Minggu, 16 September 2007

Presenting Pontianak Berlanjut ke Hotel Santika

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Sebagai rangkaian pameran yang dilaksanakan di empat tempat, road show pameran foto Lukas B. Wijanarko bertajuk Presenting Pontianak, mulai Senin (10/9) berlanjut ke hotel Santika hingga 12 September nanti.
Pameran yang diawali di hotel Gajahmada mulai 1 hingga 8 September, berhasil menarik banyak minat masyarakat untuk melihat foto yang dipamerkan.
Presenting Pontianak yang bertutur mengenai seluk beluk tentang Kota Pontianak, masyarakat dan pergulatan manusia di dalamnya. Foto itu menunjukkan realita yang sempat direkam Lukas. Foto juga bercerita tentang dinamika kehidupan, budaya, sosial, dan bangunan tua yang ada di Kota Pontianak. Pameran itu menjadi suatu gambaran yang mengajak penikmatnya, untuk mengenal lebih dekat dengan kotanya.
Menurut Lukas, katalog mengenai foto yang dipamerkan, yang diletakkan di ruang masuk pameran hingga 8 September. Pameran itu sudah menghabiskan 300 katalog. “Artinya apresiasi masyarakat akan pameran ini sangat tinggi,” ujar Lukas.
Serupa dengan apa yang dikatakan Lukas, pihak karyawan hotel Gajahmada juga mengatakan, banyak pengunjung menanyakan kepada mereka, apakah foto-foto yang dipamerkan dijual.
Menurut Halim, pengunjung, foto-foto yang dipamerkan bagus. “Saya tadi malam keliling melihatnya,” ujar Halim. Kesempatan itu memang dikhususkan Halim untuk melihat pameran foto tersebut.
Bagi Anda yang belum sempat menyaksikan pameran foto Presenting Pontianak, kesempatan Anda masih ada. Silahkan datang ke hotel Santika. Naik ke lantai tiga, dan menuju garden room yang dijadikan tempat pameran.□

60 Ribu Pengunjung di Kalbar Expo

Arthurio O dan Hairul M

Borneo Tribune, Pontianak
Kalimantan Barat Expo ke-3 dan Pekan Raya Pontianak (PRP) 2007 yang digelar di Pontianak Convention Center (PCC), 5-9 September resmi ditutup Walikota Pontianak, dr H Buchary Abdurachman, Minggu (9/9) pukul 20.53 malam kemarin.
Pameran terbesar dan termegah di Kalbar ini dikunjungi 60 ribu orang dengan nilai transaksi sebesar Rp 1, 2 miliar. Sejumlah peserta malah sudah kehabisan bahan dagangan mereka dan para pengunjung juga tampak masih membeli di stan-stan yang belum berkemas.
Pengunjung setiap hari membludak. Bahkan Sabtu dan Minggu malam kepadatan terlihat di gedung termegah di Kota Pontianak ini. Kebahagiaan juga tampak di wajah panitia atas kesuksesan pelaksanaan.
Direktur PT Patria Convex, Yudhi Irsyadi didampingi Direktur Aura Communication, Hasina dan Project Manager, Taufik terlihat tak henti-hentinya tersenyum ketika ditemui usai penutupan. “Kalbar Expo dan PRP ini sampai hari terakhir dikunjungi 60 ribu pengunjung dengan jumlah transaksi senilai Rp 1,2 miliar,” ujar Yudhi.
Yudhi dengan tulus menyampaikan ucapan terimakasih kepada masyarakat Kota Pontianak dan Kalbar pada umumnya yang telah hadir menyaksikan Kalbar Expo dan PRP 2007 ini. “Kita harapkan ini dapat semakin menumbuhkan sektor perdagangan dan jasa sehingga pertumbuhan ekonomi Kalbar terus meningkat,” ucapnya.
Kalbar expo dan PRP ini menurut Yudhi merupakan ajang bagi para pegiat ekonomi di Kalbar. Khususnya para perajin yang termasuk dalam usaha kecil menengah dan kesempatan mereka untuk bermitra dengan distributor dari luar daerah terbuka lebar.
“Event ini selama lima hari berturut-turut dihibur 11 band potensil dalam ‘Aura Sound Park’. Ini kita harapkan memacu kreativitas dan produktivitas musisi Pontianak sehingga memiliki band bertarap nasional seperti Arwana. Aura Sound Park ini akan terus kita laksanakan konsisten di Pontianak dan kita juga akan hadirkan pencari bakat dengan tujuan bisa masuk dapur rekaman,” harapnya.
Penutupan expo dan PRP ini juga menetapkan tiga stan pameran terbaik dari 82 stan peserta pameran. Stan terbaik pertama diraih oleh stan Bank Kalbar. Terbaik kedua di raih stan biro perekonomian Kabupaten Kapuas Hulu. Sedangkan stan terbaik ketiga diperoleh PT. Mikatasa Agung.
Sementera itu Hendri dari PT Mikatasa Agung perusahaan penyuplay cat, lem, thinner, lem putih, plamur, cat genteng dan seng serta cat anti rayap menyatakan puas atas kunjungan pada pameran ini. “Antusias masyarakat sangat tinggi dan ini pameran pertama yang kami ikuti. Bahkan Direktur dari Surabaya Roy dan Manager Marketting Julianto serta Supervisor dari Jakarta, Herman hadir di Pontianak menyaksikan pameran ini,” akunya.
Pukul 20.53. Setelah dihibur oleh aksi panggung Kelompok Pemusik Jalanan Sejahtera, yang membawakan tembang Bento penutupan expo dan PRP dilakukan oleh Buchary A. Rahman, Walikota Pontianak. Pemukulan gong menandakan berakhirnya pameran.
Buchary mengatakan bahwa pada tahun depan, pelaksanaan acara ini dikaitkan dengan ulang tahun Kota Pontianak yang jatuh setiap 23 Oktober. “Kegiatan akan berlangsung selama dua minggu,” ujar Buchary.
Kegiatan tersebut, lanjut Buchary, dimaksudkan juga untuk menggali potensi musik dan budaya tradisional dari lokal. “Harus dikemas sedemikian rupa agar menjadi tontonan yang menarik,” ungkap Buchary. Tidak hanya itu, kegiatan ini juga dapat menjadi acara yang membanggakan masyarakat Pontianak.
Buchary juga berharap agar Kalbar Expo dan PRP ini setidaknya dapat seperti Pekan Raya Jakarta. “Walaupun dalam lingkup yang kecil,” ujar Buchary. Setidak-tidaknya dengan acara ini dapat memacu kreativitas para kaum muda Pontianak. Sekaligus juga meningkatkan perekonomian yang ada di Kalbar, dengan mengenalkan produk yang khas dan dapat bersaing dengan produk dari daerah lain. □

Minggu, 09 September 2007

Mutiara Asli Lombok

Arthurio OA dan Andry

Borneo Tribune, Pontianak
Tak rugi bila anda mengunjungi Kalimantan Barat Expo ke-3 dan Pekan Raya Pontianak di Pontianak Convention Centre (PCC). Bagi anda yang menyenangi perhiasan, apalagi yang diolah secara alami dari kerang laut bisa ditemui di stand Lombok.
Jejeran butiran mutiara nan indah, pastinya akan menarik perhatian anda. Bentuknya yang bulat nan indah, menambah indah leher jenjang pemakainya.
Asal hati-hati dalam memilih mutiara. Jangan sampai anda tertipu membelinya. Bila ingin mengetahui cara membedakan mutiara yang asli dan yang palsu, anda dapat menanyakan langsung kepada Achmad, distributor yang juga penjaga stand. Dengan ramah beliau akan memberitahu sedikit bocoran kepada anda.
Ketika diwawancarai, Sabtu (8/9), Achmad memberitahu bahwa bahan mentah untuk Mutiara ini berasal dari Lombok Barat. “Kebanyakan dari Bima dan Lombok,” ujar Achmad memberitahu. Menurut Achmad, kualitas Mutiara yang berasal dari kedua daerah tersebut sangat bagus.
Menurut Achmad, mutiara diproduksi selama 1 hingga 5 tahun. Tergantung dari kualitas yang diinginkan oleh para pembeli. Kedalaman air laut untuk menghasilkan mutiara yang baik, sekitar 10 hingga 15 meter.
Bagus tidaknya kualitas Mutiara juga dipengaruhi oleh air laut, ungkap Achmad. Kualitas pula yang membedakan harga Mutiara yang satu dengan lainnya. Sebuah kalung yang di gabungkan dengan untaian perak, harganya berkisar 125 hingga 150 ribu. Sedangkan harga paling mahal untuk perhiasan mutiara yang dijualnya, berkisar 250 ribu rupiah.
Achmad memberitahu bila pembeli juga dapat memesan desain kalung, gelang, anting dan cincin, berdasarkan keinginan pribadi.
Pengerajin perhiasan Mutiara di Lombok sangat banyak, ujar Achmad. Keikutsertaan Achmad menjadi distributor mutiara dimulainya sejak 1997 lalu. Distribusi mutiara dilakukan dengan cara mengikuti pameran. Hampir seluruh Indonesia yang sudah dikunjungi Achmad untuk mengikuti pameran, memasarkan perhiasan Mutiara. “Yang belum hanya Ambon dan Aceh,” aku Achmad.
Pada pameran ini, Achmad membawa berbagai jenis perhiasan dari mutiara. “Ada cincin, kalung, bros, gelang, dan anting,” ujar Achmad.

Kain Tenun Kapuas Hulu

Arthurio OA dan Andry

Borneo Tribune, Pontianak
Kalimantan Barat juga memiliki kain tenun khas dengan motifnya nan indah. Proses pembuatannya dapat dilihat di stand Kabupaten Kapuas Hulu, yang menjadi salah satu peserta pada Kalimantan Barat Expo ke III dan Pekan Raya Pontianak 2007.
Ketika ditemui di Pontianak Convention Centre (PCC). Lidya, penenun kain, mengatakan bahwa proses pembuatan ini sudah dipelajarinya sejak berumur 17 tahun. “Awalnya karena dipaksa orangtua,” ungkap Lidya.
Mengenai harga kain tenun, menurut Lidya bervariasi. Tergantung ukuran dan jenis tenunan. “Proses pembuatan yang agak lama adalah tenun ikat,” ujar Lidya memberitahu. Tak heran, harga sehelai kain tenun ikat mencapai jutaan Rupiah.
Kain tenun yang paling murah, ujar Lidya, adalah syal. “Harganya hanya 25 ribu rupiah,” ujar Lidya. Salah satu hal yang menjadikan kain tenun ini mahal adalah bahan pewarna yang digunakan. Menurut Lidya, kain tenun ikat menggunakan bahan pewarna yang asli dari alam.
Selain kain tenun, stand Kabupaten Kapuas Hulu juga menjual beberapa produk khasnya. Antara lain kerupuk basah, madu alami, ikan asin toman, salai ikan lais, dan kerajinan manik-manik.
Harga madu asli dalam sebuah botol kemasan senilai 20 ribu rupiah. Kerupuk basah senilai 10 ribu rupiah per bungkus. Sedangkan manik-manik yang berukuran panjang mencapai harga 200 ribu rupiah.
Tak hanya itu saja, Kabuapten Kapuas Hulu juga menawarkan kunjungan menikmati keindahan panorama alamnya. Dengan menawarkan 8 paket wisata. Harga untuk paket wisata ini sekitar 1,5 juta hingga 16,5 juta Rupiah.
Dari 8 paket wisata yang ditawarkan, wisatawan bebas memilih dan akan diajak untuk menjelajahi alam Kapuas Hulu yang indah lagi alami.

Beli Baju Gratis Sablon Nama

Arthurio Oktavanus

Borneo Tribune, Pontianak
Jeli melihat peluang usaha merupakan kunci keberhasilan bagi semua orang. Tak terkecuali bagi Sadiq, pengerajin Gorontalo yang memulai usahanya ini sejak 4 tahun lalu. Stan yang dijaganya, selalu dipenuhi pengunjung Kalimantan Barat Expo ke-3 dan Pekan Raya Pontianak sejak pembukaan, 5 September lalu.
Awalnya Sadiq berjualan jilbab. Merasa peluang sablon nama pada baju menguntungkan dan disukai konsumen, dirinya banting setir. “Pertama kali hanya coba ikut untuk event nasional.” Karena tanggapan pengunjung dengan ide yang mereka lakukan, sangat antusias. Sadiq terus membuka stan yang sama di setiap pameran yang diikutinya.
Dengan keunikan produk yang ditawarkan, otomatis juga meningkatkan keuntungan dengan ramainya pengunjung yang berbelanja di stan mereka. Di pameran ini saja dalam sehari bisa menghabiskan 20 lusin baju. “Beberapa ukuran pakaian yang dicari pengunjung sudah kehabisan stok,” ujar Sadiq yang mengalami kehabisan stok dagangannya, di hari ketiga ini.
Antisipasi dilakukan dengan cepat untuk kepuasan pelanggan. Sadiq mengatakan stok yang dibutuhkan akan datang saat sore hari. “Sudah dipesan untuk dikirim,” ujar Sadiq.
Bahan baju, ujar Sadiq, diperoleh dari agen baju langsung. “Kami pesan dari Jakarta dan Bandung,” aku Sadiq. Sasaran yang dituju untuk usaha ini adalah anak-anak. Dengan alasan, anak-anak suka dengan produk ini. Di pameran ini, Sadiq dibantu temannya, Nedi.
Menurut Nedi, pengunjung dapat pula membawa baju sendiri ke stan mereka. Untuk sablon, biaya yang dikeluarkan tergantung pada ukuran dan jumlah tulisan yang diminta. “Berkisar 5 hingga 10 ribu,” ungkap Nedi. Harga ini juga dapat dilakukan dengan nego.
Daftar harga untuk baju di stan pun berdasarkan ukuran. Untuk ukuran O/SS seharga 20 ribu. S/M seharga 25 ribu. L seharga 30 ribu. Dan XL seharga 35 ribu. □

Menyatukan Dua Provinsi dalam Usaha

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Kalimantan Barat Expo ke-3 dan Pekan Raya Pontianak, bukan hanya menghubungkan para pengerajin dengan para pengusaha. Pameran ini juga menjalin kekerabatan antarpulau yang terpisahkan jarak ribuan kilometer sekalipun.
Tak percaya? Kunjungi Stan Agnin Batik Pekalongan dan Kartini Bali Pekalongan yang terkenal dengan kerajinan batiknya, dan Bali yang menarik mata wisatawan dengan keindahan pariwisata. Melebur jadi satu dalam dunia usaha.
Sesuatu yang mustahil pasti bisa terwujud dengan kemauan yang kuat. Kartini, distributor dari Bali, mengaku dirinya baru saja bergabung dalam usaha ini. “Kalau perkumpulannya sudah lama berdiri,” aku Kartini. Keikutsertaan Kartini dalam pameran ini, salah satu dari sekian banyak pameran yang diikutinya.
Kota yang pernah dijelajahi Kartini antara lain Sulawesi dan Palembang. Produk yang dibawa Kartini dalam setiap pameran sangat beragam. Diantaranya baju Bali, bad cover dari pasar Sukowati yang sudah dikenal seantero Indonesia, tas tangan berbahan limbah pohon kelapa yang disentuh dengan seni kreatif.
Produk inilah yang menjadi keunggulan, sehingga Kartini berani untuk mengenalkan dan memasarkannya hingga keluar daerah.
Tak sendiri, Kartini ditemani oleh Ella, distibutor sekaligus juga pengerajin, yang berasal dari Pekalongan. Pengerajin yang berasal dari kota batik ini, sudah mendistribusikan produknya kebeberapa daerah. “Jawa, Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi,” ujar Ella. Batik yang dibawa Ella, berupa selendang, baju, kain, dan kebaya.
Jejeran kain batik dan selendang dengan motif yang indah, akan menambah elegan para penggunanya. Pengunjung dapat memilih sendiri motif dan warna yang digemari. Yang terpajang di stan ini.
Produk-produk yang ditawarkan, sangat terjangkau oleh semua kalangan. Masih dalam kisaran puluhan ribu. Produk unik dan menarik dengan harga terjangkau, pastinya akan menjadi daya tarik bagi para pengunjung. □

Menanam Pohon Kehidupan

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Aplikasi mencintai lingkungan dapat dilakukan dengan menanam satu batang pohon kehidupan. Pernyataan tersebut diutarakan oleh Moehammad Zoel Fachry, Kepala Pusdiklat Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Republik Indonesia, di hotel Mahkota pada Rabu (5/9).
Permasalahan yang ada, ujar Fachry, hanya berupa keinginan untuk memulai menanam pohon tersebut. Dirinya mengatakan bahwa banyak lahan kosong yang tidak dimanfaatkan. “Sehingga lingkungan menjadi gersang,” ujar Fachry.
Perlunya tanaman sebagai perindang, tentu membutuhkan waktu yang lama untuk mewujudkannya. Karenanya, dibutuhkan kepedulian untuk menanam pohon mulai dari sekarang. “Coba setiap orang menanam satu buah pohon setiap minggu,” ungkap Fachry memberitahu. Pasti banyak tanaman yang ditemukan di sekitar kita.
Akan tetapi, ujar Fachry, tidak berhenti hanya menanam saja. Perlu kepedulian untuk merawat tanaman tersebut, terang Fachry. Pesan ini tidak hanya bagi masyarakat umum saja. Tetapi, juga bagi para petinggi yang notabene sebagai pemimpin.
Fachry memberitahu bahwa selama ini para petinggi sering melakukan perjalanan ke luar negeri, yang sangat memperhatikan lingkungan. “Akan tetapi, mereka tidak mau mengaplikasikan ke dalam sehari-hari,” ujar Fachry. Sehingga dibutuhkan seorang ‘aktor’ yang bisa dijadikan panutan. Bila di China, ada profesor yang naik sepeda menuju kantornya. Bahkan, ini menjadi program pemerintah.
Mengacu pada partai hijau yang menjadi panutan di Finlandia, dimana isu lingkungan dilakukan oleh sedikit orang, yang memberikan dampak kepada lainnya. “partai hijau saat ini bahkan menjadi partai yang semakin banyak pengikutnya,” ujar Fachry. Bahkan kursi bagi para anggotanya di parlemen pun meningkat.
Pemahaman tentang lingkungan juga perlu diperkenalkan sejak dini. Karenanya, KLH merasa perlu agar lingkungan bisa masuk kesekolah-sekolah. “Kita coba dengan TOT (Training Of Trainer),” ujar Fachry. Dengan mengenalkan lingkungan kepada murid sekolah dan guru.
Menurut Eep Saefulloh Fatah, Ketua Sekolah Demokrasi Indonesia, di Jambi ada yang memperjuangkan agar lingkungan hidup dapat menjadi Muatan Lokal (Mulok) di sekolah-sekolah. Hal ini dimaksudkan agar adanya kesadaran mengenai lingkungan sejak dini. Sekaligus juga dengan birokrasinya. Karenanya, ujar Eep, birokrasi di Kalimantan baru dimulai bila ada perintis. □

Karyanya Sampai ke Presiden SBY

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Uke Tugimin (43) atau biasa disapa Bang Uke, sudah puluhan tahun menjalani profesinya sebagai desainer. Profesi ini dilaluinya dengan proses yang panjang.
“Desain adalah konsep yang tercurahkan dalam sebuah manuskrip, untuk kemudian diolah. Saya tidak percaya dengan sesuatu yang instan,” ujar Uke ketika ditemui di sebuah gerai fast food yang meramaikan Kalbar Expo ke-3 dan Pekan Raya Pontianak, Kamis (6/9) sore.
Sehari-harinya Uke bekerja sebagai pengurus dewan kerajinan nasional daerah, biro pengembangan desain. Juga menjalankan beberapa usaha lainnya seperti Event Organizer (EO), Wedding Planner (pengatur acara pernikahan), membuat motif baju dan lainnya.
Seperti kata pepatah, bisa karena biasa. Begitu pula yang terjadi pada Uke. Dari keluarga yang terdiri atas 12 adik beradik, di mana 7 di antaranya adalah perempuan. Ibunya selalu menjahitkan baju, bila saudaranya yang perempuan menginginkan baju baru. “Apalagi ketika bulan puasa,” ujar Uke.
Mulai sekolah dasar hingga sekolah menengah, jahit menjahit merupakan suatu hal yang sering dilakukannya di rumah. “Bersama saudara juga berdiskusi mengenai fashion yang sedang terkenal.” Bahan diskusi diperoleh dari majalah remaja yang sedang terkenal ketika itu.
Menamatkan pendidikan tingkat atas, Uke memilih kursus fashion di Bunka School Jakarta selama setahun. Alasan dirinya mengambil keputusan tersebut karena Uke suka menggambar dan menjahit, ingin wiraswasta dan tidak suka kuliah. “Ingin cepat dapat duit, tanpa menghabiskan waktu di bangku kuliah.” Langkah kariernya pun dimulai setelah menyelesaikan kursus. Uke magang kepada seorang perancang terkenal Indonesia, Ari Darsono.
Pada 1984, Uke menjadi finalis lomba cipta busana Indonesia yang diselenggarakan oleh majalah Kartini dan produk kecantikan Sari Ayu. Tema yang diangkatnya dalam lomba ini adalah ‘mengibas Sambas’. “Saya ingin mengangkat etnik Kalbar agar dikenal pada waktu itu,” ungkap Uke. Ia juga mengakui desain yang dibuatnya juga mendapatkan pengaruh dari Ari Darsono.
Lomba fashion di majalah Gadis dan Femina pun pernah dijajali Uke pada 1985. Pesan Ari Darsono yang selalu diingat oleh Uke adalah ‘sebagai orang Kalbar, kamu harus mengangkat potensi yang ada di daerah,’ karenanya, dengan idealismenya Uke kembali ke Kalbar setelah menyelesaikan kursusnya.
Bukan tanpa halangan bila berkarya di daerah sendiri, anggapan dari masyarakat yang memandang seorang laki-laki terjun ke dunia desain adalah banci, menjadi awal yang berat untuk Uke berkarya. “Tetapi saya harus kuat menghadapi anggapan masyarakat dan lingkungan yang memang kenyataannya banyak seperti itu.” Prinsip yang kuat, akhirnya mematahkan gunjingan masyarakat kepada dirinya.
Segala sesuatu tergantung diri sendiri, ujar Uke yang kini menjadi ayah dari 4 orang anak ini.
Pada 1986, Uke membuat pagelaran busana di Kalbar. “Pagelaran pemula yang pelaksanaannya di Arena Remaja,” ujar Uke, yang mengangkat tenun insang. Acara ini dibantu almarhum Tasmin Tahir, mantan Kepala Dinas Pariwisata.
Desain motif yang sudah ditekuninya selama 20 tahun merupakan kecintaannya terhadap pekerjaan. Hal ini dipengaruhi dengan idealismenya yang kuat. Dunia fashion saat ini pun marak diangkat oleh perusahaan mode. Bukannya bangga dengan hal itu, Uke menyatakan bahwa dirinya sekarang malah berbalik.
Uke mengemukakan bahwa dirinya harus kembali ke akar. “Harus mengetahui etika dan filosofi dari motif tersebut,” ujar Uke.
Bahkan dirinya sangat takut untuk membuat motif. Ia mengatakan potongan-potongan kecil tenun saja tidak berani dibuat. Hal ini menjadi tanggung jawab pribadi bagi dirinya. “Budaya harus dijaga,” ujar Uke.
Beberapa temannya ada yang sedang mengumpulkan data mengenai motif, dan akan dijadikan buku. Dirinya pun sibuk menjadi desain interior dan membuat baju dengan motif khusus pada event penting.
Sebagai seorang desain interior, Uke membawa nama Kalbar harum di tingkat nasional saat mengikuti Inacraft 2007. “Stan Kalbar juara pertama dengan tema yang diusung minimalis,” ungkap Uke.
Buah karyanya juga pernah dipakai oleh pejabat penting, antara lain Presiden RI dan para Gubernur seluruh Indonesia saat APEKSI lalu.
Dunia mode di Kalbar, dipengaruhi oleh banyaknya pertumbuhan tempat belanja dengan bangunan megah dan harga yang dapat dijangkau. Budaya konsumtif masyarakat juga faktor utama, di mana setiap manusia selalu ingin tampak sempurna dalam penampilan.
Menurut Uke, info mode saat ini cepat ditangkap oleh masyarakat Kalbar. akan tetapi tidak bisa instan. “Buat sebuah baju tenun, gampang. Tetapi bagaimana agar baju tenun tersebut bisa mempunyai aura bagi yang memakai dan melihat. Itu yang susah,” ungkap Uke. □

Motif Sanggau di Kain Sutera

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Motif Sanggau kini menghiasi bahan pakaian. Lebih membanggakan lagi, bahan tersebut berupa sutera yang terkenal dengan halus dan lembut sehingga nyaman dipakai nan mahal harganya.
Motif tersebut juga menambah indah kain. Lihat saja kerudung dan selendang yang tergantung pada sebuah manekin di stan Pemerintah Kabupaten Sanggau. Gaya dan juga modis.
Suatu hal yang mustahil bagi sebagian masyarakat, ada produksi kain sutera di Kalbar. Akan tetapi, Pemkab Sanggau menjawab hal tersebut dengan menampilkan kain sutera dengan motif Sanggau, di pameran kali ini.
Menurut pengrajin yang menjaga stan Kurnia bahan dasar sutera untuk kerajinan ini berasal dari Jakarta. “Tetapi kita tenun di Pontianak,” ujar Kurnia.
Dirinya juga mengatakan bahwa selama ini motif Sanggau hanya dijumpai pada kain biasa saja.
Hal ini dikarenakan, konsumen kain dan selendang berbahan sutera hanya untuk pangsa pasar masyarakat kelas menengah ke atas. Kurnia juga mengatakan bahwa motif yang dituangkan pada kain sutera tersebut tidak hanya satu jenis saja. Untuk harga, termahal hingga 2 juta rupiah. Yang termurah, ujar Kurnia, berharga 350 ribu.
Kurnia mengemukakan bahwa dengan memasukkan unsur kebudayaan melalui motif Sanggau, berarti mensinergikan jiwa seni dengan kebudayaan yang dimiliki. “Agar masyarakat lebih mengenal budayanya,” ujarnya.
Sampai saat ini, motif Sanggau pada kain sutera sudah didistribusikan ke Jakarta. “Juga melalui pameran yang diikuti,” ujar gadis manis ini.
Daerah yang pernah dikunjungi untuk melakukan pameran, ujar Kurnia, di Palembang. Itupun, bila mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pameran dari dinas.
Pada Kalbar Expo ke-3 dan Pekan Raya Pontianak ini, Pemerintah Kabupaten Sanggau mengisi stannya dengan beberapa kerajinan dan peganan khas Sanggau. Antara lain Lempok Durian dari Batang Tarang, kerupuk pangsit dari Sanggau, roti kacang, dan rempeyek, untuk penganan dan keranjang yang terbuat dari keladi air serta kayu, berasal dari daerah perbatasan Entikong.

Pelamar Job Fair 1.628 Orang

Arthurio OA dan Maulisa

Borneo Tribune, Pontianak
Jumlah pelamar yang mendaftarkan diri di Pameran Bursa Kerja (Job Fair) 2007, sebanyak 1.628 orang. Demikian dinyatakan Ir. Lukman Hidjazi Ketua Panitia yang ditemui saat menutup kegiatan bursa kerja di Kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Kalimantan Barat, Kamis (6/9).
Bursa kerja ini meliputi 7 perusahaan PPTKIS, 3 perusahaan asuransi, 7 perusahaan lembaga atau yayasan, dan 15 perusahaan terbuka. Menurut Lukman, apa yang diminta pengguna tenaga kerja. Belum sesuai dengan yang dicari. “Peminat yang mencari tenaga kerja banyak,” ujar Lukman. Kebutuhan tenaga kerja banyak, tetapi orang yang memenuhi syarat sedikit.
Kebutuhan perusahaan akan tenaga kerja banyak, ujar Lukman, akan tetapi masih belum mampu terserap sepenuhnya. Menurut Lukman, hal tersebut disebabakan keinginan penyedia lapangan kerja tidak seimbang dengan jumlah dan kualitas yang dimiliki pencari kerja.
Lowongan kerja sendiri diharapkan akan terus dibuka di perusahaan masing-masing, meskipun bursa kerja sudah selesai dilaksanakan. “Saya yakin, jumlah pelamar yang akan mendaftar masih banyak.” Sehingga, lanjut Lukman, angka pengangguran di Kalbar bisa ditekan 5 persen dari 9 persen yang ada.
Jumlah pengangguran di Kalbar, sebanyak 154.885 orang. Untuk mengantisipasi masalah ini dengan menekan laju angka pengangguran. “Minimal 5 persen dari jumlah yang ada.” Ke depannya, bursa kerja akan lebih sering dilakukan.
Bukan hanya dilakukan di Kota Pontianak saja, Lukman juga mengharapkan bursa kerja dapat dilangsungkan di seluruh Kalbar. Bursa kerja ini sendiri merupakan pelaksanaan yang kedua kalinya.
Dari 32 peserta pameran, sebanyak 31 perusahaan telah menyediakan lowongan kerja 4.679 lowongan. Menurut Drs. Jakuri Suni, M.Si, Kepala Tata Usaha Disnakertrans, bursa kerja sudah dikunjungi 5.427 orang. Jakuri juga menyatakan daftar kartu AK I bagi pencari kerja di Kota Pontianak dengan tingkat pendidikan SLTA sebanyak 48 lembar, D I/III 8 lembar, S-1 18 lembar, sehingga total keseluruhan 72 lembar. “Kabupaten Pontianak total AK I 43 lembar,” ujar Jakuri. Antara lain, lanjutnya, 16 lembar untuk S-1, 3 lembar untuk DI/III, dan 24 lembar untuk SLTA. □

Cilegon Fasilitasi UKM

Arthurio OA dan Hanoto

Borneo Tribune, Pontianak
Kota Cilegon merupakan kota industri. Dalam 3rd Kalbar Expo dan Pekan Raya Pontianak tahun ini, Cilegon menampilkan stand dengan konsep fasilitasi UKM dan mencari mitra kerja.
Hal tersebut diutarakan oleh Luhut Malau, salah seorang investor di Kota Cilegon yang ditemui di Pontianak Convention Center (PCC), Rabu (5/9).
Kota Cilegon memiliki luas wilayah 175,50 kilometer persegi dan memiliki delapan kecamatan yaitu Ciwandan, Citangkil, Pulomerak, Grogol, Purwakarta, Cilegon, Jombang, dan Cibeber. Jumlah penduduk di Cilegon sebanyak 309.097 jiwa dan berjarak 17 kilometer dari ibukota Provinsi, Serang.
Jarak dari Cilegon ke Pusat Jakarta adalah 120 kilometer dan hanya membutuhkan waktu 2 jam menuju bandar udara Internasional Soekarno-Hatta. Kawasan industri yang ada di Cilegon antara lain Cipta Niaga Internasional dan non kawasan. Nilai investasi kota Cilegon pada 2006 mencapai 72,39 triliun Rupiah.
Investor yang menanamkan modalnya di Cilegon berasal dari negara Amerika, Perancis, Jepang, Australia, Jerman, Inggris, Argentina, Austria, dan Korea. Karenanya, melalui pameran ini, Cilegon berharap dapat menarik banyak investor domestik yang mau menanam modalnya di Cilegon.
Menurut Malau, produk unggulan dari Cilegon adalah kasur dan emping. “Akan tetapi tidak kami bawa,” ujar Malau. Dirinya mengatakan bahwa hanya membawa beberapa produk saja dan hanya untuk contoh.
Produk yang dipamerkan di stand Cilegon sendiri antara lain pigura foto, kompor berbahan bakar spiritus, alas tissue. “Untuk mengenalkan industri, dibawa brosur,” ujar Malau.
Dalam pameran ini sendiri, lanjut Malau, kota Cilegon mengharapkan adanya mitra dari daerah lain yang tertarik untuk menjalin kerjasama.
Sementara itu Gubernur Kalbar, H Usman Ja’far mengatakan Kalbar sudah dipercayai oleh Provinsi lain untuk menjadi tempat penyelenggaraan pameran. “Sehingga dapat menciptakan dan mengembangkan daerah yang satu dengan daerah lainnya,” ujar Usman.
Bila dikembangkan lagi, lanjut UJ, kerjasama dapat menjadi keunggulan yang mempunyai trade mark dalam bisnis di Indonesia.
Hal ini juga menunjukkan kualitas produk di tiap Provinsi dan Kabupaten harus di dorong terus meningkatkan kualitas produknya. “Agar dapat menjadi tuan rumah di negerinya sendiri,” ungkap UJ.
Sedangkan Kepala Bakomapin Provinsi Kalimantan Barat, M Zeet Hamdy Assovie. MTM mengatakan semua pihak harus bersama-sama bahu membahu mewujudkan Kalbar bersatu, Kalbar Incorporated dan Kalbar Networking. “Dengan tetap bekerja bersama untuk rakyat, menuju Kalbar terbuka,” ujar Assovie.
Pameran ini selain untuk menawarkan produk, diharapkan juga sebagai akses memperluas pangsa pasar dan menjalin kemitraan usaha dengan prinsip saling menguntungkan. Selain itu, sebagai wadah tukar menukar informasi dalam rangka peningkatan kualitas produk serta jaminan pasca jual yang dapat memberikan kepuasan kepada konsumen.

Mencari Demokrasi yang Ramah Lingkungan

Mencari Demokrasi yang Ramah Lingkungan
Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Permasalahan mengenai lingkungan hidup (LH) dewasa ini merupakan permasalahan pelik. Akan tetapi, LH tidak pernah diposisikan sentral dalam pengelolaan pembangunan dan pemerintahan secara keseluruhan.
Pemahaman mengenai lingkungan sangat penting. Bukan hanya untuk masyarakat yang menjalankan kebijakan pemerintah. Tetapi juga oleh para pengambil kebijakan sendiri. Karenanya, dilakukan diklat peningkatan kapasitas kelembagaan pengelolaan LH bagi kalangan legislatif dan eksekutif di daerah Pontianak.
Diklat ini dilaksanakan pada 4 hingga 6 September, di Takalar Convention Hall, Hotel Mahkota Pontianak. Diklat ini diselenggarakan oleh Pusdiklat Kementerian Lingkungan Hidup, bekerjasama dengan Sekolah Demokrasi Indonesia (SDI), dan Danida-Denmark, dan Bapedalda Provinsi Kalimantan Barat.
Menurut Eep Saefulloh Fatah, Ketua Sekolah Demokrasi Indonesia, di era reformasi ini semuanya dibicarakan. “Tapi, LH hanya berupa wacana saja,” ujar Eep. Dirinya juga mengatakan bahwa banyak kepala daerah yang tidak peduli terhadap LH.
Demokrasi yang berjalan selama ini, lanjut Eep, berjalan dengan kegagalan pengelolaan lingkungan. Eep juga mengemukakan semaju apapun Indonesia dalam politik. Tetapi terancam oleh kualitas lingkungan yang rendah.
Persoalan lingkungan hidup, ujar Eep, merupakan tanggung jawab semua orang. “Polusi udara, banjir, kebakaran. Tidak memilih korban,” ujar Eep. Karenanya, baik masyarakat maupun pengambil kebijakan perlu belajar untuk mendalami lingkungan dan demokrasi.
Eep mengemukakan bahwa selama ini para penguasa hanya asyik memikirkan proyek saja. “Padahal dengan tidak memperhatikan masalah lingkungan, berarti menggali lubang kuburan sendiri,” ujar Eep. Hal itu dikarenakan proyek yang dilakukan tidak pernah melihat faktor lingkungan, ungkap Eep.
Data yang diperoleh SDI, antara 2000 hingga 2005. Indonesia menghancurkan 2 persen atau 1,87 juta hektar hutannya setiap tahun. Atau 51 kilometer persegi setiap hari, atau 300 kali lapangan sepakbola setiap jam.
Eep menyatakan bahwa dari segi kecepatan, Indonesia adalah negara perusak hutan tercepat di Dunia, mengalahkan Brazil. “0,6 persen atau 3,1 juta hektar pertahun,” ujar Eep.
Hal ini dikarenakan tiga kekeliruan dasar, ujar Eep. Yaitu laju pemanfaatan sumber daya alam terbarukan melebihi regenerasinya. Laju penipisan sumber daya tak terbarukan, tak menimbang pengembangan sumber daya substitusinya. Dan laju produksi limbah melebihi kemampuan asimilasi dari lingkungan.
Kalbar sendiri memiliki 60 persen kemelimpahan kawasan hutan. Akan tetapi, lanjut Eep, besaran penduduk miskin yang ada sebanyak 35 persen. Hal ini terkait dengan reformasi dan otonomi daerah yang terjadi di Indonesia.
Menurut Eko Prasojo, Dosen Fisip UI, perlunya perubahan paradigma dari pihak pengambil kebijakan sendiri. “Pemerintah saat ini masih belum siap mental dalam perubahan dari sentralisasi menjadi desentralisasi,” ujar Eko. Infrastruktur, lanjut Eko, juga belum siap untuk menerima perubahan tersebut.
Eko mengemukakan bahwa dari 465 kabupaten atau kota di Indonesia, kurang dari 5 persen yang benar-benar bisa membawa perubahan otonomi daerah. “Terutama untuk kesehatan dan kesejahteraan masyarakatnya,” ungkap Eko. Dirinya menyerukan agar pentingnya memperbaiki dasar yang sudah rusak saat ini. Yaitu politik, hukum, dan birokrasi. □

FBBK Langkah Menuju Kunjungan Kalbar 2010

Maulisa, Agus dan Arthurio

Borneo Tribune, Pontianak
Festival Budaya Bumi Khatulistiwa (FBBK) yang digelar sejak 1991 merupakan event budaya dan pariwisata kebanggaan yang harus dipelihara eksistensinya. Demikian dikatakan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Barat, selaku ketua umum FBBK ke VIII tahun 2007, Rihat Natsir Silalahi, SE, M.Si pada acara pembukaan FBBK di depan Makorem, Rabu (5/9).
Dikatakan Rihat tujuan FBBK meningkatkan peran kesenian dan kebudayaan dalam rangka pembangunan kepariwisataan di Kalbar, melestarikan seni budaya daerah untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan, memperkaya atraksi seni budaya daerah dalam rangka mensukseskan motto “Kenali Negerimu Cintai Negerimu.
“Mengimplementasikan Instruksi Presiden RI nomor 16 tahun 2005 tentang kebijakan Pembangunan Kebudayaan dan Pariwisata, juga untuk mendukung program tahun kunjungan Kalbar 2010 yang telah dicanangkan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat,” ujar Natsir.
Selain itu dengan adanya FBBK ini diharapkan dapat menggali, melestarikan dan mempromosikan seni budaya daerah untuk mendukung pembangunan pariwisata di Kalimantan Barat, meningkatkan arus kunjungan wisatawan nusantara dan mancanegara serta mendorong berkembangnya usaha pariwisata.
Sementara itu Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Ir. Jero Wacik, SE diwakili Muklis Baini, Direktur Jenderal Nilai Budaya Seni dan Film, mengatakan bahwa dalam rangka meningkatkan bahwasanya dalam rangka meningkatkan citra daerah sebagai tujuan wisata serta upaya melestarikan seni budaya daerah, penyelenggaraan FBBK VIII, menandakan bahwa Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Barat peduli terhadap nilai-nilai budaya sebagai peninggalan dan kekayaan daerah yang perlu dilestarikan.
Dijelaskannya kegiatan festival itu sendiri akan menampilkan rangkaian kegiatan seni dan budaya secara terpadu yang meliputi pameran, lagu daerah, pemilihan bujang dan dare wisata Khatulistiwa, lomba meriah pengantin melayu kalbar, layang-layang hias, festival musik tradisional dan lain-lain yang merupakan potensi budaya Kalbar.
Maka tidak salah, sebelum para wisatawan hadir mengunjungi Kalbar sebagai daerah yang tentunya kaya akan potensi wisata, sudah sepantasnya pula masyarakat mengetahui beragam budaya yang ada, setidaknya yang ada di Kalbar.
”Dilandasi dengan adanya keinginan untuk tetap dapat eksis dan bersaing di era globalisasi, tentunya setiap peaku seni budaya daerah Kalbar dapat selalu berupaya untuk melestarikan dan mennjadikan budaya sebagai kekuatan dalam meningkatkan citra pariwisata, sehingga darii festival ini dapat memuncukan dan melahirkan apresiasi yang berkualitas, sehingga jati diri daerah yang bercirikan budaya daerah akan tetap terpelihara dan lestari” terangnya.
Belum tergali secara maksimal, sehingga penampilanya masih kurang dikenal secara luar, bahkan oleh masyarakat Kalbar.
Untuk maksud tersebut perlu diupayakan agar seni dan budaya yang selama ini hanya dikenal pada kalangan tertentu, dapat ditampilkan dalam acara khususnya sebagai suatu karya seni yang indah sehingga masyarakat dapat menikmatinya.
Salah satu sarana untuk memperkenalkan diri adalah dengan menggekar Festifal Budaya Bumi Khatulistiwa setiap dua tahunsekalai yang pada 2007 ini merupakan penyelanggaraan ke VIII dan telah mencadi core Event Bagi Daerah tujuan wisata di Kalbar. □

Ciptakan Produk Baru

Arthurio OA dan Hanoto

Borneo Tribune, Pontianak
Gubernur Kalbar H Usman Ja’far (UJ) memasuki halaman Pontianak Convention Center (PCC) Rabu (5/9) pukul 17.20 disambut iringan tanjidor. Kehadiran UJ untuk membuka Kalbar Expo ke-3 dan Pekan Raya Pontianak.
Menurut Kepala Bakomapin Provinsi Kalimantan Barat, M.Zeet Hamdy Assovie, MTM pameran ini diselenggarakan untuk menggairahkan aktivitas pasar UMKM di dalam dan luar negeri. “Sekaligus meningkatkan wawasan pengusaha mikro dan kecil dalam perbaikan mutu produk serta mendorong terjalinnya kemitraan usaha.”
Pameran ini diikuti 82 peserta yang terdiri dari koperasi dan pengusaha mikro, kecil dan menengah, mitra binaan dinas koperasi, UKM dan BUMN dari berbagai daerah di Indonesia serta kelompok pengusaha hortikultura. Peserta pameran sendiri terdiri dari 16 Provinsi di luar Kalbar.
Assovie mengemukakan produk yang ditampilkan cukup bervariasi dan dipenuhi berbagai produk UMKM. Produk tersebut antara lain kerajinan, furnitur, kaligrafi, aneka souvenir, tekstil, garmen, kulit, ukiran kayu dan kaca. “Adapula produk makanan, keramik, tenunan, tanaman hias, dan produk olahan hasil pertanian,” ungkap Assovie.
Selama ini, masalah yang dihadapai usaha mikro, kecil, dan menengah antara lain kurang gencarnya melakukan promosi dan lemahnya dalam mengakses pasar. Selain itu, UMKM kerap tidak dilihat sebagai entitas bisnis yang utuh. “Padahal entitas bisnis memerlukan syarat minimal 4 faktor produksi,” ungkap Assovie. Faktor tersebut adalah lahan, SDM, teknologi dan modal.
Untuk mengatasi hal tersebut, bukan hanya terletak pada tataran ide, konsep, peraturan dan kebijakan program saja. “Tetapi bagaimana cara berpikir UMKM sebagai entitas bisnis yang memerlukan kecukupan faktor produksi yang sepadan dan berimbang,” ungkap Assovie. Karenanya, usaha mikro, kecil dan menengah perlu didukung dengan memberikan perhatian yang semakin besar melalui fasilitas kegiatan atas 4 faktor produksi.
Kegiatan ini diharap memberikan motivasi yang besar kepada masyarakat luas untuk mendorong tumbuhnya wirausaha baru sebagai salah satu upaya pemerintah dalam mengurangi tingkat pengangguran dan kemiskinan di Indonesia.
Assovie juga mengatakan bahwa seluruh UMKM yang turut mengisi pameran merupakan UMKM langsung dan binaan.
Sementara itu UJ dalam sambutannya mengatakan bahwa perlu penyempurnaan produk melalui diferensiasi produk, perbaikan packaging dan desain. Yang akhirnya mampu memberikan nilai tambah pada produk tersebut.
UJ juga mengharapkan pameran ini dapat menjadi wahana dan momentum yang baik untuk melihat keanekaragaman produk yang dihasilkan UMKM dengan harga relatif murah dan mutu bersaing dibanding produk dari luar.
UJ mengingat pesan Menteri Negara Koperasi dan UKM RI Suryadharma Ali dalam pembukaan Indonesia Product Expo pada Juni lalu bahwa kesuksesan Kalbar menyelenggarakan beberapa event nasional usaha mikro kecil dan menengah harus tetap melakukan survey terhadap produk apa yang disukai dan produk apa yang tidak disukai.
Pesan tersebut, ujar UJ, mengandung makna yang sangat luas dan sering diabaikan oleh pengusaha mikro dan menengah.
UJ juga menyampaikan hingga saat ini masih ada pengusaha kecil yang tetap mempertahankan atau memproduksi suatu produk yang sudah kurang diminati lagi oleh masyarakat. “Sudah saatnya kita semakin jeli melihat peluang pasar,” ujarnya. Hal ini dilakukan dengan tetap berupaya menciptakan produk baru yang lebih disukai dan senantiasa melakukan efisiensi di berbagai bidang untuk mengimbangi harga ekonomi yang tinggi. □

Warga yang Aktif KB Capai 38,65 Persen

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Koordinator Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Kalimantan Barat, sebanyak 545 jumlah anggota keluarga atau 38,65 persen aktif ikut program Keluarga Berencana (KB).
Menurut Faozan Al Fikri, Kepala Badan Koordinator Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Kalimantan Barat, perlu dilakukan revitalisasi program KB dengan segera. “Dalam rangka pengendalian jumlah penduduk dan peningkatan kualitas sumber daya manusia,” ujar Faozan.
Program KB merupakan kegiatan yang sangat strategis dan bagian dari siklus operasional. Hal ini dikarenakan mengacu pada rapat kerja daerah program KB Nasional untuk mencapai keluarga kecil bahagia.
Pontianak merupakan salah satu kelompok percontohan Bina Lingkungan Keluarga (BLK), untuk mendukung terlaksananya kegiatan dilini lapangan kegiatan. Karenanya diberlakukan entri data. “Pemutakhiran data kelompok yang ada, dari 3.604 kelompok UPPKS yang telah mendapatkan modal sebanyak 251 kelompok,” ungkap Faozan.
Dari jumlah kelompok yang ada tersebut 6,94 persen dari jumlah 345.996 keluarga pra sejahtera dan keluarga sejahtera I menjadi anggota kelompok UPPKS atau sebanyak 18.398 dan yang berusaha 5.194 keluarga atau 28,23 persen.
Entri yang dilakukan ini menggunakan sistem aplikasi dengan menggunakan blanko atau formulir. Kegiatan ini merupakan program pemberdayaan keluarga melalui kegiatan-kegiatan kelompok UPPKS yang telah dilaksanakan pada 2007.
Setiap kecamatan memiliki tenaga pengelolaan KB. Pada era desentralisasi dan pemekaran wilayah yang berkembang pesat. Maka perkembangan kecamatan yang sampai dengan semester I pada 2007, sebanyak 163 kecamatan.
Menurut Faozan, tenaga pengelola KB di kecamatan masih beraneka ragam sesuai kondisi wilayah, yaitu koordinator KB dengan posisi sebagai kasi sosial di kecamatan atau koordinasi dengan tugas dan fungsi sesuai lembaga di atasnya.
Setiap petugas KB memenuhi standar kompetensi dengan jumlah yang memadai. Sampai dengan semester I pada 2007, jumlah petugas KB sebanyak 430 orang. “Terdiri atas koordinator KB kecamatan sebanyak 158 orang. PLKB/PKB sebanyak 272 orang belum memenuhi target yang diharapkan,” ungkap Faozan.
Seluruh keluarga yang memiliki balita menjadi anggota aktif Bina Keluarga Balita (BKB). Hasil pendataan keluarga sejahtera 2006 menunjukkan bahwa dari 899.401 keluarga yang ada, sebesar 311.495 keluarga atau 34,63 persen adalah keluarga yang memiliki balita.
Pontianak sendiri memiliki 32.098 jumlah keluarga yang punya balita. Dengan jumlah kelompok BKB sebanyak 37 buah, dan rata-rata keseluruhan adalah 868 keluarga.□

Gubernur Direncanakan Buka FBBK

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Festival Budaya Bumi Khatulistiwa (FBBK) ke-VIII digelar hari ini, Rabu (5/9), yang dipusatkan di depan Makorem 121/ABW, pukul 13.30. FBBK akan dibuka oleh Usman Ja’far, Gubernur Kalimantan Barat. Pernyataan tersebut diutarakan Rihat Natsir Silalahi, SE, M.Si, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Barat, Selasa (4/9).
Menurut Rihat pembukaan FBBK rencananya dibuka oleh Jero Wacik, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata. “Beliau tidak bisa hadir dikarenakan ada rapat koordinasi mendadak,” ujar Rihat. Karenanya untuk mewakili beliau, lanjut Rihat, akan hadir Muklis Baini, Direktur Jenderal Nilai Budaya Seni dan Film.
FBBK sendiri diikuti oleh Kabupaten atau kota se-Kalbar. “Kesiapan dari Kabupaten atau kota sudah mereka konfirmasikan melalui surat atau telepon,” ujar Rihat memberitahu. Kedatangan kontingen belum diketahui kepastiannya. Siapa tahu berdatangan pada esok pagi (hari ini, red), ujar Rihat.
Setelah acara pembukaan, FBBK dilanjutkan dengan pawai kendaraan hias. Pameran budaya, pariwisata dan potensi daerah. Serta festival musik tradisional yang dimainkan anak-anak.
Rihat mengemukakan bahwa sebagai salah satu unsur kehidupan masyarakat, seni dan budaya belum digali secara maksimal. Sehingga penampilannya masih kurang dikenal secara luas, bahkan oleh masyarakat Kalbar sendiri.
Melalui FBBK, ujar Rihat, merupakan sarana untuk mengembangkan event ini menjadi atraksi yang memikat dan dapat dinikmati oleh wisatawan nusantara maupun mancanegara. Terutama untuk melestarikan seni dan budaya daerah.
Tujuan diselenggarakannya FBBK adalah untuk menggali, melestarikan dan mempromosikan seni dan budaya daerah untuk mendukung pembangunan pariwisata di Kalbar. meningkatkan kunjungan wisata nusantara maupun mancanegara. Mendorong berkembangnya usaha pariwisata. FBBK juga diharapkan dapat meningkatkan pendapatan daerah, pendapatan masyarakat, dan peluang berusaha.
Hal di atas dapat terwujud dengan kedatangan para wisatawan mancanegara yang datang mengunjungi Kalbar, baik untuk tujuan wisata maupun untuk tujuan usaha yang mereka lakukan.
FBBK sendiri merupakan implementasi dari instruksi Presiden Nomor 16/2005 tentang kebijakan pembangunan kebudayaan dan pariwisata. Selain itu juga, mendukung program tahun kunjungan Kalbar 2010 yang telah dicanangkan oleh pemerintah provinsi Kalbar. □

Pembiayaan Program KB bagi Rakyat Miskin

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Program Keuarga Berencana (KB) merupakan program yang diberlakukan bagi seluruh masyarakat Indonesia. Tak melihat strata ekonomi di dalamnya. Bila masyarakat mampu, program KB dapat dilakukan tanpa bantuan pemerintah. Lain halnya dengan masyarakat kurang mampu (prasejahtera). Mereka masih membutuhkan bantuan untuk ber-KB. Termasuk masyarakat prasejahtera di Kalimantan Barat.
Kalbar, dari sisi pemberdayaan ekonomi keluarga masih terdapat 345.996 keluarga prasejahtera. Dalam melaksanakan KB dan pemeliharaan kesehatan reproduksinya masih sangat tergantung secara ekonomi pada pemerintah.
Menurut Faozan Al Fikri, Kepala Badan Koordinator Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Kalimantan Barat, BKKBN Kalbar telah berupaya melakukan intervensi demi meningkatkan kemandirian masyarakat pra sejahtera dalam ber-KB dan pemeliharaan kesehatan reproduksi.
Faozan juga mengemukakan hal ini dilakukan untuk meningkatkan ketahanan keluarga melalui upaya peningkatan tahapan keluarga. “Yang dilakukan adalah dengan memberikan bantuan modal usaha,” ungkap Faozan. Modal tersebut bila diakumulasikan berjumlah kurang lebih 1,2 Milyar kepada 251 kelompok usaha yang beranggotakan 5.021 keluarga.
Keseluruhan jumlah tersebut, baru dicapai 6,75 persen dari keluarga prasejahtera yang harus dientaskan dari ketergantungannya dalam pelaksanaan program KB, pemeliharaan kesehatan reproduksi dan peningkatan ketahanan keluarga.
Data dari BKKBN mengenai dukungan APBN sampai tahun ke-4 era desentralisasi ini, prioritas daerah dalam pengelolaan program KB masih beraneka ragam. Dari 12 Kabupaten atau kota pada 2007, sumber dana sekitar Rp. 6.076.273.340 pada 5 Kabupaten atau kota, masih kecil dalam DIPA 2007.
Dari 12 Kabupaten atau kota di atas yang telah menampung program atau kegiatan sesuai permendagri Nomor 13/2006, sebanyak 6 Kabupaten atau kota dengan besar biaya sekitar Rp. 3.657.859.250 atau sebesar 52,71 persen dengan 10 program utama.
Dukungan APBD untuk Kabupaten atau kota terhadap pelaksanaan program KB 2007 sebanyak Rp. 2.966.450.000 dengan realisasi anggaran sebanyak Rp. 1.644.020.076 atau sebesar 55,42 persen sampai dengan 31 Juli 2007.
Realisasi tertinggi di kota Singkawang (68,63%) dan Kabupaten Sekadau (66,94%). Sedangkan realisasi terendah pada Kabupaten Bengkayang (43,69%) dan Kabupaten Sanggau (43,80%).
Menurut Usman Jafar (UJ), Gubernur Kalimantan Barat, keberhasilan program KB dalam memberikan kontribusi terhadap laju pengendalian pertumbuhan dan peningkatan kualitas penduduk selama ini perlu ditingkatkan.
UJ juga mengemukakan bahwa perlu diupayakan langkah-langkah untuk untuk menjamin bahwa program KB telah dilaksanakan oleh seluruh keluarga di Indonesia. “Sebagaimana visi dan misi program KB Nasional,” ujarnya. Visi dan misi tersebut, tercakup dalam kalimat ‘Semua Keluarga Ikut KB’.
Semua itu dilakukan untuk menuju keluarga kecil bahagia dan sejahtera. Salah satu hal yang penting untuk dilakukan adalah mengupayakan tersedianya data dan informasi perkembangan program KB secara terus-menerus. Cepat, tepat dan akurat.□

Secara Kumulatif Ekspor Kalbar Meningkat

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Secara kumulatif dari Semester I pada 2007, ekspor Kalimantan Barat mengalami peningkatan sebesar 11, 25 persen bila dibandingkan periode yang sama pada 2006.
Namun, ekspor pada Juni 2007 mengalami penurunan sebesar 15, 90 persen dibandingkan Mei 2007. Menurut Nyoto Widodo, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Barat, angka penurunan tersebut adalah 66, 83 juta US Dollar menjadi 56,20 juta US Dollar.
Nilai ekspor Kalbar pada 10 golongan barang pada Juni 2007 mengalami penurunan sebesar 8, 20 persen. Penurunan tersebut dikarenakan menurunnya komoditas andalan Kalbar, yaitu karet dan barang dari karet (HS 40) sebesar 1, 83 juta USD dan diikuti kayu dan barang dari kayu (HS 44) sebesar 7, 74juta USD.
Semester I pada 2007, ekspor dari 10 golongan barang (HS 2 dijit), mengalami peningkatan sebesar 11, 08 persen dibanding periode yang sama pada 2006. “Atau dari 259, 23 juta USD pada 2006, menjadi 287, 96 juta USD pada 2007,” katanya.
Hasil tersebut memberikan kontribusi 93, 74 persen terhadap total ekspor Kalbar. Dari sisi pertumbuhan ekspor 10 golongan jenis barang yang mengalami pertumbuhan peranan tertinggi terjadi pada karet dan barang dari karet (HS 40) yaitu sebesar 24, 31 persen dengan peran sebesar 45, 01 persen dari total ekspor 10 golongan barang.
“Sedangkan pertumbuhan terendah terjadi pada ekspor golongan barang kayu dan barang dari kayu (HS 44) yaitu turun sebesar 3, 40 persen,” ungkap Nyoto. Peranan yang dihasilkan sebesar 35, 12 persen dari total ekspor Kalbar.
Secara umum, ekspor Kalbar ke sembilan negara tujuan utama pada Juni 2007 mengalami penurunan sebesar 5, 66 juta USD atau turun 10, 27 persen dibanding Mei 2007. Penurunan terbesar terjadi pada ekspor ke negara Korea Selatan yaitu sebesar 4, 07 juta USD atau turun sebesar 41, 75 persen. Ekspor ke Jepang dan Singapura mengalami penurunan masing-masing 7, 97 persen dan 58, 08 persen. Sedangkan ekspor ke China dan India merupakan negara tujuan utama ekspor mengalami peningkatan masing-masing sebesar 9, 15 persen dan 400, 66 persen. Ekspor ke negara Amerika dan Prancis juga meningkat sebesar 9, 15 persen dan 12, 22 persen.
Jepang merupakan negara tujuan ekspor terbesar dengan nilai 106, 09 juta USD atau 28, 60 persen selama semester I pada 2007. Jepang juga negara dengan peranan terbesar bagi ekspor yaitu 32, 72 persen dari total ekspor ke 9 negara tujuan.
Menurut Nyoto, negara lainnya adalah China dengan nilai 74, 34 juta USD dengan peran sebesar 24, 20 persen. Dan Korea Selatan dengan nilai 34, 29 juta USD dengan peran sebesar 11, 16 persen. □

Kak Seto Minta Idah Dirawat di Jakarta

Arthurio OA dan Yulan Mirza

Borneo Tribune, Pontianak
Rabu (4/9) pukul 08.20. Ruangan Arwana 30 RSUD dr Soedarso Pontianak terlihat ramai. Seorang tokoh Komisi Nasional Perlindungan Anak Dr. Seto Mulyadi, Psi, M.Si lebih dikenal dengan Kak Seto mengunjungi Zulkaidah Kurniawati (6,8 tahun). Idah korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).
Idah terlihat memainkan game yang ada di handphone yang dipegangnya. Game bola menarik perhatian bocah itu. Suasana ramai tak dihiraukannya. Ia tetap asyik menekan keypad.
Mengenakan baju dan celana merah serta kaus kaki biru dengan sedikit kuning di ujungnya Idah banyak memperlihatkan tawanya. “Toeng... Toeng... Toeng...,” ujar Kak Seto dengan intonasi jenaka, mengajak Idah berkomunikasi.
Doktor pendidikan dan psikolog anak yang berkacamata itu tampil mengenakan batik coklat dengan motif limas hitam di bagian depan. Ia berujar, “Kak Seto mau mendongeng boneka.” Tangan Kak Seto meraih boneka panda yang berada di ujung ranjang tidur Idah.
Kak Seto berjongkok di sisi ranjang menyejajarkan dirinya dengan Idah. Tangannya memegang leher panda. “Ini boneka siapa?” ujar Kak Seto seraya menggerakkan boneka tersebut.
Idah yang asyik bermain, menjawab singkat. “Idah.” Matanya tak lepas dari handphone yang dipegangnya. Masih dengan menggerakkan leher boneka, Kak Seto berkata, nama bonekanya Loli. Idah melirik sebentar ke arah boneka. Tawanya pecah. Tak lama. Ia kembali bermain game.
Handphone yang dimainkan Idah diambil oleh si empunya. Idah merengek untuk meminta kembali. Untuk mengalihkan perhatian Idah dari handphone, beberapa butir permen diberikan untuk Idah.
Permen tersebut disimpan di saku celananya dengan cepat. “Sekarang bisa nyanyi ndak?” ujar Kak Seto. Tapi Idah tetap sibuk dengan permennya. Sebuah permen yang tercecer, dipungutnya dan dimasukkan lagi ke saku.
Kak Seto tetap sabar menghadapi polah Idah. Masih dengan suara kebapakan, kak Seto berkata. Boleh minta permennya satu? “Ndak,” jawab Idah.
“Dua?”
“Ndak.”
“Tiga?”
“Ndak.”
“Ada sisa bungkusnya ini, yang makan permennya siapa?”
“Nenek.”
Saku celana Idah yang satunya lagi terlihat kosong, tak diisi permen. Kak Seto bertanya lagi. “Ini isinya apa,” ujarnya seraya menunjuk saku Idah. Dengan malu Idah menjawab, “Duit.”
Komunikasi singkat tersebut dihentikan. Kak Seto menyarankan agar Idah harus banyak beristirahat.
Bersama Nahar SH, M.Si, Staf Khusus Departemen Sosial Republik Indonesia. Kak Seto beranjak keluar kamar. Langkah mereka terhenti di ruang jaga perawat. Duduk satu meja dengan Nuraini (Dinas Sosial Kasi Pelayanan Sosial dan Anak), Khatarina Lies (anggota DPRD Provinsi Kalimantan Barat), dr Monthe Krisman (Perwakilan RSUD Soedarso). Veronika Kristina (Ibu kandung Idah) dan Devie TioMana (Yayasan Nanda Dian Nusantara/YNDN), dan Junaidi Bustam SE,MH (anggota DPRD Kota Pontianak) ikut berdiri.
Kak Seto yang berencana membawa Idah ke Jakarta dalam rangka perawatan lanjutan menanyakan izin mengenai prosedur kepada pihak rumah sakit. Menurut Monthe, pemeriksaan kondisi kesehatan Idah masih berlaku.
“Kalau ada apa-apa diperjalanan, siapa yang bertanggungjawab?,” tanya Monthe. Rumah sakit sebagai institusi yang diwakilinya, lanjutnya, menegaskan hal tersebut dengan alasan keamanan dan kesehatan Idah.
“Napas Idah masih sesak,” ujar Monthe. Perjalanan jauh akan menyulitkan kondisi Idah.
Monthe juga mengemukakan meskipun kondisi Idah sudah membaik, status awal dari Idah bukan dirujuk. Tetapi diantar. “Ini kasus bersama,” ujar Monthe. Karenanya, koordinasi antarpihak dan instansi harus selalu bersinergi.
Pertemuan dilanjutkan di kantor Dinas Sosial Provinsi Kalbar. Hasil pertemuan tertutup tersebut, ujar Kak Seto, tetap mengedepankan keputusan terbaik untuk Idah. Tim yang terdiri atas Bapora PP, KPKID, LBH Anak, Dinsos, Dinkes, dan anggota DPRD Provinsi, harus terus memantau perkembangan Idah.
Kak Seto juga mengatakan bahwa sementara Idah tidak bisa dibawa keluar. Karena kesehatan kaki dan psikologi Idah yang masih dalam perawatan. Kak Seto yakin proses penyembuhan Idah akan cepat. Menurutnya, Idah anak yang sangat cerdas dengan adaptasi bagus. Ia juga mengimbau agar jangan banyak pengaruh treatment politis karena akan mengganggu psikologis anak.
Devie yang diwawancarai via telepon mengatakan bahwa Komnas Perlindungan Anak sudah mau memfasilitasi perawatan Idah. Akan tetapi keputusan tadi sudah keputusan final. Dirinya mengatakan bila rumah sakit tidak ada protect sama sekali. “Kita akan pantau terus,” ujar Devie. Sekarang siapa yang mau merawat Idah, ujarnya, terserah. □

Mencari Identitas Pontianak dalam Rekaman Lensa

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Pameran foto yang bertajuk ‘Presenting Pontianak’ karya Lukas B. Wijanarko yang berlangsung pada 1 September-4 Oktober di Hotel Gajahmada, menampilkan foto-foto kota Pontianak dengan realita yang ada di dalamnya. Foto-foto tersebut seolah ‘bertutur’ mengenai kota Pontianak dengan bangunan, budaya, dinamika hidup. Yang menggambarkan suatu sinergi satu dengan lainnya.

Hanya dua buah tiang lampu jalan sebagai penerang. Ruas jalan yang dipisahkan pembatas konblok yang sekaligus berfungsi sebagai taman, tampak lenggang. Bangunan lama berdiri tegak, dengan segala kekusaman yang terlihat. Sebuah ‘saksi bisu’ atas segala kemajuan yang terjadi di Pontianak.
Saksi bisu yang menjadi judul foto tersebut, menyiratkan sebuah makna nan dalam. Akan bangunan yang menjadi saksi sejarah atas sebuah perkembangan kota. Dengan kekusamannya, bangunan tersebut seolah berkata sebagai pemula. Identitas kota Pontianak yang pernah dimilikinya.
Berdiri kokoh di kelamnya malam, tanpa aktivitas apapun. Bangunan tersebut seakan terus berjaga. Melindungi sang penghuni yang tertidur nyenyak di dalamnya. Kontras dengan situasi di siang hari. Dengan kepadatan aktivitas dan hilir mudik kendaraan yang melintas.
Tak banyak lagi bangunan tua yang dimiliki oleh kota Pontianak saat ini. Padahal dulunya, hampir seluruh bangunan yang ada. Dibentuk dengan sebuah arsitektur khas sebagai sebuah identitas pada zamannya.
Bangunan lama yang ‘agak’ dijaga, hanya bangunan di kota Singkawang. Dengan arsitektur yang dipengaruhi budaya Tionghoa. Indah dan menarik, meskipun jalan yang ada di kota Singkawang sedikit membingungkan bagi pengunjung baru.
Rumah yang ada di Kapuas Hulu juga seolah menjadi sebuah identitas. Dengan Betang yang masih terjaga dan terawat, meskipun kesan tua tak bisa ditutupi dengan kenyataan yang ada.
Kota Pontianak yang semakin berkembang saat ini, pastilah mempunyai identitas khas yang melekat di dalamnya. Bukan hanya banyaknya bangunan baru yang kokoh berdiri ataupun kemajemukan masyarakat yang menjadi penghuninya. Melainkan suatu ‘penanda’ yang bercerita.
Bila di negara-negara maju, bangunan lama akan selalu dijaga kondisinya. Mereka selalu mengedepankan konsep identitas, mengenai suatu daerah kota atau negara. Identitas yang selalu menarik untuk dipelajari dan dikunjungi.
Tak heran bila kota Venice yang terkenal dengan Gandola yang menyusuri kanal di seluruh kotanya, menjadi sasaran kunjungan para wisatawan mancanegara. Atau kota Roma dengan kemegahan puing Coloseum yang melegenda (puing saja dijaga!).
Contoh di atas seakan mengajak kita untuk berkaca, bahwa sesuatu yang lama tak musti dimusnahkan begitu saja. Tetapi, tetap dibangun kembali dengan bentuk asalnya. Karena itulah identitas kita. Itulah ciri kita. Pameran ini seakan mengajak untuk menjaga identitas kita. □

Pemenang Bujang dan Dare Wisata Sampai Tingkat Nasional

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Salah satu kegiatan dalam rangkaian Festival Budaya Bumi Khatulistiwa (FBBK) 2007 yang akan berlangsung pada 5 hingga 8 September mendatang adalah pemilihan Bujang dan Dare Wisata Khatulistiwa. Menurut Rihat Natsir Silalahi, SE, M.Si, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Barat, pemenang Bujang dan Dare ini akan dikirim ke tingkat Nasional.
Pemilihan Bujang dan Dare wisata ini, mengedepankan Brain, Beauty, and Behavior sebagai syarat yang harus dipenuhi oleh para pesertanya. Sedangkan pesertanya merupakan perwakilan dari masing-masing Kabupaten atau kota se-Kalbar, dan hasil seleksi dari daerahnya. “Peserta maksimal 4 orang yang terdiri dari 2 orang putra dan 2 orang putri,” ujar Rihat memberitahu.
Menurut Rihat, peserta tidak dikelompokkan atau dinilai berdasarkan etnis tertentu. Sehingga Kabupaten atau kota dapat mengirimkan peserta yang berasal dari latar belakang etnis apapun. “Asal memenuhi syarat sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan,” ujar Rihat.
Kriteria tersebut adalah berusia minimal 17 tahun dan maksimal 25 tahun serta belum menikah. Pendidikan minimal SLTA atau sederajat, maupun yang masih berstatus siswa SLTA. Berdomisili di Kalbar yang dibuktikan dengan KTP atau kartu Keluarga.
Peserta yang mengikuti pemilihan ini, diharapkan menyampaikan foto close-up berwarna. Tinggi badan minimal 170 sentimeter untuk Bujang dan 165 cm untuk Dare. Belum pernah memenangkan pemilihan sejenis di tingkat daerah maupuntingkat nasional.
Unsur lain yang menjadi bahan penilaian adalah pengetahuan dalam bidang kehumasan. Penguasaan bahasa Inggris atau bahasa lainnya. Menguasai salah satu kesenian daerah (tari, lagu, musik, olahraga tradisional) yang dapat ditampilkan di atas panggung secara berpasangan. Menguasai pengetahuan umum dalam bidang kepariwisataan, politik, sosial, budaya, ekonomi, teknologi, informasi, dan kepribadian. Penampilan di catwalk. Busana dan tata rias pada saat grand final. “Penilaian yang dilakukan adalah penilaian berpasangan dan bukan perseorangan,” ungkap Rihat. Sehingga, juara yang terpilih adalah juara berpasangan yang mewakili Kabupaten atau kota. Karenanya, kekompakkan menjadi syarat mutlak.
Grand final pemilihan Bujang dan Dare wisata khatulistiwa, akan dilaksanakan pada Jumat (7/9) mendatang. Tempat pelaksanaan grand final ini sendiri bertempat di Rumah Melayu. □

Bahan Makanan Pengaruhi Inflasi Kota Pontianak

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Bahan makanan menyebabkan Perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami penurunan sebesar minus 1, 41 persen. Hal tersebut diutarakan oleh Nyoto Widodo, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Barat, dalam jumpa pers di ruang rapat Bakomapin pada Senin (3/9).
Karenanya, ujar Nyoto, penurunan ini memberikan andil inflasi sebesar minus 0, 3558 persen sehingga mempunyai andil sangat besar terhadap penurunan inflasi secara umum. Meskipun hanya satu kelompok yang mengalami penurunan indeks pada Agustus.
Adapun sub kelompok dari bahan makanan berjumlah sebelas, dimana tujuh sub kelompok mengalami penurunan indeks. Sub kelompok yang mengalami penurunan indeks tersebut adalah padi-padian, umbi-umbian dan hasil-hasilnya minus 0, 72 persen. Ikan segar minus 2, 16 persen. Ikan diawetkan minus 0, 48 persen. Sayur-sayuran minus 14, 77 persen. Buah-buahan minus 0, 04 persen. Bumbu-bumbuan minus 0, 35 persen. Vanila minus 0, 33 persen.
Komoditi pada sub kelompok di atas, yang memberikan sumbangan inflasi adalah sawi hijau minus 0, 1252 persen. Bayam minus 0, 0827 persen. Kacang panjang minus 0, 0503 persen. Ikan tongkol minus 0, 0494 persen. Beras minus 0, 0476 persen. Ketimun minus 0, 0476 persen. Kangkung minus 0, 0382 persen. Ikan gembung minus 0, 0258 persen.
Laju inflasi 2007 yang sudah berjalan di Pontianak dari Januari hingga Agustus sebesar 4, 63 persen, sedangkan inflasi pada periode yang sama pada 2005 dan 2006 masing-masing sebesar 4,87 persen dan 4,34 persen.
Besarnya laju inflasi year on year pada Agustus 2007 terhadap Agustus 2006 sebesar 6,61 persen. Lebih rendah dari Agustus 2005 terhadap Agustus 2004 sebesar 7, 31 persen. Sedangkan untuk Agustus 2006 terhadap Agustus 2005 sebesar 13, 85 persen.
Bahan makanan merupakan satu dari tujuh kelompok pengeluaran yang tercakup dalam IHK. Kelompok lainnya yang mengalami kenaikan indeks adalah makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0, 48 persen. Kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0, 06 persen. Kelompok sandang sebesar 0, 38 persen, kelompok kesehatan sebesar 0, 07 persen. Kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 2, 77 persen. “Kelompok transport, komunikasi dan jasa keuangan mengalami kenaikan indeks sebesar 0, 33 persen,” ujar Nyoto.
Nyoto juga mengemukakan bahwa dengan adanya satu kelompok pengeluaran yang memberikan andil inflasi negatif pada Agustus 2007, secara signifikan menyebabkan terjadinya inflasi di kota Pontianak sebesar minus 0, 02 persen.
Inflasi di Indonesia, dihitung pada 45 kota pada Agustus 2007. Menunjukkan 42 kota terjadi inflasi dan 3 kota terjadi deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di kota Manado sebesar 1, 93 persen, dan inflasi terendah terjadi di kota Sibolga sebesar 0, 05 persen.
Menurut Nyoto, deflasi tertinggi dijumpai di Kota Kendari sebesar minus 1, 57 persen. “Deflasi terendah di Kota Pontianak sebesar minus 0, 02 persen,” ujar Nyoto. Kota Pangkal Pinang juga mengalami deflasi sebesar minus 0, 44 persen. □

“Ini Emak Nong...”

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Setelah hampir tiga minggu Zulkaidah Kurniawati (6,8 tahun) atau Idah dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Soedarso, baru pada Minggu (2/9) malam, Veronika Kristina, ibu kandung Idah yang selama ini menjadi tanda tanya akhirnya datang dan melihat langsung kondisi putrinya.
Pukul 20.01, Veronika Kristina mengenakan kaos putih dan tas tangan merah muda melangkah menuju ruang Arwana. Dia didampingi Devie Tio Mana (Yayasan Nanda Dian Nusantara/YNDN), Junaidi Bustam SE, MH (anggota DPRD Kota Pontianak), Rendy Lesmana dan Tiurma Butar-Butar (Pengacara Idah dari Advokasi Hukum YNDN), dan Dra. Fursani (Bidang Sosial YNDN).
Titin tampak menggendong seorang putri bernama Aking (2,4 tahun), dan seorang anak putri bernama Su Shien (10 tahun) yang melangkah di sampingnya. Kedua bocah tersebut saudara Idah. Sementara itu, seorang perempuan tua yang diketahui ibu kandung Titin turut serta menjenguk Idah.
Sambutan kilatan blitz dan lampu kamera menyambut kedatangan Titin, mulai dari lorong yang menuju ruang Arwana. Langkah Titin terburu-buru, menuju kamar bernomor 30 di ruangan itu.
Titin langsung berdiri di samping ranjang tempat tidur Idah. Menatap Idah yang tertidur mengenakan piyama merah. Tak lama, Idah terbangun karena silau lampu yang menyorotinya.
Idah menangis sebentar akibat tidurnya terganggu. Titin pun mengelus lembut kepala Idah. “Ini emak nong,” ujar Titin hampir menangis melihat kondisi Idah. Masih tetap menggendong Aking, Titin berkata ‘ada dede nong,’ kepada Idah.
Idah hanya terdiam, mencoba untuk mengenali siapa yang mengunjunginya. Ini merupakan pertama kalinya Idah bertemu langsung dengan ibu kandungnya setelah ia lama menderita “kekerasan” dalam rumah tangga.
Sudah enam tahun Titin meninggalkan Indonesia karena bekerja dan bersuamikan orang Malaysia yang sekarang menetap di Kuching. “Saya tinggalkan sejak usia Idah sebulan,” ujar Titin memberitahu.
Emosi dan tangis Titin tak terbendung lagi. “Idah dirampas dari saya,” ujarnya sambil terisak. Titin juga memberitahu bahwa tersangka selalu mencarinya dan mengancam membunuh dirinya apabila mengambil Idah. Karenanya, lanjut Titin, dirinya lari ke Malaysia untuk bekerja.
Titin mencium pipi kiri Idah. “Mengapa kalian menyiksa Idah seperti ini,” ujar Titin dengan suara mengeras. Emosinya seakan membuncah. Kalau tidak mau merawat anak ini, ujar Titin, jangan main siksa.
Titin juga mengaku tidak menjual Idah kepada tersangka. “Bohong dia. Dia merampas Idah dari saya. Dia bilang bayar saya 30 juta. Tidak benar itu!” seru Titin dengan geram. Titin mengaku dirinya melahirkan sendiri dan tidak pernah dibayar oleh tersangka. “Saya hanya minum arak sebotol,” ujar Titin memberitahu. dirinya juga mengatakan bahwa sudah beberapa kali berusaha untuk mengambil Idah, tetapi selalu diancam dan dikejar oleh tersangka. “Kalau kamu bawa, saya bunuh!” ujar Titin, mengulang perkataan tersangka pada dirinya. Sampai saya lari seperti hewan, seru Titin lagi.
Dengan pelan Titin berujar, omongan dia saya simpan di sini, sambil menunjuk dadanya. “Sudah cukup dia merawat, sekarang saya lagi yang merawat,” ujar Titin. Idah akan Titin bawa ke Sungai Rengas, Tayan, Kabupaten Sanggau untuk dirawat oleh Cenung, kakak Titin. Dirinya mengaku senang bertemu Idah langsung. Setelah ini, Titin mengaku akan pulang lagi ke Kuching, dan akan datang saat persidangan. □

Energi Alternatif Bagi Masyarakat

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Kebutuhan masyarakat akan energi dalam kehidupan sehari-hari sangat dibutuhkan. Akan tetapi, dengan meningkatnya penggunaan energi oleh masyarakat, dapat mengakibatkan berkurangnya ketersediaan sumber energi tersebut. Karenanya, Dharma Wanita Persatuan Provinsi Kalimantan Barat akan menggelar sosialisasi energi alternatif pada Senin (3/9) besok, di Hotel Santika.
Sosialisasi yang dilakukan adalah pengenalan energi alternatif untuk rumah tangga dan industri kecil, melalui kompor briket batu bara. Sosialisasi ini juga dilaksanakan dalam rangka Hari Ulang Tahun Dharma Wanita Persatuan ke-8 pada 2007, di Kalbar. Dengan bekerjasama dengan Dharma Wanita Persatuan Pusat, serta Badan Penelitian dan Pengembangan Energi Sumber Daya Mineral.
Banyak wilayah di Indonesia mulai mengalami kekurangan stok minyak tanah. Baru-baru ini, warga Jakarta harus rela mengantre panjang untuk mendapatkan sumber energi yang diperoleh dari perut bumi ini. Kelangkaan ini menghambat aktivitas bagi para ibu rumah tangga.
Pontianak sendiri, pada akhir tahun lalu mengalami hal yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa ketersediaan minyak tanah di Indonesia sudah semakin berkurang. Indikasi ini menunjukkan bahwa sumber minyak tanah di perut bumi juga sudah mengalami kekurangan persediaan.
Mungkin hal ini tidak menjadi masalah bagi masyarakat yang memiliki kompor gas. Karena mereka masih dapat bertahan untuk sementara. Akan tetapi, bagi masyarakat yang tidak mampu memiliki kompor gas, hal ini merupakan suatu penderitaan. Bagaimana mereka harus memasak untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka, bila tidak ada minyak tanah yang menghidupi kompor mereka.
Karenanya, perlu dicari energi alternatif yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Untuk mengantisipasi kelangkaan akan minyak tanah yang terjadi selama ini.
Dengan sosialisasi ini diharapkan kompor briket batu bara dapat menjadi alternatif yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sehingga tidak perlu menderita lagi bila ketersediaan minyak tanah tidak ada di pasaran. □

FBBK Siap Dibuka Menbudpar

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Festival Budaya Bumi Khatulistiwa (FBBK) ke-VIII siap digelar pada 5-8 September mendatang. Inti dari kegiatan ini adalah untuk menggali nilai-nilai budaya, memelihara dan melestarikan budaya yang ada di Kalbar.
“Kebudayaan yang beragam di Kalimantan Barat, merupakan salah satu daya tarik tersendiri. Kultur yang ada di dalam tatanan masyarakat Kalbar yang majemuk, bahkan menjadi kekayaan budaya yang patut dijaga dan dikembangkan,” ungkap Rihat Natsir Silalahi, SE, M.Si, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Barat yang didampingi Susanto Tri Nugroho, Kabid Pariwisata, saat menggelar konferensi pers pada Sabtu (1/9) di ruang pertemuan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.
Pentingnya menjaga dan melestarikan budaya yang ada, tak lepas dari peran masyarakatnya sendiri. Karenanya, diperlukan suatu wadah yang bisa dipergunakan untuk mengenalkan budaya yang ada.
Menurut Rihat, itu semua bermanfaat untuk meningkatkan kepariwisataan Kalbar. Katanya, budaya lokal sendiri mempunyai makna dan nilai yang dalam. “Semua dapat dilihat dari tata nilai masyarakat itu sendiri,” ungkap Rihat. Budaya pulalah, lanjut Rihat, yang mewakili Kalbar hingga ke luar wilayah.
Pelaksanaan FBBK juga turut menyukseskan tahun kunjungan Kalbar 2010. “Ini merupakan program yang telah dicanangkan Gubernur.”
Melestarikan budaya juga perlu dikenalkan kepada anak-anak. “Agar anak-anak dapat mengenal dan tidak melupakan budaya mereka,” ujar Rihat. Perlu dicari cara agar anak-anak gemar dengan seni dan budaya tradisional. Karenanya, FBBK juga memberikan kesempatan kepada anak-anak melalui festival musik tradisional.
Dengan memupuk kecintaan anak-anak terhadap budaya, maka akan menumbuhkembangkan nilai budaya kearifan lokal dalam kehidupan mereka. “Hal ini juga dapat meningkatkan karakter dan jati diri yang kokoh dan tangguh,” ujar Rihat. Dengan kekokohan itu pula, maka dapat tercipta produk wisata berbasis budaya.
Tantangan utama dalam menjalankan FBBK adalah bagaimana keamanan dan kenyamanan, seperti yang ada dalam sapta pesona dapat dijaga oleh masyarakat di Kalbar. “FBBK merupakan even dua tahunan yang sudah teragendakan,” ujar Rihat. Tentunya, perlu sinergi satu sama lain dalam mendukung kelancaran pelaksanaan FBBK.
Rihat yakin bahwa Sapta Pesona dimiliki oleh masyarakat Kalbar. Karena, peserta yang turut serta dalam kegiatan ini tidak hanya berasal dari Kabupaten dan kota se-Kalbar. “Malaysia juga akan mengirimkan pesertanya untuk mengikuti FBBK,” ujar Rihat memberitahu. Hal ini, lanjut Rihat, berdasarkan pertemuan Sosekmalindo. Acara pembukaan FBBK sendiri, dimungkinkan akan dibuka oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata. □

Mencari Kiprah Perempuan di Dunia Publik

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Pemilihan Gubernur Kalimantan Barat sudah di ambang pintu. Daftar nama calon yang akan bertarung memperebutkan kursi kepemimpinan di Bumi Khatulistiwa, juga sudah diperoleh. Semuanya pria, tanpa menyertakan sosok perempuan di dalamnya. Pertanyaan pun timbul, apakah perempuan yang berkualitas dan berpotensi untuk memimpin provinsi ini tidak ada?

Asmaniar, Anggota DPRD Provinsi Kalbar dari Komisi B, membantah hal tersebut. Menurutnya, banyak perempuan memiliki kualitas dan berpotensi sebagai pemimpin di Kalbar. “Akan tetapi, peran perempuan tidak pernah dianggap dalam dunia publik,” ujar Asmaniar, ketika diwawancara via telepon, Jumat (31/8).

Tidak adanya sosok perempuan yang muncul sebagai calon gubernur, menurutnya ada tiga hal. Pertama, jumlah perempuan yang berkiprah di dunia politik tidak banyak. Kedua, keinginan perempuan maju, tetapi terhambat masalah dana. Ketiga, pada level atas sendiri, saat mencari partner dalam pencalonan. Tidak pernah memilih perempuan sebagai partnernya.

Menurut Asmaniar, dengan adanya perempuan berada di posisi sama dengan laki-laki, dianggap sebagai suatu persaingan. Berpartner dan bermitra dengan perempuan, bukan untuk memperebutkan lahan, ujar Asmaniar.

Padahal, dengan adanya perempuan, ada pembagian peran yang bisa dilakukan.
Peran perempuan sangat efektif hingga ke level dasar. Perempuan berkiprah mulai dari sosialisasi program pemerintah hingga kesehatan masyarakat. Karenanya, perempuan selalu ditempatkan hanya pada level itu saja.

Kesempatan bagi perempuan dalam dunia publik tidak terbuka dengan baik. Asmaniar berpendapat, aturan main selama ini harus diubah. Kaena ada kelompok tertentu, merasa nyaman dengan tidak adanya peran perempuan. Padahal, banyak perempuan bekerja untuk mensukseskan laki-laki ke dunia publik. Tetapi tidak pernah ada yang mengekspos atau dimunculkan.

Meskipun tidak ada kiprah perempuan dalam pemilihan akbar ini, Asmaniar berharap perspektif gender dimunculkan. Selama ini, belum menyentuh permasalahan kaum perempuan. Banyak anggapan yang menyatakan, bahwa dunia politik adalah dunia lelaki. Sedangkan perempuan ditempatkan pada level bawah saja.

“Pemerintah dan budaya, juga menjadi faktor penghambat kiprah perempuan dalam dunia publik,” kata Asmaniar. Berdasarkan Undang-Undang Politik dan Undang-Undang Pemilu, kuota 30 persen yang tertulis di dalamnya merupakan affirmative action. Tapi tindakan tersebut tidak dimunculkan oleh pemerintah. Karenanya, kelompok perempuan yang tertinggal karena tidak adanya akses diberikan kepada mereka untuk berkiprah.

Dampak diakibatkan karena hal tersebut adalah multitrial effect. Ketertinggalan dan kemunduran bagi kaum perempuan. Termasuk dalam hal pendidikan, dimana banyak perempuan di Kalbar mengenyam pendidikan di tingkat SMP dan SMA saja. “Tapi pada level selanjutnya, sangat kurang,” ujar Asmaniar. Kesalahan tersebut, bukan salah perempuan sepenuhnya.

Budaya patriarkhi yang berlaku selama ini, juga menempatkan perempuan harus melakukan pilihan sulit dan tidak bisa ditawar lagi. “Masyarakat kita selalu berpendapat bahwa perempuan yang bersekolah tinggi itu percuma. Toh kembali ke dapur dan keluarga juga,” ujar Asmaniar.

Karenanya, tingkat kepercayaan memimpin tidak diberikan kepada perempuan. “Padahal, tidak semua laki-laki yang berkiprah di dunia publik itu berkualitas,” ujar Asmaniar.□

Penyebab KDRT dan Trafiking

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Dari 4,2 juta penduduk di Kalimantan Barat, 45 persennya adalah perempuan. Sehingga kasus trafiking dan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) sering terjadi. Hal tersebut diutarakan Utin Kusumawaty, Kepala Badan Pemuda, Olah Raga, dan Pemberdayaan Perempuan (Bapora PP) Provinsi Kalimantan Barat, beberapa waktu lalu.

Penyebab timbulnya trafiking, dikarenakan Kalbar merupakan provinsi yang bersinggungan langsung dengan negara tetangga. Akses mudah dikarenakan adanya jalan setapak yang bisa dilalui. Akses seperti ini dilakukan secara non-legal dan harus diwaspadai. Selain itu, Kalbar juga sebagai tempat transit yang paling sering dilewati oleh para tenaga kerja dari luar Kalbar.

Korban trafiking, dapat terjadi pada siapa saja. Trafiking tidak mengenal kelas. Semua dapat menjadi korban atau pun pelaku. Selama ini, pemahaman masyarakat mengenai trafiking sangat kurang. Hal ini dikarenakan posisi sosial masyarakat sendiri.

Utin berpendapat, antisipasi KDRT bukan hanya dilakukan di Kalbar. Tetapi juga di seluruh Indonesia. “KDRT merupakan isu sentral yang harus diwaspadai,”ujar Utin.

Akibat yang ditimbulkan, bukan hanya bagi fisik. Tetapi juga psikis. Peran orang tua sangat penting untuk mengajari anak dengan hal yang baik. Selain itu, perlu tatanan etika dan agama yang kuat dalam keluarga. Sebagai dasar dalam menjalankan kehidupan keluarga.

Menurut Utin, penting mengoptimalkan peran media massa dalam mensosialisasikan, apa itu trafiking dan KDRT hingga ke pelosok daerah. Sehingga, semua masyarakat yang ada di kota maupun di pedalaman, mendapatkan akses sama mengenai itu semua. Bahkan, untuk mensosialisasikan perda yang telah ditetapkan pemerintah Kalbar.

Perda yang sudah ditetapkan di Kalbar sedang dibahas Departemen Dalam Negeri. Bila perda sudah disetujui, maka perda tersebut satu-satunya yang mengacu pada Undang-Undang. Sehingga, hukuman yang diberikan kepada pelaku akan seimbang dengan perbuatannya.

Selama ini, penanganan kasus trafiking dan KDRT yang diberlakukan, hanya mengacu pada Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Hukuman yang diberikan kepada pelaku tidak seimbang dengan apa yang telah diperbuat. Longgarnya hukuman tersebut, membuat efek jera bagi pelaku tidak ada.

Penanganan terhadap kasus tersebut juga dilakukan secara bersama antar instansi. Konsep Bapora PP dalam mencegah hal tersebut adalah pada tatanan pencegahan melalui sosialisasi masyarakat, sebagai ketahanan pada masyarakat dan keluarga. “Sinergi yang sudah dilakukan di tingkat provinsi, perlu juga dilakukan di kabupaten atau kota,” ujar Utin.□