Jumat, 13 Juli 2007

Tokoh dalam Wayang Kulit Sasak

Arthurio Oktavianus

Borneo Tribune, Pontianak
Bila selama ini Anda mengira, wayang kulit hanya ada di pulau Jawa, persepsi itu harus segera direvisi ulang. Anda harus segera datang ke Gedung Pameran Museum Provinsi Kalimantan Barat, dan berhenti di depan ruang pamer dari Nusa Tenggara Barat (NTB).
NTB menampilkan tokoh wayang kulit dari Sasak, pada pameran seni itu. Kegiatan itu merupakan satu rangkaian acara temu kepala taman budaya, yang berlangsung pada 9-13 Juli.

Menurut E. Yohanes. P, panitia acara, pameran seni tersebut merupakan hasil karya dari seniman yang mewakili tiap daerahnya.

Wayang kulit Sasak merupakan wayang kulit yang berkembang di masyarakat Sasak, Lombok. Wayang itu berkembang sejalan dengan perkembangan agama Islam di Lombok. Peran utama yang disebut wayang prabu (praratu) berjumlah 140 tokoh. Wayang itu dibagi menjadi wayang kiri dan wayang kanan.

Tokoh utama yang menjadi pusat dari cerita wayang kulit kanan dan dipamerkan adalah Jayengrana (Wong Agung Menak), Munigarim, Umar Maya, Umar Madi, Selandir (Alam Daur), Saptanus dan Santanus.

Karakteristik tokoh wayang kulit Jayengrana, tokoh dengan penampilan sederhana, namun sakti tanpa tanding. Jayengrana merupakan putra ke-12 dari Abdul Mutalib, dengan nama kecil Amir Hamzah.

Munigarim merupakan puteri bijaksana, sabar, punya pendirian teguh, dan memiliki kesaktian tinggi pula. Ia istri pertama Jayengrana, dan putri nomor dua dari prabu Nursiwan, yang berasal dari kerajaan Medayin. Perkawinan Munigarim dan Jayengrana, melahirkan Raden Kobat Sare’as.

Umar Maya sosok gemuk, pendek, perut buncit, hidung besar dan bulat. Ia intelektual, bijaksana dan cerdas. Selain itu, ia juga sangat setia. Umar Madi tokoh sangat emosional dan kuat makan. Tak heran, tubuhnya juga gemuk. Bersama Umar Maya, ia juga pendamping yang setia.

Selandir merupakan putra raja Sailan. Tetesan darah Nabi Idris bernama Basirin Binti Syekh Bakar Abu Miswan, mengalir di tubuh ibunya. Selandir sangat kuat, dengan postur tubuh tinggi besar. Ia mengandalkan kekuatan fisik dan sangat ditakuti dalam peperangan.

Saptanus dan Santanus merupakan tokoh kembar yang memberikan pertimbangan strategi yang dilakukan oleh Jayengrana. Selain itu, kembar ini juga merupakan faktor keseimbangan dalam karakternya.

Seperti juga wayang di Jawa, setiap tokoh dan karakter wayang, punya nilai filosofi dan menggambarkan kehidupan dan watak orang dalam kehidupan.□

0 komentar: