Minggu, 29 Juli 2007

Dr. H. Chairil Effendy Bicara tentang Pendidikan

Arthurio OA dan Herkulanus Agus

Borneo Tribune, Pontianak
Pendidikan merupakan sebuah proses peradaban. Proses tersebut, selanjutnya diinternalisasikan nilai-nilai positif kepada anak didik, agar kelak seluruh perilaku digerakkan oleh nilai-nilai positif tersebut. Pernyataan tersebut diutarakan Dr. H. Chairil Effendy, M.S, Rektor Universitas Tanjungpura, saat diwawancarai di rumahnya, Sabtu (29/7).

Chairil doktor dalam ilmu-ilmu humaniora mengenai sastra lisan di Universitas Gadjah Mada. Ia mengangkat sastra lisan dari Sambas sebagai desertasi doktornya dengan judul Teks Raja Alam. Chairil memberi contoh mengenai manusia secara filsafat. Misalnya, orang melihat sapi tetap sebagai seekor sapi. Manusia tidak secara otomatis, bisa menjadi manusia sempurna atau ideal, tanpa proses pendidikan.

Chairil mengatakan, pendidikan jangan semata-mata dilihat dengan kacamata sempit. Pendidikan kepada anak, diberikan sejak masih dalam kandungan, hingga anak mendapatkan pendidikan. Ia juga mengatakan, pondasi dari pendidikan dimulai dari keluarga.

Ia memberikan contoh. Anak sekolah di Jepang, sangat disiplin. Meskipun, tanpa ditegur oleh gurunya. “Mereka tepat waktu. Tahu tata krama, dan mengerti aturan yang berlaku,” ujar Chairil. Pelajaran mengenai hal itu, sudah diperoleh dan diinternalisasikan dalam keluarga.

Manfaatnya, guru dapat mencurahkan 100 persen disiplin ilmu yang mereka punya, kepada anak didiknya. “Pelajar di Jepang tidak perlu lagi diberitahu mengenai aturan. Mereka sudah tahu, karena sudah diperoleh dari rumah,” ujar Chairil.

Chairil mengemukakan, hal tersebut berbeda kondisi di Indonesia. Pendidikan belum dipahami sebagai suatu dasar di rumah tangga. Hal ini mengakibatkan, guru harus memberikan disiplin dan tata krama, kepada siswa.

Bagi Chairil, pendidikan juga merupakan proses yang dijalankan seumur hidup. Menurutnya, dalam perjalanan hidup, akan selalu menemukan hal-hal baru.

Pola Pendidikan
Dasar pendidikan dari keluarga, merupakan pola pendidikan yang harus dilakukan. Pada perkembangan selanjutnya, dari pola tersebut, butuh bantuan lembaga formal maupun non-formal.

Lembaga formal tentu saja diperoleh melalui sekolah. Sedangkan non-formal, dapat melaui lembaga kursus maupun home schooling. Menurut Chairil, home schooling haruslah selalu diperhatikan perkembangannya. “Bila tidak, anak menjadi individualis. Padahal, kita merupakan mahluk sosial,” ungkap Chairil.
Chairil mengungkapkan, manusia selalu membutuhkan adanya relasi dengan manusia lain. “Dengan adanya relasi tersebut, kita akan menemukan siapa diri kita sesungguhnya,” ujar Chairil dengan bijak.

Pola pendidikan di Indonesia, sudah seperti yang diharapkan selama ini. Akan tetapi, implementasi dari pola tersebut belum ‘kena’. Menurutnya, di Indonesia saat ini banyak profesor atau guru besar. “Semakin tinggi ilmu yang mereka peroleh, semakin sempit pula cara pandang mereka,” ujar Chairil.

Ia menggunakan istilah untuk hal ini, dengan istilah menggunakan kacamata kuda. Hal tersebut, tentu suatu model yang keliru.

Chairil mengemukakan, pendidikan di Indonesia selama ini, sangat memberatkan siswa didiknya. Dari SD sampai ke tingkat atas, pola pendidikan yang digunakan seperti piramid. Bahwa, hal tersebut hanya memandang kebenaran dari sisi ilmu saja. Dari dasar saja, sudah diberikan materi yang sangat luas dan tidak terfokus. Hal tersebut akan membuat siswa didik, tidak mengetahui dasar ilmu pengetahuan yang kuat.

Berbeda dengan yang ada di negara luar, pola pendidikan yang diterapkan seperti piramida terbalik. Dasar dari ilmu pengetahuan sudah dipahami dan terfokuskan. Dengan pola pendidikan seperti ini, akan menjadikan siswa didik lebih paham dan mengerti ilmu pengetahuan yang diterimanya, kata Chairil.

Pola pendidikan piramida terbalik ini, siswa didik lebih mudah menilai sesuatu dari segala disiplin ilmu. Keadaan ini menyebabkan terbentuknya konversi ilmu. Chairil memberikan contoh mengenai temannya yang berasal dari Perancis. Temannya, ahli geologi, dan datang ke Kalbar untuk mengamati bebatuan. Namun, ia tertarik untuk menguasai bahasa yang ada di Kalbar. Teman itu mempelajari bahasa tersebut, dan kemudian menjadi Doktor dalam bidang bahasa.

Contoh kongkrit yang digambarkan Chairil, bila pondasi rumah sudah kuat, pasti bagus dan bisa dibangun bertingkat. Akan tetapi, bila pondasi saja sudah keropos, otomatis tidak akan mampu menampung elemen di atasnya.

Oleh karena itu, pemerintah harus bisa memahami dan mengubah pola pendidikan yang ada selama ini. “Anak SD tidak perlu dijejali dengan hal-hal yang berat,” kata Chairil.

Perubahan Kurikulum
Perubahan kurikulum yang sering terjadi di dalam sistem pendidikan di Indonesia, tidak dilakukan dengan kajian mendalam. Ia mengatakan, kurikulum tersebut tidak fokus. Tidak konsisten, ataupun tidak istiqomah. “Hanya namanya saja yang berubah,” ujar Chairil.

Harapan yang ingin dicapai melalui Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) selama ini memang bagus, yaitu, siswa didik dapat menguasai materi yang tercakup di dalam KBK.
Chairil tidak mempermasalahkan hal tersebut. Menurutnya, kadang jadi masalah, karena guru yang mengajar tidak siap di lapangan. KBK yang mengedepankan kompetensi, hanya mencetak siswa didik sebagai penghafal dan tidak memahami materi yang diberikan. Sehingga, siswa didik tidak mampu mengembangkan ilmu yang diperolehnya.

Ia memberikan saran, pola pendidikan harus menggunakan paradigma pola pendidikan piramida terbalik. Pola pendidikan piramida terbalik, memberikan informasi ilmu pengetahuan di pendidikan dasar, dan diolah dalam tingkat lebih tinggi.

Penerapan pola pendidikan yang bagus, adalah bagaimana siswa didik berproses dan bisa menemukan keunikannya masing-masing. Selama ini, pendidikan cenderung diseragamkan. “Padahal, dalam keunikan tersebut, mereka akan menemukan esensi hidup yang membutuhkan orang lain,” kata Chairil.

Pendidikan Dahulu dan Sekarang
Sistem pendidikan dulu dan sekarang, sangat berbeda sekali. Dulu, pendidikan yang dijalani sangat terfokus. Berhitung pun tidak dengan yang rumit-rumit. Dengan pola seperti itu, ia mengaku punya dasar kuat dengan materi yang diberikan.

Menurut Chairil, dalam sejarah ilmu filsafat, seorang filosof tahu akan seni, sejarah, atau matematika. Apalagi pada masa sekarang, ketika batas ilmu sudah mencair. Hal ini mengakibatkan, segala permasalahan dipecahkan secara interdisipliner dan dipandang secara holistik, melalui interdisipliner maupun multidispiliner.

Bila sekarang ini, siswa SD saja sudah dijejali dengan berbagai macam les, dengan alasan untuk mempersiapkan diri menghadapi dunia global. Dan, pekerjaan rumah yang menumpuk, bahkan sudah diberikan ‘titipan’ pelajaran. “Beban anak sudah semakin banyak saat ini,” ungkap Chairil.

Program pendidikan yang sudah diatur, menjadikan hal tersebut wajib untuk dilaksanakan. “Bahkan, pola KBK mengakibatkan ketidakkonsistenan terhadap pilihan-pilihan yang ada,” kata Chairil.□

Perda Trafiking Lebih Fokus

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Peraturan Daerah (Perda) mengenai pencegahan dan pemberantasan perdagangan orang terutama perempuan dan anak, merupakan Perda yang lebih fokus dalam menangani permasalahan perdagangan orang, pengantin pesanan, dan eksploitasi.
Menurut Yudith, Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Perempuan Indonesia untuk Keadilan (YLBH-PIK), Jumat (27/7), ketika berbicara mengenai perdagangan orang, terlebih dahulu harus melihat data kuantitatif secara umum.

“Perda harus lebih khusus untuk meng-cover permasalahan tersebut,” ujar Yudith.

Ia mengatakan, harus melihat berapa persen korban tenaga kerja legal maupun tidak legal yang termasuk dalam kasus perdagangan orang. Menurutnya, penanganan korban tenaga kerja legal, merupakan kerja dari Dinas Tenaga Kerja. Sedangkan, tenaga kerja yang tidak legal, merupakan tanggung-jawab dinas sosial.

Penetapan Perda ini, akan lebih mengakomodir adanya gugus tugas antar instansi yang lingkup kerjanya menangani masalah perdagangan orang. Perda yang terbentuk, merujuk pada rencana aksi daerah yang merupakan Peraturan Gubernur Nomor 86/2006, mengenai penghapusan perdagangan perempuan dan anak.

Hambatan yang mungkin terjadi dalam pelaksanakan Perda ini, ketika Perda mengatur tingkat kabupaten atau kota, hanya berupa garis koordinasi dan bukan garis perintah.

Selain itu, gugus tugas antarinstansi juga harus lebih terkoordinasi lagi. Tujuannya, agar tidak ada ambigu, kebingungan antara instansi dan lembaga yang peduli, dalam menangani permasalahan perdagangan orang.

Yudith mengharapkan, penanganan mengenai perdagangan orang, terutama perempuan dan anak, harus lebih selektif lagi. Gugus tugas proses pemantauan, juga harus lebih dimaksimalkan. “Perda tanpa adanya pengawasan operasional, susah,” kata Yudith.

Mengenai tidak dibicarakannya permasalahan perdagangan orang dalam pertemuan Sosekmalindo antara Indonesia-Malaysia, Yudith mengatakan hal ini merupakan keuntungan tersendiri bagi pihak Malaysia. Banyak tenaga kerja Indonesia yang direkrut, tanpa ada kesepakatan hukum yang kuat.

Contoh kasus, dideportasinya para tenaga kerja Indonesia, para pemilik perusahaan dan perkebunan di Malaysia, merasa kerepotan mengurus pekerjaan. Yang dilakukan oleh tenaga kerja yang dideportasi.

Menurut Herculana Ersinta, Yayasan Dian Tama, pasal-pasal yang terdapat di Perda, sudah mencakup semua hal yang diperlukan dalam penanganan perdagangan orang. Akan tetapi, pelaksanaan dari Perda ini kedepan, masih belum diketahui seperti apa.
“Paling tidak, kita punya dasar kuat untuk menindak para pelaku perdagangan orang,” ujar perempuan yang akrab dipanggil Erni ini.

Erni mengutarakan, bila Perda adalah peraturan, maka peraturan Gubernur No.86/2006 merupakan aksi daerah. “Mengenai Perda Pergub, kedua peraturan tersebut sudah berjalan, akan tetapi hanya sebatas sektoral saja,” kata Erni.□

Alat Keterampilan di Lapas Anak Belum Lengkap

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Meskipun menjalani hari yang terbatas di balik jeruji, bukan berarti keterampilan yang dimiliki anak-anak penghuni Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Anak, juga terbatas. Mereka dibekali dengan berbagai keterampilan. Antara lain, membuat kerajinan las besi, tempat lilin, bertukang, bengkel, dan meja sudut.

Menurut Eddy Suyanto, Kepala Lembaga Pemasyarakatan Anak, masih ada kendala dihadapi untuk memberikan keterampilan tersebut. “Kita masih kekurangan Sumber Daya Manusia (SDM), sarana, dan dana,” ujar Eddy.

Keterampilan yang diberikan kepada 47 orang penghuni Lapas Anak, bertujuan agar setelah kembali ke masyarakat, mereka dapat hidup mandiri. “Selain itu, agar mereka dapat hidup layak dan bisa sejajar dengan anak lain,” kata Eddy.

Menurut Sudarmadi, tenaga pelatih keterampilan, alat-alat keterampilan di Lapas Anak masih kurang. Alat-alat tersebut antara lain, alat pertukangan, pemotong las, dan gunting plat. Selain itu, ia juga mengaku bahwa, tenaga pelatih hanya dua orang, sangat tidak mencukupi.

Ketika melatih keterampilan, tiap kelompok terdiri dari lima orang. Mereka dilihat bakatnya. “Bila mereka cepat mahir dalam bertukang, mereka diarahkan ke pertukangan,” ujar Sudarmadi.

Bantuan yang diberikan selama ini, dalam bentuk alat langsung. Tapi, tidak ada bantuan dana perbaikan.

Solihin (14), penghuni Lapas Anak mengatakan, dirinya diberikan kursus selama 2 hari untuk belajar tune-up motor. Dua hari mencakup teori dan praktek. Ini merupakan satu keahlian Solihin, selain bengkel mobil, tukang, las besi, dan membuat meja sudut. Bahkan, dirinya bisa membuat CDI motor dari rangkaian yang sudah disiapkan sebelumnya. “Dalam sehari, bisa 4 atau 5 CDI bisa dihasilkan,” ujar Solihin memberitahu.

Hasil karya Solihin pun, sudah pernah dipamerkan dan ada pembelinya. Ia mengatakan, pameran yang pernah memajang hasil karyanya antara lain, pameran Kanwil Hukum dan HAM, pameran di Untan, dan Departemen Sosial di A. Yani Mega Mal.

Menurut Kadir Ubbe, Kepala Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat, dana keseluruhan yang diperoleh dari APBN untuk Dinsos sebanyak 29 milyar. Dana tersebut digunakan untuk setiap pos di Dinsos.

Salah satu pos Dinsos adalah, dengan membantu terselenggaranya kegiatan bagi para anak-anak di Lapas. Caranya, pemberdayaan melalui pelatihan keterampilan anak, untuk memulihkan mereka.

Pelatihan keterampilan akan memulihkan rasa percaya diri. Meningkatkan harga diri. Mencoba menyadarkan dan bisa bertanggung-jawab. “Agar, ketika kembali ke masyarakat, mereka dapat menunjukkan sikap yang baik,” kata Kadir.□

Perda Trafiking sebagai Angin Segar

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Peraturan daerah (Perda) mengenai Pencegahan dan Pemberantasan Perdagangan Orang terutama Perempuan dan Anak, merupakan payung hukum untuk menangani pengantin pesanan, eksploitasi manusia, dan perdagangan manusia. Pernyataan tersebut diutarakan Asmaniar, anggota Komisi B DPRD Provinsi, saat dijumpai di ruang kerjanya, Kamis (26/7).

Ia mengemukakan, dengan adanya Perda ini, diharapkan bisa mendapat sambutan dari berbagai pihak, dengan dasar peduli pada masyarakat.

Kesepakatan Malaysia-Indonesia (Malindo) selama ini, sangat sulit memasukkan masalah trafiking dalam setiap pertemuannya. “Yang dibahas hanya mengenai sosial ekonomi saja,” ujar Asmaniar.

Meskipun trafiking belum menemui titik terang pada kesepakatan Malindo, tetapi pernah dilakukan pertemuan dengan Menteri Urbanisasi Malaysia di Sarawak dengan pemerintah Kalbar.

Pertemuan tersebut, selain membicarakan Sosekmalindo, juga membicarakan penanganan trafiking antar head to head, pemerintah daerah dengan pemerintah daerah. “Mereka ingin memutuskan masalah melalui G to G, pemerintahan pusat dengan pemerintahan pusat, saja. Padahal Sarawak merupakan negara bagian, ujar Asmaniar.

Saat ini, pemerintah Kalbar akan bekerjasama dengan pemerintahan Sarawak. Paling memungkinkan dengan penjajakan hubungan kota kembar, ujar Asmaniar.

Ketika ditanya, kenapa permasalahan trafiking sangat sulit untuk diselesaikan, ia memberikan beberapa alasan. Ketika orang melihat perbatasan di Entikong dan Sarawak, orang seperti melihat fatamorgana. “Orang lebih tertarik ke Sarawak, karena Sarawak seperti magnet untuk mereka,” ujar Asmaniar. Padahal, permasalahan yang ada di sana pun banyak.

Para pencari kerja dari Indonesia, bahkan harus bertahan hidup dengan keadaan mereka di sana. Mereka diberi gaji dengan harga 150 RM, dan itupun dengan pasrah diterima. Padahal, ia pernah melihat di terminal bis di Kuching, ada pengumuman mencari pekerja dengan gaji 1800 RM dengan kontrak 6 bulan. Keadaan ini menunjukkan, pekerja dari Indonesia merupakan pekerja yang dibayar paling rendah.

Mengapa hal tersebut terjadi, dikarenakan pekerja dari Indonesia tidak mempunyai keterampilan. Ia juga memberitahu, anggapan orang Sarawak, pekerja Indonesia tidak banyak protes. Sehingga mereka merasa nyaman dengan keadaan tersebut.

Menurut Asmaniar, para pencari kerja Indonesia yang bekerja di Malaysia, selalu diputuskan dengan cara emosional. “Hal tersebut bukanlah kesalahan mereka sepenuhnya. Karena pemerintah juga tidak membantu mereka,” kata Asmaniar.

Oleh karena itu, dengan adanya Perda perdagangan orang yang berlaku. Kita akan tunduk dalam UU Nomor 21 tersebut, ujar Asmaniar.□

Novel Siswi MTsN 1 Akan Launching

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Sebuah amplop coklat tergeletak di meja. Bagian tengahnya bertuliskan Proposal dan kata: Ga’ tau neeh...!!! (Karya novelis termuda Kalbar, Isma Resti Pratiwi), dengan tinta warna hitam. Di antara tulisan tersebut, terselip tulisan Talkshow Sastra & Launching Novel dengan warna kuning gading.
Pada kotak alamat tujuan, sisi kanan bawah. Tertulis Redaksi Borneo Tribune di- Pontianak, dengan tinta hitam juga.
Sebuah novel berukuran 11x18,5 sentimeter dan proposal kerjasama sebanyak 9 lembar, isi dari amplop tersebut. Novel dengan cover merah muda bergambar seorang gadis belia yang dilukis bak manga (kartun) Jepang. Lukisan siluet lain, menunjukkan dua orang putri dan dua orang putra, yang berselang-seling. Satu hal yang membuat surprise, novel ini ditulis gadis belia yang baru berusia 14 tahun.
“Ga’ Tau Neeh...!!!”, judul dari novel sebanyak 200 halaman tersebut. Hasil karya Isma Resti Pratiwi yang sangat berbakat ini, akan launching di Toko Buku Gramedia, Minggu, 5 Agustus nanti. Launching ini juga dibarengi dengan Talkshow Sastra.
Isma Resti Pratiwi merupakan siswi Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 (MTsN 1) Pontianak. Ia merupakan novelis termuda di Kalbar. Novel perdananya ini diterbitkan oleh Kitara creativision.
Isi cerita novel berlatarkan kehidupan remaja di sekolah plus lika-liku kehidupan remaja sehari-hari. Tokoh sentral cerita, terletak pada Abe dan Avel.
Kesan renyah dan ringan, ditemukan melalui penggunaan kata Jakarta banggedzt, lu dan gue. Alur yang disajikan pada novel ini, mengalir dan enak untuk diikuti tiap Bab. Apalagi pribadi tokoh ceritanya si Avel, cewek nyentrik agak nyeleneh tetapi kreatif. Mengikuti ceritanya membuat kita tergoda untuk melahap novel ini sampai abis. Wah ini novel remaja yang sangat meski nge-pop tapi tetap ‘gurih’. Jadi siapa bilang buda’ – buda’ Pontianak tak balak’-bala’ (jago-jago) menulis. Isma Resti Pratiwi buktinya! “Datang ya bang, jangan lupa,” kata ketua penerbit Kitara Creativision, didampingi ilostrator novel tersebut, Akil.

Pengakuan Peran Perempuan Sebagai Pemimpin

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Arroyo Gloria Macapagal (Philipina), Ellen Jhonson Sirleaf (Liberia), Michelle Bachelet (Cile), Pratibha Patil (India), merupakan pemimpin bangsa dunia. Indonesia juga pernah dipimpin oleh seorang perempuan, melalui tangan Megawati Soekarno Putri.

Para pemimpin perempuan di atas, mungkin tidak pernah membayangkan bila dirinya bisa menjadi orang nomor satu bagi negaranya masing-masing. Suatu hal yang dulunya sangat tak ‘lazim’, dimana pandangan umum masyarakat terhadap perempuan, hanyalah sebagai pengurus dapur dan rumah tangganya sendiri.

Seiring perkembangan zaman dan waktu, peran perempuan sebagai pemimpin, tidak bisa dilihat sebelah mata. Peran mereka pun mulai berat. Menjadi ‘pengurus dapur dan tumah tangga negara’.

Aida Mokhtar, Ketua Umum Komisi Pemilihan Umum (KPU), Kalbar, berkata, “Terpilihnya perempuan sebagai pemimpin, tentulah karena dukungan dan pengakuan potensi yang dimiliki perempuan, tidak jauh berbeda dengan laki-laki.”

Partisipasi perempuan di berbagai bidang sangat diperhitungkan. Terbukti, diberikannya kesempatan pada perempuan duduk menjadi wakil rakyat di parlemen. Walaupun, hanya memperoleh kuota sebanyak 30 persen.

Menanggapi kuota sebanyak 30 persen, Aida berpendapat, hal tersebut sebagai upaya mempercepat kesetaraan perempuan dan laki-laki dalam berbagai bidang. “Kuota tersebut merupakan suatu affirmatif action,” ujar Aida.

Affirmatif action merupakan tindakan khusus yang bersifat sementara. Sehingga, ada kemungkinan kuota untuk perempuan bisa bertambah.

Selama ini, batasan kuota bagi perempuan digariskan dalam kebijakan Nomor 12/2003. Dimana, rekrutmen anggota perempuan diberikan kesempatan sebanyak 30 persen.

Aida berharap, kesempatan yang diberikan kepada perempuan, tidak hanya dalam legislatif saja. “Bila perlu kita dorong untuk tingkat eksekutif pula,” ungkap Aida.

Pemberian kesempatan kepada perempuan berdasarkan kuota tersebut, dikarenakan adanya stereotip patriarkhi. Yang terjadi pada masyarakat itu sendiri. “Apabila stereotip tersebut dapat dihilangkan, maka kebijakan kuota akan jumlah persentase peran perempuan sudah tidak dibutuhkan lagi,” kata Aida.

Aida mengemukakan, kecilnya kesempatan yang diberikan bagi perempuan, bukan berarti tidak adanya ruang untuk berpartisipasi. Hal tersebut dikarenakan, masih adanya faktor penghambat yang terjadi. Selain, stereotip patriarkhi.

Ia mengakui masih adanya interpretasi ajaran agama yang keliru, dan pemahaman keliru pula mengenai peran perempuan. “Perlunya re-interpretasi untuk mengatasi hal tersebut,” ujar Aida.

Pemahaman mengenai gender yang salah, juga membentuk stereotip dan menyudutkan kaum perempuan. Menurut Aida, gender merupakan rekonstruksi sosial, bukannya untuk fight terhadap laki-laki. Aida juga mengakui, tekanan kepada perempuan yang berkaitan dengan gender, juga dilakukan oleh pihak perempuan sendiri. Meski secara tidak sadar.

Ia memberikan contoh, ketika seorang ibu melarang anak gadisnya keluar malam, ataupun dengan memberlakukan jam malam.

Stereotip seperti itu, merupakan ketidakadilan gender yang menyebabkan adanya pengklasifikasian. Bentuk pengkotakan seperti itulah, yang merugikan satu pihak. Mau tak mau, perempuan harus menerima konsekuensi dari ketidakadilan gender. “Itulah budaya kita,” kata Aida.□

Anak-Anak di Balik Jeruji Besi

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
“...Kesedihan paling besar bukan pada saat kita menangis sendirian. Akan tetapi, pada saat kita tertawa bahagia, karena kita tidak tahu harus berbagi bahagia bersama siapa,”

Sepotong dialog dari scene film ‘Cinta Silver’ yang disutradarai oleh Lance di atas, seolah berlaku bagi anak-anak yang menjalani kesehariannya di LAPAS (Lembaga Pemasyarakatan Anak), Provinsi Kalimantan Barat. Pada Selasa (24/7), sebanyak 30 orang anak mengikuti Pelatihan anak nakal, melalui Dinamika Kelompok di Alam Terbuka (DKAT), pelayanan rehabilitasi sosial anak nakal Provinsi Kalimantan Barat di LAPAS anak.

Ironis, ketika Hari Anak Nasional (HAN) diperingati oleh anak-anak Indonesia bersama para orang tua, dengan kasih sayang dan penuh dekapan hangat. Penghuni LAPAS anak memperingati HAN dengan out bound, dan ‘menghirup sedikit udara bebas’.

Ayu (18), sudah menjalani 2 tahun 10 bulan dari masa hukumannya, selama 4 tahun 3 bulan. Pendidikan yang sempat dienyamnya, hanya kelas 2 SMP. “Saya berhenti sekolah,” ujar Ayu. Alasan dirinya berhenti dikarenakan nakal dan sering membolos. Karena kenakalannya tersebut, ia sering mendapatkan surat panggilan dari kepala sekolah.

Dara berkulit kuning langsat itu, terjerat hukum karena penggunaan narkoba. Perceraian orang tua, merupakan alasannya nakal dan menggunakan narkoba. “Saya tidak terima dan sedih dengan tindakan mereka,” ujar Ayu.

Selain itu, ia merasa keputusan orang tuanya, tanpa memikirkan keadaan dirinya dan kedua adiknya. Bersama Solihin (17), Ayu menjadi wakil teman-temannya ketika peringatan Hari Anak Nasional. Yang dilaksanakan di pendopo Gubernur Kalbar, pada 23 Juli lalu. “Senang, karena bisa lihat dunia luar lagi. Agak bebas sedikit,” ujar Ayu, ketika mengutarakan perasaannya.

Pernah terbersit sebuah pertanyaan di benaknya, sebelum berkumpul dengan anak-anak lain di pendopo. Apakah kehadiran dirinya dan Solihin, dianggap sebagai orang yang berbahaya. “Ternyata ada dari mereka yang mengajak ngomong dan berbagi cerita,” kata Ayu, seraya tersenyum.

Selama berada di LAPAS, yang paling sering menjenguk dirinya adalah sang mama. Sang ibu sering membawa adik Ayu, ketika menjenguk. Ketika bertemu adiknya, Ayu selalu menasehatinya.

“Jangan nakal di luar sana. Lihat contoh kakak. Kalau adek nakal,” ujar Ayu.

Saat ini, ia mendapatkan remisi selama 11 bulan. Ia berkata, saat ini sedang mengikuti program CMB (Cuti Menjelang Bebas).

Selama menjalani kehidupannya di LAPAS anak, dimanfaatkan Ayu dengan mengikuti keterampilan yang diberikan petugas LAPAS anak. “Saya membuat kerajinan tangan berupa kotak tissue,” kata Ayu.

Eddy Suyanto, Kepala LAPAS anak Kalbar, mengatakan, keterampilan yang diajarkan di LAPAS anak antara lain, atas kerjasama dengan Dinas Pendidikan Nasional dan LSM di Jawa Barat.

Bila Ayu membuat kotak tissue, Solihin bisa melakukan banyak keterampilan. Ia bisa mengelas dan membengkel mobil. Bahkan, Solihin juga dapat memperbaiki bodi mobil yang rusak.

Solihin harus merasakan kehidupan di balik jeruji besi selama 4 tahun. Ia terjerat hukuman asusila. Waktu untuk menghirup udara bebas bagi Solihin, masih 2 tahun lagi. Solihin harus sabar menunggu, sampai jeruji besi bisa terbuka. Setidaknya, ia masih bisa mengasah terus keterampilannya.

“Agar, ketika keluar dari penjara nanti, saya bisa mandiri dengan menerapkan keterampilan yang diperoleh,” kata Solohin.□

Esensi Hari Anak

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) yang digelar 23 Juli setiap tahun, gaungnya seperti angin kencang. Terasa sesaat. Setelah itu, hilang tak terdeteksi. Hal tersebut dikarenakan, permasalahan dan penanganan yang terjadi pada anak, seakan rantai panjang yang tak putus.

Pada perayaan HAN 2007, mengusung tema “Aku Anak Indonesia Sejati, Mandiri dan Kreatif.” Peringatan HAN Kalimantan Barat, berlangsung di pendopo Gubernuran dan diprakarsai oleh Forum Anak Daerah 2007.

Menurut Rini Chairil, Wakil Ketua Pokja IV PKK Provinsi Kalimantan Barat, esensi dari peringatan HAN, agar orang tua ingat dan mengerti akan hak anak. Rini mengemukakan, anak merupakan salah satu aset bangsa dan menjadi sumber daya manusia (SDM) yang menjadi regenerasi pembangunan bangsa.

“Anak mempunyai hak untuk mendapatkan pendidikan dan kasih sayang,” kata Rini.

Anak tak hanya disekolahkan dan diberi kasih sayang. Tapi, juga haus diberikan pembebasan. Pembebasan kepada anak diberikan, agar dapat memilih apa yang diinginkannya. Namun, pembebasan tersebut, haruslah dengan pengawasan dan bimbingan dari orang tua.

Satu contoh pembebasan yang dapat diberikan kepada anak adalah, memberi kesempatan pada mereka dalam menentukan pilihan. Rini mengatakan, orang tua tidak boleh menuntut anak, untuk mengikuti semua keinginannya. Istilahnya, anak harus jadi sesuatu yang menjadi keinginan orang tua. “Tuntutan tersebut dapat membuat anak tertekan dalam melaksanakan segala sesuatu,” kata Rini.

Ia menghimbau kepada orang kaya harta, untuk membantu anak berprestasi dari keluarga kurang mampu. Dengan memberi sokongan kepada mereka, anak bakal berguna bagi nusa dan bangsa, kata Rini.

Sokongan merupakan bentuk penerapan dalam program anak asuh. Bila dari program PKK, ada juga bantuan diberikan kepada anak berprestasi. Menurutnya, setiap tahun PKK mengeluarkan dana bantuan kepada anak SD senilai Rp 120.000. SMP senilai Rp 240.000. Anak SMA senilai Rp. 300.000. Itu program yang sudah lama dijalankan.

Rini merasa risau dengan mahalnya biaya pendidikan anak. Meski pemerintah sudah punya kepedulian dengan program Bantuan Operasional Sekolah (BOS), namun masih saja ada yang mengganjal. “Uang sekolah bebas, tapi buku harus beli sendiri,” kata Rini.

Pekerja Anak
Sering kita mendengar dan melihat dalam keseharian, hak anak sudah ‘dikebiri’. Anak, banyak kehilangan waktu dalam masa pertumbuhan dan perkembangan mereka. Contoh kasus mengenai hal tersebut, dapat kita lihat di media elektronik. Mau tahu contohnya? Banyak artis anak yang kerjanya dipaksakan dengan kejar tayang suatu acara TV.

Menurut Masrikah Djawari, Wakil Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Kalimantan Barat, negara Indonesia sudah memiliki Undang-Undang perlindungan terhadap anak. Anak yang termasuk dalam perlindungan hukum, berusia hingga 17 tahun. Alasannya, anak usia tersebut, seharusnya dilindungi secara fisik dan mental.

Ia menyarankan, perlindungan termasuk dengan memberikan asupan gizi secara baik kepada anak. Anak juga harus bebas dari diskriminasi dan penindasan, ujar Masrikah.

Masrikah mengemukakan, seharusnya pekerja anak tidak boleh diterapkan dalam segala sektor pekerjaan. Ia menyoroti perlindungan yang harus diberikan orang tua dan masyarakat kepada anak. Hal itu sudah tercantum dalam Undang-Undang itu.

Pada kenyataannya, daerah pedalaman banyak ditemukan anak usia 10 hingga 15 tahun bekerja membantu orang tuanya. Pekerjaan anak bahkan melampaui ukuran badan mereka.

Anak seusia itu, seharusnya masa bermain. Sehingga masa kanak tidak terganggu. Menurutnya, idealnya anak usia 0 hingga 17 tahun berkembang dengan baik.
Maraknya pekerja anak, juga diakibatkan putus sekolah dan anak tidak bersekolah. Di perkotaan, masalah pekerja anak dengan mudah dapat ditemukan pada lampu merah lalu lintas.

Berdasarkan pengalaman, bersama PKK, ia pernah mendatangi anak-anak tersebut. Lalu, menfasilitasi untuk bertemu dengan gubernur. “Mereka dapat mengutarakan aspirasinya,” kata Masrikah, “Kenyataannya, anak yang hadir hanya satu orang saja.”□

Duta LH Kalbar 2007 Emban Misi Sosialisasi

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Masa karantina kontestan Duta Lingkungan Hidup Kalimantan Barat 2007 telah berakhir. Duta LH Kalbar 2007 juga sudah terpilih pun mulai meninggalkan tempat karantina, Minggu (22/7) untuk kembali ke daerah masing-masing.
Bertempat di Coffee shop Kapuas Palace pukul 10.05 para kontestan didampingi Kepala Bapedalda Kalbar Ir Tri Budiarto, Ketua Pelaksana Odang, Duta LH 2006 dan Andien, Duta Lingkungan Indonesia berdilog akrab untuk kemudian berpisah.
Menurut Tri Budiarto, Duta LH Kalbar 2006 dan 2007 harus menjadi kekuatan baru yang bisa membangun jaringan. Jaringan yang kuat akan menyebabkan upaya pelestarian lingkungan hidup juga menguat pada segala aspeknya.
Duta LH juga diharapkan Tri mensosialisasikan diri kepada pemerintah daerah setempat. “Meskipun sulitnya bertemu dengan para pejabat institusi di daerah, Duta LH jangan pernah berhenti. Tidak bertemu, ditunggu. Jelaskan kepada para pejabat di sana, bila adek-adek mampu,” ujar Tri memberi semangat.
Duta yang berasal dari Kabupaten dan sedang menimba ilmu di Pontianak atau di luar kota, ujar Tri, setiap kesempatan libur harus pulang ke Kabupaten asal dan membantu pemerintah daerah dalam menangani isu lingkungan. Hal ini perlu untuk membangun semangat positif terhadap daerah.
Tri juga berharap agar komunikasi antarsesama Duta maupun dengan pihak Bapedalda dapat terus terjalin. Ia menyatakan selalu menyediakan waktu bagi para Duta untuk bertemu untuk koordinasi mengenai masalah lingkungan. “Sekecil apapun masalah lingkungan di daerah, harus dikomunikasikan. Adik-adik juga silahkan datang ke Bapedalda, untuk membicarakan masalah program ataupun memberikan masukan terhadap kegiatan yang akan dilaksanakan,” ungkap Tri. Bahkan, Tri tidak memandang para Duta minim pengalaman mengenai permasalahan lingkungan atau pun masih anak-anak. “Saya menganggap adik-adik adalah orang yang mempunyai kemampuan yang sama, dengan visi dan misi yang sama, sehingga dapat berkoordinasi dengan saya, bukan dengan perintah atau instruksi,” ujar Tri.
Andien yang tampak cantik dengan mengenakan baju putih polos dan motif polkadot bercorak hitam-putih mengucapkan selamat kepada Duta LH Kalbar 2007 yang terpilih. Menurutnya, sebagai sesama Duta, bagaimana bersama untuk berkomitmen terhadap pelestarian LH. Ia memberitahu bahwa sosialisasi dan komunikasi LH kepada masyarakat, bukanlah hal yang mudah.
Program yang dijalani Andien sebagai Duta adalah aktif membantu sosialisasi ke daerah-daerah dan melakukan pekerjaan yang kongkrit, concern terhadap masalah sampah.
Ketika ditanya apakah ada kemungkinan antara Duta LH Kalbar dapat berkerjasama dengan Duta LH di pusat, dalam hal koordinasi. Andien berkata, kenapa tidak?. “Aku berharap bisa masuk ke SMP dan SMA untuk sosialisasi pengelolaan sampah,” ujar Andien.
Acara dialog diakhiri dengan foto bersama Andien di lobi hotel. Kemudian, para Duta LH berkemas-kemas untuk check out dan kembali ke daerahnya masing-masing. 

Green and Clean School

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Pentingnya pendidikan mengenai lingkungan di sekolah, merupakan salah satu program yang dijalankan oleh Bapedalda (Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah) Kalimantan Barat. Hal tersebut diutarakan Tri Budiarto, Kepala Bapedalda, Minggu (22/7), di sela-sela dialog yang dilakukan bersama para Duta Lingkungan Hidup Kalbar 2007 di Coffee shop Hotel Santika.
Menurut Tri, mulai 2006 hingga dua minggu lalu. Tim yang terdiri dari para Duta LH Kalbar 2006, diminta untuk menilai sekolah-sekolah dan mengsosialisasikan apa itu program Green and clean school kepada para murid dan guru. “Saat ini ada 11 sekolah yang menjadi pilot project,” ujar Tri memberitahu. Program ini juga merupakan ajang belajar para Duta untuk mengkomunikasikan program mereka kepada masyarakat, mulai dari sekolah.
Sebenarnya, Tri mengharapkan adanya konsep tandingan dari para Duta untuk menggali aspirasi mereka. “Saya tidak akan membatasi inisiatif mereka, akan tetapi membantu,” ujar Tri.
Sebagai Duta Lingkungan, ujar Tri, mereka merupakan ikon publik. Publik akan selalu mengawasi dan menilai semua tindak-tanduk yang dilakukan oleh ikon tersebut. “Apabila ikon tersebut melenceng, publik pasti akan marah,” ungkap Tri.
Menurut Merryshella Aulia Arizona, Duta Lingkungan Hidup Kalbar 2006, sekolah yang menjadi pilot project untuk Green and clean school tersebut antara lain SMPN 2 dan SMAN 1 di Sambas. Program ini menggunakan dana sisa anggaran Bapedalda.
Sementara itu, ada 9 sekolah lainnya yang berada di Melawi, Kapuas Hulu, dan Sintang. Masing-masing untuk SD, SMP, dan SMA. “Dana yang digunakan untuk project ini berasal dari FLEGT, karena kita bekerjasama dengan mereka,” ujar Shella memberitahu. 

Materi Lingkungan itu diaplikasikan

Arturio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Rona bahagia, terpancar pada wajah cantik ini. Namanya, Dina Yuspita Sari. Ia juara I Duta Lingkungan Hidup Kalimantan Barat 2007. Tiara kemenangan yang dikenakannya, menambah aura kecantikan tersebut.

Ketika pertama kali masuk karantina, Dina-sapaannya- merasa tegang dengan kondisi tersebut. Menurutnya, hal tersebut dikarenakan, ia harus melakukan penyesuaian dengan lingkungan baru. “Setelah kenal dengan teman, rasa tegang tersebut bisa mencair,” ungkap Dina.

Ia bercerita, dirinya pernah sakit ketika karantina. Akan tetapi, tidak ada yang mengetahuinya. “Sakit perempuan,“ ujar Dina.

Menjelang malam final, Dina merasa deg-degan. Apalagi ketika tampil ke panggung. Perasaan itu semakin kuat. Sangking kuatnya perasaan itu, ia merasa gemetaran. Namun, semua itu bisa diatasi.

Apalagi ketika masuk delapan besar. Ia mengaku makin rileks setelah pengumuman delapan besar itu. Ketika diberi penghargaan sebagai juara, ia merasa kaget dengan hal tersebut.

“Oh, ternyata saya, ya?” ujar Dina, seolah bertanya pada diri sendiri.

Dina mengemukakan, dirinya tidak suka menghafal. Ia lebih suka memahami materi tersebut. Ia berpikir tentang konsep, dan otaknya membuat kesimpulan sendiri. Hal tersebut, memberikan gaya tersendiri ketika memberikan jawaban, terhadap berbagai pertanyaan yang ditujukan padanya.

“Karena saya punya gaya saya sendiri,” ujar Dina.

Selama mengikuti karantina, Dina mengaku paling kesulitan membahas mengenai AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan). Hal ini dikarenakan tidak populernya istilah-istilah AMDAL. Selain itu, karena terbatasnya waktu, sehingga penyampaian AMDAL, terlalu singkat.

Sekarang ini, ia merasa sudah agak mengerti, apa itu AMDAL. Ia juga mengaku, sekarang lebih mudah memahami isu lingkungan.

Menjadi Jawara dalam pemilihan Duta Lingkungan Hidup, menurut Dina, bukan merupakan beban. Akan tetapi, merupakan tanggung-jawab moral. Duta seperti ikon, ujar Dina.
Baginya, bila ingin mengubah orang, harus mengubah diri sendiri terlebih dahulu. “Setidaknya saya bisa merubah diri sendiri dalam memperlakukan lingkungan,” kata Dina.

Ia mengaku jarang melakukan perjalanan masuk dan kelaur hutan. Tapi, Dina punya pengalaman ketika mengikuti kompetisi Puteri Indonesia Kalbar kemarin. Di kompetisi itu, ia melihat taman wisata dengan pemahaman berbeda. Bukan hanya untuk foto-foto.

Manfaat dari kegiatan yang diikutinya, menambah teman baru. Dengan adanya saling komunikasi antar peserta, membuat jalinan ikatan kuat dalam interaksi. Ia mesasa bisa menyamakan visi dan misi.

Pembekalan yang diberikan pun, membuat dirinya tahu berbagai pengetahuan baru. Yang menarik, ketika ke TPA sampah. Alasannya? Sampah yang terkumpul mengakibatkan aroma tidak sedap. Setelah kunjungan tersebut, ia jadi takut membuang sampah. “Apalagi cewek, pasti suka membuang banyak tissue,” ujar Dina.

Sekarang ini, ia merasa mulai sadar lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan. Dina sangat tertarik dengan program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Yang sekarang baru diluncurkan programnya di Mempawah.

Bila pulang ke Mempawah, Dina akan masuk dan turut mendukung dalam program PAUD. Selain itu, Dina berasumsi bahwa ia juga dapat mensosialisasikan isu lingkungan mulai dari PAUD, kemudian ke sekolah-sekolah.

Ia bakal mulai dengan hal yang sederhana. Kalau sosialisasi mengenai abrasi, merupakan rencana jangka panjang. Dina beranggapan, golden age merupakan usia cocok untuk ditempa mentalnya. Apalagi mental untuk peduli lingkungan, kata Dina.

Menurut Dina, mental untuk cinta dan sadar terhadap lingkungan, dimulai dari kebiasaan.
Harapannya, setelah kompetisi ini, agar alumni 2006 dan 2007 kompak dan dapat konsen terhadap lingkungan hidup. Sehingga bisa menerapkan ide dalam tindakan nyata.

“Yang terutama, semoga setiap orang bisa menjaga lingkungan hidup,” kata Dina.□


Nama : Dina Yuspita Sari, Amd.F
TTL : Mempawah, 30 April 1985
Alamat : Jl. Gusti Abdul Hamid No.47, Mempawah
Pendidikan : Universitas Garut Fakultas Farmasi
Nama Ayah : Zahrudin
Nama Ibu : Uray Aisyah
Prestasi : Ketua PMR 2000/2001
Juara 3 Tari Kreasi Melayu 2000
Juara 2 Festival Senandung Melayu Tk. Kab. Pontianak 2000
Juara I Festival Pop Kota Pontianak 2003
Lulusan terbaik ke-2 Akademi Farmasi Yarsi
Finalis Putri Indonesia 2007
Juara I Duta Lingkungan Hidup Kab. Pontianak 2007
Juara I Duta Lingkungan Hidup Kalbar 2007
Tim pengajar Mulok Tari Sanggar di SMUN1 Mempawah 2000/2001

Pencemaran udara dan resikonya

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Kabut asap yang terjadi di Pontianak, seperti ‘hadiah’ ulang tahun yang selalu diberikan menjelang musim berladang tiba. Bahkan, pemerintah pusat sendiri memberikan warning kepada kepala pemerintahan di daerah, untuk menindak tegas para pelanggar, yang menyebabkan tercemarnya udara.
Berdasarkan data evaluasi Karhutla yang terjadi pada 2006 yang diperoleh dari Bapedalda (Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah), Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) tertinggi pada Oktober 2006 yaitu, tanggal 4,5,6, dan 7. kategori ISPU pada tanggal tersebut adalah sangat tidak sehat sampai dengan berbahaya.
Angka tertinggi untuk ISPU tersebut, pada pagi hari dan siang hari antara pukul 06.00 hingga 12.00.
Pencemaran udara kebanyakan dikarenakan banyaknya hot spot, yang terjadi akibat pembukaan lahan untuk pertanian dan perkebunan. Pada 2006, hot spot terbanyak, terjadi di Kabupaten Ketapang. Masing-masing pada Agustus sebanyak 4.601, September sebanyak 2.251, dan Oktober sebanyak 1.313.
Data sebaran hot spot Provinsi Kalimantan Barat pada 15 Juli 2007, berdasarkan sumber dari satelit NOAA 18, ditemui di Kabupaten Bengkayang sebanyak 2 titik, Kapuas Hulu sebanyak 12 titik, Pontianak sebanyak 1 titik, dan Sanggau sebanyak 4 titik.
Menurut Tri Budiarto, Kepala Bapedalda Kalimantan Barat, pencemaran udara yang terjadi saat ini fluktuatif. Ia akui, memang pernah terjadi ISPU dengan kategori tidak sehat, tetapi hanya sekali saja. Lalu, tidak terjadi lagi.
Meskipun begitu, Tri mengatakan bahwa ini merupakan suatu warning bagi kita untuk bisa menjaga lingkungan. “Prinsipnya, setiap sektor harus punya tanggung-jawab terhadap isu lingkungan yang terjadi,” ujar Tri memberitahu.
Menurut Oscar Primadi, Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Barat, efek pencemaran udara yang terjadi dapat menyebabkan terganggunya kesehatan bayi dan orang tua. Dampak yang dapat timbul antara lain asma, ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut), alergi kulit, dan iritasi mata. “Orang-orang tua dapat terserang asma, sedangkan anak-anak dapat terserang ISPA,” ujar Oscar memberitahu.
Oscar juga menganjurkan agar para orangtua tidak membawa anak-anaknya berjalan di malam hari mengendarai kendaraan bermotor, bila terjadinya pencemaran udara, khususnya kabut asap. “Apalagi anak balita, tidak boleh,” ujar Oscar.
Saran yang diberikan Oscar untuk menghindari hal tersebut adalah, bila sudah pukul 19.00 atau 20.00 dan tidak ada kepentingan, sebaiknya jangan keluar rumah. Ia juga menyarankan agar kesadaran masyarakat terhadap kebersihan dan kesehatan pribadi selalu ditingkatkan. “Bila ada debu di rumah, bersihkan dengan cepat,” ujar Oscar. Hal ini dikarenakan, debu dapat masuk dan merusak paru-paru. “Hazard di dalam rumah saja ada, apalagi di luar rumah,” ungkap Oscar.

Dina Yuspita Sari Jawara Duta LH Kalbar 2007

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Tiga negara yang dianggap sebagai penyumbang karbondioksida terbesar yaitu Amerika, China, dan Indonesia. Amerika dan China harus ekstra ketat menjaga lingkungan hidupnya karena banyak terdapat pabrik. Indonesia harus waspada karena kebakaran hutan dan lahan.
Pemprov Kalbar mempunyai beberapa program untuk mengatasi masalah lingkungan hidup (LH) tersebut. Antara lain untuk mendorong kota bersih melalui Adipura, melakukan pengolahan sampah, mendorong dan bekerjasama dengan organisasi dan aktivis agar lingkungan hidup menjadi lebih baik.
“Kalbar punya program membangun rasa cinta dan pemahaman terhadap LH di bangku sekolah melalui program Green school and Clean school atau Adiwiyata,” ungkap Kepala Bapedalda Kalbar, Ir Tri Budiarto dalam malam final Duta LH Kalbar 2007.
“Kalbar juga punya program membangun kontruksi hukum yang disahkan untuk melindungi masyarakat dari berbagai dampak LH, melalui Perda tentang merkuri dan lain-lain. Kampanye terus-menerus melalui berbagai media pada seluruh masyarakat,” ungkapnya.
Tadi malam sebanyak 16 finalis mengikuti Grand Final pemilihan Duta Lingkungan Hidup Kalimantan Barat 2007. Penyelenggaraan final dilakukan di Function Hall, Hotel Kapuas Palace, Sabtu (21/7) malam.
Dalam sambutannya, Kepala Bapedalda (Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah) Kalbar Ir Tri Budiarto menyatakan kegiatan ini merupakan bagian dari ajang kampanye dan meningkatkan kepedulian lingkungan hidup.
Peserta diseleksi berdasarkan daerah perwakilan mereka. kemudian, 2 orang pemenang dari tiap daerah mengikuti pemilihan di tingkat Provinsi. Mulai 17-21 Juli, peserta mengikuti karantina. “Selama masa karantina ini, peserta diberi pembekalan mengenai isu-isu lingkungan hidup yang terjadi di Kalbar,” ujar Tri.
Mereka mengikuti audiensi ke Kantor Gubernur dan DPRD Provinsi Kalimantan Barat, untuk menyampaikan aspirasi mereka. Selain itu, mereka melakukan kunjungan ke tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di Batulayang.
Dalam sambutan resmi Wagub LH Kadir yang dibacakan Asisten II Drs Munir HD, Wakil Gubernur mengatakan kualitas hidup semakin menurun. Alam memiliki keterbatasan sehingga sewaktu-waktu dapat menimbulkan bencana. Hal ini terjadi karena semangat eksploitasi terhadap lingkungan hidup yang tidak diimbangi dengan semangat untuk menjaga dan merawat Lingkungan Hidup.
Pada malam final ini, masing-masing peserta mendapat dua pertanyaan. Pertanyaan pertama yang berdasarkan undian, dalam amplop tertutup. Serta pertanyaan dari dewan juri. Dewan juri terdiri dari Kresensia, Afridue Anjue, Bambang Imam Bakri, Adiyani, dan Irene.
Peserta diberi pertanyaan tentang masalah-masalah yang berkaitan dengan lingkungan, misalnya tentang kebakaran hutan, sampah, ozon, global warming, abrasi pantai, illegal logging, menjaga kelestarian hutan mangrove, dampak penebangan bagi lingkungan dan lain-lain.
Peserta dan tamu undangan juga menikmati alunan lagu dari G-Band. Selain itu, suguhan fashion show dari para Duta LH 2006. Penampilandari Duta Lingkungan Nasional, Andien, membawakan empat buah lagu hitnya.
Para finalis disaring menjadi delapan besar, kemudian enam besar. Juara I Duta LH Kalbar 2007 diraih Dina Yuspita Sari dari Kabupaten Pontianak, dengan nilai 3360. Runner-up I dengan nilai 3310, Marsita Lita dari Singkawang. Runner-up II dengan nilai 3200, Dian Elisabeth Butar Butar dari Melawi. Masing-masing juara mendapatkan piala dari Bapedalda, piagam, voucher Telkomsel, paket La-tulipe make-up.
Menurut Dina Yuspita Sari, resep menangnya adalah, materi LH bukan dihafal, akan tetapi diaplikasikan. Selanjutnya, ia akan mengikuti program Bapedalda untuk kampanye dan sosialisasi LH. Selain itu juga, ia akan menyiapkan diri untuk Pemilihan LH tingkat regional Kalimantan.
Juara Favorit dengan poling sms sejumlah 895, diraih oleh Anggi Setyani dari Sintang, mendapatkan uang tunai Rp. 1.000.000. Harapan II dengan nilai 3135, Angela Valeria dari Landak, mendapatkan uang tunai Rp. 1.500.000.

Harapan I dengan nilai 3165, Vera Delvia dari Sintang, mendapatkan uang tunai Rp. 2.000.000. Runner-up II dengan nilai 3200, Dian Elisabeth Butar Butar dari Melawi, mendapatkan uang tunai Rp. 3.000.000
Runner-up I dengan nilai 3310, Marsita Lita dari Singkawang, mendapatkan uang tunai Rp. 3.500.000. Juara I dengan nilai 3360, Dina Yuspita Sari dari Kabupaten Pontianak, Mendapatkan hadiah uang tunai Rp.4.000.000. □

Eksklusif with Andien : Sampah, Cikal Bakal Masalah Lingkungan

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Pukul 15.30. Sosok cantik the Next Diva Indonesia, hadir dengan rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai. Ia mengenakan jeans biru dan sweater bertopi, berwarna abu-abu. Di bagian depan sweater tersebut, tertulis huruf ‘A’, inisial nama penyanyi muda beraliran jazz. Andien.
Andini Aisyah Hariadi, nama lengkapnya. Ia datang bersama seorang asistennya, di Coffee Shop Hotel Kapuas Palace, Sabtu (21/7). Ia mengucapkan salam pada saya di seberang meja. Tangannya bertemu di depan dadanya, diiringi senyumannya yang manis. “Mau check sound dulu,” ujar Andien berpamitan.
Janji wawancara setelah check sound pun, disepakati oleh Andika Monoarfa, manajer sekaligus juga pacarnya.
Alunan suaranya terdengar dari Function Room Hotel Kapuas Palace. Ia melantunkan beberapa hit-nya, antara lain Milikmu Selalu. “Suara aku diturunin lagi,” pinta Andien, pada salah satu panitia, disela nyanyiannya. Tak lama, ia kembali bernyanyi di tengah stage. Ia memegang minuman mineral botol di tangan kirinya.
Lagu penutup yang dipilih Andien untuk check sound adalah Sahabat Setia. Yang diiringi dengan musik ala rasta, yang pastinya akan menarik si pendengar, turut menikmati musik dan suara emas Andien.

Clean up Indonesia dan Isu lingkungan
Izin untuk wawancara, disetujui Andien. “Di sini saja,” ujarnya, seraya menunjuk meja bundar bertuliskan No.5, di atasnya. Ia duduk pada sebuah bangku, beberapa meter dari panggung.
Menurut Andien, lingkungan dan manusia sama-sama saling membutuhkan dan saling support satu sama lain. “Lingkungan tuh surrounding manusia, dan saling bersimbiosis mutualisme,” ujar Andien, mengutarakan pendapatnya.
Ia mengemukakan orang-orang saat ini lupa akan pentingnya lingkungan. ”Kita sangat tergantung dengan lingkungan,” ujarnya. Ia memberitahu, lingkungan selama ini bernilai bagi hidup dan bisnis. Tapi kita lupa merawatnya, ungkap Andien resah.
Andien memberitahu bahwa bencana alam yang sering terjadi saat ini di Indonesia, merupakan faktor kealpaan dari diri manusia sendiri terhadap lingkungannya. Sehingga, banyak kasus bencana alam yang terjadi di Indonesia. “Beberapa tahun belakangan ini terjadi gempa bumi, tsunami, tanah longsor. Ditambah lagi dengan polusi akibat kebakaran hutan,” ujar Andien.
Ia berasumsi bahwa pentingnya untuk menanggulangi masalah sampah. Bahkan, sebelum menjadi Duta Lingkungan, Andien membentuk kelompok Clean up Indonesia, yang mengangkat isu mengenai sampah. “Sebenarnya itu mengacu pada Clean up the world, program PBB. Waktu itu Indonesia belum menerapkan program tersebut,” ungkap Andien memberitahu.
Andien mengemukakan bahwa sampah merupakan cikal bakal faktor yang menentukan berbagai masalah. Salah satu akibatnya adalah banjir. Ia mengatakan bahwa setiap hari jumlah sampah yang diproduksi semakin banyak.
Isu global warming sebenarnya isu lingkungan yang sudah lama terjadi. Menurut Andien, mungkin di Indonesia baru booming sekarang, karena kondisi lingkungan yang semakin mengenaskan. Ia berpendapat bahwa kita harus sadar dan bisa mensosialisasikan isu lingkungan.
Menurut Andien, pandangan dunia terhadap Indonesia saat ini sebagai negara yang perlu “dikasihani”. “Tiap diberitain di CNN, selalu berita bencana,” ujar Andien. Ia juga mengatakan bahwa mungkin ada pandangan dunia mengenai kekayaan alamnya. Akan tetapi, mereka juga melihat rusaknya karang dan kotornya pantai yang ada di Indonesia saat ini.
Sebagai seorang Duta Lingkungan, Andien tidak merasakan tugas tersebut sebagai beban. Ia mengungkapkan bahwa apapun yang dilakukan merupakan hal yang positif. “Aku juga tidak suka sesuatu yang berantakan, seperti sampah berserakan,” ujar Andien memberitahu. Ia juga selalu menasehati orang untuk cinta hijau dan udara bersih. Memberitahu hal-hal yang positif bagi Andien adalah pahala.
Duta Lingkungan Hidup Kalbar 2007 yang terpilih, menurut Andien harus punya komitmen dan komunikasi skill yang baik. Hal tersebut agar bisa mengsosialisasikan isu lingkungan kepada masyarakat. “Aku ngerasa hal paling susah adalah sosialisasi,” ujar Andien. Hal tersebut dikarenakan tidak semua isi kepala setiap manusia itu sama. “Ketika ada masalah lingkungan, orang memandang dari berbagai sudut pandang mereka sendiri-sendiri. Apabila tidak ada kesatuan persepsi mengatasi masalah lingkungan, percuma,” ungkap Andien. Ia beranggapan bahwa sesama masyarakat harus saling rangkul menjaga lingkungan.

Tentang Album Baru
Kesibukan dirinya sebagai duta lingkungan, tak menyebabkan keinginan dara manis ini untuk mengeluarkan album. Musik dalam album yang sudah dikeluarkan Andien selama ini, lebih kental pada musik pop yang easy listening.
Andien memberitahu akan mengeluarkan album yang keempat. “Basiclly, album yang akan dikeluarkan merupakan album The Best Of,” ujar Andien, saat diwawancarai selepas check sound. Ia juga mengatakan bahwa akan ada dua atau tiga lagu baru dalam album tersebut.
Pertanyaan mengenai kapan akan dikeluarkan album tersebut, dengan tersenyum manis ia menjawab, setelah selesai manggung di sini akan digarap.
Ketika ditanya mengenai sentuhan jazz dalam setiap lagunya yang semakin berkurang, Andien sambil tersenyum berkata tak sepenuhnya ia melupakan ‘akar’ karirnya tersebut. “Saya berjanji akan terus suka dengan musik jazz. Saya juga akan terus memperkaya musik jazz,” ujar Andien, berkomitmen.
Komitmen Andien yang teguh terhadap jazz, beriringan dengan komitmennya terhadap kelestarian lingkungan.
Ah,.. Andien. Ternyata bukan hanya parasmu yang cantik. Tapi juga pribadimu. □

Tetap Yakin, Meski sebagai Kandidat Termuda

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Sebagai kandidat Duta Lingkungan Hidup 2007, harus memiliki semangat tinggi untuk berkompetisi dan mengusai isu lingkungan, di daerahnya sendiri. Hal tersebut juga dimiliki peserta termuda, perwakilan Sintang, Anggi Dwi Setyani. Dara yang satu ini, bercita-cita menjadi dokter.

Sulit sekali memiliki kesempatan wawancara dengan Anggi, panggilan akrabnya. Ia dapat diwawancara tepat pukul 19.10. Kesempatan wawancara dengan Anggi hanya sepuluh menit. Apa sebab? Anggi baru saja menyelesaikan tes wawancara. Ia harus bersiap diri dan melakukan gladi resik, persiapan malam final, Sabtu (21/7) malam, setelah acara makan malam.

Ia berujar, kegiatan karantina yang dijalani kandidat Duta LH, Jumat (20/7), sangat padat. ”Tidak sempat istirahat siang,” ujar Anggi.
Hal tersebut dikarenakan, ada materi tambahan dari pihak kepolisian, mengenai penanganan terhadap pelaku yang menguras sumber daya alam (SDA). Meskipun begitu, ia mengaku tetap menyenangkan dan selalu dibawa senang.

Ia mengenakan blazer dan rok warna hitam. Meski lelah, Anggi merasakan banyak pengalaman baru. Manfaat kegiatan ini juga banyak. Bila awalnya tidak tahu, sekarang menjadi tahu.

Menurutnya, etika pengembangan diri sangat penting. Walaupun kelihatan kegiatan itu nampaknya sederhana saja. Bila mengenai lingkungan, ia mengakui mendapatkan banyak informasi mengenai mangrove dan manfaatnya bagi kehidupan.

Ketika ditanya mengenai Lingkungan Hidup yang masih asri dan menarik di daerahnya, Anggi tanpa ragu menjawab Bukit Kelam. Alasannya, tempat itu masih banyak pohon rindang dan tempat panjat tebing.

Selain itu, kekayaan alam Bukit Kelam, seperti Kantung Semar (Nepenthes clepeata), sudah dikenal masyarakat luas. Bahkan, hingga ke luar negeri. Di sana, ada sebuah perusahaan air minum mengambil pasokan air sebagai bahan bakunya.

Ia mengatakan, Bukit Kelam ramai dikunjungi orang setiap malam minggunya.
Dampak kunjungan menyebabkan Bukit Kelam agak kotor. Kurangnya kesadaran pengunjung menjaga kebersihan, menyebabkan sampah berserakan.

Anggi mengatakan, banyak bekas penambang emas tanpa izin(PETI) ditemukan di Sintang. Ia menyebutkan Kampung Ladang di Sungai Melawi, sebagai contoh. Banyak gundukan pasir di sana. Akibatnya, air sungai menjadi kotor dan dan semakin dangkal. Tapi, penduduk yang menggunakan air sungai tersebut, tidak mengeluh dengan keadaan itu. Hal itulah yang membuatnya risau.

”Padahal, setiap hari mereka mengunakan air itu, untuk keperluan rumah tangga. Dan itu tidak baik bagi kesehatan,” kata Anggi, sambil berseru.

Setelah pemilihan Duta LH selesai, ia berencana memberitahukan kepada lingkungan di sekolah, akan arti pentingnya menjaga lingkungan hidup. Yang terpenting, bagi diri sendiri dulu. Jangan buang sampah sembarangan, katanya.

Ia berujar, lingkungan yang bersih, merupakan sebagian dari iman. Dan, lingkungan kotor, akan menjadi sarang nyamuk dan menyebabkan malaria dan demam berdarah.

Anggi mengatakan, tes tertulis dapat dilaluinya dengan baik. ”Alhamdulillah, hampir semua bisa dijawab,” ujar Anggi.

Namun, ada satu tes yang membuatnya ”gregetan”. Yaitu, tes wawancara. ”Pertanyaan tentang wawasan lingkungan, menjebak,” kata Anggi.

Ketika ditanya kenapa gregetan, ia pun bercerita. Ketika ditanya tentang dampak PETI, ia menjawab pencemaran air. Setelah itu, ia ditanya lagi. Pencemaran air apa? Pokoknya terus berkaitan.

Anggi tetap optimis dengan perjuangannya. Meskipun, ia sebagai peserta paling muda dan masih duduk di bangku SMA, kelas II. Apalagi, yang ikut pemilihan, ada yang kuliah di UI, STPDN, dan lainnya.

Sebagai perwakilan dari Sintang, ia juga didukung oleh Wakil Bupati Sintang, Jarot. Sebelum berangkat, Anggi ketemu dengannya.

“Beliau yakin, salah satu wakil dari Sintang, bisa meraih juara di tiga besar,” kata Anggi, menirukan ucapan sang wakil bupati.□


Nama : Anggi Dwi Setyani
TTL : Sintang, 2 Mei 1991
Sekolah : SMAN 2 Sintang, Kelas II
Nama Ayah : Yunizar
Nama Ibu : Ernarawati
Hobi : Menari
Prestasi : Juara I lomba busana pengantin se-Kota Sintang
Juara fotogenik lomba busana casual
The best costum model cover smile

Bertahan dari Cobaan

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Ketegaran hati adalah kekuatan tak kasat mata. Dalam hidup, melakukan pilihan merupakan satu keharusan. Meski, semua itu terkadang sulit untuk menentukannya. Dilema itu, kini menggelayuti diri Marsita Lita. Kandidat Duta Lingkungan Hidup 2007.

Kamar 333, hotel bintang tiga. Lita duduk di kursi. Pada mebel berbahan kayu yang terletak di antara tempat tidur dan jendela kamar, itulah, ia duduk.

Ia baru saja mandi. Air itu seakan menghapus penat dalam raut wajahnya. Seharian ini, ia menjalankan kunjungan lapangan. Kegiatan itu bagian dari jadwal karantina Duta Lingkungan Hidup 2007. Jadwal kegiatan mereka padat.

Pukul 19.00 wib, merupakan waktu untuk kelas beauty session. Kegiatan itu sudah terjadwal bagi para Duta Lingkungan Hidup. Empat puluh lima menit waktu tersisa untuk wawancara, dan Lita merelakan waktu makan malamnya tersita.

Lita perwakilan dari Singkawang. Ia merasa mendapatkan pengalaman baru dengan mengikuti pemilihan Duta LH. Baginya, suatu kebanggaan bisa turut berpartisipasi dan menjadi perwakilan dari kota amoy. “Dengan pemilihan Duta LH, saya bisa menyampaikan aspirasi untuk menjaga lingkungan,” ujar Lita.

Dengan karantina Duta LH yang diikuti semua perwakilan kabupaten di Kalbar, turut menambah daftar sahabatnya. Ia dapat mengenal utusan dari Kabupaten lain, dan banyak ketemu orang. Ia juga semakin tahu, isu-isu lingkungan di Kalbar, saat ini.

Lingkungan merupakan seluruh lingkungan hidup maupun tidak hidup. Yang dibutuhkan dan berada di sekeliling kehidupan ini. Lingkungan itu, sudah banyak yang rusak oleh orang tidak bertanggungjawab, ujar Lita.

Ia berpendapat, banyak kayu ditebang para cukong kayu. “Cukong kayu hanya memikirkan isi dompetnya saja. Mereka tidak memikirkan efek yang terjadi terhadap lingkungan dan orang-orang disekitarnya,” kata Lita, sedikit kesal. Mungkin, para cukong tidak merasakan akibatnya. “Tapi, yang lain?,” ujar Lita penuh tanya.

Lita memandang, Illegal Logging mengakibatkan dampak buruk bagi kehidupan manusia. Ia mengemukakan, pemanasan global yang terjadi saat ini, merupakan akibat dari IL. Efek yang ditimbulkan, bukan hanya untuk satu lingkungan saja. Tapi, berpengaruh sedunia.

Perubahan iklim yang terjadi saat ini, juga dikarenakan pemanasan global, ujar Lita. Menurutnya, sulit memprediksi musim hujan dan musim kemarau. Dulu, orang bisa saja memperkirakan, kalau Oktober hingga Februari merupakan musim hujan. Sekarang ini, orang tidak tahu.
Karenanya, Lita menghimbau permasalahan mengenai hutan. Pengenalan mengenai lingkungan, harus diajarkan sejak usia dini. Ini merupakan antisipasi yang harus dilakukan dan segera dilaksanakan. Hal ini penting, untuk menambahkan kesadaran dan kecintaan terhadap lingkungan. “Sekaligus juga membentuk watak untuk selalu cinta lingkungan,” kata Lita.

Lita ingin hutan tidak dirusak. Apabila orang ingin memanfaatkan sumber daya hutan, harus memanfaatkan sesuai dengan fungsi dan secukupnya. “Kalaupun ingin menebang, harus lihat berapa diameter kayu. Jenis tanaman dan umur tanaman. Jangan sembarangan menebang,” ujar Lita.

Dulunya, masyarakat memanfaatkan hutan dengan cara tebang tanam. Sekarang ini lebih kentara dengan tebang habis. Hal seperti itu, tentu tidak bagus.

Peran hutan sangat penting bagi kehidupan. Hutan merupakan penghasil oksigen yang sangat dibutuhkan. Hutan juga tempat hidup hewan dan tumbuhan. Akibat maraknya pembalakan liar, tumbuhan pun semakin langka. Ia memberi contoh.

“Dulu tumbuhan Tengkawang sangat banyak, sekarang sudah langka. Padahal, buahnya bisa digunakan dan dikonsumsi,” kata Lita.

Karena itu, Lita menyampaikan aspirasinya, ketika bertemu Wakil Gubernur Kalbar dan Wakil Rakyat di DPRD, Kamis (19/7) siang.

Lita menyampaikan aspirasinya ke Wakil Gubernur. Ia menanyakan, sejauhmana perhatian pemerintah terhadap perbaikan lingkungan. Kepada anggota DPRD, Lita menanyakan sejauh mana bantuan DPRD, kepada instansi lingkungan terkait pelestarian lingkungan, khususnya Singkawang.

Ia berpendapat, isu lingkungan di Singkawang adalah abrasi. Dengan terjadinya abrasi, secara perlahan, pemukiman warga semakin sempit. Begitu juga dengan masalah jalur jalur transportasi. Ikut terganggu.

Solusi untuk mengatasi hal tersebut, menurutnya bisa dilakukan dengan menanam mangrove atau bakau, untuk jangka panjang. Sedangkan untuk jangka pendek, dilakukan dengan memasang triangle penghancur ombak.

“Itu semua butuh dana dan dukungan pemerintah, serta peran masyarakat sendiri,” kata Lita.


Sebuah cobaan
Lita meneteskan air mata di bis, ketika kunjungan lapangan. Ia kehilangan kakek tercintanya. “Kakak salah SMS,” ujar Lita, setelah memperoleh informasi mengenai kakeknya yang dipanggil Sang Kuasa.
Kepergian sang kakek sekitar pukul 13.00, tak diketahui Lita. Yang mengikuti jadwal kegiatan karantina Duta LH. Lita mengenang kasih sayang sang kakek. Menurutnya, sang kakek sangat peduli dengan kegiatan yang dilakukan Lita.

Lita pun harus menentukan pilihan sulit. Terus mengikuti kegiatan, atau harus pulang dengan resiko kehilangan kesempatan. Lita memutuskan untuk terus mengikuti acara.

Pilihan tersebut penuh pertimbangan. Bila Lita pulang, ujarnya, sia-sia perjuangan selama ini. Ia berpendapat, jika pulang ke Singkawang, hal itu tidak akan merubah apa-apa. “Lita yakin, jika masih ada, kakek akan mendukung dan menginginkan Lita untuk tetap berada di sini,” kata Lita, dengan perasaan tertahan.□




Nama : Marsita Lita
Tempat dan tanggal lahir : Singkawang, 20 Maret 1990
Alamat : Jalan P. Natuna, Gang Berkat No.9A Singkawang
Nama Ayah : Drs. Ahyadi M.M
Nama Ibu : Susianti
Hobi : Menari
Prestasi : Juara I Busana Daerah se-Kota Singkawang 2004
Mewakili Singkawang dalam Festival Budaya Bumi
Khatulistiwa untuk tari daerah Duta Lingkungan Hidup
Singkawang 2007

Persoalan LH Bukan Dominasi Pria

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Brain, Beauty, Behavior. Atau yang sering dikenal dengan 3B, merupakan paduan sempurna yang bisa ditemukan pada sosok cantik Suri Hartanti.

Pukul 15.40 WIB kemarin. Suri tak menampik ketika akan diwawancara disela-sela kesibukannya sebagai moderator acara pembekalan materi bagi para Duta Lingkungan Hidup 2007.
Setelah mengambil tas tangannya, kami meninggalkan Ovale Room dan melangkah menuju pendopo. Di tepi kolam renang salah satu hotel bintang tiga, Rabu (18/7), Suri memaparkan pemikirannya tentang sosok perempuan.
Suri berpendapat perempuan merupakan sosok yang sangat spesial, sebagai anugerah dari Tuhan dan harus dihormati. Perempuan menurutnya, mempunyai kelebihan berupa kekuatan hati yang luar biasa dibandingkan kaum laki-laki. “Dari para perempuanlah para pelaku sejarah bangsa lahir,” ujar Suri tegas.
Perempuan selalu mengikuti kata hatinya, ujar Suri. Terlebih, ketika mengatasi suatu masalah. Kata hati yang menjadi soft power ini, dilakukan dengan penuh kelembutan, untuk mencari suatu solusi. Ia mengatakan bahwa Duta Lingkungan Hidup ini juga menggunakan soft power dalam melaksanakan tugasnya.
Tugas seorang Duta Lingkungan Hidup adalah untuk mengajak dan mensosialisasikan program-program lingkungan. Program tersebut merupakan program yang telah disusun oleh Bapedalda, terkait dengan isu-isu lingkungan yang terjadi. Termasuk sosialisasi mengenai aktivitas eksploitasi lingkungan yang berdampak merugikan masyarakat, khususnya di Kalimantan Barat.
“Sosialisasi melalui para duta ini lebih efektif untuk diterima masyarakat,” ungkap Suri.
Ia memandang bahwa saat ini peran perempuan sebagai aktivis lingkungan hidup tidak bisa dipandang sebelah mata. Menurutnya, masalah lingkungan hidup saat ini bukan hanya milik kaum pria saja. Akan tetapi, sudah menjadi tanggung-jawab semua orang. “Kita tidak bisa beranggapan masalah lingkungan hidup hanya bisa diatasi oleh laki-laki. Kerusakan lingkungan saat ini banyak dan butuh apresiasi semua orang untuk meningkatkan kecintaan akan lingkungan,” ujar Suri memberitahu.
Peran perempuan sebagai aktivis dalam lingkungan hidup, menurut Suri, sudah optimal. Menurutnya, aksi-aksi para aktivis perempuan sudah mulai kelihatan. Bukti bahwa masalah lingkungan hidup sebagai masalah bersama juga dicontohkan oleh Suri berdasarkan pengalaman pribadinya.
Ia bercerita mengenai ajang pemilihan yang baru saja diikutinya. Kriteria yang masuk dalam penilaian para juri, salah satunya adalah isu lingkungan. Menurutnya, seorang Putri Indonesia dan Miss Indonesia juga harus respek terhadap permasalah lingkungan.
Menurut Suri, lingkungan hidup bukanlah suatu hal yang asing bagi kita. Karena dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu bersentuhan dengan lingkungan.
Selama menjabat sebagai duta lingkungan hidup pun, ia jalani dengan berbagai aktivitas. sosialisasi seperti persoalan efek kebakaran hutan bagi kehidupan, bagi-bagi masker saat terjadinya kabut asap, mengikuti seminar mengenai lingkungan dan mensosialisasikan hasilnya kepada masyarakat, juga melakukan dialog interaktif lingkungan hidup di media elektronik lokal.
“Sebenarnya Suri ingin action langsung ke lokasi seperti ke lokasi PETI. Ketemu langsung dengan para penambang dan memberikan penyadaran kepada mereka. Tapi belum tercapai karena belum sempat,” ujar Suri mengutarakan sedikit kekecewaannya.
Suri menyatakan bahwa tidak mudah mengajak orang lain untuk sadar lingkungan. Perbedaan karakter tiap individu merupakan kendala utamanya.
Menurutnya, banyak orang-orang tidak open mind terhadap permasalahan lingkungan yang terjadi saat ini. Isu lingkungan yang menjadi sorotan utamanya adalah sampah, meskipun saat ini isu yang terdengar adalah global warming dan dan climate exchange. Ia berpendapat bahwa sampah juga memberikan efek yang mengarah pada global warming. “Sampah dibakar menghasilkan asap. Asap dapat mengakibatkan efek rumah kaca. Rumah kaca menyebabkan global warming,” ujar Suri memberitahu proses kerusakan lingkungan dari sampah.
Menurut Suri, sekarang waktunya kita bersama harus mengubah paradigma tersebut agar efek dari sampah bisa diminimalkan melalui 5R. Ia menerangkan bahwa 5R tersebut ialah respect, reduce, re-use, re-plan, dan re-cycle. Maksud Suri ialah kita harus peduli terhadap sampah, meminimalkan sampah, menggunakan kembali, memanfaatkan kembali, mendaur ulang.
Agar tercapai, Suri menyarankan agar individu harus disiplin. Menurutnya, kesadaran terhadap lingkungan harus dimulai dari diri sendiri. Mulai bersih-bersih di lingkungan sekitar. “Tapi, jangan untuk motif mencari pujian. Jadikan untuk kepuasan diri sendiri, dan memberikan aura untuk mengajak orang lain disekitar kita,” ungkap Suri. Menurutnya, pendekatan seperti ini merupakan pendekatan secara psikologis yang bisa diterapkan. Suri juga mengkaitkan dengan misi Kota Pontianak yang maju dan berwawasan lingkungan.
“Pemerintah tidak bisa jalan sendiri, tapi harus didukung oleh penduduknya,” ungkap Suri. Ia mengusulkan agar pemimpin Kota Pontianak dan Kalbar kelak, harus lah pemimpin yang berwawasan lingkungan pula. □


Nama : Suri Hartanti
Tempat dan tanggal lahir : Pontianak, 30 Desember 1983
Pendidikan : Sarjana Teknik Lingkungan, Sekolah Tinggi Teknik Lingkungan Yogyakarta

Hobi : Baca, Travelling
Ayah : Sataruddin Ramli
Ibu : Kartini Chairuddin
Prestasi : Juara 2 Dare Kota Pontianak 2006
Juara 1 Duta Lingkungan Hidup Kota Pontianak 2006
Runner-Up II Duta Lingkungan Hidup Kalbar 2006
Runner-Up I Puteri Indonesia Kalbar 2006
Juara Harapan I Duta Lingkungan Hidup Regional Kalimantan 2007
Miss Indonesia perwakilan Kalbar 2007

Duta LH Kalbar 2006, Eksploitasi SDA Belum Ramah Lingkungan

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Merryshella Aulia Arizona (21), mengenakan baju dan celana jeans berwarna hitam ketika ditemui siang itu. Selempang Juara I Duta Lingkungan Hidup (LH) yang diraihnya tahun lalu melingkar pas di tubuh semampainya. Di salah satu lobi hotel bintang tiga, Selasa (17/7), ia terlihat siap dengan pertanyaan yang akan diajukan saat wawancara.
Obrolan ringan segera mengalir dari mulut sosok ramah dan supel ini. Dua LH Kalbar yang juga menyabet Runner Up I Duta Lingkungan Hidup Regional Kalimantan yang berlangsung di Kalimantan Timur ini memang berkepribadian hangat.
Isu mengenai lingkungan yang up to date saat ini, khususnya di Kalbar, menjadi sorotan dara perwakilan Kabupaten Sintang saat mengikuti pemilihan duta lingkungan hidup tahun lalu ini.
Menurut Shella, panggilan akrabnya, banyak Sumber Daya Alam (SDA) di Kalbar yang dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai mata pencaharian sehari-hari. Akan tetapi, lanjutnya, pemanfaatan atau eksploitasi SDA tersebut tidak mengacu pada prinsip-prinsip yang ramah lingkungan hidup.
Pemanfaatan yang ia maksudkan seperti penambangan emas tanpa izin (PETI) dan pembalakan hutan secara liar (illegal logging).
“Akibat yang ditimbulkan oleh PETI berdampak buruk bagi masyarakat saat ini, terutama menurunnya kualitas air baku,” ujar Shella. Ia menjelaskan bahwa penduduk di pinggiran aliran sungai kawasan PETI, tidak dapat menikmati lagi air yang bersih dikarenakan kotor dan sudah tercemar.
Seraya tersenyum, ia mengucapkan pepatah yang “melegenda” di Pontianak. Para pendatang yang belum minum air Kapuas berarti belum sampai. “Siapa yang mau minum air Kapuas sekarang?,” seloroh Shella.
Berbalik serius, ia pun mengemukakan tiga hal yang harus dilakukan untuk mengatasi masalah lingkungan. Menurutnya, harus dilakukan pendekatan kesejahteraan bagi masyarakat agar mereka tetap berdaya.
“Kerusakan lingkungan dikarenakan eksploitasi hutan yang berlebihan untuk mencukupi kebutuhan ekonomi mereka, tentu didorong pengetahuan mereka akan pentingnya hutan sangat minim,” ujar Shella.
Pendekatan sosial menurutnya juga perlu dilakukan, sekaligus juga dengan penegakan hukum yang harus dijalankan dengan lebih konsekuen. Ia berujar, selama ini sosialisasi mengenai pentingnya lingkungan sudah dilakukan secara maksimal, akan tetapi tetap saja banyak pelanggaran yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung-jawab.
“Tindakan yang mengekspolitasi hutan secara berlebihan, harus ditangani secara serius agar mereka jera,” ungkap Shella. Ia berpendapat bahwa bila tidak ada efek jera bagi pelanggar, semua sosialisasi akan sia-sia. Lingkungan hidup terkadang orang pandang hanya sebagai tempat hidup saja.
Orang-orang hanya memikirkan bagaimana menghasilkan rupiah dari lingkungan, tanpa memikirkan dampak ke depan. Tetapi bagi putri pasangan Paulus Djaoeng dan Susi Lisniawaty Satibi ini, lingkungan hidup merupakan tempat untuk memberi hidup.
Selama menjalani kegiatannya sebagai seorang duta, Shella telah melakukan beberapa kegiatan yang berkaitan dengan pelestarian hutan maupun aksi terhadap lingkungan. Sosialisasi, kunjungan lapangan, dan bagi-bagi masker, adalah sebagian kegiatannya. “Kami juga melakukan Adiwiyata di setiap kabupaten,” ujarnya memberitahu. Adiwiyata merupakan program sekolah yang berbasis lingkungan hidup.
Tantangan terbesar baginya menjadi seorang duta adalah, orang-orang hanya memandang pemilihan duta cuma ajang sia-sia dari Bapedalda. “Saya sedang berjuang untuk mengubah persepsi dan paradgma orang mengenai hal tersebut,” tekad Shella. Menurutnya, perjuangan yang dilakukannya agar bisa diteruskan oleh generasi berikutnya untuk mengsosialisasikannya.
***
“Sebagai negara hukum, kita harus mentaati apa yang telah ditetapkan oleh negara. Aturan-aturan tersebut seharusnya dijalankan dengan maksimal dan dipatuhi oleh segala lapisan masyarakat,” katanya. Kebijakan tersebut, menurut Shella sebagian hanyalah pada wacana saja. “Aplikasinya apa?,” tanya Shella.
Ia mencontohkan kasus illegal logging. Menurutnya, ada juga aparat pemerintah yang terlibat melakukan pembalakan hutan. Ia dengan bijak mengingatkan bahwa sebagai masyarakat yang taat hukum, kita harus mengikuti prosedur yang ada. “Kalau mau protes, ada tahapan birokrasi yang harus dilalui,” ujarnya.
Ia mengangguk ketika ditanya apakah Kalbar merupakan pengekspor asap terbesar bagi negara tetangga dan provinsi lainnya. Hal tersebut, menurutnya, dapat kita lihat beberapa hari ini. “Banyak asap menyelimuti kota Pontianak. Untung saja semalam masih ada hujan,” ujarnya. Ia berpendapat bahwa banyak asap dikarenakan pembakaran lahan untuk pertanian.
Cara mengatasi keadaan ini menurut Shella, dengan menghilangkan budaya praktis masyarakat yang membakar hutan. Solusi alternatif menarik, dicetuskannya. “Pembukaan lahan boleh-boleh saja. Asal harus ada peremajaan. Petani yang membuka lahan dan menebang pohon, lalu biarkan kering. Baru dibakar,” ungkap Shella.
Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi asap. Selain itu petani juga harus memberi sekat di sekitar lahan seperti parit, saat membakar. Solusi tersebut dimaksudkan agar pembakaran tidak menjangkiti lahan lainnya.
Ia tidak menjagokan siapapun, karena setiap peserta mempunyai kesempatan yang sama untuk menang. Ia yakin bahwa manusia punya kemampuan otak yang sama. Akan tetapi, lanjutnya, tergantung bagaimana orang tersebut untuk menerima informasi yang akan mengisi ruang otak itu.
“Otak manusia itu sama seperti 1.250 komputer,” ujar Shella memberitahu. Jadi, bila peserta ingin menjadi duta lingkungan hidup 2007, bekal yang mereka persiapkan harus cukup. “Mereka juga harus menguasai isu lingkungan yang ada di daerah mereka masing-masing,” ungkap Shella memberi sedikit bocoran.□



Nama : Merryshella Aulia Arizona
Tempat dan tanggal lahir : Bandung, 20 September 1985
Alamat rumah : Jl. Y.C. Oevang Oeray, Sintang
Ayah : Paulus Djaoeng
Ibu : Susi Lisniawaty Satibi
Hobi : Menyanyi, berenang
Anak ke : 2 dari 5 bersaudara
Prestasi : Juara I Dare Gawai Dayak 2006 di Sintang
Duta Lingkungan Hidup Kalbar 2006
Runner Up I Duta Lingkungan Hidup Regional Kalimantan 2007

*Sosialisasi Lomba Desa PHBS dan Pemberdayaan PKK, Keikutsertaan Pertama bagi Kalbar

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Lomba PHBS tingkat Nasional yang akan dilaksanakan pada Oktober hingga Desember 2007, disosialisasikan oleh Tim Penggerak PKK Kalbar, sejak 16-17 Juli ini. Jika berhasil lolos dalam seleksi lomba desa Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) ini, maka keikutsertaan Kalbar di tingkat nasional merupakan keikutsertaan pertama.
Di tahun sebelumnya, Kalbar belum berhasil lolos seleksi. Faktor ketidaktahuan terhadap indikator penilaian menjadi kendalanya. “Baru tahun ini kita bisa mendapatkannya, sekaligus juga sosialisasi,” ungkap Dedet Hidayati, Ketua Pokja IV PKK Provinsi Kalbar.
Lomba PHBS ini dinilai berdasarkan 7 indikator PHBS di rumah tangga dan 3 indikator gaya hidup sehat. Indikator gaya hidup sehat adalah makanan dengan gizi seimbang, aktivitas fisik setiap hari, dan tidak merokok.
Indikator rumah tangga terdiri atas pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan, asi eksklusif, mempunyai jaminan pemeliharaan kesehatan, tersedianya air bersih dan jamban, kesesuaian luas lantai dengan jumlah penghuni, serta lantai rumah bukan dari tanah.
Menurut Dedet, dengan adanya PHBS akan mempercepat pencapaian Indonesia sehat 2010. “Perilaku hidup sehat penting dan harus di mulai hari ini juga,” ujarnya.
Penutupan sosialisasi dan pemberdayaan PKK ini ditutup oleh Ketua Tim Penggerak PKK Kalbar, Maya Damayanti, Selasa (17/7) kemarin. Menurut Maya, kegiatan PHBS merupakan program PKK Pokja IV bidang kesehatan, perencanaan hidup sehat, dan kelestarian lingkungan hidup.
“Salah satu misi PKK adalah meningkatkan derajat kesehatan, kelestarian lingkungan hidup serta membiasakan hidup berencana dalam semua aspek kehidupan, dan perencanaan ekonomi keluarga dengan membiasakan menabung,” ujar Maya.
Sosialisasi ini juga merupakan pemberian materi mengenai PHBS bagi para perwakilan tim penggerak PKK Kabupaten dan Kota se-Kalbar, masing-masing diwakili oleh 2 orang peserta dan Dinas Kesehatan Kabupaten dan Kota se-Kalimantan Barat. “Saya harapkan kepada semua peserta khususnya para kader PKK agar semua materi dapat dipahami dan disosialisasikan sampai ketingkat bawah,” pintanya.
Sosialisasi lomba PHBS dihadiri sejumlah nara sumber diantaranya tim penggerak PKK pusat, departemen kesehatan, dinas kesehatan Provinsi Kalbar, serta dinas sosial dan pemberdayaan masyarakat Provinsi Kalimantan Barat.
PHBS di rumah tangga merupakan salah satu kewenangan wajib standar pelayanan minimal bidang kesehatan bagi pemerintah kabupaten atau kota sesuai peraturan pemerintah Nomor 65/2005. Selain itu, pembinaan PHBS juga bagian dari Kesatuan Gerak PKK-KB-Kesehatan.
“Ini merupakan program kerjasama tim penggerak PKK Provinsi Kalbar dan dinas Kesehatan Provinsi Kalbar,” ungkap dedet. Menurut Dedet, perwakilan yang tidak hadir pada sosialisasi ini adalah kabupaten Landak. Sedangkan jumlah peserta keseluruhan yang mengikuti sosialisasi sebanyak 31 orang.
Tujuan yang ingin dicapai melalui sosialisasi desa PHBS ini, agar individu di masyarakat dapat hidup mandiri dan berperilaku hidup yang sehat. “PHBS harus dimulai dari diri kita sendiri, karena hadiah yang paling berharga adalah kesehatan,” timpalnya. □

Homeschooling, Pendidikan Alternatif

Arthurio OA dan Herkulanus Agus

Borneo Tribune, Pontianak
Sekolah merupakan lembaga yang terstruktur dan klasikal. Kelemahan sekolah itu sendiri adalah menyamaratakan kemampuan anak, dengan waktu ketat dan aturan terikat yang dianggap para orang tua sudah tidak “pas” lagi. Hal ini disampaikan oleh Ali Daud, Kepala Pendidikan Luar Sekolah Pemuda dan Olahraga, Senin (16/7), di kantornya.
Akses untuk memperoleh sekolah yang bermutu, diikuti pula dengan biaya pendidikan yang mahal. Hal ini selalu dikeluhkan oleh para orang tua murid. Ditambah lagi, kondisi perekonomian yang tidak menentu. Oleh karena itulah, pendidikan alternatif sangat penting perannya untuk menggantikan peran sekolah formal yang ada saat ini. Tentunya, dengan biaya yang dapat terjangkau pula.
Pendidikan yang diperoleh melalui Homeschooling, masih belum ditemui di Kalimantan Barat, ujar Ali Daud. Ia menyatakan bahwa pemerintah pusat sedang mengolah peraturan mengenai Homeschooling, terlebih membahas seperti apa Homeschooling yang diterapkan dan ke mana harus mengaksesnya.
“Ini bukan program baru. Tetapi keinginan pemerintah untuk memfasilitasi keinginan masyarakat yang nantinya ingin agar anaknya belajar tidak hanya melalui pendidikan formal,” ujar Ali Daud.
Menurut Ali Daud, Homeschooling muncul dikarenakan perubahan paradigma dari para masyarakat itu sendiri. Ia mengungkapkan bahwa kemungkinan dikarenakan masyarakat yang tidak puas akan sistem pendidikan. “Itu bisa saja dari segi kelulusan, waktu, dan tempat,” ujar Ali Daud. Hal tersebut mengakibatkan para orang tua murid menginginkan agar anaknya dididik dirumah.
Pendidikan merupakan salah satu faktor penentu dalam pembangunan suatu negara. Negara yang mempunyai sistem pendidikan yang sudah maju dan memadai, pastilah negara yang mempunyai tenaga-tenaga handal diseluruh lini pembangunan. Sebut saja negara Jepang, yang selalu maju dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologinya.
Indonesia dengan program wajib belajar 9 tahun ditambah lagi dana Bantuan Orientasi Sekolah (BOS), seakan masih dalam tahap mencari pola pendidikan yang baik.
Bila di negara luar ataupun di Jakarta, Homeschooling tumbuh subur. “Itu tergantung dari keinginan dan kemauan masyarakat. Bila ada yang ingin, welcome saja,” ujar Ali Daud.

Pentingnya Tempat Penitipan Anak

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Seiring perkembangan jaman dan meningkatnya kebutuhan akan ekonomi keluarga, peran perempuan tak bisa dipandang sebelah mata. Perempuan ada yang memegang peran ganda sebagai pengurus rumah, sekaligus menjadi tulang punggung keluarga.
Mayam S. Meliala, Pokja IV PKK Pusat, berkata, seharusnya ada tempat penitipan anak di perusahaan atau pun di instansi.

Hal tersebut diutarakan Mayam, karena para ibu yang berkerja, kurangnya waktu untuk mengurus bayi dikarenakan pekerjaan menumpuk.

Ia melihat, saat ini pekerja perempuan yang mempunyai anak bayi, tidak punya kesempatan lagi untuk anaknya. “Padahal, bayi seharusnya diberikan ASI eksklusif selama berusia 0-6 bulan,” ujar Mayam.

Pemberian ASI eksklusif ini tidak boleh terhenti. Apabila tempat penitipan anak dapat dibangun di setiap instansi ataupun perusahaan. Sang ibu dapat menyusui anaknya saat istirahat. “Kasihan ibunya bila harus bolak-balik dari kantor ke rumah untuk menyusui bayi. Capek,” ungkap Mayam.

Apalagi bila ASI disimpan dalam botol dan didinginkan. ASI juga punya batas waktu penyimpanan. Selama memberikan ASI, akan terjalin hubungan batin lebih erat antara ibu dan anak. Menurutnya, akan tercipta kedekatan khusus apabila hal tersebut diterapkan.

Setelah 6 bulan, ibu yang memiliki bayi juga dianjurkan memberikan MP-ASI (Makanan Pendamping ASI) sebagai asupan tambahan bagi bayinya. MP-ASI berupa roti untuk bayi yang dihaluskan. Bisa juga berupan makanan sejenis, agar kebutuhan bayi akan nutrisi tercukupi.

Menurut Ali Daud, Kepala Pendidikan Luar Sekolah Pemuda dan Olahraga, perlunya partisipasi dari pihak ke tiga, perusahaan atau instansi, mengenai pembangunan tempat penitipan anak ini.

Selama ini, tempat seperti itu belum dibentuk. “Padahal, bila tempat itu dibangun, penerapan pendidikan usia dini dapat pula diterapkan,” ujar Ali Daud.□

Peran PKK dalam Pemberdayaan Rumah Tangga

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK), merupakan penyambung program pemerintah, hingga ke Kelompok Dasa Wisma. Hal tersebut diutarakan Mayam S. Meliala, Pokja IV PKK Pusat, ketika menyampaikan sosialisasi lomba desa PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) dan Pemberdayaan TP PKK dalam PHBS Kabupaten/Kota se- Kalimantan Barat, Senin(16/7) di Kantor PKK Provinsi.

Menurutnya, gerakan PKK adalah gerakan pembangunan masyarakat dari bawah. Yang tujuannya secara umum, mengajak masyarakat menolong dirinya sendiri dalam mencapai kesejahteraannya. “Karena yang bersingggungan secara langsung dalam sosialisasi di masyarakat adalah PKK,” ujar Mayam memberitahu.

Hal tersebut dimaksudkan agar terwujudnya keluarga yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu, agar keluarga juga dapat menciptakan pribadi yang berahlak mulia dan berbudi luhur. Semua itu untuk menuju keluarga sehat sejahtera, maju dan mandiri.

Ia mengemukakan, angka kesakitan dan kematian penyakit infeksi dan non infeksi dapat dicegah dengan adanya PHBS. PHBS merupakan upaya memberdayakan anggota rumah tangga agar tahu, mau dan mampu mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat. Serta mampu berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat.

Mayam menyatakan, peran posyandu di Kalbar sudah melaksanakan fungsinya. Ini dapat dilihat dari menangnya Posyandu Singkawang yang berhasil menjadi pemenang tingkat Madya secara Nasional untuk 2007.

“Posyandu harus buka selama delapan kali dalam setahun,” ujar Mayam.

Ia juga menyatakan, walaupun tidak buka, posyandu selalu jalan tiap harinya. Karena Posyandu akan membuat anak sehat. Posyandu merupakan tempat membawa anak sehat agar lebih sehat lagi. Oleh karena itu, orang tua yang datang ke posyandu juga banyak.

Orang tua harus secara aktif memeriksa balitanya. Di posyandu pula, para balita diberikan imunisasi, juga vitamin A.

PKK tidak berdiri sendiri dalam menjalankan programnya. Tetapi bermitra dengan Dinas Kesehatan dan BKKBN. Kerjasama ini untuk mengintensifikasikan peran gerak PKK dalam program KB nasional dan pengembangan kesehatan yang dilaksanakan.

Kerjasama ini dapat berhasil, jika ada koordinasi dan keterpaduan dengan instansi. Dukungan semua unsur pelaksana dan masyarakat akan meningkatkan upaya pemecahan masalah yang sering terjadi di masyarakat.
“Masalah tersebut seperti kesehatan lingkungan, gizi buruk, perilaku tidak sehat dan bersih,” ujar Mayam.□

Raperda Trafiking Perlu Dibahas Lagi

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Pemerintah daerah harus membahas lebih lanjut mengenai Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) perdagangan orang (trafiking). Hal tersebut dikatakan Yenny As, Dosen Fakultas Hukum Universitas Panca Bhakti Pontianak, di ruang kerjanya, Sabtu (14/7).

Yenny menilai, Raperda trafiking belum mencakup makna filosofis, sehingga perlu ditelaah lebih mendalam. “Kayaknya hanya sekadar, bagaimana kami ini bisa membentuk perda trafiking. Tanpa ada telaah secara mendalam, kenapa mesti dibuat,” ujar Yenny.

Menurut Yenny, faktor dasar permasalahan trafiking, muncul dari sisi sosial. Penyebabnya, sempitnya lapangan pekerjaan. Karenanya, orang bekerja ke luar negeri. Dan menjadi suatu hal yang dianggap bisa meningkatkan perekonomian.

Ia berkata, seharusnya yang diatasi adalah akar permasalahan dari trafiking. Sebagai gambaran, ada permasalahan mengenai trafiking di Kalbar. Nah, untuk mengatasinya dengan cara pencegahan dan penanganannya. “Perlu dilihat akar permasalahannya itu apa,” ujar Yenny.

Terjadinya trafiking diakibatkan kemiskinan dan kurangnya lapangan pekerjaan. Menurut Yenny, itu yang seharusnya dicegah. Cara penanganannya denga mengatasi kemisikinan itu, dan bukan dengan Raperda. Yang mengharuskan setiap orang, bila mau kerja ke luar negeri, harus selalu lapor.

Bila membahas mengenai hubungan lintas dua negara, ini berhubungan erat dengan hukum Internasional, meskipun Kuching bersentuhan dekat dengan Kalbar. Ada hukum yang mengatur lintas negara dan hubungan lintas luar negeri.

Ketika ditanya, apakah ini merupakan suatu lahan basah bagi oknum tertentu? Yenny berujar dengan bijak, bahwa terlalu dini barangkali mengatakan, apakah ini suatu “ladang” bagi oknum tertentu. Orang harus melihat dengan jeli, apakah ada kepentingan untuk masyarakat, atau suatu instansi tertentu.

Yenny tak menampik apabila tercipta suatu komitmen, tapi tidak diimbangi dengan kebijakan anggaran, tidak akan berjalan. Raperda perlu pembahasan lebih lanjut, karena belum matang.

“Raperda ini seperti copy paste dari UU di sana-sini. Tanpa ada pemikiran yang holistik dan menunjukkan jiwa dari raperda ini,” kata Yenny.□

Dialog Budaya Menuai Kritik

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Dialog Budaya yang merupakan rangkaian acara dari Temu Kepala Taman Budaya se-Indonesia di ruang sidang utama rektorat Universitas Tanjungpura, Rabu (11/7) sepi peserta.
Hanya seorang Kepala Taman Budaya yang berasal dari Yogyakarta dan 15 peserta yang mengikuti kegiatan yang bertema ‘Dialog Seni Kita Lestarikan Seni dan Budaya Daerah’. Kontan acara ini menuai kritik.
Menurut Eric MF Dajoh, seniman dari Sulawesi Utara, seharusnya dialog budaya digunakan sebagai ajang sharing antar provinsi yang bermanfaat untuk tiap daerah. “Ini kegiatan Nasional, seharusnya para birokrat dan pekerja seni kumpul bersama,” ujar Eric, dengan nada kesal.
Dari dialog ini diharapkan adanya komunikasi antar Kepala Taman Budaya mengenai permasalahan perkembangan seni dan budaya terjalin pada setiap daerah. Selain itu juga, agar bisa duduk bersama dengan para pengambil keputusan. “Undang-Undang untuk kesenian saja kita tidak ada. Oleh karena itu, kita bisa diobok-obok,” ungkap Eric.
Eric, dengan seruan yang keras, bahkan mempertanyakan saran yang dihasilkan dari dialog yang hanya dihadiri segelintir orang tersebut, akhirnya akan dibawa kemana. “Kita hanya mengulang suatu kesalahan yang sama dari masa lalu,” ujar Eric.
Kalimat yang pelan terucap dari mulut Eric, permasalahan terhadap perkembangan seni dan budaya seharusnya dibahas untuk dibuat workshop dengan mendatangkan orang-orang yang kompeten. “Tapi yang ada?, toh kita terbentur dilangit juga. Paling tidak kita menjadi orang yang paling setia sampai akhir,” ungkap Eric, mencoba membesarkan hati para peserta yang masih mengikuti dialog.
Dialog yang seharusnya diikuti oleh dua orang utusan Taman Budaya dari 23 Provinsi, nyatanya hanya menyisakan Dian Anggraini, Kepala Taman Budaya Yogyakarta sekaligus pelukis, serta beberapa utusan dari Riau, Sumatera Barat, dan Sulawesi Utara, hingga dialog tersebut usai.
Dian juga terlihat kesal. Mimik sedih terpancar dari wajahnya. Harapannya terhadap pertemuan yang bisa menghasilkan suatu yang bermanfaat bagi perkembangan seni dan budaya di Indonesia, pupus sudah. “Apa yang bisa kita capai untuk pertemuan setiap tahunnya, bila ajang ini hanya dijadikan ajang untuk reuni saja. Goalnya apa?,” ungkap Dian, dengan kesal yang tertahan.
Menurut Dian, seharusnya pertemuan ini untuk membicarakan mengenai strategy design agar mendapat suatu grand design yang bermanfaat demi keberlangsungan semua taman budaya yang ada.
Menurut Dedy Ari Asfar, Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Barat dan pembawa materi, ini merupakan moment yang serius. Sebenarnya banyak potensi yang bisa digarap, tapi tidak mengetahui bagaimana cara untuk mengelolanya.
Sementara itu, Kepala Taman Budaya Kalimantan Barat, Rusman Namsurie ketika dikonfirmasi via telepon malam tadi mengakui undangan yang diberikan untuk para peserta dialog budaya tersebut memang tidak menargetkan untuk Kepala Taman Budaya, tetapi hanya utusan dari 2 orang dari tiap Taman Budaya.
“Paling tidak ada 40 orang yang mengikuti dialog tersebut,” jelas Rusman.
Selain itu juga, ketidak hadiran Rusman pada Dialog Budaya tersebut dikarenakan ada tugas yang harus dilaksanakannya, di kantor Gubernur. “Saya sudah minta diwakilkan Kepala seksi dari taman budaya,” ujar Rusman.

Mencoba Bersikap Transparan

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Perjalanan Koperasi Mahasiswa (Kopma) STAIN Pontianak, baru seumur jagung. Awal perjalanan Kopma ini, berjalan tidak lancar. Menurut Masngud Zauzi, Direktur Utama Kopma STAIN, sejak terbentuk pada 1997, hingga sekarang ini, kepengurusan Kopma masuk periode ke empat.

“Ada beberapa masalah di tahun awal sehingga terhenti. Setelah permasalahan dibenahi, barulah berjalan lagi,” ujar Masngud.

Meskipun sebagai badan usaha independen, perolehan koperasi ini berasal dari dana mahasiswa STAIN. Alur penyaluran dana tidak langsung diberikan kepada pengurus Kopma. Dana dari mahasiswa masuk ke lembaga. Selanjutnya, diberikan kepada pengurus Kopma, untuk dijadikan modal awal.

Saat ini, keanggotaan Kopma STAIN sebanyak 2000 orang. Jumlah itu terhitung dari 2000 hingga 2007. Keanggotaannya pun, hanya diperuntukan bagi mahasiswa STAIN sendiri. Mahasiswa yang memiliki kartu dan dapat menunjukkan identitas kemahasiswaannya di STAIN, secara otomatis merupakan anggota Kopma.

Masngud memiliki enam rekan dalam menjalankan kepengurusan Kopma. Rekannya mengisi posisi manager operasional, administrasi umum, perencanaan pengembangan, tata usaha, dan keuangan.

Menurutnya, sekarang ini, kinerja pengurus sudah mulai membaik. SDM yang ada juga cukup baik. Ada dua karyawan yang sehari-hari menjaga Kopma. Seorang mahasiswa STAIN, seorang lagi dari luar.

Pendapatan Kopma setiap bulannya mencapai Rp 9 juta. Omset tersebut diperoleh, bila kegiatan kampus aktif. Bila sedang libur, pendapatan hanya sebesar Rp 4 juta.

Strategi yang diterapkan pengurus untuk memajukan Kopma, antara lain membangun solidaritas antar pengurus. Menurut Masngud, tanpa solidaritas sistem yang telah disepakati tidak akan berjalan.

Selain itu, pengurus melakukan pencarian dana melalui kerjasama yang dilakukan dengan para pemilik usaha. Contohnya, menggandeng Reihan Collection sebagai rekan usaha. Mahasiswa yang punya usaha sendiri, juga dijadikan mitra. Rekan mahasiswa yang direkrut pengurus antara lain, memiliki usaha penyewaan dan voucher isi ulang.

Kendala yang masih dialami Kopma STAIN antara lain, belum cairnya dana kemahasiswaan, dikarenakan adanya masalah pada kepengurusan yang lalu. Dana tersebut, sebenarnya untuk modal usaha. Dana yang terhenti, merupakan dana akumulasi tahun ajaran 2005-2006.
Kendala lain dikarenakan, pengurus Kopma banyak yang berasal dari daerah. Sehingga saat liburan, mereka pulang kampung untuk liburan.

Kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan kinerja pengurus, mengevaluasi mengenai dana setiap tiga bulan. Rapat kepengurusan juga dilakukan setiap bulan. Rapat ini mereka gunakan untuk merencanakan dan membahas perkembangan usaha dan strategi Kopma kedepan.

“Kami akan mempertemukan antar orang dalam suatu forum atau secara pribadi. Apabila ada kesalahpahaman atau permasalahan yang tiba-tiba terjadi,” ujar Masngud memberitahu.

Sebagai pengurus Kopma, Masngud dan rekan pengurus lainnya bertanggungjawab kepada mahasiswa atau anggota. Hal tersebut sesuai dengan UU perkoperasian. “Kami akan transparansi kepada seluruh anggota dan lembaga,” kata Masngud.□

TK-SD Pasifikus di Mulai Pada 16 Juli

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Tahun ajaran 2007-2008 di TK-SD Pasifikus Pontianak, akan di mulai pada Senin (16/7). Sebelum memulai kelas tersebut, pihak pengelola sekolah mengadakan pertemuan dengan para orang tua murid. Pertemuan tersebut berlangsung pada Jumat (13/7), bertempat di ruang belajar TK Pasifikus.
Menurut Kornelia Lanjo, Kepala Sekolah SD Pasifikus, pertemuan tersebut membahas mengenai peraturan yang berlaku di lingkungan sekolah Pasifikus. Peraturan tersebut antara lain, siswa yang terlambat diharuskan menunggu hingga jam berikutnya.
Bagi para orang tua dari murid TK, pengelola sekolah juga mengharapkan agar tidak terlambat untuk menjemput para murid ketika kelas usai. “Pernah terjadi, murid TK dijemput oleh orang tuanya hingga pukul 14.00. Kasihan si anak,” ungkap Kornelia.
Antisipasi untuk menghindari kasus penculikan anak juga disampaikan kepada orang tua. Hal ini untuk berjaga-jaga agar tidak terjadinya kejadian yang tidak diinginkan. “Ketika orang tua atau wali anak yang terlambat menjemput akan membawa anaknya pulang, sebaiknya melapor kepada petugas terlebih dahulu,” ujar Kornelia memberitahu. Menurutnya, kasus penculikan biasanya dilakukan oleh orang yang dikenal.
Kegiatan belajar di TK Pasifikus berlangsung sejak 2002, sedangkan SD Pasifikus pada 2003. Peningkatan jumlah murid untuk TK dan SD Pasifikus setiap tahunnya meningkat sekitar 40 persen.
Selepas pertemuan juga dilakukan pembagian baju dan buku sekolah. “Agar para murid siap untuk mengikuti proses belajar di Pasifikus,” ujar Kornelia.
Pengembangan yang dilakukan oleh pihak pengelola juga terus dilakukan. Saat ini, sebuah gedung baru dua lantai siap digunakan oleh para murid SD. Tenaga pengajar yang direkrut pengelola sekolah, merupakan tenaga pengajar yang berpengalaman. Metode pembelajaran yang diterapkan di TK dan SD Pasifikus, berupa teori dan praktek. “Bahasa Inggris sudah diberikan sedari TK,” ujar Kornelia memberitahu. Begitu pula untuk bahasa Mandarin, renang dan komputer.
Pengelola memilih adanya praktik renang karena daerah Kalbar sebagian besar merupakan daerah sungai. “Umumnya anak-anak saat ini tidak bisa berenang,” ujar Kornelia. Selain itu, bakat para murid juga dapat disalurkan melalui menari, lukis, dan vokal.
Katrin, orang tua dari Gusman dan Fani, mengungkapkan bahwa fasilitas yang ada di sekolah Pasifikus sudah cukup memadai. Gusman merupakan murid SD kelas 2, sedangkan Fani kelas 1. Katrin menyekolahkan anaknya di Pasifikus sedari TK.
Menurut Peter, seorang wali murid TK, sekolah Pasifikus menerapkan disiplin yang ketat bagi para murid. Peraturan sekolah agar murid SD mulai melakukan proses belajar dari pukul 07.00, tidak boleh dibantah. Peraturan ini akan membentuk individu yang disiplin pula.
Enny Marianata (35), berpendapat bahwa anaknya semakin berkembang dalam hal pendidikan, kesenian, sosial, dan keterampilan. Enny merupakan orang tua Fanuel Febriano Santo, murid SD kelas 4. “Anak saya merupakan angkatan pertama di sekolah ini,” ungkap Enny.
Ketika ditanya apakah biaya pendidikan di Pasifikus mahal, Enny mengatakan bahwa hal tersebut relatif. “Sesuailah dengan fasilitas yang ada. Tidak terlalu mahal,” ungkap Enny.
Iuran SPP bagi para murid perbulannya senilai 75 ribu rupiah. Ditambah biaya pengembangan bakat yang wajib diambil sebanyak 2 materi. Satu materi pengembangan bakat senilai 35 ribu rupiah. 

Pokja IV PKK Provinsi akan Gelar Lomba Desa PHBS

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Provinsi Kalimantan Barat, akan menggelar lomba desa, Pemberdayaan Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), sebagai program kerja dari Pokja IV. Lomba berlangsung pada Senin (16/7). Hal tersebut diungkapkan Rini Chairil, Wakil Ketua Pokja IV PKK Provinsi Kalbar, saat ditemui di kantor PKK Provinsi Kalbar, Jalan Sutoyo, Pontianak.

Lomba desa PHBS dilakukan untuk menghindari angka kematian anak terhadap campak. “Ini juga persiapan sosialisasi dan kampanye, pentingnya imunisasi pada 10 Agustus mendatang,” ujar Rini.

Menurut Rini, dalam menanggulangi campak, campur tangan PKK hanya sebatas penyuluhan dan informasi saja. Ia berkata, jika ada yang terkena, berikan rujukan Posyandu. Bila tidak bisa diatasi pada tingkat Posyandu, mesti dibawa ke Puskesmas. Kalau masih tidak bisa juga, harus dibawa ke Rumah Sakit.

Sosialisasi ini diwakili sembilan orang dari Provinsi, enam orang dari setiap Kabupaten atau Kota, Dharma Pertiwi, Dharma Wanita, dan Dinas Kesehatan.

Menurutnya, biasanya imunisasi hanya diberikan pada anak, saat menginjak usia sembilan bulan saja. “Tapi sekarang, imunisasi akan dijadikan satu dengan pemberian vitamin A,” kata Rini.

Selama ini, Pokja IV telah melakukan pelatihan ke 12 kabupaten untuk memanfaatkan buku Kesehatan Ibu dan Anak. Pada kegiatan nasional, Pokja IV meraih predikat Posyandu terbaik untuk tingkat madya, memperingati Hari Keluarga Nasional, 2007.

Sebagai mitra Dinas Kesehatan, bersama-sama memberikan penyuluhan mengenai makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI).

Kerja Pokja IV ini melingkupi bidang kesehatan, kesehatan lingkungan, dan keluarga berencana. Sehingga, mitra kerjanya adalah BKKBN dan Dinas Kesehatan.

Menurut Rini, PKK merupakan penyuluh dan penggerak masyarakat. PKK juga sebagai motivator, melalui para kadernya di tiap Pokja.

Materi yang diberikan kepada para kader, tidak jauh dengan materi PKK. Ia mengatakan, pengurus PKK pernah dilatih di pusat, dapat menjadi narasumber bagi kader lainnya.

Jumlah tim penggerak PKK secara umum, paling banyak untuk tingkat kecamatan berada di Kabupaten Kapuas Hulu dan Ketapang. Jumlahnya sebanyak 25 tim. Untuk tingkat desa di Ketapang sebanyak 257 tim. Sedangkan untuk tingkat kelurahan di Singkawang sebanyak 26 tim. Total tim penggerak PKK secara umum di Kalbar untuk tingkat kecamatan, 513 tim. Tingkat desa, 1.528 tim. Tingkat kelurahan, 84 tim.

“Kami dari PKK, merupakan fasilitator untuk sosialisasi. Selain itu, kami juga melakukan penyuluhan,” ujar Rini.□

Intan Dari Tanah Papua

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Wajahnya dipenuhi goresan dan riasan warna putih. Sebuah topi seperti mahkota dari bulu, melingkar di kepalanya. Di mahkota tersebut, terdapat seekor burung dengan bulu-bulu yang menambah indah mahkota. Ia kemudian bergerak gemulai. Tubuhnya mengikuti irama. Ekspresi yang dilakukan, muncul dari dalam jiwa. Ia melakukannya sepenuh hati.

Perempuan itu bernama Suryani (23). Bersama rekan perempuan dan empat penari pria, ia menarikan tari Adi Rei di Rumah Adat Melayu Kalimantan Barat, Selasa (10/7) malam. Adi Rei merupakan tarian syukur, ketika pesta panen di Papua. Suryani mulai menari semenjak Sekolah Menengah Pertama di desanya, Wamena.

Dalam diri Suryani, terdapat perpaduan darah antara Sulawesi dan Papua. Meskipun hanya “setengah” Papua, ia sangat mencintai budaya di tempat tinggalnya. “Meski tidak murni Papua, tetapi saya ingin mendalami budaya di Papua,” kata Suryani.

Menurutnya, Papua memiliki banyak keindahan alam. Selain itu, kesenian dan kebudayaannya sangat menarik untuk dilihat. Di Sentani, sangat beragam etnisnya. Begitu pula dengan budaya yang dimiliki. Kecintaannya terhadap Sentani, bukan hanya pada kesenian dan budaya saja. Tapi juga pada kekerabatannya. “Kehidupan di Sentani sangat akrab antarsatu suku dengan suku lainnya,” kata Suryani.

Menurut Suryani, keadaan di Papua hampir sama dengan Kalbar. Namun, Papua tetaplah daerah dengan alam paling indah. Apalagi bila melihat pantai dari atas bukit, dan burung Cendrawasih. Yang orang bilang burung surga.

Banyak pantai indah di Papua, ujar Suryani. Pantai-pantai tersebut, mempunyai keindahannya sendiri. Satu contoh pantai Amai, yang merupakan pertemuan antara air laut dan air sungai. Pantai Baseg (bila di Papua dibaca Besji) dan Hamadi, juga tak kalah indah.

Mengenai ketertarikannya di dunia seni, ia menceritannya dengan antusias. Awalnya, ia hanya suka melihat orang menari. Para penari melakukan tariannya dengan ekspresif. “Menarik, karena menyatu antara musik dan tari,” ujar Suryani. Ketertarikannya semakin kuat, dikarenakan budaya Papua, sangat khas dan berbeda dengan budaya dari daerah lainnya.

Bukan tanpa halangan, ia berkarya seni. Ketidaksetujuan itu ditunjukkan sang ayah. Meskipun ditentang, ia terus berkesenian. Ia merasa lepas ketika menari. “Saya menari karena sudah suka,” kata Suryani.□

Menurut putri pasangan Yohana Mamahe dan Alexander Muin, seni adalah segala-galanya. Seni memiliki keistimewaan tersendiri, karena punya daya tarik. Dengan seni, ia dapat mengeluarkan inspirasinya.

Tari yang sering dibawakannya antara lain tari Weru, Yosin, Penjemputan. Ia mengasah bakatnya di sanggar tari Hanong yang dipimpin Theodorus Yepese. Hanong, menurutnya, nama tempat yang berbatasan dengan Papua New Guinea. Selain tari, ia juga mempunyai suara yang indah.

Bakat yang ada pada dirinya ini, mengantarkan Suryani berjalan keluar dari daerahnya. Ia dua kali menari di acara temu budaya, di Makassar dan di Kalbar. Selain itu, ia pernah menari di depan berbagai Ibu Negara yang berkumpul di Jakarta.

Bila bernyanyi, ia pernah menyemarakkan Bahana Nusantara di Jakarta. Bersama paduan suara Universitas Cendrawasih, ia tampil di acara Rapat Kerja Nasional Partai Persatuan Daerah, yang diketuai Usman Sapta. Di Manado, ia turut serta dalam Pesta Paduan Suara Gerejawi Mahasiswa.

Suryani sudah menyelesaikan studinya di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik di Universitas Cendrawasih, April lalu. Harapannya kedepan adalah, ingin mendapatkan pekerjaan sesuai bidangnya. Ia juga ingin, sanggar tari dapat terus bertahan dan tidak hilang.

“Dengan seni, saya bisa melihat tempat baru. Selain mengembangkan dan memperkenalkan budaya ke luar daerah,” kata Suryani.□

Senin, 23 Juli 2007

Met Andien, my blessing Saturday

Sabtu (21/7) menjelang sore.
"Itu manajer Andien," ujar pak Odang memberitahu saya, yang duduk disebelahnya. Andika tampak beriring masuk coffee shop bersama pak Adiyani.
ramah, adalah kesan pertama yang saya lihat dari sikap Andika. Ia menyalami kami satu persatu. obrolan mengalir santai. Menurutnya, selain menemani Andien, ia juga melakukan kerja di Pontianak. Ia pun menceritakan tentang ketidaksiapan anak buahnya dalam melaksanakan tugas ( ia baru saja menegur anak buahnya). disela pembicaraan, saya minta izin untuk mewawancarai Andien. "Setelah check sound ya," ujarnya menyetujui.

Mengenakan sweater abu-abu berinisial 'A', sosok Andien hadir di depan saya. Sumpah, dag-dig-dug menguasai diri saya. keringat dingin, seketika membanjir di telapak tangan.
sikap Andien pun ramah.

selepas check sound, wawancara pun dilakukan.
blank seketika! mampus, aku kehilangan kata-kata. banyak Ee, bahkan ketika salaman dengannya, saya jujur bila tangan saya dingin karena bertemu dirinya.
untung saja ia tetap ramah dan selalu tersenyum.
fiuh,... saya agak sedikit tenang.

trims A2 (Andien and Andika), lu pada low profile sekali. thx.

Jumat, 13 Juli 2007

Bang Yos Bernostalgia di SMAN 1

Arthurio O dan Maulisa
Borneo Tribune, Pontianak

Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso dan Walikota Pontianak, dr H Buchary A Rachman, Selasa (10/7), sekitar pukul 11.00 kemarin mengunjungi SMA Negeri 1 Pontianak.
Kedua pejabat ini merupakan alumni SMAN 1 Pontianak. Buchary merupakan alumni angkatan ‘63, dan Sutiyoso angkatan ‘64.
Kehadiran Sutiyoso ke SMAN 1, merupakan yang pertama kali setelah tamat 43 tahun lalu. Mengenakan kemeja lengan panjang, dengan garis-garis berwarna biru, Sutiyoso terlihat agak muda. Ditambah kacamata hitam yang tidak dilepaskannya.
Suasana penyambutan juga dilakukan sederhana. Terlihat di halaman sekolah, sejumlah siswa-siswi berseragam pramuka, berdiri berjejer di sisi kiri dekat parkiran kendaraan beratap seng. Para guru, berdiri di hadapan mereka.
Setelah seremonial penyambutan singkat dengan berjabat tangan tanda selamat datang dari Kepala Sekolah SMAN 1 Drs. Fadhil Azimat, Sutiyoso dibawa meninjau kembali ke kelasnya dulu sewaktu SMA.
Buchary yang mendampingi Sutiyoso, melemparkan joke kecil saat memasuki ruang tamu SMAN 1. “Ada dua abang di sini, Bang Yos (panggilan akrab Sutiyoso) dan Bang Bong (panggilan akrab Buchary),” ujar Buchary, yang disambut senyum dan tawa beberapa alumni SMAN 1 yang turut hadir.
Keluar dari ruang tamu sekolah, rombongan berjalan melewati lapangan, menuju bangunan sekolah yang sudah termakan usia, berjarak sekitar 20 meter. Beberapa tiang kayu sebagai penyangga, ada yang sudah lapuk. Beberapa jendela kaca juga ada yang sudah pecah.
Satu persatu dari ruang kelas yang ada, dilewati rombongan. Pada Kelas IIA.1, Sutiyoso mengintip ruang kelas melalui jendela kaca. “Ini ruang kelas yang masih tersisa, Pak,” ujar Edward Lubies, alumni angkatan 70, yang menjadi pemandu rombongan.
Bang Yos mengintip agak lama. Senyum kecilnya mengembang. Ia seakan bernostalgia dengan masa-masa yang pernah dijalaninya di kelas itu. Sekitar tiga menit lamanya Bang Yos melakukan hal itu, kemudian kembali meninjau ruangan lainnya.
Beberapa meter ke depan, rombongan berbelok ke arah kiri dan melewati sebuah kolam. Rumput yang tinggi terlihat di sekitar kolam tersebut. Selain itu, terlihat ada palang kayu penyangga atap bagian tepi yang jatuh dan lapuk. “Kenapa Pemda tidak merehab sekolah seperti ini?,” tanya Sutiyoso.
Pertanyaan Bang Yos ini, mendapat beberapa celetukan kecil “Ayo Bang Bong,” dari salah seorang dalam rombongan, diikuti beberapa tawa kecil.
Peninjauan juga dilakukan di bangunan baru SMAN 1. Edward mengajak Bang Yos memasuki Kelas XII IPS 3. Bangunan baru dari semen, kontras dengan bangunan lama yang menggunakan kayu dan terlihat tua.
Peninjauan Bang Yos ke bangunan SMAN 1, berakhir. Saat kembali dan melewati lapangan sekolah, Bang Yos mengajak para alumni untuk berfoto bersama dengannya. Rombongan kemudian menuju ke ruang kepala sekolah, untuk acara ramah tamah. Sutiyoso juga menuliskan kata kenangan pada buku tamu yang disediakan sekolah. Tak lama, ajudannya memberitahu bila waktu kunjungan Bang Yos ke SMAN 1 sudah habis, karena harus kembali lagi ke Jakarta.
Di sela-sela nostalgianya Sutiyoso mengatakan bangga pernah mengenyam pendidikan di sekolah SMUN 1 Pontianak. “Saya bangga pernah bersekolah di sini, karena sekolah ini telah berperan penting dalam menghantarkan karier saya seperti sekarang ini,” ucapnya sambil tersenyum.
Selain itu Sutiyoso berharap agar kelak sekolah ini bisa menjadi salah satu sekolah unggulan di Kota pontianak. “Saya berharap agar kelak sekolah ini bisa menjadi sekolah unggulan yang ada di kota Pontianak,” tegasnya.
Disamping itu Sutiyoso secara pribadi juga mengungkapkan rencananya untuk berpartisipasi dalam rencana renovasi yang dilakukan sekolah. “Saya akan berpartisipasi secara pribadi, karena apabila direnovasi maka sekolah ini akan menjadi lebih baik lagi,” ujarnya yakin.
Berapa nominal yang akan disumbangkannya, hanya Sutiyoso sendiri yang tahu karena ia sendiri enggan untuk menyebutkan berapa rencana ia akan menyumbang.
Sementara itu kepala sekolah SMUN 1 Pontianak M. Fadil Azimat mengatakan kunjungan Sutiyoso ini merupakan hal yang cukup mengembirakan. “Kunjungan beliau tersebut merupakan salah satu bentuk kepedulian terhadap sekolah,” puji Fadhil.
Selain itu Fadhil menilai secara pribadi bahwa Sutiyoso adalah salah satu gubernur yang memiliki kepedulian terhadap dunia pendidikan. “Semenjak beliau menjabat sebagai gubernur, bisa dilihat sekolah-sekolah yang ada di Jakarta sekarang bangunannya sangat bagus-bagus,” ulas Fadhil.

Dialog Budaya Menuai Kritik

Arthurio Oktavianus
Borneo Tribune, Pontianak

Dialog Budaya yang merupakan rangkaian acara dari Temu Kepala Taman Budaya se-Indonesia di ruang sidang utama rektorat Universitas Tanjungpura, Rabu (11/7) sepi peserta.
Hanya seorang Kepala Taman Budaya yang berasal dari Yogyakarta dan 15 peserta yang mengikuti kegiatan yang bertema ‘Dialog Seni Kita Lestarikan Seni dan Budaya Daerah’. Kontan acara ini menuai kritik.
Menurut Eric MF Dajoh, seniman dari Sulawesi Utara, seharusnya dialog budaya digunakan sebagai ajang sharing antar provinsi yang bermanfaat untuk tiap daerah. “Ini kegiatan Nasional, seharusnya para birokrat dan pekerja seni kumpul bersama,” ujar Eric, dengan nada kesal.
Dari dialog ini diharapkan adanya komunikasi antar Kepala Taman Budaya mengenai permasalahan perkembangan seni dan budaya terjalin pada setiap daerah. Selain itu juga, agar bisa duduk bersama dengan para pengambil keputusan. “Undang-Undang untuk kesenian saja kita tidak ada. Oleh karena itu, kita bisa diobok-obok,” ungkap Eric.
Eric, dengan seruan yang keras, bahkan mempertanyakan saran yang dihasilkan dari dialog yang hanya dihadiri segelintir orang tersebut, akhirnya akan dibawa kemana. “Kita hanya mengulang suatu kesalahan yang sama dari masa lalu,” ujar Eric.
Kalimat yang pelan terucap dari mulut Eric, permasalahan terhadap perkembangan seni dan budaya seharusnya dibahas untuk dibuat workshop dengan mendatangkan orang-orang yang kompeten. “Tapi yang ada?, toh kita terbentur dilangit juga. Paling tidak kita menjadi orang yang paling setia sampai akhir,” ungkap Eric, mencoba membesarkan hati para peserta yang masih mengikuti dialog.
Dialog yang seharusnya diikuti oleh dua orang utusan Taman Budaya dari 23 Provinsi, nyatanya hanya menyisakan Dian Anggraini, Kepala Taman Budaya Yogyakarta sekaligus pelukis, serta beberapa utusan dari Riau, Sumatera Barat, dan Sulawesi Utara, hingga dialog tersebut usai.
Dian juga terlihat kesal. Mimik sedih terpancar dari wajahnya. Harapannya terhadap pertemuan yang bisa menghasilkan suatu yang bermanfaat bagi perkembangan seni dan budaya di Indonesia, pupus sudah. “Apa yang bisa kita capai untuk pertemuan setiap tahunnya, bila ajang ini hanya dijadikan ajang untuk reuni saja. Goalnya apa?,” ungkap Dian, dengan kesal yang tertahan.
Menurut Dian, seharusnya pertemuan ini untuk membicarakan mengenai strategy design agar mendapat suatu grand design yang bermanfaat demi keberlangsungan semua taman budaya yang ada.
Menurut Dedy Ari Asfar, Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Barat dan pembawa materi, ini merupakan moment yang serius. Sebenarnya banyak potensi yang bisa digarap, tapi tidak mengetahui bagaimana cara untuk mengelolanya.
Sementara itu, Kepala Taman Budaya Kalimantan Barat, Rusman Namsurie ketika dikonfirmasi via telepon malam tadi mengakui undangan yang diberikan untuk para peserta dialog budaya tersebut memang tidak menargetkan untuk Kepala Taman Budaya, tetapi hanya utusan dari 2 orang dari tiap Taman Budaya.
“Paling tidak ada 40 orang yang mengikuti dialog tersebut,” jelas Rusman.
Selain itu juga, ketidak hadiran Rusman pada Dialog Budaya tersebut dikarenakan ada tugas yang harus dilaksanakannya, di kantor Gubernur. “Saya sudah minta diwakilkan Kepala seksi dari taman budaya,” ujar Rusman.

Tokoh dalam Wayang Kulit Sasak

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Bila selama ini Anda mengira, wayang kulit hanya ada di pulau Jawa, persepsi itu harus segera direvisi ulang. Anda harus segera datang ke Gedung Pameran Museum Provinsi Kalimantan Barat, dan berhenti di depan ruang pamer dari Nusa Tenggara Barat (NTB).
NTB menampilkan tokoh wayang kulit dari Sasak, pada pameran seni itu. Kegiatan itu merupakan satu rangkaian acara temu kepala taman budaya, yang berlangsung pada 9-13 Juli.

Menurut E. Yohanes. P, panitia acara, pameran seni tersebut merupakan hasil karya dari seniman yang mewakili tiap daerahnya.

Wayang kulit Sasak merupakan wayang kulit yang berkembang di masyarakat Sasak, Lombok. Wayang itu berkembang sejalan dengan perkembangan agama Islam di Lombok. Peran utama yang disebut wayang prabu (praratu) berjumlah 140 tokoh. Wayang itu dibagi menjadi wayang kiri dan wayang kanan.

Tokoh utama yang menjadi pusat dari cerita wayang kulit kanan dan dipamerkan adalah Jayengrana (Wong Agung Menak), Munigarim, Umar Maya, Umar Madi, Selandir (Alam Daur), Saptanus dan Santanus.

Karakteristik tokoh wayang kulit Jayengrana, tokoh dengan penampilan sederhana, namun sakti tanpa tanding. Jayengrana merupakan putra ke-12 dari Abdul Mutalib, dengan nama kecil Amir Hamzah.

Munigarim merupakan puteri bijaksana, sabar, punya pendirian teguh, dan memiliki kesaktian tinggi pula. Ia istri pertama Jayengrana, dan putri nomor dua dari prabu Nursiwan, yang berasal dari kerajaan Medayin. Perkawinan Munigarim dan Jayengrana, melahirkan Raden Kobat Sare’as.

Umar Maya sosok gemuk, pendek, perut buncit, hidung besar dan bulat. Ia intelektual, bijaksana dan cerdas. Selain itu, ia juga sangat setia. Umar Madi tokoh sangat emosional dan kuat makan. Tak heran, tubuhnya juga gemuk. Bersama Umar Maya, ia juga pendamping yang setia.

Selandir merupakan putra raja Sailan. Tetesan darah Nabi Idris bernama Basirin Binti Syekh Bakar Abu Miswan, mengalir di tubuh ibunya. Selandir sangat kuat, dengan postur tubuh tinggi besar. Ia mengandalkan kekuatan fisik dan sangat ditakuti dalam peperangan.

Saptanus dan Santanus merupakan tokoh kembar yang memberikan pertimbangan strategi yang dilakukan oleh Jayengrana. Selain itu, kembar ini juga merupakan faktor keseimbangan dalam karakternya.

Seperti juga wayang di Jawa, setiap tokoh dan karakter wayang, punya nilai filosofi dan menggambarkan kehidupan dan watak orang dalam kehidupan.□

Ladies Programme di Pendopo Gubernur Dijaga Ketat


Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Senin (9/7), pukul 10.05. Pendopo Gubernur yang akan digunakan untuk acara Ladies Programme oleh ibu negara dan para istri gubernur se-Indonesia bersama organisasi perempuan di Kalimantan Barat, tampak dijaga ketat. Meskipun belum ada tanda kedatangan rombongan, pemeriksaan terhadap orang yang keluar-masuk lokasi acara, diperiksa semua.

Seperti tak ingin kecolongan lagi, pengamanan lokasi dilakukan secermat mungkin. Bahkan, lokasi pendopo dijadikan lokasi steril, dengan penjagaan dan pengawasan ketat.
Sebuah alat detektor logam, berada di sisi kanan pendopo, dekat tangga. Detektor logam tersebut, merupakan “pintu” wajib para tamu dan barang bawaan yang memasuki ruangan.

Penjagaan ketat Pasukan Pengaman Presiden (Paspamres) di sekitar lokasi, juga tampak. Di samping alat detektor, mereka berdiri dan menjalankan tugas mereka, memeriksa tamu. Beberapa orang pengaman berpakaian resmi, tampak berada di taman, sebelah kanan pintu masuk tamu. Mereka ada yang duduk dan berdiri.

Detektor logam beberapa kali berbunyi, saat seorang tamu membawa mandau besar dalam koper hitam. Mandau tersebut akan dipamerkan di stan dalam pendopo. Setelah dipastikan aman oleh petugas, mandau boleh dibawa masuk.

Pukul 11.02, sebuah truk tentara bertuliskan angkutan barang di sisi kanan kaca depan, memasuki lokasi pendopo dan berhenti di dekat pintu masuk. Sekitar sepuluh tentara turun dari truk, dan membongkar muatan. Beberapa tas dan travel bag, diturunkan. Tas dan travel bag tersebut milik Presiden RI, pengawal pribadi presiden, dan pasukan pengaman presiden.

Sebuah tas besar bergambar pemain polo menunggang kuda, tertera pada atas. Pada selembar kertas, bertuliskan Presiden Republik Indonesia Perlengkapan Olahraga.

Menurut Utin Kusumawati, Kepala Bappora PP, acara yang dilakukan di pendopo adalah acara ramah tamah untuk silaturahmi. Acara ini merupakan rangkaian ladies programme, untuk mendengarkan pengarahan dari ibu negara.

Sebelum melakukan acara di pendopo, para istri gubernur melakukan wisata air, mengunjungi aloe vera centre, taman kota, dan tugu khatulistiwa.
Tamu-tamu mulai banyak berdatangan. Sebelum masuk, mereka harus menunjukkan undangan dan kartu identitas. “Kami anggota PKK dari Singkawang,” ujar seorang ibu yang mengenakan kerudung. Ia menunjukkan undangan kepada petugas.

Beberapa ibu-ibu dengan terpaksa harus pulang, karena tidak membawa undangan. Bahkan ada, dari enam orang dalam rombongan, hanya ketuanya saja yang boleh memasuki tempat acara.

“Maaf ibu, karena tidak membawa undangan, hanya ketua saja yang boleh masuk. Ini sudah ketentuan,” ujar Utin

Penjagaan yang diberlakukan sangat ketat. Bagi tamu yang tidak memiliki undangan dan kartu identitas, tidak diberikan izin masuk. Aturan ini berlaku bagi semua tamu, tanpa pandang bulu. Bahkan untuk seorang istri gubernur Jakarta sekalipun.□

Liburan Sekolah di Sarang Semut

Arthurio Oktavianus
Borneo Tribune, Pontianak

Dua bocah menambatkan perahu di tiang kayu penyangga rumah di tepi sungai. mereka menenteng sarang semut, hasil buruan mereka di sepanjang Sungai Ambawang.

Bocah itu berambut hitam kemerah-merahan. Kulitnya gelap, mungkin karena terlalu banyak bermain di bawah terik matahari. Dengan senyum malu-malu ia menunjukkan berbongkol-bongkol sarang semut (myrmecodia) hasil perburuannya bersama Aprianus (12) temannya.
Bocah sembilan tahun tak mengenakan alas kaki. Keduanya berjalan agak bergegas di bagian sisi jalan setapak menuju jembatan yang membelah Sungai Ambawang.
Ia disapa Liber, murid kelas III SDN No. 14 Teluk Dalam, Sungai Ambawang. Dia anak bungsu dari dua bersaudara. Libur tahun ini ia isi dengan mencari sarang semut yang harganya lumayan. Siang itu
Ia tak sendiri. Aprianus, menemaninya memanjat pohon di mana sarang semut itu bertengger.
Langkah mereka terhenti saat bertemu kami. Sarang semut di letakkan di tanah.
Tentu saja ini bukan mainan, Menurut entomolog (ahli serangga), Dr Wijaya, Sarang Semut mengandung senyawa antioksidan, vitamin, dan mineral. "Pada semut, antioksidan berperan dalam pembentukan koloni, menjaga tempat telur jauh dari kuman penyakit, sama seperti pada lebah madu," ujar Wijaya. Selain itu sarang semut juga mengandung asam formiat. Dr Rosichon Ubaidillah, ahli semut Puslitbang Biologi LIPI. Rosichon yang kerap keluar-masuk hutan Wamena pernah bilang, yang berkhasiat mungkin saliva alias kelenjar liur semut, tanaman dan mikroba yang berasosiasi dengan semut. "Yang jelas semut mengandung asam formiat atau asam semut," katanya suatu ketika.
Ahli pengobatan cina, Prof Muhammad Yusuf pula beberapa kali mendengar dan melihat tumbuhan Sarang Semut. Katanya sejak 3.000 tahun silam di Cina Sarang Semut dan semut dimanfaatkan sebagai obat. "Semut dan Sarang Semut memperbaiki fungsi ginjal. Ginjal mempengaruhi banyak fungsi tubuh".
Tentu saja Liber dan Apri yang masih bocah tak pernah bertemu para pakar ini. Bahkan membaca tulisan mereka pun belum pernah. Mereka hanya tahu mengumpulkan, lantas mengiris-irisnya menjadi potongan kecil agar harganya lebih mahal saat di jual. Daunnya seperti mirip daun anggrek. Banyak akar pada bagian bawah tanaman yang menggelembung, dengan banyak lubang kecil. Dari lubang itu semut bermunculan.
Tata, ketua Ikatan Persaudaraan Mahasiswa Sungai Ambawang (IPMSA) yang sedang praktik lapangan pelatihan journalistic ‘menahan’ kedua bocah itu. Ia minta kedua bocah itu mengantar kami ke lokasi ditemukannya Sarang semut itu.
Liber dan Apri mengangguk setuju. Langkah mereka menuntun kami ke pinggir sungai, tempat perahu tertambat.
Ada tiga perahu yang tertambat di tepi sungai. Sebuah perahu besar dengan lantai kayu yang sudah tak berada di tempatnya, menyisakan sebuah mesin di bagian tengah. Perahu besar itu, tempat berpijak menuju perahu, di sampingnya. Perahu paling kecil di ujung tentu tak cukup memuat kami berempat.
Lincah sekali mereka melompat ke perahu yang berada di tengah. Perahu oleng, membuat perasaan ciut. Pilihan untuk menggunakan perahu yang sedang, disetujui, karena ada lima orang yang akan menyusuri sungai Ambawang ke lokasi sarang semut.
Aku, Tata, dan Mering, meninggalkan dusun Praya dan menyusuri sungai Ambawang. Tak ketinggalan, Liber dan Apri yang menjadi “tour guide” kami.
Tata memegang kemudi. Ia berkayuh menuju hilir. Airnya yang berwarna coklat, bergemericik saat ditampar dayung.
Celakanya, perahu sering oleng. Bocor pula! Celaka, beberapa kali aku panik. Ini pengalaman yang pertama.
Liber di depan saya, Cih! Dia tenang-tenang saja. Kadang-kadang bahkan menggeser duduknya tanpa beban. Aku tertarik melihat belakang rambutnya yang ada buntu, seperti di sengaja dibentuk oleh tukang cukur. Apri di belakang saya sibuk menimba perahu.
Liber bercerita kalau sarang semut tersebut bisa menghasilkan rupiah. “Kade’ nang basa’ lima ribu rupiah, nang karinkng dua puluh lima ribu sakelo.”
Artinya kalau yang basah lima ribu, yang kering dua puluh lima ribu perkilogram. Ia berbicara dalam bahasa Dayak Kanayatn. Karena ia memang berasal dari komunitas adat dayak Kayanatn yang banyak tinggal di kawasan Sungai Ambawang, Kabupaten Pontianak.
Liber mengaku mengetahui sarang semut bisa jadi uang dari Daniel, ayahnya. Dua minggu ayanya yang buruh pengangkut kayu memberi tahu Liber. “Ada urank nang matak’ki. Antah sae,” (Ada orang yang memberitahu. Entah siapa) ujar liber, ketika ditanya dari mana ayahnya memperoleh informasi itu.
Liber menunjuk pohon di kanan perahu. Patahan-patahan rantingnya, menunjukkan pohon tersebut bekas dinaiki. Belum sempat bertambat, Liber dan Apri melompat lincah ke akar yang menjuntai di pinggir sungai. Dalam sekejab saja, keduanya sudah sibuk memetik bongkahan sarang semut dengan sebuah galah bambu.
Setelah terkumpul banyak, mereka berhenti. “Sosokkan doho’ panjolok koa untuk ampagi,” teriak Apri. Maksudnya disembunyikan dulu galah itu untuk besok lagi. Mereka berjanji untuk kembali besok. Mereka bocah yang ceria, mengisi liburan dengan kreatif, membantu orang tua dengan mengais rezeki di sarang semut.

Berdayakan Masyarakat untuk Menumpas Perdagangan Orang

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Daerah perbatasan menjadi sorotan menumpas perdagangan orang. Menurut Sadirman Efendi, Komisi Penyiaran Independen Daerah (mantan KPID), perlu pengawasan ketat di daerah tersebut. Pengawasan harus mempunyai keleluasaan menyelidik dan menyidik.

“Dulu, sebelum ada otonomi daerah, pengawasan aktif dilakukan oleh Pengawas Penyidik Negeri Sipil (PPNS),” ujar Sadirman.

PPNS direkrut dengan melibatkan Pemda, pemerintah kabupaten dan kota. Biaya diambil dari daerah setempat. Meningkatnya taraf hidup masyarakat, merupakan salah satu syarat yang harus dilakukan, agar perdagangan orang tidak terjadi lagi.
Menurut Sadirman, perdagangan orang berkaitan dengan tingginya angka pengangguran. Di Kalimantan Barat, yang jumlahnya 174 ribu jiwa.

Ia mencontohkan, saat ini saja, pemerintah harus memikirkan input dan output dari pengiriman TKI. “Untuk mengatasi ekspor Tenaga Kerja Indonesia (TKI), harus dipikirkan jasa sebagai output, dan devisa sebagai input,” ujar Sadirman.

Agar hal tersebut bisa terwujud, harus diberikan keterampilan jasa kepada para calon TKI. “Agar SDM punya keterampilan, sehingga kita mudah menjual jasa,” ungkap Sadirman.

Selain itu, program pemerintah haruslah terbagi atas pelatihan, sertifikasi, dan penempatan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 38/2005, Badan Koordinasi Sertifikasi Provinsi melibatkan empat lembaga pemerintahan. Lembaga tersebut adalah Dinas Tenaga Kerja, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Pendidikan, dan Kepala Dinas Provinsi.

Pelatihan yang diberikan haruslah berdasarkan kebutuhan jasa negara yang akan dituju. Pelatihan tersebut, mencakup menyeimbangkan peralatan teknologi yang digunakan oleh negara. Para tenaga kerja harus dilatih dengan peralatan yang ada. Agar mereka dapat menguasai keterampilan dan memiliki keterampilan standar dengan negara tujuan.

Calon TKI yang telah dilatih selanjutnya harus diuji, dan diberikan sertifikasi yang dapat berlaku untuk dunia, khususnya ASEAN. Setiap orang yang dilatih, haruslah berdasarkan job oriented agar dapat bersaing dengan tenaga kerja dari negara lain.

Sadirman mengusulkan, masyarakat diberikan keterampilan membuat home industry. Keterampilan ini haruslah berorientasi ekspor. Contohnya Lampung. Pemerintah daerah memberikan pelatihan dan pemahaman kepada para penduduk, untuk memanfaatkan lahan yang ada. Masyarakat Lampung akhirnya menanam pisang. Hasil yang dipanen, dibuat keripik. Keripik yang dibuat kini sudah untuk di ekspor.
“Daerah kita banyak ditanami pisang, akan tetapi kurangnya kepedulian masyarakat dan pemerintah. Selain itu, dana yang ada juga kurang,” ungkap Sadirman.

Menurut Reni, Koordinator Program PPSW, pemberdayaan ekonomi masyarakat penting dilakukan agar mereka dapat mengolah hasil alam di lingkungan mereka, dan menjadikan SDA tersebut sebagai sesuatu yang dapat dimanfaatkan dan menjadi sumber utama mereka.

“Apabila mereka sudah berpikiran seperti itu, mereka tidak akan perlu lagi menjadi TKI,” ujar Reni.□

Pengurus dewan paroki gereja Bunda Maria Jeruju dilantik


Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Minggu (1/7), altar gereja Bunda Maria Jeruju beralaskan taplak putih. Bunga warna-warni, menggantung di tepi altar. Dua lilin menyala pada sisi kanan dan kirinya. Di depan altar, sebuah meja kecil dari kayu digunakan untuk menempatkan kotak kolekte (sumbangan dari umat).

Dinding gereja belum tersapu pewarna sedikit pun. Lantainya semen kasar. Gereja itu dipenuhi ratusan umat mengikuti misa dan prosesi pelantikan, serta serah terima pengurus dewan pastoral paroki. Pelantikan dilakukan Uskup Agung Mgr Hieronimus Bumbun, sekaligus meresmikan kepengurusan dari dewan stasi menjadi dewan paroki Jeruju. Kepengurusan yang dilantik sebanyak 49 orang, yang terbagi dalam koordinator dan bidang Sksi Dewan Paroki.

Menurut Bumbun, dengan dilantiknya kepengurusan, diharapkan dapat mandiri melayani umat. Hal ini dikarenakan, sifat otonom dari paroki. Yang merupakan perwakilan dari keuskupan. “Paroki harus memikirkan dan merencanakan sendiri mengambil keputusan. Karena itu, merupakan tanggungjawab pada umat,” kata Bunbun.

Paroki di Kalimantan Barat, saat ini berjumlah 22 paroki. Peran serta paroki juga sangat penting untuk menjalin sosialisasi antar umat beragama. Ia bertanggungjawab pada individu dan kelompok. “Paroki harus menanamkan pembinaan iman kepada umatnya,” ujar Bumbun.

Tarsisius Ubing, ketua pengurus lama, mengatakan, kepengurusan lama tetap mendukung kinerja yang akan dijalankan kepengurusan baru. Ia berharap, pengurus baru bukan hanya melakukan pelayanan sosial saja, tetapi juga pendidikan. “Jeruju merupakan daerah urban yang akan terus berkembang,” kata Ubing.

Paroki Jeruju sudah direncanakan sejak 1984. Menurut Ubing, ini merupakan perjuangan yang telah lama dilakukan. Pada 2005, pembentukan ini, sempat mendapat tentangan dari sekelompok orang, dikarenakan kesalahpahaman. Namun, semuanya sudah diselesaikan karena dukungan dari Majelis Adat Budaya Melayu(MABM), lurah, camat, dan walikota.

Sebagai ketua pengurus baru yang dilantik, Hadryantus Mentili mempunyai program kerja untuk pengurus dewan paroki. Ada empat program bakal dijalankan. Program itu antara lain, penertiban administrasi paroki, pembinaan generasi muda dalam mengasah pendidikan, menyelesaikan pembangunan gedung, dan mengembangkan kelompok doa. Menurut Mentili, aplikasi program ini memerlukan kekompakan dalam kepengurusan. Harus ada kerja kolektif, bukan atasan dan bawahan. Tujuan yang ingin dicapai melalui program ini antara lain, agar paroki dapat mandiri dalam kerja, doa, administrasi, termasuk SDM yang ada.

Selain itu, ia akan memberdayakan seluruh lokasi paroki Jeruju seluas 3,5 hektar, untuk kegiatan bermanfaat bagi umat Katolik, maupun penduduk beragama lain di sekitar paroki.

“Paroki ini, dalam perencanaan kedepannya, akan di bangun sekolah, rumah sakit, dan asrama,” kata Mentili.□

Kinerja Kepolisian Alami Kemajuan


Arthurio Oktavianus
Borneo Tribune, Pontianak


Tadeus Yus, Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Provinsi Kalimantan Barat, mengatakan, kinerja kepolisian sudah mengalami kemajuan. Pernyataan ini diungkapkan Tadeus di rumahnya, Sabtu (30/6). Kepolisian memegang peranan penting dalam menjaga stabilitas keamanan, khususnya melindungi masyarakat.

Keberadaan Polri yang terpisah dengan ABRI, turut merubah paradigma pada masyarakat. Bila dulu masih berbau militeristik, sekarang menjadi pengayom untuk mengamankan situasi. “Polisi sekarang lebih dekat ke masyarakat,” kata Tadeus.

Meski begitu, ada beberapa orang masih menerapkan gaya militeristik. Namun, itu semua tergantung dari individunya. Penampilan petugas yang tidak bersahabat, dan gaya militeristik, mengakibatkan masyarakat enggan masuk ke kepolisian.

Kebijaksanaan yang harus dijalankan kepolisian, merupakan implementasi dari sistem yang terstruktur. Penerapan kebijaksanaan yang berorientasi pada pendekatan kepada masyarakat saat ini, harus menonjolkan komunikasi sosial.

Menurut Tadeus, konsep polisi sebagai sahabat masyarakat, perlu dikembangkan, sehingga masyarakat tidak takut dan segan untuk datang melapor. Polisi harus menjalankan fungsinya untuk pelayanan masyarakat.

Ketika ditanya tanggapannya mengenai polisi-polisi “nakal”, Tadeus mengatakan, masih terjadi. Hal ini dikarenakan, kurangnya kontrol dan pengawasan dilakukan terhadap oknum tersebut. “Kembali lagi ke individu,” ungkap Tadeus. Meskipun peringatan dan teguran diberikan kepada oknum polisi yang “nakal”.

Tadeus pernah melakukan penelitian dengan salah satu LSM, mengenai bagaimana masyarakat “bawah” mendapatkan keadilan. Penelitian dilakukan di Bengkayang. Dari hasil yang mereka peroleh, hanya sedikit masyarakat mau menyelesaikan permasalahan yang terjadi ke polisi. “Masyarakat lebih merasa aman dengan menyelesaikan masalah melalui lembaga adat,” kata lulusan Indiana University, saat mengambil S2 Environmental Policy.

Bila di negara maju, masyarakat banyak bersandar pada peran kepolisian. Misalnya, bila masyarakat merasa terganggu dengan keributan yang disebabkan tetangganya. Mereka akan menelepon polisi. Polisi langsung bertindak dan mendatangi tempat yang membuat keributan.

Menurut Tadeus, polisi yang ada saat ini, identik dengan kasus-kasus kriminal. “Polisi yang melindungi masyarakat belum menonjol,” kata Tadeus.

Pendidikan kepolisian juga harus memuat ilmu komunikasi dan sosial, kata Tadeus. Ilmu ini akan membantu mereka, berkomunikasi dengan masyarakat. Pendidikan yang hanya dilakukan selama satu tahun, belumlah cukup untuk menguasai ilmu tersebut. Bila perlu, lebih dari satu tahun. Setelah itu, baru diberikan jurusan ke penyidikan. “Terlalu singkat untuk menjadi polisi yang profesional,” kata Tadeus.

Perekrutan anggota kepolisian juga menjadi sorotan khusus. Perekrutan seharusnya memberikan ruang dan kesempatan lebih bagi masyarakat daerah. Selama ini, penerimaan anggota kurang untuk masyarakat daerah. Padahal, bila ada masalah yang terjadi di daerah, yang dicari untuk menangani pasti yang berasal dari daerah itu.

Pemerataan penerimaan antardaerah juga harus diimbangi dengan membagi jatah seimbang di kabupaten. Sehingga, saat mereka selesai pendidikan, bisa dikembalikan lagi ke daerah asal. Ada kuota bagi kabupaten. Hal ini dikarenakan, banyaknya keluhan dari masyarakat daerah kepada Tadeus. Yang ingin menjadi anggota polisi, tetapi tidak bisa diakomodir.

Harapan Tadeus terhadap kinerja polisi saat ini, agar polisi tidak hanya menjalankan fungsinya di bidang kriminalitas saja. Tapi, lebih kepada pengayom masyarakat. “Selain itu, polisi juga dapat menghilangkan atribut-atribut militeristik, agar masyarakat lebih merasa aman untuk datang dan melaporkan permasalahannya,” kata Tadeus.□

Rabu, 11 Juli 2007

Ajudan istri gubernur


Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Cerita para ajudan istri gubernur tak pernah terekpos ke publik. Padahal, kesibukan mereka juga tak kalah dengan kesibukan atasannya.

Bripda Martini, ajudan istri gubernur Kepulauan Riau, berdiri di samping pintu masuk ruang tunggu. Tangan kanannya menjinjing telepon selular dan menempelkannya di telinga kanan. Sebuah tas tangan berwarna hitam, menggantung di tangan kirinya.

Perempuan berambut pendek ini, mengaku sudah dua tahun menjadi ajudan istri gubernur Kepulauan Riau. Proses yang harus dijalani menjadi seorang ajudan tak mudah. “Dari kepolisian, saya harus menjalani serangkaian test lagi,” ujar Martini.

Ia berangkat dari karirnya dengan menjadi Polisi Wanita. Untuk menjadi ajudan, ia mengikuti serangkaian test. Antara lain, tes kesehatan, psikologi, urine, dan tes darah.

Tugas Martini tidak hanya menemani istri gubernur. Ia juga merangkap sebagai sekretaris. “Saya bertugas multifungsi,” ujar martini sambil tersenyum.

Pekerjaannya sebagai ajudan, membawa Martini ke seluruh wilayah di Indonesia, kecuali Papua.

Martini sangat menikmati pekerjaannya. Meskipun, ia harus menghabiskan seluruh waktunya untuk itu. Ia pernah menggunakan kapal hingga lima kali, untuk mendampingi istri gubernur. Ketika itu, ia harus menuju ke Tanjung Pinang dari Riau. Jaraknya lumayan jauh. “Tergantung jadwal kegiatan ibu,” kata Martini.

Ia pernah mengunjungi wilayah menggunakan pesawat Nomad dan Smack. Menurutnya, semua tergantung pimpinan, dan harus siap kapan saja.

Selain menjadi ajudan, Martini juga mahasiswa di dua universitas. Ia mengambil kuliah di Fakultas Ekonomi di STIM Bakti Jakarta, dan Fakultas Hukum di Universitas Batam. “Sebentar lagi saya akan di wisuda dari STIM Bakti,” ujar Martini.

Mengenai Trafiking
Menurut Martini, daerah di Kalimantan Barat hampir sama dengan Kepulauan Riau. Sehingga, kasus trafiking juga banyak ditemukan di sana. “Riau juga menjadi wilayah perbatasan,” kata Martini.

Setiap tahunnya, kasus trafiking yang terjadi semakin meningkat. Ia pernah menangani kasus trafiking. Di lapangan, ia pernah menemukan kasus, seorang anak berumur 12 tahun, yang diubah menjadi 20 tahun, untuk mendapatkan paspor. Baginya, tidak wajar bila instansi mengeluarkan ijin tersebut, dan tidak mengetahui data lengkap dari peminta surat.

“Merekakan harus menyerahkan akta dan kartu keluarga, saat mengurus paspor. Masa tidak bisa melihat, mana anak umur 12 tahun, mana umur 20 tahun,” kata Martini, seolah bertanya.

Ia juga pernah mensurvei data mengenai pekerja seks komersial (PSK) di Riau. Menurutnya, ada PSK yang melayani tamu sampai 10 orang dalam semalam. “Semua itu karena faktor ekonomi,” ujar Martini. Padahal, hasil pendapatan yang diperoleh PSK, dikirimkan ke kampung halaman asal PSK itu, sendiri. Dana tersebut digunakan untuk membeli rumah dan mobil.

Perlunya pemberdayaan masyarakat, merupakan solusi yang ditawarkannya. “Perempuan harus diberdayakan melalui pemberian keterampilan. Supaya mereka bisa berusaha sendiri,” kata Martini.□

Sabtu, 07 Juli 2007

Perempuan dan kemiskinan

Arthurio OA dan Mujidi

Borneo Tribune, Pontianak
Muthia Farida Hatta, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, menyampaikan faktor yang mempengaruhi kemiskinan antara lain tingkat pendidikan, kesehatan, pendapatan (ekonomi), akses terhadap barang dan jasa, lokasi geografi, gender dan kondisi lingkungan. Hal tersebut disampaikan Muthia, pada acara Rapat Kerja Nasional Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) 2007, di Pontianak Convention Centre, Rabu (13/6).

Definisi mengenai kemiskinan yang mengacu pada strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan (SNPK) adalah, kondisi dimana seseorang atau sekelompok orang, laki-laki atau perempuan tidak terpenuhi hak-hak dasarnya, untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan bermartabat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2006, penduduk miskin di Indonesia berjumlah 39,05 juta jiwa, atau 17,75 persen dari seluruh penduduknya.

“Hal ini berarti lebih besar dari jumlah penduduk negara Kanada, bahkan tiga kali lebih besar dari penduduk negara Kuba,” ujar Muthia.

Sempitnya lapangan kerja dan tingginya persaingan pencari kerja di dalam negeri, merupakan faktor pendorong kaum perempuan bekerja ke luar negeri, dan kadang menjadi korban perdagangan orang oleh agen, dengan alasan pengiriman tenaga kerja perempuan.

Rendahnya pendidikan formal, menyebabkan perempuan bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Pekerjaan ini berarti bekerja tanpa jaminan sosial, tanpa perlindungan, upah minimum dan kondisi kerja tidak memadai. Selain itu, pembantu rumah tangga juga rentan terhadap tindak kekerasan majikannya. Kondisi ini memerlukan solusi untuk mengupayakan pencegahan, penanggulangan, perlindungan hingga rehabilitasi.

Beijing Platform For Action (BPFA) tahun 1995, adalah konferensi Perempuan se-Dunia di Beijing. Konferensi ini membahas masalah kemiskinan dunia. Sehingga perempuan dan kemiskinan, menjadi satu bidang kritis yang perlu diperhatikan dunia. Pada 2000, Millenium Development Goals (MDGs) menempatkan penanggulangan kemiskinan, sebagai satu tujuan utama pembangunan milenium, disamping tujuan lainnya.

Tindak lanjut dari komitmen global tersebut, disambut pemerintah dengan menerbitkan Inpres No.9 /2000, tentang pengarusutamaan gender dalam pembangunan nasional. Selain itu, menetapkan peraturan Presiden No.7/2005, tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2004-2009. Penanggulangan kemiskinan ditetapkan sebagai prioritas utama pembangunan 2007, melalui peluncuran Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri.
Peraturan Presiden No.19/2006, tentang Rencana Kerja Pemerintah 2007, ada empat hal yang diutamakan dalam pembangunan nasional. Yaitu partisipasi masyarakat, pembangunan berkelanjutan, gender dan tata kelola pemerintahan yang baik.

Sumber daya manusia perempuan di Indonesia, masih jauh tertinggal dibanding laki-laki. Data dari Human Development Report, UNDP 2006, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia, diukur dari tiga variabel, pendidikan, kesehatan dan ekonomi. Kondisi ini menempatkan Indonesia pada peringkat 108 dari 177 negara.

Indeks Pembangunan Gender (IPG) dari IPM, menunjukkan tingkat buta aksara perempuan diatas 15 tahun sebesar 12,4 persen dan laki-laki 5,6 persen. Peringkat Indonesia di dunia adalah 81 dari 136 negara. Angka kematian ibu usia produktif sebesar 307 per 100 ribu kelahiran. Ini merupakan angka tertinggi di Asean. Sektor ekonomi, tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan, hanya 48,63 persen, sedangkan laki-laki 84,74 persen.

Indonesia bersama 82 negara lainnya, berada pada posisi Medium Human Development. Jauh di bawah Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam, yang berada pada posisi High Human Development. Hal ini dikarenakan rendahnya IPM dan IPG penduduk Indonesia.□

Belajar di Hutan Karya di Galeri Nasional

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Salah satu foto yang akan dipamerkan di Galeri Nasional Jakarta mulai 11 hingga 27 Juli nanti adalah hasil karya putra Kalbar bernama Sugeng Hendratno.
Rabu (3/7) malam. Sugeng Hendratno (39) menyambut ramah. Ia keluar dari sisi rumah bagian kiri, melalui lorong seperti pintu. Sembari tersenyum, ia menawarkan dua opsi. Wawancara di ruang tamu atau teras. Pilihan jatuh pada option kedua.
Ia duduk di kursi besi tanpa sandaran. Alas sofa tempat duduknya berwarna coklat. Ia menghisap dalam rokok Country putih, lalu menghembuskan asapnya perlahan. “Saya pelukis on the spot,” ujar Sugeng memulai bercerita. Karyanya yang berjudul identiti, merupakan karya putra Kalbar yang pertama kali dipamerkan di Galeri Nasional.
Kehidupannya sebagai pelukis lapangan, membuat banyak pasang mata yang menyaksikan kepiawaiannya. Hal tersebut membuat dirinya risih saat menggoreskan kuas penuh warna ke kanvas. “Pada 1987, saya membeli kamera Pentax,” Sugeng memberitahu seraya menghembuskan asap rokok dari mulutnya.
Profesinya saat itu ganda, sebagai pelukis dan fotografer. “Motret untuk dilukis,” ungkap Sugeng. Ia mencetak hasil bidikan lensanya dan melukisnya, sehingga tidak perlu lagi melukis di lapangan. Menurutnya, membawa semua peralatan melukis saat ada objek yang menarik merupakan kerja yang merepotkan.
Sugeng tak pernah mengetahui teori-teori mengenai fotografi pada awalnya. Seiring berjalannya waktu, karena keasyikan, ia menjadi gandrung untuk menekuni dunia fotografi. “Saya beli buku fotografi. Waktu itu (pada 1987) harganya 600 rupiah,” ujar Sugeng.
Teknik mengambil foto mulai berkembang dalam dirinya. Salah satu faktor yang menjadikan dirinya cepat untuk menguasai teknik tersebut, karena basic-nya sebagai pelukis. Menurutnya, ia agak kuat dari segi komposisi.

Belajar di hutan dengan sang pakar
Sugeng mendapatkan pekerjaan sebagai Art decoration untuk desain interior di hotel Mahkota pada 1990. Hobinya dalam membidik objek melalui lensa kamera tidak ia tinggalkan. “Saya menggunakan kamera Nikon FM2,” ujar Sugeng memberitahu. Saat itu pula, ia mulai mendekati awal serius menjadi seorang fotografer.
Pada 1996, ia bertemu Rai Hanitio, seorang wartawan majalah pop yang terkenal di era 70-an. Rai saat itu dikontrak Departemen Pariwisata untuk mengekspos objek wisata yang ada di Kalbar. “Rai menginap di hotel dan saya dikenalkan padanya oleh salah satu staf di hotel,” ungkap Sugeng.
Objek wisata di Kalbar yang pernah direkam Sugeng dalam bentuk slide, dibawa dan ditunjukkan kepada Rai. Tanpa diduga, Rai tertarik dengan hasil bidikan tersebut. “Saya beli,” ujar Sugeng, menirukan perkataan Rai waktu itu. Tak tanggung-tanggung, Rai membeli 10 frame, dengan harga 300 ribu tiap framenya. Kemudian membawa frame tersebut untuk dokumentasi Departemen Pariwisata di Jakarta.
Sugeng semakin percaya diri dengan hasil bidikannya. Ia merasa hasil karyanya bagus, karena dinilai dan dipuji langsung oleh sang pakar.
Menurut Sugeng, Gunung Palung mempunyai nilai historis bagi dirinya. Pernyataan tersebut dikarenakan dirinya mengetahui teknik fotografi secara langsung saat ia mengabadikan objek keindahan alam di hutan Gunung Palung.
Pada 1997, Sugeng kembali dikontak Rai. Ia diserahi tugas untuk mengabadikan objek wisata yang ada di Kalbar ke dalam 150 frame. “Ini suatu beban,” ujar Sugeng.
Dengan menggunakan kamera 35 mili, Sugeng mendampingi Rai ke Gunung Palung. Di Palung inilah, Sugeng belajar fotografi secara serius dengan sang pakar.
Sang pakar puas akan hasil karya Sugeng. Pekerjaan sebagai fotografer yang mengabadikan objek wisata, dilakoninya. Dengan pekerjaannya yang baru, Sugeng sudah pergi ke seluruh Kalimantan. Karya-karyanya mulai diakui. Pada 1998, kartu pos edisi khusus suku Dayak merupakan hasil bidikan lensannya. Selain itu, ia juga membuat handbook Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya.

Identitas dalam foto di Galeri Nasional Indonesia
Karyanya terpilih menjadi salah satu pengisi ruang di Galeri Nasional, setelah diseleksi berdasarkan hasil sidang kurator pameran Seni Rupa Nusantara. Karya tersebut berjudul “Identitas” dengan tema DEMI MA[S]SA.
Sugeng memilih karyanya untuk diikutsertakan dalam seleksi, setelah melalui pemikiran yang panjang. “Saya harus paham, apa yang dimaksud dengan massa tetapi dengan huruf S yang dikurung,” ujar Sugeng memberitahu.
Pemahaman mengenai arti tema tersebut menurutnya adalah sesuatu yang berhubungan dengan jumlah yang banyak sekaligus juga waktu. Pekerjaan belum usai, ia harus menyeleksi kembali foto-foto hasil karyanya.
Pilihannya jatuh pada foto yang mengabadikan tangan seorang nenek 80 tahun yang penuh tato. Nenek tersebut berasal dari suku Punan. “Itulah identitas, sebuah dokumentasi dari masa lalu,” ujar Sugeng.
Ia merasa bahwa budaya cepat sekali berubah. Contohnya, lanjut Sugeng, kampung saham dulu dan sekarang. Pasti ada yang berbeda, menurutnya. “Orang berbeda, kampung berubah, budaya mulai ditinggalkan,” Sugeng memberitahu. Lebih ekstrim lagi, ia mengatakan bahwa budaya apapun di Indonesia ini sudah terdegradasi. Kalau nenek itu mati, budaya tersebut akan punah karena tidak ada yang meneruskan, ujar Sugeng.
Ketika ditanya arti karya, ia menjawab bahwa karya adalah pengalaman batin. Menurutnya, ketika melihat sesuatu mata melihat karena tertarik, masuk dalam hati. Setelah itu, otak memproses. “tapi yang terpenting adalah dari sini,” ujar Sugeng seraya menyentuh dada dengan tangan kanannya. Menurutnya, karya yang paling murni adalah karya yang datang dari hati.

Profesional dan pameran
Orang yang profesional adalah orang yang menjual karyanya. Itu merupakan pendapat Sugeng mengenai arti profesional. Selain itu, ia juga berpendapat bahwa dalam setiap seni, dramatisir merupakan salah satu bagiannya. “Tidak ada dramatisir dalam seni itu hambar,” ungkap Sugeng seraya tersenyum.
Bahkan, ia berpendapat bahwa menjadi seorang fotografer tidak ada perbedaan antara amatir dan profesional. Baginya, bila dalam berkarya, sama saja. “Toh sama-sama menghasilkan karya melalui sebuah foto,” ujar Sugeng sambil tersenyum. Kecuali amatiran, ujarnya, itu adalah hal lain.
Selama menjalani dunia fotografi, sudah 7 buah kamera yang menemaninya. Pentax dan Nikon dengan seri F2, F3, F4, G70, G100, dan FE. “Pentax sudah musnah,” ujarnya memberitahu.
Pameran merupakan hal wajib yang harus dilakukan bagi seorang seniman, ujar Sugeng. Kalau tidak bisa pameran tunggal, minimal pameran bersama. Ia ingin agar bisa mewujudkan pameran tunggal mengenai Kalimantan Barat dalam bidikan lensanya. Hal tersebut dilakukan karena ia ingin mengcover semua kehidupan di Kalbar. □

Pro Kontra Seminar Kinerja Pemerintah

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Seminar hasil penelitian studi kinerja pemerintah daerah Kalimantan Barat dalam pemberantasan perdagangan orang, yang diprakarsai oleh YLBH-PIK bekerjasama dengan CiBa dan Asia Foundation, Kamis (5/7), menuai pendapat berbeda-beda.

Menurut Sri Sukarni, Anggota FKPPI yang menangani bidang Pemberdayaan Perempuan, yang menjadi narasumber utama seharusnya tidak diwakilkan. “Bila kita mempertanyakan masalah apa pun, mereka yang mewakilkan tidak akan bisa untuk menjawabnya,” ungkap Sri.
Menurut Sri, narasumber yang mewakili instansi tersebut, hanyalah polesan dan imitasi. Sri pernah beberapa kali mengikuti kegiatan seperti itu. Menurutnya data yang mereka konfirmasi tidaklah valid.
Sri berpendapat, pertanyaan dari peserta, tidak mendapatkan jawaban memuaskan. Selain itu, seminar seharusnya melibatkan secara langsung peran dari pesertra, disamping pula pentingnya manajemen waktu pelaksanaan. “Tadi banyak pakar tidak bisa menyampaikan pendapatnya lho,” ujar Sri memberitahu.
Mengatasi terjadinya trafiking, salah satunya dilakukan dengan pengawasan yang dilakukan oleh pemerintah pusat hingga ke pemerintahan desa. Bukan hanya itu, laporan dari pemerintahan desa ke pemerintahan pusat pun, menjadi suatu keharusan secara terus menerus.
Hal ini juga sebagai sarana memberikan penyuluhan dari pemerintah kepada masyarakat, mengenai situasi kerja dan akibatnya bila bekerja di luar negeri.
Pendapat berbeda mengenai seminar diutarakan Reni, Koordinator Program PPSW. Reni menyambut baik hasil studi yang dipaparkan seminar tersebut. Menurutnya, seminar bisa dipahami oleh siapa pun dan digunakan untuk refleksi. “Kita lemah untuk merefleksi isu besar atau perdagangan orang ini di lembaga masing-masing,” ucap Reni.

Dengan adanya refleksi tersebut, setiap lembaga harus melihat lagi kinerjanya apakah sudah bisa untuk menangani masalah trafiking. “Apalagi untuk lembaga-lembaga yang bekerja dan peduli untuk menangani masalah trafiking,” kata Reni.□

APBD Penanganan Trafiking Kurang

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Akibat dari runtuhnya perekonomian di Indonesia pada 1997, berimbas makin banyak perusahaan tutup. Hal ini berakibat pada meningkatnya angka pengangguran. Yang menyebabkan perempuan, turut menggantikan peran pria dalam bekerja.

Saat ini, kaum perempuan turut bekerja di setiap bidang. Bahkan, perempuan juga menjadi supir angkot, membantu perekonomian keluarganya. Tapi, banyak pula perempuan dijadikan objek mencari keuntungan pribadi. Para agen menjadi penyalur tenaga kerja, dengan segala cara mencari celah, agar mendapatkan keuntungan melalui perdagangan orang antardaerah maupun antarnegara.

Data kasus perdagangan yang diperoleh dari International Organization of Migration (IOM) periode Juni 2005 sampai Oktober 2006, ditemukan sebanyak 1.231 kasus di Kalbar.

Maraknya kasus perdagangan orang di Kalbar, salah satu faktornya karena Kalbar sebagai pintu lalu lintas antarnegara, dan berbatasan langsung melalui jalur darat. Hal ini tidak terlepas dari letak geografis Kalbar, berhubungan langsung dengan Malaysia.

Menurut Zulfikar dari Bapora PP, luasnya daerah dan jalur terbuka di kawasan perbatasan Malindo, sehingga sulit untuk melakukan pengawasan lalu lintas orang dan barang.

Ekonomi menjadi faktor utama, alasan orang bekerja di luar negeri. “Ekonomi penduduk kita rendah, Sumber Daya Manusia juga rendah,” ujar Zulfikar. Hal tersebut, menjadi pemicu terjadinya trafiking.

Pemerintah Kalbar, pada 16 Maret 2007, meregulasi Rencana Aksi Daerah Penghapusan Perdagangan (trafiking) perempuan dan anak (RANDA), melalui peraturan Gubernur Kalimantan Barat Nomor 86/2006.

Menurut Roslaini Sitompul, Direktur Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Perempuan Indonesia untuk Keadilan (YLBH-PIK), perlunya pembuktian komitmen dari pemerintah dalam hal upaya penanganan dan pencegahan trafiking yang tertuang dalam Pergub. No. 86/2006. “Pemerintah harus lebih konsen terhadap permasalahan tersebut,” kata Roslaini.

Berlakunya RANDA memerlukan kebijakan anggaran untuk pengimplementasiannya. Menurut Asmaniar, anggota DPRD Provinsi Kalbar, pembiayaan APBD Provinsi Kalbar anggaran 2007, untuk Bapora PP senilai Rp. 160.830.000. Dinas Nakertrans senilai Rp. 285.000.000. Biro Sosial Rp. 105.000.000. Dari jumlah tersebut, dibagi lagi ke dalam pos-pos. “Bagaimana kita mau bicara restruktur Kalbar, kalau biaya yang dikeluarkan memfasilitasi saja hanya 63 juta?” ujar Asmaniar, menyesalkan jumlah dana yang dikeluarkan untuk penanganan terhadap trafiking. Itu pun, harus digunakan untuk membayar listrik dan kebutuhan lainnya.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan CiBa-APIK Pontianak terhadap APBD Kalbar, jumlah alokasi anggaran anti perdagangan orang dalam persentase adalah, 2005 sebesar 0,55 persen dari total APBD. Pada 2006, sebesar 0,03 persen dari total APBD. Pada 2007, sebesar 0,53 persen dari total APBD.□

Seminar Perdagangan Orang di Kalbar

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
YLBH-PIK (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Perempuan Indonesia untuk Keadilan) Pontianak, bekerjasama dengan Civic Education and Budget Transparency Advocacy (CiBa), mengadakan seminar trafiking. Seminar merupakan hasil penelitian dan Studi Kinerja Pemerintah Daerah dalam Pemberantasan Perdagangan Orang di Kalimantan Barat. Kegiatan berlangsung hari ini, Kamis (5/7), pukul 08.00 – 13.00 Wib, di Hotel Santika, Pontianak.
Menurut Roslaini Sitompul, Direktur YLBH-PIK, seminar bertujuan melihat
kinerja pemerintah, terhadap pemberantasan perdagangan orang.
Maraknya kasus penjualan orang, khususnya perempuan dan anak atau trafiking, dalam bentuk jaringan terorganisasi maupun tidak terorganisasi, perlu dicegah dan ditanggulangi.
Pencegahan tidak hanya dilakukan satu instansi saja, tetapi butuh kerjasama antarinstansi yang peduli terhadap kasus trafiking. “Harapan kita, lebih banyak lembaga lain yang turut menangani masalah trafiking ini,” kata Roslaini.
Banyaknya instansi yang turut membantu menangani trafiking, menunjukkan adanya kepedulian banyak pihak. Hal tersebut disambut baik Roslaini. Makin banyak orang yang peduli, makin bagus, kata Roslaini.
Menurutnya, masyarakat sudah mulai memahami mengenai trafiking. Banyak masyarakat melapor mengenai kasus trafiking.
Selain itu pula, Undang-Undang No 21/2007, tentang tindak pidana perdagangan orang, merupakan penegakan hukum. Yang menjunjung tinggi hak asasi manusia,dengan acuan Convention on the Elimination of all Forms of Discrimination againts Women atau pengesahan konvensi tentang penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan, UU No.7/1984.
Seminar ini menghadirkan empat narasumber. Mereka mewakili setiap bidangnya. Antara lain, Utin Kusumawati (Bapora PP), Asmaniar (DPRD Provinsi), Dahniar (Bappeda Kalbar), dan Sri Mastuti (CiBa Pontianak).
Sumartini, Ketua Pelaksana, menyatakan seminar juga melihat pembuktian komitmen dari pemerintah, melakukan penanganan dan pencegahan trafiking di wilayah Kalimantan Barat.□

HIV/AIDS dan Narkoba di Kalimantan Barat

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak

Anwar, anggota Komisi D DPRD Provinsi Kalimantan Barat, menyoroti masalah tingginya angka HIV/AIDS di Kalbar. Penyebab tingginya HIV/AIDS, berkaitan dengan tingginya angka pengguna narkoba dan ketidaktahuan penduduk terhadap masalah ini.

Menurutnya, dalam masalah pengentasan kemiskinan dan pembangunan, masalah penduduk merupakan obyek dan subyek pembangunan. Yang mengedepankan aspek kesejahteraan. Hal ini dilakukan dengan mengintegrasikan aspek kependudukan dalam perencanaan pembangunan nasional, dan pembangunan kependudukan itu sendiri. Acuan yang dilihat adalah, dinamika kependudukan dan bagaimana membangun penduduk, agar menjadi pelaku pembangunan yang andal, baik dalam kualitas maupun kuantitas.

Permasalahan yang diutarakan Anwar dalam masalah HIV/AIDS di Kalbar, bisa dilihat dari berbagai data yang ada. Salah satunya data dari Dinas Kesehatan Kalimantan Barat per Desember 2006.

Berdasar data itu, penduduk terinveksi HIV (Human Immunodeficiency Virus) positif di Kota Pontianak, sebanyak 401 jiwa. Kabupaten Pontianak, 90 jiwa. Singkawang, 295 jiwa. Sambas, 43 jiwa. Bengkayang, 5 jiwa. Sanggau, 7 jiwa. Sintang, 3 jiwa. Kapuas Hulu, 2 jiwa. Ketapang, 14 jiwa. Satu daerah yang tidak terindikasi HIV/AIDS adalah Kabupaten Landak.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kota Pontianak 2005, jumlah penduduk di Pontianak, 521.369 jiwa. Penduduk ini terdiri dari 263.348 laki-laki, dan 258.021 perempuan.

Dari angka itu, jumlah orang yang masuk tahap AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome), di Kota Pontianak terdapat 234 jiwa. Kabupaten Pontianak, 37 jiwa. Singkawang, 253 jiwa. Sambas, 9 jiwa. Bengkayang, 8 jiwa. Landak, 6 jiwa. Sanggau, 2 jiwa. Sintang, 3 jiwa. Kapuas Hulu, 3 jiwa dan Ketapang 4 jiwa.

Data tersebut diperoleh berdasarkan hasil test, yang dilakukan atas kesadaran sendiri. Dari jumlah itu, warga negara Indonesia yang terdata HIV positif di Kalbar, 762 jiwa. Tahap AIDS sebanyak 237 jiwa. Warga negara asing yang terinfeksi HIV sebanyak 49 jiwa dan AIDS sebanyak 3 jiwa.

“Perlunya menekan peringkat tersebut, dikarenakan penduduk sebagai pelaku dan sasaran untuk pembangunan,” kata Anwar.

Orang harus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Pencapaian penduduk tersebut, bisa diperoleh apabila ada anggaran untuk memperbaiki kesalahan dalam mengelola kependudukan.
Faktor yang mengakibatkan orang terinveksi HIV, berasal dari berbagai faktor. Faktor homoseksual sebanyak 106 jiwa. Heteroseksual, 466 jiwa. Narkoba jarum suntik (IDU), 185 jiwa. Perinatal, 7 jiwa. Transfusi darah, 5 jiwa. Dari jumlah itu, yang sudah masuk tahap AIDS, homoseksual sebanyak 75 jiwa. Heteroseksual, 330 jiwa. Biseksual, 2 jiwa. Perinatal, 3 jiwa. Faktor resiko yang tidak diketahui penyebab terinfeksi HIV, 91 jiwa dan AIDS 13 jiwa.

Menurut Riri, Pembimbing di Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Kalimantan Barat, data tersebut bisa saja bertambah dengan adanya kesadaran dari orang-orang terinfeksi HIV/AIDS. Riri mengatakan, mobilitas orang terinfeksi tidak terdeteksi. Bahkan, ada kemungkinan mereka berpindah dan sudah berkeluarga.

“Kasus terbanyak, terjadi pada laki-laki,” ujar Riri. Ada kemungkinan peningkatan resiko tertularnya virus ini, sudah dianggap lifestyle di kalangan remaja.□

Bangkit dari Keterpurukan

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Kadang mereka dipandang sebelah mata oleh masyarakat, karena masa lalunya. Sekarang, mereka mencoba mengajak sebaya, sadar dan menjauhi narkoba.

“Saya dulu kurus,” kata Aji.

Ucapan itu terlontar dari bibirnya. Ucapan yang mencoba membandingkan kondisi dirinya, beberapa tahun lalu.

Awal perkenalannya dengan narkoba bermula dari 1994. Ketika itu, ia masih remaja dan ingin coba-coba. Pergaulannya di lingkungan seperti itu. Kata pemilik tindik di bawah bibir ini.

Namanya Santi, 25. Ia lebih akrab dipanggil Aji. Nama itu pemberian teman-temannya. Sifatnya tomboi. Karenanya, teman memberikan nama Aji, padanya. Sekarang Aji menjadi Relawan PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia).

Awalnya, Aji hanya mendapatkan barang tersebut secara gratis dari temannya. Lama-kelamaan, karena sering mengkonsumsi, kebutuhannya pun semakin meningkat. Aji harus merogoh kocek pribadi untuk membeli.

Aji pernah menggunakan tiga jenis narkotika sekaligus dalam satu hari. “Oktober lalu, saya sampai muntah kuning,” kata Aji.

Menggunakan barang narkoba, memberi efek berbeda bagi pemakainya. Rasa itu, bisa sensitive, santai, atau percaya diri. “Kalau putaw selalu happy, khayalan tingkat tinggi,” ujar Aji, sembari tertawa kecil.

Pada 1996, orang tuanya mendapati ganja di kamar Aji. Mulai saat itulah, orang tuanya mengetahui, bila Aji pengguna narkoba. Ketergantungan Aji pada narkoba, semakin menjadi, ketika ayahnya menikah lagi, pada tahun yang sama. Hubungannya dengan sang ayah sangat dekat.

Pernah di saat lebaran, Aji ditinggal sendiri di rumah. Mamanya merayakan lebaran bersama neneknya. Papa, hidup bersama istri baru. “Saya main layang-layang di atas atap sambil nyimeng,” kata Aji, tersenyum getir mengenang kejadian itu. Nyimeng adalah bahasa gaul untuk ganja.

Kondisi lapar akibat nyimeng, mengakibatkan kue lebaran yang dibuat mamanya, ludes dalam waktu singkat. Sulung dari dua bersaudara ini mengakui, kondisi emosinya kadang tidak stabil. “Saat sakaw, saya sering marah-marah,” kata Aji.

Dana paling banyak yang dikeluarkan Aji, untuk menikmati narkoba sebesar Rp 4 juta. Saat itu, bersama 2 rekannya yang lain, Aji berangkat ke Bogor dan menyewa villa. Di sana, ternyata banyak teman yang sudah menunggu.
Pernah pula, Aji merasakan sulitnya membeli “barang” karena kehabisan dana. “Saya menghabiskan 60 butir obat yang ada di pasaran hingga lemas,” kata Aji.

Aji ingin berhenti mengkonsumsi narkoba, karena niatnya yang besar untuk sembuh. Meninggalnya teman biasa bergaul, juga jadi pelajaran tersendiri bagi Aji. Apalagi, mereka terkena HIV positif.

Meskipun Aji baru bergabung pada Desember tahun lalu, banyak hal sudah ia peroleh. Menghilangkan ketergantungan narkoba, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu sedikit demi sedikit. “Sudah sebulan ini, saya tidak mengkonsumsi narkoba lagi,” ujar Aji senang.□

Mencari Makna dari Masa Lalu

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
“Every journey starts with a single step.”

Tulisan itu terlihat pada belokan anak tangga menuju lantai atas Wisma Sirih. Tempat itu merupakan tempat rehabilitasi bagi orang yang ketergantungan dengan narkoba. Ada makna tersendiri, bagi yang membacanya. Tulisan itu, mengajak orang menghargai hidup.

Adi (27), merupakan residen atau orang dalam perawatan di tempat tersebut. Sudah empat bulan, ia melewati hari-harinya bersama teman baru.

Ia berasal dari Singkawang. Ia pengguna narkoba jenis putaw. Awalnya perkenalanya dengan putaw, berawal dari coba-coba. Ia mengenal putaw dari temannya. Ketika menggunakannya, ia merasakan seperti terbang. “Enak, tenang, dan enjoy,” kata Adi pelan.

Bila dalam awalnya ia menggunakan putaw hanya sekali sehari, lama-lama dosisnya naik. Akhirnya, ia menggunakan putaw lima kali dalam sehari.

Ketika sedang sakaw dan ingin putaw, ia melakukan berbagai hal untuk mendapatkan barang itu. Ia pernah melakukan tindak kriminal, menjual barang dari rumah, menjambret, dan mencuri. Semua itu merupakan masa lalunya.

Menurutnya, narkoba merupakan obat pemacu supaya terus giat bekerja. Kehidupan seks bebas, juga pernah dijalani Adi. Semuanya, akibat mengkonsumsi narkoba.

Efek yang dirasakan sekarang, cara berpikirnya lambat, bingung, stamina menurun dan susah beradaptasi. “Kadang ada yang ingin disampaikan pada orang lain, tapi malah diam karena kelupaan dan kepikiran,” kata Adi.

Selama menjalani rehabilitasi, Adi diarahkan ke kegiatan positif dan diberi tanggungjawab. Apa yang bisa dikerjakan di wisma, akan dikerjakan, kata Adi.

Setiap hari, ia dan temannya harus mampu mengurus kebersihan di lingkungan wisma. Selain itu, kegiatan mereka juga diarahkan untuk kreativitas dengan cara membuat poster dan berolah raga. Sisi religi mereka juga diarahkan dengan wajib menjalani sholat lima waktu, bagi yang muslim. Bagi yang beragama Kristen, diarahkan ke Gereja. Siraman rohani juga menjadi agenda mereka. Pengurus wisma terkadang mengundang Ustad dan pendeta memberikan ceramah.

Sekarang ini, Adi menjadi chief atau ketua di Wisma Sirih. Kriteria menjadi chief, dapat menjadi contoh bagi rekan yang lain.

Lalu, apa yang menjadi bagi Adi untuk sembuh? “Dukungan dari orang tuanya, merupakan pendorong untuk sembuh,” kata Adi.

Rini (32), saat ini menjadi PE (Peer Educator) di PKBI Kalimantan Barat. Rini sudah menjadi relawan selama setahun. Ia merupakan sukarelawan yang bekerja untuk merangkul teman-teman yang HIV/AIDS. “Maraknya narkoba mengakibatkan meningkatnya HIV/AIDS,” ujar Rini.

Rini dulunya pengguna narkoba. Alasan menggunakan narkoba, karenakan faktor keluarga pecah. “Bapak saya kawin lagi,” ujar Rini pelan.

Rini pernah merasakan efek akibat mengkonsumsi narkoba. Tidak bisa makan dan tidur. Akibatnya, berat badannya turun.

Ada satu momen dan titik balik yang membuatnya aktif di PKBI dan menjadi aktivis. Teman dekatnya meninggal, karena sedang “on” saat mengendarai motor dan tabrakan. Pengalamannya inilah, yang membuat Rini memutuskan berhenti mengkonsumsi narkoba. “Sudah dua tahun saya berhenti,” ungkap Rini tersenyum senang.

“Pecandu narkoba bisa sembuh, asalkan ada niat dari diri sendiri,” kata Rini.

Selain itu, orang tua juga harus memperhatikan anak mereka, agar tidak jatuh ke pergaulan salah. Anak seharusnya dibimbing, berkomunikasi dan dianggap sebagai teman oleh orang tua.

Zulkarnain, Konselor Wisma Sirih, mengatakan, mantan pecandu biasanya dianggap sebagai orang malas, tidak bertanggungjawab, dan suka berbohong. “Masyarakat kebanyakan memandang mereka secara negatif,” ujar Zulkarnain.

Pecandu seharusnya diberikan bimbingan dan terapi. Hal tersebut dilakukan dengan perawatan yang selalu dikontrol. “Perawatan ini turut ditangani oleh dokter dan psikolog,” kata Zulkarnain.□

Meningkatkan Kemandirian dengan LKM dan UKM

Arthurio Oktavianus
Borneo Tribune, Pontianak

Harapan: ingin mengenal dan memperdalam komputer, tidak tahu menjadi tahu.
Kecemasan: takut komputer rusak.

Tulisan itu ditulis seorang ibu pada selembar kertas. Yang dikumpulkan dan diletakkan berbaris ke bawah, pada papan tulis warna putih, Kamis (28/6), di Wisma Tanjung Ria 2, saat mengikuti pelatihan LKM (Lembaga Keuangan Mikro) dan UKM (Usaha Kecil Mikro). Pelaksanaan pelatihan ini dilaksanakan selama 3 hari, 28-30 Juni 2007.

Latihan LKM diberikan pada anggota Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA), berupa latihan penyusunan laporan keuangan secara komputerisasi. Untuk UKM, mereka diajarkan bagaimana cara memilih usaha, memasukkan produk yang dihasilkan ke pasar, dan mengenal pasar yang dituju.

Sebanyak 38 anggota PEKKA, mengikuti pelatihan tersebut. Mereka merupakan perwakilan dari Kecamatan Pontianak Timur, Pontianak Utara, Sungai Raya, dan Rasau.
Menurut Adi Nugroho, Sekretaris Nasional PEKKA Jakarta, pelatihan komputer merupakan keterampilan yang diberikan kepada ibu yang tergabung di PEKKA.
“Kegiatan ini untuk memperdalam pengetahuan mereka,” kata Adi.

Pelatihan komputer sebenarnya sudah pernah diberikan di Jakarta. PEKKA Kalbar tahun lalu mengirimkan dua wakilnya.

Selama ini, PEKKA Pusat berupaya membantu PEKKA di daerah untuk berhubungan dengan lembaga lain. Hal ini berkaitan dengan penyaluran produk yang dihasilkan anggotanya. Selain menjadi kepala keluarga, anggota PEKKA juga berfungsi sebagai pencari nafkah utama yang menghidupi keluarganya.

Hal itu dirasakan Nur Azizah, Ketua LKM PEKKA dari Sungai Raya. Nur menjadi ketua sekira 300 orang. Ia sangat berharap pada latihan ini. Keinginan besar untuk menguasai komputer. Hal itu akan dimanfaatannya untuk menunjang usahanya membeli hasil kebun. Ia menampung hasil kebun selama seminggu. Penampungan itu dapat mencapai 200 kg.

Selain masalah teknis, belajar komputer berkaitan dengan masalah psikologi yang mereka rasakan. Salah satu contoh, dialami Nur. “Saya takut ngantuk,” ujar Nur, ketika ditanya ketakutannya mempelajari komputer. Sambil mengucapkan itu, ia tersenyum malu.

Banyak hal yang ia rasakan, ketika menjadi anggota PEKKA. “Selain ilmu, saya merasakan pengembangan diri sendiri melalui motivasi, dan juga usaha,” kata Nur.

Pada LKM yang diketuainya, Nur juga memiliki anggota. Ada juga anggota yang memiliki bidang usaha sendiri. Usaha itu, produksi keripik, kacang, membuat baju, dan kain.

Menurut Kholilah, Pendamping PEKKA Kalbar, anggota PEKKA diajarkan mengenal dan mengaktifkan komputer. “Mereka harus tahu bagaimana caranya, dan apa fungsi mouse dan keyboard,” kata Kholilah.

Pertemuan hari pertama juga diisi dengan penyampaian harapan mereka. Hal ini dimaksudkan, mereka dapat berproses bersama. Anggota PEKKA kadang dikucilkan dan tidak diikutsertakan dalam proses pembangunan. “Mereka terkucil, diam sendirian. Meskipun mereka punya banyak potensi,” kata Kholilah.

Melalui kegiatan ini, mereka diharapkan dapat membangun rasa percaya diri dan setara dengan perempuan lain. Selain itu, diharapkan mereka mulai berkembang dalam hal usaha. “Lebih baik lagi dalam mengelola keuangan,” kata Kholilah.

Menurut Kholilah, kesulitan yang dirasakan saat ini, dikarenakan akses berbagai informasi terbatas. Keterlibatan anggota juga terbatas. Mereka harus menafkahi keluarganya. Selain itu, tantangan paling berat, merupakan kesulitan anggota untuk membaca dan menulis.

Namun, hal tersebut tidak membuat kecil hati. Mereka terlihat antusias mengikuti setiap kegiatan. Bahkan, tepuk tangan di akhir sesi, terdengar nyaring. Senyaring suara mereka menyuarakan kesetaraan dengan perempuan lain.□

Polwan dan Dunianya

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Bripda Muji Widi Astuti (22), duduk di balik meja beralas biru. Model rambutnya pendek, tidak menutupi mata dan daun telinga. Ia biasa dipanggil Muji. Sehari-hari bertugas di bagian lalu lintas. Siang itu, Jum’at (29/6), Muji bertugas menunggu stan.

Ia mengenakan seragam lengkap. Wajahnya tidak tersaput kosmetik sedikit pun. “Perempuan tidak boleh kalah dengan laki-laki,” ujar Muji tegas.

Zaman mulai berubah. Dulunya, polisi perempuan sebagian besar di balik meja. Kini, banyak polisi perempuan bekerja di lapangan. Semua pekerjaan berat itu, mesti dijalani dengan ikhlas. Melaksanakan tugas merupakan kewajiban. Banyak tugas yang dilakukannya. Kebanyakan razia.

“Tertib lalu lintas, diskotik, salon plus, dan kos-kosan,” kata Muji.

Menurut Muji, pekerjaannya Polwan, merupakan perwakilan bagi kaum perempuan. Ia sudah menjalani pekerjaannya selama setahun. Awalnya, Muji hanya magang di Poltabes Pontianak, selama lima bulan.

Perbandingan antara polisi perempuan dan polisi pria, berkisar satu berbanding sepuluh. Satu untuk polisi perempuan, sepuluh untuk polisi pria. “Polwan juga menyebar ke bagian lain,” kata Muji.

Muji tidak pernah mengalami perlakuan kasar dari para pelanggar maupun masyarakat. Hanya saja, ia sering mendengar umpatan-umpatan dari pelanggar lalu lintas. “Harus sabar bila menghadapi orang beremosi tinggi,” kata Muji.

Banyak hal yang diperolehnya di lapangan. Selain kata-kata kasar, banyak mengenal orang dengan berbagai watak. Karena telah terbiasa dengan pekerjaan di lapangan, Muji merasa tidak canggung lagi. “Dulu gugup, bila berhadapan dengan orang tidak dikenal,” kata Muji.

Kegiatan mengatur lalu lintas, dijalani Muji mulai pukul 06.00 Wib. Selama 1,5 jam, Muji harus berada di lapangan. Siang hari, ia mulai mengatur lalu lintas pada pukul 13.00 Wib.

Saat matahari tepat di ubun-ubun, ia juga mesti bertugas selama 1,5 jam. Sebagai perempuan, kadang Muji merasa kasihan pada kaumnya. Yang ditangkap karena melakukan kriminal. Tapi ini tugas, harus dijalani, kata Muji.

Menurutnya, satu sikap pembelaan yang dapat dilakukan untuk kaumnya, melalui bimbingan, pembinaan, dan penyuluhan. “Kita harus membantu meluruskan jalan mereka yang tidak lurus,” kata Muji, bijak.
Menurut Hasyani, Kepala Unit Pendidikan dan Rekayasa Lalu Lintas, tugas polisi yang biasanya dianggap sebagai tugas laki-laki, ternyata bisa dilakukan oleh perempuan.
Yani merasa, menjadi Polwan itu “hebat”. Polwan dituntut untuk siap 1x24 jam. Selain itu, Polwan juga berperan sebagai ibu rumah tangga, bagi yang sudah berkeluarga.

Meskipun dituntut selalu siap sedia, Yani menikmati tugas dan perannya. Datang di rumah capek. Tapi, saat melihat anak tertawa, jadi segar kembali, kata Yani.

Ada satu hal yang membuatnya agak repot adalah masalah membagi waktu. Menurutnya, mau tidak mau, Polwan harus pandai membagi waktu. Terutama Polwan perwira. Kadang ada rapat mendadak. Janji dengan orang rumah untuk pulang awal, terpaksa diundur.

Ia pernah alami pengalaman lucu. Ketika menjadi negosiator unjuk rasa mahasiswa. Menurutnya, mahasiswa yang berdemo berkata, “Lha, mbak lagi mbak lagi. Yang lain kek.”

Ledekan itu dibalas pula olehnya. “Lha, yang unjuk rasa kamu lagi kamu lagi. Yang lain kek.”

Ia bercerita sambil tertawa. Masalah kesetaraan dalam bertugas, juga menjadi hal biasa di kepolisian. Polwan turut berjaga di garis depan, saat demo berlangsung.

Menurut Tri Pratiwi, Kepala Bagian Administrasi Poltabes Pontianak, Polwan yang ada di Poltabes sebanyak 49 orang. Polwan mengisi bidang satuan intelijen, reserse kriminalitas, penanggulangan narkoba, lalu lintas, dan bina mitra masyarakat. Polwan harus siap mental, fisik, kesehatan, dan pengetahuan umum.

Peran polisi memberikan pelayanan pada masyarakat, dirasakannya semakin terjalin akrab. Sekarang ini, banyak masyarakat melapor, bila ada kejadian di lingkungannya. Bahkan, sampai tingkat RT sekali pun.

Menurutnya, sebagai polisi, harus mengerti tugas pokok dan tanggungjawab masing-masing. “Polisi bukan untuk dihormati, tetapi untuk dicintai masyarakat,” katanya.□

Tri Pratiwi, Polwan yang Lembut dan Sederhana

Arthurio Oktavianus
Borneo Tribune, Pontianak

“Kehidupan saya biasa-biasa saja.”

Kalimat sederhana itu mengawali perbincangan kami. Namanya, Tri Pratiwi. Pangkatnya Komisaris Polisi. Ia menjabat sebagai Kepala Bagian Administrasi (Kabagmin) Poltabes, Pontianak. Hari itu, Minggu (1/7), kami berbincang di rumahnya.

Jalan menuju rumahnya belum tersentuh aspal. Jalan itu berupa tanah dikeraskan. Sisi kanan jalan terlihat rimbun dan rindang dengan tumbuhan perdu. Rumahnya di Jalan Danau Sentarum, Gang Matraman No 5. Rumah itu berbaur dengan rumah masyarakat biasa, dan jauh dari kesan elit.

Teras rumah berporselain putih itu, dijumpai dua kursi dari rotan, warna merah muda. Depan pintu di sisi kiri, banyak tanaman hias dalam pot yang menambah asri rumah itu. “Tanaman itu bapak yang menanam,” ujar Pratiwi memberitahu.

Ruang tamu rumah terasa teduh. Dinding rumah bagian dalam didominasi bahan kayu. Sofa berwarna merah mengisi ruang tamu. Sebuah meja kayu beralaskan kaca, terletak di antara deretan kursi. Di atas meja tertata rapi empat minuman gelas kemasan.

Menurut Pratiwi, menjadi polisi wanita merupakan pilihan setelah menamatkan pendidikan Sekolah Guru Olahraga (SGO). Ia mendaftar bersama temannya. Temannya lulus seleksi dan ia tidak. Test pertamanya gagal.

Ia tak putus asa dan mencoba lagi. Kali kedua, ia lolos seleksi.

Ia menjalani pendidikan selama 11 bulan. Pada 1983, ia ditempatkan di bidang Kesehatan Jasmani, Polda, Kalbar. Setelah itu, ia bertugas di lapangan. Ia bergabung dengan bidang lalu lintas. Tugas ini dijalaninya selama tiga tahun. Kemudian, ia menjadi Sekretaris Pribadi, Kepala Polisi Daerah (Seprikapolda).

Pada 1993, ia mendapatkan Pendidikan Calon Perwira di Ciputat. Setelah menamatkan pendidikan, pangkatnya menjadi Letnan Dua.

Setelah itu, ia menjabat sebagai Kepala Sub Bagian Pangkat. Setelah itu, karirnya naik dengan menempati Kepala Sub Bagian Penempatan dan Pangkat. Pada 28 Januari 2007, ia diangkat menjadi Kepala Bagian Administrasi. “Sekarang ini, Kabagmin perempuan yang ada di Kalbar, cuma dua. Pontianak dan Singkawang,” kata Pratiwi.

Menurutnya tidak ada tugas yang sulit. Baginya, yang terpenting masalah disiplin waktu dan berdoa. Tugas harus dibawa serius tapi santai. Namun, semua harus punya target untuk selesai dan berhasil dengan baik, kata Pratiwi.

Kesibukan Pratiwi tidak hanya di kantor. Sepulang dari kantor, ia mengurus rumah dan menjadi ibu rumah tangga biasa. Menurutnya, saat di rumah dan tidak mengenakan seragam, ia merupakan masyarakat biasa.

Semenjak menjalani tugas sebagai Kabagmin, kesibukan Pratiwi bertambah. Jadwal pulang dari kantor, harus menyesuaikan dengan tugas menumpuk di atas mejanya. Kadang, ia pulang paling akhir. Biasanya ia pulang ke rumah pukul 17.00. Jadwal tersebut kadang berubah. Ia bisa saja pulang hingga pukul 23.00.

Ada yang tersita dengan jabatannya. Ia tak bisa melakukan hobi main tenis dan renang.

Ada yang mengganjal dengan posisi polisi yang ia rasakan. Pratiwi jengkel bila berhadapan dengan anggota polisi yang “nakal” dan tak jera. Menurutnya, polisi sudah mendapat gaji, namun masih indisipliner. Ia pernah berhadapan dengan polisi di sidang Komisi Kode Etik, dengan pelanggaran disiplin sebanyak tiga kali.

Sekarang ini, kepolisian lebih berorientasi melayani masyarakat. Hal ini dilakukan dengan menjadi mitra masyarakat. Sikap militeristik yang dulu “melekat” pada polisi, sudah mulai berkurang. “Kalau kita keras, yang mau melapor bisa lari,” kata Pratiwi.

Sikap menjadi sahabat, juga diterapkan dalam menjalani tugas sebagai Kabagmin. Menurutnya, ia juga dekat dengan rekan lain di kantor. Ia tidak malu bertanya kepada bawahannya, apabila tidak mengetahui suatu hal. “Saya juga ingin, agar mereka bisa mengutarakan pendapatnya,” kata Pratiwi.

Bukan hanya di kantor, Pratiwi juga berusaha menjadi sahabat bagi anak-anaknya. Dua putri dan seorang putranya, bahkan langsung pulang, bila dikabari dirinya sakit. Walaupun mereka sedang bermain ke tempat temannya. Anaknya, pasti segera pulang melihat kondisinya.

Pratiwi sangat bersahabat. Ia selalu dipanggil mama oleh teman anaknya, maupun tetangga. “Mama Pratiwi. Mama Pratiwi. Begitu mereka memanggil saya,” ujar Pratiwi, sembari tertawa. Rumahnya sering menjadi tempat menginap bagi teman anaknya. Tak heran, bila dalam kesehariannya, lantai atas rumahnya ada lebih dari lima orang.□