Sabtu, 2009 Mei 09

Nyambi Fotografer 1 Jam 250 dollar


BEBERAPA negara mengizinkan mahasiswa yang berasal dari negara luar untuk bekerja di luar waktu kuliahnya. Satu mahasiswa asal Pontianak yang menjalani kuliah sembari kerja adalah Rudi Sugito, yang mengenyam pendidikan di Tacoma Community College, Washington.

Mahasiswa jurusan Advertising and Public Relations ini, menganggap, pengalaman yang di peroleh saat kuliah di luar negeri lebih bervariasi. Berbeda bila mengenyam pendidikan di negara sendiri.
"Saya punya experience International friendship (pengalaman pertemanan antar negara). Education system di luar negeri juga lebih efektif. Tahu tentang apa yang tidak ada di Indonesia. Misalnya, cuaca dan peraturan yang berlaku di sini (Washington)," tuturnya kepada Tribun melalui layanan Yahoo Messenger, Rabu (6/5).
Pengalaman lain yang ia peroleh adalah bekerja sebagai fotografer untuk brosur event. Rudi juga aktif sebagai seorang fotografer jurnalis majalah kampusnya, The Challenge, yang sudah dijalani selama sembilan bulan.
Pekerjaan yang disesuaikan dengan jadwal kuliah, harus bisa diatur oleh lulusan SMA 1 Pontianak ini. Agar, tidak mengganggu kuliahnya dan mendapatkan penghasilan. Pendapatannya sebagai fotografer brosur event dalam satu jam adalah 8 USD 20 sen. Selama sepekan, waktu maksimal bekerja adalah 19 jam.
"Kalau dapat kerjaan untuk foto suatu event, saya pasang charge (biaya) berbeda. Satu jam untuk pekerjaan tersebut adalah 250 USD. Cukup lah, sebulan bisa dapet 1.000-an USD, gitu. Penghasilan tersebut bisa untuk biaya bensin dan makan saya di sini," katanya.
Banyak keuntungan yang diperolehnya sebagai fotografer jurnalis. Kesempatan untuk bertemu banyak orang dan melakukan diskusi. Selain itu, ia juga pernah bertemu dengan beberapa orang terkenal.
Menurut Rudi, ia pernah mewawancarai Edward Zwick sutradara film Blood Diamond yang diperankan oleh Leonardo Dicaprio dan Jennifer Connelly. Wawancara dilakukan saat peluncuran film terbaru Zwick berjudul Defiance pada Desember 2008. Film tersebut dibintangi oleh aktor pemeran agen 007, Daniel Craig.
"Saya juga interview dua bintang di film tersebut. Yakni Tab Benoit dan Barry. Sebagai mahasiswa, kesempatan seperti ini jarang didapat. Sayang, Daniel Craig ketika itu tidak bisa datang," ujarnya kecewa.

Demam
Ia mengatakan, dukungan dan restu dari orangtua sangat penting dalam menuntut ilmu. Dua hal itu yang membuat dirinya semakin terpacu mengikuti mata kuliah di kelas. Selain itu, syarat yang menjadi keharusan untuk dimiliki oleh semua mahasiswa yang kuliah di luar negeri adalah mandiri.
Banyak kendala yang dihadapi ketika pertama kali menginjakkan kaki di negara bagian Amerika Serikat yang berjarak sekitar 30 menit dari Kota Seattle itu. Kondisi cuaca yang berbeda dengan Indonesia, pernah menyebabkan dirinya demam.
"Menuju Washington dari Jakarta, cuaca masih panas. Ketika tiba di bandar udara Internasional Dulles, bekunya minta ampun. Ketika itu, akhir Maret saat spring quarter (musim semi). Saya awalnya cuma tahu kalau musim semi, tuh, tidak sampai mengakibatkan salju," ujarnya.
Betapa kagetnya Rudi saat mengetahui bahwa suhu di Washington ketika itu adalah tiga derajat Celcius. Bahkan, hari ke tiga kedatangannya, salju turun dan memenuhi kiri kanan badan jalan. Rendahnya suhu menyebabkan telinganya sakit. Bahkan, bibirnya pecah-pecah.
Apesnya, ia hanya membawa satu long coat dari Jakarta dan berencana untuk membeli lagi saat akhir tahun. Belum lagi kalau musim hujan tiba. Kota bisa terkena curahan air sampai tiga hingga empat hari secara terus menerus. Ia mengatakan, seiring berjalannya waktu, tubuhnya bisa menyesuaikan keadaan tersebut.

Homesick
Menetap sementara bersama keluarga daerah setempat (homestay) dijalani Rudi ketika tiba di Washington. Itu dilakukan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan peraturan yang berlaku.
Meski homestay, perasaan rindu dengan keluarga di rumah (homesick) masih mendera dirinya. Apalagi, ia masih menyesuaikan metode belajar yang diterapkan. Masa transisi tersebut secara perlahan diatasinya.
"Kalau di Indonesia, saya sering makan malam bareng keluarga. Berbeda dengan keluarga bule. Mereka jarang makan malam bareng keluarga. Kalau ingat makan bersama keluarga, suasana homesicknya datang," katanya.
Selain pengalaman homesick, Rudi juga mempunyai pengalaman lucu ketika pertama kali mengikuti perkuliahan. Kejadian lucu tersebut dialami di kelas Kalkulus, hari pertama. Ketika itu, dosen menanyakan apa restoran favorit mahasiswa di Seattle.
"Satu per satu mahasiswa lain menyebutkan nama restoran favorit mereka. Yang berkelas lah, mahal lah, dan sebagainya. Tiba giliran saya, saya kebingungan. Restoran apa ya?. Dalam pikiran saya cuma ada MC donald dan saya utarakan. Terus, mereka ketawa semua," tuturnya.
Menurutnya, saat itu ia dalam keadaan panik. Lagipula, belum pernah menginjakkan kaki di Seattle. Apapun yang terlintas di benaknya, langsung diucapkan. Otomatis, jawabannya tersebut menjadi bahan tertawaan teman sekelasnya. Terlebih, hanya ia seorang yang berasal dari Benua Asia.

FOTO : Istimewa

Inep Nangis di Vihara Rayakan Waisak Jauh dari Keluarga


PONTIANAK, TRIBUN - Inep, warga Lombok yang bekerja sebagai baby sitter di Pontianak, menangis di Vihara Dharma Sirijaya saat menjalankan ibadah perayaan hari raya Waisak 2553 di Jl Parit Baru II Gg Flamboyan III Sungai Raya, Sabtu (9/5).
Berdasarkan penuturannya kepada umat Budha bernama Supagat, setelah beberapa tahun berada di Pontianak, ia baru menemukan Vihara yang menggunakan Bahasa Phali dalam menjalankan doa. Karena, bahasa itulah yang digunakan di kampungnya setiap menjalankan ibadah.
"Inep diantar oleh adik kandung majikannya. Awalnya diantarkan ke vihara lain. Namun, ia merasa tidak cocok. Kemudian dikabari oleh umat di situ untuk datang ke sini. Awalnya mereka sempat tersesat. Setelah tanya-tanya, mereka sampai juga," katanya.
Menurut Supagat, Inep merasa teringat merayakan Waisak bersama keluarganya di kampung. Ketika Tribun mencoba mengkonfirmasi, Inep enggan mengatakan apapun. Sambil tersenyum, ia menghindar menuju jalan gang untuk mengikuti prosesi Pindapata.
Prosesi tersebut berupa Bikkhu berkeliling ke rumah warga membawa wadah bundar berwarna perak. Wadah tersebut digunakan untuk menerima makanan yang diberikan oleh umat. Umat secara sukarela memberikan makanan ataupun minuman kepada Bikkhu, dengan menunggu di tepi jalan.
Pemuda Theravada Indonesia Kalbar Rudi Purwanto, mengatakan, prosesi Pindapata tersebut baru dilakukan oleh umat dalam merayakan hari raya Waisak 2553 ini. Sebelumnya, prosesi tersebut tidak pernah dilakukan.
"Kita mencoba melakukan prosesi ini untuk memaknai Trisuci Waisak di Pontianak. Sama seperti yang dilakukan oleh Bhikku bersama umat Budha di tempat lainnya. Kebetulan, perayaan Waisak oleh umat Theravada dipusatkan di vihara ini," ujarnya.
Ada dua Bhikku dan seorang Sayalay yang berkeliling membawakan wadah bundar. Yakni Bikkhu Thitayanno, Bhikku Ciradhammo, dan Sayalay Hirima. Sambil berjalan pelan tanpa alas kaki, mereka mengitari rumah umat.
Satu persatu umat yang memegang makanan yang akan diberikan kepada Bhikku dan Sayalay, dengan sabar menunggu didatangi. Meski panas terik, umat sangat antusias menjalankan prosesi ini.
Bhikku Thitayanno, mengatakan, bila ada makanan lebih yang mereka terima dari umat, biasanya akan diberikan kepada masyarakat yang membutuhkan. Bhikku akan mengumpulkan dan disalurkan untuk panti asuhan atau panti jompo.
"Tapi, kalau makanan yang terkumpul sekarang, akan kita bagi-bagikan untuk umat yang hadir. Agar bisa mencicip makanan ini bersama-sama. Kita ingin agar umat bisa menikmati dan merasakan makna ketika mereka memberikan dan menerima sesuatu," tuturnya.

Berfikir Jernih
Menurut Bhikku Thitayanno, perayaan Waisak yang dirayakan umat Budha kali ini bertemakan Kehadiran Buddha Sumber Keharmonisan dan Keutuhan Bangsa. Kerukunan antar umat beragama merupakan hal yang mutlak dilakukan. Terutama mengantisipasi potensi timbulnya konflik dalam suasana perpolitikan.
"Setiap umat harus meningkatkan kualitas spiritual mereka dan tidak melakukan sesuatu yang bisa merugikan orang lain ataupun diri sendiri. Umat juga harus selalu berfikir jernih dalam setiap tingkah laku untuk menghindari perpecahan antar agama," katanya.
Berfikir jernih dapat dilakukan dengan cara meditasi. Agar, batin setiap orang merasa tenang. Selain itu, umat dianjurkan untuk selalu membaca buku-buku yang meningkatkan nilai spiritual. Sehingga, umat tahu bagaimana berlaku bijaksana dalam bertindak.
Bhikku Thitayanno, mengatakan, tujuan dari berfikir jernih adalah untuk pencerahan batin. Menurutnya, segala tindakan merupakan cermin dari kualitas batin yang dimiliki setiap individu. Bila pencerahan batin sudah tercapai, kehidupan akan menjadi tenang dan damai.
"Otomatis, perilaku keseharian mereka akan baik. Bila sudah ada kedamaian dalam batin, baru kemudian capai kesejahteraan materi. Agar materi yang diperoleh tersebut murni tanpa merugikan orang lain, setiap orang harus baik dahulu," ujarnya.

Teman Sekamar dari Kazakstan


MESKI tak pernah jauh dari orangtua sebelumnya, Vila Heffany nekad melanjutkan pendidikannya ke luar negeri. Negara pilihannya adalah Malaysia dan kuliah di APIIT/UCTI (University College of Technology and Innovation) jurusan International Business Management.

Menjalani kuliah dengan menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar, sempat menjadi kendala bagi sulung dari empat bersaudara ini. Namun, hal itu dengan cepat ia siasati dengan menyesuaikan diri pada mata kuliah tersebut.
"Kalau ngomong pakai Bahasa Indonesia atau Melayu, bagaimana dengan pelajar dari Kazakstan, Iran, dan lainnya. Mereka bakal ndak mengerti si lecture ngomongin apa," katanya kepada Tribun melalui layanan Yahoo Messenger, Selasa (5/5).
Pernah, Vila merasa kelimpungan mengikuti kelas Business law Malaysia. Menurutnya, kesulitan dirinya mengikuti kelas tersebut adalah menghafal pasal-pasal dalam hukum Malaysia beserta kasus-kasus yang terjadi.
"Bayangin saja. Hukum Indonesia saja Vila belum mengerti. Apalagi, disuruh belajar Hukum Malaysia yang lebih banyak mengacu pada Hukum Inggris. Tapi, itu cerita waktu awal masuk. Sekarang, tidak jadi masalah," katanya.
Kuliah ke luar negeri menjadi pilihan Vila setelah lulus dari SMAN 1 Pontianak pada 2008 lalu. Ia beralasan, rugi kalau tidak mengaplikasikan Bahasa Inggris yang sudah dipelajari. Apalagi, suasana belajar sangat mendukung dengan fasilitas yang lengkap.
Pertama kali menginjakkan kaki di Malaysia, semua kebutuhan selama menjalani kuliah sudah diakomodir oleh pihak kampus dan penyelenggara di Pontianak. Vila langsung dijemput dan diantar ke tempat tinggal yang berada di kompleks kampus.
"Kita langsung ditempatkan di rumah tinggal bersama dengan mahasiswa lainnya. Tetapi, tidak beramai-ramai. Satu kamar dihuni dua orang. Housemate Vila berasal dari Kazakstan. Namanya Dana Madiyeva," tuturnya.
Setelah setahun bertempat tinggal di kompleks kampus, Vila memutuskan mencari tempat tinggal yang agak murah. Menurutnya, ia menyewa apartment bersama temannya asal Indonesia, Sabah, dan Sri Lanka.
Bertemu dengan mahasiswa yang berasal dari negara lain, merupakan keuntungan tambahan yang didapatkan putri pasangan Hefni Abdul Muthalib dan Nita Kandini. Koleksi temannya tidak hanya berasal dari Indonesia. Namun, berasal dari beberapa negara.
"Mengenal mereka, otomatis mengenal kebiasaan yang mereka bawa dari negaranya. Selain itu, bisa mengenal budaya mereka seperti apa. Karena, kita biasanya saling cerita sebelum tidur," katanya.

Sistem Bagus
Belajar di luar negeri bisa lebih fokus terhadap mata kuliah yang diambil. Selain itu, kelengkapan penunjang dalam belajar sangat membantu untuk menguasai materi kuliah. Menurut Vila, hal itu berbeda dengan penyelenggara yang ada di Indonesia.
"Sistem belajar di luar negeri lebih jelas. Kita belajar apa yang kita mau. Artinya, mata kuliah yang dipelajari sesuai dengan jurusan. Menamatkan kuliah juga bisa lebih cepat. Tiga tahumn bisa dapat gelar Strata-1," tuturnya.
Banyak kegiatan setelah kuliah yang bisa diikuti oleh mahasiswa. Antara lain tenis lapangan, bebas akses internet, dan lainnya. Bahkan, mahasiswa juga dibebaskan untuk mengikuti organisasi sesuai dengan keinginan.
Vila mengatakan, pengalaman dan wawasan bagi mahasiswa yang kuliah di luar negeri lebih luas. Meski begitu, tidak melunturkan adat budaya dari negara asal. Menurutnya, bersama mahasiswa asal Indonesia pada Bulan Juni ada kegiatan Musical Teather.
"Kita menunjukkan tarian atau musik dari daerah masing-masing. Selain mengingat budaya asal, ajang ini juga untuk bersilaturahmi. Sesama warga negara Indonesia, kita harus saling support dan mengingatkan," ujarnya. (arthurio oktavianus)


Tips Kuliah di Luar Negeri :
1. Anggap sesama mahasiswa dari negara lain sebagai saudara yang sama-sama merantau
2. Jangan malu untuk duluan menyapa teman
3. Niat untuk kuliah harus kuat, bukan sekadar prestise mencicip kuliah di luar negeri.
4. Rajin bertanya dan mengulang mata kuliah, agar cepat menyesuaikan metode belajar

FOTO : Istimewa