Arthurio Oktavianus
Borneo Tribune, Pontianak
Ruangan di belakang Vihara Vajra Bumi Kertayuga, penuh sesak. Ruangan itu, didominasi oleh warna kuning. Lebih kentara, dari warna dinding yang berwarna krem.
Mata setiap pengunjung, tertuju pada satu tempat, panggung.
Di panggung, terlihat seorang anak putri berusia sekitar 4 tahun sedang bernyanyi. Rambut dikepang, dengan gaun yang dikenakannya berwarna pink. Tiada sungkan dia menari. Tubuhnya bergerak mengikuti irama. Dia memukau penonton; kalangan tua dan muda.
Tepuk tangan membahana, saat pertunjukkannya usai. Dia turun panggung.
***
Acara ini merupakan salah satu kegiatan yang diselenggarakan untuk menyambut hari raya Waisak, Jumat (01/06) kemarin.
Pertunjukan selanjutnya adalah wushu. Peragaan olah tubuh yang lentur, dengan ayunan senjata tajam. Mereka menggunakan pedang dan tombak. Menurut Sahuri (22), yang menjadi pelatih wushu, dirinya hanya pelatih sementara. “Pelatih utama, sedang pulang ke Bandung untuk mempersiapkan diri pra PON (Pekan Olahraga Nasional).” ujarnya sambil tersenyum.
Gerakan kuda-kuda dan kelenturan, merupakan hal yang harus dimiliki oleh orang yang belajar wushu. “latihan pengenalan wushu butuh waktu delapan bulan. Sedangkan dasar kuda-kuda, empat bulan.” ujar Sahuri.
Setelah menguasai dasar, mereka baru diajarkan jurus. Menurut Sahuri, gaya shaolin selatan (nan chuen) cocok bagi mereka yang bertubuh agak subur. Sedangkan gaya shaolin utara (chang chuen) cocok bagi yang memiliki bentuk tubuh proporsional. Latihan rutin juga mereka lakukan, setiap hari, kecuali hari Minggu. Waktu yang mereka habiskan, sekitar dua jam.
Usia yang baik untuk memulai latihan, sebaiknya sedari kecil. “Biar tulang bisa lentur karena dilatih, dibandingkan dengan tulang orang dewasa, yang sudah kaku.” lanjut Sahuri.
***
Upacara doa Tri Suci hari Raya Waisak, sudah dilakukan sejak pukul 10.00. Selain penampilan lincah si gadis cilik, ada sejumlah acara lainnya. Di antaranya ada doa. Doa itu dipimpin Rudi Cahyadi. Apakah bapak Pandita? “Jangan panggil saya Pandita. Saya hanya memimpin doa di sini,” katanya merendah. Senyum.
Menurutnya, doa dipanjatkan untuk menghormati sang Buddha.
Selain membakar hio atau setangi, di altar depan pintu masuk ruangan doa, terdapat buah-buahan yang di susun dalam piring. Di sisinya, berdiri beberapa lilin yang dibiarkan menyala. Ada juga barang-barang berupa simbol, yang terbuat dari kertas. “Itu untuk arwah yang mendahului kita,” ujarnya lagi.
Halaman depan vihara tersebut, terdapat pagoda yang tersusun tujuh tingkat, sebagai tempat untuk pembakaran kertas bagi arwah. Tiga meter di depannya, ada pagoda yang dindingnya bertuliskan dengan mantra-mantra. “Namanya pagoda Usnisavijaya, atasnya terdapat patung Buddha.” Rudi berkata. Tujuan utamanya, lanjut Rudi, agar Pontianak dapat terhindar dari malapetaka.
Prosesi acara doa yang dilakukan, berupa pembacaan Sutra. Sutra ini, ujar Rudi, merupakan ajaran-ajaran sang Buddha.
Rudi menambahkan inti dari hari raya Waisak adalah memperingati Tri Suci, sebagai ajaran sang Buddha yang membawa pencerahan. “Kita harus berusaha untuk menghayati nilai-nilai luhur sang Buddha, kemudian diamalkan.” Rudi menjelaskan.
Selain itu, dalam acara ini juga dilakukan upacara memandikan rupang (patung) Buddha. Hal ini dilakukan untuk mengingat peristiwa dimana sang Buddha kecil dimandikan oleh ibunya.
Terdapat lima patung diletakkan berjejer, berada di depan ruangan. Tempatnya pun, paling tinggi dengan benda lainnya. “Patung di ujung, sebelah kiri arah masuk, merupakan patung Amogasidhi,” Rudi memberitahu.
Patung tersebut secara berturut-turut adalah Amithaba, Sakyamuni Buddha, Aksohya, dan Ratra Sambawa. Patung ini melambangkan sang Buddha menetap di empat penjuru mata angin, dan sentral dari mata angin tersebut.
Ramainya umat yang datang ke vihara, menunjukkan banyak pula pengikut agama Buddha sekte Kasogatan –satu di antara 8 sekte Buddha yang ada di Pontianak. Di vihara ini, menurut Rudi, jumlahnya umat sekitar 800 orang. *
Jumat, 29 Juni 2007
Waisak di Vihara Vajra Bumi Kertayuga, Pontianak
Diposkan oleh
bloomasak
di
09:33
0
komentar
Sabtu, 23 Juni 2007
Noviana Stefhany, Juara IV Duta Lingkungan Hidup Kota Pontianak
Arthurio Oktavianus
Borneo Tribune, Pontianak
Rambut depannya tersisir rapi ke belakang. Rambut itu, menyatu dengan sanggul yang ditusuk dengan beberapa konde yang berwarna emas. Mempertegas visual wajahnya yang oval.
Berbincang dengan Noviana Stefhany, seperti menghadirkan nuansa keakraban yang terjalin lama. Kata-kata yang diucapkannya, mengalir deras dan tegas. Permasalahan lingkungan hidup saat ini, menurut Stefhany, adalah banjir, efek rumah kaca, dan sampah. “Sekarang sedang hot-hotnya tu,” ujar Stefhany.
Seperti saat ini, ujar Stefhany, Pontianak sudah musim hujan. Bila hujannya lebat dan lama, beberapa wilayah Pontianak pasti akan banjir.
Stefhany mengatakan bahwa aktivis lingkungan hidup saat ini, mencoba mengatasi pemanasan global dan perubahan iklim. Efek rumah kaca yang terjadi, mengakibatkan pantulan sinar matahari yang masuk ke bumi, tertahan dan mengakibatkan kenaikan suhu di permukaan bumi.
Menurut siswi yang baru saja lulus dari SMA I Pontianak ini, pemerintah harus lebih memperhatikan kemiskinan masyarakat. Orang yang miskin, menurut Stefhany, tidak mendapatkan informasi mengenai lingkungan secara jelas. Peran pemerintahlah yang harus mampu memberikan informasi kepada masyarakat miskin, melalui penyuluhan maupun sosialisasi.
Sampah, ujar Stefhany, perlu dilakukan pemisahan terlebih dahulu. Pembuangannya pun harus pada tempat yang berbeda. “Sampah organik ditempatkan pada tong sampah yang berbeda dengan yang non organik,” Stefhany menjelaskan.
Cara yang efektif untuk mengatasi sampah, menurut Stefhany, berupa aksi nyata dengan gotong royong. “Penduduk biasanya sulit bila diberikan penyuluhan. Masuk telinga kiri, keluar telinga kanan,” ungkap Stefhany. Hal-hal seperti itulah yang mengakibatkan sampah selalu menjadi permasalahan bagi penduduk, ujar Stefhany lagi.
Sebagai jawara IV di pemilihan duta Lingkungan Hidup, ada sedikit beban yang dirasakan olehnya. “Beban tidak terlalu besar, karena yang masuk tahap berikutnya hanya Juara I dan II saja. Akan tetapi, lanjutnya, hal yang paling berat adalah bagaimana cara untuk mengatur diri sendiri,” Stefhany menjelaskan.
Diposkan oleh
bloomasak
di
01:21
0
komentar
HIV/AIDS dan Narkoba di Kalimantan Barat
Arthurio Oktavianus
Borneo Tribune, Pontianak
Anwar, anggota Komisi D DPRD Provinsi Kalimantan Barat, menyoroti masalah tingginya angka HIV/AIDS di Kalbar. Penyebab tingginya HIV/AIDS, berkaitan dengan tingginya angka pengguna narkoba dan ketidaktahuan penduduk terhadap masalah ini.
Menurutnya, dalam masalah pengentasan kemiskinan dan pembangunan, masalah penduduk merupakan obyek dan subyek pembangunan. Yang mengedepankan aspek kesejahteraan. Hal ini dilakukan dengan mengintegrasikan aspek kependudukan dalam perencanaan pembangunan nasional, dan pembangunan kependudukan itu sendiri. Acuan yang dilihat adalah, dinamika kependudukan dan bagaimana membangun penduduk, agar menjadi pelaku pembangunan yang andal, baik dalam kualitas maupun kuantitas.
Permasalahan yang diutarakan Anwar dalam masalah HIV/AIDS di Kalbar, bisa dilihat dari berbagai data yang ada. Salah satunya data dari Dinas Kesehatan Kalimantan Barat per Desember 2006.
Berdasar data itu, penduduk terinveksi HIV (Human Immunodeficiency Virus) positif di Kota Pontianak, sebanyak 401 jiwa. Kabupaten Pontianak, 90 jiwa. Singkawang, 295 jiwa. Sambas, 43 jiwa. Bengkayang, 5 jiwa. Sanggau, 7 jiwa. Sintang, 3 jiwa. Kapuas Hulu, 2 jiwa. Ketapang, 14 jiwa. Satu daerah yang tidak terindikasi HIV/AIDS adalah Kabupaten Landak.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kota Pontianak 2005, jumlah penduduk di Pontianak, 521.369 jiwa. Penduduk ini terdiri dari 263.348 laki-laki, dan 258.021 perempuan.
Dari angka itu, jumlah orang yang masuk tahap AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome), di Kota Pontianak terdapat 234 jiwa. Kabupaten Pontianak, 37 jiwa. Singkawang, 253 jiwa. Sambas, 9 jiwa. Bengkayang, 8 jiwa. Landak, 6 jiwa. Sanggau, 2 jiwa. Sintang, 3 jiwa. Kapuas Hulu, 3 jiwa dan Ketapang 4 jiwa.
Data tersebut diperoleh berdasarkan hasil test, yang dilakukan atas kesadaran sendiri. Dari jumlah itu, warga negara Indonesia yang terdata HIV positif di Kalbar, 762 jiwa. Tahap AIDS sebanyak 237 jiwa. Warga negara asing yang terinfeksi HIV sebanyak 49 jiwa dan AIDS sebanyak 3 jiwa.
“Perlunya menekan peringkat tersebut, dikarenakan penduduk sebagai pelaku dan sasaran untuk pembangunan,” kata Anwar.
Orang harus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Pencapaian penduduk tersebut, bisa diperoleh apabila ada anggaran untuk memperbaiki kesalahan dalam mengelola kependudukan.
Faktor yang mengakibatkan orang terinveksi HIV, berasal dari berbagai faktor. Faktor homoseksual sebanyak 106 jiwa. Heteroseksual, 466 jiwa. Narkoba jarum suntik (IDU), 185 jiwa. Perinatal, 7 jiwa. Transfusi darah, 5 jiwa. Dari jumlah itu, yang sudah masuk tahap AIDS, homoseksual sebanyak 75 jiwa. Heteroseksual, 330 jiwa. Biseksual, 2 jiwa. Perinatal, 3 jiwa. Faktor resiko yang tidak diketahui penyebab terinfeksi HIV, 91 jiwa dan AIDS 13 jiwa.
Menurut Riri, Pembimbing di Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Kalimantan Barat, data tersebut bisa saja bertambah dengan adanya kesadaran dari orang-orang terinfeksi HIV/AIDS. Riri mengatakan, mobilitas orang terinfeksi tidak terdeteksi. Bahkan, ada kemungkinan mereka berpindah dan sudah berkeluarga.
“Kasus terbanyak, terjadi pada laki-laki,” ujar Riri. Ada kemungkinan peningkatan resiko tertularnya virus ini, sudah dianggap lifestyle di kalangan remaja.□
Diposkan oleh
bloomasak
di
01:21
0
komentar
Jumat, 22 Juni 2007
Menikmati Makanan ala Hongkong
Borneo Tribune, Pontianak
Bila ingin menikmati makanan Hongkong, Anda tidak perlu terbang jauh sampai ke negara yang menjadi salah satu tujuan bagi pencari kerja dari Indonesia ini. Arahkan saja kendaraan Anda menuju Jalan Hijas No. 8-10, Pontianak. Sebuah bangunan sisi kanan dari Jalan Gajahmada, yang tak seberapa jauh dari Jalan Tanjungpura, akan Anda temukan tulisan Warung Dim Sum pada spanduk putih di bagian depan bangunan.
Warung yang dibuka mulai 26 April 2007 ini, mempunyai menu pilihan yang siap menggoyang lidah Anda dengan harga terjangkau. Menurut Titin Agustina, Akuntan dan Administrasi warung Dim Sum, huruf S, M, L, dan XL yang tertera pada nota pemesanan, merupakan harga makanan yang di pesan. Harga ini berurutan adalah Rp. 6.900, Rp. 7.900, Rp. 8.900, dan Rp. 10.900. “Kami menerapkan sistem harga seperti di Singapura,” ujar Titin.
Warung Dim Sum juga halal, karena daging yang digunakan adalah daging udang dan ayam. Selain itu, setiap masakan yang dibuat tidak menggunakan vetcin. Setiap Minggunya, warung ini menawarkan menu baru berdasarkan permintaan dari customer.
Menurut Djaoe Sudiarto, Manajer Operasional, warung Dim Sum dibuka pukul 06.00 hingga 14.00 setiap harinya. Berdasarkan asalnya, makanan ini merupakan menu untuk sarapan.
Menu yang dipesan juga disajikan dengan anyaman bambu yang dibentuk bulat, dan disteam (dikukus-Red) pada steamer yang terletak di tengah ruangan. Bambu tersebut, ujar Titin, dipesan khusus dari Jakarta, karena belum ada pengerajin di Pontianak yang membuatnya.
Warung ini, menurut Djaoe, banyak didatangi oleh keluarga, terutama pada Minggu. Selain itu, pasangan muda-mudi dan para pebisnis, sering melakukan temu janji seraya menikmati santap siang. “Pernah pula dijadikan tempat untuk kumpul dan sekedar ngemil sebelum arisan.” ujar Djaoe memberitahu.
Menurut Agus Siswanto, Kepala Dapur, bakpau ayam merupakan menu yang paling lama pembuatannya. Hal ini dikarenakan bahan yang digunakan untuk pembungkus isi, mendapatkan perlakuan khusus. “Adonannya harus di simpan selama 20 jam, agar mengembang,” ujar Agus memberitahu. Bahan yang digunakan untuk mengolah makanan yang tertera di menu, sebagian berasal dari luar negeri. “Kualitas dan rasa makanan berbeda bila menggunakan bahan dari Indonesia.” Ujar Agus seraya tersenyum.
Agus merupakan salah satu dari 19 karyawan yang bekerja di warung Dim Sum. Keahlian untuk mengolah makanan Dim Sum ini, dipelajari Agus dari seorang shifu (ahli-Red) dari Singapura.
Menu yang dapat Anda nikmati di tempat ini adalah cheong fun udang. Makanan ini berbentuk mirip dengan resoles. Bedanya, cheong fun udang tidak digoreng, melainkan dikukus. Cheong fun udang disajikan dengan taburkan bawang goreng di atasnya, dan sedikit kuah sebagai saos. Kulit luar cheong fun udang yang terbuat dari tepung terasa manis di lidah dan lembut. Daging udang yang menjadi isi, tidak diberi bumbu apapun. Walaupun terasa tawar tanpa bumbu, Anda dapat merasakan sedapnya daging udang alami yang terasa empuk. Biaya yang Anda keluarkan untuk menu ini, cukup dengan Rp. 8.900.
Hakau juga dapat menjadi menu kesukaan anda. Bentuk visual dari makanan ini, bundar. Warna kulit pembungkus isi serupa dengan cheong fun udang. Rasa kulit luar tersebut manis. Daging udang sebagai isi hakau, berpadu dengan manisnya bengkoang yang dipotong kecil dengan bentuk dadu. Hakau dapat anda nikmati dengan harga yang sama seperti cheong fun udang.
Bakpau ayam ditawarkan warung Dim Sum, seharga Rp.7.900. Kulit luarnya yang berwarna putih, terasa lembut di mulut. Rasa manisnya juga dapat membuat Anda ketagihan untuk memesan lagi. Isi bakpau yang dibuat dari daging ayam, terasa lunak dan manis. Kombinasi rasa yang sempurna dari garam dan gula yang dicampur dengan daging saat perebusan awalnya, terasa sekali saat daging bertemu dengan lidah Anda.
Siomay terlihat berminyak di luar kulitnya. Lemak ayam yang menjadi isi siomay, meluber dan menembus kulit siomay saat dikukus. Kulit siomay dipesan khusus dengan bentuk yang sudah ditentukan sebelumnya. Pesanan ini, dibeli di salah satu toko di Pontianak. Kulit luar itu terasa kenyal, tetapi manis. Daging ayam sangat empuk, dan menjadi isi yang nikmat. Pemanis makanan, berupa mutiara berwarna merah di atasnya.
Stim beras ketan berharga Rp.10.900. Makanan ini, dibungkus dengan daun teratai yang diimpor langsung dari Malaysia. Daun teratai akan memberikan tambahan rasa nikmat dan gurih pada stim beras ketan. Daging ayam yang menjadi isi, bercampur dengan telur asin yang diambil kuningnya saja.
Cakar ayam dapat menjadi nikmat bila diolah dengan bumbu dan racikan yang sempurna. Cakar ayam yang sebelumnya direbus minimal selama sejam dengan kayu manis, akan meresapkan rasa kayu manis pada cakar ayam tersebut. Makanan berkuah dengan warna merah, dibuat dari beras ketan.
Semua makanan Dim Sum, di kukus selama tiga menit, dengan suhu yang telah di atur. Silahkan mencoba, dan Anda tak perlu membeli tiket ke Hongkong. *
Diposkan oleh
bloomasak
di
08:46
0
komentar
Konsultasi untuk Masuk PT
Arthurio O.A dan Herkulanus Agus
Borneo Tribune, Pontianak
Beberapa stan dibuka untuk memberikan bantuan konsultasi bagi para pelajar Pontianak yang ingin melanjutkan perguruan tinggi ke luar negeri, dalam Malaysia Education Fair 2007, Sabtu (16/6), di Hotel Santika.
Konsultasi yang dilakukan oleh beberapa lembaga yang bekerjasama dengan Perguruan Tinggi di luar negeri antara lain di Malaysia, Singapura, dan Australia.
Menurut Santi Sulistio, Direktur Utama Shines Lingua, konsultasi yang mereka berikan tidak dipungut biaya. “hanya terjemahan dokumen saja yang dikenakan biaya perhalaman,” ujar Santi memberitahu.
Syarat tetap yang harus dimiliki oleh para pelajar yang ingin melanjutkan studi ke luar negeri adalah bahasa inggris untuk Toefl dan IELTS. “Beberapa ada yang tidak bahasa Inggris sebagai bahasa pengantarnya,” ujar Santi. Toefl yang diinginkan adalah 550 dan IELTS adalah 6,0. “Bila sudah mencapai nilai itu, mereka bisa melanjutkan studi kemana pun,” ujar Santi lagi.
Pelajar akan dibantu mengenai pemilihan jurusan, sesuai dengan bakat dan minat mereka, dan dilakukan tes general. “Tes ini berdasarkan draft apakah pelajar tersebut sosial, individu, atau senang travelling,” ujar Santi.
Pelajar yang lolos tes sosial, akan diarahkan ke bidang psikologi, bisnis, marketing, dan komunikasi. Pelajar dengan tes individu, akan diarahkan ke bidang programer komputer, dan science yang melakukan percobaan. Pelajar dengan tes travelling akan diarahkan pada bidang perhotelan dan tourism.
Menurut Edward Eryanto, Student Recruitment Officer Help University College, mereka akan melakukan placement test untuk menetukan pelajar masuk ke jurusan apa. Selain itu juga, perkuliahan yang mereka tawarkan hanya dalam waktu empat tahun, dan dapat transfer ke perguruan tinggi lainnya, yang telah bekerjasama dengan Help.
Martin Yong, Pengajar PJ College of Art & Desain Malaysia, mengatakan bahwa pelajar harus mengetahui ‘box” mereka dan berusaha untuk keluar dari “box” tersebut. Menurutnya, pelajar harus lebih kreatif agar bisa maju. Sehingga, perlu adanya konsep untuk berkreativitas. “Masuk desain grafis tidak harus bisa melukis, karena sekarang sudah ada komputer,” ujar Martin.
Minat yang kurang terhadap acara ini, terlihat dengan sepinya pengunjung yang ingin mengetahui informasi untuk masuk perguruan tinggi. “Baru 2 orang, “ ujar Edward, sambil menunjukkan buku tamu yang bertuliskan dua nama itu. Selain itu, pelajar yang baru menerima hasil kelulusan, sedang meluapkan kegembiraan mereka di jalanan dengan baju penuh warna. □
Diposkan oleh
bloomasak
di
08:46
0
komentar
5 Siswa SMAN 3 Raih Nilai 10
Herkulanus Agus dan Arthurio OA
Borneo Tribune, Pontianak
SMAN 3 Pontianak yang terletak di Jalan Wage Rudolf Supratman, Kelurahan Parit Tokaya, sejak pukul 08.00 WIB sudah penuh oleh siswa dan orang tua. Raut muka mereka nampak berseri-seri menunjukkan kegembiraan yang tiada tara. Apalagi mereka sudah mendapat bocoran kelulusan seratus persen, selain SMAN I Pontianak.
“Pagi-pagi sudah ada siswa yang menanyakan kebenaran informasi itu,” terang Kepala Sekolah SMAN 3 Pontianak, Dwi Suryanto, M.Si, Sabtu (16/6).
Menurut Dwi, kebahagiaan siswanya sudah tidak bisa dibendung lagi. Banyak di antara mereka meminta pembenaran dari informasi yang telah didapatkan. Untunglah setelah amplop kelulusan dibagikan hasilnya benar.
Secara keseluruhan jumlah siswa SMAN 3 yang ikut UAN ada 191. Jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) 79 siswa terdiri dari 27 laki-laki dan 52 perempuan. Sedangkan untuk jurusan IPS berjumlah 112 siswa terdiri dari 54 laki-laki dan 58 perempuan.
Untuk jurusan IPA ada 10 siswa yang masuk peringkat besar, nilai tertinggi disandang Charles Darwin Hariman dengan jumlah nilai 28,20 atau rata-rata 9,4. disusul Paula Arista, 27,73, Radian Azimi 27,20, Sri Retno Wulandari Amanda, 27,20, Renta Arta Christy Sitorus, 27,07, Nurhayati Nasyidah, 27,00, Wulan Trigitani Sijabat, 26,87, Eni Setianingsi, 26,80, Tari Mardiana, 26,80 dan Kardiyansah, 26,73.
Selanjutnya sepuluh besar untuk jurusan IPS, rangking pertama ditempati Rangga Pahlevi dengan nilai rata-rata 27,85, disusul Petrus Agung Nugroho, 27,50, Wenti Ari Melur 27,15, Faris Presetyo Utomo 27,05, Yohanes Adi Nugroho, 27,05, Dicky Koesidrajit, 27,00, Levi Ponti Yuditia, 26,95, Dina Liunata 26,75, Santi Novianti Lestari, 26,75 dan Eva Rosalin 26,60.
Dijelaskan Dwi, target kelulusan siswa sudah dipersiapkan jauh hari, semenjak UAN belum dilaksanakan. Ada tiga strategi yang diterapkan sekolah, yaitu secara rill mengadakan tambahan belajar, penyediaan bank soal-soal oleh sekolah, penambahan referensi soal lewat internet dan menjalin kerjasama dengan sekolah-sekolah di pulau Jawa. Kemudian pihak sekolah juga mengarahkan siswa untuk meningkatkan keamanan melalui ibadah agama masing-masing. Setrategi ketiga adalah meningkatkan silahturahmi siswa dengan pihak sekolah, orang tua dan masyarakat.
“Kunci sukses adalah, ketiganya dilakukan secara sinergi.” terang Dwi.
SMAN 3 Pontianak sendiri sudah tiga kali meloloskan siswanya seratus persen. Yaitu pada 2004, 2005 dan 2006.
Selain itu di SMAN 3 ini juga ada lima siswa yang memperoleh nilai 10. Jurusan IPA bidang studi Matematika dan jurusan IPS bidang studi Bahasa Inggris. Untuk jurusan IPA bidang studi Bahasa Inggris diraih Yohanes Adi Nugroho dan Petrus Adi Nugroho. Kedua siswa ini kembar. Selanjutnya untuk IPS bidang studi Bahasa Inggris, nilai 10 diraih Carles Darwin Hariman, M. Sabli dan Tari Mardiana.
“Saya tidak menyangka mendapatkan nilai yang membanggakan ini,” terang Tari Mardiana, ketika berbicara dengan wartawan Borneo Tribune.
Tari panggilan akrabnya, menjelaskan proses panjang untuk mendapatkan nilai terbaik. Semuanya diceritakan berurutan.
“Sebenarnya saya tidak menyangka dapat nilai 10, karena selama ini nilai prestasi dikelas untuk bidang studi matematika di atas 7 saja,” terang Tari.
Tari juga mengakui bahwa sebelumnya ia tidak suka dengan pelajaran matematika. Namun berkat belajar ulet menjelang UAN hasil perjuangannya kini dapat dirasakan.
“Saya biasanya belajar pada subuh hari,” ungkap Tari.
Berbeda dengan Tari, Petrus Agung Nugroho dan Yohanes Adi Nugroho, menyatakan bahwa mereka sudah belajar Bahasa Inggris dari kecil. “Kami belajar melalui tontonan kartun yang teksnya berbahasa Inggris.” ujar Petrus Agung.
Wajah mereka serupa, sulit untuk dibedakan. Keduanya juga mengenakan baju oblong biasa, tanpa corat-coret cat pylox.
Dijumpai di ruang Bimbingan Sekolah, Sabtu (16/6), Petrus Agung Nugroho dan Yohanes Adi Nugroho yang datang bersamaan tampak kompak. “Rambut,” ujar mereka berbarengan, ketika ditanya bagaimana cara untuk membedakan mereka berdua. “Anes rambutnya panjang, saya pendek,” ujar Petrus Agung seraya menunjukkan potongan rambutnya yang cepak.
Ciri lain yang juga membedakan Yohanes dari Petrus adalah, lebih tinggi sekitar 5 sentimeter.
Bahasa Inggris bagi mereka merupakan hal yang tidak asing lagi. Sejak duduk di kelas empat Sekolah Dasar, mereka sudah ikut kursus bahasa Inggris. Selain itu, mereka juga memanfaatkan hobi mereka menonton kartun sembari belajar bahasa Inggris. “Ibu juga guru bahasa Inggris,” ujar Yohanes memberitahu.
Tidak ada kompetisi bagi kembar ini. Yohanes yang berada di peringkat 5 besar kelas IPS, berada di bawah Petrus yang berada di peringkat dua. “Kalau hari-hari biasa, Anes nilainya tinggi, tapi kalau ujian, saya yang tinggi.”
Kembar ini juga berencana akan melanjutkan ke Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). “Kebijakan kedinasan tidak membebani biaya,” ujar Anes. Kedua orangtua mereka adalah guru.
Perguruan Tinggi yang sudah mereka isi pendaftarannya adalah Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) YKPN Yogyakarta. Pendaftaran itu mereka lakukan pada 4 Juni lalu.
Suasana agak berbeda terasa di SMKN 3 Pontianak. Di sekolah ini sebanyak 455 siswa terdaftar sebagai peserta UAN. Tetapi setelah pengumuman UAN disampaikan pihak sekolah, sebanyak 429 siswa dinyatakan lulus dan 26 siswa lainnya tidak lulus. Tingkat kelulusan di sekolah ini mencapai angka 91,08 persen. Jika dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 53 persen. Persentase kelulusan cukup tinggi.
Jika dibagi perjurusan tingkat kelulusan jurusan Akutansi mencapai 99,07 persen dengan jumlah siswa 155, Administrasi perkantoran 99,12 persen dengan jumlah siswa 164, dan Penjualan 99,08 persen dengan jumlah siswa 136.
“Kita sudah berusaha untuk meningkatkan kualitas kelulusan sebaik mungkin,” ungkap Kepala Sekolah SMKN 3 Pontianak, A. Rahman Har, S.Sos.
Persiapannya sudah dilaksanakan jauh hari, dalam bentuk bimbingan belajar (bimbel) dan pendalaman materi soal-soal ujian.
Untuk nilai tertinggi Jurusan Akutansi atas nama Lenny Supyata dengan nilai 34,46. Jurusan Administrasi Perkantoran Nuli Yana dengan nilai 33,25 dan jurusan penjualan Helen dengan nilai 31,27.
Berbagai cara ditunjukkan siswa SMA-SMK di Kota Pontianak untuk meluapkan rasa kegembiraannya. Ada yang mencoret-coret baju dengan pylok hingga konvoi di jalan raya. □
Diposkan oleh
bloomasak
di
08:45
0
komentar
Artis, RTM, Keramik
Lobi hotel merdeka sudah sepi pukul 01.30 waktu Malaysia pada Sabtu (9/6). hanya Azrip, Rasya, dan Amri, pelajar sekolah menengah asal Miri, menempati sofa empuk dekat hotel shop. seorang berkepala plontos, masuk ke hotel. Sosok Joe Flyzoo, pemusik rap asal Malaysia, menuju lift. “Too Phat?.” tanya saya pada Azrip dan rekannya, yang disambut dengan anggukan kepala. kesempatan ini saya gunakan untuk berfoto bersama dengan salah satu personil Too Phat itu. “Maliq tak ikot,” jawab Zoo, saat saya tanya rekannya.
Zoo tergesa dan tak mempunyai waktu untuk wawancara. “Nak hangout,” ujarnya memberi alasan. Langkahnya menuju lift. rasa kantuk saya tertahan lagi, saat Azrip mengatakan ada pemusik lagi yang menginap di hotel yang sama.
Tak berapa lama, personil Gerhan Ska Cinta, tampak masuk ke hotel. “abes show di AB theatre,” ujar Eddy, sang vokalis. Grup musik ini telah mengeluarkan 2 album, Boss-Sound, The New Otentik, dengan mengandalkan musik dan lirik. “satu lagi indipendent album,” Eddy memberitahu. perbincangan dengan Eddy terputus, saat mereka dijemput untuk private party setelah show. Saya pun, menuju kamar hotel untuk beristirahat.
Pukul 08.00 waktu Malaysia, menikmati sarapan pagi di Aurora Court Hotel Merdeka, dengan menu segelas kopi yang ditambah sedikit cream, bihun goreng, daging ayam yang dimasak dengan bumbu kari, dan salad dengan guyuran mayonais. Ruang makan bebas merokok, menjadi tempat pilihan untuk menikmati santapan tersebut. Selesai menikmati sarapan, saya mengambil tas di kamar, karena bis tour travel telah menunggu di pinggir jalan, depan hotel.
Tempat kunjungan yang dilakukan rombongan IPKB adalah Radio dan Televisyen Malaysia (RTM) yang berada di Jalan P. Ramlee 93614 Kuching, Sarawak. Sesuai dengan nama jalannya, kantor RTM dipenuhi pula dengan foto-foto dari film yang pernah diperankan oleh aktor yang menjadi legenda di Malaysia. Suasana di RTM sepi, karena hari Sabtu dan Minggu, merupakan hari libur. “harap maaf bile name-name tak dikenali. Sudah biase kat sini?.” ujar Muksin, Pengarah Taklimat RTM, dengan ramah saat rombongan berkumpul di ruang studio RTM. Jawaban yang diberikan pun beragam, banyak yang baru sekali.
RTM merupakan perubahan nama yang ketiga, setelah Radio Sarawak dan Radio Malaysia Sarawak. Perubahan ini dilakukan pada 31 Agustus 1975, sekaligus memperkenalkan siaran televisi hitam-putih, di Sarawak. Saat ini, RTM mempunyai siaran secara nasional, provinsi, dan kota provinsi. Terdapat beberapa bahasa yang digunakan dalam siaran RTM, antara lain Inggris, Cina, Iban, Bidayuh, Kenyan, Bisaya, Lun Bawang, Melayu.
Menurut Hajah Siam Aji Ali, Pengarah Jabatan Penyiaran Kawasan RTM, pernah ada kerjasama yang dilakukan dengan Indonesia. Akan tetapi, terputus pada 2004. Kerjasama ini meliputi kerjasama program acara gendang berpantun yang dilakukan melalui radio. “Diharapkan kerjasama ini dapat dilakukan lagi secepatnya.” lanjutnya.
Direksi Radio dan Televisyen yang berada di bawah naungan RTM, berada di kantor yang sama, tetapi terpisahkan ruangannya. “Walaupun sebumbung, tapi tak sebilik,” ujar Siam Aji Ali memberitahu.
Acara dilanjutkan dengan melihat ruang siaran langsung untuk televisi dan radio. siaran secara langsung juga dilakukan di Sarawak FM, oleh Sudirman Bonaparte, Ketua Radio Republik Indonesia, Fauzan, Kepala BKKBN, dan Kasmiati, BKKBN pusat.
Pukul 11.00 waktu Malaysia, rombongan IPKB meninggalkan kantor RTM, dan melanjutkan perjalanan ke tempat pengerajin keramik.
Yong Huat Heng Easternware Factory, merupakan perusahaan keluarga yang telah dijalankan secara turun temurun. Perusahaan ini bergerak dalam bidang pembuatan pasu (keramik-red). Menurut Ang Yoen Teck, pemilik perusahaan, kerajinan ini mulai dijalankan pada 1962. Saat ini, perusahaan mempekerjakan 13 orang.
Setiap harinya, menurut Ang, pekerja dapat menghasilkan 40 keramik dalam berbagai bentuk. Penjualan hasil keramik Yong Huat Heng telah di ekspor ke Eropa. Sebanyak 8 hingga 20 kontainer keramik yang diekspor setiap bulannya. Penghasilan yang diperoleh dari hasil ekspor ini, mencapai 30.000 RM.
Ang juga menunjukkan proses pembuatan keramik mulai dari pemisahan tanah, pengepresan, pembentukan tabung, pembentukan, pengukiran, pewarnaan dan pemanasan keramik.
kunjungan berakhir dengan pemberian potongan sebesar 50% untuk setiap keramik yang dibeli oleh rombongan IPKB. Acara kunjungan dari perjalanan rombongan IPKB, berakhir dan kembali ke Pontianak. (habis) □
Diposkan oleh
bloomasak
di
08:43
0
komentar
Dia yang Selalu Berjuang
Borneo Tribune, Pontianak
Penampilannya sederhana. Tak ada kesan mewah melekat pada dirinya. Ia sangat bersahaja dan memiliki berbagai pengalaman tak terhingga. Itulah, kekayaan sejatinya.
Namanya Phiangduean Paweenawath. Dia kelahiran Negeri Gajah Putih, Thailand. Lahir di Bangkok. Ia keturunan China di Thailand. Dia lebih senang menggunakan nama Wulansari Sutito. Nama Wulan adalah pemberian angkatnya. Menurut sang ibu, nama Thailand-nya, berarti inti dari bulan.
Nama itu diterjemahkan dalam bahasa Jawa. Jadilah, nama Wulansari. Nama itu menyangkut spirit atau semangat. Setelah menikah, ia menambahkan nama sang suami di belakang namanya. Sang suami, kepala Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK), Agus Sutito.
Ia biasa dipanggil Wulan. Siang itu, kami berbincang di teras coffe shop sebuah hotel bintang tiga di Pontianak, sembari menyerutup secangkir black coffe dan cappucino. Derasnya hujan yang mengguyur, tampak dari langit-langit hotel beratap plastik tembus pandang.
Bahasa yang kami gunakan, gado-gado. Bahasa Indonesia dan Inggris. Bila ada kata kalimat tak bisa diungkapkan, ia mendiskripsikannya.
“Saya anak kota,” katanya.
Wulan anak ketiga dari lima bersaudara. Sedari belajar di tingkat menengah, ia aktif di berbagai kegiatan. Ia pernah menjabat sebagai ketua di Student Club for Conservation.
Ia tertarik dan bergiat, karena banyaknya permasalahan lingkungan di sekitar tempat tinggalnya.
“Limbah pabrik gula mencemari Mae Klong River,” kata Wulan. Ia mengatakan kalimat itu, seraya menerawang. Mengenang pada masa yang telah lewat.
Pabrik gula itu membuat pipa panjang dari pabrik hingga ke sungai. Melalui pipa itulah, air limbah dialirkan. Penduduk tak ada yang tahu. Limbah menimbulkan bau busuk dan polusi udara.
Melihat kondisi itu, ia dan rekannya mulai bergerilya. Mereka mengambil bukti pencemaran dengan cara merekam dengan kamera, keadaan di sekitar lingkungan. Tak lupa, berbagai laporan dan hasil penelitian ditulis. Tak hanya itu, mereka pun menggalang isu dan melakukan diskusi dengan penduduk setempat.
“Kami mencoba mengangkut isu tersebut ke publik, melalui majalah dan surat kabar lokal,” kata Wulan. Kegiatan tersebut, mendapat berbagai tentangan dari perusahaan.
Menginjak usia dewasa, ia kuliah di Chulalongkorn University di Fakultas Biologi. Ketika menginjak dunia akademis, ia bergabung dengan 2516 Budhist Era atau 1973. Organisasi ini merupakan pergerakan mahasiswa Bangkok pertama. Dalam berbagai kesempatan, ia turut serta berunjuk rasa. Dalam salah satu unjuk rasa, tentara datang menggunakan helikopter dan menembaki mahasiswa.
“How long you can stand to see it?” kata Wulan, mengenang peristiwa itu.
Banyak korban jatuh. Ia tak jera. Pada Budhist Era 2519 atau 1976, sebuah peristiwa pahit kembali terjadi. Ketika mahasiswa berunjuk rasa, tentara menyambutnya dengan serbuan senjata dan lemparan bom. Tidak mudah mendapatkan demokrasi di Thailand, kata Wulan.
Setelah lulus dari S-1, Wulan menjadi guru di desa. Ia mengajar pelajaran biologi. Meski menjadi guru, jiwa aktivisnya terus berkobar. Ia mengumpulkan guru-guru. Bersama dengan guru lain, ia membentuk Radio Programme for Children. Pada setiap akhir pekan, ada pertemuan terjadwal.
Saat bertemu dan bercengkerama dengan penduduk, Wulan merasa sangat terenyuh. Ia merasa beruntung. Meski dari keluarga biasa saja, namun bisa mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi.
Tak puas lulus S-1, ia melanjutkan ke jenjang S-2. Pendidikan S-2 diraih Kantsart University. Ia mengambil jurusan Ilmu Lingkungan. Di sini, ia bergabung dengan Consument Right Student Club. Bersama klub mahasiswa ini, Wulan turut menentang perusahaan yang menjual produk penyedap makanan, MSG (Mono Sodium Glutamat). Menurutnya, penyedap makanan ini tak bagus untuk otak.
Klub mahasiswa mengenai hak konsumen itu, mempunyai banyak cabang di seluruh dunia. Karena protes itu, perusahaan penyedap makanan yang punya cabang di Jepang itu, mengundang klub untuk datang dan melihat secara langsung pembuatan penyedap masakan tersebut. Saat berada di perusahaan, mereka diancam. Tangan karyawan perusahaan, membentuk gesekan di leher, saat melintasinya.
Selain mendatangi perusahaan, Wulan dan anggota klub lainnya belajar mengelola pertanian organik. Pelajaran ini, mereka serap dan mereka sebarkan ke penduduk ketika ke Bangkok. Ia turut menjual hasil panen. Ada rasa bangga pada kalimat yang ia ucapkan.
Kekuatan secara legal melindungi lingkungan, diperolehnya setelah lulus dan menjadi konsultan. Ia bisa melindungi lingkungan dengan analisa dampak lingkungan (AMDAL). Perlindungan terhadap lingkungan, juga dilakukan dengan mengecek dan membuat laporan penelitian terhadap air dan udara.
Pada 1990, kantornya mengirim Wulan ke Indonesia, untuk pelatihan selama sembilan bulan di Balai Latihan Kehutanan, Gunung Batu, Bogor. Selama pelatihan, banyak tempat konservasi kunjungi. Ia pernah menjejekkan kaki ke Bali barat, Ujung Kulon, dan Gunung Gede Pangrango, dan lainnya.
Semasa pelatihan inilah, ia mengenal Agus Sutito. Terjalin hubungan istimewa. Hubungan terus berlanjut, walaupun ia mesti kembali lagi ke Bangkok. Komunikasi melalui telepon dilakukan. Sekedar sapa dan perhatian terus berlangsung.
Pada 1992, Agus Sutito melamarnya di Bangkok. “That time my life was change,” kata Wulan, yang sekarang bekerja di Field Coordinator Kapuas Hulu, untuk TropenBos International.
Ia harus rela meninggalkan berbagai kegiatannya di Bangkok. Tak lama di Indonesia, ia mengikuti suaminya. Yang melanglang buana ke Kanada, karena mendapatkan beasiswa.
Di Kanada, ia kerja serabutan. Menjadi penjual kopi, pencuci piring, dan mendorong gerobak hot dog untuk berjualan. Di negeri itu, ia menyimpan banyak kenangan.
Ketika musim salju, ia mesti bangun pukul 6 pagi, setiap hari. Saat suami harus belajar, ia harus bekerja. Ia harus melewati salju yang tingginya selutut. Dari kerja itulah, Wulan bisa menabung. Ia tak suka menghamburkan uang.
Dengan tabungan hasil kerja, mereka mengunjungi taman nasional di Amerika. Ia ingin tahu bagaimana cara mengatur taman nasional. Sekitar dua tahunan, pasangan ini di Kanada. Pada 1994, mereka kembali ke Indonesia.
Sekembalinya ke tanah air, mereka harus berpisah. Agus mesti berangkat ke Surabaya untuk pekerjaannya. Ia mulai merasa kesulitan. Ada kendala bahasa menghadang. Wulan tak bisa bahasa Indonesia.
Ia mulai belajar bahasa Indonesia, dan membeli kamus dan buku gambar. Bila berkomunikasi, ia harus menggambar. Selain itu, Wulan tinggal bersama mertua yang sehari-har menggunakan bahasa Jawa.
Sulitnya mendapatkan pekerjaan ia rasakan. Sebagai “orang asing”, ia harus melapor ke kantor Imigrasi setiap tahun. “Pekerja instansi di negara ini, sangat rakus,” ujar Wulan kesal. Setiap kali melapor ke kantor Imigrasi, dia harus membayar berbagai pungutan. Padahal, penggunaan itu tak jelas.
Kedutaan besar Bangkok di Jakarta, akhirnya memberinya pekerjaan di Universitas Indonesia, sebagai dosen tamu untuk mata kuliah Bahasa Thailand 1 dan 2. Itu mata kuliah pilihan. Wulan mengajar 150 mahasiswa/si.
Bantuan juga diberikan sahabatnya, Adi Sasmianto, yang sekarang menjabat kepala Balai Nasional Gunung Halimun. Ia diminta memberikan pelatihan kepada polisi hutan. Ia menerimanya, karena sangat ingin bekerja.
Pada 2001, suaminya pindah ke Palangkaraya, sebagai Project Leader untuk Orang Utan. Wulan pasrah terhadap keadaan. Ia harus rela melepas pekerjaannya. Dia mengikuti suaminya.
“Entah apa yang terjadi, saya harus mengikutinya dalam keadaan apapun juga,” kata Wulan.
Ketika pertama datang ke Palangkaraya, kondisi daerah itu masih “panas”. Di sana baru saja terjadi kerusuhan antarkelompok. Banyak cerita menyeramkan hadir. “They tell about potong kepala, mandau terbang, it’s so real!”
Wulan tak gentar.
Ia bahkan jatuh cinta pada daerah itu. Berbagai kerajinan tradisional, seperti ukiran dan manik-manik, menarik perhatiannya. Selain itu, lingkungan itu masih alami. Ia hidup bersama masyarakat Dayak Ngaju, Kahuringan, Palangkaraya. Hidup di lingkungan itu memberikan pengalaman tersendiri. “Budaya mereka sangat kental dan terkenal dengan magic-nya,” kata Wulan.
Wulan mengikuti upacara adat yang berlaku. Ia menghormati kebudayaan mereka. Ada peristiwa unik terjadi.
Suatu ketika, ia mengikuti prosesi penerimaan sebagai penduduk di sana. Setelah ritual yang dijalani, Wulan mendapatkan batu Zambrut berwarna hijau. Batu ini muncul tiba-tiba, saat prosesi berlangsung. Menanggapi hal ini, dia berkomentar. “Saya sudah diterima sebagai penduduk oleh leluhur mereka. Bahkan, dapat present.”
Pada 2003, Wulan turut serta ke Putussibau. Agus ditugaskan menjadi Kepala Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK). Kurangnya fasilitas pendidikan di daerah tersebut, membuat dirinya bersedih. Wulan mengatakan, daerah itu bangunan sekolah ada, tetapi gurunya tidak ada. Jiwa dan kepeduliannya terusik. Ia berinisiatif dan mengajar di situ.
Namun, ia kecewa dengan kenyataan yang dihadapi. “No body want me to teach, they always think about economic more than education,” ujar Wulan sedih. Ia menerima hal itu dengan lapang dada.
“I have to change my Nation,” ungkap Wulan, “But, lanjutnya, everything is ok.”
Pada 2005, Wulan resmi menjadi warga negara Indonesia. Pintu pekerjaan terbuka untuknya. Tropen Bos International, yang bergerak dalam pelestarian hutan, mencari seorang koordinator lapangan yang dapat berbahasa Inggris, baik oral dan tulisan. “No one there have qualify for the job,” Wulan memberitahu.
Selama menjalani pekerjaannya, banyak hal ditemui di lapangan. Banyak penebangan hutan dilakukan oleh orang yang tidak bertanggungjawab. Pengalaman membuatnya sedih, adalah ada penduduk terbunuh dan tidak ada tindakan apapun menangani hal itu. “Dimana perasaan mereka saat melakukan hal itu?” kata Wulan dengan air mata yang menetes.□
Diposkan oleh
bloomasak
di
08:40
0
komentar
*Tyas Octarini Juara II Duta Lingkungan Hidup Kota Pontianak 2007
Arthurio Oktavianus
Borneo Tribune, Pontianak
Ia mengenakan jilbab kuning keemasan. Warna itu seolah menyiratkan kepribadiannya. Sikap dan turur katanya lembut. Sorot matanya tajam. Sekilas, ia terkesan pendiam. Namun, ketika ia mulai bicara, kesan itu pupus. Sikapnya bersahabat. Sosok lembut ini, bernama Tyas Octarini.
Ia juara dua lomba Duta Lingkungan Hidup Kota Pontianak. Padahal, dia baru pertama kali mengikuti lomba ini. Langkah anggunnya beriringan dengan Nadia Nurindahsari, Juara satu Duat Lingkungan Hidup Kota Pontianak. Keduanya menuju podium, saat penutupan City Expo di Centra Bisnis A Yani Megamal, Minggu (17/6).
Ketika keduanya diberi kesempatan menyampaikan pidato, mereka menggunakan bahasa Inggris, untuk menyampaikan kalimat demi kalimat dengan baik. Mereka bergantian pidato.
Intinya, mereka merasa perlu adanya pembangunan berkelanjutan. Yang diimbangi lingkungan hidup, agar kehidupan penduduk urban pada Repelita delapan ini, lebih maju.
Saya menemuinya untuk wawancara. Tak berapa lama, telepon genggamnya berbunyi. “Saya mau dijemput,” kata Tyas.
Hujan deras. Jemputan menunggu. Penutupan APEKSI belum selesai. Semua itu membuatnya gelisah.
Menurutnya, ia tidak terlalu lama mempersiapkan diri dalam lomba itu. Ia mengetahui dirinya lolos dalam seleksi, pada Senin (11/6). Padahal, pelaksanaan malam final, Sabtu (1/6).
Waktu singkat itu, ia gunakan sebaik mungkin. Ia belajar cara berjalan, memilih kostum atau baju, pengetahuan lingkungan hidup, dan bahasa Inggris. “Yang utama, menyiapkan mental,” kata Tyas.
Keikutsertaan Mahasiswi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pontianak, didukung penuh oleh keluarga dan teman. Ia merasa syukur dengan hal itu. Meski begitu, hanya beberapa teman di kampus saja yang tahu.
Menjadi juara, memberi kebanggaan tersendiri bagi Tyas. Ia merasa bangga karena turut mewakili remaja sebaya di Kota Pontianak. Namun, ada dua seleksi selanjutnya. Seleksi selanjutnya, ada di tingkat Kabupaten Pontianak dan Provinsi.
Walau masih harus menjalani dua tahapan lagi, untuk menjadi Putri Lingkungan Hidup 2007, ia tetap optimis. Ia segera mempersiapkan diri. Beberapa rencana yang harus dijalankan, sudah disusun dalam agendanya.
Ia harus menambah pengetahuan lagi. Memperlancar bahasa Inggris, supaya target bisa tercapai. Tyas sudah memiliki target yang harus dicapai. “Masuk tiga besar,” ujarnya.
Ketika ditanya bagaimana bila menjadi juara?
Dengan tersenyum, Tyas menjawab, “Insya Allah.”□
Diposkan oleh
bloomasak
di
08:39
0
komentar
*Nadia Nurindahsari Juara I Duta Lingkungan Hidup Kota Pontianak 2007
Arthurio Oktavianus
Borneo Tribune, Pontianak
Cantik dan pintar. Dua hal yang dimiliki sang Duta Lingkungan Hidup Kota Pontianak 2007. Keseimbangan yang sempurna, antara keindahan ruhani dan ragawi yang indah.
Sebuah kalimat meluncur dari bibir tipisnya. “Besok tidak sempat, ada kegiatan sehari penuh,” katanya, ketika saya ingin mewawancarainya.
Senyumnya selalu mengembang. Senyum itu indah. Seindah kebaya putih yang dikenakannya. Bibirnya terpoles pewarna merah. Rambutnya, tersisir rapi, menutupi kening kanannya. Setelah terpilih sebagai duta lingkungan hidup, kegiatannya makin padat. Janji ketemu untuk wawancara khusus, terpaksa dilakukan malam itu juga.
Dialah, Nadia Nurindahsari. Pemilik ragawi yang sempurna itu. Rona bahagia bercampur bangga, tergambar dari wajah cantiknya. Ia begitu senang, ketika memenangkan pemilihan Duta Lingkungan Hidup. Namun, ia sadar, tanggung jawab kedepan yang bakal dia jalani sebagai Duta Lingkungan Hidup Kota Pontianak, semakin berat.
Persiapan Nadia menghadapi kompetisi ini, dilakukannya selama seminggu. Banyak hal dipelajari, untuk menghadapi malam pemilihan. “Test wawancara, psikologi, pengetahuan umum, dan Bahasa Inggris,” ujar Nadia.
Malam Minggu (16/6), Nadia dinyatakan pemenang Duta Lingkungan Hidup Kota Pontianak. Dia menyisihkan 106 peserta. Dalam seleksi itu, berbagai permasalahan ditanyakan pada peserta. Bahkan, dalam pertanyaan akhir yang diajukan, juri menanyakan permasalahan sampah dan penanggulangannya.
Meski baru saja menyelesaikan sekolah di SMU 1 Pontianak, ia dapat menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan dengan baik. Hal itulah, yang membuat juri tak ragu memilihnya sebagai juara.
Menurutnya, kurangnya kepedulian dan perhatian masyarakat terhadap sampah, menyebabkan sampah menumpuk. Perlu kesadaran terhadap sampah, melalui program pemerintah, untuk mengkampanyekan mengenai kebersihan dan efek yang ditimbulkan sampah, kata Nadia.
Selempang juara pun, melingkar ditubuhnya. Deretan program Lingkungan Hidup, harus dijalani bersama pemerintah kota. “Kita harus melakukan dengan mengerti tujuan dan sasaran yang harus dilakukan,” ujar Nadia.
Menurutnya, itulah cara dan sikap individu yang harus dilakukan, untuk berperan dalam lingkungan hidup. Perlu ada kesadaran pada setaip individu. Permasalahan sampah mempunyai respon yang kurang dari masyarakat. Kekurangpahaman masyarakat akan penanggulangan sampah, menyebabkan dampak timbul terhadap lingkungan.
Sampah ada yang organik dan non organik. Sampah dapat memberikan tambahan pendapatan dan meningkatkan perekonomian keluarga. Misalnya, sebagai bahan kerajinan.
Nadia memberitahu, sampah plastik dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan kerajinan tangan. Seperti, bunga-bungaan. Kertas bekas juga dapat dimanfaatkan, sebagai kertas daur ulang. Kertas ini dapat digunakan sebagai pembungkus kado.
Selain itu, sampah juga dapat dimanfaatkan untuk pupuk. Pupuk juga dapat digunakan sebagai pupuk tanaman di pekarangan rumah.
“Agar Pontianak hijau,” kata Nadia, mengakhiri pembicaraan.□
Diposkan oleh
bloomasak
di
08:39
0
komentar
Kependudukkan dan Keluarga Berencana
Arthurio Oktavianus
Borneo Tribune, Pontianak
Banyaknya jumlah penduduk di Kalimantan Barat ini, perlu diimbangi dengan kualitas penduduk dan keluarga sejahtera, sehat, maju, tentram, sejahtera, lahir dan batin. Hal tersebut diutarakan Andrianus Senen, Ketua Panitia Khusus penyusunan Peraturan Daerah Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera, bagi pemerintahan daerah provinsi Kalbar dan kabupaten atau kota, di ruang serbaguna DPRD Provinsi Kalbar, Selasa (19/6).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kalbar 2005, jumlah penduduk Kalbar, 4,09 juta jiwa. Penduduk laki-laki 2,09 juta jiwa, dan perempuan 2 juta jiwa. Jumlah ini menempati luas wilayah 146.807 Km2.
Menurut Fauzan Al Fikri, Kepala Badan Koordinator Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Kalimantan Barat, tidak ada sektor individu yang menjalankan program keluarga berencana. “Semua sektor bergerak,” ujar Fauzan.
Pentingnya kerjasama antarinstansi diperlukan, untuk mengatasi permasalahan Keluarga Berencana di Kalbar. Banyak kasus terjadi di Kalbar. Salah satunya kematian bayi belum berusia 1 tahun. Kalbar pada 2003, ada sebanyak 47 bayi meninggal, sebelum usia setahun, per seribu kelahiran. Hitungan tersebut berupa bayi tergolong usia setahun kurang sehari.
Kematian ibu hamil merupakan permasalahan yang sering terjadi. Kematian ibu hamil secara nasional 422 jiwa, per 100 ribu. Kematian ibu hamil ini, dikarenakan anemia dan kurang gizi. “Bagaimana ibu hamil tidak kurang gizi, jika makan saja harus dibatasi,” kata Fauzan. Padahal, ibu hamil harus makan lebih banyak dari biasanya, untuk pertumbuhan janin dan asupan bagi sang ibu.
Menurut Eka Sulistia Adiningsih, Hubungan Masyarakat Badan Koordinator Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Kalbar, seluruh komponen masyarakat diharapkan mengajak orang lain, mengikuti program Keluarga Berencana.
Sasaran utama pembangunan jangka panjang daerah, terwujudnya kualitas penduduk dan keluarga sejahtera. Hal tersebut dapat diwujudkan, bila ada informasi edukatif pada masyarakat, memberikan pengetahuan dan penjelasan pada masyarakat mengenai program Keluarga Berencana.
Untuk mencapai sasaran utama tersebut, perlu diadakan pengelolaan kependudukan dan pembangunan keluarga sejahtera. Penduduk dan keluarga menempati posisi strategis dalam pembangunan bangsa, dan pada tataran pembangunan penduduk.
Menurut Eka, program KB perlu komprehensif. Contohnya, suami dan istri yang masih berusia subur, diharapkan menggunakan alat kontrasepsi. Hal tersebut menjaga kemungkinan terjadinya hal tidak diinginkan. “Seperti mengatur jarak kelahiran dan jumlah anak,” ujar Eka.
Biasanya, pasangan usia subur tidak memperhitungkan jarak kelahiran anak pertama dan seterusnya. Permasalahan kependudukan lainnya, merupakan jumlah, persebaran, penyebaran, mobilitas dan kualitas.
Permasalahan mendasar berkaitan dengan kualitas penduduk, yaitu kondisi penduduk dalam aspek fisik dan non fisik. Aspek tersebut meliputi derajat kesehatan, pendidikan, pekerjaan, produktivitas, ketaqwaan, kepribadian, kebangsaan, kemandirian, kecerdasan dan relasi gender yang tidak berimbang. Aspek ini sebagai ukuran dasar untuk mengembangkan kemampuan dan menikmati kehidupan sebagai manusia seutuhnya.
Peraturan perundang-undangan kependudukan dan pembangunan keluarga sejahtera, lebih khusus sebagai penguatan secara politis di daerah terhadap UU No.10/1992, tentang perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sejahtera. “Hal itu tetap memperhatikan berbagai konvensi internasional serta karakteristik kependudukan,” kata Eka.□
Diposkan oleh
bloomasak
di
08:38
0
komentar
Bisnis dari Hobi
Arthurio Oktavianus
Borneo Tribune, Pontianak
Sanggar Pama Raya, tertulis di atas pintu masuk stan itu. Sebuah patung mannequin, berdiri dengan balutan manik-manik pada baju. Stan itu menarik perhatian mereka yang lewat stan itu. Pada bagian dalam stan, seorang perempuan mengenakan kaos putih. Ia berdiri di antara dua perempuan lain yang mengenakan baju tradisional etnik Dayak.
Perempuan itu bertubuh mungil. Tinggi sekitar 155 sentimeter. Rambutnya ikal dan sedikit pirang. Sebuah tas satu tali melingkar di tubuhnya. Dia terlihat sibuk melayani pembeli yang berkunjung ke stannya. Perempuan itu bernama Veronika.
“Saya belum berani dibilang pengusaha,” ujar Veronika.
Ia peserta pameran Indonesia City Expo. Dagangan yang ada di stannya berupa dompet, baju, selempang, dasi, kalung, gelang, kopiah, syal, ikat kepala, dan lainnya. Semua terbuat dari manik-manik. Baju oblong bermotif Dayak, tergantung di bagian kiri dan kanan stan. Sebagian bukan miliknya.
“Ini hanya titipan. Kalau sablon sendiri, tidak dengan jumlah banyak,” ujar Veronika. Ia kelahiran Samalantan, 9 Januari 1972.
Awalnya, Veronika melatih tari. Ia menekuni bisnis ini, tanpa disengaja. Membuat kerajinan dari manik-manik, hanya hobi saja. Ia melakukannya ketika sedang berada di rumah.
Selain membuat dan menjual produk dari manik, Veronika juga memproduksi kaset dan VCD lagu Dayak, menyewakan baju dan menerima pesanan baju adat Dayak. Baju adat untuk orang dewasa, awalnya dua pasang dan digunakan bagi keperluan menari. Sedangkan untuk anak-anak, ada 12 pasang.
Veronika selalu mengikuti pameran. Itulah cara yang dilakukan untuk memasarkan produknya. Biasanya, ia dihubungi Dinas Perindustrian dan Perdagangan, bila ada pameran. Ia juga mengisi ruang tamu rumahnya, dengan sebuah etalase kaca, untuk menggelar dagangannya. Sudah dua tahun ini, ia menjalankan bisnisnya.
Ia tak pernah belajar membuat produk dari manik. Semua dilakukan dengan mencoba dan belajar sendiri. Modal yang dikeluarkannya untuk bisnis sekitar 30 juta.
Ketika ada acara Gawai Dayak, ia bisa memperoleh pendapatan kotor sekitar 10 juta. Ramainya pengunjung di Gawai, karena kegiatan itu merupakan acara khusus. Pengunjung datang mencari barang etnik khas Kalimantan. Manik-manik identik dengan Dayak, ujarnya sambil tersenyum.
Tidak semua pengunjung mengetahui, Kalbar memiliki kerajinan dari manik-manik. Barang manik-manik disangka dari Kalteng atau Kaltim. Sambil berkata, ia menunjuk sebuah produk baju dan selendang manik di sisi kirinya.
Ia juga punya baju adat dengan payet. Baju manik tenun, dibuat dari payet-payet. Pembuatannya dengan menjahit pola yang sudah digambar di baju. Baju itu paling digemari pengunjung.
Selain itu, manik tenun ini, tidak terlalu lama pembuatannya. “Satu baju bisa diselesaikan selama dua bulan,” kata Veronika.
Berbeda dengan baju dari manik tenun, atau manik anyam. Seluruhnya baju itu terbuat dari manik-manik. Corak dan warna dari manik anyam, membutuhkan keterampilan dan ketelitian tinggi. Baju manik anyam, seluruhnya terbuat dari manik. Satu baju dikerjakan selama setahun atau lebih. “Tergantung mood,” ujar Veronika.
Banyak produk yang digelar Veronika pada City Expo, dibeli pengunjung. Ia menerima banyak pesanan baju. Pemesan berasal dari Jakarta, dan daerah lain di Indonesia. Barang yang banyak dipesan, baju adat tenun.
Oktober nanti, ia akan ke Yogyakarta. Membawa kerajinan manik-manik, pada Gawai yang diselenggarakan mahasiswa dari Kalbar, yang kuliah di sana.
Ada satu obsesi yang ingin ia capai. “Saya ingin mempunyai galeri permanen, sehingga tidak perlu lagi menawarkan dagangan dan berpindah-pindah,” kata Veronika.□
Diposkan oleh
bloomasak
di
08:37
1 komentar
Mencari rupiah di antara sisa karet
Borneo Tribune, Pontianak
Pukul 15.10 di Jalan Gusti Situt Mahmud, Siantan. Rintik hujan masih mengguyur kota. Lima perempuan, terlihat duduk di atas gundukan buangan sisa karet, tepat di pinggir jalan. Tiga orang di gundukan sisi kiri, dua orang lagi pada gundukan lainnya. Beberapa anak melakukan hal sama. Mereka menggali.
Lia (42), mengeruk buangan sisa karet dengan dua tangannya. Kaos oblong warna abu-abu yang dikenakannya, terlihat basah. Kepalanya berlilitkan sarung coklat dengan corak kotak-kotak. Sarung tersebut dibungkus kantung plastik warna hitam. Yang dijadikan pelindung kepala.
Lia tinggal di Gang Reformasi. Pekerjaannya sehari-hari ibu rumah tangga. Mencari rupiah dari buangan sisa karet, tidak tiap hari dilakukannya. Bagai bintang jatuh, kata Lia. Untuk mendapatkan rejeki seperti itu.
Ia tak mempedulikan lalu lalang kendaraan. Atau, kerumunan orang yang sibuk menonton bola di lapangan. Di sana juga ada kerumunan pria yang berjongkok dan sebagian berdiri di tepi lapangan dengan burung merpati di tangan.
Lia terus menggali. Pantatnya duduk dengan santai di atas gundukan itu. Tanah melekat di kaki dan tangannya, bahkan sampai di muka. Ibu lima anak ini, turut membawa anak bungsunya. “Baru saja pulang,” ujarnya.
Bakul dan kantong plastik yang berada di sisinya, terlihat penuh sebagian. Isinya hanya berupa potongan-potongan kecil berwarna putih yang banyak ditempeli oleh tanah. “Jinton,” ujar Lia memberitahu, saat ditanya isi dari bakul dan plastik itu. Jinton merupakan sisa-sisa karet. Harga jinton yang sudah dicuci dengan bersih, dihargai Rp. 2800 per kilogram.
Perempuan dan anak-anak itu, sudah menggali sedari pukul 13.00. “Baru lima truk yang datang,” ujar Lia memberitahu. Sepuluh truk buangan sisa karet, diperoleh dari pabrik hari itu. Buangan sisa karet, sebenarnya dimanfaatkan untuk menimbun lapangan bola Purtani Siantan. Lapangan itu becek dan biasa digunakan untuk pertandingan.
Tangan-tangan mereka bergerak dengan cepat. Rintik hujan, tidak menjadi soal bagi mereka. Rejeki hanya datang tiba-tiba ini, mereka manfaatkan semampunya. “Kalau tiap hari, enak,” ujar Lia yang sudah tiga tahun meninggalkan Singkawang dan menetap di Pontianak. Buangan sisa karet tersebut hanya datang apabila diperlukan untuk menimbun lapangan Purtani.
Rekan Lia lainnya adalah Fatimah (30). Dua orang anak laki-lakinya juga turut dibawa serta. Selain untuk mencari rejeki, tempat itu juga menjadi tempat bermain bagi kedua anaknya. “Sulung sudah kelas 1 SD,” ujar Fatima, seraya menunjuk anaknya yang mengenakan baju dan celana berwarna kuning.
Tak ada pilihan lain bagi Fatima. Demi uang tambahan belanja, dia harus merelakan kedua anaknya bermain di situ, menemani dirinya. “Mau apa lagi, keadaannya sudah begini,” ujar Fatima pelan, ketika ditanya apabila anaknya sakit karena bermain di tempat seperti itu. Tuntutan ekonomi membuat Fatima harus bisa mencari kesempatan mendapatkan rupiah, membantu suaminya yang kerja serabutan.
Perempuan yang mengenakan kaos berwarna merah dan celana selutut berwarna hitam ini, harus membagi perhatiannya. Untuk mencari jinton dan anaknya yang bermain. Fatima baru mendapatkan jinton sekitar dua kilogram, tetapi masih belum dicuci. “Kalo sudah dicuci, paling hanya satu kilo setengah,” ujarnya.
Hasil penjualan jinton, akan digunakan untuk belanja kebutuhan dapur. Warga Sungai Pulo, tepi Sungai Kapuas ini, juga harus menyisihkan sebagian hasil untuk keperluan buku tulis anaknya. “Sekarang beli buku mahal. Biasanya 20 sampai 30 ribu,” ujarnya. Fatimah memperoleh kemudahan untuk sekolah anaknya. Ia dibebaskan dari biaya pendaftaran. “Gratis!” katanya, sambil tersenyum.
Ani (8), juga turut menggali buangan sisa karet itu. Senyumnya melebar ketika mendapatkan sebuah jinton dari timbunan tanah yang digalinya. Plastik hitam disampingnya, masih terisi sedikit. Hingga Ani terus menggali.
Rambutnya terlihat basah dan bercampur sedikit tanah. Keningnya yang gatal, digaruk dengan punggung tangannya. “Sudah berhenti,” ujarnya tersenyum malu, saat ditanya masih duduk di kelas berapa. Gigi-gignya yang jarang, terlihat dari senyum itu.
Orang tua Ani, ujarnya, sudah tidak mampu lagi menyekolahkan dirinya. “Ibu bilang bayarnya mahal,” ujar Ani memberitahu.
Selain itu, jarak sekolah jauh dari rumahnya, mengharuskan Ani menggunakan oplet bila ke sekolah. Hal itu pula yang memberatkan orang tua Ani untuk menyekolahkannya.
Ani kemudian berpindah kegundukan lainnya, menggali, dan mencari jinton.□
Diposkan oleh
bloomasak
di
08:31
0
komentar
Serenti, Rehabilitasi Para Pecandu di Sarawak
catatan perjalanan arthurio Oktavianus (4)
Perjalanan rombongan Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB) ke pusat rehabilitasi narkoba Serenti, salah tujuan. Bis berhenti di Kantor Agensi Dadah Kebangsaan Negeri Sarawak Kementrian Dalam Negeri, Lot 123, Jalan Sri Ong Kee Hui, 93300 Kuching.
“Kat sini hanye office pejabat induk. Rawatan dan pemulihan antidadah di Serenti,” ujar Michael Nyelang, Penolong Pengarah 1 yang menerima rombongan di bilik mesyuarat (ruang pertemuan, red).
Kebingungan tampak dari wajah pegawai pejabat induk. Ketidaksiapan menyambut kedatangan rombongan IPKB yang tiba-tiba, sedikit membuat mereka sibuk. “Kami tak ade buat apapun persiapan,” ujarnya lagi.
Pegawai agensi yang ada di kantor tersebut berjumlah 52 orang. “Sebanyak 70 perseratusnye, sukarela.” Michael memberitahu. “Tapi baeknye, pergi kat Serenti sahaje,” ujar Michael lagi. Rombongan IPKB melanjutkan perjalanan, setelah melewati gerbang yang bertuliskan ‘bersama membasmi dadah’ dan menuruni enam anak tangga.
30 menit perjalanan dari kantor agensi, bus yang ditumpangi tiba di Pusat Serenti Kuching. Tempat agensi antidadah kebangsaan Malaysia, Kementrian Keselamatan Dalam Negeri, Km.10, Jalan Penrissen, 93250 Kuching, Sarawak. Tempat rehabilitasi bagi para pecandu ini, merupakan tempat isolasi dan tertutup. “Parents bise datang liat pun,” ujar Mohammad Noor, Komandan Pusat Serenti.
Konsep pemulihan yang dilakukan di tempat ini merupakan pemulihan secara komuniti. Pemulihan ini merupakan peran serta seluruh penghuni Serenti, yang saling membantu satu dengan yang lain memberikan semangat untuk sembuh. Program yang diterapkan merupakan program yang diadopsi dari Federal Amerika, tetapi dipakai dengan situasi dan kondisi yang ada di Malaysia.
Para penghuni yang menetap di Serenti, lanjut Noor, merupakan para pecandu yang ditangkap oleh PDRM, aduan dari pihak keluarga. “Dadah is number one enemy in Malaysia,” ujar Noor. (Dadah adalah musuh nomor satu di Malaysia).
Menurut Meslina Haji Ishak, Ketua Penolong Pegawai Antidadah, Sarawak masih terkawal dibandingkan Semenanjung Malaka. Sabu merupakan candu paling tinggi yang digunakan oleh para remaja Malaysia. Berturut-turut di bawahnya adalah ganja dan obat batuk. Obat batuk yang dilarang penggunaannya, lanjut Meslina, adalah obat batuk yang mengandung codin, yang efeknya menyamai opium. Tren yang terjadi di Malaysia untuk kasus ini adalah pada 1996 dan 1997. Kasus penggunaan narkoba di Sarawak tahun 2006, sebanyak 712 kasus. “This year, from January to March, two hundred and ten case,” Meslina memberitahu. (Tahun ini, dari Januari sampai Maret, 210 kasus).
Pencandu narkoba di Sarawak 80 persen berada di bawah umur 20 tahun. Biaya rehabilitasi bagi para penghuninya, seluruhnya ditanggung oleh kerajaan Malaysia selama dua tahun.
Ketika ditanya mengenai ada atau tidak pecandu yang ditangkap lagi, Meslina berujar bahwa hal tersebut tidak pernah terjadi. Para penghuni, lanjutnya, akan jera dan tidak akan mencandu lagi. “Bile we jumpe lagi, tahan kat polis.” lanjutnya.
Zabit Bin Supining (24), sudah 3 bulan menjadi terapis di Serenti. Menurutnya, terapi yang dilakukan berupa konseling. Konseling ini terbagi menjadi konseling kelompok, keluarga dan individu. (bersambung) □
Diposkan oleh
bloomasak
di
08:22
0
komentar
Dyah Katarina Bambang DH, Feminim yang tegas
Arthurio OA, Endang Kusmiyati
Borneo Tribune, Pontianak
Busananya putih, siang itu. Kerudungnya, berwarna senada dengan busananya. Sepatu yang ia kenakan high heels warna hitam. Sebuah tas body bag warna merah bata, menggantung di punggungnya. “Jangan terlalu deket mas, ngambilnya. Nanti terlihat terlalu gemuk,” ujar Dyah Katarina Bambang DH, saat diabadikan melalui kamera.
Senyumnya selalu mengembang, menunjukkan sikap yang ramah dan hangat.
Istri dari Walikota Surabaya ini, merasa kurang nyaman dengan kipas angin yang berputar terlalu kencang. “Mas, arah ventilasi kipasnya dinaikkan,” pintanya, pada seseorang berseragam. Yang tak jauh dari kipas duduk itu.
Ketika ditanya pendapatnya mengenai Pontianak, Dyah berseru, “Panas!”
Menurutnya, saat ini Surabaya menjadi sejuk, karena daerah sepanjang jalan ditanami pohon. Jalanan menjadi rindang dan teduh.
Penduduk di Surabaya sebanyak 3,5 juta jiwa. Kalau siang, bisa lebih dari lima juta. Peningkatan penduduk pada siang hari, disebabkan aktivitas mereka yang datang dan pergi menggunakan sarana transportasi.
Pendidikan merupakan hal utama yang diperlukan, dan dipersiapkan menggantikan peran generasi tua. Persiapan pun, bahkan dimulai sedari dini. Kepedulian Dyah akan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di wilayah kerjanya, terbukti dengan terbentuknya 200 kelompok PAUD.
PAUD ini, terbentuk tanpa anggaran dana dari pemerintah sama sekali. “Tidak ada APBD yang digunakan untuk pos ini,” ujar Dyah. Kosongnya anggaran dana, menyebabkan tenaga pengajar yang bekerja di PAUD, tidak dibayar sepeser pun. Kalau mau mengajar, silahkan. Tidak pun, tidak apa-apa, kata Dyah.
Ini adalah kerja sosial, untuk membantu anak yang tidak mampu, agar bisa mengenyam pendidikan. Tenaga pengajar yang terjun langsung adalah para ibu PKK. Mereka juga mengumpulkan infak, semampu yang dimiliki orang tersebut.
Tempat pelaksanaan PAUD untuk proses belajar mengajar di Surabaya, menempati lokasi di balai Rukun Tetangga, pendopo, aula balai desa, maupun rumah warga.
PAUD juga bekerjasama dengan sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Plan, melalui pelatihan dan Alat Permainan Edukatif (EDU). Walaupun EDU terbatas, ujar Dyah, tapi kami berusaha semaksimal mungkin memanfaatkannya.
Saat ini, peserta yang mengikuti PAUD sebanyak 70 orang perkelompok. Berarti, ada 14 ribu anak yang ditampung dan memperoleh hak mengecap pendidikan. Banyaknya jumlah anak yang mengenyam pendidikan di PAUD, makin membuat ibu berputra tiga ini, bersemangat untuk berjuang. “Perjuangan kami untuk membawa anak-anak Golden Age, memperoleh pendidikan,” ujarnya.
Tahun ini, akan disediakan sertifikat yang dibuat seragam dalam bentuk dan warna. Temannya yang menjadi istri camat dan dosen desain grafis di kampus Petra, Surabaya, yang mendesainnya. Pengalaman membanggakan dari para siswa PAUD yang berada di wilayahnya, ketika murid merayakan wisudanya. Bahkan, mereka menyewa tempat permainan, untuk merayakan wisudanya.
Menjadikan Kota Surabaya tujuan wisata lingkungan Hidup. Wanita yang terlihat selalu energik ini, ternyata sangat peduli dengan lingkungan. Ditengah kepadatan penduduk Kota Surabaya yang merupakan kota terbesar ketiga di tanah air ini, ia berhasil mengubah kesan kumuh yang kebanyakan menjadi dimiliki kota besar.
“Sekarang jumlah truk pengangkut sampah di Surabaya sudah berkurang, otomatis anggarannya juga bisa dikurangi,“ katanya.
Menurutnya memerlukan waktu lama untuk merubah kebiasaan masyarakat dalam hal membuang sampah. Namun, upaya itu kini membuahkan hasil manis. Dalam sebuah kegiatan khusus dibuat untuk adu keterampilan mengolah bahan bekas, terutama dari bahan plastik. Ia menyelenggarakan sebuah acara khusus.
“Kita lihat siapa yang paling terampil dalam mengolah bahan-bahan bekas itu. Hadiah yang diberikan untuk pemenang juga sangat menjanjikan, bayangkan untuk yang juara pertama saja kita berikan hadiah sampai 30 juta, “ katan Dyah.
Dalam mengelola masalah sampah menggunakan beberapa metode. Salah satunya dengan menggunakan Takakura Metode. Yaitu dengan menggunakan sebuah keranjang yang di dalamnya bisa digunakan untuk menyimpan tanah. Tanah ini sendiri akan digunakan menimbun jenis sampah yang bisa diurai (sampah organik). Misalnya, sampah kulit jeruk atau kulit pusing. Kalau dimasukan ke dalam keranjang Takakura, ditimbun dengan tanah. Setelah terurai langsung bisa digunakan sebagai pupuk. Tanahnya disisakan seterusnya begitu.
Takakura sendiri adalah nama seorang warga Jepang yang sering datang ke Surabaya terkait dengan kerjasama program lingkungan hidup. Namun, ibu walikota ini tidak memaksakan kepada masyarakat untuk memiliki keranjang Takakura, sehingg warga Surabaya bebas menggunakan tempat apa saja.
Pupuk yang dihasilkan dari pengolahan sampah ini, menurutnya bisa dijual dan bisa juga digunakan sendiri kebutuhan rumah tangga. Misalnya untuk menanam berbagai sayuran. Dengan cara ini ternyata dapat juga membantu mengurangi anggara belanja sayur bagi kalangan ibu rumah tangga. Yang lebih penting, lingkungan menjadi bersih dan bebas dari bau sampah.
Dalam hal membiasakan masyarakat memisahkan sampah organik dan non organik, wanita yang mengenakan kerudung putih berbunga ini, punya kisah mengharukan sekaligus menggembirakan. Saking aktifnya warga Surabaya mendukung program istri walikota ini, terutama para ibu rumah tangga, mereka berlomba-lomba mengumpulkan berbagai bekas sampah plastik. Setelah dikumpulkan ternyata uang yang dihasilkan mencukupi untuk biaya tamasya ke Yogyakarta.
“Saya terharu waktu dikasih tahu, kalau ada Ibu-ibu dari sebuah RT di Surabaya yang bisa piknik ke Yogyakarta dengan uang yang dikumpulkan dari sampah,” katanya.
Jika ia berkata bahwa kini kota surabaya telah menjadi bersih dan indah tentu bukanlah ucapan berlebihan. Karena perjuangannya yang didukung sang suami dan seluruh warga, kini Surabaya telah ditunjuk sebagai kota tujuan wisata lingkungan hidup. Yang lebih membanggakan lagi bagi dirinya, kini sudah banyak orang di Surabaya tidak malu mengenakan berbagai hiasang dari bahan bekas. Misalnya tas, topi atau bahkan dompet. Selamat, untuk Kota Surabaya.
Diposkan oleh
bloomasak
di
08:20
0
komentar
Cat Muzium Rahasia Kuching
catatan perjalanan Arthurio Oktavianus (3)
Unicatay travel and tour SDN.BHD bernomor kendaraan QKV 2929 mengantarkan rombongan untuk check in di Merdeka Hotel, Jalan Tun Abang Haji Openg, 93000 Kuching setelah bertemu dengan konsulat RI.
“Berkumpul di lobby hotel jam dua setengah petang,” ujar Then Kim Hin, tour guide selama perjalanan sebelum rombongan Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB) berhamburan keluar menuju meja resepsionis.
Pukul 12.05 waktu Malaysia rombongan mengantre untuk mendapatkan pembagian kunci kamar yang diatur oleh ketua rombongan. Saat nama peserta dipanggil satu persatu meninggalkan lobby menuju kamarnya masing-masing.
Kunci kamar hotel menyerupai kartu elektronik dengan sistem gesek. Kunci tersebut juga digunakan dalam lift yang digunakan untuk mencapai lantai kamar yang telah ditentukan. Kamar 412 merupakan tempat peraduan saya selama dua hari di Kuching. Kamar itu berukuran 6x4 meter. Dua dipan single bad dibatasi dengan sebuah meja kecil dengan sambungan radio pada lacinya yang akan hidup otomatis bersama dengan nyala lampu. Sebuah telepon, jam weker, dan buku daftar pengguna telepon di Kuching berada di atas meja tersebut.
1x1 meter dari ruangan kamar sisi kanan digunakan untuk lemari pakaian dari kayu furniture. Di samping lemari bersandar sebuah meja kayu dengan tinggi setengah meter, yang digunakan untuk menempatkan sebuah televisi 17 inch. Di belakang televisi, bagian tengah dinding kamar berwarna krem tergantung dua buah foto berpigura yang disusun bertingkat. Rukshaw 1950 merupakan foto angkutan lama seperti becak dua roda yang ditarik menggunakan tangan yang diletakkan di bagian atas. Main Bazaar 1948, merupakan foto pasar lama, tepat di bawah foto Rukshaw.
Sebuah foto lainnya, terletak di bagian tengah dinding kamar sisi kiri. Gambar sebuah jalan dengan bangunan tua, berjudul Khoo Hun Yeang Street pada bawah foto. Di sudut ruangan terdapat sebuah lampu duduk semeter. Di sampingnya, sebuah meja dengan alas karpet, sama seperti karpet lantai.
Pintu pembatas antara kamar dan kamar mandi menempel sebuah kaca panjang. Kamar mandi dengan shower dalam ruang berukuran 1x1 meter dengan pintu yang terbuat dari bahan kaca.
Waktu selama dua jam, saya gunakan untuk membersihkan diri dan beristirahat sejenak. Kepenatan sangat terasa, karena perjalanan lebih dari 12 jam berada di bis. Pukul 14.00 waktu Malaysia, saya berada di lobby hotel menunggu rombongan IPKB lainnya.
Pukul 14.30 perjalanan rombongan IPKB selanjutnya menuju Cat Muzium yang berlokasi tepat di lantai bawah dewan Bandaraya Kuching Utara, Bukit Siol, Jalan Semariang, Petra Jaya. Perjalanan ke museum dari hotel melewati jembatan panjang yang menghubungkan daerah Petra Jaya dan Kuching Selatan. Kedua daerah ini dibatasi oleh sungai Sarawak sepanjang 130 km yang bagian hilirnya langsung menuju Laut Cina Selatan. “Bangunan dengan atap seperti kubah di sane merupakan dewan bandaraya Kuching Utare,” ujar Then dengan logat khas Malaysia memberitahu rombongan saat melewati jembatan.
30 menit perjalanan dihabiskan untuk menuju tempat tersebut. Lokasi yang berada di atas bukit menampilkan pemandangan indah kota Kuching dari atas.
Cat muzium terdiri atas empat bagian galeri. Galeri A menampilkan patung kuching aneka bentuk yang dibuat dari bahan keramik. Galeri B gambar dan keterangan macam-macam kucing. Galeri C berisi cerita kucing dari etnis Melayu, Cina, dan Jepang. Galeri D berisi rak-rak yang berisi macam-macam kucing yang telah diawetkan. Galeri kucing menurut Shareena Mohammad Sallen, pengurus Cat Muzium pertama kali dibangun di Sarawak pada 1987. “This muzium dipindahkan kat sini in nineteen ninety three.” ujar Shareen memberitahu.
Menurut Shareen, galeri kucing yang dipamerkan sebagian berasal dari galeri yang lama. Lagipula, museum ini merupakan satu-satunya museum kucing terlengkap di dunia. Koleksi yang ada merupakan awetan asli kucing yang menghuni pulau Borneo. “Tak jual lah,” ujarnya.
Banyak negara yang tertarik untuk memiliki koleksi tersebut dengan cara membeli. “This one, nak dibeli UK beberape ratos ribu pound, two year ago.” Shareen menerangkan sambil menunjuk awetan kucing merah (Bay cat) yang saat ini keberadaannya hampir punah.
Sejarah mengenai kota Kuching juga tertulis dan dipamerkan di sisi kiri bangunan.
Rombongan selanjutnya diajak menuju lantai atas bangunan menggunakan lift. Lantai ketujuh dari bangunan tersebut sebelumnya melewati kantor Walikota Kuching Utara yang ruangannya tidak dapat dilihat di lantai empat.
Ruangan bulat di lantai tujuh itu biasanya digunakan untuk acara resmi walikota dan pihak kerajaan. Langit-langit ruangan dihiasi dengan kain berwarna kuning, hitam, dan merah, yang disusun berselang-seling. Dari lantai tujuh ini pula, gunung Sentubong dan gunung Sejinjang makin terlihat indah, dengan pulau kera yang berada di tengahnya. (bersambung)
Diposkan oleh
bloomasak
di
08:19
0
komentar
2020 Malaysia Setara dengan Amerika
Laporan Perjalanan Arthurio Oktavianus dari Kuching (2)
Pemeriksaan keimigrasian wilayah Malaysia di perbatasan, dibagi kedalam dua barisan memanjang. Satu-persatu, orang yang mengadakan perjalanan ke Malaysia, melakukan pemeriksaan paspor.
Moli, berasal dari Kecamatan Sebangkih, Pahauman, berdiri di depan saya. “ramai orang,” ujarnya menyapa. Moli merupakan salah seorang TKI. Pekerjaannya sebagai supir toko di Kuching, sudah dijalaninya selama 19 tahun. “Saya pernah ditangkap Polis Di Raja Malaysia (PDRM), bersama 4 teman dari Indonesia, karena tidak memiliki paspor,” ujar Moli memberitahu. Selama ditahanan, lanjutnya, kami hanya makan sekali. “Itupun segini,” Moli berkata sambil memperagakan telapak tangan kanannya membentuk setengah menutup.
Kebebasan Moli di tebus oleh Bos tempatnya bekerja di Malaysia. “Seorang 250 RM.” Dua adik Moli lainnya turut mengikuti jejak Moli. “Bos kami berbeda,” ujar Moli sambil tersenyum.
Alin, seorang rekan pers yang mengantre di barisan lain tak mendapatkan penandaan dari petugas keimigrasian Malaysia. Petugas tersebut meminta untuk memanggil ketua rombongan. Setelah ketua rombongan menghadap, barulah penandaan paspor untuk rekan pers tersebut diberikan petugas. Setelah pemeriksaan, perjalanan dilanjutkan kembali pukul 06.19 WIB.
Jarak dari Entikong ke Kuching sejauh 84 kilometer tertera pada papan penunjuk jalan yang berada di sisi kiri jalan. Selama perjalanan, hanya satu-dua kendaraan yang berpapasan.
Secara geografis, wilayah Malaysia hampir sama dengan Indonesia. Tanaman paku-pakuan, alang-alang, dan tanaman perdu lainnya terhampar di sepanjang jalan. Di Tebedu, dekat Chatholic Church bis dihentikan oleh seorang PDRM. Kembali penumpang dan rombongan menjalani pemeriksaan paspor. Di luar, dua PDRM yang lain berteduh menggunakan tenda berwarna hijau. Mereka mengitari meja bulat, dengan beberapa gelas berisi kopi. Sebungkus rokok Surya, tergeletak di mejanya.
Selama perjalanan, terhitung tiga kali pergantian operator yang tertera pada handphone saya. Maxim, My Celcom, dan Digi. Jarak waktu pergantian operator itupun hanya sejam.
Dua jam setengah perjalanan bis sampai di Terminal Batu Tiga Setengah, Kuching Selatan. Rombongan pindah ke bis tour yang sudah menunggu. Menurut agen bis terminal, seluruh bis express dari Indonesia dan Brunai, berhenti di terminal ini. “Kita rapi-rapi di toilet, karena kita akan ke kantor Konsulat RI di Kuching.” ujar Jasmin, ketua rombongan. Peserta pun setuju, untuk rapi-rapi.
Konsulat RI di Kuching
Pukul 10.00 waktu Malaysia, rombongan Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB) Kalimantan Barat yang melakukan tour ke Kuching tiba di Konsulat Jenderal Republik Indonesia, Jalan Padungan, Bangunan Binamas, lantai 6, Kuching, Jumat (8/6).
Peserta diterima Atik, seorang staf konsulat di pintu masuk lantai dasar. “Sile ke sixth floor.” Ramah Atik mempersilahkan rombongan untuk menaiki lift.
Atik mendampingi rombongan menuju ruang pertemuan. Pintu ke empat sisi kanan bangunan dari lift. “Saye belom pernah ke Indon, dan asli Malay,” ujarnya ramah memberitahu sambil tersenyum.
Perempuan muda cantik yang mengenakan kerudung itu hanya mengantarkan hingga di depan pintu ruang pertemuan. “Bapak Rafael dan Bapak Dekiwarto,” Atik memperkenalkan dua orang staf konsulat jenderal, yang berdiri di bagian dalam kedua pintu ruang pertemuan.
Ruangan itu luas, dengan dinding yang dicat putih. Beberapa bangunan tinggi dari luar jendela bertirai putih yang ditarik, tampak jelas dari ruangan itu. Kursi berwarna hitam, disusun memanjang beberapa baris sesuai dengan jumlah rombongan dan tiga staf konsulat jenderal. Suguhan roti, coffemix, minuman kemasan gelas, dan teh sachet tertata rapi di atas meja panjang beralaskan taplak meja berwarna putih. Menemani perbincangan singkat dengan staf konsulat.
Bambang Prionggo, Kepala Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Kuching tiba di ruangan sepuluh menit kemudian. “Minggu lalu, saya juga menerima rombongan tamu para anggota DPRD dan Bupati dari Kalimantan Barat,” ujarnya ramah.
Selesai menikmati sajian yang dihidangkan, pertemuan dan diskusi antara rombongan IPKB dan Konsulat Jenderal RI dimulai.
Dra. Kasmiati, M.Sc, Kepala Pusat Litbang Keluarga Berencana dan Kesehatan Produksi Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional, yang mewakili rombongan, duduk di depan, bersama Bambang. “Kami ingin bersilaturahmi dan belajar mengenai penanganan Keluarga Berencana yang dilakukan di Malaysia,” ujar Kasmiati, memberitahukan mengenai tujuan kedatangan rombongan. Selain itu, lanjut Kasmiati, kami juga ingin mengetahui sejauh mana perkembangan program-program Keluarga Berencana di sini.
Rombongan yang terdiri dari 12 pers media yang ada di Pontianak dan 9 anggota BKKBN Kalimantan Barat, diperkenalkan dengan staf konsulat oleh Bambang. Staf tersebut adalah Rafael Walangitan sebagai kepala konsuler dan ekonomi, yang menangani bidang kerja kantor, staf, keuangan, dan pejabat fungsional ekonomi. Dekiwarto sebagai staf pelaksana fungsi imigrasi, yang menangani pembuatan paspor baru bagi 220 ribu warga negara RI di Malaysia, dari Kuching hingga ujung Miri. Abdullah Jafar sebagai staf pelaksana fungsional hubungan sosial dan kontrol budaya. Didik Zulhadi sebagai staf konsuler untuk perlindungan dan bantuan hukum bagi para pekerja Indonesia di Malaysia.
Menurut Bambang, mereka bertugas untuk melindungi para pekerja Indonesia tanpa melihat suku, kepentingan politik, orang kaya, atau orang miskin. “Semua kita tangani sampai hal-hal yang sederhana,” ujar Bambang.
Penanganan keluarga berencana di Malaysia, menurut Bambang, berbeda dengan yang ada di Indonesia. “Di sini tidak ada batasan untuk memiliki anak,” ujar Bambang sambil tersenyum.
Kuching sendiri dipimpin oleh dua pemerintahan yang dibagi berdasarkan wilayah, utara dan selatan. Kuching utara, merupakan daerah dengan penduduk mayoritas beretnis Cina, dan dipimpin oleh walikota beretnis Cina. Kuching selatan, daerah dengan penduduk yang beragam, Melayu, Dayak, India, dan dipimpin oleh Walikota beretnis campuran.
Target pemerintah Malaysia terhadap jumlah penduduknya adalah 70 juta. “Tapi sekarang, hanya ada 20 juta penduduk saja.” Bahkan, penduduk Kuching yang memiliki tiga atau empat anak, akan mendapatkan tunjangan dari pemerintah.”Di sini (Kuching Utara, ed) hanya dua ratus ribu penduduk. Tidak ada yang repot,” ujar Bambang.
Meskipun Malaysia tidak membatasi jumlah anak dalam keluarga, Malaysia lebih menekankan pada bidang pendidikan. “Anak-anak di sini mendapatkan bantuan biaya pendidikan hingga mereka menamatkan pendidikannya sampai sarjana. Bantuan tersebut dapat mereka ganti dengan cara mencicil, apabila mereka sudah bekerja.” ujar Bambang menerangkan. Pendidikan anak di Malaysia, wajib mulai dari Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi. Hal ini, lanjut Bambang, menghasilkan para intelektual yang handal.
Dukungan pemerintah Malaysia dalam bidang pendidikan, merupakan persiapan Sumber Daya Manusia yang memasuki pelita kesembilan. Target Malaysia pada 2020 adalah kemajuan seluruh masyarakat Malaysia dalam hal kemampuan dan keterampilan yang mampu bersaing dengan Amerika. “Di sini, internet sudah masuk sampai pelosok,” ujar Bambang. Pendidikan yang diterapkan Malaysia, merupakan pendidikan yang mengarah pada teknologi berbasis high-tech.
Pembangunan di Malaysia, sudah sangat maju dibandingkan Indonesia. Masyarakat Malaysia juga sangat menjaga kebersihan. “Kebersihan sangat ditekankan oleh pemerintah Malaysia. Tak heran, sampah di jalanan Malaysia tidak ada.” ujar Bambang memberitahu.
Menurut Kasmiati, program Keluarga Berencana di Indonesia harus tetap dilaksanakan. Penduduk Indonesia, lanjutnya, sudah terlalu padat. Lapangan pekerjaan yang ada juga sangat sedikit, sehingga kompetisi yang terjadipun semakin sulit. “Padahal, yang paling utama adalah lapangan kerja,” ujar Kasmiati.
Kurangnya lapangan pekerjaan di Indonesia, menyebabkan meningkatnya jumlah pengangguran. Dampak yang kemudian akan mencul adalah terjadinya peningkatan angka tindak kejahatan.
Bila di Malaysia, banyaknya anak ditanggung oleh pemerintah, tidak sama halnya dengan Indonesia. “Pemerintah hanya menanggung dua anak. Tanggungan itu diberikan hingga anak kuliah. Itupun hanya dua persen dari gaji yang diperoleh.” ujar Kasmiati.
Diskusi berhenti saat makan siang, pukul 11.30. Setelah menyelesaikan santapan, dilakukan penyerahan kenang-kenangan dari rombongan IPKB untuk Konsulat Jenderal RI. (Bersambung)
Diposkan oleh
bloomasak
di
08:18
0
komentar
Perempuan Bicara tentang Lingkungan
Arthurio Oktavianus
Borneo Tribune, Pontianak
Peran perempuan mengelola lingkungan berkelanjutan, sangat luar biasa. Perempuan mampu memahami perubahan yang terjadi di lingkungan secara alami. Atau, akibat degradasi alam yang terjadi karena kerusakan hutan di daerahnya.
Hal itu dikemukakan beberapa aktivis perempuan yang konsen bicara tentang isu lingkungan. Salah satunya, Mina Susana Setra, Director of International Advocacy and Cooperation, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), di kantor Wahana Lingkungan Hidup (WALHI), Pontianak.
Menurut Mina, perempuan dapat merasakan perubahan melalui pengaruh kesehatan yang terjadi pada udara dan air. Bila ada anak sakit, orang pertama yang dicari sang anak adalah ibunya. Kemudian, sang ibu akan bertanya, habis main di mana atau makan apa.
“Perempuan seharusnya berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi, bermartabat secara budaya,” kata Mina.
Mina mencontohkan perjuangan Rukmini, seorang perempuan di Desa Ngata Toro di kawasan Taman Nasional Lore Lindu, Sulawesi Selatan. Ia mengelola Sumber Daya Alam (SDA) berbasis kebudayaan lokal. Rukmini membentuk kelompok yang bekerja dan mengumpulkan cerita lokal. Ia juga melakukan pengelolaan sumber daya alam (SDA), prosesnya, dan menjadikan dokumentasi.
Dokumentasi yang telah disepakati bersama, merupakan catatan-catatan hukum. Yang diberlakukan, apabila ada warga mengambil SDA secara sengaja, tanpa izin.
Persoalan yang dialami masyarakat saat ini, bagaimana pemerintah memperbaiki mutu lingkungan. Menurutnya, perusak lingkungan karena adanya pembalakan liar dan kelapa sawit. “Pemerintah yang memasukkan proyek tersebut ke daerah. Untungnya diambil pemerintah, dan yang merasakan dampaknya adalah rakyat,” kata Mina.
Sebenarnya, kesadaran masyarakat akan lingkungan, tidak memandang jenis kelamin ataupun latar belakang. Mereka yang terjun ke politik, seharusnya tidak hanya berteriak mengenai politik saja. Elit politik harus juga berteriak mengenai lingkungan.
Masyarakat perlu kesadaran mengelola sampah, hemat air, dan hemat listrik. Selain itu, perlu diberi pemahaman mengenai lingkungan, dan harus dijembatani. Hal sederhana dalam memahami lingkungan, dimulai dari keluarga.
Banyak masyarakat jadi korban, akibat degradasi alam yang terjadi karena kerusakan hutan. Seperti, kasus Buyat di Sulawesi Utara, akibat tercemarnya sumber air utama yang mereka gunakan sehari-hari.
Menurut Elsa, banyak kaum perempuan menjadi korban dari kasus tersebut. Suara perempuan tidak didengar. Hak-hak mereka sebagai perempuan tidak terpenuhi. Peran perempuan juga tergantung pada lingkungannya masing-masing.
Bila di daerah perkotaan, kondisi lingkungan tidak terlalu memberikan pengaruh besar dalam kehidupan mereka. Akan tetapi, berbeda dengan kehidupan di daerah. Yang telah dimasuki adanya proyek besar.
Menurut Mina, masyarakat adat merupakan korban proyek di daerah. Ia mencontohkan kondisi masyarakat kampung, dulu dan sekarang. Dulunya, masyarakat kampung dengan mudah dapat mencari kayu, hewan, dan sayur di hutan. Sekarang ini, mereka tidak bisa melakukannya lagi, karena lahan hutan telah habis digunakan untuk berbagai proyek.
Menurut aktivis lainnya, Elsa Adelina Lingga, pertentangan masyarakat adat oleh kaum perempuan, dapat dilakukan dengan cara paling ekstrim. Apabila, ketika suara mereka tidak didengar dan dihargai lagi. Contohnya, perlawanan mama Yosefa. Dia memimpin demo Freeport di Papua. Beliau sangat ditakuti para aparatur dan dihargai para penduduknya.
Kasus lain dari perlawanan ekstrem yang dilakukan perempuan adalah, demo di Indorayon, Sumatera Utara. Para pemimpin demo itu adalah, perempuan. Mereka maju dan menghadapi tentara tanpa busana. Mereka meminta, bila ditangkap, anak-anak mereka yang masih bayi, juga ditangkap bersama mereka. Akhirnya, tentara merasa malu dengan tindakan para perempuan.
Perempuan bisa menjadi simbol perlawanan yang kuat, ketika merasa terancam. Tidak ada lagi ikatan budaya yang mengikat. Bahkan, dalam keseharian pun, peran mereka sangat luar biasa.
Perempuan punya budaya dan tradisi menjaga keseimbangan. Bila keseimbangan hilang, korban berjatuhan. Akibatnya, timbul perlawanan yang dilakukan masyarakat, termasuk perempuan. Contohnya, masuknya penambangan emas tanpa izin (PETI), ke berbagai daerah. Yang menyebabkan perubahan air keruh. Ketika diminum, masyarakat pun mengalami sakit perut.
“Masyarakat perlu mengetahui, mengapa itu terjadi. Apa yang mencemari. Jadi, kita harus menjaga lingkungan yang ada. Jadilah sahabat lingkungan,” kata Elsa.
Diposkan oleh
bloomasak
di
08:17
0
komentar
Pintu Border Belum Dibuka
Laporan Perjalanan Arthurio Oktavianus dari Kuching (1)
Kamis (7/6), rombongan IPKB (Ikatan Penulis Keluarga Berencana) yang terdiri dari pers, pembina wilayah dari BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) Kalimantan Barat, dan seorang pembina BKKBN Pusat melakukan tour ke Kuching.
Rombongan berkumpul di Jalan Sisingamangaraja No. 155 Pontianak, pukul 20.30 untuk melakukan pengisian identitas dan tempat tujuan, salah satu pelengkap keimigrasian untuk melewati wilayah perbatasan di Entikong.
Mesin kendaraan dinyalakan oleh supir bis dan menyuruh para penumpang untuk menempati nomor kursi yang tertera di tiket bis. Sisi kiri bis, dengan nomor kursi 4B, menjadi bilik peraduan saya selama perjalanan. Maklum, malam.
Setelah penumpang menempati kursinya masing-masing, bis berjalan. Tepat pukul 21.00.
Pukul 21.23, perjalanan terhenti di Pertamina, pertigaan jalan 28 Oktober, menaikkan sepasang suami istri separuh baya. Dua menit kemudian, bis mulai berjalan kembali.
Seorang lelaki berjaket jeans, menghentikan laju bis setelah memberitahukan tempat pemberhentiannya. Pintu bis terbuka, lelaki itu turun, di depan komplek tentara Batulayang.
Gambaran saya mengenai perjalanan, hilang bersama kantuk yang menyerang. Kelelahan mengurus paspor dari pagi hingga memperoleh paspor pukul 17.00, menyatu dengan dinginnya air conditioner (AC) yang berada tepat di atas kursiku. Aku terlena untuk beristirahat.
Saya terbangun di daerah Sosok, karena bis melewati jalan rusak. Rem mendadak oleh supir, menghilangkan rasa kantuk karena tubuh terdorong ke depan ke belakang. Oleng.
Beberapa rumah dengan jarak yang tidak berdekatan, terlihat di luar jendela dari sisi kiri. Kebanyakan, hanya satu lampu teras yang menjadi penerang dari rumah itu. Warung yang hanya diterangi dengan sebuah pelita, kadang dilewati. Minat pengunjung yang besar, terlihat dari jumlah motor yang terparkir, lebih dari lima buah. Kehidupan malam remang di pedesaan, dari orang-orang yang haus hiburan.
Bis mulai mengurangi lajunya. Sopir mengarahkan bis ke kanan, memasuki pelataran sebuah warung di daerah sosok.
Pukul 02.02 saat itu, ketika bis berhenti di rumah makan Citra Minang Sosok. “Capuccino panas,” ujarku kepada penjaga warung, yang langsung disediakan dalam cangkir coklat.
Nikmatnya cappucino, saya nikmati di sebuah meja dari porselin putih, dengan 4 bangku dari bahan semen yang dibentuk menyerupai batang pohon berwarna coklat. Letak tempat duduk saya, hanya sekitar semeter dari televisi yang menempel di dinding dan disanggah dengan besi berbentuk kotak, yang dipaku kuat ke dinding.
Tayangan musik dari saluran MTV, menambah suasana hangat di pekatnya malam. “Ini jadwal acara tour kita,” ujar Yasmin Umar, ketua rombongan IPKB, yang berkeliling membagikan jadwal pada kertas putih ke seluruh rombongan.
Rekan IPKB lain, terlihat menikmati santapan mereka. Dinginnya malam, membuat ‘kampung tengah’ berunjuk rasa. Dengan lahap, santapan dihabiskan, diiringi dengan diskusi kecil dan humor. Empat puluh enam menit, waktu yang dihabiskan di warung itu. Setelah selesai melakukan pembayaran, perjalanan dilanjutkan kembali.
Pukul 04.27, bis sampai di Entikong. Tepat di depan warung tengah, dari 3 warung yang terbuka. Kesempatan ini, saya gunakan untuk merokok. Turun dari bis, sebatang rokok disulut, dan asapnya terbang bersama embun.
Beberapa orang yang jadi calo tukar uang, menawarkan jasa. Mereka mondar-mandir, berharap ada penumpang yang memanggil. Tawaran yang mereka ajukan, selalu ditanggapi dengan gelengan kepala. “Ini masih Indonesia,” ujar Ruly, dari agen perjalanan, yang menjadi teman merokok. “Kalau sudah masuk Malaysia, seperti ruang utama dan dapur,” lanjutnya, memberikan pengandaian.
Banyak bis yang berhenti. Beberapa orang yang berkelompok di samping saya, bercerita dan berkata, “Pintu gerbang belum dibuka.”
Instruksi untuk masuk ke bis, terdengar dari ketua rombongan. Mesin bis menyala, kemudian berjalan maju, beberapa meter. Mesin dimatikan kembali, rombongan diingatkan untuk menyiapkan paspornya masing-masing, dan berkumpul di depan pintu gerbang.
Pukul 05.00, pintu gerbang dibuka. Rombongan dan orang-orang yang menuju ke Malaysia, berjalan sekitar 50 meter, membentuk dua barisan panjang. Tempat untuk mengantri cap pengesahan di imigrasi perbatasan, melewati dua ruangan di samping kanan. Di atas pintu ruangan, tertulis kantor perhubungan darat, bea dan cukai. Seorang petugas dengan seragam warna abu-abu gelap, bersandar di pintu kantor perhubungan darat. Penerangan ruangan tersebut, dari lampu neon panjang yang berjumlah dua buah.
“Lanjut,” ujar petugas yang berjaga di sisi kiri. Ia menyuruh baris berikutnya untuk maju. Petugas tersebut, seperti teman yang berasal dari kampungku. Alex, namanya.
Dugaanku tepat, saat dia menoleh ketika namanya saya panggil.
Rombongan memisahkan diri dari barisan, dan mengumpulkan paspor agar proses pemberian cap selesai dengan cepat. Tak lama, rombongan melanjutkan pemeriksaan di keimigrasian Malaysia, setelah terhenti beberapa saat karena ditahan Polis Di Raja Malaysia, yang mengecek tempat tujuan menginap selama berada di Malaysia. (bersambung)
Diposkan oleh
bloomasak
di
08:16
0
komentar
*Elsa Adelina Lingga
*Elsa Adelina Lingga
Menumbuhkan Kesadaran dan Peduli Lingkungan
Arthurio Oktavianus
Borneo Tribune, Pontianak
Ketertarikannya terhadap lingkungan, berawal dari insiden. Ia kaget, ketika pulang ke Pontianak, orang tidak menggunakan masker atau slayer penutup hidung, saat mengendarai sepeda motor. Padahal, polusi kendaraan di Pontianak, lebih banyak dibanding Yogyakarta. Itulah yang mendasari Elsa Adelina Lingga, lulusan Jurusan Hubungan Internasional, UPN Veteran Yogyakarta, menjadi aktivis lingkungan.
Siang itu, saya mengunjungi kantor Wahana Lingkungan Hidup (Walhi). Jarum jam menunjuk angka 12.30. Sesampai di sana, mereka sedang rapat. Dengan menghadap papan putih yang melekat di dinding. Mereka mengelilingi meja panjang. Seseorang berdiri dan mempresentasikan suatu masalah. Perhatian dipusatkan pada tulisan dan penjelasannya.
Pada sisi kanan meja, seorang perempuan mengenakan kaca mata dan berkerudung hitam, terlihat di sana. Dia masih muda. Jabatannya Ketua Umum Sahabat Lingkungan (Salak), Kalimantan Barat.
Melihat kedatangan saya, ia berujar, “Ke belakang saja kita.” Dan, ia pun berjalan mendahului.
Ruangan wawancara berada paling ujung. Ukurannya seluas, 4x4 meter. Sebuah bide’ atau tikar terbuat dari rotan dan pelepah kayu, menghampar di lantai sebagai alas. Ruangan itu dulunya gudang. Setelah dibersihkan, digunakan sebagai ruangan. Ia mempersilakan saya duduk.
Kami berbincang. Elsa merasa heran dengan sikap dan kurangnya perhatian masyarakat, mengenai sampah kota yang menumpuk. Sebuah pertanyaan mengemukan.
Apakah masyarakat di Pontianak sudah terbiasa? Atau, kesadaran masyarakat terhadap lingkungan kurang?
Menurutnya, perbandingan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan, antara masyarakat Yogyakarta dan Pontianak, sangat kentara sekali. Kanak dan ibu di Yogyakarta, dapat diberdayakan. Dengan pengarahan dan diberi pendidikan lingkungan, mereka kreatif membuat barang kerajinan dari bahan bekas.
Salak, merupakan bagian tak terlepas dari Walhi. Pada 1990-an, Walhi mulai fokus menyoroti permasalahan lingkungan, akibat pembukaan lahan perkebunan sawit. Hal ini, menunjukkan penanganan permasalahan eksklusif. “Permasalahan lingkungan, masih banyak dan belum terjamah secara kongkret.” kata Elsa, yang juga berprofesi sebagai penyiar.
Walhi mulai membentuk lembaga dan menyoroti permasalahan lingkungan di sekitar mereka. Pada 2000, terbentuk Sahabat Walhi (Salwa) di Jakarta. Kemunculan ini, diikuti daerah lainnya. Di Yogyakarta, muncul Saling (Sahabat Lingkungan). Di Kalbar, muncul Salak (Sahabat Lingkungan Kalbar).
Salak dibentuk pada 23 September 2006. Setiap permasalahan di region, disesuaikan dengan kondisi lingkungan. Kegiatan yang dilakukan Salak antara lain, melakukan aksi pembersihan pohon. Yang bekerjasama dengan polisi pamong praja, pemerintahan kota, dan kehutanan Untan.
Kegiatan ini dilakukan dalam rangka hari pohon sedunia, pada 20 November 2006. Salak juga melakukan penyebaran pamflet, mengenai dampak asap di Kalbar. Bersama Walhi Pusat, mereka melakukan aksi bersama di Jakarta, pada April 2007. Tema besar yang diangkat, memperingati hari bumi adalah “Jeda Tebang Sekarang”.
Keanggotaan Salak bersifat cair, dan bisa berasal dari seluruh elemen masyarakat. Mereka menerapkan keanggotaan secara independen. Bisa berasal dari latar belakang apa saja.
Sekarang ini, anggota aktif di Salak, sebanyak 20 orang. Visi Salak, mewujudkan kesadaran lingkungan lestari, berkelanjutan dan kritis. Yang berkeadilan sosial, atas dasar kebersamaan di Kalbar.
“Kesulitan kita saat ini, bagaimana merangkul dan mengajak masyarakat peduli terhadap lingkungan,” kata Elsa.
Salak memprogram kerjanya dengan senang, melalui pendidikan lingkungan. Kampanye, riset ke kawasan yang mempunyai isu lingkungan, merupakan event lingkungan. Anggota yang kreatif dan dapat membuat film mengenai peduli lingkungan, juga dapat menyalurkan keahlian mereka. Mereka juga memberi kesempatan kepada teman yang bisa desain grafis, membuat poster dan karikatur tentang lingkungan.
Salak juga melakukan kerjasama dengan lembaga mahasiswa dari perguruan tinggi. Saat ini, mereka belum menjamah pelajar. Namun, kedepannya akan koordinasi. Pendidikan lingkungan untuk anak sekolah, masih pekerjaan rumah yang harus segera diwujudkan, begitu katanya.
Menurutnya, masyarakat daerah punya isu lingkungan berbeda dengan masyarakat perkotaan. Bila di daerah berkaitan dengan isu kerusakan hutan, isu lingkungan yang terjadi di kota, mengenai tata ruang kota.
Saat ini, Salak masih melakukan riset mengenai sampah dan air di kota. Selain itu, juga melakukan diskusi lingkungan. Target Salak kedepan, menerima keanggotaan sebanyak-banyaknya. Siapa pun bisa masuk Salak.
“Menjadi sahabat lingkungan, dapat dilakukan melalui tindakan sekecil apa pun, karena merupakan tindakan yang peduli lingkungan,” kata Elsa.□
Diposkan oleh
bloomasak
di
08:15
0
komentar
Memaknai hari lingkungan hidup
Arthurio Oktavianus
Borneo Tribune, Pontianak
Banyak cara untuk memperingati hari lingkungan hidup. Tergantung dari inisiatif dan misi setiap individu maupun kelompok.
Diah Muriani (49), berjongkok di antara sampah. Tangannya tak beralas. Ia memisahkan kaleng dan botol plastik. Sampah itu bisa dijual. Ia juga memisahkan sampah makanan, yang dapat dimanfaatkan untuk makanan ternak. Biasanya, peternak itik yang memesannya.
Pemulung merupakan profesi Diah. Ia menghabiskan tiga tahun waktunya, bersama sampah di Jalan Teuku Umar, dekat Pasar Mawar. Ia tinggal dalam sebuah gerobak dorong. Persis, bersebelahan dengan rumah mewah.
Itulah ironi perkotaan. Jurang antara si kaya dan miskin begitu lebar.
Gerobak itu setinggi satu meter, panjang dua meter, dan lebar sekira setengah meter. Ia menggunakan gerobak itu, untuk beristirahat tiap harinya. Kasur yang digunakan pun, dari karton tanpa alas kepala. Suaminya, Hadi Subandi (58), tidur menggunakan kursi panjang di samping gerobak. Untuk menghindari hujan, sebuah terpal warna biru merentang dan ujungnya diikatkan pada pagar.
Dian tak perlu berjalan jauh untuk kerja. Gerobaknya, hanya berjarak sekira dua langkah dari tempat sampah. Yang biasa digeluti dan menjadi ladang pencariannya.
Siang itu, Diah mengenakan caping berbahan rotan di kepalanya. Sebuah kaos oblong warna ungu bergambar Winnie The Pooh pada bagian depan, menempel di tubuhnya. Ia mengenakan celana jeans selutut. Sebuah saku di bagian samping, menghiasi celananya. Ia mengenakan sendal jepit sebagai alas kaki. Sendal itu terlihat lusuh dan dekil. Tanda telah lama dipakai.
Ketika ditanya mengenai makna hari lingkungan hidup, Diah hanya menjawab singkat.
“Yang penting bersih.”
Bagi Diah, kebersihan di wilayah kerjanya, sekitar perempatan jalan, merupakan tanggungjawab yang harus dilakoni bersama sang suami.
Keduanya tidak begitu paham dengan makna dan hari lingkungan hidup. Yang harus dikerjakan, mereka mesti bekerja dan memilah sampah setiap hari. Dengan cara itu, mereka akan tetap hidup. Dan lingkungan pun menjadi bersih.
Mereka melakukannya kegiatannya setiap hari. Sedari pukul 04.00 hingga menjelang maghrib. Setelah rehat sejenak, mereka melanjutkan kerja pada pukul 21.00, setelah sebagian besar toko di Pontianak tutup.
Mereka tak pernah menyisakan sampah tercecer sembarangan, karena poster dan spanduk yang biasa digunakan melakukan aksi, tergantikan sapu dan sekop. Setiap hari, aksi itu dilakukan. Libur, kalau ada acara di kampung saja, ujar Diah.
Rumahnya di Desa Rada, Terentang, Kecamatan Sungai Raya. Sudah delapan bulan, mereka meninggalkan rumah itu. “Kalau di sini ditinggalkan, sampahnya akan memenuhi jalan dan menumpuk di parit.” katanya lagi.
Dulu, daerah di sekitar itu sering banjir. Tumpukan sampah menyumbat aliran air di parit. Sekarang tidak pernah lagi, karena Subandi membersihkannya setiap hari. Namun, kendala kerap muncul setiap harinya. Truk pengangkut sampah tak datang. Menumpuknya sampah, berarti datangnya aroma busuk. Akibatnya, menyesakkan saluran pernafasan dan mengganggu istirahat malam mereka. Tak hanya itu, menumpuknya sampah juga menampah pekerjaan mereka. Sampah berceceran hingga ke badan jalan.
Tak banyak yang ia tuntut dalam hal ini. Mereka berharap, pemerintah membuat bak agak panjang, untuk menampung sampah agar tidak tercecer. Selain itu, truk pengangkut sampah harus tepat waktu. Pukul 04.00, 08.00 dan 17.00). “Agar lebih mudah kerja,” ujar Diah.
Menurut Diah, masyarakat memandang sinis, apa yang mereka lakukan. Memilah dan memulung sampah, bukan pekerjaan yang dilihat orang. Diah memaklumi. Ada anggapan di masyarakat, pemulung dianggap sebagai pencuri. Banyaknya kasus pencurian yang disebabkan pemulung, membuat orang berpandangan negatif pada mereka.
Dia tidak menampik hal itu. Namun, tidak semua pemulung itu pencuri. Diah pun mencontohkan, tidak semua aparat pemerintah itu koruptor.
Unjuk rasa bersama
Hari Lingkungan Hidup juga diperingati elemen mahasiswa, masyarakat dan aktivis lingkungan. Mereka melakukan unjuk rasa di Tugu Digulis, bundaran Untan, Selasa (5/6).
Menurut Adrianus Shaban Setiawan, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Kalimantan Barat, unjuk rasa ini sudah lama direncanakan. Mereka menuntut keterbukaan pihak legislatif dan eksekutif, dalam menangani permasalahan lingkungan hidup.
Selama ini, kebijakan pemerintah tidak berpihak pada rakyat. Ketidakadilan terjadi dalam hal ekonomi dan sosial masyarakat.
Hari Lingkungan Hidup dideklarasikan sejak 5 Juni 1972. Tiga puluh lima tahun sudah, agenda itu dilakukan. Tapi, masih ditemukan banyak masalah mengenai lingkungan. Isu global lingkungan hidup, pemanasan global (global warming) dan perubahan iklim (climate exchange). “Secara lokal, isu yang penting untuk diperhatikan adalah tanah dan air,” kata Saban.
Tanah menjadi hal penting untuk dipertahankan rakyat, karena makin berkurangnya lahan mereka. Ia memberikan contoh kasus Lapindo.
Sekarang ini, luas areal perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Sanggau, mencapai 131,148.64 hektar. Dari jumlah itu, lahan untuk perusahaan besar milik negara seluas 20,512.60 hektar. Perusahaan swasta nasional 30,453.40 hektar. Perusahaan swasta asing 21,999.30 hektar. Kebun petani plasma kelapa sawit 77,383.30 hektar.
Konversi dari pertambangan dan perkebunan kelapa sawit, dapat menyebabkan krisis air bersih. Sebab, ketersediaan sumber mata air berkurang. Secara kuantitas ketersediaan air masih ada. Tapi, tidak secara kualitas.
Tri Budiarto, Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda), memberi tanggapan terhadap aspirasi yang dilontarkan pengunjuk rasa. Ia merespon secara objektif.
Harus ada cara bersama untuk mengurangi permasalahan mengenai lingkungan hidup. “Apabila perlu, bisa dilakukan evaluasi perubahan kebijakan. Asalkan, bermanfaat untuk semua elemen masyarakat,” kata Tri Budiarto.□
Diposkan oleh
bloomasak
di
08:15
0
komentar
Mengatasi Trafiking melalui Perda
Arthurio Oktavianus dan Andry
Borneo Tribune, Pontianak
Tiga orang perempuan muda berjalan beriringan. Mereka keluar ke arah jalan. Senyum mengembang di wajah mereka, saat bertemu orang di sekitar shelter (tempat penampungan konseling), Selasa (5/6).
Mereka masih belia. Sekira 17-18 tahun. Mereka korban trafiking atau perdagangan manusia. Di shelter, mereka ditampung dan disiapkan secara mental, sebelum akhirnya dikembalikan ke kampung halamannya.
“Kita membantu mereka melalui pemulihan konseling, agar beban mereka berkurang dan memiliki keterampilan,” ujar Lusila Arnila, konselor pada shelter di Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan (PEK).
Mereka ini, semula bekerja di luar negeri, Malaysia. Ketertarikan mereka bekerja ke luar negeri, karena ingin memperbaiki ekonomi keluarga. Namun, ketika mereka mencari agen yang bisa mengirim ke luar negeri, mereka malah terjebak.
Akibatnya, mereka menjadi komoditas dan diperdagangkan. Tak hanya tenaganya, tapi juga raganya. Mereka yang menjadi korban trafiking, kebanyakan adalah orang yang putus sekolah, atau pun tamatan SD atau SMP.
Cerita mengenai keberhasilan pekerja di luar negeri, membuat orang mencari kesempatan sama. Mereka tertarik dan mencoba mengadu peruntungan.
Penawaran mengenai banyaknya kesempatan kerja dan gaji besar oleh agen, menjadi daya tarik menggiurkan. Para agen menjanjikan mereka bekerja di perkebunan, menjaga toko, pembantu rumah tangga, dan bangunan. Selain pekerjaan, korban juga dijanjikan dapat pulang kembali ke kampung halaman, sesuai dengan kemauan mereka.
Kenyataannya, pekerjaan yang dijanjikan tidak sesuai. Mereka bahkan ada yang tidak mendapatkan gaji. Tenaga kerja di perkebunan, tinggal di pondok yang berada di hutan.
Hal ini dilakukan, untuk menghindari kejaran polisi Diraja Malaysia. Yang memburu tenaga kerja ilegal, tanpa dokumen sah.
Mulai Juni-Mei 2006, jumlah korban trafiking yang ditangani Arnila, sebanyak 174 orang. Pada 2007, turun menjadi 133 orang.
Pada Maret 2007, berdasarkan data yang diperoleh, Kalimantan Barat berada di peringkat ketiga dalam kasus perdagangan orang, setelah Jawa Timur dan Jawa Barat.
Kalimantan Barat merupakan daerah yang strategis sebagai jalur perdagangan manusia antarnegara. Hal ini dikarenakan, Kalbar memiliki pintu perbatasan jalur darat, yang dapat diakses, walaupun tanpa kelengkapan dokumen.
Korban trafiking tidak hanya perempuan. Sebanyak 40 orang, dari 174 yang menjalani konseling di shelter pada 2006, merupakan laki-laki. Peningkatan jumlah korban laki-laki, terjadi pada 2007, dengan jumlah 59 orang.
Menurut Arnila, peningkatan ini dikarenakan, korban pernah di penjara di Malaysia. Penyebanya, mereka tidak punya dokumen lengkap. Banyaknya tenaga kerja tidak berdokumen, menyebabkan korban menumpuk di penjara.
Setelah bebas, mereka ditampung di shelter, untuk mendapatkan bimbingan konseling. Mereka juga diberi keterampilan dan diasah bakatnya, sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Setelah itu, mereka dikembalikan ke kampung halamannya.
Untuk menghentikan praktek perdagangan manusia, pemerintah membuat Perda Trafiking. Dengan cara itu, diharapkan dapat membuat efek jera bagi pelaku.
Dewi Hughes sebagai Duta Nasional untuk Kampanye Penghapusan Perdagangan Perempuan dan Anak, menyatakan menyambut baik upaya yang telah dilakukan Pempro Kalbar dalam memerangi kejahatan perdagangan manusia.
DPRD Kalbar telah melakukan sosialisasi mengenai Raperda Trafiking ke masyarakat. Dengan cara itu, diharapkan dapat mencakup perlindungan terhadap saksi trafiking dan memberikan sanksi yang berat terhadap pelaku.
Dengan Raperda ini, diharapkan dapat mencegah terjadinya trafiking. Namun, hal lain yang turut mendukung pencegahan trafiking adalah, pola fikir dan sosial budaya masyarakat.
Menurut Arnila, Raperda ini perlu disosialisasikan hingga ke perangkat pemerintahan paling bawah, seperti Rukun Tetangga. Tujuannya, supaya mereka mengetahui persoalan apa saja yang termasuk dalam trafiking. Sehingga dapat mengatasi permasalahan tersebut, dan tidak mengeluarkan surat bagi warganya. Yang ingin bekerja ke luar negeri.
“Raperda ini, diharapkan dapat segera disahkan, dan dapat diterapkan secara langsung. Agar masyarakat dapat terhindar dari perdagangan manusia yang dilakukan oleh para agen,” kata Arnila.
Sementara itu, dalam salah satu sidangnya, anggota DPRD juga pernah mensosialisasikan mengenai Raperda Trafiking. Dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (PTPPO). Pada pasal 57 ayat dua, mengamanahkan Pemerintah Pusat dan Daerah wajib membuat kebijakan, program, kegiatan, dan mengalokasikan anggaran, untuk melaksanakan pencegahan dan penanganan masalah perdagangan orang.
Guna mewujudkan semangat dan perintah yang terkandung dalam UU Nomor 21 Tahun 2007, DPRD Provinsi Kalbar bersama pihak eksekutif, melakukan rapat dengar pendapat Pansus I (trafiking) dengan pemerintah kabupaten/kota dan akademisi, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dan membahas rancangan peraturan daerah tentang penghapusan perdagangan perempuan dan anak di Kalimantan Barat.
Pansus I yang dipelopori oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Kalimantan Barat. Beragam usul dan saran mengalir. Ada yang secara tegas mengatakan apa sesungguhnya karakteristik yang terkandung di dalam rancangan Perda. Pertanyaan seputar penguatan dari sisi pelaku maupun korban, sehingga lebih mudah untuk mencerna dan menafsirkan.
Komitmen pemerintah dalam memberikan perlindungan terhadap perdagangan manusia ini, juga dipertanyakan. Selain itu, bentuk perlindungan yang bakal dibuat, untuk mengurangi permasalahan ini dianggap belum jelas dalam Raperda ini. Banyak celah dari Raperda ini yang menjadi perhatian.
Aktivis perempuan dari pengurus wilayah Aisyiyah, Lilik Muayadah, menyoroti perlunya suatu perhatian dalam hal perawatan, advokasi hukum dan perbaikan resiko sosial. Ini tentu menjadi bagian tak terpisahkan dalam pembahasan Raperda.
Siswadi, dosen Fakultas Hukum Universitas Panca Bhakti, mengkritisi pasal 8 ayat 1 dan 2. Ia mengkritisi rancangan peraturan daerah ini. Berlandaskan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Nomor Keputusan 104 A tahun 2002, Tentang Penempatan Tenaga Kerja Ke Luar Negeri dan Convention International Labour Organization, dengan tegas mengatakan, anak yang boleh dipekerjakan ke luar negeri adalah, mereka yang berumur minimal 18 tahun. “Jadi, pasal 8 ayat 1 dan 2, mesti disempurnakan lagi,” katanya.
Dari hasil rapat dengar pendapat antara Pansus I DPRD Provinsi Kalimantan Barat dengan pemerintah Kabupaten/Kota se-Kalbar, banyak masukan saran dan gagasan yang bersifat positif dan membangun, guna penyempurnaan Raperda, tentang perdagangan perempuan dan anak di Kalimantan Barat.
Sudah saatnya, semua elemen masyarakat melindungi generasi penerus bangsa ini, dari perdagangan perempuan dan anak. Harus ada hukuman dan efek jera bagi pelaku trafiking. Kalau tidak begitu, generasi kita akan hilang, karena menjadi korban perdagangan manusia.
Kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi……???
Diposkan oleh
bloomasak
di
08:13
0
komentar
Keluarga Berencana dan Peran Media
Arthurio Oktavianus
Borneo Tribune, Pontianak
Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Kalimantan Barat, Fauzan Al-fikri menyatakan, Keluarga Berencana tidak lepas dari masalah kependudukan. Hal tersebut disampaikan di Islamic Economy Centre, di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pontianak, pada Senin (4/6).
Pernyataan itu disampaikan pada sosialisasi kesehatan reproduksi bagi pengelola media. Yang diselenggarakan BKKBN bekerja sama dengan harian Borneo Tribune, STAIN, dan United Nation Founding Aid (UNFA).
Menurutnya, permasalahan itu dikarenakan jumlah penduduk Indonesia, merupakan peringkat empat dunia tertinggi dengan jumlah penduduk 250 juta, dibawah Republik Rakyat China (RRC), India, dan Amerika.
Selain jumlah penduduk, KB juga terkait dengan tabunya pendidikan kesehatan reproduksi bagi remaja. Penelitian BKKBN pada 2004, menunjukkan bahwa dari 5 kota kabupaten di Kalimantan Barat, hubungan seks pranikah oleh remaja lebih banyak dilakukan penduduk di pedesaan. Hal ini dikarenakan masih rendahnya pengetahuan mengenai masalah kesehatan reproduksi. Dari data yang dimiliki BKKBN, terdapat 2 juta orang pertahun yang melakukan aborsi di Indonesia.
Nur Iskandar, Pemimpin Redaksi Borneo Tribune, sebagai narasumber mengatakan, 37 persen jumlah penduduk Indonesia, adalah remaja. Peran media menyampaikan pendidikan mengenai kesehatan reproduksi, perlu tindakan secara langsung. Hal ini dikarenakan, masih kompleksnya permasalahan dan anggapan masyarakat. Yang masih tabu membicarakan kesehatan reproduksi secara terbuka.
Orang tua punya peran penting untuk mengajarkan pendidikan kesehatan reproduksi bagi anak. Perlu kesadaran mengenai pentingnya kesehatan reproduksi bagi remaja. Pembelajaran itu, harus dimulai dari hal yang kecil. Misalnya, dari diri sendiri. Dan dimulai sekarang juga.
”Pemberitahuan kesehatan reproduksi secara dini, akan membantu anak untuk menjaga diri,” ujar Fauzan.
Kesehatan reproduksi dan penelitian
Pendidikan kesehatan reproduksi bagi remaja, bukan merupakan pornografi. Hal itu dikemukakan Mulyadi dari Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI).
Menurutnya, pendidikan merupakan satu upaya mengurangi orientasi seksual remaja yang sudah berada di luar batas kewajaran. Hal ini terkait dengan keingintahuan remaja mengenai seks, melalui film, bacaan dan gambar vulgar.
Menurut Azimah Soebagijo, Ketua Umum Perhimpunan Masyarakat Tolak Pornografi, ada dua alasan remaja terpengaruh pornografi. Yaitu, teman bermain (peer group) dan media massa.
Berdasar penelitian Youth Adult Reproductive Health Survey (YHARS), dengan subyek penelitian, anak berusia 15-24 tahun. Penelitian dilakukan di beberapa kota Amerika Latin, pada 1985. Hasil penelitian, usia rata-rata ketaika mereka berhubungan seksual pertama kali, 15 tahun untuk laki-laki, dan 17 tahun untuk perempuan.
Menurut Demographic and Health Survey (DHS) di beberapa negara Afrika, seperti, Botswana, Gana, Kenya, Liberia dan Togo. Lebih separuh perempuan berusia 15-19 tahun, sudah berpengalaman hubungan seksual dilaporkan belum menikah.
Begitu juga dengan Penelitian Laboratorium Antropologi, Universitas Indonesia, pada pertengahan 1990-an. Selain menonton film seks di bioskop, sebagian remaja pedesaan di Sumatera Utara dan Kalimantan Selatan, juga kerap menonton blue film lewat video. Mereka, termasuk remaja perempuan, juga sudah terbiasa dengan majalah dan buku gambar, atau tulisan. Yang secara vulgar mengungkapkan dan memaparkan hubungan seksual.
Menurut badan kesehatan dunia (WHO), ada dua keuntungan dapat diperoleh dari pendidikan mengenai kesehatan reproduksi. Yaitu, mengurangi jumlah remaja yang melakukan hubungan seks sebelum menikah. Bagi remaja yang sudah melakukan hubungan seksual, mereka melindungi diri dari penularan penyakit menular seksual dan HIV/AIDS.
Pentingnya pendidikan kesehatan reproduksi, bukan hanya tanggungjawab suatu lembaga semata. ”Perlu peran serta dan kesadaran dari kita semua,” ujar Mulyadi.□
Diposkan oleh
bloomasak
di
08:12
0
komentar
Konseling bagi korban trafiking
Arthurio Oktavianus
Borneo Tribune, Pontianak
Kerah bajunya pernah ditarik. Kemudian diangkat, dan didudukkan ke meja. Di hadapan banyak warga dan keluarga korban trafiking yang diantarnya ke kampung halaman. Dia dikira agen penjual tenaga kerja.
Perempuan itu bernama Lusila Arnila. Ia baru saja memandikan buah hatinya. Melihat kedatanganku, ia langsung mempersilakan. “Silahkan duduk,” ujarnya, seraya menimang bayi laki-laki berusia enam bulan. Anak ini, hasil pernikahannya dengan Alibata.
Ruang tamu di rumahnya sederhana. Ukuran ruang tamu seluas 3x3 meter. Ada empat sofa warna coklat mengisi ruangan. Bantal warna putih bermotif hati, menjadi pendamping sofa. Barang itu menjadi pemanis ruangan. Penataan perabot memberi aksentuasi tersendiri bagi sang penghuni.
Dua gelas teh manis disuguhkan. Hidangan itu menemani obrolan pada Minggu (03/06), menjelang pukul 18.20. Ia berkata pada sang anak, “Sama nenek dulu.” Sambil beranjak ke dalam, menuju ibunya.
Petang itu, ia mengenakan baju kaos warna merah muda. Rambutnya sebahu. Tutur katanya lembut. Dengan semangat, ia bercerita mengenai para korban trafiking yang dibinanya.
Nila, sapaannya, lahir di Batu Benteng, Ketapang, 12 Oktober 1978. Ia menamatkan pendidikannya di Ketapang hingga sekolah menengah atas. Nila sekolah di SDN 18 Selupuk, Desa Batumas. SMP Usaba 3, Desa Tumbang Titi. SMA Santo Yohanes, Kota Ketapang.
Selepas itu, ia melanjutkan pendidikan di Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Ia masuk kuliah pada 1997, dan menamatkan pendidikannya pada 2002. Setelah menyelesaikan kuliahnya, ia langsung menekuni bidang pemberdayaan masyarakat di Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan (PEK) Pancur Kasih.
Ia memberikan berbagai pelatihan dan motivasi pada pengurus dan anggota Credit Union Pancur Kasih. PEK juga punya program pemberdayaan perempuan. Di sana, ada berbagai kegiatan, untuk memotivasi kaum perempuan. Apalagi dengan makin merebaknya isu gender di masyarakat.
“Perempuan sebetulnya mempunyai potensi, akan tetapi mereka belum menyadarinya,” ujar Nila, pelan.
Sebagian besar wilayah di Kalimantan Barat, pernah ia jelajahi. Masuk kampung, keluar kampung, bukan hal baru. Ia biasa mengerjakannya. “Saya selalu memberikan pelatihan ke kampung-kampung,” ujar Nila.
Perjalanan dari kampung ke kampung, bukan tanpa halangan. Buruknya jalan dan minimnya sarana, membuat biaya transportasi menjadi mahal. Walaupun begitu, ia tak berkeluh kesah. Ia menjalani semua kegiatan itu dengan semangat. “Kita pegang prinsip, juga memperjuangkan visi dan misi.” katanya.
Ia punya keyakinan. Bimbingan itu memberi arahan dan membantu menemukan potensi setiap individu. Meski begitu, ia tetap merendah hati. “Saya bukan guru yang mengajarkan. Hanya belajar bersama-sama,” kata Nila.
Perjalanannya memberikan konseling pada korban trafiking, berawal pada Juni 2005. Ketika itu, ia merupakan pekerja sosial dan bekerja sendiri. Setelah enam bulan bekerja, ia mulai berkenalan dengan para korban trafiking.
Butuh waktu, hingga akhirnya, Nila mendapat bantuan dari teman yang peduli korban trafiking ini. Ia mencurahkan sebagian besar waktunya menangani trafiking. Pekerjaan itu dilakukan, sebagai bentuk kepedulian dan keprihatinan terhadap korban traficking. Hampir 90 persen korban trafiking adalah perempuan. ”Kita tidak akan sanggup bekerja, bila tidak dengan hati nurani,” ujarnya.
Sering, Nila tidur di Shelter. Ia menginap di sana, hingga dua atau tiga hari. Sekarang ini, korban trafiking yang menjalani konseling dengannya, sekitar 400 orang. Ia melakukan bimbingan dengan cara memberi keterampilan. Bahkan, ada juga yang disekolahkan, bila korban masih belia.
Ia merasa gembira dengan keseriusan pemerintah. Menurutnya, hal itu tampak dari pengesahan undang-undang mengenai trafiking dan ganjaran bagi pelakunya. Hal itu sudah cukup bagus, kata Nila.
Permasalahan trafiking tidak pernah tuntas, jika masyarakat menganggap remeh undang-undang tersebut. Karenanya, perlu sosialisasi hingga ke jajaran pemerintahan, dan masyarakat paling bawah sekali pun.
Ada satu penyebab yang seharusnya disorot dalam penanganan masalah trafiking. Agen yang mengirim dan mengiring para korbannya, juga harus ditangani. Merekalah yang menjadi faktor maraknya kasus trafiking.
Data mengenai korban pun, hanya data yang tercatat. Mungkin, ribuan korban yang tidak terdata, karena banyak dari mereka memasuki Malaysia lewat jalan tikus. Bahkan, ada korban yang menjadi korban, tidak bisa baca dan menulis. Tanpa pengalaman apapun, atau ketrampilan, mereka nekat ke luar negeri.
Nila berpendapat, seharusnya masalah pemberdayaan perempuan, tidak hanya diberikan pada perempuan. Tapi, juga lelaki. “Laki-laki juga perlu diberikan pelatihan dan pemahaman, apa itu gender,” ujar Nila.
Dengan memberi konseling bagi korban trafiking, ia berharap dapat membantu mengurangi beban korban secara mental. Selain itu pula, “Korban juga diberikan keterampilan sesuai dengan bakat yang dimiliki,” kata Nila.□
Diposkan oleh
bloomasak
di
08:11
0
komentar
Pensi ala SMA 1 Sungai Raya
Arthurio Oktavianus
Borneo Tribune, Pontianak
Kamis (31/05), raungan gitar, menggema di setiap penjuru Auditorium Universitas Tanjungpura Pontianak. Gemanya menyambut kedatangan para tamu dan undangan menuju jejeran kursi yang telah dipersiapkan. Pukul 19.40 WIB, lagu welcome to my paradise, dengan versi steven and coconut trees, berkumandang. Mengiringi langkah beberapa siswa di panggung. Mereka berjejer, menggunakan kostum yang semarak. Kebanyakan kostum tradisional.
Selesai opening, master of ceremony (MC) menyampaikan acara selanjutnya yang akan tampil yakni teater musikal atau Pensi (pentas seni) yang merupakan suguhan dari siswa-siswi kelas II SMA 1 Sungai Raya.
Teater musikal ini, merupakan parodi dengan cerita legenda seperti Jaka Tarub dan Malin Kundang, yang diselingi dengan tarian daerah, antara lain Sumatera Utara dan Kalimantan Barat.
Jeda untuk menyiapkan properti yang digunakan teater musikal, diisi dengan hiburan musik. Mereka membawakan lagu-lagu yang sudah dikenal oleh banyak orang. Seperti lagu dangdut dari Rhoma Irama yang berjudul Judi, yang dibawakan oleh seorang siswa dengan gitarnya, dan mendapat tepuk tangan paling meriah dari teman-temannya.
Menurut Eri Sumantri, siswa kelas II IPS yang juga menjadi Ketua Panitia, pentas seni ini mendapatkan penilaian dari guru. “Untuk nilai mata pelajaran pendidikan seni,” ujar Eri yang bertubuh sedikit tambun ini.
Acara yang sudah dimulai sejak pukul 07.30 ini, menampilkan dance yang dipersembahkan oleh siswa kelas I, teater musikal oleh siswa kelas II, sedangkan siswa kelas III merupakan undangan. Bintang tamu yang turut serta mendukung acara antara lain Himne Band, Malaikha Band, Orkes Senang Hati, dan 4 gitaris Hero.
Eri mengatakan, harga tiket masuk senilai 7 ribu rupiah dan makanan dari sponsor, dikenakan kepada pengunjung yang ingin menyaksikan acara ini. Harga tiket masuk ini tidak berlaku untuk orang tua yang datang. “Kami menyediakan 100 tiket, karena hanya acara internal saja. Orang tua atau wali, harus menunjukkan undangan,” ujar Eri menjelaskan.
Seluruh kelas, lanjut Eri, turut serta mendukung acara ini. Acara yang telah dipersiapkan selama sebulan ini, mendapatkan dana dari iuran setiap murid senilai Rp 30 ribu. Beberapa kendala juga dialami sebelum acara berlangsung. “kerja repot, proposal juga simpang siur. Selain itu, kerjasama tim dan panitia kurang koordinasi,” lanjut Eri lagi.
Selain mengisi acara, para siswa juga diharuskan untuk mengisi daftar hadir. Hal ini tak bisa ditolerir lagi, karena acara ini dinikmati oleh para siswa dan orang tua atau wali. Siswa harus mengisi daftar hadir pada sekretaris kelas, dan absen tersebut diberikan ke sekretaris panitia.
Harapan kami sebagai panitia, kata Eri, agar kreativitas yang kami tampilkan dapat terlaksana dengan sukses dan baik.
Sartini (43), orangtua dari Novriyani, siswi kelas II IPS 1. Dia mengatakan bahwa kegiatan ini membantu kreatifitas siswa. “Selama ini, mereka hanya bisa melihat di televisi saja. Akhirnya, mereka juga bisa menunjukkan kreatifitas mereka kepada teman sebaya maupun orang tua,” ujar Sartini, sambil tersenyum.
Novriyani, lanjutnya, ikut pertunjukan teater musikal. “Di rumah, Novriyani latihan terus selama 1 minggu. Kalau ada yang salah, saya ralat,” ujar Sartini, seraya mencontohkan seperti dialog yang diucapkan Novriyani, senyum itu indah. “Lho, kok senyum indah. Senyum itukan manis,” ucapnya.
Acara ini, menurut Sartini, juga masih ada kekurangan. “Tidak semua orang tua setuju dengan pelaksanaan acara ini. Kenapa pelaksanaannya harus digedung dan bukan di sekolahan?” katanya datar. Selain itu, lanjutnya, acara ini juga terlambat dari waktu yang telah ditetapkan. “Tapi, saya selalu mendukung kegiatan anak-anak,” katanya lagi.□
Diposkan oleh
bloomasak
di
08:10
0
komentar
Sisi lain lady biker
Borneo Tribune, Pontianak
Rambutnya panjang kemerahan. Sebuah slayer hijau bermotif terikat di kepala, hingga menutupi sebagian rambutnya. Ia mengenakan T-Shirt hitam, jeans ketat dan sepatu lars. Semua yang ia pakai, seolah mematahkan sifat feminim yang terlihat.
Ketika kami datang, ia sedang duduk di kursi lipat. Pas di bawah tenda. Kaki kanan menumpang pada kaki kirinya. Tangan kirinya memegang segelas air kemasan, yang dihabiskannya separuh. Tangan itu bersandar pada sandaran kursinya.
“I, Aida,” ujarnya ramah sambil tersenyum. “Completly, Aidarina Jakaria.”
Logat Malay-nya kental. Ada sisipan kata, I dan You, di setiap perkataannya.” Sebelumnya, Aida terlihat menunggangi kuda besi, mengikuti permainan Borneo Island International Big Bike Festival (BIIBBF) ke-8, yang diselenggarakan oleh IMBI (Ikatan Motor Besar Indonesia), Pontianak, Minggu lalu, di pelantaran Plaza MTQ-Untan.
Ini merupakan pengalaman pertama kali mengikuti acara jelajah dengan motor besar.
Awal minatnya pada motor besar, berawal dari kesenangannya melihat tunggangan besi itu. “Bagos sangat lah,” ujarnya. Saat remaja, Aida mulai mengendarai motor biasa. “Saye mule-mule dapatkan tentangan dari parent-lah,” ujar Aida.
Aida tak sendiri dalam kegiatan BIIBBF. Ada perempuan lain, sesama penggemar motor besar ini. “Ade yang borrow motorcycle dari son-nye lah,” ujar Aida, sambil menunjuk seorang teman, yang sedang berkumpul dengan keluarganya.
Aida kelahiran 22 Juni 1974 di Sabah, Malaysia. Neneknya dari pihak ibu, berasal dari Jawa Barat. “Tapi I tak tau Jawa mane-lah,” kata Aida, sambil mengelengkan kepala.
Ia mengucapkan setiap kalimatnya dengan irama cepat. Bahasa Melayu dan Inggris, campur aduk. Namun, bahasa yang ia ucapkan mudah dipahami.
Setahun di Sabah, ia pindah ke Kuching. Kepindahannya karena tugas yang harus diemban. Ia menjabat inspektor perusahaan Employees Provident Fund (Kumpulan Wang Simpanan Pekerja).
Ini sejenis lembaga yang mengurusi asuransi untuk buruh/pekerja. Perusahaan ini menangani kepentingan para buruh asal Malaysia. Ada aturan di Malaysia, setiap buruh diwajibkan oleh pemerintah, untuk menyisihkan sebagian gajinya. Nah, gaji itu di simpan ke Employees Provident Fund.
Simpanan ini baru bisa diambil seluruhnya, bila buruh telah berusia 50 tahun. “Bile maseh under fifty year old, die hanye terima 11 percent sahaje,” kata Aida.
Aida selalu mengendarai motor besarnya ke kantor. Motornya berwarna putih. “I ride motorcycle to office. Dari home, i pake seluar. Sudah sampe office, i baru ganti,” ujarnya sambil tertawa.
Aida merupakan anggota dari club Victoria Arms Big Bikers (VABB). Klub ini beranggotakan 74 orang. Dari jumlah itu, sebanyak 52 orang, mengikuti mengikuti festival ini.
Ketika mengikuti kegiatan yang berkaitan dengan kegemarannya, Aida harus membuat alasan dan minta izin dari pimpinannya. “I pakai reason, ada hal lawatan sosial di Pontianak, ni” katanya sambil tertawa.
Aida mengaku pernah berkeliling Malaysia dalam program Jelajah Merdeka pada 2004. Tak tangung-tanggung, ia sanggup mengendarai motor besarnya, mengelilingi negaranya selama 21 hari.
Ketika ditanya soal umurnya, ia malah balik bertanya. “Cobe kire, berapelah, I, punya umur?” kata Aida.
Lama, ia memberikan jawaban tentang umurnya. Ia malah mengajak bicara panjang lebar tentang hal lain. Sampai akhirnya, ketika ditanya statusnya, ia mengaku masih sendiri.
“I masih single-lah”katanya.
Di umurnya yang ke 33, Aida masih menikmati kesendiriannya. Aida berniat pulang ke kampungnya di Sabah, selepas dari Pontianak. Ya, terbanglah bersama kuda besimu. Bersama angin, menjelajah negeri. Born to ride.
Diposkan oleh
bloomasak
di
08:10
0
komentar
Berjuang Demi Kesetaraan
Arthurio Oktavianus
Borneo Tribune, Pontianak
Seorang perempuan sedang duduk. Sebuah koran berada di tangannya. Pakaiannya terlihat feminim. Dia duduk di ruang tunggu Fraksi Partai Damai Sejahtera, DPRD Kalbar. Senyumnya mengembang, ketika melihat kehadiran saya. Tak banyak riasan pada wajahnya. Bibirnya terlihat memerah. Saputan itu tipis.
“Mari masuk ke ruang kerja,” ujarnya ramah.
Cara bicaranya lembut dan keibuan. Ia mempersilakan saya masuk. “Di sini saya bekerja,” katanya.
Ruangan itu terasa dingin. Udara keluar dari air conditioner yang terletak, tepat di atas pintu. Hawa dingin menembus sweaterku. Di balik meja kerjanya, dia duduk. Pada kursi putar berwarna coklat. Di meja kerjanya, tergeletak sebundel buku tebal. Buku sampul buku tertulis, “Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Gubernur Kalimantan Barat, Akhir Tahun 2006”. Tas tangannya, bersandar pada buku itu pula.
Ia bernama Katharina Lies, kelahiran Sanggau, 22 Maret 1962. Beberapa hari setelah lahir, orang tua membawanya ke Jemongko, Kuala Dua, Kembayan. Ayahnya bernama Stephanus Alin. Ibu bernama Maria Son. Keduanya berprofesi sebagai guru.
Katarina menghabiskan masa kecil hingga tamat SMP di Kembayan. Ia merasakan hidup di pedesaan. Pergi ke sawah merupakan tugasnya sepulang sekolah. Begitu sampai di rumah, sang ayah selalu menyiapkan tangkin dan cangkul. Tangkin adalah tempat menyimpan barang dari anyaman bambu atau rotan. Setelah makan, dia pun ke sawah.
Selepas SMP, ia mengikuti persiapan menjadi siswa perawat, selama 1,5 tahun. Pendidikan menengah atas, ia jalani di SMA Santo Paulus, Pontianak.
Selama sekolah, ia masuk asrama Petrina. Sebagai penghuni pertama waktu itu, ia harus membersihkan asrama. “Mengepel dan menyapu, merupakan kegiatan sehari-hari,” katanya, sambil menerawang pada masa lalu.
Tamat dari SMA, ia melanjutkan pendidikan di Universitas Tanjungpura, Fakultas Keguruan Ilmu Pengetahuan (FKIP). Ia menggantongi ijasah Diploma II. Dengan bekal ijasah itulah, ia menjadi pengajar.
Ada beberapa sekolah, pernah menjadi persinggahannya. Ia pernah mangajar di SMPN Sosok, SMP Ki Hajar Dewantara Pontianak, SMP 18 (sekarang SMP 16), dan SMP Sanjaya di Banjarbaru (Banjarmasin).
Masa remaja Lies penuh dengan aktivitas. Dia pernah menjadi Ketua Yayasan Demia Mitra. Yayasan ini bergerak dalam hal kepedulian terhadap perempuan dan sosial. Selain itu, Perhimpunan Mahasiswa Khatolik Republik Indonesia (PMKRI), Pemuda Khatolik, Wanita Khatolik, Pembina Pramuka, Perhimpunan Perempuan Dayak Provinsi Kalimantan Barat, juga pernah dijalaninya.
Pengalamannya berorganisasi inilah yang membuatnya berani menuju kursi DPRD. “Saya ingin masuk di dalam sistem. Karena di luar sistem, masih banyak hambatan untuk terlibat secara langsung,” kata Katarina.
Pada pemilihan anggota legislatif, ia mencalonkan diri dari Partai Damai Sejahtera (PDS). Ia mendapatkan perolehan suara. Kursi anggota DPRD Provinsi Kalbar periode 2004-2009, pun, ia raih. Ia memilih di komisi D DPRD. Komisi ini menyoroti pendidikan, kesehatan, sosial, tenaga kerja, dan budaya. “Saya masuk ke bidang kesejahteraan masyarakatan,” katanya memberitahu.
Katarina menikah dengan Tadeus Yus. Ia merasa beruntung dengan pernikahannya. “Suami merupakan orang yang benar-benar membuat saya percaya diri dan kuat dalam menjalani aktivitas,” kata Katarina.
Ada ketulusan pada kalimat yang ia ucapkan.
Apa hal utama yang ia jalani dalam menjalani hidup? “Berdoa merupakan hal utama dalam kehidupan saya,” kata Katarina.
Dari perkawinannya, tiga orang anak hadir. Dua anaknya belajar di Yogyakarta, dan seorang lagi masih menunggu hasil ujian.
Perbincangan kami terhenti. Sebuah panggilan masuk ke telepon genggamnya.
“Maaf,” katanya dengan ramah, sambil mengangkat telepon genggamnya. Sekitar sepuluh menit ia bicara di telepon.
Ada kegelisahan ia rasakan dengan keberadaan perempuan di DPRD. Dari 55 anggota DPRD, hanya ada 3 perempuan. Padahal, kuota perempuan di DPRD sebanyak 30 persen. Sangat jauh dari kuota yang ditentukan.
Saat ini, Katarina menjadi wakil ketua Fraksi Pemberdayaan Daerah. Ada satu cita-cita yang ia ingin wujudkan, selagi menjadi anggota DPRD. Ia punya cita-cita memperjuangkan hak-hak perempuan.
“Perempuan juga dapat berkarya dan sejajar dengan pria. Asalkan ada kesempatan bagi mereka,” ujar Katarina.□
Diposkan oleh
bloomasak
di
08:09
0
komentar
Perempuan-Perempuan Mandiri
Arthurio Oktavianus
Borneo Tribune, Pontianak
Tiba saatnya PEKKA menggugat
Keadilan bermartabat
Setara dengan warga lainnya
Di dalam kehidupan berbangsa…
Itulah lirik yang bersemangat dan menggugah dari mars Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA). Lirik menggugat di atas, diciptakan Koordinator Nasional Pekka. Lirik itu mencerminkan keinginan kesetaraan dalam kehidupan, yang mereka jalani.
Perempuan bukan hanya pembersih rumah dan mengurus keluarga. Tapi juga dapat menjadi tulang punggung keluarga.
PEKKA merupakan wadah bagi para perempuan kepala keluarga. Perempuan ini adalah janda cerai, memiliki suami yang bekerja dan tanpa kabar, memiliki suami tetapi cacat tetap, tanpa orang tua dan menghidupi adik-adiknya.
Menurut buku laporan tahunan kantor Kecamatan Sungai Raya, terdapat 200.436 jiwa. Dari jumlah itu, sebanyak 98.766 adalah perempuan. Dan yang menjadi kepala keluarga sebanyak 12.632 jiwa.
Kegiatan mereka di PEKKA, kadang menjadi cibiran tetangga. Mereka selalu berpindah-pindah, ketika melakukan pertemuan. Hal itu menjadi bahan perbincangan para tetangga. Apalagi bagi anggota kelompok yang tidak bersuami.
Anggota PEKKA di Kecamatan Sungai Raya berjumlah 371 orang. Tingkat kehidupan mereka rendah. Anggota PEKKA biasanya menghidupi 1–5 orang dalam keluarganya.
Salah satunya, Buntat (42). Warga Desa Rimbung ini menghidupi enam orang anak. Ia bekerja sebagai tukang cuci. Dari pekerjaan itu, ia memperoleh uang Rp 80 ribu, sebulan.
Selain menjadi buruh cuci, Buntat menghidupi ekonomi keluarga dengan bertani. Ia menyewa tanah. Cara membayarnya dengan bagi hasil, ketika sawah dipanen.
Untuk kebutuhan sayur setiap hari, ia mencarinya di hutan. “Sayok saye cari, dan makan haros irit,” katanya dengan logat Melayu, kental. Karena minimnya sayur, terkadang ada anak tak kebagian sayur, saat makan.
Anggota PEKKA lainnya, Maliah (28), warga relokasi Zakiah, Tebang Kacang. Ia menghidupi dua anaknya dari hasil kebun jagung. Suaminya bekerja di Malaysia, dan jarang memberi kabar, atau mengirimkan duit bulanan.
Hasil sawah digunakan untuk memasak sehari-hari. “Beras tadak beli,” kata Maliah memberitahu. Jagung hasil kebun pun, tidak jadi jaminan menambah duit belanja.
“Tergantong dari cuace, kalo musim hujan, tadak ade hasel.”
Setiap hari, Maliah bangun pukul tiga subuh. Ia langsung masak dan membersihkan rumah. Setelah itu, ia berangkat ke sawah pukul 05.00. Jarak dari rumah ke sawah sekitar 2 kilometer. Menanam jahe juga pernah dilakukannya. Namun, ia menghentikannya, karena tidak laku dijual.
Bila hasil sawah dan kebun dirasa kurang untuk menghidupi diri dan kedua anaknya, ia beternak ayam kampung. Lumayan sebagai tambahan penghasilan. Harga daging ayam kampung, 15 ribu perkilo. Sekarang ini, sebagian besar ayamnya telah terjual. “Yang ade sekarang, yang keci’ ja, yang besa’ udah abes dijual,” kata Maliah.
Lain lagi dengan Agus (31), warga Kelurahan Kapuas. Ia orang tua tunggal dari dua orang puteri. Ia bekerja sebagai petugas kebersihan di kantor Dinas Kesehatan Provinsi. Selain dua orang anak, Agus juga menampung ibu dan adiknya.
Pendapatan Agus setiap bulannya Rp 500 ribu. Padahal, ia harus menggunakan oplet setiap hari ke tempat kerja. Pendapatan tak mencukupi. Ia mencari usaha sampingan dengan menjual jahe instant. Yang dikemasnya dalam bungkus plastik. Harga setiap kemasan seribu rupiah.
“Saye membayar adek untok membantu mengerjakan jahe instant. Setiap selesai membantu, terkadang saye beri lima ribu,” ujar Agus.
Itulah kehidupan para perempuan kepala keluarga. Keadaan membentuk mereka sebagai perempuan tangguh dan mandiri. Tegar dalam mengarungi hidup.□
Diposkan oleh
bloomasak
di
08:07
0
komentar
Hidup untuk Menari
Arthurio Oktavianus
Borneo tribune, Pontianak
Malam mulai merayap. Sinar surya tak lagi nampak. Temaram mulai membungkus areal rumah Betang, pada Sabtu (25/05). Lampu pun dinyalakan. Cahaya menyelinap dan menerangi sekujur wilayah itu. Warna cat pada dinding dan pijar lampu, seakan saling berlomba, ingin menampilkan diri.
Dalam balutan lampu dan cahaya yang memijar, sesosok bayangan hadir. Ia duduk di depan komputer. Tangannya dengan lincah menari di atas tuts komputer. Menuliskan daftar pemenang lomba, yang diselenggarakan hari itu. Sesekali, senyumnya mengembang. Membalas setiap sapa yang memanggil namanya. Malam itu, ia sedang duduk di ruang sekretariat, Pekan Gawai dan Gelar Budaya Dayak.
Namanya, Marselina Ria Breman. Ia kelahiran 16 Januari 1971 di Pontianak. Rambutnya pendek. Gaya rambut itu, mengingatkan pada si Demi Moore, bintang film Hollywood kala membintangi film Ghost.
Ia menghentikan sejenak kerjanya, ketika aku menghampiri. Ia tak merasa terganggu ketika aku mengajaknya berbincang.
Ria, demikian ia biasa dipanggil. Menari adalah kepiawaiannya, dan dilakoni sejak remaja. Bukan tanpa alasan, kenapa ia suka menari.
Tari sudah mendarah daging. Ibarat kata pepatah, buah tak akan jauh jatuh dari pohonnya. Demikian juga dirinya. Darah seni mengalir dengan kental dari ayahnya.
Yang juga penari. Sang ayah pernah dikirim ke Singapura, mengisi acara di kedutaan Indonesia.
Ria penuh dengan prestasi. Langkahnya ke dunia tari, dimulai pada 1988, ketika ia bergabung dengan Sanggar Sari Budaya. Di tahun yang sama, Ria dan bersama kelompoknya, melakukan syuting untuk Indonesia Imax III, film dokumenter dari Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Syuting berlokasi di Bukit Kelam, Sintang.
“Sampai sekarang, bila ke Keong Mas TMII, hasil syuting tersebut masih bisa dilihat, karena selalu diputar,” ujarnya penuh bangga.
Pada 1999, Ria memutuskan bergabung ke Sanggar Bengkawan. Bersama sanggar baru ini, setiap minggunya, mereka menari di pendopo Gubernur. “Masa pemerintahan pak Pardjoko dan Aspar Aswin,” kata Ria.
Bukan hanya di pendopo saja, Ria juga tiga kali menjadi duta Kalimantan Barat di TMII, pada lomba tari Festival Bumi Khatulistiwa, dan lomba tari di Festival Borneo di Banjarmasin. Sewaktu di Banjarmasin, Kalimantan Barat juara I. Dan dia menjadi koreografer terbaik. Ketika itu, mereka menarikan tari Boruma. Ini tari tentang kebersamaan yang dijalani masyarakat dalam membangun rumah.
Ria juga pernah menari di Kuala Lumpur, Malaysia. Ia menjadi duta Kalbar, pada expo kerajinan di sana. Ia sering membawakan tarian Dayak. Kenapa, ia selalu membawakan tarian Dayak?
“Saya bangga terlahir sebagai orang Dayak!” ujar lulusan Fakultas Pertanian, Jurusan Kehutanan, Universitas Tanjungpura, ini. Menurutnya, tak banyak orang mau mengakui, mereka adalah Dayak. Pengakuan diri itu perlu, sebagai bentuk identitas diri seseorang.
Ria aktif berorganisasi. Dia pernah menjabat sebagai Wakil Bendahara Musyawarah Adat II dan III. Seksi Acara Musyawarah Adat Nasional. Bendahara Musyawarah Adat Dayak Nasional Perwakilan Kalbar. Koordinator Peranan Wanita Pemuda Katholik dan Komite Perhimpunan Kristen. Koordinator Seni dan Budaya Forum Solidaritas Masyarakat Dayak. Wakil Ketua Lembaga Cegah Kejahatan Indonesia Kota Pontianak. Bendahara Dewan Adat Dayak Kota Pontianak. Koordinator Seni dan Budaya di Sekretariat Bersama Kesenian Dayak Kalbar.
Pernikahannya dengan Herkulanus Breman, lahirlah lahirlah dua orang anak. Herkulanus pegawai di perusahaan perkebunan.
Dalam menjalini kehidupan, Ria punya semboyan: disiplin dan kemauan. “Bila bekerja, harus betul-betul bekerja,” kata Ria. Begitu juga yang lainnya. Bila orang disiplin dalam menjalani hidupnya, mereka tidak akan ketinggalan. Yang paling utama adalah diri kita sendiri. Bisa membagi waktu atau tidak.
Ria punya peran besar dalam pemilihan Bujang dan Dara Gawai Dayak 2007. Ia, orang di belakang panggung, kesuksesan acara itu. Ria punya latar belakang model. Sewaktu SMA, ia sering meramaikan pagelaran busana muslim, busana kartini, serta jeans dan kacamata.
Keikutsertaannya sebagai panitia Gawai tahun ini, terhitung bukan hal baru. Ria pernah menjadi pengisi acara gawai dari 1986 hingga 1989. “Saya menjadi panitia gawai sejak tahun 1990,” kata Ria.
Lalu, bagaimana dinamisasi pelaksanaan gawai dari tahun ke tahun? Banyak kikisan budaya terjadi. Dulu, bila diceritakan oleh orang tua mengenai budaya, ia langsung mencatatnya. “Sekarang ini, orang tua kurang mengenalkan mengenai kebudayaannya sendiri,” kata Ria.□
Diposkan oleh
bloomasak
di
08:06
0
komentar
Siswa SMA Gembala Baik Unjuk Kretifitas
Herkulanus Agus dan Arthurio OktavianusBorneo Tribune, Pontianak
Biasanya potongan-potongan kaca cuma menjadi sampah lalu dibuang. Namun di tangan siswa SMA Gembala Baik Pontianak, Hendro Tedy, barang sisa tersebut bisa dibuat menjadi lampu tidur yang indah.“Di rumah kebetulan ayah saya menpunyai toko kaca, sehingga banyak sisa-sisa kaca yang telah dipotong,” kata siswa kelas 11 jurusan IPS.Mula-mula Hendro, juga beranggapan kalau sisa-sisa kaca itu sia-sia. Akibatnya potongan kaca dibuang begitu saja ke tempat sampah. Namum belakangan ia mengumpulkan kepingan beling itu dan membuatnya menjadi sebentuk kotak, segi lima tempat menaruh lampu tidur yang indah. Sekarang ia mampu membuat berbagai bentuk sesuai yang ia fikirkan. Ia mengerjakannya dengan detil dan teliti.Keberhasilanya merangkai sisa-sisa potongan kaca itu kemudian disampaikan kepada guru Bimbingan Karir (BK) SMA Gembala Baik, Mari Lily. Rupanya fayung pun bersambut. Berbekal dukungan gurunya, Hendro selanjutnya merangkai sisa kaca, menjadi lampu tidur yang menarik. Ada yang berbentuk segi empat mirip bintang, segi lima dan model rumah-rumahan. Hasil kerajinannya kemudian dipamerkan dalam Hari Ulang Tahun (Hut) SMA Gembala Baik ke dua puluh satu 24 Mei kemarin. “Hasil karya ini saya kerjakan sebelum kelas tiga ujian,” terang Hendro. Setiap hasil karya Hendro, dibandrol dengan harga yang berfariasi. Mulai dari Rp 35 ribu hingga Rp 45 ribu. Dia berharap agar kelak dapat ikut ambil bagian dalam pameran yang yang dilaksanakan diluar sekolah, terutama tingkat Kalimantan Barat. Tak Cuma memamerkan karya Hendro, panitia juga menggelar sejumlah kegiatan. Ada yang diperuntukkan khusus intern dan umum ada juga yang internal sekolah. Yang intern sekolah berupa classmeeting, pemilihan Prince&Princess diamond of Gembala Baik, membuat makanan breakfast dan menghias layang-layang. Sedangkan untuk umum, dapat menikmati suguhan musik (band), dance, dan break dance. Ketua panitia, Vicky Yosep kelas II-IPS 3, mengungkapkan bahwa kegiatan Band umumnnya diikuti oleh SMA Gembala Baik dan sejumlah SMA lain di Pontianak. Setidaknya telah terdaftar 20 gerup band di panitia. Gembala Baik sendiri menampilkan, grup Band Madmunk, DOR band, Chubbiest, The Crisis Band, Break dance seract Crew, Pria Idama Wanita Band, Xin Amore band, Sky Band, NRP Band, Overdriven band, C or A X Genesis, TOT, Overdrive, Sandly Dance. Dari SMA Santo Petrus Pontianak, Larva band, Untitled dance. Dari Bina Mulya, Mangoes Tac dan dari SMA Paulus tampil Sama Band. MC lomba Yulianawaty dan Stefen mengatakan, semua grup band yang akan ambil bagian sudah menyatakan diri pasti ikutan. “Mereka sedang mepersiapkan diri,” terang Stefani bersemangat. Menurut Grup Band Larva dar SMA Santo Petrus yang beraanggotakan Jesika vokal, Erdwin, Andreas dan Winda, penampilan mereka di Gembala Baik adalah penempilan yang ketiga.“Kita merasa senang dapat berpartisipasi pada HUT Gembala baik kali ini,” terang Edwin. Kretifitas siswa juga ditunjukan dengan Labirin (ruang bersekat) hasil kerja panitia dari kelas 10 dan kelas 11. Menurut koordinator Labirin, Marta Tian, kegiatan itu diprakarsai setidaknya 17 orang siswa dengan maksud mengasah kemampuan siswa yang masuk ke dalamnya. Sebab ketika masuk keruangan banyak tantangan yang harus dihadapi peserta. Ada ruang rahasia, ada kotak yang tetutup rapat sama sekali. Bahan yang digunakan juga sangat sederhana yakni dari karung semen. Setiap peserta yang masuk dikenai tarif. Sebab peserta yang bisa menyelesaikan waktu tercepat juga akan diberi hadiah.?
Diposkan oleh
bloomasak
di
08:05
0
komentar
Perempuan Bertangan Dingin itu Bernama, Zumiyati
Borneo Tribune, Pontianak
“Saya takut untuk diwawancarai.”
“Mengapa?”
“Pokoknya takut.”
Itulah, kalimat pertama yang keluar, ketika saya hendak mewawancarainya. Meski demikian, ia mempersilakan saya masuk ke ruang kantornya. Ruang itu sekira 6x18 meter. Ia mengambil posisi duduk di sisi jendela. Tepat menghadap papan tulis bergambar denah Kecamatan Pontianak Selatan.
Sesekali, karyawan kecamatan menyodorkan berkas yang harus ditandatangani. Setelah dibaca sebentar, tangannya menari di atas kertas. Meninggalkan goresan tinta hitam, bertulis namanya, Zuliyati. Perempuan itu, camat di Pontinak Selatan. Sudah dua periode ini, ia mengemban tugas tersebut.
Masa kecil Zumiyati dilalui di Sintang. “Saya hanya anak daerah,” ujarnya merendah. Ia terlahir pada, 17 Oktober 1950. Pendidikan dasar hingga atas dilalui di Sintang. Pada 1979, ia menamatkan sekolah di SMAN 1 Sintang.
Selepas itu, ia melanjutkan pendidikan ke Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) di Pontianak. Ia menjalani masa pendidikan di APDN selama tiga tahun.
Pada 1981, ia lulus dari APDN, dan langsung menempati pos di kantor gubernur. Selama dua tahun di sana, ia beberapa kali pindah biro.
Pada Maret 1983, ia menerima Surat Keputusan (SK) penempatan kerja di kantor camat Pontianak Selatan. Kantor itu, dulunya masih di Jalan Gajahmada. Selama 15 tahun, ia bekerja sebagai staf, Kasipem (Kasi Pemerintahan), dan sekretaris kecamatan.
Perjalanannya sebagai camat, dimulai pada 1998.
Ia diangkat menjadi camat Pontianak Timur. Ketika itu, letaknya di komplek Perumnas III. Ia menjalani masa jabatan itu dengan baik. Karenanya, ia dipercaya lagi, menjabat camat di wilayah Pontianak Selatan. Jabatan itu diembannya sedari Juni 2003, hingga sekarang. Kelurahan yang masuk dalam wilayahnya, Bangka Belitung, Parit Tokaya, Benua Melayu Darat, dan Benua Melayu Laut.
Kantor camat Pontianak Selatan, berada di perkantoran pemerintahan dengan jumlah penduduk sekitar 105.016 jiwa. Banyak pejabat pemerintah tinggal di wilayah ini. Warga yang ia pimpin, ada anggota DPRD, pegawai Polda, Poltabes, dan lainnya.
“Walaupun begitu, mereka harus melalui prosedur yang sama dengan masyarakat lainnya,” kata Zumiyati, tegas.
Lalu, apa yang membedakan antara dua wilayah yang pernah dipimpinnya itu?
Ia merasa, sistem kekeluargaan di Kecamatan Pontianak Timur, lebih kuat. Ia sering melakukan kunjungan lapangan, hingga ke Rukun Tetangga.
Nah, ketika bertugas di Pontianak Selatan, karakter masyarakatnya berbeda. Di Pontianak Selatan, sebagian besar strata sosial masyarakatnya menengah ke atas. Penduduk lebih sibuk. Karena itulah, ia jarang ke lapangan.
Perkawinannya dengan Abdul Halim, dikaruniai tiga orang anak. Ia merasa, dukungan suami dan anak, sangat membantunya. Meski telah menjalani karir di pemerintahan sekian tahun lamanya, ia tetap menjalankan fungsi sebagai ibu rumah tangga.
“Saya tetap sebagai ibu rumah tangga biasa bila di rumah,” kata Zumiyati.
Selama itu pula, tak ada keluhan dari keluarga. Ia selalu membagi waktu, antara urusan kantor dan rumah. Ia menerapkan aturan tegas.
Tidak melayani urusan kantor di rumah.
Hal itu ia lakukan, karena pengertian sang suami dan anak, begitu besar padanya. Sudah sepatutnya, ia menerapkan hal itu di rumah. Kalau tidak, ia tak bakal bisa berbagi waktu dengan keluarga.
Sekarang ini, ia mempimpin 28 orang pegawai. Dari jumlah itu, sebanyak 18 orang adalah perempuan. Ada alasan, kenapa ia mempekerjakan begitu banyak perempuan. Ia melihat, perempuan bisa berperan serta. Mereka bisa melakukan apa pun, tak kalah dari kaum pria.
Buktinya?
“Kepemimpinan aman-aman saja dipegang wanita,” ujar Zumiyati, penuh semangat.
Meski demikian, ia juga menyoroti kinerja pegawai perempuannya. Kelemahan pada pegawai perempuan adalah, kurangnya minat untuk lebih maju. Ia merasa, sudah waktunya peran perempuan dikembangkan.
Berbagai masalah, ia alami dalam tugasnya. Ada kritik. Ada saran. Dan pujian.
Bagi perempuan yang hobi bulu tangkis ini, bila ada satu atau dua masyarakat tidak setuju dengan programnya, ia akan mengabaikan. Kalau yang tidak setuju banyak, ia akan memperhatikan. Bagaimanapun, tidak ada yang sempurna dalam setiap pelayanan. “Begitu pula kami. Kami adalah ‘pelayan’ untuk melayani dan mendata dari hidup sampai meninggalnya masyarakat,” kata Zumiyati.
Baginya, kesempatan yang ia jalani sekarang, merupakan satu hal yang perempuan butuhkan. Tidak semua perempuan bisa menduduki jabatan itu. Ia merasa bersyukur dan terharu, karena diberikan kepercayaan untuk menjabat camat lagi.
“Rasanya diluar kemungkinan, karena saya berasal dari daerah dan bersekolah di daerah,” kata Zumiyati, menutup pembicaraan.□
Diposkan oleh
bloomasak
di
08:04
0
komentar
Pemberdayaan Perempuan Sebuah Kebutuhan
Arthurio Oktavianus
Borneo Tribune, Pontianak
Program pemberdayaan PEKKA (Perempuan Kepala Keluarga) melakukan dialog dengan pihak kecamatan dan DPRD Kabupaten Pontianak. Sebelum dialog, mereka juga melakukan lomba untuk memperingati hari pendidikan nasional, Kamis (24/05), di ruang rapat Kantor Camat Sungai Raya.
Dalam dialog itu, Hasanah, anggota Komisi C mewakili DPRD Kabupaten Pontianak. Menurut Hasanah, kegiatan itu sangat bermanfaat, karena pemerintah mungkin saja tidak punya sumber daya manusia, waktu, dan program melakukannya. Apabila bila tidak ada pemberitahuan atau informasi.
Anggota PEKKA terdiri dari perempuan yang bekerja, dan menjadi tulang punggung keluarga. Tulang punggung keluarga dalam kategori ini adalah, janda karena suami meninggal ataupun cerai, perempuan yang suaminya tidak dapat mencari nafkah karena lumpuh, perempuan yang suaminya merantau, dan perempuan lajang yang menanggung nafkah keluarga.
Menurut Kholilah, pendamping kelompok PEKKA, mereka dididik sehingga mampu tampil dan menuntut hak mereka. Ia mencontohkan dalam masalah pembelian beras miskin. Bila harganya Rp 1000, harusnya Rp 1000. “Jangan lebih dari harga yang telah ditentukan, karena itu memang hak mereka,” kata Kholilah.
Saat ini, anggota PEKKA di Kecamatan Sungai Raya berjumlah 371 orang. Mereka berada pada kelompok umur, 14 hingga 80 tahun. Profesi anggota PEKKA beragam. Mereka bekerja sebagai pengasuh, pedagang, petani, buruh pabrik, buruh tani, dan pencuci baju. Penghasilan mereka berkisar Rp 10.000 – Rp 200.000 / bulan dengan jumlah tanggungan 1-5 orang.
Pada kesempatan itu, Hasanah berjanji akan menyampaikan permasalah itu ke DPRD. “Aspirasi ini akan kami tindaklanjuti, sebagai perwakilan untuk perencanaan bantuan dana dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, sebagai permintaan yang belum terpenuhi, tapi mendesak,” kata Hasanah.
Pada kegiatan itu, juga digelar lomba pidato dan mengarang. Kegiatan itu dihadiri sekitar 50 orang anggota PEKKA. Mereka antusias melakukan lomba. Bahkan, persiapan yang mereka lakukan untuk lomba, patut diacungi jempol. Mereka semanta dalam mencari berbagai bahan lomba, seperti berita di koran, atau buku.
“Sehabis kerja, saya menyempatkan diri membaca koran untuk lomba pidato,” ujar Agus (31), anggota PEKKA dari kelompok Kapuas.
Mereka mempersiapkan diri dengan serius. Padahal, lomba pidato itu hanya dinilai juri dari pendamping kelompok, dan disaksikan anggota kelompok PEKKA lainnya.
Ketika berpidato, sebagian dari mereka, menggunakan catatan pada selembar kertas di tangan kanan, sebagai panduannya.
Buntat (42), anggota kelompok Rimbung, mengatakan pendidikannya hanya kelas 5 SD. “Sudah 3 bulan ini, saye ikot sekolah kejar paket A,” ujarnya.
Bukan hanya Buntat yang bersekolah kejar paket A, tetapi ada beberapa perempuan yang turut menjadi teman belajar.
Menurut Kholilah, dari data yang mereka peroleh pada tahun 2003, terdapat 75% anggota yang tidak bisa membaca. “Sekarang anggota PEKKA yang masih buta huruf tersisa 43%. Itu pun karena mereka sudah tua,” kata Kholilah.□
Diposkan oleh
bloomasak
di
08:03
0
komentar
Ketika Perempuan Dayak Berurbanisasi
Arthurio OA dan Endang Kusmiyati
Borneo Tribune, Pontianak
Perkembangan informasi dan ilmu pengetahuan, mempengaruhi perbedaan antara perempuan Dayak di pedesaan dan perkotaan. Hal ini dinyatakan Alamsyah HB, mantan Dekan Fakultas Pertanian Untan, pada Rabu (23/5), kemarin.
Ia menyatakan, perubahan yang terjadi jelas sekali. Hal ini bisa dilihat pada tingkat pendidikan, kultural, dan sosial.
Corak kehidupan perempuan pedesaan dan urban, sangat berbeda. Hal ini dikarenakan kondisi dan tata cara kehidupan berbeda. Perempuan di pedesaan lebih banyak mengurusi masalah domestik. Seperti, mengurus suami dan anak, mengurus rumah, mencari kayu bakar, masak, maupun mencuci baju di sungai.
Perempuan pedesaan lebih percaya pada aturan yang berlaku secara turun temurun. Seperti, bagaimana mereka harus melaksanakan adat yang berlaku, maupun dalam hal menanam padi, sebagai mata pencaharian. Model dan potret kehidupan seperti itu, banyak dijumpai beberapa tahun lampau. Perkembangan dalam masyarakat mengakibatkan perubahan perilaku kehidupan.
Pada kesempatan terpisah, Chairil Effendi, Rektor Universitas Tanjungpura, masyarakat itu merupakan hasil mobilitas secara vertikal maupun horizontal. “Akibat dari itu semua, ada perubahan sistem nilai,” kata Chairil.
Misalnya, luntur rasa percaya terhadap hal-hal yang dinilai tahayul, dalam sebuah prosesi menanam padi. Jika sebelum terjadi mobilisasi, ada ritual dan syarat tertentu harus dipenuhi. Nah, ketika sudah pindah ke kota, kepercayaan itu mulai luntur. Berganti dengan pemahaman, semuanya berpulang kepada kehendak yang kuasa. Yang lebih nampak lagi, jika awalnya mereka tidak mengenal Bahasa Indonesia, ketika pindah ke kota, mereka mulai fasih berbahasa Indonesia.
Mobilitas horizontal paling banyak memberikan dampak positif. Biasanya mobilitas itu dilakukan karena alasan pendidikan. Dengan pendidikan, mereka yang punya kemampuan bisa keluar negeri. Apa yang dilihat di sana, bukan tidak mungkin bakal diadopsi, ketika mereka kembali ke kampungnya.
Sisi negatifnya, tentu saja terjadi kecenderungan lebih menyukai produk terbaru, daripada lokalan. Kemajuan teknologi juga mempunyai peran yang besar terhadap perubahan nilai. Lahirnya iklan dengan warna-warninya, terkadang menjadi penyebab utama perubahan gaya. Pengaruh iklan ini, umumnya tidak bisa terelakan. Hal yang paling tampak misalnya pada cara berpakaian.
Jumadi, dosen Fisipol Untan, menuturkan, perpindahan tempat, apalagi dalam waktu cukup lama, tentu menyebabkan perubahan. Umumnya, pemahaman terhadap hukum adat berkurang. Hal ini, pada akhinya membuat mereka tidak memahami hukum adat. Tidak mengherankan, jika yang terjadi adalah komersialisasi hukum adat.
Terkait dengan kearifan lokal, biasanya di tempat baru akan terbentuk komunitas primordialisme, misalnya paguyuban. Ketika nilai kearifan lokal mulai luntur, seiring dengan urbanisasi yang dilakukan, lembaga harus mengambil fungsi sebagai penyeimbangnya. Lembaga ini harus menjadi fasilitator upaya melestarikan nilai kearifan lokal.
Menurutnya, ketika perempuan Dayak pindah ke kota, biasanya beberapa ketrampilan yang dimiliki ketika mereka masih di pedalaman, akan terlupakan juga. Misalnya membuat kerajinan tangan atau melakukan aktivitas pertanian. Dari segi fisik, biasanya perempuan Dayak akan tampil berbeda, karena telah mengenal berbagai alat kosmetik. Dari segi moral, umumnya menyesuaikan dengan lingkungan baru.
Bagi perempuan Dayak yang melakukan urbanisasi dengan alasan pendidikan, umumnya cara berpikir juga berubah. Pekerjaan lebih banyak menjadi orientasi utama. Ada juga kadar primordialismenya semakin tinggi dan cenderung berlebihan.
Mestinya mereka yang telah mengenyam pendidikan, bisa menjadi fasilitator yang baik bagi pengembangan sebuah budaya. Misalnya, tentang kerajinan tangan atau tenun khas Dayak. Ketika di kampung, karena keterbatasan akses, hasil kerajinan tangan hanya diperjualbelikan dengan sistem barter atau tukar. Inilah yang harus dijembatani oleh mereka yang telah memiliki akses. Sehingga dapat mengatrol kehidupan masyarakat lain menjadi lebih baik.
Khatarina Lies, anggota Komisi D DPRD Provinsi, dari daerah pemilihan Sanggau, dan Ketua Perhimpunan Perempuan Dayak Kalimantan Barat, mengatakan, “Pada umumnya, masyarakat Dayak diam di pedalaman, dan mencari tempat lebih aman untuk menghindar dari konflik, walaupun mereka memiliki rasa cinta terhadap sesama yang tinggi.”
Ia menyatakan, perempuan di perkotaan cenderung punya sumber daya lebih baik. Hal ini dikarenakan, mereka sebagian besar punya profesi di pemerintahan maupun swasta.
Dalam berjalannya waktu, banyak hambatan bagi perempuan di perkotaan, karena kota adalah tempat, dimana orang harus mampu berkompetisi. Hambatan yang dirasakan, orang belum yakin dengan kemampuan perempuan. Bahwa, mereka juga punya keberanian bersaing. Tentu saja, bila diberi kesempatan.
Perempuan Dayak punya kemampuan bekerjasama, karena luwes bersosialisasi dan beradaptasi. Untuk kedepan, perempuan Dayak harus bisa menangkap peluang dalam berbagai bidang, tak terkecuali politik. “Diharapkan dari 30% kuota dalam anggota legislatif, mereka dapat turut serta di dalamnya,” kata Katarina.
Selama ini, ada sebagian perempuan yang belm punya tujuan, ketika mereka melangkah dan datang ke perkotaan. Kemampuan adaptasi dan keluwesan sikap, membuat perempuan lebih luas dari segi.
Menurut Khatarina Lies, perempuan Dayak masih kurang percaya diri untuk maju dan bersaing. Perempuan Dayak juga mengalami hal sama dengan perempuan lainnya. Masih terikat dengan budaya. Cara mengatasi hal tersebut, selalu berpandangan positif terhadap semua hal, percaya diri, dan tidak mudah menyerah dalam berbagai hal. Bila orang lain mampu, mereka seharusnya juga punya semangat, mereka bisa melakukan. Selain itu, perempuan Dayak harus bisa menerima kritik, selalu ingin tahu, dan berpikir keberhasilan orang dimulai dari mana.
Kehidupan kota yang dinamis dan terus berjalan, selalu punya daya tarik sendiri. Tak heran bila kota selalu menjadi tujuan. Kehidupan kota menciptakan dunia baru. Dunia urban. Manusia urban, menciptakan ruangnya sendiri. Sebuah ruang baru, yang tercipta antara nilai-nilai kedaerahan, tempat asal. Dan dunia baru, sebagai suatu ruang pencapaian.□
Diposkan oleh
bloomasak
di
08:03
0
komentar
Sambut Ultah, SMA Gembala Baik Undang Sekolah Lain
Sambut Ultah, SMA Gembala Baik Undang Sekolah Lain
Arthurio OktavianusBorneo Tribune, Pontianak
Menyambut Ulang Tahun (Ultah) SMU Gembala Baik yang ke-21 panitia bekerja keras untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Acara akan digeber pada 24 hingga 26 Mei mendatang. Demikian ditegaskan Vicky Yosep, ketua panitia kegiatan, Selasa (21/05). Menurut siswa kelas II-IPS 3 ini perayaan serupa sudah dua tahun tidak dilakukan. Hal ini dikarenakan penyesuaian dari berlakunya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dari pihak sekolah. “Kami merupakan angkatan pertama sejak masa vacum itu,” kata Vicky.Persiapan panitia, sudah dimulai sejak sebulan yang lalu. Acara yang akan mereka gelar pun, hampir semuanya siap. “Hanya konfirmasi ulang ke pengisi acara, publikasi, dan mempersiapkan perlengkapan,” tambahnya.Menurut Marsianus Ami, Guru Pembimbing kegiatan ulang tahun ini, sekolah memberikan persetujuan untuk kegiatan yang akan dilakukan. “Kami hanya memberikan gambaran kegiatan, untuk ide dan pelaksanaan, diserahkan kepada para siswa,” terang Ami.Acara yang akan mereka selenggarakan tak cuma diperuntukan intern sekolah tetapi juga ada yang untuk umum. Acara intern berupa classmeeting, pemilihan Prince &Princess diamond of Gembala Baik, membuat makanan breakfast dan menghias layang-layang. Sedangkan untuk umum, dapat menikmati suguhan musik, dance, dan break dance.Menurut Vicky, penyelenggaraan Prince & Princess diamond of Gembala Baik dibuka untuk kalangan sendiri, karena panitia yang menangani kegiatan ini masih baru. “Kami harus belajar untuk menangani kegiatan,” ujar siswa bertubuh subur ini.Beberapa sekolah juga mereka undang untuk mengisi acara, antara lain SMU Immanuel, Bina Mulya, Santo Petrus, Santo Paulus, SMAN 1, SMAN 3, dan SMAN 7.Untuk menambah keramaian akan dibuka beberapa lokasi yang digunakan untuk game dan sponsor. “Suguhan menarik lainnya yang dapat dinikmati pengunjung adalah dengan adanya rumah hantu,” papar Vicky. Acara puncak yang akan dilakukan tanggal 26 Mei mendatang, rencananya ditutup dengan pemotongan kue ulang tahun. Harapan panitia, semua bisa menikmati acara yang disuguhkan oleh panitia dan pengisi acara tanpa adanya halangan.?
Diposkan oleh
bloomasak
di
08:01
0
komentar
Ketika Tuntutan dan Hak Buruh Harus Diperjuangkan
Endang Kusmiyati dan Arthurio Oktavianus
Borneo Tribune, Pontianak
Perempuan itu mungil, tetapi lincah. Semangatnya tinggi. Seakan, melebihi tinggi badannya yang sekira 150-an cm. Dengan pengeras suara tergantung dibahu, ia berorasi. Suaranya lantang dan jelas. Seterang, baju orange yang dikenakannya.
“Hidup buruh,” pekiknya.
Perempuan itu bernama Ana (38). Ia bekerja di PT. Rimba Ramin, sejak 1998. Upahnya Rp.25.000 perhari. Itupun kalau perusahaan memiliki bahan.
Teriakan penuh semangat Ana, disambut buruh lainnya. Siang itu, mereka menyampaikan pendapatnya dengan berdemo, di teras kantor dewan provinsi Kalimantan Barat, pada Senin (21/05).
Suara Ana, adalah suara ribuan buruh di Kalimantan Barat, Indoensia, atau belahan bumi manapun. Kondisi mereka masih tertindas. Oleh sistem kontrak, upah murah, keselamatan kerja yang tak terjamin, dan lainnya.
Sistem kontrak bagi buruh, sangat merugikan. Bagaimana tidak, buruh tidak mendapat jaminan apapun dalam bekerja. Tak ada jaminan kesehatan atau uang pesangon. Buruh kontrak juga rentan dengan pemutusan hubungan kerja (PHK), sepihak.
Siang itu, bersama 300-an buruh lainnya, Ana mendatangi DPRD Propinsi. Harapannya tentu saja, anggota dewan memperhatikan nasib dan kesejahteraan mereka, melalui kebijakan yang digulirkan.
“Saya tidak tahu, apa kerjaan orang dewan ini. Tapi kata teman saya, orang dewan bisa membantu kami para buruh,” kata Ana. Dewan dianggap bisa memperbaiki kesejahteraan para buruh. Dengan upah kecil seperti sekarang, mustahil ia bisa sejahtera.
Kehidupan buruh perempuan seperti Ana, sangat rentan. Mereka bisa saja alami pelecehan seks, kekerasan atau apapun ketika kerja. Perlindungan terhadap mereka masih sebatas ide saja. Dalam tataran kerja dan pelaksanaan, belum sepenuhnya dilaksanakan.
Padahal, fungsi mereka dalam suatu proses produksi sangatlah penting. Seandainya tidak ada buruh, secanggih apapun suatu mesin, tidak bisa berproduksi.
Repotnya lagi, pemerintah nampaknya lebih cenderung berpihak pada pengusaha. Hal ini terlihat dari berbagai peraturan, dan produk undang-undang yang dihasilkan. Jika tidak mewakili aspirasi kelompok tertentu, biasanya mekanisme pengawasan dan implementasinya, juga jadi sorotan. Pengawasan penting dilakukan, tak hanya sejauhmana peraturan dilaksanakan. Namun juga berbagai pelanggaran yang bakal terjadi.
Demo yang digelar Persatuan Buruh Kalimantan Barat (PBKB) ini, dilakukan untuk menuntut perubahan nasib. Dalam lembaran aspirasinya, mereka menuntut penghapusan sistem kerja kontrak, jaminan kesejahteraan, adanya Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), menaikkan standar Upah Minimum Propinsi, dan memberi tindakan tegas kepada pengusaha nakal.
Rendahnya pendapatan buruh, menyebabkan tidak terjaminnya kesejahteraan mereka. Seperti dialami Jamilah (40). Siang itu, ia mengenakan kerudung topi warna putih, bertulis PBK. Ia harus hutang ke warung atau tetangga, ketika kehabisan uang atau beras.
Jamilah, bukannya malas dalam bekerja. Tapi, ia dimiskinkan oleh sebuah sistem yang korup dan tak berpihak pada buruh.
Ia sedih mengenang nasibnya. Matanya berkaca-kaca. Ada duka di hatinya.
Diposkan oleh
bloomasak
di
08:00
0
komentar
Rumah Panjang akan Jadi Museum
Rumah Panjang akan Jadi Museum
* Kenali Negerimu, Cintai Negerimu
Arthurio Oktavianus / Endang Kusmiyati
Borneo Tribune, Pontianak
Pekan Gawai Dayak XXI dan Gelar Budaya Dayak se-Kalimantan 2007 di Pontianak, Minggu disambut baik Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik. Rumah panjang (betang) pun bakal pindah ke Sungai Ambawang, sedangkan betang di Jalan Sutoyo bakal jadi museum.
“Saya menyambut baik dan memberikan penghargaan kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, Dewan Adat Dayak dan Sekber Kesenian Dayak untuk mewujudkan hubungan yang harmonis antaretnis melalui event ini,” ungkap Jero Wacik sebagaimana dibacakan staf ahli bidang multikultural dan direktur tradisi, Fajariah Mupari Manan. Wacik berhalangan hadir karena masih berada di Perancis.
Akar budaya Dayak bersumber dari nilai-nilai mitologi dan berpengaruh pada nilai adat dan hukum adat. Seni budaya mampu berperan sebagai sarana dan wahana perekat, persatuan dan kesatuan bangsa.
Wacik mengurai peristiwa Rapat Damai Tumbang Anoy 110 tahun yang lalu, di mana kepala suku dan kepala adat dari seluruh penjuru pulau Kalimantan bertemu menyelesaikan perselisihan konflik antarsuku Dayak di Betang. Hal ini kata Wacik dapat disejajarkan dengan nilai-nilai lokal, nasional, bahkan global. “Kearifan Betang dapat meredam berkembangnya konflik,” tegasnya.
Gawai Dayak lanjutnya, dapat dijadikan daya tarik pariwisata karena Kalimantan memiliki sumber daya alam dan budaya yang kaya sehingga Kalimantan mestinya siap menyambut kedatangan wisatawan nusantara dan mancanegara.
Departemen Kebudayaan dan Pariwisata menurut Wacik mempunyai program “Kenali Negerimu, Cintai Negerimu”. Intinya sangat mengetuk hati nurani masyarakat dalam mencintai dan mengenal negerinya sendiri, mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), persatuan dan kesatuan bangsa dalam kerangka multikultural.
Sesuai arahan presiden, lanjut Wacik, program dan kegiatan kepariwisataan harus berorientasi pada pertumbuhan (pro growth), membuka lapangan kerja (pro job), dan untuk mengurangi kemiskinan (pro poor).
“Gawai Dayak se-Kalimantan sangat menarik dan akan saya upayakan untuk bisa dimasukkan ke dalam agenda Kebudayaan dan Pariwisata Nasional, dan dapat dipromosikan secara global,” katanya
Sementara itu Gubernur Kalimantan Barat Usman Ja’far mengatakan event yang sedang berlangsung di Kalbar ini patut diberikan respon yang positif karena pemerintah ingin menjadikan kebudayaan sebagai pilar utama bagi terwujudnya bangsa yang maju dan sejahtera, serta memiliki karakter tangguh menuju persaingan global yang semakin kompetitif.
Menurutnya kegiatan yang diikuti peserta dari Kalteng, Kaltim dan Kalsel serta direncanakan juga diikuti oleh Sarawak, Sabah, dan Brunei patut ditingkatkan persiapannya.
Tambah Rumah Panjang
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalbar menyiapkan dua lokasi untuk pembangunan rumah panjang bagi masyarakat adat Dayak. Dua lokasi yang disiapkan itu di Kota Singkawang dan Kuala Ambawang, Kabupaten Pontianak.
Untuk Kota Singkawang, lahan yang disiapkan seluas 2 ha. Sedangkan di Ambawang 3,5 ha.
"Betang yang sekarang sudah tidak mencukupi bagi kegiatan-kegiatan budaya. Sudah sempit," ujar Gubernur H Usman Ja’far.
Biaya pembangunan Betang diserahkan kepada panitia pelaksana. "Untuk kegiatan seperti Pekan Gawai dan Gelar Budaya, sudah tidak mencukupi lagi. Padahal kegiatan ini dapat dijadikan sarana untuk menjaring wisatawan lokal maupun mancanegara," ujar Usman.
Selain berjanji untuk dana pembangunan, Usman juga berjanji akan memasukkan Pekan Gawai Dayak sebagai kalender budaya dan wisata sebagai bagian program Tahun Kunjungan Kalbar 2010.
Tradisi dan Pariwisata
Ketua Panitia Pembangunan Rumah Adat Dayak, Herman Ivo, diwawancarai via telepon tadi malam mengatakan lokasi Betang yang baru di Kuala Ambawang telah diperoleh. “Saat ini sedang dalam proses pembebasan lahan. Setahu saya luasnya bukan lagi 3,5 ha tapi 6 ha karena akan ada hutan dan 6 bangunan di wilayah tersebut secara komprehensif,” ungkapnya.
Biaya yang telah disetujui pada APBD 2007 diakui Ivo sebesar Rp 2 miliar. “Kita butuh dana Rp 39 miliar secara total. Rp 2 miliar hanya untuk lahan. Kekurangan dana akan dihimpun dari penduduk maupun simpatisan yang tidak mengikat.”
Kegiatan besar ditangani panitia dengan menggunakan Betang Center. “Rencana kita memang setelah proses pembangunan selesai, rumah panjang yang di jalan Sutoyo akan dijadikan museum,” ujarnya tertawa lepas. Ivo tertawa karena rencana memusiumkan Betang di Sutoyo itu masih dalam tataran konsep. “Sebagai museum tentu memuat banyak hal-hal tradisi berupa alat, bahan dan sebagainya. Selain tradisi terjaga lewat museum, juga akan didapat sumber pemasukan dari kunjungan para tamu bagi perawatan Museum Betang,” umbarnya.
Ivo sadar untuk mewujudkan Betang yang refresentatif di tanah seluas 6 ha di Ambawang bukan seperti membalik telapak tangan. Masih akan panjang waktu yang dibutuhkan untuk realisasinya.
Ivo menjelaskan bahwa rumah panjang jadi museum maupun pembangunan Betang baru di Ambawang kedua-duanya merupakan agenda pariwisata Kalbar maupun nasional.
Pembangunan museum dan Betang yang baru tujuannya untuk memelihara adat dan tradisi budaya. Langkah ini sangat penting bagi generasi selanjutnya agar bangga pada negeri sendiri. Tak jarang sebuah tradisi akan mati jika tak dirawat dengan sungguh-sungguh. Dengan sendirinya cinta pada daerah sendiri juga tak akan dapat diandalkan. Boro-boro berjuang membangun daerah.
Sementara itu Ketua Umum Gawai Dayak dan Pekan Budaya Dayak 2007, Fredrik Kuyah menyatakan bahwa Betang sebenarnya memang merupakan bagian dari museum.
“Ini terjadi tahun 1984. Letak dari Betang itu sendiri berdekatan dengan Museum Negeri Kalbar,” lanjutnya.
Ketika ditanya mengenai rencana pembangunan Betang yang menjadi pembicaraan hangat saat Gawai, Kuyah terdiam. Ia menarik napas panjang lalu berkata, “Betang akan dibangun swadaya dari masyarakat. Swadaya ini diperoleh melalui penjualan sertifikat, yang bisa didapatkan di Betang Center.”
Diposkan oleh
bloomasak
di
07:59
0
komentar
Perempuan-perempuan Perkasa di Perkotaan
Arthurio Oktavianus
Borneo Tribune, Pontianak
Meningkatnya perekonomian dan taraf hidup di perkotaan, membuat wajah kota dipenuhi perempuan lajang. Yang seakan lebih mengutamakan karir, dari pada lembaga perkawinan. Khatarina Lies, anggota komisi D DPRD Provinsi, mengemukakan hal itu, di Pontianak, Selasa (15/05).
Menurut anggota DPRD daerah pemilihan Sanggau, perempuan di perkotaan memiliki perbedaan mencolok. Perempuan lajang di perkotaan, merupakan perempuan perkasa. Alasannya, perempuan di perkotaan bisa hidup keras, karena berhadapan dengan alam dan manusia. Artinya, mereka ditantang oleh modernisasi. Beda halnya dengan perempuan di pedesaan. Yang ‘hanya’ ditantang oleh faktor kebudayaan.
Kehidupan pedesaan lebih terikat faktor budaya. Hal ini membuat perempuan di pedesaan kebebasannya terbelenggu. Mereka kurang bisa mengekspresikan kemampuannya. Benturan norma dan adat istiadat, terkesan menuntut mereka untuk selalu tunduk, pada aturan berlaku. Kontras sekali dengan kehidupan di perkotaan.
Bila dilihat dari segi pengetahuan, sumber daya manusia perempuan di kota, jauh lebih baik. Akan tetapi, banyak hal belum diakui pada perempuan. Sehingga keberadaan mereka dipandang sebelah mata. Contohnya, miskin kepercayaan oleh publik. Yang selalu mempertanyakan, kemampuan perempuan.
Hal ini menunjukkan, peluang yang diberikan pada perempuan, pastilah dengan syarat. Misalnya, ketika ada perempuan punya SDM baik, dan ada kemampuan. Tetapi, ketika mau kerja, masih dipertanyakan. Apakah suaminya mengijinkan atau tidak, perempuan mampu dibawa bekerja seperti laki-laki dalam waktu, tenaga, disiplin kerja atau tidak, dan lainnya.
Semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan modernisasi, turut pula mendukung peran perempuan di dalamnya. Modernisasi juga turut menentukan keberadaan seorang perempuan.
Sekarang ini, banyak perempuan mencari nafkah, untuk menopang kehidupan keluarganya. Perempuan meramaikan kedudukan pentingnya di pemerintahan maupun swasta. Yang pasti, mereka punya kompetensi di bidangnya.
Perempuan sekarang ini, terus meneguhkan keberadaannya dalam setiap bidang.□
Diposkan oleh
bloomasak
di
07:57
0
komentar
Pelaksanaan adat Ngampar bide di betang
Arthurio OA dan Herkulanus Agus
Borneo Tribune, Pontianak
Berbagai persiapan menyambut kegiatan gawai Dayak se Kalimantan telah dipersiapkan panitia. Betang yang terletak di Jalan Sutoyo tampak mulai ramai dan semarak dihias berbagai pernik yang indah. Umbul-umbul juga dipasang disana.
Jumat (18/05), acara ngampar (hampar) bide pertanda gawai akan dilaksanakan telah dipersiapkan cukup matang. Saat itu acara dipimpin panyangahatn (pembaca doa) Kasausius Kasan (57). Berbagai hasil bumi sebagai simbol panen dikeluarkan untuk didoakan.
Acara ini merupakan salah satu dari rangkaian acara adat yang akan dilaksanakan di betang, sekaligus sebagai pembuka acara adat. “Makna dari hampar bide sendiri adalah sebagai pertanda kesiapan dalam menerima tamu dalam gawai,” terang Britius Erik, panitia penyelenggara adat Ngampar bide, menjelaskan.
Secara historis, hampar bide dilaksanakan setiap tahun, setelah panen. Hal ini sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang diberikan oleh Yang Kuasa.
Menurut Martinus, pengurus adat Sungai Raya, apabila ada kekurangan dalam pelaksanaan acara tersebut, pasti ada pertanda yang menunjukkan sesuatu tidak baik. “Bahkan, panyangahatn dapat menjadi kerasukan,” ungkapnya.
Hampar bide sendiri, terdiri atas beberapa prosesi. Pertama upacara bapipis manta atau nyangahatn manta’ (doa dengan menyajikan hasil bumi, ayam, dan daging babi yang belum dimasak), nyangahatn masak (doa dengan hasil bumi, daging ayam, dan daging babi yang sudah dimasak), pantak Ne’ Ringo (doa kepada pamangka atau penunggu betang untuk keselamatan), dan bapadah ka rumah panyugu (menyerahkan hasil panen dan permisi untuk melaksanakan acara gawai).
Doa yang dipanjatkan, berdasarkan kondisi dengan tujuan yang sama, yaitu keselamatan dan berkah. Panyangahant sendiri mengucapkan doa-doa secara spontan, tanpa teks. Hal ini tidak dipelajari sebelumnya. “secara turun-temurun,” ujar Kasan.
Kasan melanjutkan, bahwa pangkaras janganlah dilupakan dalam acara ini (melalui simbol koin yang diletakkan pada beras dalam piring). Karena pangkaras menunjukkan sumangat atau jiwa kita. Diharapkan dengan doa yang dipanjatkan, semua sumangat dalam hasil panen, dapat kembali dengan berlimpah.
Acara adat lain yang akan dilakukan di betang adalah adat baliant, mamandung, nginjak tanah, mamandank, dan adat ngayau.
Diposkan oleh
bloomasak
di
07:57
0
komentar
Anjangsana Bujang dan Dara Gawai Dayak 2007
Borneo Tribune, Pontianak
Pukul 10.40, betang dipenuhi oleh bujang dan dara gawai Dayak 2007, untuk melakukan anjangsana ke makam dan panti rehabilitasi, Kamis (17/05).
Hampir satu jam keterlambatan dari waktu yang telah ditetapkan karena kekurangan kendaraan, rombongan bujang dan dara gawai Dayak 2007 melaju ke makam J.C. Oevang Oeray dan F C Palaunsoeka.
Rombongan bujang dan dara di satukan dalam 1 buah bus penumpang berwarna kuning, koordinator dan anggota panitia menggunakan avanza hitam. Tribune, Revi (bujang utusan dari sanggar Satamuan Banuaka), dan Rosa (Koordinator Bujang dan Dara 2007), duduk di bagian belakang menggunakan kijang merah. Dwi (utusan dari Sanggar Terabai) duduk di depan, samping supir. Mariani (utusan dari Sanggar Kenyalank Gayu), Yuli (utusan dari Sanggar Patih Singahria), dan Ana (utusan Sanggar Kao Suta), duduk di tengah.
Sepanjang perjalanan menuju pemakaman, komunikasi ringan antar dara, bujang, koordinator, dan Tribune pun berlangsung. “request lagu apa !?,” seru Dwi sambil tersenyum, dari bagian depan. Tempat duduk di bagian depan, memang dekat dengan radio yang sedang “bernyanyi”. Guru bahasa Inggris SMU di Senakin ini berseru “berdoa!, bang,” ketika Tribune bertanya mengenai persiapannya, dengan yakinnya. Dara yang lain terlihat masih malu untuk menjawab.
Rosa juga mencoba untuk mencairkan suasana. Obrolan yang hangat dibangun dengan menanyakan asal utusan, dan harapan mereka dalam acara lomba tersebut. “Do the best and be the winner.” ujar Revi semangat, menanggapi tanya Rosa.
Obrolan terhenti, saat lokasi yang akan dituju, terlewatkan. Sambil tertawa kecil menyadari kesalahan, kendaraan pun berbalik arah. Gerbang bertuliskan “Komplek Pemakaman Khatolik Santo Yosef, Jalan Adisucipto km 7,9, Sungai Raya”, menyambut.
Komplek pemakaman
Letaknya sekitar 500 meter dari jalan utama. Kiri dan kanan jalan, merupakan bangunan ruko yang memanjang. Kendaraan terhenti tepat di antara dua pohon beringin. Tak berapa jauh dari situ, terdapat bangunan yang berbentuk pentagonal. Sepertiganya dengan dinding dari bata yang dicat putih, yang lain hanya berupa tiang kokoh dari kayu.
Bangunan berdinding, dijumpai dengan teralis besi terkunci. Di dalamnya terdapat altar, di bawah patung bunda Maria yang memangku Yesus, anak-Nya.
Komplek itu sepi, tanpa pengunjung. Hanya rombongan bujang dan dara, dengan baju berwarna putih, memenuhi tempat itu. Lokasi sepi, yang menyisakan sedikit tempatnya untuk J C Oevang Oeray dan F C Palaunsoeka.
Bagian kiri jalan, melewati beberapa nisan. Nama J C Oevang Oeray terbaca pada nisan yang di atasnya terdapat salib. Beliau berasal dari Kapuas Hulu dan pernah menjadi Gunernur Kalimantan Barat, pada masanya. “Beliau merupakan orang Dayak pertama yang menjadi Gubernur kepala daerah, tahun 1959,” Ria, koordinator peragaan busana, memberikan penjelasan kepada para peserta. Tanya jawab antara peserta dan koordinator mengenai tokoh Dayak itu pun berlangsung, mengenai semua hal tentang Oevang Oeray.
Setelah menempatkan karangan bunga dan doa bersama di makam J C Oevang Oeray, rombongan melangkah sekitar 10 meter ke dalam lokasi pemakaman. Sisi kanan jalan, terdapat 2 makam yang berdempetan, dinaungi dengan atap yang dibuat dari bahan semen. Pada nisan, tertulis nama F C Palaunsoeka yang bersebelahan dengan makam istrinya.
Palaunsoeka merupakan pendiri Dayak in Action, tanggal 5 Oktober 1947. Tanggal 1 Januari 1947, nama itu menjadi Persatuan Dayak, dan diumumkan ke seluruh Kalimantan Barat. Sebagai ketua umumnya adalah A Jelani, dan wakil Palaunsoeka. Hal ini dikarenakan Palaunsoeka juga menjadi seorang wartawan. Beliau juga salah satu pendiri Harian Kompas, bersama Jacoeb Oetama dan PK Ojong. Kunjungan ini berakhir pukul 11.45, setelah meletakkan karangan bunga dan doa bersama.
Panti Rehabilitas Anak Cacat Sabatu
Dua puluh menit perjalanan, kendaraan terparkir di depan rumah Jalan Cendana No. 110, Pontianak. Bau cat yang masih baru, menyambut rombongan.
Ruang tamu dibatasi oleh sebuah papan setengah ruangan. Di baliknya, terdapat kursi dan meja kayu yang dipernis, menunjukkan warna kayu yang alami. Dinding sebelah kanan bergantung pigura yang berisi foto-foto penghuni panti dengan tulisan “Pelayanan para penyandang cacat fisik”, yang mengapit ukiran kayu. Dinding sebelah kiri, terdapat gambar abstrak yang dibentuk dari potongan-potongan porselein berbagai warna.
Bagian dalam bangunan, terdapat 5 kamar yang saling berhadapan. Kamar tersebut antara lain digunakan untuk ruang makan, kamar untuk putra, kamar untuk putri, kamar ibu pengasuh, physiotherapy, ortotik, toilet, administrasi, ruang makan, dan ruang keterampilan.
Dua anak laki-laki berkursi roda tampak terlihat di pojok kanan ruangan. Beberapa anak perempuan, dengan penyangga kaki dari besi, keluar dari kamar. Seorang ibu separuh baya, berkacamata, dengan rambut sebahu pun mengenalkan diri. “Anastasia Idang, “ ujarnya memperkenalkan diri sebagai ibu rumah.
Acara di panti diawali dengan memberitahukan arti dari lambang panti oleh ibu rumah. Telur menunjukkan bahwa kehidupan para penghuni panti tersebut terkurung karena keterbatasan mereka. Dua titik di bawah telur menunjukkan ada kesempatan bagi mereka untuk keluar dari kurungan tersebut. Kedua tangan yang saling memberi dan menerima, diartikan sebagai perlunya kepedulian kita sebagai sesama untuk membantu mereka. Warna merah sebagai simbol kasih, dan warna hijau sebagai simbol pengharapan.
Penghuni panti tersebut berjumlah 10 orang, 3 diantaranya adalah laki-laki. Mereka antara lain berasal dari samalantan, pahauman, pak bulu, dan kapuas hulu. Panti ini menampung anak-anak usia di bawah 25 tahun hingga 1 tahun.
Haru menyelimuti wajah para dara, dan putri dari penghuni panti. Bulir bening mengalir saat mereka saling berbagi. “Mereka mempunyai kelebihan dari keterbatasan mereka,” ujar Stefi, peserta dara.
Pemberian bingkisan berupa bahan kain dan perlengkapan seperti sabun dan keperluan sehari-hari, diberikan secara simbolis oleh Herkulana, Sie peragaan Busana. “Kami memberikan bahan kain, karena kami diberitahu bahwa anak-anak panti mempunyai keterampilan menjahit,” ujarnya.
Kunjungan diakhiri dengan menyanyikan lagu kemersaan dengan bergandeng tangan. Penghuni panti pun menyumbangkan suara.
Rombongan bujang dan dara, berkumpul kembali di Rumah Betang untuk bersantap siang dan sharing mengenai perjalanan mereka. Ketika acara berakhir dan diminta pendapatnya, Jesica Venesa, tamatan SMA Santa Maria Bandung yang ingin melanjutkan study ke London School, salah satu peserta lomba dara utusan Sanggar Polakabulou berujar bahwa kegiatan ini mengenalkan mereka mengenai pahlawan orang Dayak, dan mengajak untuk kembali melihat ke bawah dan jangan memandang sebelah mata terhadap mereka yang cacat fisik.
Ditanyai kesiapannya untuk pemilihan dara, dia berujar “ Saya mempersiapkan diri sebaik mungkin karena saya ingin menunjukkan identitas Dayak melalui budaya, dan mengenalkan kesenian, motif, hiasan dari Dayak. Winner, of course.” tuturnya mengakhiri pembicaraan. *
Diposkan oleh
bloomasak
di
07:55
0
komentar
43 Bujang-Dara Siap Beraksi
Arthurio Oktavianus
Borneo Tribune, Pontianak
Sebanyak 43 orang Bujang dan Dara Gawai Dayak 2007 siap untuk beraksi. Mereka akan bersaing untuk memperoleh predikat yang terbaik. Sehari sebelum pembukaan, terlihat persiapan lomba tari Dayak kreasi, di panggung betang, Sabtu (19/05), pukul 13.10.
Peserta yang akan mengikuti lomba, melakukan latihan. Gerakan lentur penari diiringi alunan musik, terlihat di panggung. Lengkap dengan caping yang dikenakan penari putri, dan kapak yang diikat dengan tali, pada pinggang penari putra.
Gabriel, Koordinator lomba tari Dayak kreasi, lomba ini diikuti oleh 13 sanggar yang ada di Pontianak dan utusan kabupaten. Sanggar tersebut antara lain Borneo Tarigas, Tari Budaya, Sanggar Sape, dan beberapa sanggar utusan dari 4 Kabupaten.
Kriteria yang diberlakukan pada lomba ini mencakup penyajian tari secara keseluruhan, harmonisasi gerak dan musik, kekompakkan, dan tingkat kesulitan tari yang ditampilkan. Lomba ini akan dimulai pada Senin (21/05), pukul 19.00 hingga selesai, dan akan dinilai oleh 3 orang juri. “Jurinya masih rahasia, tetapi mereka adalah orang seni yang memang ahli di bidangnya.” ujar Gabriel, menutup pembicaraan.
Sementra itu perjalanan kompetisi bujang dan dara gawai dayak 2007 hampir mencapai final. Tes wawancara, yang merupakan salah satu ketentuan yang dijalani para peserta, dilaksanakan Sabtu (19/05), di balai pelestarian sejarah dan nilai tradisional Pontianak, dimulai pukul 09.00.
Juri pada tes wawancara ini adalah Staplisius (mengenai pariwisata dan seni budaya), Stefanus Barliah (bahasa Inggris dan pengetahuan umum), Uke Tugimin (busana dan motif), Herkulana Luis Blaise (tata rias, kecantikan, dan adat istiadat Dayak), dan Cisilia Viani (etika dan kepribadian).
Menurut Marselina Ria Breman, Koordinator peragaan busana, kompetisi ini dimulai dengan melakukan kunjungan ke makam tokoh orang Dayak dan panti rehabilitasi anak cacat, Kamis (17/05). Hal ini dilakukan agar bujang dan dara tidak melupakan para tokoh yang berjasa untuk orang Dayak, dan dapat melihat sisi lain dari kehidupan mereka.
Dio Tungkap, anggota panitia, mengatakan bahwa peserta yang mengikuti lomba harus bertinggi badan minimal 158 untuk dara, dan 165 untuk bujang. “batas umur mereka pun antara 17 – 25 tahun.” Dio menambahkan.
Kompetisi ini diikuti oleh 43 orang muda-mudi berbakat, 18 orang untuk kompetisi bujang, dan 25 orang untuk dara, yang akan menjalani malam final pada Rabu (23/05), di betang. Bujang dan Dara yang terpilih, diharapkan mampu menjadi duta pariwisata yang bisa mengenalkan budaya Dayak ke kancah Internasional.
Diposkan oleh
bloomasak
di
07:53
0
komentar
Wanita pengikat besi
Arthurio Oktavianus
Borneo Tribune, Pontianak
Kedua tangannya beralaskan sarung berwarna putih. Warna itu mulai memudar. Berganti warna kekuningan dan coklat. Menunjukkan sudah lama terpakai. Sesekali tangannya terlihat “menari” dengan sebuah tang. Mengikat besi menggunakan kawat. Musik pengiring tarinya, hanya dengusan nafas. Yang berpacu dengan gerincing besi.
Dengan besi-besi itulah, kerangka sebuah bangunan ditegakkan.
Sulitnya mencari kerja, membuatnya melakukan pekerjaan itu. Ia ingin meringankan kerja suami. Suaminya petani. Dari perkawinan itu, lahirlah dua orang anak. Anak tertua menganggur. Seorang lagi masih sekolah.
Tempat tinggalnya terletak di Sungai Raya Dalam, Gang Surya. “Lumahnya belum ada nomol,” kata perempuan itu, dengan logat Tionghoa, kental. Konsonan “R” yang tergeser jadi “L”.
Ketika ditanya mengenai nama, perempuan itu tertunduk malu.
“Panggil saja nyonya Liu.”
Kesan ramah tampak dari ibu dari tiga anak ini. Senyumnya selalu mengembang. Ramah dan akrab.
“Saya lupa lahil tanggal belapa, tapi umul saya sekalang 47 tahun.” Keringat yang mengucur di kening, dihapus sembari bercerita.
Liu, pengungsi dari Menjalin, akibat pergolakan yang terjadi di Kalimantan Barat. “Sekital tahun 1967 atau 1968, saya belumul 7 tahun,” kata Liu. Peristiwa itu merupakan pengusiran etnis China dari pedalaman oleh orang Dayak. Menurut Ikbal Jayadi, seorang peneliti dari UI, peristiwa itu disebut ethnic cleansing.
Dalam pekerjaannya, Liu dengan terampil merajut potongan-potongan kawat dan besi. Mengikat dua besi baja yang akan digunakan proyek bangunan perumahan.
Setiap hari, ia selalu bangun pukul 04.30. Sepagi itu, ia harus membersihkan rumah dan memasak. Ia selalu membawa rantang ke tempat kerja. Jam kerjanya mulai pukul 06.00-16.00. Dalam sehari, ia mendapat upah Rp 20 ribu.
Ia dijemput mobil pick up ke tempat kerja. Bersama pekerja lain, yang rata-rata pria, ia menuju tempat kerja.
Pekerjaan itu telah ia jalani 16 tahun. Keahlian mengikat besi dan kawat, ia dalami selama tiga tahun. “Awalnya hanya mengangkat dan mengaduk semen. Tapi, secara otodidak mulai belajar untuk mengikat besi,” ujarnya.
Liu tak pernah mengenyam bangku sekolah. Banyak bangunan “lahir” dari ketrampilan tangannya merajut kawat dan besi. Bangunan itu antara lain, perumahan Pesona Alam, Hanura, dan lainnya.
Dari hasil kerjanya selama ini, ia telah berhasil membangun sebuah rumah. Liu, merupakan salah satu sosok, perempuan tegar. Yang menjalani hidup, dengan sikap dewasa dan tegar.□
Diposkan oleh
bloomasak
di
07:52
0
komentar
Menjemput Endemik Hingga Tapal Batas
Chairani Siregar
Menjemput Endemik Hingga Tapal Batas
Oleh Arthurio Oktavianus Arthadiputra
Fakultas Pertanian, Untan. Seorang perempuan berjilbab, duduk pada sebuah ruangan berukuran 15 x 9 meter. Di ruangan itu, berderet aneka tanaman langka (endemik) dari famili Orchidaciae (anggrek), dan nepenthes atau periuk kerak atau kantong semar. Tumbuhan itu ditanam dalam media tumbuh jelly. Atau, biasa disebut kultur jaringan. Ada pula yang ditanam dengan cara menabur biji tanaman secara konvensional.
Perempuan itu bernama Chairani. Ia kelahiran 8 Februari 1949. Dalam kesehariannya, ia selalu berada di ruangan itu. Di ruangan inilah, Ir Chairani Siregar MSc, menghabiskan waktunya. Berkutat dengan media tumbuh kultur jaringan, tumpukan buku, gelas-gelas laboratorium dan mahasiswa. Ia seolah menenggelamkan diri. Pada profesi dan keilmuannya. Ruangan itu berdiri di pojok belakang bangunan Untan. Di ruangan itu, Chairani juga menanam
Untuk mencapai ruangan itu, kita harus melewati koridor sepanjang 18 meter. Di sisi kirinya tumbuh dengan rindang dua pohon waru (hibiscus tiliaceus). Sebuah penampungan air yang disangga enam tiang kokoh, juga ada di sana.
Chairani bersama mahasiswa bimbingannya rajin melakukan penanaman exsitu (penanaman di luar habitat aslinya). Habitat asli anggrek dan nephentes, di pohon hutan hujan tropis.
Mulanya, anggrek dan nepenthes dianggap sebagai tanaman hutan dan tak bernilai ekonomi tinggi. Pada perkembangannya, anggrek langka seperti Buntut Tikus (Paraphalaenopsis laycockii), Pendrobium sp, Phaleonopsis sp dan Nepenthes clipeata diburu. Kini, tanaman itu berharga ratusan juta rupiah.
Nepenthes clipeata adalah satu-satunya jenis kantong semar di dunia. Tanaman itu hanya terdapat di Bukit Kelam, Kabupaten Sintang. “Bahkan 50 persen nepenthes dunia ada di Kalimantan,” kata Chairani. Tak sedikit ilmuwan luar negeri datang ke Kalimantan, untuk memperoleh dan mempelajari tanaman endemik ini.
Mereka terbagi dalam beberapa komunitas peneliti. Hasil penelitian dan riset itu, mereka tuangkan menjadi buku. Tak jarang, nama anggrek-anggrek khas Kalimantan, dinamai nama ilmuwan asing yang meneliti dan membukukannya. Bahkan, tanaman endemik Kalimantan ini, sudah dibudidayakan secara massal dengan teknologi kultur jaringan, di Belanda, Kanada, Jerman dan Malaysia.
“Tak heran bila hak patennya pun mereka yang pegang, dan kita harus membeli dengan harga mahal untuk tanaman khas daerah kita sendiri,” kata Chairani.
Terdorong oleh rasa keilmuan, konservasi dan penyelamatan tanaman dari kepunahan, ia jemput bola. Bersama Ir. Agustina Listiawati MP dan Ir Purwaningsih Msi, rekan seprofesi di Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura, ia melakukan perjalanan panjang hingga perbatasan. Melalui Seluas, Kabupaten Sambas, ia menuju Serikin, perbatasan Indonesia dan Malaysia.
Chairani mendatangi langsung kegiatan jual beli tanaman anggrek dan kantong semar di perbatasan. Jual beli dilakukan penduduk setempat. Harga yang ditawarkan berkisar ratusan ribu rupiah.
Kecintaannya pada tanaman hortikultura, berawal dari latar belakang sebagai dosen pengampu mata kuliah Agronomi dan Kultur Jaringan di Fakultas Pertanian Untan. Tahun 2003, Chairani menghadiri kongres tanaman anggrek ke-5 di Sabah, Malaysia. Di sana, ia membeli beberapa buku. Diantaranya, buku Pitcher-Plant of Borneo, A Guide to The Pitcher Plants of Peninsular, dan Nephenthes of Borneo.
Pada Desember 2006, ia mengikuti Local Economic Resources Development (LERD), di Groningen, Belanda. Pertemuan yang juga diikuti Bakomapin, Dinas Pertanian dan Bappeda ini mengupas anggrek sebagai sumber pendapatan daerah.
Selama menjalani profesinya, ia telah menulis buku berjudul Anggrek Spesies Kalimantan Barat, Volume 1. Buku ini ditulis bersama Agustina Listiawati dan Purwaningsih dan diterbitkan Lembaga Penelitian dan Pengembangan Pariwisata Kalimantan Barat. Buku itu diluncurkan bertepatan dengan kunjungan Menteri Pertanian Anton Apriyantono dan Gubernur Kalimantan Barat Usman Jaffar, setahun lalu.
Perempuan itu terus berjalan. Mencari dan menyelamatkan anggrek dan kantung semar. Dari kepunahan.□
Diposkan oleh
bloomasak
di
07:51
0
komentar
Realita sales promotion girl
Arthurio Oktavianus
Borneo Tribune, Pontianak
Ketika senyum dan tawa, tak lagi tulus untuk disampaikan. Kisah, para Sales Promotion Girl di Pontianak.
Ia terlihat sibuk mengemasi barang ke loker kecil di bawah gantungan baju. Sesekali, tatapannya disapukan pada pengunjung yang hadir. Ada tatapan harap. Ada ungkapan dan asa. Yang seolah tak terucap. Sesekali, senyum itu tersungging pada wajahnya yang letih. Senyum itu terlihat hambar dan dipaksakan.
Hari itu, ia mengenakan seragam kemeja krem dan rok abu-abu kehitaman. Sepatu tinggi menemani mungil kakinya. Perlengkapan itu wajib dikenakan setiap hari. Tak lupa, wajah harus selalu, terlihat segar. Untuk itulah, polesan bedak dan kosmetik, selalu menyapu wajahnya.
Perempuan itu bernama Atik, 22 tahun. Ia Sales Promotion Girl (SPG), produk pakaian pria di Megamal, lantai 2. Sudah dua tahun ini, Atik menjalani profesi sebagai SPG. Ia tinggal di Kota Baru.
Seiring berkembangnya bisnis eceran di Pontianak, kebutuhan tenaga SPG pun meningkat. Karenanya, kebutuhan tenaga penjual produk, jadi satu kebutuhan mutlak. Penempatan SPG, tentu saja untuk menarik minat konsumen.
Tak pernah terbayang pada diri Atik untuk menjadi SPG. Belitan ekonomi, membuatnya harus menerima keadaan. Ia harus kerja dan membantu perekonomian orang tua, dan dirinya sendiri. Alasan itulah yang membuatnya menjalani profesi sebagai SPG.
Atik masuk kerja dari pukul 09.00 hingga 17.00. Itu giliran jam kerja pagi. Untuk sore, ia kerja dari pukul 14.00 hingga 22.00. Ketiadaan lapangan kerja, membuatnya tak punya banyak pilihan.
Sebuah buku terbitan Badan Pusat Statistik berjudul, Kota Pontianak Dalam Angka 2005, menyebutkan, pencari kerja 2004 di Pontianak, sebanyak 7.994. Angka itu merupakan hasil Survey Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) 2004.
Selama bekerja, Atik dan rekannya, harus mengikuti peraturan perusahaan. Ia tidak boleh makan di stan dan tidak boleh duduk.”Kalau ketahuan, harus tanggung resiko sendiri,” kata Atik. Waktu makan, pada jam tertentu dan bergilir. Semua telah disepakati bersama.
Peraturan itu berlaku, selama jam kerja dan tidak bisa dibantah. Maka, selama delapan jam itu pula, ia harus berdiri dan bersikap ramah kepada konsumen. Tutur kata ramah, dan senyum selalu menghiasi wajah, bila ada konsumen menanyakan produk yang ia jaga. Bukan hanya untuk menarik konsumen. Mereka lakukan itu, sebagai cara “mengamankan diri” dari pengawasan supervisor.
Hal senada juga dikatakan Enny, 22 tahun. Ia rekan sejawat Atik, dan tinggal di Nipah Kuning. Menurutnya, pelanggaran yang dilakukan SPG, akan mendapat surat teguran disiplin kerja..
Bahkan, bila kesalahan dilakukan berulang kali dan sudah diberi peringatan, mereka dapat menerima pemutusan kerja secara sepihak. “Hal ini pun berlaku, bila SPG tidak mencapai target penjualan, yang ditentukan perusahaan,” kata Enny.
Untuk kerja yang cukup menguras tenaga itu, Atik dan Enny, menerima upah Rp. 700.000, sebulan. Upah tambahan dapat mereka peroleh dari kerja lembur. Semua tergantung dari kesanggupan mereka.
Pekerjaan SPG harus awas. Hilang barang, akibatnya bisa fatal. Karena pengecekan dan pengawasan terhadap persediaan barang selalu dilakukan setiap hari. Barang di rak dan gantungan baju, tak boleh hilang.
Barang hilang, senyum pun tak lagi berkembang........□
Diposkan oleh
bloomasak
di
07:50
0
komentar
Kontrasepsi Tanggung Jawab Siapa?
Arthurio Oktavianus
Borneo Tribune, Pontianak
Pembagian peran dan tugas-tugas reproduksi antara pasutri sepintas lalu tidak menjadi masalah. Budaya patriarki menjadikannya begitu sederhana. Sejak dahulu, perempuan lah yang berkewajiban mengemban tangungjawab mencegah kehamilan.
Sesederhana itukah persoalannya? Ketidakadilan ini memiliki dampak serius bagi kesehatan reproduksi perempuan. Kualitas kesehatan perempuan akan semakin menurun, menyusul besarnya angka kematian ibu dan anak.
Bagaimana tidak, sebelum mengemban tugas menunda dan mencegah kehamilan dengan kontrasepsi, penurunan kualitas kesehatan perempuan sudah terjadi. Perempuan harus mengandung, melahirkan dan menyusui, ditambah tugas-tugas domestik sehari-hari.
Penggunaan kontrasepsi oleh perempuan bak menambah setumpuk beban tadi. Perempuan direcoki lagi dengan ‘benda asing’ yang mempengaruhi kualitas hormon di tubuhnya. Jika keluarga adalah sebuah institusi yang melindungi hak-hak asasi anggotanya, termasuk hak memperoleh kesehatan, kepada siapa tanggungjawab
kontrasepsi ini dibebankan?
Dian (25), warga Jalan KHW. Hasyim, Gang Ruai No 233, pernah menggunakan alat kontrasepsi berupa suntik selama 18 bulan dan inplant selama 13 bulan. Penggunaan alat kontrasepsi ini, ternyata mempunyai efek samping bagi ibu seorang putri berumur 3 tahun ini.
“Suntikan dihentikan karena menstruasi lancar selama 4 hari, kemudian terjadi spoting (flek-flek yang timbul saat menstruasi-ed). Sedangkan inplant dihentikan karena saat mengangkat benda yang berat, menyebabkan lengan (tempat pemasangan inplant)bengkak,” keluhnya.
Berbeda dengan Novi (29), pria yang bekerja sebagai teknisi di Rumah Sakit Antonius ini menggunakan kondom sebagai alat kontrasepsi. “Ini dilakukan karena usia saya dan istri yang relatif masih muda,” katanya.
Disamping Novi istrinya ingin mengatur jarak kelahiran, mereka lebih merasa nyaman untuk melakukan hubungan intim. Penggunaan alat kontrasepsi menurutnya harus berdasarkan kesepakatan antara suami-istri. “Komunikasi mengenai perlu tidaknya memakai kontrasepsi, perlu dibahas secara terbuka. Ini menyangkut kepuasan dalam berhubungan.
Kontrasepsi adalah alat yang digunakan untuk mencegah terjadinya pembuahan atau kehamilan. Pilihan akan kontrasepsi pun beragam. Mulai dari suntikan (cyclofem, depoprovera), pil (mikroginon, mikrodiol, andalan, nordate, planotab, excluton, marfelon), IUD (Intra Uterin Device), kondom, inplant, dan vasektomi.
Menurut M Irmina, bidan Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA) Rumah Sakit Antonius, penggunaan kontrasepsi ini dapat menyebabkan efek samping bagi tubuh pengguna. “Efek yang ditimbulkan dapat berupa pusing, sakit kepala, mual, dan tidak datang bulan,” ujarnya.
Variasi harga untuk pemasangan alat kontrasepsi inipun beragam. Menurut Dian, untuk pemasangan inplant saja harus mengeluarkan dana sekitar Rp. 100.000. Harga ini belum termasuk pemasangan spiral (IUD) yang mencapai Rp. 500.000 bahkan bisa lebih.
Diposkan oleh
bloomasak
di
07:49
0
komentar
Potret Buram Perempuan Miskin Kota
Arthurio Oktavianus
Borneo Tribune, Pontianak
Kampus Widya Dharma, Pontianak. Bangunan megah berdiri menjulang. Di bawah pohon cemara, seorang ibu sedang menyapu sambil memegang sebuah serokan pengangkut sampah berwarna biru.
Tubuhnya perlahan bergeser memutari ruangan kelas, hingga di taman bunga, depan kantin. Gerak tangan mengayun sapu tak terhenti, walaupun lalu lalang para penghuni kampus tak pernah sepi.
Pukul 11.00 siang itu.. Langkahnya mulai beringsut menuju ke ruangan sudut, penghubung antara gedung satu dengan lainnya, tepat di depan sebuah toilet wanita. Tiga buah meja belajar yang disusun rapat, terbuat dari kayu, dan berwarna kuning. Menempel di dinding yang bertekstur kasar setengahnya.
Duduk di kursi besi lipat, tepat menghadap ke pintu toilet, ia menerawang. Tangannya menumpang penuh pada tubuh meja di depannya. “Sudah 16 tahun saya menjalani pekerjaan ini,” ujar Jumiati (52). Tangannya keriput dan kasar membungkus gagang sapu nan lusuh. Setiap hari ia membersihkan sampah di lantai I dan II, hingga halaman depan.
Ada 12 ruangan yang menjadi tanggungjawabnya. Sebenarnya Jumiati sudah lelah dan renta, namun apa daya perempuan tamatan SD ini harus membiayai hidup suami dan tiga anaknya.
Tahun 1978 lalu, Jumiati mengikuti program Transmigrasi ke Kalimantan Barat. Perempuan asal Surabaya ini pertama kali menginjakkan kakinya di Sungai Pinang, Rasau Jaya. Gaji pertama sebagai petugas kebersihan hanya Rp 60.000 per bulan.
Walau begitu, Jumiati selalu berucap syukur. “Saya telateni jak,” katanya dengan dialek Jawa bercampur logat melayu Pontianak. Tahun demi tahun berjalan, pendapatan nya kini Rp 800.000 per bulan. Jumlah yang tak seberapa ini ia pakai untuk membayar kontrakan rumah dan kebutuhan sehari-hari keluarganya.
Istri dari Legimin (56), ini berprinsip akan terus bekerja selama ia masih mampu. Waktu kerja mulai pukul 08.00 hingga pukul 14.00 setiap harinya. Menggunakan sepeda ontel miliknya , Jumiati berangkat dari rumahnya di Jalan Selayar Gang Widodo menuju kampus.
Jumiati tak sendiri. Di kampus itu seorang perempuan paruh baya juga bekerja sepertinya. Namanya Suminah (40), bertugas membersihkan WC kampus. Bekerja setiap hari mulai pukul 04.00 hingga pukul 13.00. Perempuan asal Tegal ini sejak 1994 ikut dengan suaminya menetap di Pontianak.
Pekerjaan ini dilakukannya untuk membantu perekonomian keluarga. Upah per bulan yang didapatnya Rp 500 ribu. Sebelum mahasiswa datang, Suminah harus sudah enyikat WC dengan karbol dan sabun. Ada 15 ruang WC yang harus dibersihkan, 12 WC wanita, dan 3 WC pria. Suaminya seorang penjaga malam di Pasar Mawar, merangkap juru parkir di siang hari.
Sehari-hari, baik Jumiati dan Suminah sering melepas lelah sambil bercerita di depan WC. “Yah begini ini, kalau sudah capek mending ngerumpi,” kata Suminah tertawa.
Kadang sambil menikmati segelas kopi, bahkan menyantap nasi. Tak ada perasaan risih atau jijik bagi mereka ketika harus makan di depan toilet. “Ooh. Yang ndak jijik tu yang bise jadi dokter,” seloroh Jumiati sambil tertawa.
Obrolan pun berlanjut dengan santai. Beberapa mahasiswi hilir mudik masuk toilet. Jadwal masuk kerja di pagi hari, kadang menyebabkan kedua ibu ini tidak sempat lagi untuk masak di rumah. “Pernah juga kami membeli makanan di warung,” ujar Jumiati menyebut “kami” untuk diri dan suaminya yang bekerja sebagai tukang kebun di tempat yang sama.
Sedangkan Suminah harus pandai-pandai membagi waktu agar sempat mengurus ketiga anaknya yang masih kecil-kecil. “Paling sulung masih kelas 6 SD,” ujarnya.
Tampak tak ada duka yang mereka rasakan di tempat kerjanya. Mereka selalu bercanda. Mahasiswa juga bersikap sopan pada mereka. Pendapatan yang mereka peroleh, harus dapat disiasati. Agar mampu memperoleh kebutuhan sehari-hari yang saat ini semakin mahal. “Cukop ndak cukop, ye harus cukop. Jangan jak sampe saket. Kalau udah saket, terpakse pinjam sama bos (pengurus yayasan- Red). Bayarnye nyicil tiap bulannye.” ujar Jumiati, sembari pamit melanjutkan kerjanya.■
Diposkan oleh
bloomasak
di
07:47
0
komentar
bloomasak berproses
belum banyak yang bisa aku ceritakan tentang hidup,
bahkan untuk satu kata pun.
karena itulah aku berproses,
belajar hidup pada "mereka".
lewat cerita, dan kutuang lewat kata.
aku masih mentah.
banyak asupan yang harus aku telan.
dan bermanfaat bagi orang banyak.
sebelum aku membusuk,
sebelum aku terurai,
menjadi pupuk atau sampah.
aku masih mentah,
dengan dua pilihan, menjadi pupuk atau akan menjadi sampah.
Diposkan oleh
bloomasak
di
02:56
1 komentar
