggu jumlah suara dari Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK), yang ada di 10 Kecamatan di Landak.
Bila sidang pleno tingkat PPK sudah siap melalui kesepakatan bersama saksi yang hadir dalam perhitungan, ujar Sudianto, hasil tersebut baru dikirimkan ke KPUD. Karenanya hasil yang masuk ke kantor KPUD pun masih sementara karena proses perhitungan di PPK masih tetap berjalan.
Jumlah suara yang masuk ke KPUD Landak sendiri hingga pukul 20.00 sebanyak 208.890 suara dari 228.030 jumlah pemilih tetap yang terdaftar. Berarti masih ada 19.140 jumlah suara yang masih belum masuk ke KPUD Landak.
Ketika ditanya mengenai adanya pemilih yang tidak mendapatkan hak untuk memilih, Sudianto mengatakan bahwa hal tersebut seharusnya sudah diantisipasi jauh hari oleh pemilih. “Pemilih harus aktif,” ujarnya. Untuk mengecek pengumuman daftar pemilih yang didata oleh petugas.
Menurut Sudianto, partisipasi pemilih secara aktif untuk menjadi pemilih masih perlu ditingkatkan. Bila pemilih tidak aktif dan pada saat pemilihan berlangsung ternyata mereka tidak terdaftar. Akan merugikan pemilih sendiri.
Karenanya, ujar Sudianto, tidak akan ada pengulangan yang dilakukan baik mengenai daftar pemilih maupun pemilihan itu sendiri.
Pemilihan secara langsung di Landak merupakan pemilihan yang sudah kedua kalinya di lakukan. Karenanya, ujar Sudianto, tanggungjawab masyarakat terhadap pelaksanaan pilgub cukup tinggi. Belajar dari pengalaman yang mereka lakukan pada pemilihan langsung yang pertama.
Proses pelaksanaan pilgub di Landak, ujar Sudianto, berjalan dengan lancar. “Saya pikir pelaksanaan pilgub di sini sudah jauh lebih baik,” ujarnya. Dimana tidak ada komplain di lapangan selama pemilihan berlangsung.
Dengan pengalaman yang ada, menjadikan masyarakat paham dengan arti pentingnya demokrasi yang dilakukan secara langsung ini. Hal ini juga menunjukkan tingkat kedewasaan masyarakat dalam berdemokrasi. Akhir pesta akbar pun akan ditentukan dalam hitungan hari.

Kepak Sayap Sang Ruai Dari Kota Intan

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Ngabang
Kepakan sayap sang Ruai kini membawanya ke pucuk pimpinan paling tinggi di Kalimantan Barat. Perolehan suara yang diraihnya dalam Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Kalbar periode 2008-2013, mendominasi di 8 Kabupaten. Suatu pencapaian yang unpredictable (tidak disangka) oleh lawan politiknya, maupun oleh seorang Drs. Cornelis, MH sendiri.

Publik Kalbar tersentak dengan hasil suara sebanyak 930.679 atau 43,67% dari 2.930.245 pemilih terdaftar yang memberikan suaranya kepada pasangan kandidat Gubernur bernomor urut 4, Drs. Cornelis, MH dan Drs. Christiandy Sanjaya, SE.MM.
Data tersebut merupakan data yang dihimpun dan dipublikasikan ke media oleh tim kampanye C2 (Inisial huruf pertama kedua kandidat), pada Jumat (23/11). Berdasarkan pleno rekapitulasi yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) dari 12 Kabupaten/Kota di Kalbar.
Pandangan mata banyak orang pun kini mengarah pada kandidat kuat yang akan menduduki singasana Gubernur di Kalbar ini. Pasangan yang ‘kurang diperhitungkan’ dalam pilgub karena hanya menggunakan perahu dari satu partai. Yaitu Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P).
Tak hanya itu, nomor urut yang dimilikinya pun menjadi bahan kasak-kusuk. Karena bila dikaitkan dengan kepercayaan Tionghoa (pasangan Cornelis dalam Pilgub merupakan peranakan Tionghoa), angka 4 yang dilafalkan ‘shi’ dipercaya mengandung makna ketidak beruntungan.
Ketika Cornelis diwawancara setelah Rapat Kerja Daerah (Rakerda) II PDI-P Kalbar di gedung Kartini Pontianak, pada Senin (24/9) lalu. Ia sambil tersenyum berkata bahwa nomor 4 sama saja dengan nomor yang lain. Menurut Cornelis, kans atau peluang menuju kursi Gubernur Kalbar sama besar untuk semua kandidat.
Rakerda II PDI-P ini dihadiri oleh Cornelis setelah melakukan pencabutan nomor urut dalam pilgub, yang dilaksanakan di halaman kantor Komisi Pemilihan Umum Daerah Kalimantan Barat.
Sosoknya yang teguh pada pendirian dan percaya diri yang penuh terhadap apa yang ia lakoni. Tersirat melalui kalimat lanjutan menjawab pertanyaan yang disodorkan wartawan kepadanya mengenai peluangnya dalam pilgub. “Saya tetap optimis dalam pilgub ini karena PDI-P merupakan partai yang solid dan besar,” ujar Cornelis.
Rakerda ini sendiri menghasilkan tiga keputusan yang telah dirumuskan oleh anggota PDI-P Kalbar yaitu Konsilidasi partai, KTA-nisasi, dan strategi pemenangan pemilihan Gubernur.

Disiplin
Banyak yang mengatakan ayah dari dua orang putri - dr. Karolin Margaret Natasha dan Angelina Fremalco, SH- berwatak keras dan disiplin yang tinggi. Didikan ini dibentuk dari sang ayah yang merupakan anggota Polisi.
Meskipun begitu, jiwa kepemimpinan Cornelis mulai terbentuk ketika berada di lembaga pendidikan, Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN). Seperti yang diakuinya dalam wawancara bersama wartawan Borneo Tribune, Endang Kusmiyati.
Tak hanya sukses memimpin Landak melalui pembangunan. Dalam keluarga pun, suami dari Frederika, S.Pd ini sukses menuntun kedua putrinya mencapai gelar sarjana. Pencapaian kesuksesan yang seimbang di dalam keluarga maupun pengabdiannya untuk masyarakat.
Mengenai kedisiplinan Cornelis diakui pula oleh Peter, ajudannya. Perbincangan singkat dengan Peter pada Jumat (26/10) lalu ketika ia melakukan olahraga sore di kantor Bupati Landak yang baru.
Menurut Peter waktu itu, bapak- sebutan peter pada Cornelis- selalu menjalankan agenda yang sudah disusun. Termasuk ketika ada rapat kerja yang dilakukan hingga pagi hari. Cornelis pun memberikan waktu kepada para tamu yang ingin menemuinya di rumah ketika malam, waktu luangnya.
Beberapa agenda tugas yang dijalani Cornelis diucapkan Peter. Rapat dengan anggota Pemda Landak karena harus cuti sementara untuk melakukan kampanye, melengkapi syarat-syarat pilgub, hingga koordinasi dengan tim sukses.
Bahkan, ketika melakukan kampanye putaran terakhir di Landak yang termasuk zona III pada Sabtu (10/11) dan esoknya akan melakukan debat publik di Pontianak. Cornelis beserta rombongan berangkat dari rumah menuju Pontianak pada Minggu (11/11) dinihari, sekitar pukul 00.30.

Kharisma Orator Ulung
Pencapaian yang diperoleh Cornelis saat ini, merupakan usaha dari perjalanan yang panjang. Mulai dari KAUR Bangdes Kecamatan Mandor pada 1979-1986. PU Kabag Pemdes Kntor Bupati Kabupaten Pontianak pada 1989. Camat Menjalin pada 1989-1995. Camat Menyuke pada 1995-1999. Kasubdin Pengawas Dinas Pertambangan Provinsi Kalbar pada 1999-2001. Bupati Landak 2 periode pada 2001-2006 dan 2006-2011.
Dengan melakukan cuti sementara dari jabatannya sebagai Bupati Landak, Cornelis menjalani agenda kampanye yang telah ditetapkan oleh KPUD Kalbar mulai 29 Oktober hingga 11 November lalu.
Terhitung 12 Kabupaten/Kota ditempuh oleh Cornelis untuk menyampaikan visi dan misinya kepada para pendukungnya. Sama seperti yang dilakukan oleh kandidat lainnya.
Hanya sekali kesempatan saya untuk meliput kampanye Cornelis. Yaitu ketika ia menyambangi massanya yang ada di kota Intan ini, pada Sabtu (10/11) lalu. Lapangan Berdanadi dipenuhi oleh massanya yang menyemut.
Orasi yang dibawakan Cornelis dalam kampanye, amat menggugah. Kharismanya terpancar ketika ia berorasi di depan pendukungnya. “Kalau takut, jangan berani-berani. Kalau berani, jangan takut-takut,” seru Cornelis. Yang disambut riuh tepuk tangan.
Bahkan dengan suara lantang Cornelis mengatakan akan berjuang bersama kaum proletaar, kaum tertindas, dan wong cilik. Dengan mengusung membangun ekonomi kerakyatan melalui perbaikan infrastruktur.
Pengembangan Sumber Daya Manusia pun tak lepas dari program yang telah dicanangkannya. “Pembangunan dimulai dari manusianya untuk Indonesia,” ujar Cornelis.

Menanti Kinerja Sang Ruai
Ketok palu terhadap pasangan terpilih berdasarkan suara rakyat akan dilakukan oleh KPUD Kalbar pada Selasa (27/11) nanti. Dengan hasil yang diperoleh, Cornelis sang Ruai dipastikan hinggap ditampuk pimpinan untuk lima tahun ke depan.
Mahkota kepemimpinan pun akan diembannya mulai 14 Januari mendatang. Menanti kepakan sayap sang Ruai untuk menjamah pembangunan di seluruh wilayah Kalbar. Suatu tanggung jawab besar yang harus dipikulnya, untuk melanjutkan kerja pembangunan yang sudah ada.
Jabatan Bupati Landak pun segera Cornelis tinggalkan. Berganti baju dengan jabatan Gubernur. Meninggalkan tampuk kepemimpinan di kota intan yang berada 186 kilometer arah timur Pontianak.
Landak pula daerah yang mungkin tidak akan pernah dilupakan sang Ruai. Meskipun kepakannya membawa hinggap entah kemana. Kota ini akan menjadi kenangan manis bagi Cornelis.
Dua kali pemilihan secara demokrasi berdasarkan pilihan rakyat yang dimenangkan Cornelis, berawal di kota ini. Kantor Bupati yang megah pun tak sempat ia icipi, yang menjadi kado manis dan dibangun dari, oleh, dan untuk masyarakat Landak.

Intan Landak Capai Martapura

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Ngabang
Kilau dan bentuk indah dari intan, merupakan daya tarik tersendiri bak magnet yang mampu menarik perhatian penyuka perhiasan. Salah satu batu mulai yang banyak diminati ini, juga ditemukan di Kabupaten Landak. Namun sayang kalah pamor dengan Martapura yang berkibar dengan dengungan penghasil dan pengerajin intan yang ada di Indonesia.
Menurut Ir. S. Adirin, Kepala Bidang Mineral Dinas Pertambangan, Energi dan Lingkungan Hidup (Tamben dan LH) Kabupaten Landak, yang diwawancarai di ruang kerjanya pada Jumat (2/11). Hal ini dikarenakan belum adanya pengerajin ahli yang mampu untuk membentuk intan menjadi indah dan bernilai jual tinggi di Landak.
Padahal hasil tambang berupa intan yang berasal dari Landak, merupakan salah satu pemasok bahan intan belum jadi yang marak dijual di Martapura. Seberapa besar jumlah pasokan intan Landak ke Martapura per tahunnya, belum bisa dipastikan dikarenakan jumlah penambang dan hasil tambangannya tidak bisa diprediksi.
Intan di Landak kebanyakan ditambang secara tradisional dan secara manual oleh para masyarakat. Selain itu, pengerajin intan yang ada pun manual sehingga nilai jualnya rendah. “Kebanyakan di jual ke penampung,” ujar Adirin. Penampung ini, lanjutnya, berasal dari Martapura yang datang ke Landak.
Kualitas intan yang berasal dari Landak, ujar Adirin, lebih bagus dibandingkan dengan intan yang berasal dari Martapura. Kualitas intan sendiri dapat dilihat dari warnanya. Putih, merah, kuning dan hitam.
Adirin mengatakan bahwa intan dengan warna merah mempunyai tingkat kualitas paling bagus dibandingkan dengan warna lainnya. Otomatis bila diberi sentuhan seni yang menarik, intan berwarna merah mempunyai kisaran harga paling tinggi.
Sedangkan intan dengan kualitas rendah adalah berwarna hitam. “Tidak begitu mahal karena masih kotor,” ujar Adirin. Selain itu pula, masalah seni dan minat pribadi juga mempengaruhi mahal tidaknya intan. Sistem penjualan dari intan sendiri berdasarkan karat, viat dan simpat.
Lokasi penambangan intan yang kebanyakan berada di tepi dan tengah sungai, dapat mengakibatkan pendangkalan sungai. “Ada juga lokasi tambang yang berada di darat,” ujar Adirin. Yang dapat menimbulkan kerusakan hutan dan ekosistem yang ada. Karenanya sosialisasi dan perijinan untuk menambang harus ditaati oleh para penambang.
Penambang intan yang masih tradisional selama ini menyulitkan pendataan mengenai berapa banyak jumlahnya. Hal ini terkait dengan pengawasan luas lahan yang mereka gunakan dan dampak yang ditimbulkan.
Faktor cukong juga menjadi kendala utama dalam penertiban dan sosialisasi terhadap pertambangan. Meskipun begitu, Dinas Tamben dan LH Landak terus melakukan sosialisasi, berupa pengarahan kepada masyarakat.
Dari 13 kecamatan yang ada di wilayah Landak, yang memiliki potensi pertambangan berupa intan adalah Ngabang, Air Besar, dan Kuala Behe.

Romantisme Byar Pet Dalam Keseharian Kita

Arthurio Oktavinus

Borneo Tribune, Ngabang
Umpatan terlontar ketika sudah kali ketiga lampu mati dalam waktu sejam. Bukan hanya menganggu tenggat waktu mengejar deadline, tetapi juga konsentrasi dalam menguntai kata. Rasa geram seketika menguap mengingat beginilah nasib per-PLN-an kita. Byar pet seakan menjadi romantisme sendiri yang mencumbu keseharian kita.
Sudah 62 tahun waktu bergulir mengiringi perjalanan Perusahaan Listrik Negara (PLN) melayani kebutuhan masyarakat di Indonesia. Bukan waktu yang sebentar tentunya. Pelayanan berupa kebutuhan listrik sebagai kebutuhan dasar masyarakat dewasa ini, menuntut kinerja sempurna dari PLN.
Listrik dirasakan sebagai tulang punggung utama dalam pekerjaan setiap instansi. Termasuk di Kabupaten Landak yang baru saja merayakan hari ulang tahun pemerintah daerahnya yang ke-8.
Sistem komputerisasi yang menunjang kerja pemerintahan dalam melayani masyarakat, terganggu dengan kondisi listrik yang selalu byar pet meskipun tak lama tetapi sering. Seperti yang terjadi pada Senin (29/10) lalu. Dengungan tak merdu dari genset yang digunakan sebagai antisipasi matinya listrik, terdengar dari kantor Catatan Sipil Kependudukan, Tenaga Kerja dan Pemberdayaan Masyarakat di Jalan Pangeran Cinata.
Kata keluhan terhadap pelayanan listrik keluar dari mulut Marsianus, Kepala Bidang Tenaga Kerja. “Kerja kita melayani masyarakat untuk membuat berkas yang mereka butuhkan menjadi terhambat,” ujarnya.
Menurut Marsianus, bila sudah begini. Perlu adanya Yayasan Layanan Konsumen Indonesia (YLKI) yang dapat menampung dan memperjuangkan keluhan masyarakat terhadap pelayanan publik yang menganggu kinerja. Agar hak-hak masyarakat yang kecewa dengan pelayanan yang tidak optimal, dapat dicari penyelesaiannya.
Keluhan tersebut diutarakan Marsianus dikarenakan bidang yang ia kepalai tersebut, dipenuhi banyak masyarakat yang ingin membuat kartu kuning beberapa hari terakhir. “Byar pet memperlambat proses pembuatan kartu kuning,” ujarnya. Padahal pembuatan kartu dapat terselesaikan dengan cepat bila listrik menyala.
Hal ini terkait dengan penggunaan komputer untuk menyimpan data-data pembuat kartu kuning tersebut. Menurut Marsianus, PLN harus banyak berbenah terhadap pelayanan yang diberikan kepada masyarakat. “Masyarakat selalu rugi,” ujarnya. Padahal kewajiban masyarakat untuk membayar penggunaan listrik sudah dilakukan. Akan tetapi hasil yang diberikan masih sama, byar pet.
Marsianus memberitahu bahwa dirinya baru saja memfotocopy berkas yang dibutuhkan. “Pemilik fotocopy juga mengeluh dengan keadaan ini,” ujarnya. Marsianus mengulang apa yang dikatakan oleh pemilik foto copy, bahwa biaya yang dikeluarkan olehnya membengkak. Dikarenakan harus mengeluarkan biaya ekstra untuk membeli bahan bakar yang digunakan untuk menghidupkan genset.
Seperti pemilik foto copy, ujar Marsianus, anggaran pengeluaran kantor untuk dana tak terduga melalui pembelian bahan bakar genset turut membengkak. Dan itu merupakan resiko yang harus ditanggung akibat byar pet yang melanda.
Akan tetapi Marsianus dan masyarakat tak mampu berbuat banyak, selain pasrah menerima keadaan tersebut. Byar pet seakan sudah menjadi bagian dalam keseharian hidup masyarakat.
Ketika ditanya tanggapannya mengenai PLN yang sudah berusaha maksimal dengan pengadaan mesin baru yang diharapkan mampu menjawab keresahan masyarakat. Marsianus menjawab singkat. “Kalau seperti itu, lebih bagus lagi,” ujarnya.

Sejarah Kabupaten Landak


Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Ngabang
Buah pemekaran wilayah Kabupaten Landak sebagai daerah pemekaran kedua di Kalimantan Barat, kini mulai ranum. Proses panjang yang dilalui secara bertahap. Sedikit demi sedikit mulai menunjukkan hasil. Kuku-kuku tajam pembangunan, menancap lebih dalam ke tanah Landak Edo’. Yang bergeliat untuk pencapaian pembangunan dan sumber daya manusia yang berkualitas.
Kabupaten Landak merupakan pemekaran wilayah dari Kabupaten Pontianak berdasarkan Undang-Undang (UU) Nomor 55 tanggal 4 Oktober 1999, tentang pembentukan Kabupaten Landak dengan ibukota yang berkedudukan di Ngabang.
Berdasarkan UU tersebut, luas wilayah Kabuapten Landak adalah 9.909 kilometer per segi. Terdiri dari wilayah kerja pembantu Bupati Pontianak di Ngabang sebanyak 5 kecamatan.
Kecamatan tersebut adalah Ngabang, Air Besar, Menyuke, Sengah Temila, dan Meranti. Kemudian menjadi 10 kecamatan dengan tambahan kecamatan Sebangki, Menjalin, Kuala Behe, Mandor, dan Mempawah Hulu.
Kabupaten Landak mempunyai batas wilayah di sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Bengkayang. Sebelah timur dengan Kabuapten Sanggau. Sebelah selatan dengan Kabupaten Pontianak. Sebelah barat dengan Kabupaten Pontianak.
Dengan terbentuknya Kabupaten Landak, wilayah Kabupaten Pontianak berkurang seluas wilayah Kabupaten Landak. Selain itu wilayah kerja Pembantu Bupati Pontianak wilayah Ngabang yang dibentuk berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri pada 13 Maret 1985 Nomor 821.26-224 dinyatakan dihapus.

Pemekaran Daerah Dari Aspirasi Masyarakat
Pemekaran wilayah yang diajukan ke Pemerintah pusat dan disetujui pada 1999 lalu, merupakan suatu usaha masyarakat dengan perjalanan yang panjang. Aspirasi masyarakat untuk pemekaran wilayah Kabupaten Pontianak telah disuarakan sejak 1957.
Bukan tanpa alasan aspirasi tersebut disuarakan, mengingat Kabupaten Pontianak memiliki wilayah yang luas. Yaitu 18.171,20 kilometer per segi. Sebagaimana diatur dalam UU Nomor 27/1959 tentang Penetapan UU Nomor 3/1953 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II di Kalimantan.
Karena aspirasi masyarakat tidak mendapatkan tanggapan, usulan mengenai pemekaran daerah muncul kembali pada 1970-an dan 1980-an. Akan tetapi usulan ini tetap menjadi angan-angan masyarakat saja dikarenakan tidak pernah ditanggapi oleh pemerintah tingkat atas baik pemerintah Provinsi maupun pemerintah Pusat. Usulan hanya sekedar wacana karena tidak ada ‘angin segar’ yang diberikan oleh pemerintah Pusat.
Seiring berjalannya waktu, kebutuhan untuk membantu tugas pemerintahan dirasakan oleh pemerintah Provinsi menjadi suatu hal yang sangat penting untuk dilaksanakan. Terlebih untuk pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat.
Kebutuhan ini mewujudkan terbentuknya wilayah kerja Pembantu Bupati Pontianak wilayah Ngabang dengan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 821.26-224 tanggal 13 Maret 1985.
Usulan pemekaran wilayah Kabupaten Pontianak disuarakan kembali pada 1992 dari DPRD Kabupaten Tingkat II Pontianak periode 1992-1997. Yang tertuang dalam rumusan keputusan DPRD Tingkat II Pontianak Nomor 01 tanggal 6 Januari 1992, tentang pernyataan pendapat mengenai pemekaran Daerah Tingkat II Pontianak.
Kali ini aspirasi masyarakat Kabupaten Pontianak mengenai usulan pemekaran wilayah mendapatkan respon Gubernur Kalimantan Barat, dengan mengeluarkan surat Nomor 135/0729/Pem.C tanggal 15 Februari 1996.
Perihal surat tersebut adalah pemekaran dan pembentukan daerah otonomi Tingkat II dalam wilayah Kabupaten Pontianak. Dimana setiap rencana pemekaran harus dilakukan dengan penelitian dan pengkajian secara mendalam.
Tentulah penelitian dan pengkajian ini dilakukan oleh para ahli yang dikumpulkan menjadi satu tim penelitian dan evaluasi pemekaran Daerah Tingkat II.
Berdasarkan surat Gubernur tersebut, Bupati Pontianak mengeluarkan surat keputusan Nomor 261/1996 tentang tim peneliti dan evaluasi pemekaran daerah. Yang dilanjutkan dengan pertimbangan Badan Pertimbangan Daerah Tingkat II Pontianak, pada 22 Oktober 1996.

Reformasi Mempercepat Proses Pemekaran
Timbulnya reformasi yang dipicu krisis multi dimensi pertengahan 1997, seperti memberi keuntungan tersendiri bagi para masyarakat yang mengajukan aspirasi pemekaran daerah. Kepercayaan masyarakat kepada pemerintah pusat yang pada waktu itu masih menggunakan sistem sentralisasi, semakin menipis.
Masyarakat yang ada di daerah merasa hasil sumber daya yang mereka miliki ‘dikeruk’ oleh pemerintah pusat untuk pembangunan sendiri. Tanpa memperhatikan pembangunan di daerah.
Akibat ketidakadilan tersebut, timbul banyak pergerakan yang dilakukan masyarakat. Teriakan mereka melalui suara mahasiswa pada waktu itu. Mengorbankan banyak jiwa dan harta. Meskipun begitu, pergerakan tak berhenti hingga tirani rezim orde baru tumbang.
Kelonggaran peraturan pemerintah yang baru terhadap pengajuan masyarakat untuk melakukan pemekaran daerah di beberapa wilayah di Indonesia, turut pula mencuatkan usulan pemekaran Kabupaten Pontianak. Usulan ini pun diproses melalui jalur politik di DPRD dan jalur eksekutif di Birokrasi pemerintah Daerah.
Kesahihan tim penelitian dan evaluasi pemekaran Kabupaten Daerah Tingkat II yang telah ditetapkan pada 1996, diperbaharui. Yang disempurnakan dengan Surat Keputusan Bupati Daerah Tingkat II Pontianak Nomor 192/1998.
Hasil kerja tim didukung oleh DPRD Kabupaten Daerah Tingkat II Pontianak dengan keputusan Nomor 8/1998.
Dengan diagendakannya pemekaran wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Pontianak menjadi Kabupaten Tingkat II Pontianak dan Kabupaten Daerah Tingkat II Landak oleh pemerintah pusat. Maka disempurnakan kembali Surat Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Pontianak Nomor 192/1998 dengan Surat Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Pontianak Nomor 14 tanggal 28 April 1999. Tentang Pembentukan tim Penelitian dan Evaluasi Pemekaran Daerah Tingkat II Pontianak.
Tim bertugas menyusun kerangka pikir sebagai penjabaran rumusan usulan Badan Pertimbangan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Pontianak tentang upaya meninjau kembali status dan batas daerah otonom dan administratif Daerah Tingkat II Pontianak, menjadi Pemerintah Daerah Tingkat II Pontianak dan Pemerintah Daerah Tingkat II Landak.

Kinerja Tim
Berdasarkan Surat Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Pontianak Nomor 14/1999, pembentukan tim pun dilakukan. Susunan anggota tim terdiri atas unsur Eksekutif dan Legislatif. Tim diketuai oleh Asisten Tata Praja Sekwilda Tingkat II Pontianak, yang saat itu dijabat oleh Drs. Laurentius Bakweng.
Ketua tim Legislatif adalah Saronia Telaunbanua yang dibantu oleh 8 orang anggota. Tim Eksekutif dibagi atas tiga bidang. Yaitu bidang pemerintahan, politik serta pertahanan dan keamanan dengan 8 orang anggota. Bidang ekonomi dan pembangunan yang terdiri dari 8 orang anggota. Dan bidang sosial budaya yang terdiri dari 7 orang anggota.
Tim dibantu oleh sekretariat yang terdiri atas 4 orang anggota.
Dalam melaksanakan tugasnya, tim bertanggungjawab langsung kepada Bupati Kepala Daerah Tingkat II Pontianak yang saat itu dijabat oleh Drs. Cornelius Kimha, M.Si.
Hasil kerja tim berupa data yang dituangkan dalam buku dokumen pemekaran wilayah Kabupaten Tingkat II Pontianak. Yang menjadi bahan bagi sidang DPR RI. Bahan verifikasi lapangan dilakukan dengan kunjungan komisi IX DPR RI yang meninjau ke kota Ngabang. Untuk melihat dan mengetahui kondisi riil yang ada.
Pembahasan yang intensif antara DPR RI dengan pihak pemerintah Kabupaten Pontianak, sampai pada kesimpulan bahwa Kabupaten Pontianak layak dimekarkan.
Dukungan dan semangat masyarakat Kabupaten Landak atas terbentuknya kabupaten ini sangat tinggi. Kegembiraan itu terwujud dengan dibentuknya panitia penyambutan yang diketuai oleh Abikusno Borneo.

Pemerintahan Kabupaten Landak
Setelah Kabupaten Landak terbentuk, dilakukan peresmian dan pelantikan pejabat sementara Bupati Landak, yaitu Drs. H. Agus Salim, MM. Beliau dilantik oleh Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden pada 12 Oktober 1999 di Jakarta.
Tidak hanya itu. Penyerahan personil, peralatan, pendanaan dan dokumen (P3D) dilakukan secara simbolis oleh Bupati Pontianak kepada pejabat Bupati Landak pada 2000. yang disaksikan oleh Gubernur Kalimantan Barat, H. Aspar aswin di Ngabang. Hal ini dilakukan demi kelancaran pelaksanaan tugas-tugas dalam penyelenggaraan pemerintahan.
Pengisian keanggotaan dewan sesuai dengan UU Nomor 15/2000 tentang perubahan UU Nomor 55/1999. Bahwa keanggotaan Dewan Kabupaten Landak diisi oleh anggota Dewan hasil pemilu 1999 yang berasal dari daerah pemilihan Kabupaten Landak.
Penetapan anggota DPRD Kabupaten Landak sebanyak 35 orang berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kalimntan Barat Nomor 453 tanggal 15 Desember 2000. pelantikan dilakukan oleh Ketua Pengadilan Negeri Mempawah pada 19 Desember 2000 di Ngabang. Ketua DPRD Kabupaten Landak pertama yaitu Drs. Yosef Kilim.
Berdasarkan sidang paripurna DPRD Kabupaten Landak pada 19 Juli 2001. Terpilih Bupati dan Wakil Bupati depentif atas nama Drs. Cornelis dan Nicodemus Nehen, S.Pd. Yang ditetapkan dengan keputusan DPRD Kabupaten Landak Nomor 19 tanggal 19 Juli 2001, tentang penetapan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Landak periode 2001-2006.
Pelantikan Drs. Cornelis dan Nicodemus Nehen, S.Pd sebagai Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Landak dilakukan oleh Gubernur Kalimantan Barat atas nama Menteri Dalam Negeri pada 6 September 2001 di Ngabang.
Masa pemerintahan Drs. Cornelis, MH menjadi Bupati Kabupaten Landak berlanjut berdasarkan hasil pemungutan suara secara langsung untuk periode 2006-2011, dengan wakil Drs. Adrianus Asia Sidot, M.Si.

Prion Penyerang Saraf dari Daging Kalengan Ilegal

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Pertanyaan mungkin muncul mengapa produk daging kalengan ilegal harus ditarik dari pasaran. Mengapa pula produk tersebut dapat mengakibatkan serangan penyakit pada saraf. Benarkah produk ‘made in’ luar negeri yang terkenal dengan pembuatan produksi yang klinis, beresiko tinggi terhadap kesehatan manusia?
Menurut Hendro Sulistyo, Kasi Pengawasan Obat Hewan dan Pelayanan Kesehatan Kehewanan Dinas Kehewanan dan Peternakan (Diswanak) Provinsi Kalbar, kesehatan manusia dapat terganggu dengan mengkonsumsi produk daging kaleng ilegal tersebut. “Penyebabnya adalah prion,” ujar Hendro. Prion merupakan protein dalam sel yang tidak normal dan dapat menyebabkan timbulnya penyakit sapi gila yang menyerang saraf hewan tersebut.
Prion ini, ujar Hendro, dihasilkan karena hewan diberikan pakan yang dihasilkan dari pembakaran tidak sempurna. Protein prion bukan mikroorganisme tetapi gangguan metabolisme yang tidak dapat hilang meskipun dimasak dengan matang.
Bila produk daging kalengan yang dibuat dengan bahan dasar hewan yang terkena penyakit sapi gila dan dikonsumsi oleh manusia, dimungkinkan timbulnya penyakit yang menyerang saraf manusia. Prion dibawa ke saraf oleh aliran darah yang bersirkulasi di dalam tubuh.
Penyakit yang diakibatkan memang tidak langsung terlihat dampaknya pada manusia. “Ada masa inkubasinya,” ujar Hendro. Masa inkubasi merupakan masa dimana prion tersebut menyerang saraf secara perlahan.
Menurut Hendro, butuh sekitar 5 hingga 10 tahun bagi prion meyerang saraf manusia. “Itupun tergantung pada daya tahan tubuh manusia itu sendiri,” ujar Hendro. Apabila daya tahan tubuh manusia lemah paling cepat 5 tahun saraf tersebut terserang.
Negara-negara yang saat ini termasuk ke dalam daftar terinfeksi sapi gila antara lain Kanada, Amerika, India, Thailand, Inggris, China, Prancis, dan Thailand. “Sedangkan produk kalengan yang menyebar luas peredarannya di Kalbar adalah China,” ujar Hendro.
Karenanya pencegahan langsung pun segera dilakukan untuk menghentikan penyebaran prion ke tubuh manusia. Terlebih lagi, sudah ada peringatan dunia yang melarang agar produk daging kalengan dari negara yang terkena infeksi sapi gila tidak disebarkan ke negara-negara yang tidak terinfeksi.
Sri Yeni, Kasi Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular Diswanak Provinsi Kalbar, mengatakan bahwa proses pembuatan corned beef dilakukan pada suhu 125 derajat Celcius. “Padahal prion bisa rusak pada suhu lebih dari 200 derajat Celcius,” ujar Sri.
Menurut Sri, efek yang ditimbulkan prion pada manusia adalah ditemukan adanya bolong pada otak. “Bila diperiksa, akan terlihat seperti sponge (spon),” ujar Sri. Gangguan tersebutlah yang akhirnya dapat merusak saraf otak manusia.
Selama ini belum ada obat pencegah yang mampu mengentaskan penyakit ini. Sri menganjurkan agar konsumen sebaiknya berhati-hati dalam mengkonsumsi makanannya.

Keraton Pakunegara Kesuma Peninggalan Kerajaan Tayan


Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Tayan
Sejarah kerajaan Islam, ternyata sangat banyak ditemui di Kalimantan Barat. Salah satunya dapat dilihat dari sisa-sisa peninggalan kerajaan yang masih tersimpan rapi di keraton Pakunegara Kesuma. Yang terletak di kampung Pedalaman, desa Pedalaman, Kecamatan Tayan Hilir, Sanggau.
Keraton Pakunegara Kesuma menghadap ke sungai Kapuas, yang memisahkan desa Pedalaman dan desa Pulau. Jalan dari Keraton menuju sungai Kapuas berupa jalan dengan lebar sekitar setengah meter dan berjarak sekitar 100 meter. Jalan tersebut bukan dari tanah, melainkan semen yang tampak masih baru.
Sisi kiri dan kanan jalan tersebut, tersimpan masing-masing 3 buah meriam, berjarak sekitar 20 meter satu dengan lainnya. Pada meriam paling ujung sebelah kanan jalan menuju sungai, tertulis 1698 pada badan meriam bagian pangkal. Di atas tahun tersebut terdapat simbol berbentuk layang-layang dengan huruf O di sisi kiri dan C di sisi kanan. Kemungkinan meriam tersebut bekas VOC yang tersisa dari masa peperangan.
Bangunan keraton di dominasi cat kuning, yang didirikan dari bahan kayu belian. Keraton hampir menyerupai betang dalam hal tinggi rumah. Atap rumah mengkerucut ke atas.
Tangga rumah menghubungkan antara badan jalan dengan pintu yang menuju ruang utama. Sebagian pintu dan jendela keraton berupa bingkai kaca. Satu kaca terlihat pecah pada bagian kiri paling bawah.
Ruang tamu terlihat sangat luas. Seperangkat bangku dari bahan kayu, diletakkan di sisi kiri ruang tamu, dekat jendela. Dua buah kaca peninggalan kerajaan menempel di sisi kiri dan kanan pintu yang menghubungkan ruang tamu dengan ruangan bagian dalam. Kaca tersebut berdekatan dengan tanduk kerbau dan tempat lilin yang berada di bagian dalam.
Di atas pintu penghubung tersebut, tergantung gambar Gusti Djafar (Raja Tayan ke-12) yang menjadi salah satu korban di Mandor.
Penghubung antara ruang tamu dan ruang utama, berupa sebuah ruangan dalam ukuran kecil. Di sisi kiri dan kanan ruangan ini ada dua pintu kamar. Begitu pula pintu untuk menuju ruang utama, ada di tepi paling kiri dan kanan. Dengan meriam kecil yang berada di sisi kedua pintu tersebut.
Ruang utama berupa ruangan yang sangat luas. Tempat sentral bagi singasana kerajaan berada satu garis lurus dengan pintu keraton yang menghadap ke sungai. Ruangan khusus tersebut dihiasi dengan motif pada sisi luarnya. Kaca nako tiga warna, berada di kedua sisi. Pagar kecil seperti menjadi pembatas untuk ruangan tersebut dengan kamar yang ada di tiap sisinya. Isi ruangan tersebut saat ini hanya sebuah tempat tidur raja yang tinggal rangkanya saja. Ruangan tersebut juga digunakan sebagai tempat pelaminan dan upacara adat berlangsung.
Sebuah tangga menghubungkan lantai atas dan bawah. Lantai atas berfungsi sebagai ruang kamar bagi keluarga Raja, yang masih digunakan hingga raja ke-12.
Menurut Gusti Dadang Kabri (43), anak dari Gusti Ismail (Raja Tayan ke-13), keraton Pakunegara Kesuma memiliki luas lokasi 2 hektar. Lokasi tersebut termasuk untuk sebuah masjid yang berdiri tak jauh dari keraton, di sisi kanan jalan.
Kamar yang ada di keraton saat ini berjumlah 3 ruangan. Yang dihuni oleh 2 kepala keluarga (KK), masih kerabat raja sendiri. “25 tahun lalu masih banyak keluarga yang tinggal di keraton,” ujar Gusti Dadang. Sebanyak 8 KK yang ada saat itu, akan tetapi secara perlahan mereka membangun rumah sendiri dan ada yang berpindah ke Pontianak dan Sanggau.
Gusti Dadang mengatakan bahwa fisik bangunan yang ada hingga saat ini tidak pernah dirubah. “Dari dulu sampai sekarang, keraton ini ya seperti ini,” ujar Gusti Dadang. Sebagian lantai keraton yang terbuat dari kayu belian bahkan sudah kelihatan berlubang.

Peninggalan Keraton
Sebuah ruang kamar dengan tirai kuning dijadikan tempat untuk menyimpan benda-benda peninggalan Keraton Pakunegara Kesuma. Ruang yang berukuran sekitar 4x4 meter tersebut hanya berisi sebuah lemari kayu yang sudah tua.
Di atas lemari tersebut ada sebuah lemari kecil yang ditutup dengan kain kuning. Menurut Gusti Dadang, isi lemari tersebut adalah laras senapang yang dkeramatkan. Gusti Dadang pun komat-kamit sebentar, membacakan sesuatu secara perlahan. Tirai pun dibuka secara perlahan dan membuka laras yang masih dibungkus dengan kain kuning pula. Secara perlahan Gusti Dadang mengambil laras tersebut. “Jangan disentuh,” ujar Gusti Dadang yang tampak memegang beban sangat berat ketika mengangkat laras senapang tersebut.
Benda tersebut merupakan peninggalan sejarah yang diberikan Gusti Mohammad Ali (Raja ke-10). Menurut Gusti Dadang, berdasarkan cerita yang didengarnya. Laras sepang tersebut sudah berada di keraton sejak 1683.
Benda peninggalan keraton lainnya berupa koin dan uang kertas, perisai perang dari tembaga, bokor dan tempat menyimpan peralatan untuk menyirih, kopiah, keramik antik, gong, kain penutup keranda untuk raja yang mangkat, alat mendulang emas, dan baju raja.
Gusti Dadang memberitahu bahwa laras sepang tersebut ada sepasang. Menurutnya, laras yang besar menunjukkan laras senapang laki-laki yang bernama Raden Jimadin. Sedangkan yang kecil merupakan laras senapang perempuan yang bernama Raden Ayu.
Kedua laras senapang tersebut selalu dimandikan setiap 1 Muharam. “Masyarakat biasanya mengambil air bekas memandikan laras senapang tersebut,” ujar Gusti Dadang. Air yang diambil digunakan untuk menyiram tanaman agar subur, siram benih, dan ada yang digunakan sebagai minuman.
Masyarakat sekitar juga ada yang percaya bahwa air bekas pemandian tersebut dapat pula menjadi obat untuk penyakit cacar, diare, dan lainnya.
Cara memandikan laras senapang tersebut, ujar Gusti Dadang, dengan memasukkan air dari mulut laras. Sebuah lubang kecil di bagian pangkalnya merupakan tempat keluarnya air bekas memandikan laras.
Menurut Gusti Dadang, air yang keluar dari lubang kecil tersebut akan berhenti dengan sendirinya sebagai tanda acara mandi sudah selesai. “Padahal air untuk memandikan dimasukkan terus,” ujar Gusti Dadang.
Cerita penemuan kedua laras senapang tersebut pun tak kalah misterusnya. Sebuah penemuan peninggalan sejarah yang cukup unik. Gusti Dadang menceritakan bila kedua laras tersebut ditemukan oleh seorang nelayan ketika sedang memancing.
Laras tersebut ditemukan di kampung Labai dalam posisi timbul dipermukaan sungai dalam jumlah yang banyak. “Akan tetapi hanya bisa diambil dengan cara dipancing,” ujar Gusti Dadang. Hasil pancingan yang diperoleh pun hanya dua buah.
Malam hari setelah mendapatkan laras tersebut. Nelayan tersebut pun mendapatkan mimpi, dimana ada orang tua yang ingin agar laras tersebut dibawa ke keraton. Nelayan tersebut pun membawa laras senapang ke keraton.
Gusti Dadang memberitahu bahwa upacara 1 Muharam yang dilakukan oleh leluhur pada dulunya dengan mengelilingi kota Tayan. “Menggunakan bandong membawa laras tersebut,” ujar Gusti Dadang. Setelah itu diadakan perang ketupat.

Raja Penerus
Gusti Dadang dan Gusti Baliah, merupakan anak dari Gusti Ismail. Tampuk kepemimpinan seharusnya secara otomatis menjadi hak salah satu diantara mereka. Akan tetapi, dengan rendah hati mereka berujar bahwa Indonesia merupakan negara kesatuan dan kerajaan Tayan berada di dalamnya. “Gelar merupakan garis yang bisa berlaku ketika Indonesia belum merdeka,” ujar Gusti Dadang.
Ketika ditanya apakah ada proses pemilihan yang dilangsungkan untuk memilih raja, Gusti Baliah tersenyum kecil. “Mungkin masih 20 puluh tahun ke depan,” ujarnya. menurutnya tidak mudah mencari figur yang diinginkan untuk menjadi seorang raja.
Proses pemilihan pun tidak hanya dilakukan oleh satu keluarga saja. “Perlu rapat keluarga besar,” ujar Gusti Baliah. Rapat ini untuk menentukan calon dan menentukan raja sesuai dengan figur yang diinginkan.
Gusti Barliah memberitahu bila keluarga besar dikumpulkan, tidak hanya dari Tayan saja. Akan tetapi harus dirunut lagi garis keturunan yang masih ada.
Keinginan Gusti Barliah saat ini pun tidak muluk-muluk. Menurutnya, negara kita merupakan negara yang merdeka. “Kita hanya perlu menunggu dan menjaga budaya serta peninggalannya,” ujar Gusti Barliah.

Meriam Karbit di Malam Takbiran

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Menyemarakkan malam kemenangan setelah menjalani puasa selama sebulan penuh, di lakukan oleh masyarakat Pontianak dengan berbagai cara. Salah satunya adalah dengan dentuman keras meriam karbit yang kebanyakan dilakukan oleh masyarakat yang berada di pinggir sungai Kapuas.
Ridwansyah, warga Banjar Serasan, Pontianak. Bersama beberapa warga lain tampak sibuk pada Selasa (09/10), menjelang terbenamnya mentari. Hanya mengenakan celana pendek tanpa baju, Ridwansyah secara gotong-royong bersama 3 orang warga. Membuat sebuah panggung berukuran 6x4 meter, di atas air.
Panggung tersebut akan digunakan warga untuk menempatkan meriam karbit yang akan digunakan pada malam takbiran. Menurut Ridwansyah, mereka akan mengangkat gelondongan kayu yang akan digunakan sebagai meriam. Yang sudah digunakan pada tahun sebelumnya.
Gelondongan kayu besar tersebut, ujar Ridwansyah, dipendam ke dalam lumpur setelah digunakan. “Bila terkena hujan dan panas, akan cepat lapuk,” ujar Ridwansyah. Sehingga setelah meriam karbit yang menjadi tradisi tahunan tersebut dimainkan. Harus segera dipendam.
Tak jauh di tempat mereka bekerja, 12 gelondongan kayu yang digunakan sebagai meriam. Tersusun rapi berjejer di atas panggung, tepat di bibir sungai.
Beberapa kayu besar tersebut di poles cat biru dan dililit rotan. Tak jauh dari pangkal kayu, dibentuk sebuah lubang kecil yang digunakan untuk tempat menyulutkan api.
Menurut Ridwansyah, kayu yang digunakan sebagai meriam karbit tersebut adalah kayu cempedak air. “Sebenarnya kayu ini tidak terlalu bagus untuk meriam,” ujar Ridwansyah. Karena kayu tersebut berjenis lempung.
Kayu yang baik digunakan sebagai meriam karbit, ujar Ridwansyah, adalah kayu dengan komponen padat dan keras. “Bunyi yang dihasilkan keras dan nyaring,” ujar Ridwansyah. Selain itu kayu yang berjenis keras dapat digunakan untuk meriam dengan jangka waktu yang lama.
Untuk menghasilkan bunyi dentuman yang keras. Terlebih dahulu di masukkan karbit yang dicampur dengan air ke dalam kayu yang sudah dibolongkan pada bagian tengahnya. “Saat karbit dimasukkan. Lubang kecil yang berada di bawah kayu tersebut disumbat,” ujar Ridwansyah. Kemudian dibiarkan beberapa saat. Setelah itu, sumbatan tersebut dibuka untuk membuang airnya.
Ridwansyah mengaku bahwa meriam tersebut akan dimainkan oleh warga pada malam takbiran. “Dengan cara disulut dengan api,” ujar Ridwansyah. Meriam tersebut dimainkan oleh anak-anak maupun orang dewasa.
Dana untuk membeli karbit sebagai bahan utama, ujar Ridwansyah, diperoleh dari hasil swadaya masyarakat. Selain itu, meletakkan gelondongan kayu besar di bibir sungai juga dilakukan oleh warga secara bersama-sama.
Pada malam takbiran, meriam karbit yang dimainkan oleh warga akan dilakukan secara berbalas-balasan. “Warga seberang (sungai-ed) juga sudah menyiapkan meriam karbit,” ujar Ridwansyah seraya menunjuk ke beberapa tempat di seberang yang terlihat gelondongan kayu besar berjejer rapi di bibir sungai.
Malam takbiran akan bertambah meriah dengan dentuman meriam yang saling bersahutan. Nyala obor yang diletakkan pada tiang pancang di bibir sungai sebagai penerang, juga akan memberi kesan tersendiri di malam takbiran.
Selain itu, pekikan takbir ‘Allahu..Akbar..’ tanda kemenangan juga akan membahana. Menyambut datangnya hari nan fitri.

Aktivitas Illegal Merambah Taman Nasional

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Kapuas Hulu
Kalimantan Barat mempunyai luas sekitar 146.807 kilometer persegi. Selain luas, Kalbar juga merupakan salah satu provinsi yang bertanggung jawab dalam memelihara paru-paru dunia dengan hutan tropisnya.
Kekayaan hutan di Kalbar selama ini sering dijadikan sasaran empuk para pelaku illegal logging (IL). Bahkan aktivitas IL tersebut turut merambah hingga ke kawasan Taman Nasional yang ada di Kalbar.
Efek yang ditimbulkan karena IL tersebut sangat merugikan masyarakat yang berada di sekitar lokasi, maupun masyarakat yang berada jauh dari lokasi aktivitas IL.
Berdasarkan Data Jaringan Pemerhati Hutan inisiasi dari Forum Komunikasi Kehutanan Masyarakat (FKKM) dan Forum Komunikasi Daerah (FKD), terdapat sekitar 700-800 penebang yang terbagi ke dalam 139 kelompok pada sub DAS (Daerah Aliran Sungai) Sibau dan 59 kelompok penebang kayu pada sub DAS Mendalam. Tiap kelompok memiliki 1 hingga 2 chain saw, dengan mengeluarkan kayu setiap hari rata-rata 100 batang. Data tersebut merupakan data hasil penelitian pada 2001-2002.
Menurut Dodi Maja, petugas Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TN BBBR), IL sudah masuk ke kawasan zona inti. Dodi juga mengatakan bahwa aktivitas IL yang terjadi di daerah Nanga Juoi. Bukan hanya IL, TN BBBR juga terjamah aktivitas Illegal Mining (IM). “IM terjadi di daerah Jelundung,” ujar Dodi memberitahu.
Dodi juga mengatakan bahwa saat ini memang terjadi penurunan aktivitas IL. Bila dulu mencapai sekitar 200 mesin yang beroperasi dalam melakukan IL, saat ini hanya tersisa sekitar 60 mesin saja.
Luas kawasan TN BBBR yang dijamah IL dan IM, menurut Dodi, sudah masuk hingga 12 kilometer dari batas kawasan. Kegiatan ini dilakukan oleh perorangan, dengan penampung yang berada di daerah Menukung. “Kayu belian di Menukung perbatangnya berharga 28 ribu rupiah,” ujar Dodi.
Kerugian akibat aktivitas IL bukan hanya secara finansial, tetapi juga non finansial.Kerugian non finansial ini berupa semakin rusaknya tegakan hutan, mengecilnya fungsi dan peran ekosistem hutan alam.
Soewignyo, Kepala Taman Nasional Danau Sentarum, mengemukakan perlunya sosialisasi peraturan perundangan mengenai tata kelola hutan. Hal tersebut disampaikan Soewignyo dalam diskusi dan konsultasi publik EC-Indonesia Flegt Support Project di Kapuas Hulu beberapa hari lalu.
Pentingnya tata kelola hutan yang baik, dibutuhkan untuk meningkatkan peranan hutan dalam pembangunan di Indonesia yang berkelanjutan. Karenanya, dibutuhkan komitmen bersama untuk melakukan tata kelola hutan. Jangan sampai apa yang sudah direncanakan dan disepakati, dilanggar oleh pembuat perencanaan dan kesepakatan itu sendiri.
Abner Panggaribuan, Head of Provincial Project Implementation Unit (PPIU) EC-Flegt Kalimantan Barat, mengatakan selama ini sering terjadi dimana perencanaan yang sudah ditetapkan tidak bisa jalan karena tidak mengikutsertakan masyarakat dan instansi lainnya.
Dengan adanya diskusi antar instansi dan masyarakat, diharapkan adanya perbaikan perundang-undangan termasuk penegakan hukum. Selain itu, meningkatkan tata kelola kehutanan melalui akuntabilitas dan transparansi.
Menurut Tadeus Yus, Provincial Coordinator EC-Indonesia Flegt Kalbar, ada pokja untuk melihat singkronisasi dan transparansi perundang-undangan. Hal ini dikarenakan adanya kelemahan dalam peraturan perundangan perhutanan maupun dengan sektor lainnya.

Masyarakat Nyekar

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Sehari menjelang puasa pada Rabu (12/9) pukul 16.10. Sisa hujan masih membasahi permukaan tanah. Sedikit rintik hujan, tak menyurutkan langkah masyarakat yang ingin nyekar di pemakaman muslim Sungai Bangkong.
Sepanjang komplek pemakaman yang berada di jalan Putri Dara Itam itu menjadi macet. Tepi badan jalan dijadikan tempat parkir bagi masyarakat yang ingin melakukan nyekar. Beberapa penjual bunga ‘dadakan’, menawarkan dagangannya kepada setiap pengendara yang lewat.
Menurut Nuraini, warga Alianyang, acara nyekar ke kuburan sanak saudara yang sudah meninggal merupakan acara setiap tahunnya untuk memasuki bulan puasa. “Menyambut hari baik bulan baik,” ujar Nuraini. Nyekar juga dimaksudkan untuk memanjatkan doa untuk kerabat yang sudah mendahului.
Anna (48), warga gang Mergosari, memasuki komplek pemakaman membawa kresek (kantong plastik) putih. Isi kresek tersebut adalah gunting rumput dan potongan kembang.
Langkah Anna terhenti di sisi kuburan berporselin biru, beberapa meter dari jalan. Sambil berjongkok, tangan Anna mencabuti rumput liar yang tumbuh di atas kuburan tersebut. Menurut Anna, kuburan tersebut merupakan kuburan ayahnya. “Desember nanti genap tiga tahun beliau meninggal,” ucap Anna.
Setelah rumput dibersihkan, Anna menaburkan potongan kembang yang dibawanya dari rumah. Sejenak Anna menutupkan mata. Kedua tangannya merapat dengan telapak yang terbuka. Lafalan doa meluncur dari mulutnya.
Setelah menutup doanya dengan menyapukan kedua telapak tangannya ke muka. Anna beranjak menuju sebuah kuburan baru yang dipisahkan tiga buah kuburan lainnya. Kuburan tersebut dipenuhi dengan taburan tanah hitam, tanah gambut khas Pontianak. Pada salah satu nisan terdapat sebuah payung coklat.
Tiap sisi kuburan itu disanggah dengan sekeping papan. “Agar tanahnya tidak jatuh,” ujar Anna. Tanah yang masih bersih dari rumput tersebut, merupakan tempat peristirahatan terakhir ibunya yang genap 40 hari ketika seminggu puasa.
Membersihkan kuburan, ujar Anna, dilakukannya minimal dua bulan sekali. Anna juga dibantu dengan penjaga makam. Adik Anna juga selalu datang melihat kondisi kuburan setiap Kamis.
Menabur bunga juga dilakukan Anna di kuburan ibunya. Begitu pula dengan panjatan doa. “Kalau doa untuk orangtua selalu saya panjatkan ketika saya sholat,” ujar Anna. Doa juga dipanjatkan untuk mendoakan para muslimin dan muslimah yang sudah meninggal dunia.
Selesai nyekar di kuburan orangtuanya. Anna pamit menuju kuburan lainnya. Ia mengatakan akan membersihkan dan berdoa di kuburan nenek dan iparnya yang juga dimakamkan di pemakaman itu.
Di sisi lain pemakaman. Masyarakat yang nyekar dan menyebar berjumlah sekitar 200 orang.
Dengan tangan terentang dan telapak terbuka, doa pun dipanjatkan. Sebait doa terucap dari seorang ibu berkacamata yang mengenakan kerudung putih di samping sebuah makam berporselin putih. “Bersihkan hati kami dari noda dosa ya Allah,” ucapnya khusyuk. Di tengah rintik hujan yang masih jatuh.

Empat Jam ..

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Salon tidak hanya berfungsi sebagai tempat untuk memangkas rambut. Lebih dari itu, salon memberikan pelayanan perawatan diri yang ‘memanjakan’ penggunanya. Tentulah harga untuk membayar itu semua harus dengan merogeh kocek yang lebih dalam. Karena pelayanan yang didapat pun setimpal pula.
Stigma masyarakat yang mengatakan bahwa salon hanya untuk kaum hawa, tertepis seiring perkembangan jaman. Pelanggan salon kini sudah ‘menjajah’ kaum pria. Mereka ingin menjadi ‘raja dan ratu’ sehari dengan pelayanan yang prima.
Perkenalan saya pertama kali dengan salon terjadi sekitar 9 tahun lalu di kota pelajar, tempat saya menuntut ilmu. Itupun hanya untuk memotong rambut saja. Guna mengikuti perkembangan jaman, melalui model rambut yang sedang in seperti Mohawk dan Harajuku.
Murah menjadi alasan saya untuk mengunjungi salon yang ada di Yogyakarta. Karena harga yang dikeluarkan pelanggan untuk pangkas rambut hanya 5000 rupiah plus creambath-nya. Sesuai dengan label yang melekat di Yogya, ‘harga mahasiswa’ untuk semua.
Keinginan untuk ‘menjajal’ salon terbersit begitu saja di benak saya. Apalagi selama pulang ke Pontianak, saya tak pernah lagi ‘mencicipi’ salon. Lagipula rambut yang sudah panjang membuat gerah. Mumpung libur kerja, tak ada salahnya mencoba. Toh hanya untuk beberapa menit saja.
Tanpa berpikir panjang lagi, motor yang menganggur manis di teras rumah sudah saya duduki. Memutar kunci kontak, menstarter, mainkan gas, dan mengantar saya mencari salon yang buka di sepanjang Jalan Kom.Yos. Soedarso.
Selasa (16/10) pukul 08.15. motor yang saya tunggangi, saya hentikan tepat di depan salon di samping internet cafe. Tulisan closed yang menempel di depan pintu kaca salon yang berada tepat di depan pangkalan pengisian bensin, menggiringkan langkah saya kembai ke motor.
Langkah saya urung beranjak dari salon mendengar teguran dari seorang bapak dari arah belakang mobil kijang yang terparkir di halaman salon, yang mengatakan bahwa salon sudah dibuka.
Bapak tersebut masuk ke dalam dengan berlari kecil. Permadani hitam yang masih tergelar di tengah ruangan, dengan tangkas ia gulung. Lalu ia masuk ke ruangan dalam. Ia pun memanggil sebuah nama, tepat di sisi tangga seraya mendongkakkan kepala ke atas. “Vanny, ada yang mau pangkas,” ujarnya. Nama tersebut sama dengan nama salon yang tertera di papan nama yang terpampang tepat di bawah lantai loteng bagian luar. Setelah itu ia mempersilahkan saya untuk duduk.
Kursi bundar hitam sebatas punggung menjadi singasana saya untuk menunggu. Tepat di depan sebuah kaca yang tertempel di dinding, yang terbalut dengan pigura dari ukiran kayu alami. Letak saya duduk di kaca paling ujung, dekat pintu masuk. “Boleh merokok di sini, pak,” tanya saya meminta ijin sambil merogoh saku celana pendek bercorak batik coklat yang saya kenakan. Pertanyaan saya dijawab dengan anggukan kepala dan sodoran asbak kaca.
Sebatang rokok Djarum Super, saya nyalakan. Segumpal asap pun keluar dari mulut dan hidung saya. Abu yang tercipta diujung batang rokok tersebut saya buang pada asbak yang tersimpan pada sandaran kaca dinding.
Interior salon sangat eye-catching. Enam buah kaca dinding dengan model serupa. Dilengkapi dengan bangku bundar hitam sebagai pasangan kaca tersebut. Di dinding lain diisi dengan foto besar berbingkai. Menampilkan seorang model yang memamerkan rambutnya. Sebuah kipas angin yang nemplok di langit-langit ruangan, membuat susana salon menjadi adem.
Seorang pengunjung wanita bernama Kiki, memasuki salon. Tubuhnya subur dan mengenakan baju coklat lengan panjang dari bahan tissue. Sang bapak juga mempersilahkan Kiki duduk untuk menunggu.
Setelah lima kali tarikan dari rokok yang menyala, seorang perempuan yang mengenakan baju kain pink setengah tangan menuruni anak tangga. Rambutnya sedikit merah dan masih basah.
Sebuah senyum mengembang dari bibir perempuan bernama Vanny yang berjalan mendekati saya. “Tunggu sebentar, bang,” tuturnya seraya mempersiapkan peralatan untuk memangkas rambut yang tertata pada sebuah rak besi hitam.
Saya hanya mengangguk dan kembali menikmati rokok yang masih menyala. Tak lama, ia melingkarkan sebuah handuk kecil putih ke leher saya. Kemudian sebuah kain putih berukuran besar, membalut tubuh saya. “Mau model apa?,” tanyanya. Jawaban ‘Dirapikan saja, mbak,” meluncur pelan dari mulut saya.
Vanny juga menyapa Kiki yang sudah menjadi pelanggan tetapnya. Hal itu terlihat dari keakraban mereka. Bahkan, Vanny memanggil Kiki dengan panggilan ‘say’. Kiki yang ingin creambath dan mewarnai rambutnya, ditangani seorang karyawan Vanny. Karyawan tersebut bertubuh subur juga.

Komunikatif
Vanny mulai bekerja. Tangan kanannya yang memegang gunting, menghasilkan bunyi ‘crebs..crebs’ ketika bertemu. Potongan helai rambut pun jatuh di kain dan lantai ubin putih.
Suasana pangkas rambut menjadi tidak membosankan ketika pertanyaan-pertanyaan yang saya lontarkan dijawab oleh Vanny. Jurus menarik pelanggan dengan cara berkomunikasi selama memangkas, ternyata diterapkan pula oleh Vanny.
Ibu seorang putera yang sudah duduk di bangku kelas 6 Sekolah Dasar itu masih terlihat cantik. Ia mengaku sudah 10 tahun membuka salon tersebut. “Kalau dulu pelanggan sangat ramai,” ujarnya, sedikit mengeluh dengan jumlah pelanggan yang terus menurun.
Cara saya bicara menurut Vanny seperti bukan penduduk asli Pontianak. “Abang pendatang ya?,” tanyanya, dikarenakan logat saya yang sedikit berdialek jawa.
Saya tersenyum kecil dengan pertanyaan tersebut. “Saya asli dari sini, mbak,” jawab saya, seraya menyebutkan Toho sebagai kampung asal saya.
“Oh,.. yang arah Pahauman ya?,” tanyanya lagi.
Saya pun menjelaskan letak dari kampung saya tersebut. Dan Vanny pun mengangguk (entah mengangguk tahu atau hanya angguk-angguk sambil berkata ‘terserah’ dalam hati).
Ia memberitahu bahwa karyawan yang berkerja di tempatnya dulu, ada yang berasal dari Pahauman. Vanny pernah memperkerjakan 11 karyawan di salon tersebut. Tugas mereka antara lain untuk memangkas, cuci rambut, facial, mewarnai rambut, rebonding, dan lainnya. Tetapi sekarang, karyawannya tersisa 5 orang saja. Salah satunya adalah Vivi, yang hari itu membantunya.
Sekali pangkas pelanggan dikenai biaya 7000 rupiah. Bila creambath dikenakan biaya 30 ribu rupiah. Facial dengan biaya 35 ribu rupiah. Mewarnai rambut seharga 40 ribu, dan rebonding 120 ribu rupiah.
Seharinya Vanny bisa kedatangan pelanggan sebanyak 11 orang. “Menjelang hari raya pasti ramai,” ujarnya. tak jarang pelanggan harus mengantre. Menurutnya, orang-orang ingin tampil sempurna menyambut hari raya.

Pijatan dan Perawatan Nan Lama
Tangan Vanny berhenti menggunting. Ia mengambil sebuah pemangkas listrik dari rak, untuk merapikan rambut agar rata. Setelah menancapkan kabelnya ke colokan listrik yang ada di dinding. Ia pun kembali bekerja.
Merapikan rambut tak memakan waktu yang lama. Ia pun memoleskan bedak untuk mengakhiri pekerjaannya. Perawatan creambath ia tawarkan yang saya iya-kan.
Vanny menunjuk ke arah dalam untuk creambath. Pada sebuah tempat duduk dengan tempat untuk merebahkan kepala. Ruangan tersebut dibatasi sebuah partisi dari rotan. Handuk kecil putih kembali ia letakkan di bagian leher saya.
Setelah membasahi rambut dengan guyuran air dari sebuah selang. Vanny menumpahkan shampoo khusus pada rambut saya. Busa putih terbentuk ketika ia menggosokkan tangannya di kepala saya.
Pijatan di kepala juga dilakukan Vanny. Telapak tangannya memutar di kepala, di atas telinga. Kemudian berpindah di bagian leher, di batas riak rambut belakang. Pijatan tak berhenti di situ. Bagian kening saya turut dipijatnya. Mata saya terpejam menikmati pijatan tersebut. Saking menikmati, saya nyaris terlelap. Yang saya tahan dengan terus mengobrol.
Menurut Vanny, listrik juga mempengaruhi kelancaran usahanya. “Bila byarpet, susah untuk merapikan rambut,” ujarnya. Bahkan alat untuk pendingin kepala yang ia beli seharga 2 juta sudah rusak.
Saya hanya menanggapinya dengan ucapan ‘Ooh’ atau ‘Mmh’ bahkan sering melongo karena tidak mengerti alat-alat salon yang ia sebutkan. Setelah selesai proses cuci rambut tersebut, Vanny menyuruh saya untuk kembali ke ruang pangkas di bagian depan.
Saya kembali duduk dengan manis di depan kaca. Tak lama, Vanny melilitkan sesuatu menyerupai bando dari kain biru yang saling menempel bila kedua ujungnya dipertemukan.
Sebuah cream jingga berlabel ‘Hair Energy’ dari tempatnya, ditumpahkan ke rambut saya dengan dua kali colekan tangan Vanny. Ia pun kembali memijat kepala saya. Setelah selesai, ia mencuci dan mengelap tangannya. Lalu mengambil sebotol lotion beraroma melati yang diusapkan ke leher dan punggung saya.
Pijatan pun kembali ia lakukan. Leher dan punggung saya yang pegal, terasa kembali segar. Pekerjaan tersebut selesai. Vanny mengambil sebuah alat berbentuk helm besar dari arah dalam. Saya hanya diam karena baru kali ini saya menjalani perawatan seperti ini.
Mengerti saya bingung, Vanny memberitahu kalau alat tersebut adalah steamer yang berfungsi agar cream yang dioleskan tadi meresap di rambut. Olala.... begitu to-ujar saya dalam hati.
Kabel steamer dicolokkan ke listrik. Uap panas keluar dari steamer yang diletakkan di atas kepala saya. Selama di-steamer, Vanny beranjak ke arah dalam. Perkiraan saya bila steamer sebentar, meleset. Tak betah, saya menyalakan sebatang rokok lagi.
Sambil menghembuskan asap rokok ke udara, saya memandang diri saya ke kaca. Kali ini lengkap sudah. Uap air keluar dari steamer di kepala saya, dan asap rokok keluar dari mulut dan hidung saya. Sekitar 30 menit, bunyi ‘ting’ dari alat tersebut menghentikan kebosanan saya.
Vanny berkata untuk ke ruang belakang dan cuci rambut lagi. Tanpa dikomando lagi, saya menuju ke belakang dan memasrahkan diri untuk dicuci kepala saya. Selesai cuci, sebuah tonic untuk rambut dioleskan menggunakan kapas. “Mau di facial juga bang?,” tanyanya di sela mengoles. Saya bengong karena belum pernah menjalani proses facial. Berpikir sejenak dan akhirnya menganggukkan kepala. Busyet, ternyata ribet juga di salon.

Facial
Setelah pemberian tonic selesai, saya diarahkan menuju kasur hitam yang berada tak jauh dari tempat mencuci rambut. Setelah rebahan, mata saya di tutup dengan kapas yang diberi cairan agar terasa dingin di mata.
Lotion dioleskan ke bagian muka dan dilakukan pijatan muka. Saya kembali terbuai untuk tidur. Setelah itu olesan cream scrub dengan butiran kasar juga dioleskan. Kali ini hingga ke sela hidung dan mata.
Setelah itu, saya merasakan perih di bagian hidung dan muka akibat besi yang ditekan ke permukaan kulit hidung dan muka. Saya sempat meringgis pelan karena sedikit kesakitan.
Saya meminta proses tersebut dipercepat. “Tahan sebentar lagi,” ujar Vanny. Akibat saya terus meringis, ia mengakhiri proses tersebut dengan mengelap muka saya dengan cairan yang dingin.
Saya pun langsung membayar biaya ‘perawatan’ tersebut. Setelah itu saya beranjak pergi dari salon, sambil melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 12.35.