bloomasak

a traveler, a backpacker, love food

Senin, 11 Februari 2013

Surga Tersembunyi Bernama Riam Berawatn

1 komentar :


Curahan air deras meluncur di antara bebatuan alam membentuk dua cabang. Bertinggi sekitar 75 meter, air terjun yang jatuh sangat indah dan membuat takjub semua mata yang melihat. Pesona alami Riam Berawatn ibarat surga yang tersembunyi di tepi lahan sawit yang terus menggerus. Pasrah sendirian mempertahankan hijau pepohonan, air yang jernih, dan pesona hutan tropis di tanah Borneo.


Kisah perjalanan menuju Riam Berawatn diawali dengan kejutan-kejutan. Dimulai dengan pesan singkat adik tingkat waktu kuliah di fakultas biologi (sekarang teknobiologi) UAJY, Rudith, yang menanyakan alamat rumah di Toho, Kalimantan Barat. Awalnya saya mengira si wedhus, panggilan akrab saya pada bocah satu itu, akan mengirimkan surat undangan pernikahan. Mengingat, si wedhus merupakan penduduk asli kota pelajar, Jogjakarta. Pesan balasan saya sertakan alamat rumah lengkap, pada Rabu (16/01, 2013) lalu.

Namun, kecurigaan saya meruncing bahwa si wedhus sedang berada di Kalbar, saat pesan balasan dari itu bocah menanyakan apakah saya ada di rumah sekitar pukul 20.00 WIB. Kecurigaan yang terbukti benar ketika Rudith mengirimkan pesan : “aku sudah di depan pemotongan ayam, dekat jembatan”, akibat bertanya pada tetangga yang tidak mengenal nama “arthur”. Nama ‘formal’ itu hanya diketahui oleh teman kuliah dan kantor. Sedangkan nama kampung pemberian nenek yang dikenal oleh tetangga dan penduduk Toho adalah “PEKI”. Sangat tidak ada kena-mengena dengan nama lengkap keren saya : “Arthurio Oktavianus Arthadiputra”. Jangan tanya saya akan arti dan mengapa diberi nama kampung seperti itu. Karena, saya pun tidak tahu asal muasalnya. Silakan tanyakan pada nenek saya yang kadang lupa apakah saya PEKI atau DECKY, abang saya nomor dua.

Ternyata, si wedhus sudah dua hari berada di Kalbar. Ia bersama seorang rekan bernama Aji yang bekerja untuk satu yayasan sosial yang berpusat di Jogjakarta, dan lokasi berkaryanya berada di Karangan, kecamatan urutan ketiga di ujung kampung saya. Bidang sosial yang mereka kerjakan terfokuskan pada edukasi untuk siswa sekolah dasar dan pemberdayaan masyarakat. Kontrak kerja widhus di yayasan tersebut hingga Juni 2013. Finally, pertemuan itu berbuntut pada kata sepakat berupa adventure ke Bengkayang dan memberikan kejutan kecil untuk teman kuliah bernama Rio, yang berkerja di sana. Yeah, adventure itu akan dilakukan pekan depan, saat mereka libur.

Motorcycle Adventure

Perjalanan pun dimulai Sabtu (26/1, 2013), sore. Rencana awal akan berangkat pagi dari Toho menuju Karangan. Namun, batal karena si bungsu ada keperluan mendadak ke Pontianak, dan melaju pakai motor pagi-pagi buta. Apa mau dikata, berbalas pesan singkat di telepon genggam pun sambung menyambung menanya kabar : “jadi ndak?”. Hingga pukul 15.00 WIB, si bungsu belum juga memberi kabar akan pulang. Keputusan akhir adalah menggunakan jet cooled menuju Karangan.

Merayap pelan dengan pasti, jet cooled menjadi pahlawan kesorean yang mengantar saya berpindah tempat dari Toho ke Karangan. Tiba di rumah kontrakan Rudith dan Aji di simpang Bongol, hanya singgah tak lama. Manusia berdua itu sudah lama menanti dan langsung packing pakaian ke dalam backpack. Selanjutnya, meluncur ke pasar untuk menjemput satu rekan team mereka bernama Ella di rumah samping gereja Katolik Karangan.

Cewek satu itu mengira batal berangkat. Ia ternyata sudah leyeh-leyeh manis di tempat tidur, di rumah tantenya itu. Sukses terbangun dengan mata yang masih sipit, basa-basi sebentar dengan tantenya, perjalanan dilanjutkan kembali. Tapi, jet cooled harus dititipkan dan berganti dengan motor bebek Ella yang siap melaju, membelah jalan menjelang malam yang ditempuh sekitar 2 jam.

Empat personil dengan posisi Aji-Ella dan Rudith-Saya, menyusuri kelokan demi kelokan jalan yang kebanyakan didominasi pemandangan pepohonan hutan. Sepanjang perjalanan, saya mengabari Rio melalui pesan singkat bahwa sudah dalam perjalanan menuju Bengkayang. Tentunya, tanpa memberitahu bahwa ada Rudith and team yang turut serta.

Surprise

Gelap menjadi penanda malam yang tak bisa dielak saat memasuki Kota Bengkayang. Lokasi janji temu dengan Rio disepakati di warung kopi samping toko seluler, jalan keluar pasar tengah. Kami sengaja memperlambat pertemuan dengan mengisi kampung tengah terlebih dahulu, dan membiarkan Rio menunggu sejenak.

Lokasi kuliner berada di warung makan chinesse food, ruko nomor dua setelah tikungan pertama sebelah kiri dari jembatan pasar. Pilihan diamini bersama setelah kami tidak menemukan warung makan chinesse food lain yang buka, selain warung makan padang. Nasi goreng dan nasi cap cay menjadi menu makan malam kami di warung itu. Sambil menunggu makanan, ternyata Rio mengirim pesan pada Rudith yang mengabari jika saya berkunjung ke Bengkayang, dan dirinya sedang menunggu di warung kopi. Pesan singkat yang awalnya bermaksud sombong bakal reunian kecil. Padahal, Rio belum tahu kalau sedang dikerjai.

Makanan tersaji tak begitu lama. Rasa masakan lumayan enak, namun tidak begitu delicious. Daging dalam makanan masih terasa alot dan sulit dikunyah. Berhubung lapar, cara langsung telan menjadi solusi utama dari pada harus di buang. Karena, harga seporsi makanan lumayan mahal. Berkisar 17 – 19 ribu perak, belum termasuk harga segelas es teh.


Beres membayar makanan, kami langsung menuju lokasi pertemuan dengan Rio. Dan…., hula….saat motor kami sudah sampai di depan warung kopi, Rio cuma bisa bengong kaget sambil berkata : “Lha, kan barusan aku sms situ (Rudith). Kok bisa ada di sini? Aku kira situ di Jogja. Bajingan!” huahahaha….puas banget berhasil mengejutkan manusia satu itu!!!!

Acara dilanjutkan ngupi-ngupi di pinggir jalan sembari kembali mengungkit cerita konyol masa kuliah. Tentunya, sambil nelpon beberapa teman akrab dengan maksud untuk membuat mereka iri akan pertemuan kami. Malam semakin larut, kopi habis, speak-speak sudah berujung pada kesepakatan untuk adventure bareng menuju Riam Berawatn pada Minggu (27/1, 2013). Air terjun yang belum pernah kami semua kunjungi sebelumnya. Acara perpisahan dilakukan dengan acungan jari tengah karena Rio harus pulang ke rumah tunangannya di Sentagi, sedangkan kami harus melipir tak jauh ke jalan arah Singkawang, ke rumah nenek di Desa Ketiat, Sungai Raya.

Tanah Merah Hingga Hiking Route

What is the real adventure? Bagi saya adalah saat kita belum mengetahui lokasi yang dituju, seperti apa medannya, seberapa jauhnya, jalanan rusak, dan sport jantung. Namun, hasil akhir adalah surga! Adventure Riam Berawatn pun dimulai. Berbekal sedikit informasi mengenai lokasi, saya menjadi penunjuk jalan. Terus terang, saya juga buta tentang riam itu. Keinginan besar untuk melihat secara langsung keindahan Riam Berawatn bermula dari postingan foto di fesbuk dari akun teman. Keelokan riam membuat saya terus mengompori anggota team adventure itu untuk maju terus pantang mundur. Meski buta lokasi, setidaknya masih bisa bertanya pada penduduk agar menghindari akibat dari peribahasa “Malu bertanya sesat di jalan”.

Motor dipacu kencang dari Bengkayang menuju arah Seluas. Menurut penduduk setempat yang kami tanyai, simpang lokasi Riam masih berjarak sekitar 10 kilometer dari pasar Sanggau Ledo. Tepat di pinggir jalan sebelah kanan, ada papan nama dari besi sebagai penanda jalan masuk menuju riam.

Jalanan aspal mulus berubah menjadi batu kasar yang melapisi jalan tanah. Pemandangan di tepi jalan berupa kebun masyarakat yang sangat subur dan hijau. Pegunungan yang berjejer juga menjadi pelengkap pesona keindahan sepanjang perjalanan. Sempurna!


Merasa sudah jauh berjalan namun belum juga ada tanda-tanda keberadaan Riam, kami berhenti di satu rumah penduduk untuk bertanya. Hasilnya? Perjalanan masih jauh. Sekitar 7 kilometer perjalanan lagi yang harus ditempuh. Bonus kagetnya adalah : jalan berupa tanah merah dan menembus lokasi kebun sawit. Setelah itu, musti jalan kaki mengikuti hiking route. What the eF?

Tekad sudah bulat. Semua sepakat untuk terus melanjutkan perjalanan. Lagi pula, nanggung jika harus mundur. Sudah terlanjur menceburkan diri melewati jalanan berbatu. Setelah mengisi bensin di kios kampung terdekat yang diberi bonus ‘peta buta’ dari si penjual, kuda besi meraung di jalan berupa tanah merah.


The real motorcycle adventure dimulai ketika harus melewati dua jembatan kayu yang sedikit membuat ngeri. Plus, beberapa jalan yang becek dan membuat motor amblas. Plus lagi kiri kanan tanaman sawit yang membuat ‘peta buta’ oleh-oleh dari penjual bensin terlihat tidak berguna sama sekali. Tidak ada petunjuk apapun selain tanaman sawit. Beuh!

Beruntung, ada seorang penduduk yang mengendarai motor dan berpapasan di jalan, yang kami mohon berhenti sebentar untuk bertanya. Penduduk yang ternyata bernama Pak Kompot itu dengan murah hati memberitahu letak air terjun dan bersedia mengantarkan kami hingga lokasi pemberhentian menyimpan motor, yang selanjutnya harus berjalan kaki.


Jalur hiking itu berupa jalan setapak yang biasanya dilalui oleh penduduk setempat untuk berkebun atau berladang. Bermodalkan insting adventure dan mana duli, kami menapaki jalan setelah mengucapkan terima kasih pada Pak Kompot. Metode mematahkan batang tanaman perdu di setiap lintasan, dilakukan sebagai penanda jalan agar tidak tersesat. Hutan, padang ilalang, hingga mentok di jurang dengan bunyi debur air memberi sinyal bahwa air terjun sudah dekat.

Pepohonan tinggi dan masih terjaga dengan baik membuat perjalanan kami sangat teduh. Meski nafas mulai tersengal-sengal, tak membuat langkah kaki terhenti. Jalan menunjukkan rute berkelok dan menurun diantara bebatuan besar yang ditumbuhi pohon rimbun. Hingga, tampak aliran air jernih berkilau tertimpa sinar matahari. Sangat indah!


Kata “amazing” terucap guna mengagumi pemandangan menakjubkan di depan mata. Walau lelah, pesona air terjun Riam Berawatn mampu menghapus itu semua. Tidak ada sampah di situ yang menandakan bahwa lokasi air terjun sangat jarang dikunjungi oleh orang-orang dari luar daerah. Kami merasa sangat beruntung bisa melihat secara langsung pesona indah ciptaan sang Kuasa. Suatu adventure yang berujung surga!

Sabtu, 02 Februari 2013

Cheap Traveling Ke Kebun Durian

Tidak ada komentar :


Ibarat pepatah banyak jalan menuju Roma, banyak cara pula untuk melakukan traveling saat kondisi bokek. Meski tak bisa ‘cuci mata’ melihat keindahan kota lain atau menyusuri jalan mancanegara, setidaknya bisa memandang dan menghirup aroma segar tumbuhan hijau. Yeah, cheap traveling ala saya adalah dengan bermalam di pondok kebun durian kakek, di bukit Pak Ona.


Perjalanan menuju bukit dilakukan setelah maghrib. Berbekal senter sebagai penerang untuk menembus malam, langkah kaki menapak laju jalanan menanjak menuju bukit, dari kampung Pak Ona. Om Jamin, tante Lia, saya, dan sepupu bernama Joe, tak banyak bicara. Jarak pandang yang terbatas dan jalan yang curam, harus mendapat perhatian penuh. Salah menjejakkan kaki, bisa berguling sampai ke bawah. Sangat berisiko. Lagi pula, tanaman hutan yang cukup tinggi dan sisa batang pohon besar yang tumbang melintang di jalan, bertebaran sepanjang perjalanan.

Tak banyak yang bisa dilihat dalam perjalanan malam. Hanya bunyi hewan hutan seperti jangkrik dan kodok yang menjadi musik alam menemani langkah kaki. Sesekali, aroma buah hutan seperti asam dan Cempedak yang berbau harum, terhidu indera penciuman. Jalur hiking melelahkan menuju pondok durian berakhir sekitar 3 jam perjalanan, saat aroma buah Durian mendominasi penciuman. Pondok yang dibangun dari kayu dan bambu, terlihat dalam bias keremangan lampu senter.


Pondok sederhana itu menjadi tempat berteduh sambil menunggu buah Durian yang jatuh dari pohonnya. Atap dan dinding pondok dibuat menggunakan helaian daun hutan yang dianyam menyilang. Tungku api untuk memasak dan menghangatkan badan, dibuat dari susunan batu. Usai rehat sejenak, om Jamin memasak air untuk membuat kopi.

Sambil menunggu air mendidih, Joe berjalan sekitar pohon durian untuk mencari buah yang jatuh. Beruntung, ada 6 buah yang ia temukan dan menjadi santapan kami. Menurut om Jamin, ada sekitar 20 pohon durian yang ada di situ. Namun, hanya 4 pohon saja yang masih banyak buahnya. Pohon lain sudah habis buahnya sekitar November 2012 lalu.


Air mendidih dan seduhan kopi tersaji di pondok. Perpaduan antara kopi dan buah durian, menjadi santapan klop mengusir dingin. Om Jamin bercerita, hanya pohon durian milik kakek yang tersisa di bukit itu. Sedangkan milik penduduk lain, sudah ditebang untuk dijual dan dijadikan bahan bangunan, saat penebangan marak diawal tahun 2000-an. Kata menyesal memang selalu datang terlambat. Saat durian sedang musim, penduduk yang dahulu menebang pohon duriannya tidak bisa merasakan nikmatnya buah tersebut.

Beberapa kali terdengar bunyi durian jatuh disela-sela om Jamin bercerita. Bunyi tersebut sangat khas. Terutama bunyi gesekan buah dengan dedaunan sebelum membentur tanah. Joe bergegas menghampiri asal bunyi gedebuk, saat buah durian ‘mencium’ tanah. Tangannya menjinjing buah durian, saat kembali ke pondok.

Saat jam menunjukkan pukul 24.00 malam, om Jamin menyuruh kami tidur. Penerang hanya berupa lampu minyak tanah dari bekas botol minuman. Dingin ditemani bunyi hewan hutan malam dan buah durian yang jatuh, menjadi musik pengiring beristirahat.

Pohon Besar Rindang dan Sumber Air

Udara yang teramat dingin membuat saya terjaga dari tidur di pagi hari. Matahari masih belum menampakkan wujudnya di langit yang bersih. Namun, pemandangan indah berupa pepohonan besar yang rindang dan tinggi sangat memesona. Suatu kekayaan tak ternilai harganya untuk hutan tropis yang ada di bumi Borneo. Ternyata, om Jamin sudah terjaga lebih dulu. Ia langsung memasak air untuk membuat kopi.


Usai menghabiskan kopi di gelas, ia mengajak saya menuju sumber air yang ada di bukit itu. Ajakan yang tidak saya tolak untuk melihat-lihat keindahan hutan. Sambil membawa jeriken kecil, kami menyusuri jalan hutan yang menurun. Sekitar 20 menit perjalanan, lokasi sumber air sudah kami datangi. Sumber air itu tak mengalir banyak dan ditampung menggunaan sebilah bambu yang dibolongi bagian tengah ruasnya. Selain untuk diambil airnya untuk minum, mandi juga dilakukan di situ. Usai bersih-bersih dan menampung air, kami kembali berjalan menuju pondok.


Saat melewati pohon durian, kami mengawasi sekitar untuk melihat buah yang jatuh saat terlelap tidur. Ternyata, banyak juga buah yang tergolek di antara semak. Ketika dikumpulkan, sekitar 30 buah durian yang kami temukan. Sebagai orang yang sangat gemar buah durian, beberapa diantaranya menjadi santapan saya. Daging buah durian terasa lebih manis dan nikmat saat baru jatuh. Sambil menyantap durian, Tante Lia menjadi koki dengan mengolah mi instan yang dicampur kacang panjang dan wortel. Hanya berbumbu garam dan cabai, masakan ala kadarnya itu menjadi teman nasi yang sangat nikmat.


Sesi foto-foto di sekitar pondok menjadi agenda kami setelah sarapan. Sedangkan om Jamin sibuk menyusun buah durian yang tersisa di dalam tangkin (anyaman bambu atau rotan yang digunakan untuk wadah menyimpan barang). Ia turun pulang duluan sambil membawa buah durian, yang kami susul saat matahari sudah tinggi.


Ternyata, traveling ke pondok durian sangat menyenangkan. Hanya bermodal dana sedikit, bisa untuk menikmati pesona pepohonan tinggi dan menghirup segar udara hutan tropis Borneo. Tertarik untuk mencoba? Ayo ikut saya saat musim buah durian berikutnya.

Selasa, 15 Januari 2013

Ribetnya Buat Video Journey @IniBaruHidup

Tidak ada komentar :
Awal Desember 2012, mata saya terpaku pada satu iklan di Facebook yang mengabarkan diadakannya kontes Nescafe Journey 2, dimana juaranya bisa keliling Indonesia. Sebagai penggila traveling dan senang akan tantangan dengan mengunjungi tempat baru, iklan tersebut saya klik dan ikuti, tentunya dengan semangat ’45 yang membara. Setelah membaca aturan dan mendaftar sebagai peserta kontes, saya memilih Nicholas Saputra sebagai aspirer untuk menjalankan misi exploring youth culture. Kenapa? Bagi saya, budaya adalah cermin Indonesia yang indah, subur, ramah, dan luas. Sehingga, mengenal anekaragam budaya yang tersebar seantero Indonesia ibarat mencoba mengenal diri sendiri. Mengenal lebih dekat kepala, leher, badan, tangan, hingga kaki. Membayangkan semua anggota tubuh itu seperti budaya yang ada di Indonesia, yang menjadi satu membentuk tubuh berwujud saya.

Alasan lain saya tidak memilih dua aspirer lain adalah, misi ‘save shark’ yang diberi Rayani Djangkaru sangat sulit untuk dilakukan. Terbatasnya waktu dan keadaan saya yang tinggal di desa, sangat sulit untuk mengubek-ubek Kalimantan Barat dalam mencari semua hal yang berkaitan dengan tema. Kecuali, browsing internet, yang sama saja artinya dengan tidak menjalankan misi. Sedangkan misi ‘meeting new people’ yang diberi Imam Darto, sudah sering saya lakukan. Contohnya, sebagai wedding fotografer amatiran pemula tingkat kampung, saya terkadang berbincang dan memotret orang yang belum saya kenal sebelumnya. 

Misi exploring youth culture yang saya sertakan dalam kontes Nescafe Journey 2 adalah tulisan serta foto budaya Nyempaok dan Perahu Tambe. Nyempaok adalah mencari ikan di sungai atau lahan berair yang mengering secara beramai-ramai, yang dilakukan oleh anak-anak hingga orang tua, penduduk bersuku Dayak Bakati. Momen ini saya temui saat berkunjung ke rumah nenek di Bengkayang. Sedangkan Perahu Tambe adalah budaya Dayak Tamambaloh di Kapuas Hulu, yang merupakan acara adat penyambutan bagi anggota keluarga baru dalam pernikahan, atau penyambutan bagi tamu baru yang datang ke kampung tersebut.

Dua foto dan tulisan tersebut berujung pada ‘email cinta’ yang baru saya lihat pada 14 Desember 2012, malam. Email yang mengabarkan bahwa saya lolos sebagai satu dari 60 orang Sobat Journey Nescafe aka @IniBaruHidup, yang masuk ke tahap berikutnya, untuk membuat video dengan durasi 5 menit yang diunggah di Youtube. Tugas yang membuat saya puyeng tujuh keliling karena deadline hingga 17 Desember 2012, pukul 18.00 WIB. Aaarrrrggghhhh….siapa yang bisa bantu shooting video untuk saya di kampung ini????

Menuju Menjalin

‘tunggu video saya’, itu yang saya posting di status Facebook. Meski bagaimana pun, usaha untuk membuat video musti terlaksana. Bayangan akan traveling keliling Indonesia sudah membentang di depan mata, bak wanita cantik minta dipinang. Video harus siap sebelum deadline! Permasalahannya adalah siapa yang mau bantu shooting, pakai alat apa, dan konsep videonya apa? HUH, gak ada tugas yang lebih gampang po? Nulis artikel, misalnya! 

Pusing mikir, akhirnya dapat pula solusinya. Pas ngobrol dengan si bontot, tu adik tersayang mengajukan pacarnya untuk bantu-bantu. Kebetulan, pacar si bontot punya handycam. Tanpa membuang waktu, pacar si bontot yang menetap di kampung ujung yang berbeda kecamatan dengan saya, langsung dihubungi. Hasilnya? Janjian ketemuan tanggal 15 Desember 2012 di kampung pacar si bontot, untuk ngomongin konsep video. Really love you, God!

Sabtu siang yang cerah tertanggal 15 Desember 2012. Motor Jet cooled meluncur pelan dari jalanan Pasar Toho menuju Menjalin. Kamera yang baru dibeli 5 bulan lalu, dibawa serta untuk antisipasi bila diperlukan. Dalam benak sudah ditanam niat : hari ini video harus kelar! Mengingat harus diunggah di Youtube. Sekitar satu jam perjalanan, Jet Cooled berhenti di depan satu bangunan, dekat jejeran jeriken bensin eceran. Bangunan semen yang tak terlalu luas itu memang menjadi bangunan untuk menjual jasa ‘ada banyak’. Maklum, di kampung. Satu tempat yang menawarkan jasa pengetikan, ngeprint, foto, hingga menjual bunga hasil kerajinan tangan dan bensin. Yordan, pacar si bontot, terlihat sedang mengetik di depan laptopnya. Melihat calon abang ipar datang, ia menghentikan ketikan dan mengambil bangku plastik dari ruang samping. Usai mempersilakan duduk, ia membuat segelas kopi. 

“Konsepnya apa, bang?”

Pertanyaan Yordan kujawab dengan bahu yang terangkat dan kedua tangan terbuka ke atas. Sama sekali belum tahu konsep dari video tersebut. Saya hanya membayangkan, ia meng-shoot saya di lokasi betang (rumah panjang) Menjalin. Itu saja.

“Siap, selesai ngopi, kita berangkat,” katanya.


Making the video

Sambil ngopi, Yordan mengemaskan handycam dalam tas. Saat saya menyeruput cairan kopi terakhir, ia menutup pintu lipat kayu tokonya. Kami menuju betang yang berjarak sekitar 15 menit berkendara dari toko tersebut. Jet Cooled masih menjadi partner setia menuju lokasi itu. 

Tepat di lapangan bola, motor yang kami kendarai berbelok menuju jalan ke betang. Rumah panjang suku Dayak yang dibangun sejak 1995 untuk acara adat Naik Dango itu, masih berdiri megah dan terawat. Sayang, sampah plastik yang bertebaran di belakang betang, mengganggu keindahan pemandangan.

Ini merupakan pertama kalinya saya mengunjungi betang di Menjalin. Beruntung, pintu betang terbuka semua karena ada kegiatan pemilihan Dewan Adat Dayak di Menjalin, sehingga saya bisa melihat-lihat isi di dalam bangunan. Dan hulaaaa….saya bertemu Pak Camat yang dulunya adalah guru SMA saya. Ngobrol-ngobrol sejenak dengan beliau, sambil menceritakan maksud tujuan berada di betang. Jangan sampai, beliau dan orang yang ada di betang sampai ‘salah mengira’ melihat kami membawa handycam.


Pengambilan gambar pun dimulai saat Pak Camat pamit pulang. Bagian dalam dan luar betang menjadi latar saya dalam video. Beberapa kali harus take ulang karena saya tak mampu menahan tawa, lupa apa yang mau diomongkan, dan gangguan dari pengurus betang yang sedang beres-beres ruangan. BAH!. Karena sudah sore, shooting dihentikan dan akan dilanjutkan lagi esok hari, di lokasi persawahan dan hutan yang ada di desa Pak Ona, Toho.

Jujur, selama perjalanan pulang dari Menjalin-Toho, saya khawatir akan nasib video tersebut. Besok hari Minggu, yang berarti satu hari sebelum batas terakhir pengiriman. Shooting belum kelar. Belum lagi ditambah untuk mengedit. Kekhawatiran utama adalah listrik mati. Laptop si Yordan error baterainya. Jika listrik mati, tu laptop ikutan juga. Maklum, nyawa tu laptop seiya sekata dengan nyawa si listrik. Beuhhhhh… Sangking kepikiran terus, saya pun sukses tidak tidur semalaman. Viva kopi!!!!!

Saat nyokap dan si bontot ke gereja pukul 09.00 WIB, saya pun berkelana menuju desa Pak Ona. Kebetulan si Yordan udah ngetem di rumah pamannya di sana, setelah malam mingguan dengan si bontot. Tanpa banyak membuang waktu, kami berjalan kaki menuju persawahan yang harus melewati rimbunan hutan dan kebun durian penduduk setempat. Beruntung hari cerah. Sehingga, proses pengambilan gambar pun tidak terganggu. Pukul 13.15 WIB, kami sudah menyelesaikan shooting.

Kerut kening pun dimulai saat proses editing di rumah paman si Yordan. Bertemankan kopi dan sebaskom buah rambutan, pilah-pilih gambar dan pencocokan lagu membuat kepala saya mulai terasa nyut-nyut. Penderitaan yang komplit. Bukan perkara mudah untuk mengedit video bagi saya dan Yordan yang masih amatir. Proses kerut kening itu pun selesai pukul 21.00 WIB, dimana saya langsung pamit untuk mengunggah ke Youtube di rumah, menggunakan bantuan notebook dan modem. Sekitar pukul 22.00 WIB, video saya sudah terpasang di Youtube dan bisa tidur pulas di hari Senin tanpa memikul beban khawatir. :D Finally, I Am Not Win the Contest

Bagi saya, video tersebut bisa menjadi kado natal yang menanti pengumuman pemenangnya di tanggal 7 Januari 2013. Usaha ‘merayu’ teman-teman di facebook untuk memberi rekomendasi, terus dilakukan hingga sehari sebelum pengumaman. Tentunya sesuai ‘anjuran’ dari aplikasi @IniBaruHidup.

Dag dig dug duer dalam hati menanti pengumuman pemenang, yang dengan harap-harap cemas saya lihat secara perlahan di halaman Nescafe ID di facebook. Dan akhirnya, saya tidak menang dalam kontes tersebut. Tapi, setidaknya saya sudah berusaha untuk menang, walau tidak menang. Hingga, saya selalu risau dan mupeng tiap kali membuka aplikasi itu dari akun facebook saya. 

Ya, finally I am not win the contest. How poor i am. :D

Selasa, 18 Desember 2012

Cucur Mawar, Petuah dan Restu untuk Pengantin

Tidak ada komentar :
Menjadi wedding photographer tingkat kampung yang baru dijalani, membuat saya bisa mengabadikan momen budaya dan adat istiadat, yang mungkin saat ini jarang sekali dilakukan oleh penduduk kota yang hidup lebih modern. Satu momen itu adalah cucur mawar. Suatu budaya suku Melayu yang ada di Kalimantan Barat, yang saya abadikan pada Sabtu (8/12) lalu.


Sejatinya, cucur mawar adalah petuah, doa, dan restu dari orang-orang yang dituakan dalam keluarga, kepada pasangan pengantin yang baru saja mengikat janji sehidup semati dalam ijab kabul.

Prosesi cucur mawar dilakukan dengan sederhana dan khidmat, dimana pasangan pengantin menerima curahan air wewangian sari bunga dan taburan osengan beras baru.

Seraya mencurahkan air wewangian dan taburan osengan beras baru itu, para orang tua yang berasal dari keluarga kedua mempelai memberikan petuah tentang hidup, doa, dan restu tulus dalam menerima anggota keluarga yang baru.

Usai menerima petuah, doa, dan restu, pasangan pengantin melakukan sungkem, sebagai tanda bahwa mereka menerima sepenuhnya petuah-petuah bijak yang diberikan kepada mereka, dan siap mengarungi bahtera rumahtangga.

Momen ini sangat menarik bagi saya, dimana budaya dan adat istiadat yang tertuang dalam acara cucur mawar itu penuh dengan makna hidup akan tali silaturahmi dan cinta. Suatu cinta yang menggabungkan dua keluarga berbeda, menjadi satu ikatan kekerabatan yang sangat erat.

Senin, 31 Oktober 2011

Randayan, Pesona Biru Pulau Pribadi

Tidak ada komentar :
Air laut yang biru, hamparan awan dan pasir putih, semilir angin pantai, dan pulau pribadi! Menu komplit yang tidak ingin Anda lewatkan, bukan? Sensasi yang bisa Anda dapatkan di pulau pribadi bernama Randayan. Sensasi tersendiri saat menikmati suguhan keindahan panorama pulau yang teduh dan tenang, yang membuat Anda merasa sebagai pemiliknya.

Kapal motor berayun di atas gelombang air laut yang biru, Sabtu (6/8). Putaran kipas mesinnya meninggalkan jejak berupa buih di bagian buritan. Buih seperti air sabun untuk bermain gelembung udara, yang sesekali dilintasi serombongan ikan laut berwarna-warni yang berenang di permukaan air.


Angin dengan aroma yang khas menjadi teman perjalanan membelah laut sekitar 1,5 jam atau 38 kilometer dari dermaga Teluk Suak, serta melewati dua pulau, Penata dan Lemukutan. Bila angin laut bersahabat, penduduk pulau yang rata-rata bermatapencaharian sebagai nelayan akan mencari ikan atau menuju bagan untuk mempersiapkan jala. Bagan-bagan itu dibangun para nelayan di pesisir pantai.


Bagan adalah pondok kecil beratap daun yang dibangun dari batang kayu Nibung. Pondok ini digunakan nelayan untuk menjala ikan, yang biasanya dilakukan di malam hari dengan bantuan penerangan sinar lampu templok atau senter. Dari dalam bagan, nelayan mengulurkan jala yang diikat seutas tali di setiap sisinya. Tali-tali tersebut disimpul menjadi satu agar mudah ditarik saat jala terisi ikan.

Bila dilihat dari jauh, bagan tampak menyerupai piring terbang di atas permukaan air laut atau laba-laba air raksasa yang sedang diam dan berkelompok. Saat malam hari, lampu dari bagan tampak seperti liukan sinar yang menari tertiup angin. Suatu pemandangan menakjubkan akan lukisan nyata kehidupan khas para nelayan di kanvas alam pesisir pulau.

Para nelayan sangat ramah kepada pengunjung. Bila berpapasan dengan para nelayan, mereka melambaikan tangan dan tersenyum kepada penumpang kapal motor. Bahkan, bila hasil ikan melimpah, nelayan akan menawarkan ikan segar dengan harga murah, untuk dipanggang sambil duduk-duduk di pasir pantai.

Pasir Karang Putih

Saat tiba di Pulau Randayan yang termasuk dalam wilayah Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, Anda disambut dengan stegher kayu dan lambaian daun kelapa yang tertiup angin. Tiket masuk ke pulau dengan luas sekitar 487 hectare ini sebesar Rp 10 ribu per orang. Pulau ini dilengkapi pula dengan lima villa dan satu bangunan penginapan family yang menghadap ke laut.


Pantai di pulau Randayan memiliki pasir karang putih di sepanjang pantai. Aktivitas yang bisa dilakukan di pantai adalah snorkeling, diving, dan mengikuti irama ombak dengan canoe. Pengelola juga mengizinkan pengunjung yang ingin berkemah, dengan memasang tenda di lapangan dekat bibir pantai. Keindahan dunia bawah air Pulau Randayan sangatlah menakjubkan. Warna-warni terumbu karang dipenuhi dengan beraneka ragam jenis ikan laut yang berenang lincah dijernihnya air. Tidak heran bila pulau ini dijadikan tujuan utama para pencinta selam yang ingin menikmati kekayaan panorama bawah laut di Kalimantan Barat.

Ombak pantai yang tidak begitu keras sangat aman untuk bermain-main menggunakan canoe. Bila terasa letih, Anda bisa beristirahat sejenak di dipan santai dari kayu, di bawah pohon ketapang yang rindang. Angin pantai yang berhembus sepoi-sepoi, birunya air laut nan jernih, dan hijaunya pemandangan dari Pulau Lemukutan, dapat mengajak Anda beristirahat sejenak ke alam mimpi.


30 Menit Keliling Pulau

Bosan bermain-main di air dan ingin melakukan kegiatan seru di sepanjang pantai? Coba saja jalur trekking. Jalan batu pantai hitam mengkilap yang disemen akan menemani langkah kaki Anda mengelilingi Pulau Randayan dengan waktu tempuh sekitar 30 menit.

Tak banyak panorama indah yang bisa dinikmati di jalur trekking. Hanya tumbuhan perdu khas daerah pantai, barisan pohon kelapa, dan batu-batu besar penahan debur ombak. Karena, jalur trekking baru saja dibuat dan masih setengah jalan. Sisa jalan lain harus ditempuh dengan menyusuri bebatuan besar.


Namun, ada batu besar nan luas yang disebut batu rakit dan menjorok ke bibir pantai. Bentuk rakit pada batu merupakan bentukan alami dari hempasan ombak yang mengenai bagian tepi batu, sehingga tampak seperti rakit yang sedang ditambatkan di tepi pantai. Dinding batu membentuk lapisan-lapisan dengan jarak antaranya berkisar beberapa centimeter saja.

Walau hanya hamparan batu, lokasi ini sangat tepat untuk menikmati sunset. Terlebih saat matahari berwarna jingga keperakan dan secara perlahan menghilang di batas cakrawala. Ukuran matahari yang besar dan pantulan warna di cermin permukaan air akan membuat Anda berdecak kagum dengan penuh syukur karena telah menyaksikan kreasi Pencipta yang begitu sempurna.


Mancing, euy

Anda juga bisa melampiaskan hasrat memancing di laut biru nan luas saat traveling ke Pulau Randayan. Namun, bila Anda sudah merencanakan memancing dalam agenda traveling ke pulau pribadi ini, harus menyiapkan dana lebih untuk menyewa kapal motor yang akan mengantar Anda menuju lokasi ditemukannya banyak ikan berdasarkan pengalaman para nelayan yang diceritakan pada para nahkoda kapal.


Menyewa kapal motor untuk memancing tidak bisa mendadak dilakukan. Anda sudah harus menyewa saat pertama kali akan berangkat dari dermaga ke Pulau Randayan. Karena, kapal motor berpenumpang biasa (tidak menyewa) yang bersandar ke pulau ini tidaklah lama. Nahkoda kapal harus kembali ke dermaga untuk mengangkut penumpang dan barang yang sudah dipesan untuk diantar ke pulau setiap harinya.


Nah, tertarik untuk merasakan nikmatnya traveling di pulau pribadi? Bagaimana jika Anda datang sendiri untuk mencobanya. Siapa tahu, suatu saat Anda juga bisa memiliki satu pulau yang bisa dikelola sendiri. Selamat ber-traveling.

Selasa, 25 Oktober 2011

Jogjakarta, Keramahan Wisata Dalam Budaya

Tidak ada komentar :
Sugeng rawuh. Tepat sekali Anda memilih Jogjakarta ke dalam daftar kunjungan untuk berwisata. Kota pelajar dengan luas 3.185,80 Km2 ini, akan memukau Anda dengan pesona dan keramahannya. Masih memegang teguh budaya, Jogjakarta seakan mengajak Anda memasuki alam tradisional dalam kumparan dunia modern.

Adat istiadat nya masih sangat kental dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, yang tetap menjaga dan melestarikan budaya peninggalan ratusan tahun silam. Jogjakarta akan mengajak Anda dalam kehidupan tradisional yang back to nature. Suguhan bangunan lama yang masih terawat dengan baik, didukung dengan pemandangan keindahan alami.
Awali wisata Anda untuk melihat daerah istimewa Jogjakarta dalam balutan peninggalan sejarah tradisional kerajaan. Ayunkan langkah Anda menuju Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang dibangun pada tahun 1756 M atau 1682 untuk tahun Jawa. Saat berkunjung di lingkungan The Imperial House, Anda akan melihat display pakaian tradisional, senjata, dan kereta kuda yang pernah digunakan oleh raja-raja Jogjakarta.

Biasanya, pengunjung ramai mendatangi alun-alun utara Kraton Jogjakarta untuk mencoba peruntungan berjalan di tengah dua pohon beringin besar bernama Kyai Dewandaru dan Kyai Wijayandaru. Konon, siapa yang bisa lolos berjalan melewati pohon beringin kembar itu dengan mata tertutup, permohonannya akan terkabulkan.

Anda juga bisa berkunjung keTamansari yang dibangun di masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono I, pada tahun 1758 dengan seni arsitektur Eropa yang dilengkapi makna simbolik Jawa melalui ukiran pada bangunannya. Dahulu lokasi ini adalah pesanggrahan untuk pertapaan raja Jogjakarta dan keluarga, dilengkapi dengan kolam pemandian.

Arsitektur Eropa dapat pula Anda jumpai saat berkunjung di museum Benteng Vredenburg yang didirikan pada tahun 1765, gedung Bank Indonesia, dan kantor pos Jogjakarta. Wisata ini dapat Anda lakukan dengan menumpangi andong atau becak.

Peninggalan sejarah banyak ditemukan di sekitar Kota Jogjakarta berupa candi-candi yang menakjubkan dan menjadi saksi bisu catatan sejarah yang pernah terjadi. Anda akan dibuat takjub saat menyaksikan kekokohan candi Borobudur. Candi Budha abad ke-9 yang dibangun oleh Raja Samaratungga dari kerajaan Mataram kuno keturunan Wangsa Syailendra ini memiliki 1460 relief dan 504 stupa. Saat berada di tingkat teratas candi ini, Anda akan melihat pemandangan hijau di sekeliling candi.


Ada pula candi Hindu yang dibangun oleh Raja Rakai Pikatan dan Rakai Balitung di abad ke-10, yakni candi Prambanan. Legenda terkenal dari candi ini adalah permintaan putri Roro Jonggrang kepada Bandung Bondowoso untuk membangun candi dengan 1.000 arca dalam semalam sebagai bukti lambang cinta. Saat ini, Candi Prambanan dilengkapi dengan Taman Ramayana, berupa panggung pertunjukan untuk pewayangan orang.

Menurut cerita dari mulut ke mulut, pengunjung candi yang sedang berpacaran akan putus bila berkunjung di candi ini. Betulkah? Anda mungkin bisa membuktikannya sendiri. Candi lain yang bisa dikunjungi adalah Plaosan, Sambisari, Mendut, Pawon, dan Istana Ratu Boko.

Ingin menikmati keindahan alam Jogjakarta? Silakan berkunjung ke Pantai Parangtritis yang berjarak sekitar 30 Km dari Kota Jogjakarta. Pantai dapat ditempuh menggunakan bus dengan biaya Rp. 7.500 per orang. Pasir Pantai Parangtritis yang lembut di kaki akan membuat Anda lupa waktu saat bermain bersama debur ombaknya. Pantai lain yang juga bisa Anda kunjungi adalah pantai Kukup, Krakal, Baron, Sundak, Glagah, Depok, dan Parang Kusumo.


Kota Jogjakarta juga memiliki tugu yang berada di tengah kota. Uniknya, jika ditarik garis lurus, tugu Jogjakarta berada di tengah antara Gunung Merapi dan Pantai Parangtritis. Menurut lelucon di Jogjakarta, Anda belum dikatakan berkunjung di kota ini jika belum memegang tugu.

Souvenir

Tidak lengkap rasanya bila tidak membeli sesuatu yang khas saat berkunjung ke Jogjakarta. Sebagai kota wisata, Anda bisa menemukan banyak barang kerajinan unik yang diolah dari tangan terampil dan kreatif. Batik merupakan karya kreatif yang umum ditemukan di Jogjakarta. Membeli batik tidaklah sulit. Anda bisa menyusuri sepanjang jalan Malioboro hingga pasar Beringhardjo untuk berburu batik.


Baju dan souvenir yang terbuat dari batik bisa Anda beli dengan harga yang dapat disesuaikan dengan isi dompet Anda. Ukiran dari tokoh pewayangan juga dapat menjadi alternatif lain untuk souvenir dengan kekhasan yang akan mengingatkan Anda tentang Jogjakarta.

Bagi pecinta perhiasan, silakan meluncur ke pusat kerajinan perak yang terletak di Kota Gede. Anting, kalung, cincin, dan hiasan rumah terbuat dari perak asli bisa Anda dapatkan di sini. Kisaran harga per item mulai puluhan ribu hingga jutaan Rupiah. Tergantung, jenis dan bentuk perak yang Anda pilih. Ingin belajar membuat perhiasan dari perak? Biasanya, toko perak yang memiliki tempat pembuatan untuk melayani pengunjung yang ingin memesan langsung bentuk perhiasan sesuai keinginan, akan memberikan izin.

Jogjakarta juga memiliki pusat kerajinan keramik dan gerabah yang berlokasi di Kasongan. Kerajinan ini berupa patung, lampu hias, furniture, topeng, kendi, dan perlengkapan rumah. Semuanya dibuat dari tanah liat dan tentunya, menarik.

Makanan

Apakah Anda menyiapkan dana minim untuk biaya konsumsi saat berada di Jogjakarta? Jangan kuatir. Anda bisa temukan gerobak penjual makanan dengan satu bangku panjang yang menjual nasi kucing. Nasi paket hemat berbungkus daun pisang ini dilengkapi sambal ikan teri atau tempe yang dipotong kecil-kecil dan digoreng kering. Harga per bungkus nasi kusing adalah Rp. 1.500.

Warung burjo yang menjual bubur kacang hijau dicampur ketan hitam dan sedikit santan merupakan pilihan bagi para mahasiswa luar daerah yang menuntut ilmu di Jogjakarta. Warung ini juga menjual indomi rebus dan goreng, plus cemilan berupa beberapa kue yang digoreng. Mengenyangkan dan murah meriah. Pilihan lain untuk membeli makanan dengan harga terjangkau adalah pecel lele, telur, tempe, dan ayam goreng di warung tenda pinggir jalan.

Makanan khas Jogjakarta yang tidak boleh Anda lewatkan adalah gudeg. Makanan yang terbuat dari buah gori (nangka) dan diolah dengan tambahan daging ayam atau telur, akan menggugah selera makan Anda. Perfecto delicio.

Mau mencicipi makanan yang unik? Datang saja ke warung makan Jejamuran yang menjual makanan serba jamur. Menu yang tersedia adalah sate, soup, rendang, pepes, tongseng jamur, dan sebagainya. Harga jejamuran berkisar Rp. 4.000-10.000. Makanan khas Jogjakarta juga bisa dijadikan oleh-oleh untuk keluarga atau kerabat Anda.


Silakan meluncur ke daerah sejuk Kaliurang untuk mencari jadah tempe. Makanan berupa ketan dan tempe bacem ini sangat tradisional dan cocok dijadikan teman minum the panas atau kopi. Atau, datang saja ke kawasan Pathuk, Kecamatan Ngampilan, Jogjakarta. Lokasi tersebut menjual bakpia pathuk, yakni bakpia yang berisi kacang hijau. Jajanan khas lainnya yang bisa Anda temukan di situ adalah yangko, geplak, madu mongso, dan ampyang. Silakan Anda memilih.

Sabtu, 01 Oktober 2011

Menjadi Seorang Penulis Travel Pemula

Tidak ada komentar :
Apakah anda sering melakukan perjalanan ke tempat baru di luar tempat tinggal anda? Apakah ada hal-hal menarik bagi anda saat ke tempat baru itu? Mengapa anda tidak menuliskan apa yang anda lihat di situ dan berbagi dengan orang-orang? Siapa tahu tulisan anda sangat menarik dan menjadikan anda sebagai penulis travel.

Menjadi seorang penulis travel adalah impian banyak orang. Ini seperti magnet yang menjadi daya tarik bagi orang-orang untuk ikut masuk kedalamnya. Suatu pekerjaan sekaligus untuk melepaskan penat, dua keuntungan dalam berkerja.

Ceritakan apa saja yang anda lihat saat bepergian. Buatlah cerita itu dengan sederhana, namun detil. Seperti mengenai biaya, fasilitas, transportasi, dan sebagainya. Jika ada sesuatu yang menarik perhatian anda, tulislah. Jangan terburu-buru saat menceritakan pengalaman anda lewat tulisan. Karena, saat tulisan tersebut anda tawarkan kepada penerbit, anda simpan di blog atau website, tulisan anda termasuk dalam kategori eksklusif. Karena, hanya anda saja yang merasakan dan melihat langsung tempat tersebut (walau mungkin ada orang lain yang sudah pernah menuliskannya). Asal, selalu berikan sesuatu informasi baru dalam tulisan anda.

Apakah cukup hanya tulisan saja?

Tidak. Sertakanlah juga beberapa foto yang anda ambil di tempat yang anda kunjungi itu. Melalui foto yang anda sertakan, cerita dalam tulisan anda akan semakin jelas dan bisa dibayangkan oleh pembaca anda. Foto dan tulisan akan saling dukung dan menjadikan cerita anda semakin utuh. Apalagi, satu foto bisa memiliki banyak makna. Tergantung dari sudut pandang yang melihatnya.

Bagaimana bisa membuat tulisan travel yang menarik?

Ada dua tipe pembaca tulisan travel. Pertama, pembaca yang suka mengikuti alur cerita tulisan dan membayangkan diri mereka ikut ke dalam perjalanan yang anda tuliskan. Tulisan travel untuk pembaca seperti ini haruslah detil. Karena, pembaca tersebut ingin mencari informasi yang lebih tentang lokasi wisata yang anda ceritakan. Misalnya tentang budaya, hal-hal yang menarik di tempat itu, asesoris, dan sebagainya.

Pembaca tulisan travel tipe kedua adalah pembaca yang hanya ingin mengetahui informasi umum untuk mengunjungi lokasi wisata dalam tulisan anda. Seperti informasi biaya, transportasi, lokasi paling menarik, fasilitas yang ada di tempat itu, dan apa yang harus dan tidak dilakukan di tempat itu. Tulisan travel anda tidak perlu panjang dan cukup berisikan informasi penting yang disertai dengan foto yang bagus agar pembaca tertarik berkunjung ke lokasi wisata dalam tulisan anda.

Hal paling utama untuk menjadi seorang penulis travel adalah berani untuk menghadapi tantangan tidak terduga yang mungkin saja terjadi dalam perjalanan anda. Seperti makanan yang tidak sesuai dengan selera anda, transportasi dan fasilitas yang tidak memadai, aturan-aturan yang berbeda dari daerah asal anda, dan sebagainya.

Namun, jangan khawatir. Semua kejadian menarik tersebut bisa anda tulis dan bagikan itu kepada orang-orang agar menjadi panduan mereka dalam melakukan travel ke tempat tersebut. Selamat mencoba dan bersenang-senanglah.