Kamis, 03 Juli 2008

Ruwet eh Ribet eh Kampret

Hampir dua bulan. Ya, selama itu aku meninggalkan 'papan tulis' ini tak ditambah tulisan. Padahal, banyak cerita yang seharusnya aku muntahkan dalam ruang kosong dunia maya ini. Cerita mengenai jejak langkah hari yang lewat. Tentang aroma pedesaan, jalanan berlubang, ceceran BBM di kios pinggir jalan, seduhan kopi simpang lima Sintang, terbunuh sepi di kos samping Akper Sintang, No MTV channel, No Metro TV, No mal, No twenty one, No cheap label, because everything be expensive here. Suck......
Harga sepiring nasi dengan ikan goreng dan sayur sebesar Rp 15 ribu (tambah es teh, harga menjadi Rp 17 ribu). Harga itu untuk sekali makan saja. Bayangkan bila harus mengikuti anjuran kesehatan 3x sehari. Yang ada, ane tepar musti ngutang lagi.
Belum lagi kalo beli bensin eceran di pinggir jalan. Bujubuneng, bak langit dan bumi perbedaan harganya bila membeli di SPBU. Buang jauh pikiran anda mengenai lebih cepat membeli bensin di SPBU Sintang. Aku saja harus mengantri dengan puluhan kendaraan beroda dua pada Kamis (3/7) pagi, pukul 08.30 WIB hingga 09.45. Bayangkan, satu jam lima belas menit waktu yang harus terbuang sia-sia untuk mendapatkan bensin full tangki seharga Rp 21 ribu. Nasib..
Lebih parah lagi, loading internet yang veryveryvery low. Faktor utama tetap pada bad signal, yang bila dibandingkan dengan bagian kiri layar Nokia 3310 milikku, tidak jauh beda. Seumprit, bersaing pada kisaran satu atau dua. Padahal, kecepatan yang tertera pada gambar komputer di bagian bawah layar acer setelah dikenai kursor sebesar 53,6 Kbps. Kecepatan yang 'sedikit' lebih tinggi bila sedang ngenet di art cafe internet jalan Kom Yos Sudarso, Jeruju, Pontianak.
Penderitaan semakin lengkap ketika PLN Sintang sejak Senin (30/6) lalu menjalankan ritual pemadaman listrik pada pukul 12.00 hingga 17.00. Alasan pihak PLN akibat suplai BBM yang kurang (butuh sekitar 112 kiloliter perhari), dibantah pihak Pertamina depot Sintang, yang menyatakan selalu menyuplai bahan bakar PLN sebanyak 78-112 kiloliter perhari, dengan catatan bila stok memungkinkan.
Kehidupan di Sintang memang membutuhkan cost yang tidak murah. Plus lemot pula dalam hal informasi. Koran yang seharusnya dibaca pagi sebagai teman mengopi, baru tiba siang hari (jam istirahat siang kantor pula). Mungkin anda akan bertanya, siapa yang baca??? Wong orang-orang udah capek duluan. Jawabannya, cari tahu sendiri. Ane mau cari informasi mengenai cara diet yang tepat tanpa menimbulkan penyakit, untuk menghindari nota bon di warung makan samping kos.
Uuuuuuuuuuuuuurrrrrrrrrrgggggggggggghhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!!!!!!!!!!

0 komentar: