Chef Masak Diawasi 3 Orang
KEDATANGAN calon presiden Megawati Soekarnoputri ke Kalbar tidak hanya melakukan kampanye. Ia juga ingin mengicip masakan khas asal Kalbar. Melalui asistennya, ia berpesan kepada Karolin Margret Natasa agar masakan tradisional disuguhkan dalam menu yang dihidangkan di hotel Grand Mahkota Pontianak.
Permintaan yang diinginkan Megawati sempat membuat putri Gubernur Cornelis mengerutkan kening. Ia sempat bingung untuk menyajikan apa. Akhirnya, perempuan yang akrab disapa Karol itu memilih menu cencalok, sayur keladi, dan semur jengkol.
"Saya memesan pada koki hotel untuk menyiapkan masakan tradisional tersebut. Mungkin ibu (Megawati) ingin mencicip seperti apa sih rasa makanan tradisional Kalbar," tuturnya kepada Tribun usai Megawati melakukan video conference di hotel Grand Mahkota, Senin (15/6) malam.
Cencalok merupakan udang ebi yang diawetkan dengan cara fermentasi sehingga berasa agak asam dan berwarna merah muda. Makanan ini biasa disantap oleh masyarakat yang tinggal di pedesaan.
Karol mengaku kagum dengan orang nomor satu di PDIP itu. Menurutnya, Megawati sangat low profile dan tidak pemilih dalam urusan makan. Menu kampung seperti yang disediakan berdasarkan pesanan tersebut disantap dengan nikmat oleh Megawti.
"Beliau juga sangat bersahabat. Ketika turun dari pesawat, ibu kaget melihat saya belum melahirkan. Beliau fikir, usia kandungan saya sudah cukup. Padahal, masih delapan bulan," katanya seraya tersenyum.
Anggota DPR RI terpilih periode 2009-2014 itu, mengaku, tidak direpotkan dengan permintaan Megawati. Karena, bahan dasar yang digunakan untuk memasak menu yang diminta, bisa diperoleh di pasar tradisional dengan mudah.
Namun, ia sempat bingung siapa yang akan memasak menu tersebut. Menurutnya, ada chef dari Jakarta yang dibawa rombongan. Tapi, apakah bisa mengolah bahan dasar menjadi makanan yang enak untuk disantap.
"Kita melakukan koordinasi dengan pihak hotel. Syukurlah, mereka mengatakan ada chef yang bisa memasak cencalok. Kalau tidak ada, bisa kelimpungan juga mencari chef-nya," ujarnya. Chef yang menjadi juru masak tersebut adalah Suyanto.
Menurut Suyanto, dirinya kaget ketika ada request makanan tradisional seperti itu. Apalagi, ia tidak mengetahui apa itu cencalok dan bagaimana bentuknya. Order yang diterimanya sebelum kedatangan Megawati itu, digunakan mantan karyawan Hotel Indonesia itu mencari informasi mengenai cencalok.
Pria asal Cepu itu bertanya pada pegawai hotel asli putra daerah. Berdasarkan informasi yang didapatkan, Suyanto akhirnya mencari sendiri bahan dasarnya di pasar Dahlia. Menurutnya, itu merupakan pertama kalinya ia mengetahui bentuk cencalok selama berada di Pontianak.
Diawasi
Bukan perkara gampang untuk menyediakan masakan hasil olahan yang disuguhkan untuk tokoh penting. Menurut Suyanto, ada prosedur standar yang harus dilalui sebelum masakannya bisa disantap. Yakni, melalui pengawasan tim dokter dan pengamatan melalui laboratorium.
"Ada delapan orang dokter dalam tim yang mengawasi konsumsi beliau (Megawati). Tiga diantaranya, bertugas mengawasi mulai dari bahan dasar, mengirisnya, hingga proses memasak," katanya.
Pria yang pernah menjuarai kompetisi masakan tradisional ini, mengatakan, awalnya sempat grogi juga bekerja dengan pengawasan ketat seperti itu. Namun, karena sering memasak untuk tokoh penting di Indonesia ketika bekerja di tempat lama, ia mulai terbiasa.
"Yang diawasi tidak hanya untuk masak cencalok saja. Tapi, untuk masakan kepiting lada hitam, semur jengkol, dan tumis pakis yang di-request beliau untuk santap malam. Sedangkan santap siangnya beliau minta disediakan semur jengkol dan sayur kulit keladi," tuturnya.
Suyanto merasa bangga dan puas karena apa yang diolahnya bisa dinikmati oleh para tokoh penting. Apalagi, kalau masakan tersebut ludes dilahap. Menurutnya, perasaan tersebut tidak bisa digambarkan.
"Pokoknya, sangat puas. Karena, yang menikmati hasil olahan kita bukan orang sembarangan. Mereka merupakan tokoh penting yang berpengaruh di Indonesia," ujarnya. Selain Megawati, pria yang memiliki tiga anak ini pernah memasak menu request dari mantan presiden lain. Menurutnya, hanya mantan presiden Soekarno saja yang tidak mencicipi masakannya.
Sabtu, 22 Agustus 2009
Megawati Minta Dimasakkan Menu Tradisional Kalbar
Diposkan oleh
bloomasak
di
04:45
2
komentar
Putus Cinta Lewat Yahoo Messenger
Operator Warnet Teguk Racun Serangga
Gara-gara diputuskan melalui layanan komunikasi Yahoo Messenger, operator warung internet (warnet) Bagas nekad meminum racun serangga di tempat dirinya bekerja di Jl. Kom Yos Sudarso, Selasa (18/8) malam, sekitar pukul 23.00 WIB. Beruntung, nyawanya bisa diselamatkan.
Menurut pemilik warnet, Darma, tindakan tersebut di ketahui oleh Agus, sepupu Bagas, yang sedang browsing internet di tempat yang sama. Menurutnya, sebelum minum racun serangga, Bagas menunjukkan pada sepupunya, cairan yang disimpan di botol minuman kemasan.
"Coba lihat, ini apa?" tutur Darma kepada Tribun, Rabu (19/8), menirukan perkataan yang diucapkan oleh Bagas pada Agus. Ketika botol kemasan diarahkan padanya, Agus mengaku mencium aroma racun serangga.
Gelagat aneh dari Bagas itu dilaporkan Agus pada adik pemilik warnet, yang sedang berada di luar ruangan.
Ketika masuk, Agus menemukan Bagas yang bekerja sebagai operator warnet sudah sempoyongan di depan komputer. Pemuda itu langsung dilarikan ke Rumah Sakit Santo Antonius Pontianak. Ia mendapatkan perawatan di Ruang Markus, dan keluar pada Rabu siang.
Kenekadan Bagas mereguk racun serangga dikarenakan pertengkaran kecil dengan pacarnya, Nv (Novi), melalui Yahoo Messenger. Pertengkaran tersebut berujung pada kata putus oleh Nv.
"Pacarnya merasa sudah tidak diperhatikan lagi oleh Bagas. Selama listrik byarpet, warnet memang jarang beroperasi. Ketika Bagas mau online, eh, lampu padam. Padahal, biasanya mereka saling berhubungan setiap harinya. Itu sebabnya komunikasi mereka di dunia maya terputus," kata Darma.
Ia mengatakan, karyawannya itu sudah setahun ini berhubungan dengan Nv yang berada di Jakarta. Perkenalan mereka juga tidak disengaja, berawal dari satu grup komunitas game online IBS.
"Bermain game dalam satu grup, mengharuskan mereka saling bantu untuk menaikkan level permainan. Selain bermain, game tersebut juga bisa digunakan untuk chatting. Merasa cocok, mereka saling tukaran alamat e-mail. Hubungan semakin dekat satu sama lain melalui Yahoo Messenger," ujarnya.
Meski dekat melalui dunia maya, lanjutnya, Bagas tidak pernah bertemu dengan Nv. Ini dikarenakan, jarak yang begitu jauh. Mereka hanya berhubungan melalui sambungan telepon, game online, dan Yahoo Messenger.
Menurut Darma, mungkin ketika berkomunikasi bersama Nv pada Selasa malam lalu, Bagas sudah tidak bisa menahan diri lagi. Luapan emosi tersebut dilampiaskan dengan mereguk racun serangga.
Sebelum sempoyongan, Bagas sempat memposting status baru dalam jejaring pertemanan facebook. Status tersebut berbunyi : Terima kasih pada seluruh teman-temanku yang telah setia menemaniku.
Diposkan oleh
bloomasak
di
04:40
0
komentar
Sabtu, 09 Mei 2009
Nyambi Fotografer 1 Jam 250 dollar
BEBERAPA negara mengizinkan mahasiswa yang berasal dari negara luar untuk bekerja di luar waktu kuliahnya. Satu mahasiswa asal Pontianak yang menjalani kuliah sembari kerja adalah Rudi Sugito, yang mengenyam pendidikan di Tacoma Community College, Washington.
Mahasiswa jurusan Advertising and Public Relations ini, menganggap, pengalaman yang di peroleh saat kuliah di luar negeri lebih bervariasi. Berbeda bila mengenyam pendidikan di negara sendiri.
"Saya punya experience International friendship (pengalaman pertemanan antar negara). Education system di luar negeri juga lebih efektif. Tahu tentang apa yang tidak ada di Indonesia. Misalnya, cuaca dan peraturan yang berlaku di sini (Washington)," tuturnya kepada Tribun melalui layanan Yahoo Messenger, Rabu (6/5).
Pengalaman lain yang ia peroleh adalah bekerja sebagai fotografer untuk brosur event. Rudi juga aktif sebagai seorang fotografer jurnalis majalah kampusnya, The Challenge, yang sudah dijalani selama sembilan bulan.
Pekerjaan yang disesuaikan dengan jadwal kuliah, harus bisa diatur oleh lulusan SMA 1 Pontianak ini. Agar, tidak mengganggu kuliahnya dan mendapatkan penghasilan. Pendapatannya sebagai fotografer brosur event dalam satu jam adalah 8 USD 20 sen. Selama sepekan, waktu maksimal bekerja adalah 19 jam.
"Kalau dapat kerjaan untuk foto suatu event, saya pasang charge (biaya) berbeda. Satu jam untuk pekerjaan tersebut adalah 250 USD. Cukup lah, sebulan bisa dapet 1.000-an USD, gitu. Penghasilan tersebut bisa untuk biaya bensin dan makan saya di sini," katanya.
Banyak keuntungan yang diperolehnya sebagai fotografer jurnalis. Kesempatan untuk bertemu banyak orang dan melakukan diskusi. Selain itu, ia juga pernah bertemu dengan beberapa orang terkenal.
Menurut Rudi, ia pernah mewawancarai Edward Zwick sutradara film Blood Diamond yang diperankan oleh Leonardo Dicaprio dan Jennifer Connelly. Wawancara dilakukan saat peluncuran film terbaru Zwick berjudul Defiance pada Desember 2008. Film tersebut dibintangi oleh aktor pemeran agen 007, Daniel Craig.
"Saya juga interview dua bintang di film tersebut. Yakni Tab Benoit dan Barry. Sebagai mahasiswa, kesempatan seperti ini jarang didapat. Sayang, Daniel Craig ketika itu tidak bisa datang," ujarnya kecewa.
Demam
Ia mengatakan, dukungan dan restu dari orangtua sangat penting dalam menuntut ilmu. Dua hal itu yang membuat dirinya semakin terpacu mengikuti mata kuliah di kelas. Selain itu, syarat yang menjadi keharusan untuk dimiliki oleh semua mahasiswa yang kuliah di luar negeri adalah mandiri.
Banyak kendala yang dihadapi ketika pertama kali menginjakkan kaki di negara bagian Amerika Serikat yang berjarak sekitar 30 menit dari Kota Seattle itu. Kondisi cuaca yang berbeda dengan Indonesia, pernah menyebabkan dirinya demam.
"Menuju Washington dari Jakarta, cuaca masih panas. Ketika tiba di bandar udara Internasional Dulles, bekunya minta ampun. Ketika itu, akhir Maret saat spring quarter (musim semi). Saya awalnya cuma tahu kalau musim semi, tuh, tidak sampai mengakibatkan salju," ujarnya.
Betapa kagetnya Rudi saat mengetahui bahwa suhu di Washington ketika itu adalah tiga derajat Celcius. Bahkan, hari ke tiga kedatangannya, salju turun dan memenuhi kiri kanan badan jalan. Rendahnya suhu menyebabkan telinganya sakit. Bahkan, bibirnya pecah-pecah.
Apesnya, ia hanya membawa satu long coat dari Jakarta dan berencana untuk membeli lagi saat akhir tahun. Belum lagi kalau musim hujan tiba. Kota bisa terkena curahan air sampai tiga hingga empat hari secara terus menerus. Ia mengatakan, seiring berjalannya waktu, tubuhnya bisa menyesuaikan keadaan tersebut.
Homesick
Menetap sementara bersama keluarga daerah setempat (homestay) dijalani Rudi ketika tiba di Washington. Itu dilakukan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan peraturan yang berlaku.
Meski homestay, perasaan rindu dengan keluarga di rumah (homesick) masih mendera dirinya. Apalagi, ia masih menyesuaikan metode belajar yang diterapkan. Masa transisi tersebut secara perlahan diatasinya.
"Kalau di Indonesia, saya sering makan malam bareng keluarga. Berbeda dengan keluarga bule. Mereka jarang makan malam bareng keluarga. Kalau ingat makan bersama keluarga, suasana homesicknya datang," katanya.
Selain pengalaman homesick, Rudi juga mempunyai pengalaman lucu ketika pertama kali mengikuti perkuliahan. Kejadian lucu tersebut dialami di kelas Kalkulus, hari pertama. Ketika itu, dosen menanyakan apa restoran favorit mahasiswa di Seattle.
"Satu per satu mahasiswa lain menyebutkan nama restoran favorit mereka. Yang berkelas lah, mahal lah, dan sebagainya. Tiba giliran saya, saya kebingungan. Restoran apa ya?. Dalam pikiran saya cuma ada MC donald dan saya utarakan. Terus, mereka ketawa semua," tuturnya.
Menurutnya, saat itu ia dalam keadaan panik. Lagipula, belum pernah menginjakkan kaki di Seattle. Apapun yang terlintas di benaknya, langsung diucapkan. Otomatis, jawabannya tersebut menjadi bahan tertawaan teman sekelasnya. Terlebih, hanya ia seorang yang berasal dari Benua Asia.
FOTO : Istimewa
Diposkan oleh
bloomasak
di
14:40
0
komentar
